Chapter 2

Taehyung menutup pintu apartemennya dengan pelan. Tubuhnya bersandar pada daun pintu dengan mata terpejam erat.

Gadis cantik itu perlahan melangkahkan kakinya menuju pintu bercat hitam dengan ukiran nama 'taetae kim'.

Taehyung merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Kepalanya terasa ingin meledak, selain karna efek mabuk juga karna kejadian semalam.

"Aku... Akan baik-baik saja..."

Sepasang manik itu tertutup kelopak mata dengan bulu mata lentik. Setetes air mata menetes dari sudut mata gadis berambut orange itu.

Tak lama kemudian Taehyung jatuh tertidur.

.

.

.

Jimin memakirkan mobilnya di basement. Pemuda itu dengan segera keluar mobil lalu berlari menuju lift.

"semoga aku tidak terlambat."

Jimin memacu kakinya dengan cepat menuju apartemennya. Diotaknya kini hanya ada satu kalimat sugesti 'aku harus cepat!'.

Dengan tergesa pemuda itu menekan passcode apartemennya dan berjalan dengan cepat menuju ruang tengah. Pemandangan nista langsung tersaji didepan matanya, dua orang yang sedang berciuman dengan posisi si yeoja yang berada di bawah kungkungan si namja.

"yakk! Jangan bercinta di sofa ku!"

Brugh

Hoseok terjengkang saat mendengar teriakan jimin.

"Oppa!"

Dan Jungkook yang memekik kaget karna pacarnya terjatuh.

"sialan kau Jim." Umpat Hoseok setelah bangun dari jatuhnya

"itu salahmu sendiri hyung."

"salah apanya? Aku hanya mencium pacarku." Kata Hoseok membela diri. Faktanya memang begitu 'kok, Hoseok hanya ingin mencium Jungkook kalau nanti sampai lebih dari itu ya itu bonus untuknya.

"dan berakhir dengan kalian yang bercinta diapartemenku begitu?" Jimin melotot kearah pasangan didepannya.

Hoseok hanya tersenyum lebar mendengar ucapan Jimin sedangkan Jungkook sudah merona parah.

"kau hanya iri karna kau jomblo!" Balas Jungkook.

Sialan! Ucapan Jungkook itu polos tapi menohok hati. Jimin jadi ingin menjitak kepala Jungkook tapi tidak berani karena ada Hoseok yang ada malah kepalanya yang benjol.

.

.

.

Taehyung meregangkan badannya. Semalam tidurnya sangat nyenyak entah karna apa. Taehyung menggelung rambut panjang orange nya sebelum beranjak dari kasur.

Tubuh yang hanya memakai kemeja putih dan celana dalam merah itu melangkah dengan santainya keluar kamar. Taehyung sudah biasa berpakaian seperti itu di apartemen. Lagipula hanya dirinya yang tinggal disisni dan juga tidak ada yang tahu password partemennya kecuali orang tuanya.

"Apa kau berpenampilan seperti itu jika didalam apartemen?"

"Omo! Mama, sejak kapan ada disini?" Taehyung hampir terjatuh saat mendengar suara mama nya. Dirinya kaget sendiri karena kedatangan mama nya yang mendadak.

Nyonya Kim memandang putrinya dengan pandangan iritasi. Anak nya ini benar-benar, bagaimana bisa seorang gadis memakai pakain seperti itu saat tidur.

"sejak air liurmu menetes bocah." kata Nyonya Kim. wanita itu beranjak dari sofa lalu melangkahkan kakinya yang di balut high heels merah menuju dapur.

"aish mama aku sudah besar, kenapa terus memanggilku bocah?!" Taehyung menghentakan kakinya saat mendengar ucapan mama nya. gadis itu mengikuti langkah mama nya.

"karna sampai kapan pun kau itu tetap bocah dimataku." kata Nyonya Kim cuek. wanita berumur empat puluhan itu mulai mengeluarkan berbagai macam kotak yang ada didalam paper bag.

"ya, ya, ya terserah mama sajalah."Taehyung memutar bola matanya jengah mendengar ucapan mama nya. "tapi tumben sekali mama datang, biasanya mama menelpon dan menyuruhkku pulang ke rumah."

Biasanya mama Taehyung tidak datang keapartemen tapi menyuruh Taehyung untuk pulang kerumah. Menurut mama nya terlalu ribet jika harus bolak balik ke apartemen putrinya lebih baik menyuruh anaknya itu untuk pulang jadi dirinya bisa hemat energi.

"ah itu, sebenarnya mama dan appa akan berangkat ke London nanti malam. Dan akan tinggal disana selama sebulan jadi mama menyempatkan untuk bertemu dengan anakku satu satunya." Kata nyonya Kim dengan senyum lebar.

"ah arraseo mama."

"jja, mandilah setelahnya sarapan. Mama membawa banyak makanan dari rumah."

"nde mama, chuu" Taehyung mencium pipi sang mama sebelum beranjak menuju kamar.

...

Seminggu berlalu sejak kejadian Taehyung yang terbangun di apartemen milik namja asing yang pernah tidur dengannya—sial, Taehyung malas mengakui perbuatannya. Hidupnya berjalan normal tanpa gangguan dari pria asing itu maupun dari Sehun.

Siang ini Taehyung melangkahkan kakinya dengan santai dikoridor kampus menuju ke fakultasnya. Hari ini jadwal kuliahnya tidak terlalu padat jadi dirinya bisa sedikit bersantai dan bersenang-senang.

Tapi semua rencananya hancur seketika saat melihat mobil lamborghini berwarna putih terpakir dipelataran kampus. Taehyung ingin sekali mengutuk jika perlu menonjok wajah pemilik mobil putih, yang kini sedang bersandar disisi mobil dengan tampang sok kerennya. Mau apalagi sih pemuda itu, menyusahkan saja, ck! Taehyung menghembuskan nafasnya menahan kesal sebelum melanjutkan langkahnya dan berjalan melewati namja itu.

"Hey baby tunggu. Dengarkan penjelasanku dulu,oke?"Sehun—namja itu berlari kearah Taehyung sebelum menggenggam lengan gadis yang masih dicintainya memaksa gadis itu berhenti berjalan. Sehun kemudian berdiri didepan Taehyung yang terlihat sangat cantik hari ini.

"Apalagi mau mu?" kata Taehyung datar, gadis itu menyentak tangan Sehun yang menggenggam lengannya. Manik coklatnya menatap datar namja didepannya.

"Kau salah paham baby, sungguh yang kau lihat kemarin malam itu salah paham. Aku tidak melakukan apapun dengan wanita itu." Sehun mencoba meraih lengan Taehyung yang langsung ditepis oleh gadis itu.

"kau pikir aku gadis tolol yang tidak tahu apa-apa?! Apa dengan berciuman panas itu tidak melakukan apapun?! Jika aku tidak melihatnya apa kau akan bercinta dengan wanita itu?! Ck, jangan konyol Oh Sehun." Taehyung memutar bola matanya mendengar penjelasan Sehun yang menurutnya konyol.

"Ta-tapi baby, sungguh, maafkan aku oke? Aku tahu, aku salah dan aku menyesal telah melakukan itu. Please, kembali pada ku baby."

"apa kepalamu terbentur hingga kau amnesia? Kita sudah PUTUS, dan jangan memanggilku BABY lagi! Kau dengar itu!" Kata Taehyung dengan menekankan beberapa kata dalam kalimatnya. Taehyung menatap Sehun dengan pandangan datar. Memangnya dia pikir semudah itu memaafkan orang yang sudah berhianat. Taehyung mulai melangkahkan kakinya lagi melewati pemuda bersurai coklat itu. Mood nya menjadi turun setelah berbicara dengan pemuda albino itu.

"Aku tidak peduli baby! Kau pasti kembali jadi milikku! Kau dengar itu Oh Taehyung!"

Taehyung yang mendengar teriakan sehun, hanya mengertakan giginya. Orang ini benar-benar menguji kesabarannya. Taehyung menghembuskan nafasnya kasar sebelum membalikan tubuh kemudian mengacungkan jari tengahnya kearah Sehun.

"Dalam mimpimu, babbo! Dan jangan seenaknya mengganti margaku!" Teriak Taehyung tak kalah kerasnya. Hingga mereka berdua menjadi pusat perhatian.

Taehyung melanjutkan langkahnya, mengabaikan tatapan takjub(?) Dari mahasiswa lain. Meninggalkan Sehun yang jawdrop ditempatnya setelah diteriaki Taehyung.

"Woow, itu baru Taehyungku." Bisik seorang namja dari pinggir lapangan saat melihat tingkah Taehyung.

.

.

.

.

Jimin mengetukan jarinya dimeja dirinya bosan. Ia menopangkan dagu dengan sebelah tangan dan memandang lekat-lekat pada gumpalan awan yang menari dilangit biru. Seminggu sudah berlalu semenjak kejadian dirinya meniduri Taehyung dan sampai sekarang dirinya belum bertemu dengan gadis itu hingga membuatnya rindu setengah mati.

Jimin menyisir rambutnya kebelakang dengan jari kemudian meraih tas nya lalu beranjak keluar meninggalkan kelas. Namja bermata sipit itu memutuskan untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang bermain basket dilapangan. Pemuda itu memilih duduk dibangku setelah menyapa beberapa temannya dan menolak tawaran bermain basket.

Pemuda bersurai orange itu mengedarkan pandangannya menangkap sosok seorang gadis yang terlihat berbincang dengan seorang pemuda. Jimin tidak bisa mengalihkan panddangannya dari gadis itu, bibirnya mengulas senyum saat melihat ekspresi jengah dari gadisnya—oh, tak apa kan jika dirinya mengklaim gadis itu? Toh sesebentar lagi pasti gadis itu menjadi miliknya. Jimin yakin itu.

Saat gadis itu berjalan semakin memasuki area kampus dirinya bisa mendengar teriakan dari pemuda yang tadi berbincang dengan gadisnya. Dan Jimin hanya bisa jawdrop saat gadisnya balik memaki pada pemuda itu.

"Woow, itu baru Taehyungku." Bisiknya saat melihat tingkah Taehyung yang terlihat menggemaskan dimatanya.

.

.

.

.

Jimin menyuap kimbab kedalam mulutnya. Dirinya sedang berada di cafetaria kampus bersama para sahabatnya. Mereka jarang berkumpul dikampus karna jadwal yang berbeda. Tentu saja, karna mereka mengambil jurusan yang berbeda. Yoongi dan Namjoon jurusan musik, Hoseok jurusan dance, seokjin jurusan bisnis, Ren dan Jungkook jurusan Fashion, serta dirinya Jurusan Kedokteran.

Awalnya Jimin mengenal Hoseok saat Senior high school karena dikenalkan Jungkook dan ternyata mereka berdua masuk club yang sama, dance. Hoseok, Namjoon, dan Yoongi seangkatan dan teman satu grub jadi Jimin ikut mengenal mereka berdua dari Hoseok. Waktu itu Yoongi sudah pacaran dengan Jin, sedangkan Jungkook itu sepupu Jin ,kalau Ren itu sahabat Jungkook dan Jimin.

Jimin menatap jengah kelakuan para sahabatnya. Yoongi yang sedang menyuapi Jin karna gadis itu sedang sibuk dengan essay nya. Pasangan Hopekook yang saling berbisik kemudian tertawa bahagia(Tapi dimata jimin mereka berdua seperti mentertawakan dirinya). Juga Namjoon yang sedang disuapi Ren karna lengannya di perban hingga siku(tangan Namjoon cedera karna saat bermain basket). Kenapa semua kompak bermesraan didepannya sih?! Jimin hanya bisa menggerutu didalam hati karna tidak mungkin dirinya berbicara langsung didepan mereka, yang ada malah dirinya habis di tertawakan.

"Hey Jim, kau akan ikut chyper minggu depan?" Tanya Namjoon yang sedari tadi sibuk menerima suapan dari Ren.

"Kalian akan perfom lagi hyung?" Tanya Jimin yang dibalas anggukan dari ketiga hyung nya.

"Hm, ada battle dance juga dari semua universitas. Dari EXO, SM, pledis, YG, JYP dan yang lain." Terang Yoongi tanpa mengalihkan pandangannya dari Seokjin. Pemuda berkulit pucat itu masih saja sibuk menyuapi atau menganggumi kecantikan pacarnya? Entahlah, hanya Yoongi dan Tuhan yang tahu.

"Dimana hyung?"

"Tempat biasa. Infinite bar."kata Hoseok, tangan nya sibuk menyumpit kimbap.

"Tu-tunggu, Yoongi oppa bilang pledis university?!" teriak Jungkook.

"Nde Kookie." balas Yoongi cuek. Yoongi lebih memilih memperhatikan Seokjin yang tengah serius mengerjakan essay daripada menjawab pertanyaan Jungkook yang pasti akan berujung dengan merajuknya gadis kelinci itu.

"Berarti akan ada sepupumu itu?! Jihoon, mantan kekasih Hopie oppa?!"teriak Jungkook, lagi. Mata gadis itu semakin besar saat melotot kerah pacarnya yang asik menyuap kimbap.

Tuh 'kan? Prediksi Yoongi tidak pernah meleset jika itu menyangkut sepupu kekasihnya.

Semua orang dimeja itu tahu Jungkook sangat mencintai seorang Jung Hoseok dan sangat sensitif jika ada yang membicarakan mantan pacar Hoseok. Mereka semua adalah saksi bagaimana Jungkook yang berusaha mendapatkan seorang Jung Hoseok. Gadis itu bahkan melakukan berbagai cara dari hal kecil sampai yang luar biasa konyol hanya untuk menarik perhatian Jung Hoseok padahal banyak yang mengantri untuk menjadi pacarnya. Tapi mata Jungkook seakan buta karna hanya melihat Hoseok saja dimatanya. Dan Jungkook itu over protektif dan super cemburuan jika Hoseok dekat dengan gadis lain apalagi jika menyangkut Woozi alias Lee Jihoon mantan pacar Hoseok sekaligus sepupu Min Yoongi.

"Nde. Tentu saja Kookie kan dia dari pledis."jelas Hoseok acuh.

"Jinjja! Oppa! Apa kau senang bertemu lagi dengannya hah?!" Jungkook mengacungkan garpu yang ada ditangannya tepat didepan wajah Hoseok.

"Ti-tidak. Bukan begitu baby bunny. Aku biasa saja kok." Hoseok menelan ludahnya gugup saat melihat garpu tepat didepan wajahnya. Hoseok takut saja jika garpu itu menusuk matanya. Tapi yang lebih penting adalah menenangkan Jungkook sebelum menang—

"Hopie oppa bohong! Hiks hiks huweeee~ eomma~"

—ngis.

Gagal sudah! Hidupnya sekarang berada di ujung Jurang kematian.

Semua mata dimeja itu menatap tajam kearah Hoseok, membuat yang ditatap hanya bisa bergidik ngeri apalagi karna tatapan Seokjin yang terasa seperti mengulitinya.

'tenangkan dia atau ku bunuh kau, Jung Hoseok.' mungkin seperti itu arti tatapan Seokjin. Setelah memberikan tatapan tajamnya gadis itu melanjutkan essay nya yang banyak itu, mengabaikan tatapan kagum yang diberikan Yoongi—pacarnya.

"Hiks hiks"

Hoseok menelan ludahnya susah payah, tatapan Seokjin itu seperti terompet kematian yang siap mengantar nyawanya menuju neraka.

"Baby bunny my sweety ini tidak seperti yang kau pikirkan chagy." kata Hoseok yang panik saat melihat pacar kelincinya terlihat menyedihkan dengan air mata yang membasahi pipinya juga hidungnya yang merah. Jungkookie ku sangat imuuutttt! Aku jadi ingin menciumnya! ah tidak tidak! aku harus menahannya atau aku akan mati! tapi dia terlalu imut untuk diabaikan! Batin hoseok berfanboy ria.

"Sungguh baby bunny, aku hanya mencintaimu chagi."kata Hoseok meyakinkan Jungkook yang masih menangis.

"Jinjja?!" tanya Jungkook, Gadis kelinci itu menatap Hoseok dengan mata berkaca-kaca.

"Nde chagiya. My lovely bunny."

"Kalau begitu aku ingin es krim lima cup oppa." kata Jungkook dengan riang.

Cepat sekali mood bocah ini berubah. Jimin menatap datar pasangan Hopekook, sekali bocah tetaplah bocah. -_-

"Satu saja ya chagi?"

"Aku maunya lima." Jungkook mempoutkan bibirnya saat mendengar penawaran Hoseok.

"Ta-tapi baby..."

"Kalau begitu aku akan minta pada mama Jung saja." Jungkook mempoutkan bibirnya.

"Ck, baiklah kau menang. Kalau begitu dua atau tidak sama sekali. Ingat kata mama sayang, kau tidak boleh terlalu banyak makan es krim." Hoseok mengusap pipi Jungkook yang basah lalu mencubit kecil pipi tembam pacarnya.

"Arraseo, gomawo oppa. Cupp"teriak Jungkook dengan riangnya kemudian mengecup bibir pacarnya.

"Kenapa Jungkook jadi super cengeng dan super manja sih? Tidak seperti biasanya." bisik Jimin pada Ren.

"Mungkin sedang PMS. Entahlah" Ren mengedikan bahunya acuh sebelum lanjut menyuapi Namjoon.

.

.

.

.

.

.

.

Sore hari yang cerah dengan semilir angin yang menerbangkan beberapa daun yang berguguran.

Kim Taehyung sedang berjalan dengan santai dikoridor kampus. Kelasnya sudah berakhir sepuluh menit yang lalu dan dirinya ingin segera sampai di apartemen kemudian berendam air hangat setelahnya bergelung dengan selimut sampai pagi. Gadis cantik itu melangkah dengan anggun, sesekali tersenyum membalas sapaan dari beberapa mahasiswa yang menyapanya.

Taehyung melirik jam tangan berwarna coklat dipergelangan tangan kanannya. baru jam empat, masih ada waktu sebentar untuk mampir ke mini market.

Taehyung menghentikan langkahnya saat manik coklatnya menangkap sosok namja yang sedang bersandar di tembok dengan kedua tangan di saku celana. gadis itu melangkahkan kakinya menuju namja itu lalu berhenti tepat didepan si namja.

namja itu tersenyum lebar saat melihat gadis yang sedari tadi ditunggunya kini sudah berdiri tepat didepannya. sebenarnya ia berniat menghampiri Taehyung dikelas tapi dirinya kapok gara-gara di goda oleh gadis-gadis centil dari kelas sebelah.

"Hai baby lion, how are you, are you okay hm?" namja itu tersenyum lembut pada Taehyung yang dibalas senyum manis oleh Taehyung.

"Oh Luhan oppa, nan gwenchana. Apa yang sedang kau lakukan disini oppa?"

"Ey jangan bohong. Aku kemari untuk bertemu denganmu baby. Apa kau ada masalah dengan sehun? Akhir-akhir ini bocah itu lebih sering mengurung dirinya dikamar. " tanya Luhan.

"Kau kan bisa berkunjung ke apartemenku oppa. Jinjja? Orang sepertinya bisa bersikap seperti itu?" Taehyung menatap tidak percaya kearah Luhan. mana mungkin seorang Oh sehun seperti itu. rasanya sangat mustahil sekali.

"serius, sehun tidak mau keluar kamar. setiap ditanya bocah itu hanya diam." kata Luhan dengan wajah serius. "Aku sibuk kau tahu jadi tidak bisa berkunjung." Lanjut pemuda bermata rusa itu.

"Sibuk tapi berkeliaran dikampus orang."Cibir taehyung yang dibalas tawa kecil oleh Luhan.

"Kami putus seminggu yang lalu."

"Jinjja?!" pekik Luhan dengan tidak manly nya. Luhan tidak menyangka Sehun dan Taehyung bisa putus juga, padahal hubungan mereka itu mesra sekali sampai membuat dirinya iri setengah mati.

"Nde oppa. Dia selingkuh. Adikmu itu selingkuh. Dasar menyebalkan." Taehyung mempoutkan bibirnya. rasanya menyebalkan jika mengingat perselingkuhan Sehun.

"Ck bocah itu, berani-beraninya membuat uri baby lion terluka."

"Sudahlah oppa, lagi pula aku sudah melupakan semuanya." taehyung menghela nafasnya pelan.

"Arraseo. Semoga kau mendapat orang yang lebih baik dari adikku itu. Atau kau berpacaran denganku saja. Bagaimana?" Luhan menaik turunkan alisnya menggoda Taehyung.

sedangkan Taehyung ingin muntah mendengar ucapan Luhan.

"Tidak sudi aku berpacaran dengan rusa playboy sepertimu,oppa." kata Taehyung ketus.

"Aishh mulut bocah ini masih sama tajamnya. Sepertinya efek terlalu lama berpacaran dengan albino itu mulutmu jadi tajam." Luhan menggeleng prihatin mendengar jawaban Taehyung. sepertinya memang benar Sehun membawa pengaruh negatif pada bibir Taehyung.

"Hehehehe, mian oppa. Kau tahu kan aku sayang padamu. Kau kakak ku yang paling baik." Taehyung tersenyum manis hingga kedua matanya menghilang. untuk sesaat Luhan terpesona pada senyuman Taehyung.

"Nde nae dongsaeng. Kalau begitu oppa pergi dulu ne. Bye." Luhan mengusak rambut Taehyung lalu beranjak menginggalkan gadis itu. Luhan melambaikan tangannya dengan gaya sok cool dimata Taehyung. sepertinya sindrom narsis Luhan oppa kambuh, pikir Taehyung.

"Bye oppa." Taehyung melambaikan tangannya dengan riang dan senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya. Taehyung membalikan badannya. Ekspresinya yang cerah berubah menjadi mendung.

"aku jadi tidak mood pergi belanja. sebaiknya aku langsung pulang saja lah."

.

.

.

saat sudah berada didepan gedung kampus, Taehyung dikagetkan dengan adanya motor yang berhenti secara mendadak didepannya. Gadis itu masih mematung ditempatnya karna efek kaget. orang asing itu mematikan mesin motornya lalu melepaskan Helm yang melindungi kepalanya. namja bersurai abu-abu itu tersenyum pada Taehyung.

"Ka— Kau sedang apa disini?" Tanya Taehyung. Dirinya bingung dengan kehadiran sosok yang tidak ia duga. Setelah tiga tahun menghilang lalu muncul tiba-tiba dengan penampilan yang sangat berbeda tapi aura bad boy nya masih saja ada. namja itu...mantan pacarnya.

.

.

.

TBC...

hayolooh sapa tuh mantannya Taehyung. ada yang bisa nebak?

belum ada moment MinV di chapter ini. dan jangan minta MinV buat yadongan terus ya, kasian ntar V hamil nanti ga jadi model lagian emphi nya belom lulus kuliah.

Behind The Scene***

"Serius aku harus meminum vodka?" Tanya jimin pada kru.

"tentu saja tidak. Jika kau mabuk yang ada kau malah memperkosa taehyung secara langsung."

"hahaha kenapa berbicara seperti itu..."Tawa canggung keluar dari bibir tebal jimin, pemuda bersurai orange itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"ayo mulai syuting!" Teriak kru.

Dari tempatnya kini jimin bisa melihat pasangan Yoongi dan Jin yang sedang menari sambil berciuman dilantai dansa. Juga pasangan Namjoon dan Ren yang sedang bercumbu di sofa. Abaikan pasangan Hoseok dan Jungkook yang mungkin sedang bercinta di lantai dua bar.

"sumpah aku tidak kuat melihat Namjoon hyung dan Yoongi hyung!" Jimin berlari keluar ruangan.

"yak! Mau kemana kau jimin-ssi! Itu kan hanya akting..."Teriak salah satu kru pada Jimin yang berlari.

"baiklah aku siap!" setelah menenangkan diri selama satu jam ditoilet akhirnya Jimin kembali ke tempat syuting.

"berjanjilah kau tidak akan kabur lagi jimin-ssi."

"nde!"

"okay! Semua bersiap ditempat kalian!" Kata produser.

Jimin menghembuskan nafasnya kasar. Dirinya bosan, sangat bosan. Jimin mengedarkan pandangannya kesetiap sudut bar. Hingga manik kelamnya menemukan sosok yeoja bersurai jingga sedang meminum alkohol diruangan VIP sendirian. Dirinya belum pernah melihat yeoja itu di bar ini sebelumnya.

"siapa gadis cantik i—tu pffhh hahaha... Taehyung-ah kau benar-benar seperti perempuan!" Jimin tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

"cut! Cut! Yak! Itu tidak ada di skrip!" Teriak produser murka.

"maafkan aku...hahahaha... Tapi aku tidak bisa berhenti...hahaha"

"serius, apa aku harus menjadi perempuan di fanfic ini?" Tanya taehyung dengan muka nelangsa.

"tentu saja. Kau kan cantik kalau jadi perempuan lagi pula kau ini pemeran utama wanitanya."

"tapi aku malu dan risih jika memakai ini" Taehyung menjambak rambut panjangnya.

"yak! Kau merusak tatanan rambutmu."

Setelah menengkan perasaannya dipojokan meja Taehyung akhirnya menerima kenyataan jika dirinya menjadi pemeran utama wanita.

"sekarang giliranmu."

"arraseo.." Dengan lesu Taehyung melangkahkan kakinya menuju tempat syuting.

"aishh! Si brengsek itu, dia pikir aku akan patah hati begitu melihatnya selingkuh?! Cih! Apa bagusnya si jalang itu! Bahkan dia lebih pendek dariku! Memang sih matanya bagus dan bulat tidak seperti mataku yang kecil. Aiiishh benar- benar oh sehun itu! Sialan!" mulut taehyung tak hentinya mengumpat kekasih— mantan kekasih pucatnya yang berselingkuh dengan gadis asal cina.

"taehyung-ah kau benar-benar seperti wanita!" Teriak Jimin dari sudut ruangan.

hening sesaat...

"aku tidak mau syuting lagi! Huweee~" Taehyung pundung dipojokan.

Setelah ditenangkan dengan berbagai rayuan akhirnya Taehyung mau melanjutkan syuting lagi.

Taehyung meliukan badannya mengikuti irama musik. Tanpa peduli banyak lelaki yang memandang lapar padanya. Gadis itu mendongakan kepalanya saat melihat tubuh seseorang yang terbalut kaos putih juga leather jaket berdiri didepannya, dan menemukan seorang pria berambut jingga sama sepertinya sedang tersenyum kearahnya. Wajahnya tampan dan tubuhnya bagus. Taehyung tersenyum kecil melihatnya.

"Park Jimin. Panggil aku Jimin." Bisik Jimin ditelinga Taehyung.

"Kim Taehyung." Taehyung tersenyum kecil kearah Jimin.

"Tae, kau benar-benar seperti wanita sungguhan pfffttt hahaha..." Jimin tertawa terpingkal pingkal sambil memegangi perutnya.

"PD-nim! Aku tidak mau syuting lagi! Huweeee~"

"Park Jimin!"teriak PD-nim murka. PD-nim berlari mengejar Jimin sambil mengacungkan samurai.

"huwaaaa ampuuuuunnnnnn!"

"baiklah semua ayo lanjutkan syutingnya!"

"pd-nim, apakah aku harus melakukan adegan seks dengan Jimin?" tanya Taehyung dengan muka polos.

"tentu saja! Eh maksudku itu hanya akting hehehe..."

'padahal aku ingin sekali mereka melakukan adegan seks betulan...' batin PD-nim

Setelah melakukan syuting untuk adegan seks yang memakan waktu sangat lama dan penuh tekanan karna Jimin yang terbawa nafsu.

Syuting pun dilanjutkan lagi.

Cklek!

"pagi-eh?! Taehyungie?!"

Jeritan tertahan didepannya membuat Taehyung membuka kelopak matanya.

"eoh, kookie. Kau juga jadi perempuan?"Tanya Taehyung pada Jungkook yang ternyata rambutnya juga panjang dan memakai dress.

"ne. Padahal aku ingin jadi namja di fanfict ini." Jungkook mempoutkan bibirnya.

"nasib kita sama! Huweee~~" Taehyung segera menghambur kepelukan Jungkook.

"benar sekali! Huweee~" dan Jungkook yang balik memeluk Taehyung.

"ini tidak ada di skrip woyy!" Pd-nim menggigit skrip yang ada ditangan.

"loh?! Bukankah dia sahabatmu baby." tanya Hoseok yang dibalas anggukan dari Jungkook.

"Tae kau pffftt hahahaha" dan Hoseok tidak bisa menahan tawanya saat melihat penampilan Taehyung.

"cut! Cut!" Teriak PD-nim murka.

"si-siapa kau?" tanyaTtaehyung gugup.

"kenapa kau sudah bangun?" Jimin mengabaikan pertanyaan Taehyung dan berjalan mendekat kearah gadis itu yang hanya berbalut kaos putih kebesaran yang menutupi separuh pahanya. Itu kaos miliknya.

"wah Tae kau terlihat seksi dengan pakaian itu. Coba kalau setiap hari kau memakainya di dorm pasti kau akan terus kelihatan seksi." Jimin menaik turunkan alisnya menggoda Taehyung.

Taehyung hanya menundukan kepalanya dengan wajah merona parah. dan pasangan HopeKook yang sedang muntah virtual mendengar ucapan Jimin.

"PD-nim dialog itu tidak ada di skrip."

"cut woyy! Park Jimin jangan menggoda Taehyung! Dan berbicaralah sesuai dengan yang tertulis di skrip!"

"Jelaskan sekarang Jim, kenapa sahabat Jungkook ada diapartemenmu?"

"Kami bertemu di Bar, semalam. Dan sahabat? Aku baru tau kau bersahabat dengannya Jeon. Tapi aku tak pernah melihatmu dekat dengannya." Jimin mengerutkan keningnya saat mendengar penjalasan Hoseok, sejak kapan mereka bersahabat? bahkan Jimin bersumpah tidak pernah mendengar Jungkook menyebut nama V atau kim Taehyung.

"Tentu saja Jim, Taehyungie itu jurusan act and modeling sedangkan aku jurusan fashion. Kami bertemu saat Taehyungie menjadi modelku dan juga kami itu teman satu club vokal.Dan dia itu kekasih sehun. Kau dengar? N." Jungkook memberi penekanan pada nama Sehun.

"APA?! SEHUN?! KIM TAEHYUNG ITU PACARKU! BUKAN PACAR SEHUN!"

"ini hanya dialog Park Jimin!"

"tapi PD-nim aku tidak terima jika ada yang bilang Taehyung itu pacar orang lain. dia itu milikku!" kata Jimin dengan aura membunuh.

Taehyung sedang duduk di kursi penumpang dengan Jimin yang duduk di kursi kemudi.

"Jimin, Park Jimin. Itu namaku."

"Aku tak peduli." balas Taehyung acuh.

"Tapi aku peduli." Jimin menghentikan mobilnya didepan gedung apartemen mewah.

"karna kau akan menjadi ibu dari anak-anakku" Jimin mengedipkan sebelah matanya pada Taehyung yang merona parah.

"aku sudah lelah mengingatkan Park Jimin."

brugh

syuting berakhir dengan penuh drama dan PD-nim yang pingsan karna tidak sanggup menahan gejolak amarahnya.

END for Behind The Scene***

kalo kalian malas baca Behind The scene nya bisa di skip kok. lagipula saya Cuma iseng bikin behind the scene nya hahaha.

Gomawo yang udah review dan mianhae karna belum bisa bales review kalian. Tapi aku selalu baca reviewnya kalian 'kok.

Akhir kata...

Annyeong^^

Rei