Bab 2

Hogwarts dibuka kembali, walau bukan bulan September. Meneruskan pendidikan yang tertunda saat mencari Horcrux, Harry memutuskan. Kalau ia tidak mengikuti ujian NEWT, nanti ia tidak bisa ikut tes masuk Auror. Hermione juga bertekad memperoleh angka NEWT-nya sebelum melahirkan. Neville, Seamus, Dean, Parvati, Lavender, dan lain-lainnya, mereka juga sudah menyusun rencana masing-masing.

"Kau sendiri … tidak berminat mengikuti tes Auror?" Harry bertanya sambil merapikan ujung-ujung Fireboltnya.

Draco menggeleng tanpa mengangkat wajahnya dari buku-tebal-yang-entah-apa-judulnya-tak-terlihat-oleh-Harry. "Dengan kaki seperti ini, menjadi Auror?" susulnya sambil tetap tidak melepaskan matanya dari buku.

Harry menghela napas. "Kau tahu bahwa kakimu bisa disembuhkan seperti sediakala?"

Draco mengangkat wajah, mengangguk pelan, "Aku tak ingin. Dengan kaki seperti ini aku akan selalu diingatkan. Diingatkan akan kepengecutanku, mencoba mencari keselamatan sendiri," sahutnya lirih. "Seharusnya aku yang mati, bukan Ron…"

Lama keduanya terdiam.

"Aku akan menjual Malfoy Manor," katanya kemudian, "Terlalu banyak kenangan hitam di sana. Mungkin aku akan mencoba .. membuka toko obat. Menjadi Apothecarian."

Harry masih terdiam. Ia tahu, Snape mewariskan buku-bukunya untuk Draco.

"Kalau itu … keputusanmu," tukas Harry. Ia berdiri dan memanggul Fireboltnya. "Asal kau tahu, tidak ada yang menyalahkanmu atas kematian Ron. Bahkan Hermione pun tidak."

Dan ditinggalkannya Draco, masih terpana.


Minggu demi minggu berlalu. Kesibukan menggunung, apalagi pada anak-anak NEWT. Sudah hampir tidak terasa lagi ketakutan menjelang Perang waktu itu, sudah berganti dengan ketakutan dan stress menjelang ujian. Seperti biasa, seperti tahun-tahun yang biasa.

Rasanya hari berganti begitu cepat, baru saja bangun dengan matahari di sebelah Timur, tak berapa lama kemudian matahari sudah berada di sebelah Barat. Keluhan demi keluhan dilontarkan, buku ini belum sempat dibaca, pe-er dikerjakan tidak selesai karena sudah harus dikumpulkan …

Akhirnya ujian NEWT tiba. Seperti biasa ujian dilaksanakan di Great Hall. Dan seperti biasa, tekanan mendera para siswa. Dan membuat mereka merasa lepas bebas saat ujian berakhir.

Tapi bukan hanya pikiran yang terasa lepas.

Hermione terduduk memegang perutnya. Sudah delapan bulan lebih beberapa hari usia kandungannya. Belum waktunya lahir. Tapi … dengan tekanan ujian seperti saat ini …

"Hermione! Ada apa?" Harry cepat-cepat mendekat.

"Aku tak tahu. Sakit sekali. Sepertinya … kontraksi…"

"Kita ke Hospital Wing. Jangan…" Harry melarang Hermione berdiri, "tetaplah pada posisi seperti itu. Jangan bergerak. Aku angkat." Harry melafal mantra mengangkat Hermione dan membawanya ke Hospital Wing.

Anak-anak lain memberi jalan.

Benar saja. Kurang dari satu jam kemudian terdengar lengkingan bayi.

"Laki-laki," Madam Pomfrey keluar dari bilik Hermione memberitahu mereka yang sedang menunggu di luar. Harry, Ginny, Luna, Neville, Draco, dan Profesor McGonagall. Langsung saja mereka bersorak gembira.

"Boleh kami lihat?" McGonagall bertanya.

"Boleh. Dia sehat, hanya jangan lama-lama, biarkan dia istirahat."

Hermione menyambut dengan senyum. "Aku akan menamainya Romulus. Er, bukan kembarannya Remus kok," katanya masih tersenyum. "Ron dulu pernah bilang, anaknya dinamai apa saja, tetapi ia ingin dipanggil Romy. Ron-Hermione. Jadi, Romulus saja."


Karena ujian-ujian sudah selesai, maka semakin banyak anak-anak menengok. Hampir seluruh Hogwarts menengok.

McGonagall datang dengan ide yang cemerlang. "Karena kau tinggal sendirian," tentu saja yang dimaksud McGonagall adalah sendiri di dunia sihir ini, "mengapa tidak kau terima saja tawaranku untuk menggantikan Horace? Dengan demikian, kau ada di lingkungan yang aman, dan Romy ada yang menjaga. Dobby bilang, Winky sudah mengajukan diri untuk menjaga Romy."

"Nilai NEWT-ku juga belum ada," sahut Hermione dengan mata bersinar-sinar. Tetapi siapa yang akan meragukan nilai Hermione?

McGonagall tersenyum. "Jadi," katanya pada Harry, Neville, dan Draco yang hari itu menengok lagi, "kalian jadi saksi ya, kalau nilai NEWT Ramuan Hermione bagus, dia akan langsung jadi guru di sini. Horace sudah benar-benar tidak mau mengajar lagi. Mungkin mau menikmati pensiunnya dengan sekotak permen nanas."

Semua tertawa. McGonagall kemudian meninggalkan mereka.

"Hermione, boleh aku menggendongnya?" Harry tiba-tiba mengajukan usul.

"Boleh saja. Begini, jangan kikuk begitu. Biarkan kepalanya bersandar enak di lekukan sikumu. Nah, begitu."

Semua menertawakan kekikukan Harry.

"Harry," Hermione bertanya hati-hati, "Ron sudah tidak ada. Kau mau … menjadi ayah walinya, kan?"

Harry terdiam. "Tentu saja, Hermione. Aku akan melakukan apa saja demi Ron. Dan aku akan menjaga Romy, untuk Ron."

"Terima kasih, Harry," mata Hermione berkaca-kaca. "kalian juga, semuanya, aku sangat berterima kasih."

"Neville, coba kau gendong!" Harry memindahkan bayi itu ke tangan Neville. Kini giliran Neville yang ditertawakan.

"Sudah ah. Kini giliran Draco!" sahutnya takut-takut.

"Dasar laki-laki," sungut Hermione, tetapi sambil tertawa. Diambilnya Romy, dan dipindahtangankan pada Draco.

"Eh, sambil duduk saja, ya?" ujarnya. Diletakkan tongkatnya, baru ia memangku Romy di tangan kiri.

Aneh. Ada rasa aneh saat ia memangkunya. Seperti ia langsung jatuh sayang padanya. Draco mencium pipinya, dan dibisikkan: 'Aku akan selalu menjagamu. Selalu.'

Dikembalikannya Romy pada Hermione.

"Kami akan selalu mengunjungimu, Hermione. Terutama Neville," Harry menepuk punggung Neville, "Dia sudah diterima magang oleh profesor Sprout!"

"Aah! Selamat, Neville!" Semua menyalaminya.


Draco sedang memberes-bereskan barang-barang di bakal tokonya di Hogsmeade, ketika seorang berjubah hitam mendekati pintunya.

"Toko ini belum buka, Sir," Draco berdiri dan mendekati orang itu.

"Aku tidak membutuhkan Ramuan, Mr Malfoy." Dia meletakkan secarik perkamen kosong di meja di depan Draco. Mengeluarkan tongkatnya, mengetuk perkamen itu. Muncul dua baris tulisan di atasnya.

Ian Cornwallis

Unspeakable

TBC