Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance/angst
Rated : T
Happy reading, Minna-san^^
Chapter 2
##Bitter Sweet##
"Ugghh…" suara rintihan kesakitan kecil keluar dari mulut seorang pemuda berambut model emo.
Seorang Kunoichi yang dari kedua tangannya mengeluarkan sinar kehijauan hanya memandang wajah pemuda di hadapannya dengan sendu. Kedua tangannya kini berada di sebelah tangan kanan pemuda tersebut yang terluka cukup parah karena mengeluarkan jurus chidori. "Bertahanlah… Sasuke-kun." Ucap sang kunoichi tersebut. Bulir-bulir keringat membasai dahi dan atasan baju merah marunnya.
Nafas Sang Kunoichi tersebut tak beraturan dan tersengal-sengal. "Haaah… haaah… haaah…"
"Sa… Sakura… hentikan..! Kau bisa kehabisan chakramu," ucap Sasuke dan berusaha menjauhkan tangan Sakura dari tangan kanannya.
"Tidak apa-apa, Sasuke-kun… aku senang jika pada akhirnya aku bisa berguna untukmu," jawabnya dan tersenyum lembut. "Sekarang tutup matamu… aku akan mengalirkan chakraku..!"
Perlahan-lahan kedua mata Sasuke menutup, menyembunyikan sepasang mata onyx yang tajam dan juga indah. Dan bisa dirasakan oleh Sasuke kini di kedua bagian matanya terasa hangat. Sakura telah mengalirkan chakranya untuk menyembuhkan kedua mata Sasuke yang terlalu lama memakai jurus mata.
"Maaf…" ucap Sasuke singkat.
Sakura yang mendengarnya hanya mengerutkan keningnya dan mengangkat sebelah alisnya pertanda bingung dengan ucapan pemuda dihadapannya ini. "Untuk?" tanyanya.
Semburat merah tipis tercipta di kedua pipi pemuda berambut emo tersebut. "Atas ciuman yang tadi kulakukan. Aku… aku…" Sasuke bingung dengan apa yang akan di ucapkannya lagi. Lidahnya terasa kaku untuk di gerakan kembali.
"Tidak apa-apa, Sasuke-kun." jawab Sakura dengan wajah yang bersemu kemerahan. Sakura merasa lega karena wajahnya yang sedang malu tersebut tak terlihat oleh Sasuke. Dan sebuah senyuman manis tercipta di bibir mungilnya.
Suasana hening kini tercipta di antara keduanya. Sasuke tengah fokus untuk memulihkan chakranya kembali. Sedangkan Sakura lebih memusatkan chakra di kedua telapak tangannya agar pemulihan mata Sasuke lebih cepat. Namun, apa daya… chakra Sakura sudah banyak terkuras akibat pertarungannya dengan Zetsu, ditambah dia harus menyembuhkan lukanya sendiri. Bahkan Sakura juga menyembuhkan luka Naruto dan sekarang dia menyembuhkan luka Sasuke. Jika tak ada pil penambah chakra yang dia racik sendiri mungkin sekarang chakranya sudah habis dan tak dapat menyembuhkan Naruto ataupun Sasuke. Itu adalah resiko dari seorang ninja medis, mempertaruhkan nyawanya demi rekan satu timnya.
Memang benar jika dalam suatu kelompok keselamatan ninja medis harus di utamakan demi keberhasilan suatu misi. Namun, jika semua anggota timnya mempertaruhkan nyawanya demi melindungi seorang ninja medis bukankah percuma saja. Misi berhasil dengan seorang ninja medis selamat namun semua anggota tim yang lainnya gugur. Sama saja dengan nol.
Namun, sempat terbesit rasa khawatir bagi Sakura karena dia telah memakan lebih dari satu pil penambah chakra. Tidak ada obat yang tidak menimbulkan efek samping jika terlalu banyak di gunakan. Efek samping dari pil yang di racik oleh Sakura adalah mungkin beberapa system jaringan ataupun syaraf-syaraf dalam tubuh akan rusak. Sakura tahu betul hal itu namun tetap dimakannya lebih dari satu pil itu. Jika Sakura sampai memakannya lebih dari dua entah apa yang akan terjadi.
"Kita harus cepat, Sakura. Na… Naruto dan Kakashi sedang dalam bahaya," ucap Sasuke dan bangun duduk.
Sakura menghentikan penyaluran chakranya dan mengatur kembali nafasnya. "Haaah… haaaah… aku tahu. Tapi lukamu belum sepenuhnya sembuh, Sasuke-kun," jawabnya.
"Hn. Tidak apa-apa. Ayo kita ke tempat mereka..!" ucap Sasuke dan bangkit berdiri.
"Aku mengerti. Baiklah."
Akhirnya Sasuke dan Sakura menyusul pergi menuju Naruto dan juga Kakashi berada. Ketempat di mana Madara Uchiha berada.
Dari satu cabang pohon ke cabang pohon yang lain kedua orang ninja tersebut melangkah dengan cepat. Semilir angin menggerakan beberapa helai rambut keduanya. Rambut hitam kebiruan milik Sasuke bergerak-gerak lembut. Seorang Kunoichi yang dari tadi berada di belakangnya memperhatikan tanpa berkedip sedetikpun. Kedua mata emeraldnya terus fokus ke punggung Sasuke yang tegap dan juga lebar. Sebuah senyuman kembali tercipta di bibir mungilnya.
Namun, tiba-tiba saja pandangan matanya yang menatap punggung Sasuke menjadi kurang jelas dan buram. Beberapa kali Sakura mengerjap-ngerjapkan kedua matanya berharap pandangannya kembali normal. Namun, hasilnya tetap saja. Pandangan matanya terhadap Sasuke semakin tidak jelas saja. Ditambah sekarang Sakura merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Rasanya seperti ditusuk beberapa kali dengan kunai.
"Uggh.." rintih Sakura pelan. Sasuke yang berada di depannya pun sama sekali tak mendengarnya.
"Apa ini efek dari pil penambah chakra tersebut?" batin Sakura dan perlahan-lahan tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh dari batang pohon yang dipijaknya.
"SAKURAA..!" teriak Sasuke ketika melihat ke belakang dan terkejut melihat tubuh Sakura jatuh begitu saja dari cabang pohon dan akan mendarat di tanah yang keras. Segera saja Sasuke memusatkan chakranya pada satu titik yaitu pada kedua telapak kakinya dan dengan kecepatan luar biasa Sasuke menangkap tubuh Sakura sebelum tubuhnya terbentur ke tanah. Sakura yang berada di dalam dekapan Sasuke nafasnya tersengal-sengal dan tak beraturan. Keringat dingin mengucur dari dahinya turun ke leher jenjangnya yang sudah bisa dibilang banyak bekas luka kering dari benda tajam.
"Sakura… kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke.
"Sa… Sasuke-kun… tak… perlu mengkhawatirkanku. Se… secepatnya kita harus… me… menyusul Naruto dan… Kakashi-sensei," ucap Sakura berat di tengah-tengah nafasnya yang tersengal-sengal.
"Haaahh… haaah…"
"Hn. Aku mengerti," ucap Sasuke dan mengendong Sakura di punggungnya. Setelahnya dia kembali melesat di antara cabang-cabang pohon, melanjutkan kembali perjalananya.
##Bitter Sweet##
Seorang laki-laki berseragam tingkatan Jounin nampak sangat kelelahan menghindari serangan-serangan lawannya. Kondisi tubuhnya yang tengah terkena racun membuatnya tidak bisa bergerak cepat. Tapi, mungkin semua ini berkat obat dari Sakura lagi yang membuat tubuhnya bisa di gerakan walalu hanya bisa di gunakan untuk menghindari serangan lawanannya saja.
"Haaahh… haaahh…" Suara nafas laki-laki dengan tingkatan Jounin itu terdengar berat sekali. Apalagi di tambah sekarang sebelah matanya yang tadinya sharingan dengan tingkat tinggi atau di sebut Mangekyou Sharingan telah berubah kembali menjadi sharingan biasa. Dengan keadaannya yang hampir kehilangan seluruh chakranya tak memungkinnya untuk mengeluarkan jurus matanya kembali.
"Apa yang harus aku lakukan di saat seperti ini?" batin Kakashi ditengah-tengah mengatur nafasnya kembali.
Shuut…
Shuut…
Shuut…
Suara hembusan angin yang terbelah dengan tiga buah kunai melesat dengan cepatnya dari arah belakang punggung Kakashi. Dan dengan sesegera mungkin Kakashi menghindar namun keseimbangannnya limbung ketika kedua kakinya akan berpijak di tanah. Menyebabkannya tergeletak tak berdaya di tanah.
"Aku sedikit kagum padamu, teman lamaku," ucap Madara atau Obito dan berjalan mendekat pada sosok Kakashi yang masih belum bisa bangun.
"Sial.." umpat Kakashi kesal.
Kini pandangannya mulai mengabur akibat racun yang ada di dalam tubuhnya yang sudah menyebar. Kakashi melihat sekilas bayangan seorang perempuan berambut merah sebelum sepersekian detik kesadarannya menghilang. "Siapa perempuan itu?" batinnya.
"Menyelamatkan tepat waktu," ucap seorang perempuan berambut merah dan memakai kaca mata. Perempuan itu merangkul Kakashi dengan sebelah tangannya.
"Kau perempuan… mau apa kau ikut campur. Tugasmu sudah selesai, Danzou sudah mati," ucap Madara dengan suara beratnya dan dari pandangannya berkilat kemarahan karena kesenangannya menyiksa Kakashi terganggu.
"Aku tak akan pernah melaksanakan perintahmu. Kau bukan tuanku," ucap Karin nama perempuan berambut merah tersebut dengan berani.
"Begitu… baiklah. Berarti kau ingin mati cepat rupanya," ucap Madara dan dengan kecepatan di atas batas normal sosoknya sudah berada di belakang Karin dan juga Kakashi. Bahkan kemampuan istimewa Karin pendeteksi chakra pun tak berguna sama sekali. Karin tak dapat menghindar ketika Madara mengeluarkan kekuatan matanya dan seperti mendorong mereka berdua terpental jauh menabrak pohon dan menyebabkannya runtuh. Dan dengan suksesnya tubuh keduanya jatuh di atas tanah keras.
Buugghh…
Kretak…
Suara pohon jatuh dan juga suara seperti tulang patah atau retak terdengar mengiringi tubuh mereka ketika jatuh ke tanah. Sosok Kakashi teregeletak begitu saja tak jauh dari sosok Karin. Tapi, sepertinya kesadaran Kakashi mulai bangkit bisa di lihat kini kedua matanya sedikit terbuka.
"Kau tidak apa-apa?" ucap Kakasi nyaris pelan sambil memandang sosok Karin di sampingnya.
"Uhukk… uhukk…" Karin terbatuk dengan serta mengeluarkan darah dari mulutnya. Dahi sebelah kanannya mengeluarkan darah segar dan mengalir di pipinya. Kacamata yang tadinya menutupi mata rubby-nya hilang entah terjatuh di mana. Sebelah matanya terpejam dan Karin menggigit bagian bibir bawahnya ketika dirasakannya tangan kanannya patah.
"Ji… jika kau masih kuat berdiri pe… pergi dari sini. Se… selamatkanlah dirimu… sendiri," ucap Kakashi dan mencoba bangun.
"Hal itu… tidak… bisa kulakukan," ucap Karin dan tak mengindahkan ucapan Kakashi. Dia mencoba bangun dan berdiri, mendekati Kakashi. Sebelah tangannya yang patah dia pegang erat-erat. Cara melangkahnya pun sudah tak lurus lagi. Beberapa kali tersandung batu kecil. Pandangannya terhadap sosok Kakashi di hadapannya pun tak jelas. Wajar saja karena dia tak memakai kaca matanya seperti biasa.
"Gigit aku maka luka-lukamu akan sembuh..!" perintah Karin dan menyodorkan tangan kirinya yang tidak terluka pada Kakashi.
Kakashi merasa bingung dengan ucapan perempuan berambut merah yang ada di hadapanya ini. "A… apa maksudmu aku harus menggigitmu?" tanyanya.
"Cepat lakukan saja sebelum dia kembali menyerang kita..!" ucap Karin tegas.
"Uhmm.." gumam Kakashi tak jelas. Dalam hatinya dia merasa sangat canggung dan juga malu. Pelan namun pasti kini dibukanya masker yang menutupi sebagian wajahnya itu.
Karin yang dari tadi memperhatikan laki-laki dihadapannya, wajahnya langsung bersemu kemerahan ketika Kakashi membuka masker wajahnya. Dan wajahnya menjadi sangat merah ketika gigi putih Kakashi menggigit tangannya. Sedekit demi sedikit chakra Karin terhisap oleh Kakashi dan menyebabkan semua luka yang di derita Kakashi pulih dengan cepat.
Di dalam hati, Kakashi begitu sangat tak menyangka bahwa ada kekuatan seperti ini yang di miliki oleh perempuan yang ada dihadapannya ini. Kekuatan penyembuh yang luar bisa cepat dan juga… tak biasa seperti jurus pemulihan biasaya.
Sedangkan Karin menggigit bibir bagian bawahnya menahan sakit tangannya yang patah. "Dia datang.." seru Karin. Dan menarik tangannya kembali. "Bersiaplah… ninja Konoha," kata Karin lagi dan mengeluarkan sebuah kunai yang sudah di lapisi dengan racun.
"Jika ada kesempatan lagi… kita lari," ucap Karin dan di ikuiti anggukan setuju oleh Kakashi.
"Apa kau bisa melacak chakra seseorang dari jauh?" tanya Kakashi dan mencoba bangun. Namun, tetap saja dia masih belum mampu berdiri sendiri dan pada akhirnya dia dibantu oleh Karin.
"Ya..hanya aku yang bisa melakukannya…"
"Katon Gyokkaku no jutsu.." seru Madara dari atas tepat mengarah pada Kakashi dan Karin. Keduanya sangat terkejut karena tak menyangka Madara akan menyerangnya dari arah atas. Sebuah bola besar api tampak menyala di atas langit. Siap menghantam segala sesuatu yang ada di bawahnya.
"Lari..!" seru seorang pemuda berambut kuning spike. "Kage bunshin no jutsu.." dan replika seperti dirinya muncul di masing-masing sisi dan membawa pergi Kakashi dan Karin sejauh mungkin, agar tak kena ledak bola api itu.
Buumm..! suara tanah yang hancur terkena jurus api milik keluarga Uchiha.
"Laki-laki ini… dan chakra ini…" batin Karin terkejut. "Kyuubi.."
"Naruto… kau datang?" tanya Kakashi
"…" Naruto tak menjawabnya sama sekali dan terus berlari menjauh.
Hening…
Yang terdengar hanya suara angin yang terbelah ketika Naruto dan kage bunshin-nya melewati cabang-cabang pohon dan di dalam dekapan kage bunshin-nya terdapat Kakashi dan Karin.
"Sasuke akan pulang ke Konoha bersama kita, Kakashi-Sensei," ucap Naruto setelah sekian lamanya terdiam.
Kakashi nampak membulatkan kedua matanya sedangkan Karin hanya tersenyum tipis entah apa maksudnya.
"A… apa?"
"Perjuanganku dan Sakura selama 3 tahun belakangan ini sudah terbayar dengan kepulangan Sasuke nantinya," seru Naruto bahagia. Walaupun jauh di dalam hatinya dia merasa sangat sakit karena akan segera kehilangan Sakura, perasaan cintanya kepada kunoichi berambut merah muda itu. Seorang wanita yang selalu dilindunginya dengan taruhan nyawa.
"Baguslah Naruto."
"Ngomong-ngomong kau ini anak buah Sasuke, bukan? Kenapa kau ada disini…bersama Kakashi-sensei?" tanya Naruto tiba-tiba dan melirik Karin yang sedang dirangkul dengan salah satu bunshin-nya.
"Aaa… itu… itu…" gumam Karin tak jelas dan gelagapan.
"Dia sudah menolongku, Naruto. Seharusnya kita berterima kasih padanya," ucap Kakashi.
"Begitu… tapi, kenapa kau membantu kami… ninja konoha?" tanya Naruto kembali.
"Sasuke yang memerintahkanku seperti itu. Ketika aku merasakan chakranya melemah pada saat itu juga aku tahu dia kalah bertarung denganmu, Naruto," jawab Karin panjang lebar.
Hening kembali menyusup diantara ketiganya.
"Chakra ini… dia di depan kita..!" seru Karin tiba-tiba dan melepaskan diri dari kage bunshin Naruto. Berhenti di salah satu cabang pohon. Yang lainnya pun ikut berhenti seperti Karin.
"Dari mana kau.."
"Kemana kalian akan lari, eh?" ucap Madara dengan suara khasnya dan dengan tanpa sengaja memotong ucapan Naruto yang hendak bertanya pada Karin. Madara berdiri di atas cabang pohon beberapa meter dari Naruto, Kakashi dan Karin.
"Keberadaan perempuan itu menguntungkan mereka," batin Madara dan memeperhatikan Karin. Tapi, setelahnya Madara tersenyum penuh arti di balik topengnya. "Rencana ku berjalan lancar."
"Madara.." geram Naruto dan bersiap akan menyerangnya jika tak ada suara pemuda dari arah belakang Naruto yang mengehentikannya.
"Tunggu dulu, Naruto.."
Seketika semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangan pada sosok yang berdiri tegak di belakang Naruto.
"Sasuke…" seru Karin senang dan mendekatinya. Pandangannya beralih pada seorang kunoichi yang berada di punggung Sasuke. Sebersit perasaan yang namanya cemburu hinggap di hati wanita bermata ruby itu. "Dia.."
"Karin… bawa dia dan segeralah pergi jauh dari sini," perintah Sasuke dan menurunkan Sakura dari punggungnya. Menyerahkannya pada Karin.
Karin segera merangkulnya dari samping mengunakan tangannya yang tidak patah untuk menopang berat tubuh Sakura. "Aku mengerti… Sasuke… Semoga berhasil! Naruto dan juga Kakashi-sensei juga," ucapnya.
Kakashi sedikit merasa aneh ketika di panggil 'sensei' oleh Karin sama seperti ketika dirinya dipanggil seperti itu oleh Sai.
"Aa…Karin. Sekarang pergilah..!" ucap Sasuke tegas.
Karin dengan secepatnya meninggalkan tempat yang akan menjadi arena pertarungan para ninja tingkat tinggi dengan serta membawa Sakura di dalam dekapannya. Sedikit meringis kesakitan karena luka di lengannya yang patah kembali berdenyut kencang.
Suara-suara lemparan kunai dan shuriken mulai terdengar di telinga Karin. Memecah keheningan hutan yang kini di laluinya bersama seorang kunoichi. Kedua kaki jenjangnya yang terbalut kaos kaki hitam bergerak dengan tidak sempurna di atas cabang pohon. Keringat mulai membanjiri dahi dan poninya. Nafasnya memburu tak karuan sementara kedua kakinya terus saja bergerak dari satu cabang pohon ke cabang pohon yang lainnya. Walaupun sebenarnya Karin merasa kesulitan melihat kedepan dengan jelas karena dirinya tidak memakai kaca mata yang biasanya membingkai kedua mata ruby-nya.
"Sepertinya ini sudah jauh," batin Karin dan turun dari salah satu cabang pohon dan menapakan kedua kakinya di atas tanah. Menyenderkan tubuh Sakura di salah satu batang pohon besar. Sedangkan Karin sendiri jatuh terduduk di samping Sakura dan sedang mengatur nafasnya serta mengelap keringat.
"Sa… Sasuke-kun.." gumam Sakura dan membuka kedua kelopak matanya. Terihatlah sepasang bola mata emerald yang indah dan berkilauan.
"Dia sedang bertarung dengan yang lainnya untuk mengalahkan Madara," Karin lah yang menjawab gumaman Sakura.
Sakura terperanjat mengetahui keberadaan orang lain di sisinya. Kedua mata emeraldnya terbelalak dan mulutnya sedikit terbuka"Ka… kau kan?"
"Namaku adalah Karin… anggota team Hebi yang Sasuke-kun bentuk dan ini pertama kalinya kita bertemu bertatap muka seperti ini," ucap Karin memperkenalkan diri dan mengulurkan sebelah tangannya yang tak terluka ke hadapan Sakura.
Dengan sedikit heran dan kikuk Sakura menerima uluran tangan itu.
"Ughh.." suara rintihan kesakitan terdengar dari mulut Karin. Tangannya yang masih mengenggam tangan Sakura secara tak sengaja menggenggamnya dengan erat. Sakura yang merasa ada yang tidak beres dengan salah satu anggota Team Hebi ini mulai memeperhatikannya. Dan kedua mata emeraldnya berhenti di lengan Karin yang meneteskan banyak darah ketanah.
"Apa lenganmu terluka?" tanya Sakura dan mulai melepaskan genggaman tangannya dari tangan Karin.
Karin mengangguk lemah. Sebelah matanya menutup dan dia menggigit bibir bagian bawahnya menahan rasa sakit. Dan tiba-tiba saja Karin merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dalam dirinya yang berasal dari lengannya yang patah. Sebuah tangan putih namun banyak bekas luka kering mengeluarkan chakra kehijauan di bagian tangannya yang patah. "Apa yang kau lakukan?" bisik Karin lemah dan menatap wajah Sakura meminta penjelasan.
"Mengobati lukamu," jawab Sakura singkat tanpa balas menatap Karin dan lebih memilih berkonsentrasi mengalirkan chakranya dengan baik.
Karin diam setelah mendengarnya dan memperhatikan gerak-gerik Sakura yang sekarang sudah selesai mengalirkan chakranya. Dan yang dilakukan Sakura selanjutnya sekarang membalut luka di lengan Karin dan menggunakan pedang pendek yang Sakura bawa di belakang pinggangnya untuk membuat agar lengan Karin tetap lurus. Bermaksud membuat tulang yang patah tak bergerak sedikit pun.
"Sudah selesai.." ucap Sakura tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke batang pohon. Kedua matanya kembali terpejam.
Karin terus menerus saja memperhatikan Sakura dan dia yang dari tadi menyadarinya membuka kembali kedua matanya. "Ada apa?" tanya Sakura dan sekarang balas menatap Karin.
"Te… terima kasih… Sa… Sakura.." ucap Karin di luar dugaan Sakura sebelumnya.
Sakura tersenyum tipis. "Sama-sama," balasnya dan sedetik kemudian bangkit berdiri dari duduk-duduk santainya. Memegang pelipis kepalanya sebelum benar-benar berdiri tegak.
"Kau mau kemana?" tanya Karin yang juga ikut bangkit berdiri dengan susah payah dan hati-hati agar tangannya yang dibebat tak terlalu banyak bergerak.
"Pergi ke tempat di mana Naruto dan yang lainnya bertarung."
"A… apa? Ta… tapi… Sasuke-kun menyuruhku untuk membawamu pergi menjauh dari pertarungan tingkat tinggi itu."
"Aku ingin bertarung bersama mereka… team 7. Karena pada akhirnya semuanya kembali seperti semula," ucap Sakura.
"Kau sedang terluka juga bukan? Aku bisa merasakan aliran chakramu kacau sekali saat ini. Dan kau pun pasti juga tahu hal itu bukan? Dan kau juga tahu dengan keadaanmu yang saat ini kau tidak akan membantu banyak. Yang ada kau akan menjadi beban buat mereka.
"Lalu?" tanya Sakura kemudian dan memandang Karin.
"Akan kuobati dulu lukamu."
Sakura menaikan sebelah alisnya pertanda bingung dengan maksud ucapan Karin. "Maksudmu?" tanyanya.
"Aku juga ninja medis sama sepertimu."
Hening sesaat.
"Gigit tanganku sekarang dan chakramu akan kembali normal," ucap Karin.
"Eh?"
"Chakraku bisa mengobati luka luar maupun dalam luka seseorang," jawab Karin kembali menjelaskan atas ekspresi kebingungan Sakura.
"Ca… cara pengobatan yang tidak biasa," batin Sakura dan mulai mendekat pada Karin yang sekarang Karin tengah menjulurkan tangannya.
Diraihnya tangan Karin dan disibakkan lengan baju panjangnya yang berwarna ungu. Sakura sangat terkejut melihat banyak bekas gigitan di lengan Karin. "I… Ini.."
"Bekas gigitan orang-orang yang sudah menghisap chakraku untuk menyembuhkan luka-luka mereka," ucap Karin menjawab keterkejutan Sakura.
"Tidak usah di hiraukan… cepat hisap saja chakraku setelah itu kita kembali ketempat teman-temanmu berada!" perintah Karin.
"U…uhm.." Sakura menganggukan kepalanya dan mulai menancapkan gigi-gigi putihnya pada kulit tangan Karin. Sejumlah chakra mulai terhisap oleh mulut Sakura.
##Bitter Sweet##
"Katon Housenka no Jutsu.." ucap Sasuke melapalkan salah satu nama jurus apinya. Dan beberapa bola api menyerang ke satu titik, seorang laki-laki berpakaian hitam bermotif awan merah.
"Cih.." umpat Madara dan melawan jurus api Sasuke dengan jurus api miliknya. "Katon Gyoukkaku no Jutsu."
Jurus api Sasuke kalah dengan jurus api Madara, namun ketika kedua bola api itu hancur dari bola api Sasuke muncul shuriken dalam jumlah banyak dan mengarah pada Madara.
"Serangan yang bagus, Sasuke!" teriak Naruto dan mengepalkan tinju tangannya ke atas. "Yosh..! giliranku. Tajuu Kage Bunshin no Jutsu," ucapnya lagi dan muncullah replika tubuh Naruto dalam jumlah yang sangat banyak.
"Anak ini… benar-benar stamina yang luar biasa," batin Kakashi. "Aku juga tak mau kalah," batinnya lagi dan membuka sebelah mata kirinya yang menampilkan pupil mata berwarna merah darah, Sharingan. Kakashi tengah berkonsentrasi mengumpulkan chakranya kembali agar mengeluarkan jurus mata tingkat tinggi, Mangekyou Sharingan.
"SERAAANGG..!" teriak semua kage bunshin Naruto dan menyerang Madara yang kini konsentrasinya terpusat pada pola serangan Sasuke.
"Terima serangan ini," ucap sepuluh kage bunshin Naruto berbarengan dan melayangkan tinju tangan pada sosok Madara. Dan secepat kilat juga Madara menghindarinya dan bergerak ke sosok Naruto yang asli. Sehingga ke sepuluh kage bunshin Naruto hanya saling meninju diri mereka sendiri dan bunyi 'poof' terdengar sepuluh kali menandakan kesepuluh kage bunshin itu menghilang. Kage bunshin Naruto yang lainnya kembali menyerang dengan rasengan di tangan mereka. Kemudian, mereka mengelilingi Madara dan lagi-lagi Madara berhasil menghindarinya dan yang tertinggal jurus rasengan itu mengenai kage bunshin Naruto sendiri.
"Aku yakin aku berhasil mengenainya. Tapi kenapa?" tanya Naruto pada dirinya sendiri. Dan kali ini dirinya yang asli yang maju melawan Madara beserta satu kage bunshin yang tersisa membantunya mengelurkan rasengan.
"Chidori..!" ucap Sasuke dan juga maju menuju Madara. Di tangan kanannya tercipta kilatan petir siap membelah tubuh yang akan terkena jurusnya nanti.
"Chakraku sudah terkumpul," batin Kakashi dan bersiap membuka sebelah matanya.
"Lamban.." ucap Madara dan berhenti bergerak. Memandang Kakashi yang juga tengah menatapnya.
Dari kedua sisi Naruto dan Sasuke datang denga jurus andalan mereka, Chidori dan rasengan. Tinggal beberapa inchi lagi maka tubuh Madara akan terkena jurus itu namun tak dapat di sangka jurus itu menembus tubuh Madara seolah-olah tubuh aslinya tak ada di tempat itu. Dan membuat jurus Naruto dan Sasuke bertabrakan dan membuat ledakan besar di hutan itu. Pepohonan di sana bergoyang-goyang terhempas oleh angin dari hasil ledakan itu dan sebagian lagi rubuh dan terbakar. Kakashi yang melihat itu memanfaatkan keadaan dengan mengeluarkan jurus matanya.
"Mangekyou Sharingan," ucapnya dan mata sharingannya tak lepas dari sosok Madara. "Akan ku lenyapkan kau dari muka bumi ini," ucapnya lagi dan mulai mengirimkan bagian-bagian tubuh Madara kedimensi lain seperti waktu dia bertarung melawan Deidara. Mula-mula kedua kakinya dan menyusul badannya. Sekarang setengah dari tubuh Madara sudah lenyap menghilang dikirim oleh Kakashi ke dimensi lain.
"Selamat tinggal, Obito," ucap Kakashi lirih.
Dan sekarang tubuh Madara benar-benar mulai menghilang seluruhnya dan hanya tertinggal kepalanya saja.
"Kakashi…ini adalah bukan akhir dari segalanya. Tapi, ini adalah awal dari semua bencana dan menderitanya orang-orang yang kau sayangi," ucap Madara dan matanya berkilat amarah dengan di sertai seringai menyeramkan.
Dan akhirnya sosok Madara lenyap begitu saja terkirim ke dimensi lain cipataan dari jurus mata Kakashi. "Apa maksud dari ucapanmu itu, Obito," batin Kakashi dan menarik nafas panjang juga menutup kembali sebelah matanya.
"Aduuuhhh…! Sakit…!" seorang pemuda berambut kuning nampak mengaduh kesakitan dan mengusap-usap belakang kepalanya yang sepertinya terbentur cukup keras dengan tanah. Hal yang serupa pun terjadi di sebrang tempat Naruto mengaduh. Seorang pemuda berambut emo juga nampak kesakitan dan bangkit duduk sambil memegang dadanya.
"Bodoh.." satu kata sarkastik terucap di bibir tipisnya yang tentu saja di tujukan bagi seseorang di hadapannya.
"Sasuke… kau bicara apa tadi?" tariak Naruto dan mengepalkan sebelah tangannya pada Sasuke. urat-urat kekesalan bermunculan di dahi Naruto karena tak terima dikatai 'bodoh' oleh rivalnya sendiri.
"Kau bodoh.." ucap Sasuke kedua kalinya dan bangkit berdiri. Memandang kesekeliling mencari sosok gurunya yang mesum itu. Dan dari kepulan asap kedua mata onyxnya menangkap sosok Kakashi yang tengah terengah-terengah di atas cabang pohon.
"Ternyata Kakashi sudah berhasil mengalahkannya," ucap Sasuke entah ditujukan pada siapa dan berjalan mendekat pada Kakashi.
Naruto yang di tinggal sendirian menggerutu kesal namun disusulnya juga Sasuke yang mendekati Kakashi. "Oi… tunggu aku..!" teriak Naruto pada akhirnya.
Di lain tempat yang tak begitu jauh Karin dan Sakura mulai mendekati tempat bertarung team-nya. Beberapa cabang pohon di lewati dengan baik oleh kedua kunoichi yang terlihat seperti saudara kembar itu jika saja Karin memiliki rambut seperti Sakura, berwarna merah muda.
"Kau tahu Sakura?" Karin memulai pembicaraan.
"…" Sakura tak menjawab dan memilih mendengar apa yang akan dikatakan Karin selanjutnya.
"Aku iri padamu."
Sakura tak bisa menunjukan ekspresinya terkejutnya mendengar kata-kata yang meluncur begitu saja di bibir kunoichi berambut merah itu. "Kenapa?" tanya Sakura pada akhirnya.
"Iri dengan segala yang ada pada dirimu. Juga pada saat Sasuke melihatmu…aku… sangat iri. Tatapannya yang hangat dan juga lembut. Tatapan sayang dan juga…" Karin menelan ludah sebelum melanjutkan perkatannya kembali.
"Cinta.."
Hening…
Sakura menatap Karin dengan tatapan tak percaya. "Kau jangan bercanda. Sasuke tak mungkin seperti apa yang kau katakan tadi," sanggah Sakura dan tak kuasa menahan kedua pipinya merona kemerahan.
"Benarkah apa yang aku katakan tadi itu salah?" tanya Karin balik dan menatap Sakura.
"A… aku tak tahu.."
"Sakura… kuberi tahu satu hal mengenai kekuatan istimewa yang kumiliki selain jurus penyembuhan tadi," ucap Karin dan memandang Sakura tajam.
"A… apa itu?"
"Menganalis chakra dan mendeteksi chakra seseorang dari jarak yang sangat jauh."
Sakura dikejutkan dengan pengakuan Karin mengenai kemampuannya untuk yang kedua kalinya. "Apakah ada kekuatan seperti itu?" tanya Sakura pada dirinya sendiri.
"Kau pasti tak percaya bukan mengenai kemampuan kedua yang aku sebutkan tadi?" tanya Karin cemberut dan membuang muka kekanan.
"I… itu… a.. aku… aku…" ucap Sakura mulai tak jelas dan lemah. Pandangannya kembali buram dan setelahnya tubuhnya jatuh dari cabang pohon. Karin yang melihatnya segera melompat untuk menolong Sakura dan bermaksud menggapai tangannya.
Namun, karena kondisi Karin yang juga terluka cukup parah. Di tambah tak memakai kacamata membuat pandangannya tak jelas pada tangan Sakura. Sehingga Karin tak bisa meraih dengan pasti tangan Sakura malah meraih angin. "Sakura.." lirih Karin dan memejamkan kedua matanya. Sekelebat dua bayangan yang terbesit dengan kedua mata rubbynya dan salah satunya berhasil menangkap Sakura dengan selamat dan beserta dirinya.
"Kalian berdua… datang.." gumam Karin sedetik sebelum kesadaraanya menghilang penuh.
"Kita tepat waktu, Juugo," ucap seorang pemuda berambut biru dan giginya sangat runcing. Dirinya menyeringai menatap seorang kunoichi berambut merah muda di dalam dekapannya. "Tepat waktu menyelamatkan pemeran yang sangat penting nanti," batin pemuda bergigi runcing itu.
"Ayo kita menemui Sasuke, Suigetsu," ajak seorang pemdua berambut orange dan berbadan besar. Di punggunggnya terkulai kepala seorang gadis berambut merah.
"Baik… kita berangkat.." ucap pemuda yang dipanggil Suigetsu tersebut dan memperat dekapannya pada Sakura di dadanya. Dan sekejap kilat kedua pemuda tersebut telah pergi menemui Sasuke dan yang lainnya dengan meleati cabang pohon-pohon.
##Bitter Sweet##
"Kakashi.." ucap Sasuke dan melompat keatas cabang pohon di mana Kakashi sedang bersandar mengistirahatkan badannya. Kedua mata onyxnya nampak berbeda dari waktu itu. Waktu ketika dia masih berada di pihak Madara dan menatap Kakashi dan yang lainnya penuh kebencian. Sekarang tatapan itu telah berubah menjadi sedikit lembut, hangat dan bersahabat tentunya. Walaupunn wajahnya masih terlihat sangat dingin.
"Tak kusangka Naruto berhasil membuatmu mau kembali ke Konoha, eh?" tanya Kakashi dan bangkit berdiri.
"Hn. Tapi apa hukuman yang menantiku di Konoha nanti?"
"Hal itu aku belum tahu… tapi, akan ku usahakan untuk muridku ini tak akan berat," jawab Kakashi dan meninju pelan bahu kanan Sasuke.
Sedangkan Sasuke tersenyum tipis mendengarnya. Naruto yang baru saja tiba di hadapan Kakashi langsung nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya dan meninju dengan cukup keras bahu kiri Sasuke.
"Kau terlalu keras, bodoh," ucap Sasuke kembali sarkastik dan mendeathglare Naruto. Yang sama sekali tak di hiraukan oleh Naruto. Kedua mata biru langitnya memandang kesekeliling.
"Sakura… dimana?" tanya Naruto dan memandang wajah Sasuke.
"Sa…"
"Dia di sini," jawab seorang pemuda berambut biru dan bergigi runcing bukannya Sasuke. Sosoknya baru muncul di balik cabang pohon beserta seorang kunoichi berambut merah muda di dalam gendongannya. Di sampingnya berdiri seorang pria berbadan besar berambut orange tengah menggendong seorang kunoichi berambut merah di punggungnya.
"Suigetsu… Juugo…" ucap Sasuke menyebutkan nama kedua orang itu.
Naruto menyerngit heran dan juga Kakashi. "Kenapa kalian" tanya Naruto.
"Mereka akan ikut aku pulang ke Konoha," jawab Sasuke singkat, padat dan jelas.
"Sa… Sakuraaaa… apa… apa dia terluka?" tanya Naruto panik dan mendekati Suigetsu untuk melihat keadaan Sakura.
"A… aku tak tahu penyebab dia kehilangan kesadarannya… walaupun sudah aku sembuhkan," jawab Karin lemah di punggung Juugo.
"Sebaiknya kita segera kembali ke Konoha… banyak orang yang terluka di sini. Benar begitu, Kakashi?" tanya Sasuke dan menatapnya.
"Ya… termasuk aku," jawab Kakashi pada akhirnya. Jujur saja dia juga sudah merasa lelah dan dalam pikirannya sekarang adalah 'aku pasti akan dirawat lama di rumah sakit karena menggunakan jurus mata ini dua kali'.
"Baiklah… kita pulang. Ke Konoha," ucap Naruto.
"Hn," timpal Sasuke dan tersenyum tipis.
Bersambung…
Miko-chan notes : Aku minta maaf krn update'annya lama sekali*ber-ojigi*. Semoga chap ini tak mengecewakan readers semua. Dan minta maaf juga krn pertarungan Naruto dan yang lainnya kurang … sulit untuk mendeskripsikan sebuah pertarungan.
CheZaHana-chan notes :
Mari kita balas review dulu/
Di mulai dari…
Naru-mania :
Mengharukan? Keren?*Wajahsenang* terima kasih..^^
Tenang saja Kakashi-kun ga mati^^ dan tentu Naru masih cinta Saku… karena dia cinta mati ma Saku..
Nie dah kami update^^ review lagi yach..
kUrahaShi Mizu-chan :
Ceritanya datar sekali? Terima kasih atas koreksinya… kami akan berusaha untuk bisa dapat 'feel' nya dan tidak 'datar' lagi juga penghayatannya.
Review lagi jika berkenan untuk memberikan kami masukan-masukan^^
dinemeca :
Terima kasih..^^ review lagi yach..
beby-chan :
Terima kasih^^
Scene bertarungnya bikin deg"an? Penghayatan bagus? Terima ksih sekli lagi
Review lagi yach..^^
karinuuzumaki :
Terima kasih…
Ya, aku juga setelah membaca ulang alur perpindaan Sasu jahat jadi baik kecepetan*pundung*
Endingnya bagaimana lihat nanti sja. Masih lama dan juga rahasia..hehehe^^
Dan juga nie dah kami update…review lagi yach..
Nanako-hime :
Sedih baca pas adegan NaruSaku? Aku juga…hiksu…hiksu…
Suka pas adegan SasuSaku? Aku juga…hihihi
Udah kerasa 'feel'nya? Ternyata pendaat orang beda-beda yach… tapi makasih…^^
Nie dah kami update…review lagi yach..^^
Elven lady18 :
Suka fighting scene'y? aku juga..tak sia-sia aku membuatnya dengan susah payah..hehehe..^^
Naru dan Kaka ga bakal di buat mati koq…tenang z. tapi ga jamin juga sich…tkt authornya ngubah jalan ceritanya nanti…ahahaha..
Yosh… blas review sudah…
Arigato gozaimasu, Minna-san^^
Salam manis, Miko-chan & CheZaHana-chan
REVIEWS
