"Memangnya ada yang salah kalau aku bisa melihatmu..?"
"Te-tentu saja!"
Aku bertanya-tanya mendengar pernyataannya barusan, "kenapa?"
"K-karena.. karena..."
"Hmm..?"
"Karena aku.. adalah hantu!"
_-0-_
All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.
Storyline by Aojiru.
Genre's: Romance and Fantasy.
Warning: AU, OOC, Naruto POV.
Eyesight
_-0-_
o
"A-aku adalah hantu!"
Aku terdiam sejenak, sehingga ada sebuah jeda sunyi yang aneh diantara kami, kemudian aku kembali mengunyah roti salad yang masih tersisa dimulutku. "Oh~" kataku santai.
"Oh~?" gadis itu menirukan perkataanku, dengan nada sedikit mengejek, "h-hanya itu reaksimu?" aku menatapnya yang kini terlihat kikuk, "aku ini hantu loh! Hantu! Hantu~!" ulangnya berkali-kali sambil melambaikan tangannya menembus wajahku berulang-ulang. Terasa ada sensasi dingin yang aneh diwajahku kala tangannya menembus wajahku berulang-ulang, dan itu sedikit membuat bulu kuduku berdiri.
"Lantas, kalau kau hantu, aku harus bagaimana?" tanyaku.
"Ugh.. se-setidaknya, terkejutlah sedikit," ujarnya, kemudian ia berpikir, "menjatuhkan roti itu misalnya, atau kalau kau langsung lari sambil menjerit, itu akan membuatku merasa lebih.. seperti hantu. Bukankah seperti itu adegan yang biasa terjadi di film-film?"
"Hmm.. aku tidak tahu kalau hantu juga suka menonton film," sindirku, "jadi, supaya kau benar-benar merasa seperti.. err- hantu, kau ingin aku menjatuhkan roti ini?" tanyaku, ia balas mengangguk dengan cepat.
"Tapi, saat ini aku sedang lapar, sayang sekali rasanya kalau harus menjatuhkan roti seenak ini. Terlebih lagi, harga roti ini cukup mahal, dan aku baru menggigitnya sedikit, semut-semut pun pasti akan kesulitan kalau harus membawa potongan roti seukuran ini," ujarku memelas, ia pun terlihat mempertimbangkan. "Jadi, apa kau masih ingin aku membuang roti salad ini?"
Ia menggelengkan kepalanya dengan kecewa. "Ti-tidak usah, percuma saja melakukannya sekarang, aku tidak akan merasa senang. Lagipula tidak baik kalau membuang-buang makanan seperti itu."
"Hahaha... aku tidak menyangka kalau kau adalah seorang hantu yang pengertian," aku mulai kembali melahap roti itu dalam ukuran yang lebih besar, kedua pipiku sedikit mengembung untuk menyesuaikan ukurannya. Sementara botol jus jeruk yang kubeli terlihat berembun, rasa dinginnya mulai berkurang sejak saat kupegang pertama kali, aku membukanya, menunggu sejenak, kemudian menenggaknya separuh bagian.
GLUP GLUP GLUP
"Ah~ segar!" kataku dengan puas, aku menyeka sisa jus jeruk yang menempel disudut-sudut bibirku dengan punggung tangan.
"Umm.."
"Apa?"
Ia terlihat bingung, sesekali ekor matanya melirik kepadaku, dan dengan cepat beralih ketika tahu kalau aku juga sedang menatapnya. Ia memainkan jari tangannya seolah hal itu akan membuatnya merasa nyaman, dan sepertinya memang begitu. "K-kau.. benar-benar tidak takut denganku?" tanyanya, matanya sama sekali tidak menatapku.
"Fufufufu, aku sudah berumur tujuh belas tahun, sudah tidak lucu lagi kalau aku takut dengan hal-hal seperti itu," ujarku, dia terdiam. "Lagipula, ayahku adalah seorang Exorcist, kau tahu?"
"E-exorcist?" ulangnya.
"Yap. Ayahku adalah orang yang biasa mengusir hantu, entah itu hantu yang merasuki manusia, bangunan, ataupun obyek-obyek lainnya, pokoknya sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal gaib deh," ujarku mulai berbicara panjang lebar. "Sejak kecil, aku sudah bisa melihat hantu-dan itulah alasanku kenapa aku tidak takut padamu. Katanya itu adalah salah satu kelebihan dalam keluarga kami, walaupun aku tahu kalau ayahku hanya bisa merasakan kehadirannya tanpa bisa melihat sosoknya dengan jelas, berbeda sekali denganku, aku bahkan masih kesulitan untuk membedakan antara hantu dan manusia sampai saat usiaku memasuki sepuluh tahun."
Aku terdiam sejenak, menatap gadis itu sambil berharap kalau dia merasa bosan mendengar ceritaku barusan. Tapi yang kulihat adalah sebuah raut wajah terpesona dan penasaran, seolah memintaku untuk kembali meneruskan bercerita. "Ayahku, dulu dia sering mengajakku serta dalam setiap tugasnya, di bilang itu adalah pendidikan yang bagus untukku kelak, aku sendiri tidak terlalu menginginkannya,"
Ugh, aku seperti sedang menceritakan sebuah dongeng pada seorang anak berumur lima tahun, yang malah jadi tidak mengantuk karena terlalu antusias mendengarkan.
"Kadang ayahku diberi tugas untuk mengusir arwah-arwah gentayangan, atau mensucikan arwah tersebut agar bisa pergi dengan tenang ke alam baka, atau juga sekedar berkomunikasi dengan mereka," ia semakin serius mendengarkan. "Apa kau pernah bertemu dengan hantu-hantu lain?" tanyaku.
"E-eh? H-hantu lain?" ujarnya sedikit kaget karena diajak masuk dalam pembicaraan.
"Ya.."
"Umm.. se-sepertinya belum pernah.." jawabnya.
"Hmm.. pantas saja kalau kau mengira kalau kau itu menakutkan," kataku. "Kau tahu, didunia ini ada banyak sekali hantu-hantu yang menakutkan dan bahkan sangat-sangat menakutkan," ujarku, menekankan kata 'sangat'.
"Be-benarkah?"
Aku mengangguk. "Aku pernah dibawa ke macam-macam tempat, seperti tempat pembunuhan, korban kecelakaan, bunuh diri maupun bencana alam. Hantu-hantu yang berada disana biasanya tetap tinggal tanpa bisa kembali ke alam baka dan menjadi arwah penasaran," ujarku, aku melihat si gadis hantu menelan ludahnya. "Dan yang lebih menakutkan dari hantu-hantu yang meninggal dengan cara itu adalah, mereka memiliki wujud seperti saat mereka mati."
"Eh!"
"Ya, ada yang isi perutnya terkoyak keluar, kepalanya pecah, lekuk-lekuk persendian terbalik, anggota tubuh yang hilang, juga darah yang entah bagaimana tak pernah berhenti mengalir dari luka-luka yang terdapat disekujur tubuh mereka," aku mengambil jeda sejenak, dan dia nampak ketakutan.
"Dan kau tahu apa yang paling menakutkan dari itu semua?" dia menggeleng menandakan ketidaktahuannya, aku mengambil nafas, "yaitu, saat ini salah satu dari hantu-hantu itu sedang... BERDIRI DIBELAKANGMU!"
"KYAAA...!"
Gadis itu melonjak kaget sekaligus berteriak sangat keras, dia tidak sadar kalau saat itu dirinya sedang dibodohi. Aku langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksinya yang ketakutan itu.
"Hahahahaha! Lucu sekali.."
Ia terhenti sejenak sebelum akhirnya sadar kalau dirinya telah dipermainkan. Kemudian melipat kedua tangannya di dada sambil mengembungkan pipi, menandakan kekesalannya. "Kau membodohiku ya?" tanyanya.
"Ahahahaha.. maaf, maaf. Habisnya kau terlihat serius banget sih," kataku sedikit terengah-engah karena tertawa tadi. Ia tidak menggubrisnya, "hei, hei, aku cuma bercanda kok,"
Sepertinya permintaan maafku itu ditolak. "Hmm kalau begitu, nih, kukasih roti deh.." ujarku sambil menawarkan sepotong roti dengan permintaan maaf sebagai imbalannya.
Ia melirik roti itu sekilas, namun kembali berpaling setelahnya. "H-hantu mana bisa makan?" ujarnya, masih kesal.
"Hmm... mungkin kau hanya lupa bagaimana caranya, sejauh yang kuingat, hantu-hantu yang pernah kutemui sebelumnya juga sering makan kok."
Ia kembali melirik, sedikit penasaran dengan apa yang baru saja kukatakan, "be-benarkah?"
"Yap!" balasku sambil tersenyum.
"Hantu seperti apa?" tanyanya.
"Emm.. mungkin hantu-hantu jahat yang suka memakan bayi-bayi manusia!" ujarku sambil kemudian kembali tertawa geli. Gadis ini terlalu polos untuk menjadi seorang hantu, pikirku.
"Grrr.. kau benar-benar membuatku kesal," katanya sambil melangkah ke arah kantung belanjaku. "Akan kumakan semua makananmu yang tersisa."
Aku tersenyum, "fufufufu, coba saja kalau kau bisa, mana ada hantu yang-"
Hap, nyam nyam nyam nyam...
"-BISA MAKAN?" teriakku terkejut.
Aku terperanga sejenak, menyaksikannya melahap roti-rotiku dan menegak minuman jus jerukku, ia melakukannya dengan sangat cepat sampai akhirnya aku tesadar bahwa itu adalah potongan rotiku yang terakhir, "ah! Rotiku!"
'hap', dan gadis hantu itu memasukan potongan terakhir itu kemulutnya, kemudian mengunyahnya dengan riang. Seketika, aku merasa menyesal karena telah menggodanya tadi, dan kembali duduk dengan kecewa.
Si gadis hantu yang tadinya senang karena telah membalas perbuatanku menjadi merasa bersalah ketika melihatku kembali duduk dengan lesu. Awalnya ia bersikukuh bahwa itu adalah kesalahanku karena telah membodohinya, tapi lama kelamaan rasa bersalah kembali menghantuinya, "hei, a-apa kau marah?" tanyanya.
Aku menatapnya, "tidak," jawabku dengan lesu sambil menundukkan kepala memandang tanah.
"Ayolah, i-itu kan hanya sepotong roti.."
"Ya, dan aku adalah orang yang sangat kelaparan.."
"Hmmm..." ia berpikir sejenak, "apa kau benar-benar menginginkan roti-roti itu?" tanyanya.
Dan aku mengangguk.
"Baiklah.." katanya seraya melakukan sesuatu.
Aku sedang tertunduk jadi tak tahu apa yang sedang dilakukannya, tapi aku bisa mendengar sesuatu secara samar-samar.
Beberapa saat kemudian, "nih!" ujarnya.
Aku mendongakkan wajahku, aku dapat melihatnya, dan aku mengenalinya, itu adalah roti-roti saladku yang tadi berbentuk segitiga. Kini roti-roti itu telah bercampur aduk dengan isinya dan berubah menjadi sebuah gumpalan tidak rata yang hampir membentuk sebuah bulatan seukuran bola baseball, ia menyodorkannya padaku melalui telapak tangannya.
"A-aku mencoba menyusunnya lagi dari dalam perutku, dan hasilnya seperti ini.."
"Wow! Itu sangat- tidak menggugah selera!" kataku.
"Ya, aku tahu," katanya dengan malu-malu. "Ja-jadi, apa kau akan memakannya?"
"Hmm.. kupikir tidak!"
"Keputusan yang tepat!"
_-0-_
Kami memilih untuk tidak mempermasalahkan soal roti itu lagi, jadi aku memutuskan untuk bertanya padanya, tentang bagaimana dia mati, kapan, dan dimana. Sayangnya tak ada satupun dari hal itu yang diingatnya, selain nama –yang terdapat di seragam sailornya.
"Jadi, tidak ada lagi yang kau ingat?"
"Tidak," katanya, "a-aku bakan tidak yakin kalau seragam ini adalah milikku," tambahnya sedikit ragu.
"Hm, kalau soal itu sih, aku yakin kalau seragam ini memang milikmu," ujarku mencoba meyakinkannya. "Setiap orang yang mati, hantunya akan menjadi sosok dari terakhir kali saat ia menghembuskan nafasnya, seperti hantu-hantu yang kuceritakan tadi," kataku.
"Oh, dan kuharap kau tidak akan bilang kalau salah satu diantaranya kini sedang berada dibelakangku."
"Hehehe, tentu saja tidak."
"J-jadi, apa bisa dipastikan kalau nama ini adalah benar-benar namaku?" tanyanya.
"Berdasarkan pengalamanku, ya!"
Dia lalu tersenyum, dan kembali membaca name tag yang terdapat di seragam sailornya, "Hyuuga Hinata ya.." ucapnya dengan gembira, kemudian ia termenung, sorot wajahnya berubah muram, "kuharap aku bisa mengingat saat –saat aku hidup dulu," ujarnya lirih.
Aku hanya bisa bersimpati atas hal itu.
"Oh iya!" teriaknya seketika, sekaligus membuatku terkejut, "mungkin ayahmu bisa sedikit membantu?" tanyanya.
Aku mencoba memikirkan hal itu, tapi, "hm.. sayang sekali, sepertinya tidak bisa," kataku.
"K-kenapa? Bukankah dia seorang excorcist? Pasti ada yang bisa dilakukannya untukku, aku yakin beliau adalah orang yang hebat," ujar Hinata yang terdengar antusias.
"Ya, kau benar. Sebagai seorang excorcist dan sebagai seorang ayah, dia sangatlah hebat," kataku mengenang.
Hinata semakin senang mendengar persetujuanku. "Nah, betul kan? lalu.."
Aku tersenyum dan menatapnya, "sayangnya dia telah wafat setahun yang lalu..."
"Ah.." antusiasme diwajahnya tadi dengan cepat berubah menjadi rasa iba, "m-maaf, a-aku tidak bermaksud untuk.."
"Tidak usah khawatir, aku sudah bisa menerimanya. Sudah setahun berlalu sejak saat itu.."
Hinata terdiam, mungkin ia tak tahu apa yang harus dikatakannya lagi, atau mungkin ia merasa tidak enak karena telah mengungkit masalah itu, walaupun sudah kubilang untuk tidak mengkhawatirkannya.
"Jadi," kataku memecah kesunyian, ia kembali mengangkat wajahnya dan menatapku, "apa kau tidak akan mencari tahu tentang asal-usulmu?"
Ia menggeleng, dan kemudian kembali tertunduk, "bu-bukannya aku tidak pernah mencoba , tapi, a-aku sama sekali tidak bisa apa-apa," ujarnya yang kini terlihat suram. Kedua tangannya masing-masing menggenggam rantai ayunan yang terkait pada tiang, lampu penerangan taman yang tidak seberapa terangnya menambahkan kesan suram pada dirinya.
"P-padahal, aku sangat ingin tahu mengenai asal-usulku sendiri. T-tentang siapa aku, siapa kedua orang tuaku, keluargaku, bagaimana aku hidup, kapan, dan dimana.. aku mati," ia mengambil nafas, seolah kalimat itu adalah beban berat yang sedang ditumpukan di pundaknya, "tapi kalau sendirian, aku tidak yakin akan bisa melakukannya, aku ini sama sekali tidak berguna, bahkan belum pernah ada yang menyadari keberadaanku sama sekali. Aku ini benar-benar tidak berguna, tidak berguna, tidak berguna," katanya berulang-ulang.
Hmm.. dia ini, kalau dia adalah manusia, mungkin inilah wujud dari pribahasa 'hidup enggan, mati tak mau', tapi dia adalah hantu, jadi aku tidak tahu pribahasa apa yang tepat untuknya.
Aku tersenyum dan berujar padanya,"bukankah saat ini kau tidak lagi sendirian?"
"Eh?" ia mengangkat wajahnya.
"Bukankah saat ini sudah ada orang yang menyadari keberadaanmu,"
"M-maksudmu, kau akan..."
"Yah, walaupun aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan untukmu, tapi setidaknya, aku akan berusa-"
"Terima kasih~" teriaknya dengan wajah riang sambil melompat ingin memelukku.
Sepintas, aku merasa ia akan menembus tubuhku seperti sebelumnya dan hanya akan menyisakan kesan dingin pada bagian tubuhku yang dilewatinya.
Ternyata tidak, ia berhasil menerjangku dan membawaku jatuh bersamanya, dan kami berdua pun melayang melewati papan ayun dan terjatuh ke tanah. Tapi kami tidak mengeluh karenanya, justru sebaliknya, kami merasa senang.
"Wow! Bahkan kau bisa menyentuhku sekarang!"
"I-iya, aku tidak tahu kenapa, tapi aku senang sekali, ini pertama kalinya aku bisa menyentuh manusia.."
"Dan ini pertama kalinya aku menyentuh hantu-" ujarku, "hantu yang cantik."
"Ah.."
_-0-_
Akibat jatuh tadi, kami berdua saling bertumbuk diatas tanah, dan kami masih belum beranjak. Dari posisiku, aku bisa melihat bulan sabit diatas sana, tapi saat ini aku tidak terlalu mempedulikannya, karena kini wajah Hinata berada begitu dekat denganku, dan berkat perkataanku sebelumnya, kini wajahnya memerah tersipu, menyelimuti warna kulitnya yang seputih salju, dan ia tampak manis karena hal itu.
"A-apa tadi kau bilang, kalau aku.. cantik?"
"Apakah aku perlu mengatakannya lagi?"
Hinata semakin tersipu, "aku tidak tahu kalau kau ternyata adalah seorang penggoda hantu,"
"Memang tidak," kataku, "memangnya kau pernah mendengar gosip itu?"
Ia menggeleng, "tidak, tapi kurasa aku perlu mendengar namamu, aku yakin aku belum mendengarnya.."
"Oh, tentu saja, karena aku memang belum mengatakannya, namaku adalah.."
"Naruto?" tegur seseorang dari belakang.
Aku mendongak ke arah suara tersebut berasal, kudapati Iruka sedang menatapku heran dengan posisiku sekarang. Aku segera bangkit berdiri dan mengangkat tubuh Hinata yang terlihat sedikit ketakutan. Lalu, sambil menepuk-nepukan celana belakangku, aku mengambil posisi persis didepan Hinata, seolah aku sedang menyembunyikannya agar tak terlihat oleh Iruka, dan tentu saja tanpa melakukan hal itu pun Iruka tidak dapat melihat Hinata.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Iruka penasaran.
"Oh, tentu saja aku sedang.." aku melirik ke sekitar, dan mendapati kantung belanjaku tadi, "..makan!" sambungku. "Yap, aku sedang makan."
"Makan? Dalam posisi seperti itu?" tanya Iruka membayangkan posisiku sebelumnya.
"Yah, saat ini bulannya sedang bagus, jadi kupikir akan nikmat kalau aku makan sambil menatapnya," ujarku mencari alasan.
Ia menatap seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan. Yah, Iruka sudah mengenalku sejak lama, ia tahu kalau aku bukanlah orang yang akan melakukan hal seperti itu, wajar kalau ia curiga. Tapi sepertinya ia tidak berniat untuk mempertanyakannya lebih jauh, ia juga tahu kalau aku sudah cukup besar untuk memiliki satu atau dua rahasia, ia juga pasti melakukannya saat seusiaku.
Ia lalu melirik ke sebelah kananku, tempat Hinata bersembunyi dan menyembulkan kepalanya. Aku sempat berpikir kalau ia dapat melihat Hinata, dan itu membuatku sedikit gugup, tapi kemudian, ia kembali menatapku. "Sudah hampir jam tiga, bukankah kau ada kelas besok?"
"Ah, iya, aku baru saja memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum itu, aku harus membereskan sampah-sampah ini," kataku sambil menatap sekeliling yang penuh dengan bungkus roti serta botol sisa jus jeruk.
"Perlu kubantu?"
"Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri," kataku.
"Kau yakin?"
"Yap, sangat yakin."
"Hmm.. baiklah, pastikan kau segera pulang setelah melakukannya," ujarnya, "dan jangan tidur terlalu la-rut.. oh astaga, ini bahkan sudah hampir pagi," katanya mengoreksi kata-katanya barusan. "Yah, terserahlah, pokoknya segeralah pulang dan tidur atau kau akan kesulitan saat pelajaran nanti," sambungnya menasehati.
"Ya, aku mengerti.."
"Baiklah, kalau begitu aku duluan, aku juga harus banyak istirahat, karena besok harus mengajar.." ujarnya sambil melangkah pergi, "oh, dan satu lagi.." Iruka menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku, aku menunggu apa yang akan dikatakannya, "jangan membaca majalah seperti itu di tempat terbuka seperti ini, kalau kau mau, lakukan saja dirumah, itu akan lebih baik," sambungnya sambil berkedip dan tersenyum.
"Ahahaha.. baiklah," kataku canggung. Majalah seperti itu? Majalah apa yang dia maksud?
"Nah, kalau begitu aku duluan ya," ujarnya sambil kembali berbalik dan mengangkat sebelah tangannya sambil berjalan pergi.
Aku menatapnya, menunggunya sampai menghilang dari pandangan dan kemudian bernafas lega, "fiuh, hampir saja.."
Hinata pun keluar dari balik punggungku, "ah.. kupikir ia dapat melihatku tadi," katanya, "dia siapa?"
"Oh, namanya adalah Iruka, dia adalah guruku sewaktu Sekolah Dasar, tapi dia sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri," ujarku menjelaskan, sambil mulai membersihkan sampah-sampah yang berserakan dan membuangnya. Tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan sampah-sampah itu, "nah, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Seperti yang dikatakannya, lebih baik kau segera pulang dan istirahat,"
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau punya tempat untuk pulang?" tanyaku.
Ia menggeleng, "tidak, tidak ada tempat seperti itu lagi.." katanya muram.
"Lalu bagaimana kau melewati malam-malam sebelumnya?"
"A-aku biasa menghabiskan malamku dengan berkeliling, berjalan-jalan disuatu tempat yang sama sekali tidak kuketahui, sambil mencoba mngingat bagaimana kehidupanku sebelumnya, walaupun selalu gagal," katanya kembali mengenang,"oia, apa kau tahu kalau hantu itu tidak pernah mengantuk? Walaupun aku sendiri sering tertidur sih, yah, tapi itu kulakukan semata-mata karena aku bosan, tak ada hal lain yang bisa kukerjakan, tak ada teman untuk berbicara.. sendirian itu memang menyebalkan," senyum diwajahnya mengembang, tapi itu bukanlah senyum bahagia, melainkan senyum kepedihan.
Seorang diri selama beberapa waktu yang lama, ditempat yang sama sekali tak dikenalnya, dan tanpa teman untuk berbagi.. walaupun hantu, dia pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
"Um.. bagaimana kalau kau ikut denganku? Yah, rumahku juga tidak terlalu besar sih, tapi kurasa, hantu tidak membutuhkan banyak tempat, kan?"
Ia terlihat gembira, pupil matanya yang pucat terlihat berbinar karena senang, lalu kembali bersiap untuk melompat kearahku.
"Eits!" aku membentangkan telapak tanganku, ia terhenti seketika, "apa kau ingin kita berdua jatuh lagi? Kali ini bisa benar-benar gawat lho," gawat dalam artian yang berbeda, sebab saat itu dibelakangku ada sebuah batu yang cukup besar, cukup untuk membuatmu mengalirkan banyak darah kalau membenturnya. Tapi entah kenapa Hinata malah tersipu malu, aku tak begitu mengerti apa yang dipikirkannya.
"Jadi? Apa kau mau- ikut denganku?"
Hinata pun mengangguk. "T-tentu saja."
_-0-_
Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk berjalan kaki dari taman itu menuju rumahku. Dan kami terus berbincang selama perjalanan, membuat semua terasa hanya seperti sekejap saja saat aku tiba di pintu depan apartemen rumahku. "Kita sudah sampai," kataku menerangkan.
ia menatap papan nama yang tertera di samping pintu masuk, kemudian menempelkan tangannya pada tulisan itu sambil bergerak turun, "m-margamu Uzumaki?" tanyanya.
Aku balas mengangguk, "yap. Dan oh.. aku belum menyebutkan namaku tadi," kataku sambil mengingat kedatangan Iruka yang mengganggu saat di taman tadi. "Namaku Uzumaki Naruto, senang berkenalan denganmu," aku sedikit membungkuk kearahnya.
Hinata pun ikut membungkuk, "senang berkenalan," katanya sopan.
Dalam hati aku berpikir betapa ini adalah sebuah perkenalan yang aneh, didepan pintu pula. Yah, sejak awal berkenalan dengan seorang hantu memang adalah hal yang aneh, tapi itu tidak masalah bagiku.
Aku membuka pintu kamarku dengan kunci yang kuraih dari dalam saku sweaterku, pintu pun terbuka dan aku mempersilahkan Hinata untuk masuk kedalam terlebih dahulu. Sementara aku meletakan sepatu Converseku yang kotor-setelah beberapa bulan tidak dicuci- aku dapat melihat Hinata menebarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, rasa penasaran menyelimuti dirinya bagaikan seorang bocah sepuluh tahun yang menantikan akan sebuah petualangan besar.
"Rumahku biasa saja kok, tidak ada yang spesial," kataku menjelaskan, "sama seperti rumah-rumah lainnya."
Hinata tidak menggubris, ia malah mulai melayang mengitari ruangan dengan penuh kagum. Aku hampir saja dibuat terkejut karena hal itu, kalau saja aku tidak ingat kalau dia itu adalah sesosok arwah. "Wow!" katanya penuh keterkejutan, "sudah lama aku tidak menyaksikan pemandangan ini," sambungnya.
"Hah?" kataku tak percaya, "pemandangan apa maksudmu?"
Ia menoleh, dan kemudian terbang mendekat ke arahku, "tentu saja pemandangan dalam ruangan seperti ini," katanya, tepat dihadapan wajahku.
Aku mengerutkan kedua alisku, "masa' kau belum pernah melihatnya? Bagaimana dengan rumah-rumah yang kau masuki sebelumnya?"
Ia menggeleng, "tidak, aku tidak pernah melakukannya. Maksudku, masuk ke dalam rumah orang lain tanpa ijin itu adalah perbuatan yang tidak baik. Walaupun, aku bisa melakukannya tanpa ketahuan sedikitpun," katanya sambil mempraktekkan cara yang ia maksud, melayang menembus langit-langit.
Aku tertawa mendengarnya, "hahaha, aku tidak menyangka kalau kau akan berpikir sampai kesitu."
Aku berani bertaruh kalau dia ini adalah orang yang sangat polos semasa hidupnya.
"Jadi bagaimana menurutmu?"
"Yap. Rumah yang bagus dan nyaman, aku pasti akan merasa betah disini," katanya mengungkapkan opini, "um.. dimana yang lain?" tanyanya.
Aku terdiam sejenak, ragu untuk menjawab, walaupun tahu aku harus menjawabnya, "aku tinggal sendirian," balasku singkat.
"O-oh.." katanya, kemudian ia terdiam, tak ingin mengulangi kesalahannya seperti saat di taman barusan. Ia telah belajar untuk tidak terlalu banyak bertanya tentang kehidupan pribadi seseorang, dan itu adalah hal yang sangat bagus.
"Mau kubuatkan teh?" kataku menawarkan.
Ia mengangguk sambil kemudian terbang ke arah meja yang bersebelahan dengan dapur, menarik kursinya keluar dan duduk diatasnya, "jangan terlalu manis ya?"
Aku tersenyum, kemudian berjalan ke dapur untuk menyalakan ketel listrik, sambil menyiapkan dua buah cangkir dalam nampan yang berukiran bunga Sakura. Nampan itu sudah berada disana sejak aku kecil, aku ingat Ibuku sangat menyukai nampan ini, walaupun aku sendiri tak pernah tahu apa arti nampan ini baginya. Yap, ibuku adalah orang yang penuh dengan rahasia, dan aku sangat suka mengenang wangi tubuhnya yang harum yang selalu kuhirup saat aku berada didekatnya.
"Ibuku adalah orang yang sangat cantik," kataku tiba-tiba, membuat Hinata mengubah posisi duduknya menjadi lebih serius, "setidaknya, itulah hal yang kuingat tentangnya."
Aku kemudian terdiam, seolah tak percaya akan mengatakan ini pada.. ya, pada hantu yang baru saja kukenal. Tapi entah kenapa, rasanya aku bisa menceritakan hal ini padanya, sesuatu yang bahkan tak bisa kuceritakan pada orang lain, justru bisa dengan mudah kukatakan pada sebuah zat yang tak jelas asal-usulnya.
"Ibuku meninggal saat usiaku lima tahun," kataku pelan.
Hinata terdiam, berusaha untuk terlihat kaget, tapi aku yakin kalau dia sudah bisa menduganya melalui percakapan kami sebelumnya.
"Tak banyak yang bisa kuingat tentangnya, selain wajahnya juga sikapnya yang sangat memanjakanku," kataku berusaha mengenang. "Seingatku dia mengidap penyakit, cukup lama sampai akhirnya dia meninggal, saat itu aku benar-benar merasa terpuruk dan kehilangan. Hal itu telah merubah seluruh hidupku."
Sudah dua belas tahun sejak saat itu, butuh banyak waktu –dan air mata untuk kembali mengenangnya, terlebih lagi, dia adalah sosok yang sangat berharga bagiku. Aku tak ingin melupakannya, juga tak ingin mengingatnya kalau hal itu hanya akan menjadikanku sesosok manusia tak berguna yang terus hidup dalam masa lalu, jadi lebih baik kusimpan semua kenangan itu dalam buku ingatanku.
Khiiiiiiiiiiiiiiiiiingg...!
Bunyi nyaring ketel listrik menyala, teh pun terlihat mendidih dari tutup wadahnya yang transparan. Aku segera mematikannya dan menuangkannya kedalam cangkir, membawanya ke meja dan memberikannya satu pada Hinata yang langsung menyambarnya dan meminumnya setelah beberapa kali meniupi isi cangkir tersebut dan memastikannya tidak terlalu panas untuk diminum.
Ia terlihat canggung setelah aku menceritakan sedikit dari masa laluku itu, bingung bagaimana harus bersikap. Jadi aku tersenyum lembut padanya seraya berkata bahwa itu adalah masa lalu dan semuanya akan baik-baik saja sekarang. Aku sedikit berbohong saat mengatakannya, karena sejak saat itu, aku tak pernah merasa baik. Karena seperti yang kukatakan tadi, hal itu sudah merubah seluruh hidupku. Tapi aku tak akan mengatakan hal itu padanya, aku tak akan membuatnya mengkhawatirkanku lebih dari ini, ia punya masalahnya sendiri.
"Tambah lagi?"
Ia menggeleng dan menaruh cangir yang sudah hampir kosong itu kedalam nampan.
_-0-_
Aku kembali menuju kamarku, setelah kupastikan Hinata dapat beristirahat di kamar yang disediakan untuk tamu. Ia masih tak banyak bicara setelah itu, tapi itu bukanlah masalah, besok semuanya akan kembali normal.
Langsung kuhempaskan tubuhku kedalam tempat tidur, mencari kehangatan yang sama sekali tak bisa kudapatkan disana dan dimanapun, kehangatan seorang ibu.
Aku pun terlelap dan bermimpi kembali ke sosokku saat berusia empat tahun, ayah dan ibuku berada disana dan tersenyum hangat padaku, kami berjalan bersama dengan penuh harmoni. Sebuah kenangan yang indah, yang hanya akan terjadi di alam mimpi.
-To Be Continue-
A.N
Fiuh, chapter dua sukses! Moga-moga kaga ngebosenin karena terlalu panjang ceritanye ye, hehehe..
gimane? gimane? Udah bagus ato belon ceritanye? Ato masih ada nyang perlu ditambahin lagi?
oke, biar gampang, klik aje tuh tiga kata yang warnanye biru nyang ada ditengah bawah, tulis dah tuh uneg-uneg ente-ente sekalian, biar nyampe ke ane.
hehehe, hebat ye, kaga pake telepati ama apa2an, tpi ane bisa jadi tau ama pendapat ente2 sekalian cuman karena nge-klik tulisan ntu doang, jaman emang makin ari makin canggih dah..
sip deh, klo gitu sampe jumpa di chapter berikutnye nyang insya allah terbit sepuluh ari lagi, salam hangat selalu.
Aojiru
Ciao.^^
