ONE PIECE EIICHIRO ODA

Warning : Ini aku nyontek cerita yang di summer ini seoul. Tapi judul dan setting-nya aku ubah, dan ada bagian-bagian yang aku ubah dan ku ganti juga. Dan luffy dkk itu umurnya udah 25 tahunan lebih.

Don't like don't read :D


~SATU

"Sekarang aku masih dijalan… Mm, baru pulang kantor… Iya, aku juga tahu sekarang sudah jam sepuluh… Ya ya, jam sepuluh lewat delapan belas menit. Terserahlah."

Nami melangkah perlahan. Sebelah tangannya memegang handphone keluaran terbaru yang ditempelkan ke telinga, dan tangan yang sebelah lagi mengayun-ayunkan tas tangan kecil oranye. Ia menghembuskan nafas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening. Saat ini orang terakhir yang ia ingin ajak bicara adalah Sanji, tapi laki-laki itu malah meneleponnya dan bersikap seperti kekasih yang protektif.

"Sanji-kun, sudah dulu ya? Aku sangat lelah," Nami menyela ucapan Sanji dan langsung menutup telepon. Sekali lagi ia menghembuskan napas panjang, lalu menatap handphone-nya dengan kesal.

"Hhhh… Kenapa hari ini muncul banyak sekali masalah, sih! Tadi pagi aku sudah bermasalah dengan klien perusahaan dan kemudian diomeli mister iva-san. Lalu aku juga harus lembur sampai selarut ini…. Hhhh benar-benar…" gerutu gadis yang maniak dengan jeruk dan warna oranye ini.

Nami semakin kesal begitu mengingat apa yang sudah dialaminya sepanjang hari ini. Tapi ia terlalu lelah untuk marah-marah. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan otaknya sudah tidak bisa disuruh berfikir. Lagi-lagi Nami menghembuskan napas panjang.

Ini memang bukan pertama kalinya Nami harus bekerja sampai larut malam, tapi hari ini ia sudah memutuskan akan berhenti kerja untuk designer itu. Pekerjaannya sunguh memakan waktu dan tenaga, sehingga tidak ada lagi tenaga yang tersisa untuk berkonsentrasi pada kuliahnya nanti di pagi hari.

Ia mendesah pelan. "Bisa gila aku," gumam Nami pada diri sendiri.

Nami lalu memandang sekelilingnya. Kota Tokyo masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan seperti berlomba-lomba menerangi seluruh kota, mengajak orang-orang untuk menikmati indahnya malam musim panas di ibukota Jepang itu.

Meskipun dia tumbuh dan dibesarkan disini, Nami masih terkagum-kagum pada suasana kota ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, namun jalanan kota Tokyo masih dipenuhi pejalan kaki dan mobil-mobil yang berlalu lalang.

Tiba-tiba Nami merasa kepalanya pusing. Lalu pandangannya terhenti pada sebuah toko makanan kecil di seberang jalan. Setelah berfikir beberapa saat, dia mengangguk dan bergumam, "Baiklah," seolah, menyerah pada perdebatan yang dia lakukan pada dirinya sendiri.

Nami menyebrangi jalan dengan langkah cepat, secepat mungkin yang bisa dilakukan sepasang kaki yang belum beristirahat selama kurang lebih delapan jam, lalu masuk ke toko itu. Toko itu sepi. Mungkin karena sudah malam. Setelah memberi salam kepada bibi pemilik toko yang sudah lama ia kenal, Nami langsung berjalan ke rak keripik kentang lalu ke rak jus.

"Nah Nami-chan, sekarang ada masalah apa lagi?" Tanya Bellmere setelah melihat empat bungkus keripik kentang rasa keju dan tiga botol jus jeruk yang Nami letakkan di meja kasir. "Oh ya, apa kau tahu? Terlalu banyak minum jus jeruk malam-malam itu tidak baik lho, Nami-chan." Kata Bellmere lagi sambil tersenyum.

Nami tersenyum malu, "Ah, haha… Tidak ada bibi. Aku hanya sedikit stress. Dan tenang saja, aku berjanji jus-jus jeruk itu tidak akan melukaiku. Haha… " kata Nami tertawa hambar. Lalu Nami membuka tasnya dan mencari dompet. Kemana dompet itu?

"Tunggu sebentar, bibi. Aku sangat yakin sudah memasukkan dompet tadi…" Nami mengaduk-aduk isi tasnya, lalu menumpahkan seluruh isinya ke meja kasir. Kini selain belanjaannya, disana ada sisir kecil berwarna oranye, buku kecil bergambar jeruk, lipgloss, kunci, payung lipat –yang juga- bergambar jeruk, sapu tangan –yang lagi-lagi- berwarna oranye dan bergambar jeruk, handphone, bungkus permen, dan jepitan rambut.

"Kenapa tidak ada?" Nami bergumam sendiri sambil terus mencari. Ketinggalan di apartemen? 'Berarti seharian ini aku tidak menyadari kalau tidak membawa dompet?' batinnya.

Tiba-tiba ia mendengar dering ponsel. Nami melirik handphone-nya yang tergeletak di meja kasir. Ternyata bukan handphone-nya yang berbunyi.

"Kau sudah sampai dirumah? … Iya sebentar lagi aku akan kesana. … Aku juga tidak ingin berlama-lama, kau tahu… Ya, tunggu aku." Kata lelaki yang sudah selesai menjawab telefon itu.

Nami menoleh kearah suara bernada rendah dan berat itu. Suara itu milik pria bersetelan putih yang memakai kacamata hitam, dengan tiga anting di telinga kirinya, dan ah! Rambutnya yang berwarna hijau.

'Rupanya bunyi handphone lelaki itu.' pikir Nami. 'Dan, rasanya aku pernah melihatnya' pikirnya lagi.

Sekarang Nami melihat lelaki itu menutup handphone dan memasukkan ke saku celana panjangnya. Sebelah tangan lelaki itu memegang keranjang kecil berisi lima botol sake. Lelaki berkacamata hitam tersebut nampaknya masih muda, mungkin sekitar akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan. Dan kalau diperhatikan, dia –kelewat- tampan dan penampilannya cukup rapi dan stylish.

Lelaki itu memandang Nami, lalu tersenyum ramah. 'oh dear…' batin Nami. Baru pertama kali ini dia melihat senyum yang begitu menarik. Senyum itu membuat rasa lelahnya seakan menguap tanpa berbekas. Senyum itu sangat menawan, sangat….

'apa-apaan aku ini?' batin Nami lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha untuk menjernihkan pikirannya dan kembali memusatkan perhatiaannya kepada barang-barangnya yang kini berserakan di meja kasir.

Tiba-tiba Nami merasa lengannya di tepuk-tepuk. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Bellmere sedang tersenyum kepadanya dan berkata, "Nami-chan, bagaimana kalau Tuan itu membayar belanjaannya duluan?"

Nami memandang Bellmere, lalu beralih ke lelaki di belakangnya "Oh iya, gomen." Katanya sambil menundukkan kepala sedikit, lalu menyingkir kesamping dan lelaki itu melangkah maju.

"Berapa?" Tanya lelaki berambut hijau itu sambil meletakkan keranjangnya di meja. Tiba-tiba terdengar bunyi handphone lagi.

'Oh dear…' lirih Nami. Kepalanya mulai terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Dia sudah sangat pusing dan sekarang bunyi handphone lelaki itu membuatnya hampir berteriak frustasi.

Lelaki itu mengeluarkan handphone-nya dari saku celana dan meliriknya sekilas. Lalu lelaki itu menaruhnya diatas meja dan mengeluarkan handphone yang lainnya dari saku yang lainnya. Dia mengeluarkan handphone yang berbeda. Ternyata handphone itulah yang berbunyi.

'Oh dear! Cepat jawab telfonnya! Satu ponsel saja sudah bikin pusing. Kenapa harus punya dua!' pikir Nami sambil berteriak frustasi dalam hati. Lalu memijit pelipisnya.

Lelaki itu membayar belanjaan sambil terus berbicara di handphone-nya, lalu berjalan ke pintu. Tiba-tiba dia berbalik dan mengambil Handphone satu lagi yang tadi dia letakkan dimeja kasir. "Maaf," katanya pelan sambil tersenyum singkat kearah Nami dan Bellmere.

Lagi-lagi senyum itu, senyum yang bisa menghangatkan hati yang beku sekalipun.

Wait!

Apa-apaan kata itu tadi? Nami memejamkan mata. Mencoba menjernihkan pikirannya kembali. Dan ketika dia membuka matanya kembali, dia melihat lelaki itu sudah keluar dan masuk ke mobil sedan putih –yang setahu Nami- keluaran paling terbaru yang diparkir di depan toko.

Karena Nami tidak bisa menemukan dompetnya, Bellmere mengizinkannya membayarnya besok. Nami lalu mengumpulkan barang-barangnya yang –sangat- berserakan di meja kasir, lalu membungkuk sedalam-dalamnya kepada Bellmere sebagai tanda terima kasih dan maaf yang sebesar-besarnya.

Setelah keluar dari toko, Nami segera membuka jus jeruknya dan meminumnya. "Sekarang saatnya aku bertemu kasurku tersayang." Katanya, lalu tersenyum.

Baru saja dia akan melangkahkan kakinya, handphone-nya berbunyi. Saat itu juga dia mengutuk hari dimana handphone diciptakan. Nami dengan ganas mengaduk-aduk tasnya. Mencari handphone sialan itu sebelum dia sendiri yang bakal menjerit histeris di tengah jalan.

"Moshimoshiiiiiii…!" Nami ingin marah, tapi suaranya malah lebih menjurus ke putus asa.

Tidak terdengar suara di ujung sana. "Moshimoshi! Siapa ini? Kenapa tidak bicara? Hallo? Halloooooo?" Nami baru saja akan mematikan handphone-nya ketika terdengar suara wanita yang ragu-ragu di sebrang sana.

"Emm.. Gomen… Bukankah ini handphone Luffy?"

Siapa lagi wanita ini!

"Anda salah sambung. Ini handphone Nami. N-A-M-I" kata Nami, kesal dan langsung menutup flap handphone-nya dengan keras.

Baru saja Nami ingin mencabut baterai handphone-nya tetapi dia teringat kalau harus menghubungi ibunya untuk memberi tahu kalau dia sudah pulang kerja. Nami membuka Handphone-nya kembali dan menekan angka satu. Alis nya terangkat ketika melihat tulisan di layar handphone-nya. Biasanya, akan tertera "home" tapi kini yang tertera adalah "Zoro". Nami cepat-cepat memutuskan hubungan.

Nami memerhatikan handphone itu. Setidaknya, warna dan bentuknya sama. Lalu dia membuka daftar kontak dan langsung melongo melihat nama-nama yang tak dikenalnya. Otaknya dipaksa berfikir.

Tadi di toko Bellmere, barangnya berserakan, termasuk handphone-nya. Ketika handphone lelaki itu berbunyi, dia kira itu handphone-nya karena nada deringnya sama. Lalu ketika handphone kedua lelaki itu berbunyi, lelaki itu meletakkan handphone pertamanya di meja kasir. Jadi handphone Nami dan lelaki itu berada di meja kasir.

Dan saat lelaki itu berbalik sebelum keluar dari toko, dia mengambil handphone-nya yang sama persis dengan punya Nami yang berada dimeja kasir. Dan sekarang, dia memegang handphone yang berisi nomor-nomor yang tak dikenalnya.

"Aaaaaarrrggghhh!" geram Nami. frustasi. "Kenapa bisa tertukar! Bagaimana ini? Oh dear, bisa gila aku. Gila!" Ia melihat sekeliling. Mobil lelaki itu sudah tak terlihat lagi. Nami merasa tubuhnya akan ambruk ke tanah. Rasanya ingin menjedotkan kepalanya ke aspal. Kemana dia harus mencari lelaki itu?

Tiba-tiba ide muncul di otaknya yang hampir lumpuh itu. Kalau handphone-nya ada di lelaki itu, kalau dia menelfon ke handphone-nya dan lelaki itu akan menjawab.

Lalu dengan segera dia menghubungi handphone-nya.

Nami berjalan mondar-mandir ditepi jalan. "Ayo angkat…. Cepat… Tolong…. Angg-Moshimoshi?"


"Hei Zoro. Kenapa lama sekali?"

"Tadi agak macet," kata Zoro kepada lelaki yang lebih pendek darinya, yang sedang membukakan pintu. Lalu masuk kedalam rumah. Dan mengikuti lelaki yang membukakan pintu itu berjalan ke ruang duduk yang luas.

"Hei Luffy, punya makanan ringan? Aku sudah beli minuman."

Luffy tidak menghiraukan pertanyaan temannya, dan malah berbalik bertanya "Kau sudah dengar gossipnya?"

Zoro memerhatikan Luffy menghempaskan diri ke sofa. Tatapannya terlihat menerawang dan cemas. Sebagai teman satu profesi dan manajer Luffy, Zoro memahami alasan kekhawatirannya.

"Dari mana asal gossip itu?" kata Luffy seakan bertanya pada dirinya sendiri.

Zoro hanya tersenyum dan meneguk sake. Lalu menyerahkan sebotol kepada Luffy. Luffy membukanya dan meminumnya.

"Aku dibilang gay." Luffy tertawa pahit. "Kenapa mereka berfikir seperti itu? Memangnya sikapku seperti perempuan? Atau aku tertalu dekat dengan lelaki? Katakan padaku Zoro. Jangan-jangan kau menganggap aku seperti itu juga.?"

Zoro meneguk sake-nya. "Kau tahu aku tak pernah berfikir seperti itu." Ujarnya tenang.

"Masalahnya, mereka memang suka mencari berita. Dan kau tahu mereka suka menulis artikel yang tidak-tidak. Kalau kau tanya padaku kenapa kau dibilang gay, mungkin karena kau tidak pernah dekat dengan wanita." Lanjutnya.

Luffy menyilangkan tangannya, "Kau juga tak pernah dekat dengan wanita. Tapi kau tidak pernah digosip kan gay.." Katanya sambil cemberut. "Hah… Kalau begitu abaikan saja. Nanti juga akan hilang sendiri." Katanya pasrah.

"Itu masalah yang berbeda.." Gumam Zoro. "Dua minggu lagi albummu akan diluncurkan. Aku takut kalau ini akan mempengaruhi penjualan albummu. Satu saja bisa menimbulkan masalah lain. Bahkan masalah yang lama pun bisa diungkit-ungkitnya. Produsermu tidak akan suka. Dan mungkin juga, kau akan kehilangan pasar." Lanjutnya sambil meneguk sake-nya.

Luffy menghembuskan nafas panjang. "Lalu bagaimana?"

Zoro mengambil botol lagi dan meneguknya. "Untuk masalah gossip gay itu, kurasa sudah saatnya untukmu memperkenalkan wanita kepada publik."

Kepala Luffy berputar cepat kearah Zoro. "Apa! Hei Zoro, kau sudah mabuk, kau tahu."

"Kau tahu aku tidak akan mabuk dengan satu botol saja." Ujarnya, lalu meneguk sakenya kembali. "Dan itu, sederhana saja. Kenapa kau tidak mulai pacaran?" usul Zoro langsung.

"Eh! Kau benar-benar mabuk Zoro!"

Zoro tidak memandang Luffy dan mulai melanjutkan. "Yang penting jangan berpacaran dengan artis. Terlalu beresiko. Kita juga tak usah terburu-buru memberi tahu wartawan. Bisa-bisa mereka akan curiga kalau itu hanya sandiwara."

Zoro mengerutkan kening. Akhirnya dia menoleh dan mendapati Luffy sedang menunggu hasil renungannya.

"Baiklah," Zoro menyeringai. "Kita misalkan kalau kau punya kekasih dan dia tidak mau diekspos, jadi kalian merahasiakan hubungan kalian. Dengan begitu, tidak ada yang tahu dan tidak ada yang pernah melihat wanita itu."

Luffy mengerutkan kening. Bingung. "Kalau tidak ada yang pernah melihat dan tidak ada yang tahu, apa untungnya? Orang-orang tidak akan percaya begitu saja."

"Tapi kita bisa memberi bukti."

"Bukti apa?"

"Fotomu bersama wanita itu."

"Wanita apa?"

"Yang menjadi kekasihmu."

"Kekasih yang mana?"

"Itu bisa diatur kalau kau mau."

"Maksudnya?"

Seringai Zoro berubah menjadi senyum lebar. "Kita cari saja wanita yang tidak dikenal dan memintanya menjadi kekasihmu."

Luffy merenung. Lalu berkata, " Bagaimana kalau wartawan mulai menyelidiki asal-usulnya? Lagi pula dimana kita mendapatkan wanita yang bisa dipercaya? Masa dipilih sembarangan?"

Zoro meneguk sakenya lagi dan menatap Luffy. Temannya itu benar-benar cemas. Alisnya berkerut dan dia sesekali menggigit bibir bawahnya.

Setelah beberapa saat, Luffy mendesah dan berkata, "Wanita seperti apa yang kita pilih? Boleh aku pilih sendiri? Atau kita pilih saja wanita yang pertama kali melewati pintu itu." Dia menunjuk pintu rumahnya dengan dagu.

Tawa Zoro meledak. Luffy menatapnya heran. "Kau kenapa?"

"Hahahahaha…. Astaga Luffy. Aku hanya bercanda. Jangan kau anggap ini serius. Hahahahaha.."

"Apa?"

"Aku hanya bercanda soal usul tadi, Luff. Sudahlah, tak usah kau fikirkan. Pasti ada jalan keluarnya." Ujar Zoro kembali meneguk sakenya.

Luffy mendengus dan tertawa kecil. "Shishishi… Padahal tadi aku sudah cemas. Aku mau jalan-jalan sebentar. Kau mau ikut?"

"Oke." Katanya lalu meneguk sakenya. Habis.

Luffy mengayun-ayunkan botol sake yang dipegangnya. "Oh ya Zoro, handphone-ku sudah diperbaiki?"

Zoro mengeluarkan sebuah handphone dari sakunya. Tiba-tiba dia teringat pada telfon yang diterimanya tadi. Wanita yang mengaku bernama Nami itu berkata bahwa handphone mereka tertukar. Karena dia sendiri tidak bisa mengambilnya, Zoro meminta wanita itu datang kerumah Luffy. Mungkin itu agak keterlaluan, tapi apa boleh buat. Luffy sedang uring-uringan dan kalau dia sedang uring-uringan, dia tak suka menunggu lama.

Zoro baru saja akan mengatakan hal ini kepada Luffy ketika bel pintu berbunyi.


"Siapa yang datang malam-malam begini?" gumam Luffy heran.

Nami tidak tahu kenapa hari ini sial sekali. Dan sekarang, dia berdiri di depan pintu rumah besar berwarna putih. Pria yang katanya bernama Roronoa Zoro –dan jelas, Nami tahu betul dia itu siapa- menyuruhnya kemari untuk mengambil handphone-nya yang tertukar.

Nami kesal, tentu saja. Kenapa dia yang harus datang? Bukankah lelaki itu yang salah? Dia bahkan harus meminjam uang dari Bellmere supaya bisa naik bus, ditambah lagi dia harus berjalan kaki untuk sampai keperumahan elit ini.

Nami kembali menghembuskan nafas. Yang penting adalah mendapatkan handphone-nya kembali dan segera pulang. Karena ini sudah semakin larut dan dia sudah empat kali menguap dalam sepuluh menit terakhir.

Pintu terbuka dan Nami mengenali wajah tersebut. Dia adalah model terkenal dan juga orang yang –diduganya- dia temui di toko tadi.

Nami memaksakan seulas senyum. "Selamat malam, saya Nami yang tadi menelepon. Saya ingin mengembalikan handphone anda. Ini." Nami lalu memberikan handphone lelaki itu.

"Oh, arigato…." Kata lelaki itu ramah. "Saya benar-benar minta maaf karena sudah merepotkan. Ayo masuk. Handphone anda ada di dalam."

Nami tahu seharusnya dia tidak boleh sembarang masuk kerumah seorang lelaki yang tak dia kenal. Tapi otaknya sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan dia ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah ini. Dan kalau lelaki ini macam-macam, dia bisa segera melaporkannya ke wartawan dan dalam sekejap mata karir lelaki ini akan hancur.

Nami melangkah masuk dan membiarkan dirinya dibawa keruang duduk luas. Di sofa panjang yang mendominasi ruangan itu, duduk laki-laki yang sedang berbicara ditelefon. Nami lagi-lagi merasa pernah mengenali lelaki itu. Tapi dimana ya?

"Anda salah sambung. Tidak ada yang namanya Nami disini." Nami mendengar lelaki itu berbicara di handphone-nya.

Nami menatap Zoro dengan pandangan bertanya sambil menunjuk handphone yang dipegang lelaki itu.

"Hmm, itu handphone-mu." Kata Zoro kemudian.

Laki-laki itu belum menyadari kedatangan Nami. Keningnya tampak berkerut sebal.

"Orang aneh!" katanya langsung menutup flap handphone itu dengan keras.

"Hoi Luff…. Handphone itu milik wanita ini…" panggil Zoro.

Laki-laki disofa itu berpaling kearah Zoro, lalu kearah Nami. Ketika mata mereka bertemu, Nami baru sadar siapa laki-laki itu.

Luffy agak bingung dengan penjelasan Zoro. Pandangannya berpindah dari sahabatnya, lalu ke gadis itu, lalu ke sahabatnya lagi. Secara sekilas, Luffy mengamati gadis itu : gadis bertubuh kecil dengan rambut panjang sebahu berwarna oranye dan menjinjing tas tangan yang berwarna oranya juga. Wajahnya terlihat kusam, lelah, dan pucat. Dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun, sementara Zoro menjelaskan apa yang terjadi.

"Oh, jadi ini handphone-mu?" tanya Luffy sambil mengulurkan handphone yang sedang dia pegang.

"Itu… tadi –siapa namanya, maaf, aku lupa- menelpon mencari Nami. Jadi kau Nami?" tanyanya lagi.

Nami tersenyum samar dan menjawab "Iya, saya Nami."

Tiba-tiba handphone itu berbunyi dan membuat Luffy tersentak kaget. "Silahkan dijawab." Katanya cepat.

Nami menerima handphone itu dan langsung membuka flap-nya. "Allô? Mom?" katanya kemudian lalu menjauh dari Zoro dan Luffy.

Kemudian Zoro dan Luffy tertegun mendengar gadis itu berbicara dengan bahasa asing. Zoro dan Luffy mengangkat alisnya. Merasa pernah mendengar bahasa itu, Luffy lalu mengengok kearah Zoro untuk bertanya.

"Prancis." Jawab Zoro singkat.

Percakapan itu tidak berlangsung lama. Setelah menutup telepon, Nami memandang Zoro dan Luffy dengan sikap serbasalah.

"Uum… Terima kasih banyak. Saya pulang dulu." Kata Nami sambil tersenyum kaku.

"Jadi kau bisa berbahasa Prancis, ya?" Ujar Luffy sambil tersenyum lebar.

Nami mengangguk. "Saya permisi." Katanya lalu berjalan menuju pintu.

"Tunggu," sela Luffy. "Dia tidak datang dengan mobil kan, Zoro?" tanya Luffy. Zoro mengangguk.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kau kami antar? Lagi pula kami juga mau keluar. Dan aku juga merasa tidak enak karena kau sudah mengantar handphone itu kemari." Lanjut Luffy.

Nami tersenyum kaku dan mengoyang-goyangkan tangannya. "Tidak usah, saya bisa naik bus."

"Kami akan mengantar kau ke halte bus." Kata Luffy lagi. Dia tidak yakin gadis itu bisa pulang sendiri karena dilihat dari keadaannya, dia bisa jatuh pingsan kapan saja.

"Anggap saja ini sebagai tanda terima kasih dan maaf dari kami." Timpal Zoro.

Nami memandang dua lelaki itu bergantian dengan matanya yang besar. Otaknya sedang berputar mencari cara untuk menolak tawaran tersebut.

Luffy bisa memahaminya. Seorang gadis yang langsung bersedia diantar oleh dua orang lelaki yang tak dikenalnya sudah pasti gadis yang tidak beres.

"Tidak usah khawatir. Kami tidak akan macam-macam. Percayalah," ujar Luffy sambil tersenyum lebar. Walaupun dia tahu bahwa kalimat itu tidak meyakinkan.

"Saya tidak bermaksud begitu…." Kata Nami sambil mengoyang-goyangkan tangannya lagi.

"Ayo kami antar ke halte bus." Kata Zoro.

"Pakai mobilmu saja ya, Zoro." Kata Luffy kemudian.


Sepanjang perjalanan gadis itu lebih banyak diam. Kalau diajak bicara, dia hanya menjawab seperlunya. Luffy melirik Zoro yang sedang menyetir. Lalu melirik kekaca spion untuk mencuri pandang ke kursi belakang.

Gadis itu bersandar dan menatap jendela dengan tatapan kosong. Luffy jadi ingin tahu apa yang membuat gadis itu begitu lelah.

Tiba-tiba Nami membuka suara, "Saya turun disini saja."

Luffy membalikkan tubuhnya agar bisa melihat Nami. "Disini? Yakin tidak mau kami antar sampai rumah?"

"Benar. Kami tidak keberatan, kok." Tambah Zoro.

Nami menyunggingkan seulas senyum yang terkesan dipaksakan. "Tidak usah. Disini saja."

Zoro menghentikan mobilnya dipinggir jalan, dekat halte bus.

"Arigato," Kata Nami sambil keluar dari mobil. "Selamat malam."

Ketika Nami membungkuk untuk member salam kepada mereka berdua, Zoro menurunkan kaca mobil dan bertanya, "Hei, Uum.. Nami, ada yang ingin saya tanyakan. Apakah kau mengenal teman saya ini?"

Luffy menyadari Zoro menunjuk kearahnya. "Dan apakah kau mengenal orang yang menyetir ini?" tunjuk Luffy balik.

Nami mengerjapkan matanya sekali, lalu mengangguk. "Ya, saya tahu. Kau Roronoa Zoro bukan? Yang model itu? Dan kau Monkey D. Luffy bukan? Yang penyanyi itu?"


Lolu : Fuiiiihhh~~ akhirnya selesai juga chap pertama ini! Yeay! Yeay!

Sora : Rasanya panjang sekali ya…. Dan sangat aneh….. Endingnya juga gak jelas…..

Lolu : Kan ini chap pertama! Jadi tentu saja harus panjang! (?)

Lolu : Dan kalau kau bilang aneh…. Tentu saja aku tidak bisa membantahnya….

Lolu : Juga tentang ending yang gak jelas itu….. Aku juga harus mengakuinya….

Sora : Hhhh…. Lagi-lagi semangatmu hilang…. Yasudah lah… Aku tidak bisa berbuat apa-apa….

Merry Crishmast and Happy New Year!

.

REVIEW PLEASE!