Is this love, eh life?
Chapt. 2: "Keluarga Bencana (1) "

"Kau harus menang!"

Petir memberi semangat kepada dirinya sendiri.

(Author: Gila dih..)

"Hey, juara bertahan!"

Pemuda di Samping Petir pun membuyarkan keseriusan Petir.

"Huh, ada apa Runner Up Bertahan?" Ejek Petir.

"Heh, aku ini rivalmu! Panggil aku Rival!" Lawan pemuda itu.

"Sepertinya kau bangga sekali menjadi rivalku, ya? Hmm?" Petir masih saja meladeni rivalnya.

"Terserah," Pemuda itu mendahului Petir, "Kejar aku kalau kau bisa, PETAI!"

"Weh, Taring! SINI LO!"

"PANGGIL AKU: FANG, DASAR B*D*H!"

Di Rumah Keluarga BoBoiBoy..

Tanah hanya melamun melihat nasi gorengnya, "Kenapa Petir tak pernah mau memakan masakanku?" Pikirnya.

"Huff.."

"Aku bosan memakan masakanku sendirian.."

"Halah," Seorang perempuan datang mengejutkan Tanah.

"Kan si Angin masih makan masakanmu.." Itu Yaya, ia duduk di sebelah Tanah sambil memakan apel.

"Kata siapa?"

"Kataku,"

"Hmm.. Terakhir kali mereka makan masakanku, sebulan lalu," Tanah berdiri melihat kalender, "Saat itu, huff.."

".. aku salah memasukkan bahannya, mereka pun sakit perut." Ungkap Tanah.

(Author: Siapa yang nanya coba?)

Yaya menghembuskan nafas kasar, lalu, "Pantas saja."

"Hah? Coba kamu ngomong ulang?" Tanah sepertinya mendengar sesuatu.

"Ulang," Yaya mendadak jadi polos setelah menghabiskan apelnya.

"Bukan itu maksudku, coba kamu ngomong yang kamu omongin tadi." Tanah pun duduk di depan Yaya.

"Yang kamu omongin tadi."

"Bukaaan!"

"Terus ngomong apa?"

"Yang kamu bilang tadi pas aku udah ceritain peristiwa sebulan lalu.."

"Gue ngomong apa ya tadi?"

"Lupakan,"

"Apa yang harus gue lupain?"

Dengan segenap kru yang bertugas- eh, dengan segenap tenaga, Tanah membenamkan mukanya di meja, tanda ia menyerah..

Yaya bangun dan mengelus kepala Tanah, bagaikan ibu dan anak, "Nasib kita sama, Tanah.."

"Hmm?" Tanah mendongak sebentar melihat Yaya.

"Ya, kau dengan masakanmu, aku dengan biskuitku," Yaya terus terang, "Bahkan sepulau Rintis tak ada yang mau mencicipinya.."

Tanah lalu kembali membenamkan mukanya ke meja, "Ya iyalah, biskuitmu kan beracun.." (:v) Ucapnya tak terlalu jelas.

"Coba kamu ngomong ulang?" Yaya gregetan mendengar apa yang barusan dia dengar.

"Ulang,"

"Terserah."

"Y.."

"Terserah kamu nak.."

"Sejak kapan lu jadi emak gue?"

"Sejak tadiii.."

~Kita melupakan Angin dan Gopal, sepertinya, yuk lihat keadaan mereka!~

"Yahh.." Angin pun menggerutu secepat kilat..

.. dan Gopal yang sedang hibernasi (?) pun merasa terusik, "Napa lu, Angin?" Tanyanya.

"Gila nih, Gopal.. Masa iya udah habis aja popcorn nya? Padahal kan belum selesai marathonnya.." Angin kembali menggerutu.

"Jadi gini deh, penonton, kita liatin aja nih pilem, AnginGers: Infinity Gerutu-an.." Gopal berbicara dengan kamera gak jelas, dan menggoyang goyang kan kamera tsb.

"Dia pikir Marathon Pulau Rintis ini secepat dan sesederhana itu ya?" , "Tentu, Tidaak!"

"Mana uang habis lagi.." Lihatlah Angin, dia masih aja menggerutu dan mengutuk (?) uang jajan nya yang sedikit, "Kalo gue yang tertua, pasti dapet paling gede.."

"Hmm.. tertua?" Gopal berfikir dengan pose tangan berada di dagu nya, "AHA!"

"Angin, gue ada Edi(?)!" Gopal mengeluarkan lampu dari kepalanya.

"Ide woy ide!" Angin membenarkan perkataan Gopal.

"Iya itu maksud gue,"

"Apa?"

"Apanya?"

"Ide nya.."

"Gini nih.."

'Bssk, psst, bssk, psst, ah iya iya..'
Hanya itu suara yang terdengar, 'psst, bssk, psst, iya iya..'

"Err.. Gopal, napa lu cuma bilang 'bssk, pssst, bssk, psst' aja?" Angin bingung.

"Lah lu napa cuma ngomong 'iya iya'?" Gopal balik bertanya.

"Gue baca script ada dialog 'iya iya' kok.." Angin menjelaskan.

"Jujur, gue lupa dialog gue.." Gopal menggaruk rambut nya walau tak terasa gatal.

(Author: *getok kepala Gopal* *matiin kamera*)

Biipp..

(Author: *hidupin kamera*)

"Jadi gini nih.." Gopal kembali mengeluarkan lampu nya.

S
K
I
P

"Ohh.. gitu.." Angin mengerti.

"Apanya?"

"IDENYA!"

"Ohh iya gitu.." Gopal mengambil kembali lampunya.

"Apanya?"

"Grr.." , "Tapi, ada satu hal lagi, Ngin.."

"Apa?"

"Itu tadi soal Edi, loh.."

"Kenapa?"

"Ternyata bener loh emang ada Edi, noh yang jualan popcorn namanya Edi.."

"HEEEEEE?!"

~Kita kembali ke Tanah dan Yaya~

"Nah, gini deh, gimana kalo lu makan masakan gua?" Tawar Tanah pada Yaya yang disambut Yaya dengan pose berpikir seperti ilmuwan.

"Boleh, asal lu harus beli biskuit gua!" Nego Yaya setelah berpikir panjang.

"APAAN?!"

"Mau kaga?"

"Iya deh iya, asal kasi diskon!" Mode Discount Hunter milik Tanah pun terpanggil.

(Sfx: jeng jeng jeng!)

"Oke, diskon 25 persen! Setuju?" Yaya menyandingkan tangan kanannya untuk meminta persetujuan sang lawan.

"Dih mahal, diskon 1/4 dari harganya aja dah kalo mau!" Tawar balik Tanah.

(Author: Bukannya sama aja y?)

"Serah lu dah.. Deal?"

"Oke, DEALL!"

Tanah dan Yaya saling bersalaman daaaannn,
'DHOOOMMM!'
Oke, itu cuma suara ledakkan ban dari mobil di jalanan, ya, Author juga kaget. Sama kayak Tanah, yang langsung ciuman ama lantai (baca: jatoh) sementara Yaya ngakak kayak org gila (:v)..

S
K
I
P

Marathon hampir selesai,

Fang dan Petir hampir menuju garis finish.

"HEY, RIVAL! KAU TERLALU LAMBAT!"

"HAH? APA YANG KAU KATAKAN, JUARA BERTAHAN?! AKU TAK BISA MENDENGARMU, TADI ADA KURA KURA IKUT LARI MARATHON TERUS DIA TERIAK KE RIVAL NYA!"

"ITU GUE, B*GOO!"

"AWKAWOKAOWK, MANA KUTAHU! PERKATAANMU CEPAT TAPI GERAKAN MU LAMBAT!"

"TERSERAH! MARATHON INI SUDAH MENENTUKAN PEMENANGNYA SENDIRI!"

"YA, ITU AKU!"

"HAH! ITU LU BISA DENGER?!"

"Ups.."

"KUTUNGGU KAU DI GARIS FINISH!"

"TIDAK, AKU YANG AKAN MENUNGGUMU!"

"COBA SAJAA!"

"AKU AKAN MENCOBANYA!"

Petir nampaknya akan kembali mendapat medali nya, sedang Fang akan kembali menemui nomor dua di medali nya.

Tetapi,

"TARING! MENYERAH LAH!"

"TIDAK AKAAAAN!"

"YOU'LL LOOSE, AGAIN!"

"MY FEEL SAID NO!"

Mereka semakin dekat, kini tinggal 25 meter tersisa. Sementara para penonton berteriak menyambut dua lelaki tsb,

"I, AM, THE, WINNEEERRRRRR!"

"NONSENSE! IT'S FALSE-UH OH,"

Fang terpeleset karena batu batu yang sengaja ada di sisa jalan marathon,

Sementara Petir tinggal 7 meter dari garis finish,

"AAAAAA-"

BRAKK!

"-ARGHHHHH!"

Fang terjatuh pada aspal dengan sedikit terdorong, membuat luka di dahi, lengan, dan kaki nya. Ditambah tangan kanannya yang jatuh duluan bergesek dengan aspal membuat luka yang cukup besar di telapak tangannya.

Petir masih belum sadar dengan keadaan Fang, hingga,
"LOOK AT ME, TARING-!" Ia melihat ke belakang dan menemukan sesuatu,

"HUH?!"

Tepat pada jarak 1 meter lagi dari garis finish, Petir menghentikan kaki nya, sementara para penonton terdiam dgn apa yg ia lakukan.

"FAAANGGG!"

Lalu Petir berlari menuju Fang,

"Ah-apa yang kau lakukan, Petai?"

"Kau akan kalah.. Raih medalimu."

"AKU BOLEH KALAH, TAPI TIDAK DENGAN RASA PERSAHABATANKU!"

"Pe-Petirh..?"

Petir membopong Fang di kedua tangannya dan berlari menuju garis finish, sementara penonton kembali menyebut nama mereka, bergemuruh..

'PE-TIR!' , 'FANG!' , 'PE-TIR!' , 'FANG!'

Mereka sampai di Garis finish, Penonton pun berteriak bersama, "YEAAAAHHHH!"

"WHAT A CHAMPIONSHIP, MENG?!"

Komentator berteriak melihat sikap Petir membawa Fang memenangkan marathon ini.

Petir berhenti pada beberapa meter setelah garis finish.

"Ahahaha, kita berhasil, Fang.."

"Aku dan kau menyelesaikan marathon ini!"

"Ah.. Petirhhh, terimakasihh.."

"Erh.."

Fang perlahan menutup matanya, pingsan.

"Ah? Fang? OH TIDAKK!"

Petir melihat sekeliling dan mulai berlari.

"PAPARAZIIII! JANGAN SEKARANG-"

Petir membawa Fang ke ambulans, lalu menaruhnya di tandu di depan ambulans, "Bawa dia! Mungkin lukanya parah!"

Fang segera dilarikan ke rumah sakit, sementara Petir dikerubungi para wartawan yang mulai bertanya tanya.

"Ah, paparazi, huff.."

Dari kejauhan Angin berteriak, "KAK PETAII!

Petir menoleh ke belakang menghadap Angin yang berlari menujunya.

"ITU TADI GAYA LARI YANG BA-"

Petir tersenyum dan menutup matanya, lalu terjatuh pingsan.

"-Gus.."

Bersambung..

ARGHHH, KOK JADI MELESET GINI SIH ENDING CHAPTER NYA?! PADAHAL KAN TADINYA MAU BUAT YANG BIKIN KETAWA! :(
AWAS KAU OTAK EDAN!

Well, next or stop?