Change : After the arrival of My Brother
Aku cuma mengingatkan chapter kemarin itu hanya prolog ya ^^ belum mulai cerita. Chapter satunya baru dimulai sekarang ^^Izinkan aku untuk menjelaskan beberapa hal ya :
1. Dalam cerita ini, Halilintar, Taufan, Api juga Air itu bukan anak kandung Boboiboy. Mereka cuma anak dari panti asuhan yang diangkat oleh Tomoe dan Boboiboy sewaktu kecil.
2. Hana itu istri kedua Boboiboy. Aku sudah jelaskan di chapter 1 kalau tujuan Boboiboy menikah lagi supaya ada yang menjaga anak-anak angkatnya. Sebab Boboiboy tak bisa meninggalkan jepang untuk waktu lama karena harus mengurus beberapa masalah di perusahaannya sekaligus menjaga anaknya- Gempa.
3. Usia Halilintar 17 Tahun ( Kelas 3 SMA) dan Taufan 16 tahun ( Sudah kelas 2 SMA) Sedangkan Api dan Air berumur 14 tahun ( Kelas 3 SMP). Kalau Gempa umur 12 tahun baru masuk SMP ( Sekedar mengingatkan lagi)
4. Sebelum diangkat jadi anak , Halilintar, Taufan, Api dan Air itu memang sudah bersaudara ^^ Lalu pas Tomoe melahirkan Gempa, otomatis Gempa menjadi adik mereka.
Cukup sampai disini penjelasannya dan Terima kasih bagi yang sudah mereview, balasan review kalian ada setelah cerita ini ^^
Chapter 1
Tokyo 07.00 am
"Ohayou Tou-san~"
Dengan riang Gempa menghampiri sang Ayah yang sedang menikmati sarapan. Ditaruhnya koper berisi segala perlengkapannya untuk ke Malaysia tepat disamping tempat duduknya. Boboiboy memperhatikan Gempa yang sudah duduk berhadapan dengannya.
"Kamu sudah selesai berkemas?"
"Sudah dong!" Jawabnya cepat dengan senyum lebar.
"Kok kamu sepertinya senang sekali?"
Gempa hanya menyengir, ia mulai mengambil beberapa lembar roti dan mengolesinya selai nanas. Tak menghiraukan pertanyaan Boboiboy yang masih digeluti rasa heran. Tak mau ambil pusing, Boboiboy kembali mengunyah roti. Gempa juga melakukan hal yang sama.
"Ayah..."
Suara Gempa memecahkan keheningan yang sempat tercipta untuk sesaat. Nadanya begitu serius, hingga Boboiboy harus menelan cepat makanan di mulutnya.
"Ada apa?"
Boboiboy memperhatikan anaknya yang masih diam tak bergeming. Bahkan makanannya pun belum disentuh kembali. Bisa dilihat, Gempa terlihat seperti orang yang sedang tenggelam dalam pemikirannya.
"Hoi, ada apa sih?"
Sedikit kesal karena anaknya itu mengabaikan pertanyaannya. Ia pun memukul pelan kepala Gempa hingga sang Anak mengaduh kesakitan dan mulai merengut.
"Kenapa Ayah memukulku?"
"Kamu tadi memanggil Ayah kan? Kenapa pas Ayah menyahut, kamu tidak menjawab?!" Ucapnya pura-pura kesal. Hanya ingin melihat reaksi anaknya saja.
Akan tetapi, ia malah mendapat tatapan dengan ekspresi tak terbaca. Padahal ia pikir anaknya itu akan panik dan mulai heboh merayunya agar berhenti mengambek. Rasanya... agak aneh jika ditatap seperti itu. Tetapi ia memilih diam saja dan menunggu apa yang akan dikatakan anaknya setelah ini dan...
"Lagi kebingungan dan nunggu jawaban dari aku ya~ Hahaha~"
... Gempa malah tertawa terbahak-bahak setelah sukses melakukan trap pada Ayahnya. Boboiboy yang mulai sadar kalau dirinya dikerjai, langsung cemberut.
"Dasar kau ini, cepat habiskan sarapanmu!" Ujarnya kesal.
"Hahaha iya Ayahku tersayang~ aku bakal habiskan sarapanku, jangan ngambek ya~"
Namun Gempa masih saja tertawa, seketika Boboiboy mendapat ide untuk menjahili anaknya. Langsung saja ia menyumpal mulut Gempa itu dengan beberapa lembar roti.
"HAYAH HEHA!" (AYAH TEGA!)
Kini giliran Boboiboy yang tertawa ketika melihat anaknya yang sedang susah payah menelan banyak roti di mulut. Ia mendapat deathglare, hingga kemudian berubah menjadi tatapan licik. Ia mengeruk dalam selai nanas itu dengan tangannya, lalu dengan tangan yang berlumur selai itu ia mulai mencoret-coret wajah Ayahnya.
"Hahaha rasakan ini ~"
Mereka pun saling mencoret-coret muka satu sama lain. Ya, hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan bagi Ayah dan Anak itu di pagi hari. Mungkin Boboiboy akan merindukan hal ini, ketika anaknya sudah pergi meninggalkan Jepan dan tinggal di Malaysia.
Kelas XII IPA 1
Disudut ruang kelas, Halilintar tengah terduduk sembari menatap lurus ke depan memperhatikan sang Guru yang sedang menerangkan materi pelajaran. Walau sesungguhnya, Halilintar sama sekali tak bisa fokus menyerap ilmu yang disampaikan itu. Pikirannya kacau. Ia masih mengingat isak tangis Air kemarin...
Kemarin begitu sampai dirumah, tanpa berbasa-basi dulu dengan Ibu Hana dengan seenaknya Halilintar berjalan menuju kamarnya sendiri. Ketika ia mau melewati pintu kamar Air, yang ia dengar adalah suara tangisan adiknya.
"Hiks… Kenapa Ibu meninggalkan kami?"
Tak perlu masuk ke dalam kamar dan bertanya pada Air pun ia tahu siapa yang sedang ditangisi oleh Air. Dia adalah sosok Ibu yang kami sangat sayangi, meski bukan Ibu kandung. Dia... Tomoe.
Pernakah kalian merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang penting dalam hidup kalian untuk selamanya? Sedih, bukan? Namun banyak orang bilang, itu semua sudah takdir. Meski tahu itu adalah takdir, tapi tetap saja rasa sedih itu tak bisa dihentikan. Tidak semudah seperti halnya berbicara.
Jika ada yang bilang, tak ada yang disalahkan dalam hal ini karena kematian memanglah sudah menjadi bagian dari hidup yang tak bisa terbantahkan. Maka ia akan memprotes keras perkataan itu, sebab menurutnya takdirlah yang layak disalahkan.
Kalian mungkin berpikir bahwa dirinya bodoh, menyalahkan takdir yang tak terlihat itu. Ia punya alasan tersendiri kenapa ia beranggapan seperti itu, sebab takdir telah mempertemukan ia dan adik-adiknya dengan Ibu Tomoe.
Ada pepatah mengatakan 'Jika ada pertemuan pasti suatu saat juga akan ada yang namanya perpisahan'. Oleh sebab itu, ia mengangap takdir begitu jahat. Kenapa disaat mereka akhirnya bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu takdir malah merenggut sumber yang menjadi kebahagian mereka? Kalau tahu akhirnya seperti ini, sebaiknya tidak perlu ada yang namanya pertemuan...
Bagi mereka yang tak memiliki kedua orangtua, merupakan suatu kebahagiaan yang luar biasa ketika mendapat sebuah kasih sayang meski bukan dari orangtua kandung. Ia dan adik-adiknya mendapatkan banyak sekali kenangan indah dari Ibu Tomoe, tetapi setiap mengingat memori itu dan kembali menyadari bahwa kenyataanya Ibu Tomoe telah tiada, kau tahu... rasanya begitu menyakitkan. Seolah-olah semua kenangan manis yang sudah tercipta itu hanya ilusi yang mematikan.
Jadi tak salah kan jika aku menyalahkan takdir begitu saja?
"Ck…"
Halilintar tersadar dari lamunannya. Suasana hatinya kembali kacau, ingin menangis... yang ada seluruh warga satu sekolah ini heboh melihat orang yang paling ditakuti ini mendadak jadi melankolis. Itu tak lucu.
Akan tetapi... sampai kapan ia harus dalam kondisi seperti ini?
Memang bukan dirinya saja yang begitu terpukul dengan meninggalnya Ibu Tomoe, tetapi adik-adiknya juga demikian. Kehilangan beliau memberikan pengaruh yang besar bagi hidup mereka. Bahkan hubungan ia dengan adik-adiknya tak seakrba dulu meskipun sering berangkat bersama. Ia juga merasa... telah gagal menjadi seorang kakak.
"Apa yang harus aku lakukan?" Batinnya.
Gempa dan Boboiboy sudah sampai di bandara beberapa menit yang lalu. Kini mreka tengah berada di tempat masuk yang nantinya akan membawa Gempa ke pesawat yang akan ditumpangi. Boboiboy menepuk-nepuk kepala anaknya.
"Jaga dirimu baik-baik ya disana. Jangan minta yang aneh-aneh sama Ibu Hana dan kakak-kakakmu. "
Gempa tersenyum sumringah "Tenang saja Ayah, anakmu ini kan baik dan…" Seketika senyumnya meluntur berganti dengan memberikan delikan tajam "... Apa maksud Ayah dengan 'Jangan minta yang aneh-aneh'? Memangnya aku pernah meminta yang aneh-aneh sama Ayah?" Tanyanya cemberut.
Boboiboy tertawa garing "Hahaha tidak kok…"
''Tidak salah lagi." Batinnya
Ia melirik jam tangannya "Sudah sana cepat masuk, sebentar lagi pesawat yang akan kau tumpangi akan lepas landas, " Ucapnya. Gempa mengangguk, lalu menepuk bahu Ayahnya.
"Baik Ayah~ Sampai jumpa. Tak boleh menelponku, jika bukan aku yang menelpon ya." Ucapnya cepat, lalu langsung berlari pelan menjauhi Boboiboy yang sedang terbengong dengan ucapan terakhir anaknya. Masa ia tidak boleh menelpon anaknya sendiri?
"Bye Ayah~"
Gempa berteriak dari kejauhan, dengan tangan yang melambai-lambai pada Boboiboy. Setelah Boboiboy membalas lambaian tangan itu, sosok Gempa sudah pergi. Ia masih disana memperhatikan pesawat yang ditumpangi anaknya itu mulai lepas landas. Ya dia sangat berharap kehadiran Gempa di Malaysia sana bisa membantu Hana untuk mengembalikan kembali sifat asli ke-empat anak asuhnya.
Balasan Review
1. Ayunf3
: Gempa memang permintaannya aneh-aneh, tapi apa yang dia minta dan lakukan selalu ada alasan pasti dibaliknya x3 Terima kasih telah membaca ^^7
2. Lomi Ashi-chan
: Paragraf deskritif dan naratif ya? Kalau menurut Lomi-san kalau chapter 1 ini bagaimana penggambarannya? kadang suka kerepotan sendiri buat deskritif :') Terima kasih telah membaca ^^7
3. IceCandy03
: Di chapter selanjutnya udah pasti bakal ada Boboiboy element wkwkwk Terima kasih telah membaca ^^7
4.
: Terima kasih telah membaca ^^7
5. Ellena Nomihara
: Terima kasih telah membaca ^^7
6. Dhiaz Rusyda N
: Aku engga yakin update kilat karena sedang disibukkan banyak tugas :") Terima kasih telah membaca ^^7
7. Khairun269
: Gempa belum pernah ketemu sama yang lainnya, sebab... hehehe penjelasannya nanti akan ada di beberapa chapter. Terima kasih telah membaca ^^7
8. Asha
: Hehehe iya, mungkin Gempa lagi mabok makanya minta yang aneh-aneh x3 Terima kasih telah membaca ^^7
9. Nayu Namikaze Uzumaki
: Untuk jarak usia sudah dijelaskan diatas Nayu-senpai ^^ Terima kasih telah membaca ^^7
10. Mahrani29
: Terima kasih telah membaca ^^7
11. Chikita466
: Hai Chikita-san ^^ Untuk kemarin memang sengaja tidak dipaparkan secara jelas masalahnya, soalnya cuma prolog. Kalau aku ceritakan semuanya, rasanya kurang greget x3 temanku bilang, kalau untuk prolog cukup kasih hints nya saja, supaya bikin pembaca bertanya-tanya sebenarnya apa sih yang terjadi? kenapa bisa begini dan bagaimana? hehehe begitu. Maaf ya, jika kemarin aku tidak memaparkannya secara jelas. x"3
Terima kasih telah membaca ^^7
12. Fuyaori
:Terima kasih telah membaca ^^7
13. Rarachan24
: Terima kasih telah membaca ^^7
Kembari memberi info :
Gempa itu belum pernah bertemu Halilintar, Taufan, Api juga Air. Tapi Gempa tahu wajah mereka seperti apa melalui foto yang diberikan Boboiboy nanti. Alasannya kenapa Gempa tinggal dijepang? Nanti akan ada penjelasannya di chapter berikutnya, tapi bukan chapter depan ^^
Dan bisa ditarik dalam chapter ini, masalah yang telah dialami Halilintar, Taufan, Api dan Air adalah masalah intern. Mereka masih belum mengikhlaskan kepergian Tomoe sebab mereka sangat mencintai sosok yang menjadi Ibu mereka itu. Sosok yang mau menerima mereka dan memberikan mereka kasih sayang yang belum pernah mereka dapatkan. Oleh karena itu, mereka masih terpukul dengan meninggalnya Tomoe. Lalu juga ada masalah lainnya ^^. Dan sosok Gempa disini akan menjadi seseorang yang akan membuat kakak-kakaknya itu menyadari hal-hal penting yang mungkin terlupakan dan menyelesaikan semua masalah yang menggangu hati kakak-kakaknya. Bagaimana caranya Gempa melakukan hal itu? Lihat aja nanti ^^
Hanya segitu saja yang bisa ku beritahu, terima kasih sudah membaca ff aku ini. Saran dan kritik selalu dibutuhkan :)
TBC
