Disclaimers:

Kuroshitsuji © Yana Toboso.

Rating: T++

Relationship: Mainly Sebastian Michaelis & female Ciel Phantomhive.

Main Characters: Ciel Phantomhive, Sebastian Michaelis, Allois Torancy, Elizabeth Ethel Cordelia Midford, and many more.

Genres & Warnings: Alternate Universe - Modern Setting, Gender Bender, Drama, Romance, Angst, Comedy, Friendship.

o

My butler is my lover

Riren18

o

Phantomhive mansion terlihat megah dan indah. Suasana tampak terlihat tenang dan menyejukkan. Seperti pagi sebelumnya, bunyi trolly makanan berbunyi sepanjang lorong mansion yang luas itu yang kini di dorong oleh seorang butler menuju kamar sang nona muda. Setelah sampai di depan kamar sang nona, sang butler pun membuka pintu dengan perlahan dan masuk ke dalam bersama trolly yang di bawanya. Trolly berhenti tepat berhadapan dengan jendela yang berada di sisi ranjang. Dengan perlahan tapi pasti, butler itu membuka gorden berwarna putih yang menutupi jendela yang berukuran cukup besar. Sinar matahari pagi pun segera berlomba masuk ke dalam kamar dan tentu mengusik tidur sang nona muda.

"This time for wake up, lady."

Perlahan kelopak mata itu pun terbuka dan menampilkan sepasang mata beriris sewarna batu safir. Surai kelabunya tergerai di atas bantal yang di tidurinya. Tiba-tiba sebuah aroma yang harum membuatnya benar-benar terbangun. Wangi teh yang masih panas dan belum lama di seduh. Segera sang nona muda mengubah posisi dari tidur menjadi duduk di atas ranjangnya yang berukuran king size. Sang butler memberikan secangkir teh lengkap dengan tatakan cangkirnya kepada sang nona muda. Dengan perlahan sang nona muda menyesap teh yang masih agak panas.

"This is Ceylon tea."

"Correct. Do you like it, lady?"

"Of course. This is one my favorite tea. Thanks Sebastian."

"You're welcome, lady."

"Sebastian, menu sarapan pagi ini apa?"

"Waffle with honey syrup and full cream milk."

"Bisakah kamu mengganti susunya dengan teh atau jus jeruk?"

"I'm so sorry, lady. But this your mom order."

"Baiklah. Tolong segera siapkan perlengkapanku untuk hari ini. Setelah itu kamu boleh kembali."

"Understood, lady."

Sementara sang butler menyiapkan air hangat dan keperluan yang lain. Ciel pun menikmati teh yang masih tersisa dalam cangkirnya. Terkadang Ciel suka berpikir mengapa Mommy nya terus memaksanya untuk minum susu. Padahal Ciel tidak begitu suka susu karena terkadang membuat perutnya sakit. Tapi, Ciel hanya bisa pasrah apabila itu adalah keputusan dari wanita yang telah melahirkannya ke dunia.

"Lady air hangatnya sudah saya siapkan. Pakaian yang anda kenakan hari ini sudah saya siapkan."

"Terima kasih. Kau bisa kembali ke pekerjaanmu."

"Baiklah saya mohon diri, lady."

Sebastian membawa trolly yang dibawanya keluar kamar Ciel. Setelah itu Ciel segera masuk ke dalam kamar mandi. Setelah 30 menit kemudian, Ciel kini sudah tampak anggun dalam terusan selutut berwarna navy blue. Surai kelabunya yang telah mencapai pertengahan punggung dan pinggangnya kini di ikat pony tail oleh sebuah pita yang senada dengan terusan yang di pakainya. Setelah itu, segera Ciel berjalan menuju ruang makan yang berada tak jauh dari kamarnya. Dengan langkah yang tenang Ciel berjalan menuju ruang makan di mana kedua orang tuanya sudah menunggunya untuk sarapan pagi. Sesampainya di ruang makan, Vincent dan Rachel, Daddy dan Mommy memberikan senyum dan sapaan hangat untuk sang putri tercinta.

"Morning dear."

Secara bersamaan sepasang suami istri ini mengucapkan selamat pagi untuk anak mereka. Segera Ciel menghampiri keduanya.

"Morning, dad."

Sebuah ciuman di pipi kanan Vincent dari Ciel.

"Morning, mom."

Sebuah ciuman di pipi kiri Rachel dari Ciel.

Setelah itu Ciel duduk di kursi yang berhadapan dengan sang ibunda dan sang ayahanda duduk di kursi yang berada di tengah keduanya. Ketiganya makan dengan tenang dan penuh hikmat. Waffle yang di buat oleh Sebastian terasa renyah dan rasa manis dari sirup madu membuat Ciel begitu menikmati sarapannya pagi ini. Masakkan apapun yang di buat Sebastian pasti sangat di sukai oleh ketiga Phantomhive itu. Rasanya yang selalu luar biasa dan berbeda serta lezat dan menyehatkan.

Setelah acara makan selesai, Ciel mendapat teguran dari sang ibunda gara-gara Ciel melupakan suatu hal. Ya... Ciel belum meminum susunya yang masih penuh dalam gelas yang berada di samping kanan piringnya.

"Dear, ayo di minum susunya. Sebastian yang membuatkannya untukmu. Jangan menyisakan makanan atau minuman yang telah di buat oleh orang lain dengan sepenuh hati."

"Baiklah. Ciel akan minum susunya, mom."

Dengan cepat Ciel menghabiskan segelas susu di hadapannya. Rasanya agak mula segera menghampiri lambungnya meski tidak terlalu kuat. Tiba-tiba sang kepala keluarga berdeham tanda dia ingin membicarakan sesuatu. Segera Ciel mengarahkan perhatiannya pada sang ayahandanya.

"Ciel, putriku nanti sore dad dan mom akan pergi ke Jepang untuk mengurusi beberapa masalah di salah satu cabang di sana. Kami berdua minta maaf apabila baru memberitahumu hari ini. Daddy tahu kamu pasti marah karena memberitahukannya secara mendadak. Tapi, daddy harap kamu bisa menerimanya."

"Until when, dad?"

"Maybe for one year."

"Satu tahun?. Lama sekali. Aku pasti akan sangat merindukan kalian."

"Kami juga pasti sangat merindukanmu, dear. Kamu harus janji dengan mommy untuk menjadi good lady selama kami berdua tak disini."

"Tenang saja, mom. Ciel akan menjadi good lady. Mom, nanti naik pesawat yang jam berapa?"

"Jam 4 sore, dear."

"Bolehkah Ciel mengantar kalian berdua sampai bandara?"

"Tentu saja boleh, putriku."

"Sebastian..."

"Ya, ada apa nyonya?"

"Nanti tolong ikut dengan kami ke bandara ya. Kamu yang menyetir mobilnya."

"Saya mengerti, nyonya."

"Sebastian..."

"Ada apa, tuan?"

"Tolong jaga Ciel selama kami tidak ada di sini. Aku mempercayakannya padamu. Apa kau sanggup?"

"Tentu sanggup, tuan."

"Baiklah. Terima kasih, Sebastian."

"Sama-sama, tuan Vincent."

o

o

o

o

Waktu berlalu dengan cepat di mana waktu sudah menunjukkan pukul setengah 2 siang. Ciel bersama kedua orang tuanya beserta Sebastian sudah sampai di bandara. Ciel berjalan beriringan dengan ayah dan ibunya. Mata Ciel mulai memburam menahan air mata yang akan keluar dari kelopak matanya. Sepanjang perjalanan menuju gerbang keberangkatan Ciel hanya diam saja. Vincent dan Rachel tahu bahwa putri mereka sedang menahan tangisnya. Sebastian juga tahu bahwa nona mudanya sedang merasa sedih karena akan berpisah cukup lama dari kedua orang tuanya. Sesampainya di depan gerbang keberangkatan, Vincent memberi sebuah pelukan dan ciuman di kening Ciel begitupula Rachel yang melakukan hal yang sama.

"Kami pergi dulu ya, Ciel. Jaga kesehatan dan jadi anak baik selama kami tidak ada di rumah."

"Baik, daddy."

"Jangan lupa untuk meminum susu ya, dear. Jangan membuat Sebastian kerepotan."

"Baik, mommy."

"Kami berangkat. We will miss you so much. See you next time, dear."

"Me too. Take care and save flight."

Pasangan Phantomhive itu sudah berjalan menjauh meninggalkan Ciel dan Sebastian. Sebastian pun merasakan hal yang sama seperti Ciel tapi dia berharap semoga kedua majikannya selamat sampai tujuan. Ciel membalikkan tubuhnya dan berjalan melewati Sebastian.

"Ayo kita pulang, Sebastian."

"Yes, my lady."

Sebastian segera menyusul Ciel yang telah melangkah duluan menuju depan bandara di mana mobil BMW terparkir manis. Segera Sebastian meng-unlock dan membukakan pintu untuk Ciel tapi Ciel memilih duduk di kursi penumpang yang bersisian dengan kursi pengemudi. Dengan cepat Sebastian masuk ke dalam mobil dan menjalankannya menjauhi bandara. Sepanjang perjalanan Ciel hanya diam sambil menatap keluar dengan tatapan sendu. Secara tiba-tiba Sebastian memiliki ide untuk membuat Ciel kembali ceria. Perjalanan pulang ke rumah seperti harus di tunda untuk beberapa saat. Sementara itu Ciel baru tersadar jika jalan yang kini di lewati bukanlah jalan menuju rumahnya. Segera Ciel menegur sang butler, Sebastian...

"Sebastian, kita mau ke mana?. Ini bukan jalan pulang ke rumahku."

"Tunggu dan tenang saja. Saya akan membawa lady ke tempat yang menarik."

"Terserah kamu saja."

Karena suasana sunyi, Ciel pun menyalakan mp3 dan memutar lagu favoritnya untuk mengembalikan mood nya yang sedang tidak bagus. Alunan musik mengalun dengan lembut dan membuat Ciel merasa sedikit rileks. Sementara itu Sebastian tetap fokus pada jalanan. Setelah 20 menit perjalanan, mobil BMW itu berhenti di sebuah kafe bernuansa zaman victoria. Ciel dan Sebastian pun keluar dari mobil. Spears Cafe. Nama kafe yang cukup unik. Keduanya pun melangkah masuk ke kafe itu.

"Welcome to Spears Cafe, sir and miss."

Seorang pelayan menyambut mereka berdua dengan ramah dan tak lupa sebuah senyum menghias wajahnya. Sebastian dan Ciel memilih tempat duduk di dekat jendela yang menghadap jalan raya. Tentu Sebastian memperlakukan Ciel seperti tuan putri. Sebenarnya Ciel merasa agak malu apabila di perlakukan seperti itu. Seorang pelayan laki-laki berambut yellow honey menghampiri mereka sambil membawa sebuah buku catatan kecil dan sebuah pulpen di saku dadanya. Ronald, nama yang tertera pada name tag yang di pakainya.

"Nona dan tuan sudah siap untuk memesan?"

"Kau... Ronald?"

"Kak Sebastian? Apakah itu kau?"

"Yes, is me. Long time no see. Where's Will? "

"Long time no see too, brother. Kak Will kebetulan sedang tidak ada di kafe hari ini. Ada urusan penting katanya. Maaf aku jadi melupakan tugas ku. Jadi kakak dan nona yang bersama kakak mau pesan apa?"

"Rainbow parfait for her and cappucino latte for me."

"Anything else?"

"No, Thanks."

"Please wait for a moment."

Setelah selesai mencatat pesanan, Ronald pun pamit pada Ciel dan Sebastian.

"Dia temanmu?"

"Ronald adalah adik sepupu dari sahabat saya."

"Lalu sahabatmu yang bernama Will ya?"

"Ya. Dia teman saya sejak kecil. Tapi, kami sudah lama tidak bertemu. Ya, hampir 8 tahun saya dan William tidak pernah bertemu lagi."

"Pasti kau sangat merindukan William, ya?"

"Tentu."

Tak lama pesanan Sebastian dan Ciel telah datang dan tentu di antar oleh Ronald.

"Cappucino latte for brother and Rainbow parfait for..."

"My name is Ciel Phantomhive, you can call me Ciel. Nice to meet you, Ronald."

"I'm Ronald Knox, you can call me Ronald. Nice to meet you too, Ciel. This is your parfait."

"Thank you, Ronald."

"Kak Sebastian, Ciel, aku harus kembali bekerja. Kapan-kapan kita ngobrol lagi."

"Ok."

Setelah itu Ciel segera menyedok parfait yang kini ada di hadapannya. Seperti namanya, parfait nya berlapis tujuh warna dengan sebuah es krim vanila dan beberapa topping yang lezat dan manis menambah kecantikan parfait yang kini ada di hadapan Ciel. Sebuah suapan pertama parfait masuk ke dalam mulut mungil Ciel. Seketika Ciel merasa terkejut akan rasanya yang begitu kaya. Terasa lembut dan creamy. Segera dengan lahap Ciel menghabiskannya hingga tak bersisa. Sementara Sebastian tersenyum melihat Ciel kembali bersemangat dan tersenyum. Ciel dan Sebastian pun menikmati suasana yang ada dengan penuh hikmat.

o

o

o

o

Setelah hampir 1 jam setelah mampir dari kafe milik sahabat Sebastian, kini keduanya bersiap kembali ke Phantomhive mansion. Suasana di dalam mobil tampak berbeda dari yang sebelumnya. Terasa lebih baik. Segera Sebastian menghidupkan mobil dan memanaskannya sebentar. Tiba-tiba sebuah tangan mungil sedikit menarik lengan kanan jas yang di pakainya. Ya, Ciel yang menariknya. Sebuah rona merah muda menghias pipi tirus sang nona muda Phantomhive.

"Thank you for today. I'm feel happy."

"You're welcome, lady. Syukurlah jika anda merasa senang maka saya juga merasakan yang sama."

"Sebastian aku mau tidur. Jika sudah sampai di rumah tolong bangunkan aku."

"Yes, my lady."

Perlahan kedua kelopak mata Ciel tertutup. Wajah tidur Ciel tidak kalah cantik dari wajahnya yang biasanya. Sleep like sleep princess. Sebastian pun menampilkan rona merah muda samar di pipinya yang tirus dan putih itu. Tapi, segera dia fokuskan kembali pikirannya pada jalanan agar mereka bisa selamat sampai rumah.

o

o

o

o

"Lady... kita sudah sampai di rumah."

Suara Sebastian terdengar lembut dan halus ketika membangunkan Ciel dari tidurnya. Perlahan sepasang kelopak mata itu membuka dan menampilkan sepasang mata beriris seperti batu safir. Setelah beberapa menit, Ciel pun sudah sepenuhnya sadar. Keduanya pun keluar dari mobil. Kakek Tanaka, butler pribadi Vincent dan Rachel telah menanti keduanya tepat pintu di buka. Namun, tiba-tiba terdengar suara langkah orang berlari mendekati Sebastian dan Ciel. Tak lama suara cempreng ala anak perempuan mengisi ruangan luas lantai bawah Phantomhive mansion.

"Ciel..."

Seorang gadis berambut pirang dengan aksen ikal twin tail memeluk Ciel dengan erat hingga Ciel merasa susah untuk bernafas. Ya, dia adalah sepupu Ciel. Elizabeth Cordelia Ethel Midford, nama lengkap sepupu Ciel yang biasa di panggil Lizzie oleh Ciel. Lizzie merupakan anak dari auntie Francis, adik ayahnya dengan uncle Alexis Midford, putra seorang bangsawan. Lizzie juga mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Edward yang kini sedang menempuh pendidikan S2 nya di Rusia. Lizzie sangat menyukai apapun yang lucu dan imut. Berbeda sekali dengan Ciel yang lebih suka yang sederhana saja. Lizzie sangat enerjik dan periang di balik sosoknya yang terlihat cantik dan anggun. Tentu saja Lizzie sangat menyayangi Ciel, sepupunya yang setahun lebih muda darinya.

"Oh God, you suprise me, Lizzie. Kamu kapan datang kemari?"

"I'm so sorry, Ciel. Aku belum lama datang. Ya, baru sekitar setengah jam sebelum kamu datang. Hello Sebastian, long time no see. You look more handsome and cool now."

"Thank you, lady Elizabeth. Anda juga terlihat lebih cantik dari sebelumnya."

"Terima kasih, Sebastian. Oh, ya, kalian berdua habis dari mana?. Soalnya cukup lama juga kalian mengantar uncle dan auntie ke bandara."

"Jarak dari bandara ke rumah ini cukup jauh dan tadi kami mampir ke kafe milik sahabat Sebastian."

"Wah kapan-kapan jika mau ke sana lagi beritahu aku ya, Ciel, Sebastian."

"Iya. Oh, ya, kamu ke sini dengan siapa? Auntie Francis dan Uncle Alexis mana?Edward?"

"Ayah dan ibu sedang ada urusan bisnis di Italia. Kalau kakak sedang menghadiri undangan pesta ulang tahun sahabatnya. Oh, ya, Ciel besok mau tidak menemaniku membeli hadiah untuk kakak?"

"Untuk Edward?. Ya ampun, aku baru ingat. Kamu mau membeli hadiahnya di mana?"

"London Fashion Center or London Center Mall?"

"I guess London Center Mall."

"Baiklah. Besok pagi kita harus ke sana."

"Memang kamu mau membeli apa untuk Edward?"

"Itu dia aku masih bingung mau memberi hadiah apa pada kakak. Makanya aku mengajakmu dan juga Sebastian untuk membantuku."

"Jika boleh saya tahu, apa yang menjadi kesukaan tuan muda Edward?atau yang sedang di inginkan olehnya?"

"Kesukaan kakak ya?. Aku kurang tahu soal itu Sebastian. Begitpula apa yang di ingin kan oleh kakak."

"Ya sudah besoj kita cari bersama hadiah untuk Edward. Sebastian tolong..."

"Aku mau tidur bersama Ciel saja. Boleh kan ya, Ciel?"

"Baiklah. Ayo, kita segera ke kamarku."

"Oh, ya, Sebastian tolong siapkan susu hangat untuk kami berdua."

"Understood, lady."

Ciel dan Elizabeth pun segera ke kamar Ciel. Kamar Ciel terlihat sederhana. Dengan cat berwarna cream dan beberapa perabotan berwarna putih menghias kamar yang lumayan luas itu. Tapi, bagi Elizabeth kamar Ciel sudah termasuk dalam kategori manis karena perpaduan warna yang lembut dan anggun menghias kamar ini. Kamar Ciel juga memiliki wangi khas yaitu bunga lili. Kedua gadis muda itu pun pergi membersihkan diri secara bergantian. Setelah itu mengganti pakian mereka dengan gaun tidur yang di padukan dengan sebuah cardigan rajut. Keduanya pun mulai bernostalgia masa kecil bersama dengan Edward, kakak Elizabeth.

"Ciel, kamu masih ingat kalau dulu kamu suka sekali bertengkar dengan kakak gara-gara kue atau permen yang di berikan oleh bibi Rachel atau ibu ku?"

"Tentu aku masih ingat dan terasa sangat lucu dan konyol apabila mengingat masa itu."

"Tapi, kamu selalu saja bisa mengalahkan kakak padahal kakak itu laki-laki dan juga lebih tua darimu."

"Tentu aku tak suka kalah meski lawanku adalah seorang laki-laki atau lebih tua dariku. Aku tak akan kalah karena aku adalah perempuan yang kuat."

Tiba-tiba terdengar sebuah suara ketukan pintu. Tak lama Sebastian membawa troli dengan membawa dua cangkir dan sepoci susu hangat lengkap dengan gula dan madu. Wangi susu cokelat membuat dua gadis muda ini merasa sangat rileks. Dengan hati-hati Sebastian menuangkan susu hangat itu ke dalam 2 cangkir. Tak lupa Sebastian memasukkan madu ke dalam salah satu cangkir dan segera memberikannya kepada sang nona mudanya.

"Silahkan, lady."

"Terima kasih."

"Lady Elizabeth, anda mau memakai gula atau madu untuk susu hangat anda?"

"Aku tidak pakai apa-apa."

"Baiklah. Ini susu hangat anda. Silahkan di nikmati."

"Terima kasih, Sebastian."

Susu hangat buatan Sebastian memang paling enak dan hangatnya sangat pas. Selain itu Sebastian juga sangat ahli dalam membuat berbagai macam hidangan mulai dari hidangan appitizer hingga dessert. Untuk rasa jangan di tanya lagi karena tidak ada yang bisa menandinginya. Ya... Sebastian memang butler yang cocok dengan keluarga Phantomhive terutama bagi sang nona muda Phantomhive yang sangat selektif dalam memilih pelayan pribadinya.

Setelah selesai acara minum susu hangatnya, Ciel dan Elizabeth segera mengistirahatkan tubuh mereka. Sebastian pun segera membawa keluar troli dari kamar Ciel. Phantomhive mansion pun kembali sunyi seperti malam biasanya ketika sang rembulan sudab menggantung tinggi di langit malam.

o

o

o

o

Esok harinya ketiganya segera pergi menuju tempat yang di tuju. Ketiganya mulai berkeliling mencari benda yang ingin di beli oleh Elizabeth untuk Edward. Toko demi toko sudah di masukki ketiganya namun belum ada satu pun yang menarik perhatian Elizabeth. Ketika sedang berjalan, tiba-tiba Ciel di tabrak oleh seseorang. Tubuhnya hampir oleng ke belakang jika sebuah tangan menarik dirinya kembali ke depan.

"Are you alright, miss?"

"Yes, i'm alright. Thank you."

"Syukurlah. Saya mohon maaf karena saya sedang melamun dan tanpa sadar saya menabrak anda."

"Tak apa-apa. Aku juga sedang melam..."

"William?apa itu kau?"

"Iya?maaf kau siapa?"

"Ini aku, Sebastian. Do you remember me?"

Seketika ekspresi wajah laki-laki berambut klimis dan memakai kacamata itu berubah drastis. Terlihat senang sekali dan rindu melihat sosok yang ada di hadapannya. Segera dia memeluk Sebastian dan begitupula sebaliknya. Pelukan dari sahabat yang sudah lama tidak bertemu membuat keduanya sedikit mengeluarkan air mata. Sementara Ciel dan Elizabeth di buat bingung oleh keduanya. Sadar akan ada orang lain selain mereka, Sebastian dan William pun melepaskan pelukkan mereka. Segera Sebastian menghadap kedua perempuan muda yang berbeda warna surainya.

"Lady, lady Elizabeth, kenalkan ini sahabatlu sejak kecil, William T. Spears dan William kenalkam ini Lady Ciel Phantomhive dan sepupunya, Lady Elizabeth Ethel Cordelia Midford."

"Salam kenal, miss Phantomhive dan miss Midford."

"Salam kenal, mr. Spears."

"Salam kenal juga, mr. Spears."

"By the way, kalian mau ke mana?"

"Kami bertiga ingin mencari hadiah untuk tuan muda Edward, kakak dari lady Elizabeth."

"Apa hadiah yang di inginkan belum ketemu?"

"Ya, seperti yang kamu lihat tuan Spears. Kami cukup bingung untuk memilih hadiahnya."

"Jika di izinkan, saya ingin membantu untuk mencari hadiah untuk kakak anda, miss Midford."

"Tentu boleh tapi apakah tidak merepotkan tuan Spears?."

"Tentu tidak. Menolong seorang lady yang sedang kesusahan adalah tugas seorang gentleman."

"Oh My God, you're so gentle, mr. Spears."

"Thanks. Sekarang anda ingin mencari hadiahnya berupa apa?"

"Benda yang bisa terpakai setiap hari."

"Bagaimana jika anda mencoba belajar merajut sesuatu untuk kakak anda?"

"Tapi, aku belum pernah merajut. Apa anda bisa membantu saya, tuan Spears?"

"Tentu tapi bukan saya yang mengajarkan cara merajut. Kebetulan saya memiliki seorang kenalan yang hasil rajutannya sangat rapih dan juga indah. Jika anda mau, saya bisa mengantarkan anda ke sana. Bagaimana?"

"Ciel?Sebastian?bagaimana?"

"Jika kamu mau ke sana, maka aku dan Sebastian juga akan ikut ke sana."

"Baiklah. Antarkan aku ke sana, tuan Spears."

"Baiklah. Mari ikuti saya."

Keempatnya segera melangkah menuju suatu tempat untuk bertemu seseorang yang akan membantu Elizabeth merajut. Sekitar lima menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah butik baju rajutan dengan logo 'H&S'. William dan yang lainnya pyn memasuki butik itu dan mereka berempat bertemu dengan seorang pria berambut pirang dengan gaya mohawk. Tubuhnya tinggi dan kekar. Ada sepasang anting perak kecil menghias telinga kirinya. Tak lupa sepasang kacamata kotak berlensa agak kebiruan terpasang manis di hidungnya yang mancung.

"Wah, ternyata William. Ada apa?"

"Eric, apakah Allan ada?"

"Kau mencari Allan?"

"Iya."

"Kebetulan Allan sedang pergi ke toilet sebentar. Ku rasa kalian bisa menunggu di ruanganku dan Allan. Ayo, kita masuk ke dalam."

Kelima orang itu kini telah berada di sebuah ruangan yang cukup luas dan duduk di set sofa berwarna hitam. Para pegawai butik telah menyediakan secangkir Earl Grey untuk kelima orang tersebut. Tak lama datang seorang perempuan bersurai cokelat muda dengan rambut panjang sebahu. Di balik lensa kacamatanya yang bening terlihat dia agak terkejut karena ada beberapa orang duduk di ruangan yang biasanya hanya ada dirinya dan Eric saja. Secara tak sengaja mata emerald nya bertemu dengan mata sapphire milik Ciel. Di sisi lain Ciel merasa pernah mengenal perempuan itu, seperti sudah tidak asing baginya.

"Maaf apakah kamu Ciel yang merupakan anak dari keluarga Phantomhive?"

"Ya, benar. Jangan bilang anda adalah..."

"Ya, ini aku, Allan Humphries. Kakak kelas mu waktu di sekolah putri menengah pertama. Kamu masih ingat padaku?"

Segera Ciel menghampiri sang senior yang sudah lama tak bertemu hampir 7 tahun. Ciel dan Allan saling berpelukan seperti apa yang di lakukan oleh Sebastian dan William tadi. Allan Humphries, senior Ciel ketika masih di sekolah putri menengah pertama sekaligus istri dari Eric Slingby. Ciel tak menyangka bisa bertemu dengan senior yang dulu begitu dia kagumi. Wajah dan sifatnya tidak begitu berubah meski tujuh tahun tidak bertemu.

"Tentu saja, kak. I miss you so much. Setelah kakak lulus, aku tidak tahu kakak ada di mana. Kakak juga tidak memberitahuku di mana kakak berada."

"Maaf Ciel aku lupa memberitahumu kalau aku pindah ke luar negeri tak lama setelah kelulusan ku. Sekali lagi aku mohon maaf, Ciel."

"Tak apa-apa. Tapi, aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi."

"Aku juga Ciel. Look at you, Ciel. You're so beautiful more than before. Aku yakin pasti sekarang kamu sudah punya kekasih sekarang."

"Aku belum punya kekasih, kak."

"Begitu ya. Tapi, aku yakin dalam waktu dekat kamu pasti mendapat kekasih."

"Semoga saja kak."

"Maaf, aku terlalu asyik bernostalgia dengan Ciel."

"Kak Allan kenalkan ini sepupu ku, Elizabeth Ethel Cordelia Midford. Lalu, ini butler pribadiku, Sebastian Michaelis."

"Salam kenal, miss Midford, mr. Michaelis."

"Salam kenal juga, miss Humphries."

"Suatu kehormatan bisa berkenalan dengan anda, mrs. Slingby."

Seketika beberapa pasang mata menatap ke arah Sebastian. Lalu pasangan Slingby sedikit terkejut atas ucapan Sebastian barusan karena keduanya belum mengatakan jika mereka sudah menikah.

"Wah... kamu hebat sekali padahal kita belum bilang jika kita sudah menikah."

"Saya tidak sehebat itu. Saya hanya menduganya saja, mrs. Slingby."

"Jika kamu mau panggil aku dengan namaku saja. Tidak apa-apa kan, dear?"

"Tidak apa-apa. Kau juga bisa memanggilku Eric saja. Jangan terlalu kaku, Sebastian."

"Baiklah, mrs. Allan, Eric."

"Itu lebih baik. Wah... ada Will!. Kamu kapan kembali dari Perancis?"

Allan pun menghampiri William dan memberikan sebuah pelukan pada William dan William membalasnya. Keduanya tampak begitu akrab seperti teman lama.

"Aku baru kembali kemarin sore. Bagaimana keadaan kandunganmu, Allan?"

"Tentu baik-baik saja."

Ciel, Elizabeth, dan Sebastian di kejutkan oleh ucapan William barusan. Terlalu banyak kejutan untuk hari ini.

"Ciel, maaf lupa memberitahumu. Sekarang aku sedang mengandung 3 minggu."

"Selamat ya kak. Semoga kakak dan bayi kakak selalu sehat."

"Terima kasih atas doanya, auntie Ciel."

"Allan, sepupu dari junior mu ini katanya ingin belajar merajut. Apa kamu bersedia mengajarinya?"

"Tentu saja. Nona Midford,kamu maumerajuapa?cardigan?syal? sarung tangan?"

"Mungkin sebuah vest rajutan, apakah bisa anda mengajariku?"

"Tentu saja. Sayang tolong siapkan beberapa benang wol aneka warna dan alat merajutnya ya."

"Ok. Tunggu sebentar."

Segera Eric mengambil beberapa benang wol aneka warna dan alat merajut di ruangan dalam butik tersebut. Tak lama, Eric kembali dengan sekeranjang benang wol dan alat rajut yang di butuhkan.

"Kamu mau membuat vest nya dengan warna apa?"

"Putih."

"Ciel, apa kamu mau ikut merajut juga?"

"Tentu. Aku mau warna navy blue."

"Baiklah. Ini benangnya ya. Ayo segera kita mulai merajut."

Sementara para perempuan mulai merajut, para laki-laki mulai mengobrol di ruangan lain. Mencoba merajut pertama kali memang susah tapi perlahan-lahan pasti bisa jika mau belajar. Ciel ternyata sudah mulai bisa merajut dan sepertinya dia ingin membuat sepasang sarung tangan. Sementara itu, Elizabeth masih agak kesusahan untuk membuat vest untuk kakaknya. Allan pun mencoba membantu Elizabeth dengan memberi contoh padanya dan ternyata memberi kemudahan untuk Elizabeth dalam mengerjakannya. Sementara itu, para laki-laki sedang membicarakan berbagai hal seperti yang satu ini...

"William, apakah dia ini teman masa kecilmu yang pernah kau ceritakan itu?"

"Ya, dia lah orangnya. Tapi, Sebastian aku tak menyangka kau menjadi butler dari keluarga Phantomhive. Bagaimana ceritanya?"

"Ceritanya panjang sekali, Will. Kapan-kapan aku akan menceritakannya padamu."

"Oh, ya, apakah nona muda Phantomhive itu kekasihmu, Sebastian?"

"Lady dan saya hanya sebatas tuan dan butlernya. Tidak lebih."

"Ku kira kau dan nona itu adalah sepasang kekasih. Kalian berdua terlihat serasi. Iya, kan William?"

"Ya, Eric benar. Ku rasa nona muda Phantomhive itu menyukaimu. Kau kan sudah tampan,cerdas,punya tata krama yang baik. Pastinya dia juga jatuh cinta padamu meski belum mau mengungkapkannya."

"Aku dan lady tidak sama. Aku tidak pantas untuknya. Aku hanya seorang pelayan dan dia adalah seorang tuan putri. Dunia kami berbeda."

"Lalu apa masalahnya?. Sebastian kita hidup di kehidupan yang modern. Status sosial bukanlah penghalang lagi bagi mereka yang saling mencintai."

"Tapi, aku tak yakin bahwa dia mencintaiku seperti aku mencintainya, Will."

"Bagaimana kalau kau mencoba mengajaknya berkencan sekaligus mengungkapkan perasaanmu padanya?"

"Mengajaknya berkencan?apa aku bisa?"

"Oh my, you can do it, brother. I hope you will happy with her."

"Terima kasih. Aku akan mencobanya, Will."

o

o

o

o

Setelah beberapa jam, akhirnya vest yang di buat oleh Elizabeth sudah jadi dengan sedikit bantuan dari Allan. Setelah di beri tambahan untuk memberi kesan menarik, vest rajutan itu di bungkus oleh plastik dan di taruh dalam kotak berukuran sedang berwarna abu-abu tua. Tak lupa sebuah pita putih menjadi pemanis dan penyegel kotak itu. Setelah berpamitan dengan pasangan Slingby, mereka pergi ke kafe milik William untuk mengisi perut mereka dan haus yang melanda. Kebetulan cabang kafe milik William ada juga di tempat ini. Suasana kafe tak berubah dan tetap sama seperti pertama Ciel mendatangi kafe ini meski tempatnya berbeda. Elizabeth pun juga menyukai tempat ini. So classic and vintage. William pun mengantarkan mereka pada sebuah meja yang berisi kan kursi untuk empat orang. Tak lupa William memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanan ketiganya.

"Sudah siap memesan, miss and mr?"

Suara laki-laki yang tak asing bagi Ciel dan Sebastian. Segera keduanya melihat ke arah sumber suara dan ternyata...

"Ronald!"

"Kita bertemu lagi, miss Phantomhive dan brother."

"Ya, senang bertemu denganmu lagi, Ronald."

"Kalian sudah saling kenal?"

"Ya, kak Will. Kami bertemu di kafe kakak yang tidak jauh dari bandara. Mereka datang ketika kakak masih di Perancis."

"Begitu ya. Kenapa kau tidak memberitahuku jika mereka datang berkunjung ke kafe?"

"Maaf kak, aku lupa. Selain itu kakak juga sibuk bukan selama di sana."

"Iya. Tapi, setidaknya kabarkan ke kakak, Ronald."

"Iya, kak."

"Kalian mau pesan apa?"

"Chicken cream soup with vegetable for main course, red velvet mini cupcake for dessert, and orange juice for drink. How about you, Lizzie?"

"Aku sama denganmu, Ciel."

"Kalau kamu Sebastian?"

"Saya tidak usah. Biar lady dan lady Elizabeth saja."

"Tidak, kamu harus makan juga. Makanan dan minuman yang ku pesan tadi untuk 3 orang."

"Baiklah, Ciel. Anything else?"

"No. Thanks."

"Baiklah. Pesanan sudah ku catat. Harap tunggu dengan sabar ya. Aku permisi."

"Ronald untukku sama dengan mereka ya."

"Aye sir."

Segera Ronald menghilang dari hadapan mereka. Suasana kembali diam. Akhirnya Elizabeth membuka suara untuk memecahkan keheningan yang ada.

"Sebastian, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"

"Tentu saja. Anda mau bertanya tentang apa?"

"Mungkin pertanyaanku bersifat sedikit pribadi dan ku harap pertanyaanku tak menyakiti perasaanmu. Jika aku boleh tahu bagaimana kehidupanmu sebelum bertemu dengan paman Vincent?"

Hening sebentar. Ciel dan Elizabeth menunggu jawaban dari Sebastian yang masih terdiam.

"Sejak saya kecil, saya hidup sebatang kara. Saya tidak tahu ayah dan ibu saya ada di mana. Suatu hari saya bertemu dengan seorang kakek pendeta yang baik hati dan hidup bersama dengan beberapa ekor kucing. Beliau sangat baik dan merawat saya seperti cucunya sendiri. Saya merasa bahagia karena ada seseorang yang begitu sayang pada saya. Saat itu juga bertemu dengan William dan Ronald yang sedang liburan ke desa nenek dan kakeknya dan kami mulai berteman. Tapi, usia manusia memang singkat dan kakek pendeta itu pun meninggal dunia karena usianya yang sudah semakin tua. Tentu saja saya merasa sedih dan kehilangan karena beliau begitu berarti bagi saya. Setelah kematian beliau, saya pun di titipkan di sebuah panti asuhan yang jauh dari desa tempat saya tinggal. Hampir 8 tahun saya tinggal di sana hingga tuan Vincent datang berkunjung dan mengadopsi saya. Tuan Vincent dan nyonya Rachel sangat ramah dan baik. Bahkan mengenalkan saya pada lady yang lembut dan ramah. Saya juga merasa bersyukur bisa membalas kebaikkan beliau dengan menjadi butler pribadi lady. Maaf apabila saya terlalu panjang berceritanya."

"Kamu tahu, Sebastian?. Sejak awal aku dan kedua orang tuaku menganggapmu sudah seperti keluarga dan tentu saja kami sayang padamu. Pengabdianmu terhadap keluargaku sangat ku hargai. Kami juga bersyukur bisa bertemu denganmu, Sebastian. Aku juga berterima kasih padamu karena kamu selalu menjaga dan merawatku dengan baik hingga sekarang. Aku sungguh berterima kasih padamu."

"Aku juga Sebastian. Meski tidak sering bertemu denganmu, aku merasa kamu adalah laki-laki yang baik dan hebat. Tak salah uncle Vincent bertemu denganmu dan menjadikanmu butler pribadi Ciel."

"Terima kasih, lady, lady Elizabeth. Saya merasa sangat bahagia mendengarnya."

"Oh, ya, maaf apabila mengganti topik pembicaraan. Sebastian, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"

"Tentu saja, Will. Kau mau tanya apa?"

"Pertanyaanku simpel saja. Apakah kau pernah menyukai seseorang?"

"Ku rasa aku hanya kagum padanya. Aku tak berani lebih dari itu karena aku tahu aku tak pantas untuknya."

"Kenapa kamu berpikir begitu, Sebastian?. Kamu kan sudah tampan,cerdas,sopan, dan multi talenta. Perempuan mana yang tidak menyukaimu."

"Saya hanya laki-laki biasa, lady Elizabeth. Perempuan yang ku kagumi berbeda dengan perempuan pada umumnya. Dia baik, lembut, memiliki inner beauty yang tak biasa,cerdas, dan mandiri serta kuat."

"Siapakah orang itu?. Ah... jangan-jangan perempuan yang kamu maksud adalah...Ciel?"

Seketika hening kembali menghampiri. Sebastian menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap Ciel yang saling berhadapan dengannya. Ciel pun begitu, tak lupa rona merah menghias pipi tirusnya yang putih. Degup jantung keduanya perlahan mulai meningkat. Bagi Ciel, Sebastian adalah sosok laki-laki yang hebat setelah ayahnya. Begitu baik,lembut,sopan,penurut, dan tak pernah membuatnya kesal serta selalu bisa membuatnya merasa nyaman. Tak lupa wajahnya yang tampan seperti pangeran yang terkadang membuat Ciel merasa deg-deh an. Meski terkadang terlihat dingin dan tegas kita mempelajari sebuah pelajaran.

"Ciel..."

"Y...ya?"

"Apa kamu menyukai, Sebastian?"

Suasana kembali diam lagi. Keduanya tak ada jawaban tapi detak jantung mereka menjawab pertanyaan dari nona muda keluarga Midford itu.

"Soal perasaan suka atau tidaknya, jujur aku masih bingung, Lizzie."

"Bagaimana kalau pergi berdua atau bisa ku sebut berkencan?"

"Wah ide bagus, mr. Spears. Mungkin saja dari berkencan kalian akan tahu perasaan kalian yang sesungguhnya. Aku yakin uncle dan auntie setuju dengan hubungan kalian berdua."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian, Sebastian. Laksanakan dengan baik apa yang di katakan oleh sahabatmu."

"Aku dan miss Midford selalu berharap yang terbaik untuk kebahagiaan kalian berdua."

"Thank you, brother."

"You're welcome, bro. Good luck."

Jauh di dalam hati keduanya mulai tumbuh benih cinta. Sungguh hari yang indah bagi mereka berdua yang mulai saling mencintai.

To Be Continue

Author Note:

Hai minna kembali lagi dengan Riren └(^o^)┘

Riren harap para pembaca tidak bosan dengan cerita buatan Riren yang satu ini. Riren mohon maaf jika prolog ceritanya terlalu singkat . Tapi, chapter 1 ini Riren mencoba memperpanjang ceritanya. Akibat kesibukkan Riren di kampus kadang sampai susah untuk melanjutkan cerita yang lain dan belum lagi kalau kena WB dan pada akhirnya malah buat cerita yang lain dan menunda cerita yang sudah sebelumnya. Oh,ya, untuk About Our Story page selanjutnya akan segera Riren updated. Yeay... #digaplokreader. Kali inu sekian dari Riren. Sampai chapter berikutnya. Jaa matte ne~~~

Salam peluk dan cium

Riren