.
.
.
Jungkook berjengit. Alisnya berkerut di balik kain hitam yang dipasangkan padanya. Bibirnya mengeluarkan desisan, kala rasa dingin menjalari daerah perutnya yang masih terbalut kaus. Basah, itu yang dirasakannya.
Sial. Pasti es batu.
"Hentikan—ini dingin, bodoh,"
"Korpuskula Krause. Saraf kulit yang peka terhadap rangsangan berupa dingin."
Jungkook mendecih. Taehyung pasti sudah gila. Ini baru selang seminggu sejak terakhir kali dia menghukum Jungkook karena keterlambatan Jungkook. Oh ayolah, hukuman Taehyung itu membuatnya terangsang sekaligus mual.
"Mereka bilang, es bisa membuatmu mendesah. Buktikan padaku, dear."
Dengan sengaja, Taehyung menekan paha dalam Jungkook dengan es batu. Menyeretnya dengan gerakan yang sangat perlahan dan hati-hati, masih dengan sambil menekan. Membuat gerakan melingkar, melengkung, seakan membuat bunga khas bocah sekolah dasar.
"Ah!" Jungkook menggigit bibirnya dalam-dalam, kala Taehyung mulai mendekatkan es itu pada celana dalamnya. Menekan es itu kuat-kuat disana, membuat Jungkook tak lagi kuasa menahan desahannya.
"Wow," Taehyung tersenyum samar. "reaksinya melebihi perkiraanku. Akan kumasukkan dalam catatanku." Jungkook tau betul, catatan yang dimaksud Taehyung. Buku kecil yang tergantung di sleting tas Taehyung, bertuliskan benda-benda laknat yang dapat membuat Jungkook melenguh hingga mendesah.
"Selesaikan urusanmu bangsat,"
Refleks, Jungkook menendang udara saat merasakan sebuah es batu masuk ke celana dalamnya. "Tidak boleh mengumpat, dear."
"Ak—aku, aku tidak—"
"Diam dan biarkan aku menilaimu, objek kesayanganku."
Taehyung membalik tubuh Jungkook perlahan, lalu menarik celana dalamnya. Pun Jungkook yang masih terengah hanya menurut. Meja yang berukuran sedang itu membuat kakinya menjuntai, jemari kakinya menekuk karena dinginnya udara menembus kulit. Belum lagi Taehyung yang masih senang bermain dengan dingin.
"Jangan ditelan," sebuah es batu berada di depan bibir Jungkook. Dia membuka mulutnya, menjilat es itu beserta jempol juga telunjuk Taehyung. Membuat gerakan sensual, yang disusul geraman rendah Taehyung.
"Jangan menggodaku, dear." Taehyung mengambil es batu lain, yang masih utuh. Sedangkan es batu yang sudah meleleh karena Jungkook tadi, dia masukkan ke dalam mulut. "Sekali lagi kau menggodaku, aku ambil cock ring untukmu."
Menelan ludah kasar, Jungkook membuka bibirnya perlahan saat kembali bersentuhan dengan es batu. Dia memainkan es batu itu dalam mulutnya, menimbulkan bunyi berisik kala es itu bergemeletuk dengan giginya.
"Jangan digigit juga, dear. Es ku hampir cair semua."
Masa bodoh. Lebih baik begitu, daripada Jungkook terus-terusan disiksa. Jungkook kembali menggigit es batunya, tersenyum samar.
"Such a bad bunny," Taehyung kembali menjulurkan tangannya, menempelkan es batu dengan bibir Jungkook. Menyeringai samar saat Jungkook kembali membuka mulutnya.
"A—ah!" es batu dalam mulut Jungkook hampir melompat keluar, jika saja Taehyung tak menutup mulutnya. Tangan Taehyung yang lain kian mendorong es batu ke dalam lubang Jungkook. Tidak sulit, mengingat es batu itu akan mencair karena suhu tubuh Jungkook.
"Dear, jangan diketatkan," Taehyung memandang tangannya yang kini kosong. "bagaimana cara dia masuk kalau kau terus menutup pintunya begitu?"
Bangsat. Jungkook lemah soal dirty talk.
"Buka," Taehyung melebarkan lubang Jungkook dengan kedua ibu jari. Membiarkannya beberapa saat, membuat Jungkook merasa perih. Taehyung terkekeh, lalu mengambil beberapa es. Memasukkan salah satunya ke dalam lubang yang berkedut samar itu.
"Tetap buka," sebelah tangannya menarik lubang itu kian lebar, sedangkan sebelah lagi memasukkan seluruh es ke dalam sana sebelum mencair. Dia memasukkannya dalam-dalam, yang langsung disambut jeritan tertahan Jungkook. Telunjuk Taehyung menyentuh es yang mulai mencair di dalam sana, menyeringai kala kedutan itu semakin cepat.
Tiga buah es batu ada di tangannya. "I pray for your safe, dear." Tanpa menunggu yang di dalam mencair, Taehyung langsung memasukkan satu es batu ke dalamnya. Tak lupa, dia kembali memasukkan es batu ke dalam mulut Jungkook agar pemuda itu tetap diam—tak mengumpat. Menggeram sebentar kala Jungkook mengulum kedua jarinya lagi.
"Terima hukumanmu, dear." Taehyung mengambil es batu lagi. Dia membuat gerakan memutar di pinggir lubang Jungkook dengan es itu, membuat Jungkook nyaris menangis.
"S—stop—"
"Pardon, dear?"
"Be—berhen—ti," kaki Jungkook gemetar. Ini benar-benar dingin. "Ku—kuis, besok, aku—ada kuis—inggris,"
Taehyung menarik napas. Jujur, sesering apapun Taehyung menjadikan Jungkook sebagai objeknya, dia tetap menyayangi pemuda kelinci itu. "Sudah meleleh semua?" dia menampar pipi bokong Jungkook, membuat Jungkook berjengit. Jungkook mengangguk pelan.
Taehyung menarik lengan Jungkook, menyuruhnya duduk. Jungkook mengerjap, ketika penutup matanya telah terlepas. "It's enough for today." Mengecup kedua kelopak mata sembab Jungkook lembut, membuat yang lebih muda mencengkram pelan kemeja Taehyung.
"Last," tangan Taehyung terulur, kembali meraih es batu, dan memasukannya ke mulutnya sendiri. Dia meraih tenguk Jungkook, mendekatkan wajahnya, dan memagut bibir Jungkook pelan. Jungkook melingkarkan kedua lengannya pada leher Taehyung, membuka mulutnya agar Taehyung dapat masuk lebih dalam. Melenguh kecil saat sebuah es batu diletakkan di atas lidahnya.
Jungkook membuka matanya, dan mendapati Taehyung tengah terpejam. Jungkook tersenyum samar. Dia kembali mendorong es batu itu ke atas lidah Taehyung, dan terus begitu hingga es itu mencair, berubah menjadi saliva yang mengalir turun dari bibir.
"Hyung," Jungkook mendorong pelan bahu Taehyung.
Taehyung melepaskan ciumannya. Dia mengambil celana Jungkook, dan memakaikannya pada pemuda manis itu. "Sakit?" dia bertanya seraya menyentuh bokong Jungkook yang tertutupi celana.
Jungkook menggeleng pelan.
"Bridal or koala?"
Memiringkan kepala ke kanan, Jungkook menerawang. "Koala."
Taehyung berjongkok. Sedikit terhuyung, kala Jungkook langsung melompat ke punggungnya. Dengan susah payah, dia berdiri seraya menyampir tas selempangnya juga mengenakan tas punggung Jungkook didepan. Mereka mulai berjalan meninggalkan kelas.
"Jadi, pelajaran apa yang kau dapat hari ini, dear?"
Jungkook menaruh dagunya di bahu kiri Taehyung. "Saraf rangsang dingin."
"Namanya?"
"Lupa."
"Yang kau ingat apa?"
"Hyung memasukkan es ke dalam tubuhku."
Taehyung terkekeh. Tak kuasa menahan diri untuk tidak menengok dan mengecup pelan bibir Jungkook. "Korpuskula Krause, dear. Aku akan mengeluarkan soal itu di kuis nanti."
"Kuis? Kapan?"
"Ups, ketahuan."
"Apa? Hyuuuung..."
"Hafalkan saja yang sudah ku ajari."
"Aish, terserah. Apa namanya tadi? Rangsang dingin?"
"Korpuskula Krause."
.
.
.
.
Chapter 2 : Korpuskula Ruffini. Rangsang terhadap panas.
.
.
.
Ekhem.
Oke. Ini masih bisa disebut ficlet kah?
Maaf kalo kurang hawt. Kan ini pakenya es batu /tolong gampar saia/
Aplot ga pake edit karena mager. Maafkan kalo ga sesuai harapan, karena seperti yang ku bilang di chap kemaren, ini ff hanya untuk kepuasan pribadi.
Ga ada adegan tusuk-menusuk dulu gaes :)
p.s. jangan tanya kenapa aku ga apdet ff sebelah. Mager tjoy.
Hope you enjoy this story! Cya!
Kiika246.
