DESTINY IN MY HAND
By: Vin'DieseL D'.Newgates
Disclaimer:
Naruto ©Masashi Kishimoto™.
Highschool DxD ©Ichiei Ishibumi™.
Crossover: Naruto and Highschool DxD
Rating: M
Warning:Sebuah Fanfict Dari Imajinasi asli dari Otak Saya. Kosa Kata dan Aturan Menulis masih datar dan banyak kesalahan, Jadi saya mohon nilailah dengan bijak.
Summary: "Kekuatanmu, kekuatanmu dari buah iblis ini sangatlah mungkin bisa meratakan dunia ini. ./. .Aku tidak keberatan atas tindakanmu itu. Setiap tindakan pasti akan ada akibatnya/. .Takdir, manusia bisa mengubah takdir, tetapi Aku-lah yang menentukan takdir". . .DFU!Naru Godlike!Naru.
.
.
.
.
5 Years Later
.
Tepat hari ini, lima tahun sudah Aku Naruto, berguru dengan Dewa Poseidon, banyak hal kejadian yang aku jalani saat masa pelatihan, entah itu hal sulit maupun mudah dan itu semua aku lalui. Senang maupun sedih, suka maupun duka telah diriku rasakan. Berkat bimbingan dan pengarahan Sensei, Aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Kekuatan, ya saat ini aku sudah bisa menguasai atau sudah dibilang ahli dalam kekuatan 'Ambisi' dari batin ini Dalam 3 tahun terakhir. Haki, itulah namanya. Kekuatan ini terbagi menjadi tiga 'warna' yang pertama adalah Haki pertahanan ("Color of Armament"), dengan haki ini aku bisa menambah daya rusak yang signifikan disetiap seranganku dan sekaligus juga bisa menjadi sebuah perisai tak terlihat jika kugunakan untuk bertahan dari sebuah serangan, mudahnya aku seperti memakai baju zirah besi tak kasat mata, jika kekuatan ini terkonsentrasi sangat kuat di setiap titik tubuh maka kekuatan ini akan terlihat di titik tersebut, dan aku sama sekali belum pernah mengalirkan aura ini disaat aku memakai kekuatan gempaku karena aku merasa ngeri sendiri,
Lalu Haki kedua adalah haki pengamatan ("Color of Observation"), dengan ini aku seperti punya indera keenam, aku bisa mengetahui dunia di sekitarku dan kemampuan prekognitif secara terbatas, saat aku menggunakannya, aku dapat memprediksi gerakan lawan sebelum mereka membuat gerakan, sehingga membuat serangan Kejutan maupun serangan bagaimanapun lebih mudah untuk ku hindari. bahkan menurut Sensei, jika haki ini sudah di masterisasi aku bisa mendeteksi bahaya walaupun aku sedang tidur lelap.
Yang terakhir dan yang langka ini adalah Haki Raja penakluk ("Color of the Conqueror's Supreme King"), Haki ini seperti kekuatan kehendak yang sangat kuat, Menaklukkan atau Mengintimidasi musuh untuk menjatuhkan mental dan semangat musuh, seseorang yang mempunyai kekuatan ini adalah mereka yang mempunyai ambisi yang sangat tinggi dan aku, aku tidak akan memberitahu ambisi besar apa yang aku inginkan.
Saat ini aku juga sudah menguasai keterampilan keempat kekuatan buah iblis yang aku makan. Yah mungkin kekuatan ini akan kugunakan jika perlu saja.
Selain Haki dan Buah iblis, kukira itu belumlah cukup, Sensei mengenalkanku sebuah teknik yang disebut 'Rokushiki', setelah kulihat secara bersamaan teknik ini bisa disamakan dengan Haki, namun juga tidak bisa disamakan dengan haki pula karena ada beberapa teknik Rokushiki yang bisa berlompatan di udara, Serangan jari yang bisa menembus besi, membuat tubuh seperti kertas, sebaliknya bisa membuat tubuh keras seperti besi, dan satu lagi adalah teknik 'Rokugan', kemampuan tertinggi dalam Rokushiki yang mempunyai daya hancur yang sangat mengerikan, tapi sayangnya aku hanya bisa menguasai serangan jari saja hehe payah, kan?.
Lalu Informasi, Informasi adalah suatu hal yang sangat penting, menurut Sensei, informasi adalah segala-galanya, Aku sudah di beritahu tahu Title 'Tiga Saudara besar' dan itu adalah title yang dimiliki oleh Zeus sang Raja Dewa dari para Dewa, Poseidon yang merupakan Senseiku yang merupakan Dewa Penguasa lautan dan yang terakhir Adalah Hades yang melambangkan Kematian, Dialah Dewa Penguasa alam kematian. Itu contoh salah satu informasi yang Aku dapatkan dari Sensei.
Saat dalam masa pelatihan, Aku berulang kali dijenguk Dewa Zeus, Dewa dengan perawakan kakek berotot ini selalu membantuku dalam latihan, ah itu baik. Walaupun aku hanyalah manusia, aku merasa beruntung bisa dekat dengan Dua Dewa besar dalam mitologi Yunani tersebut, Jika ditanya kenapa hanya dua Dewa Yaitu Zeus dan Poseidon?, itu dikarenakan Dewa alam kematian Hades hanya tiga kali menemuiku dan yah walaupun begitu aku juga tak berharap sering bertemu dengan Dewa tersebut dengan berbagai alasan, terutama adalah Wujudnya yang cuma kerangka tulang berjalan yang tertutupi Jubah dan apalagi wajahnya.
Pernah suatu saat dimana Aku dan Dewa hades berbicara empat mata, kalian tahu? aku merasa risih saat ditanya maupun ditatap terus-menerus oleh Dewa Hades, oh bukan bau mulutnya atau yang lainnya, tapi aku benar-benar merasa merinding saat bertatapan dengan tatapan mata tengkoraknya dan mulut tanpa lidah Dewa itu berbicara secara normal. lalu Perkataan yang sering dia ucapkan kepadaku adalah ajakan untuk pergi ke alam kematian, itu membuatku ngeri, aku kan belum mati, dan jika itu manusia normal dengan mental separuh pastilah manusia itu akan langsung pingsan dengan mulut berbusa hanya dengan mendengarnya, Baiklah, tapi jika dipikir itu sangat cocok dengan Pekerjaan Dewa itu. Satu lagi, aku juga diperingatkan oleh Dewa Zeus dan Sensei bahwa jangan sekali-kali terpengaruh oleh Hades dengan alasan Dewa Hades itu sangat tertutup dan sama sekali tak pernah akur dengan Dewa Zeus maupun Sensei dan pemikiran tak terduganya akan membuatku terjerumus kebawah, itulah yang membuatku tidak dekat dengan Hades-sama, tetapi walaupun begitu aku harus tetap menghormatinya.
Dari itu semua, Itu adalah sebagian kecil informasi yang ada di Dunia yang saat ini aku tinggali. Sensei maupun Dewa Zeus juga memberitahu bahwa tiap-tiap daerah juga memiliki mitologi sendiri-sendiri dan memiliki Pemimpin dalam artian Dewa Seperti Zeus, Sensei maupun Hades adalah Dewa dalam mitologi Yunani. Satu lagi Contoh Seperti Dewa Odin yang merupakan Dewa Penguasa utara dengan Pusat dunianya, Pohon Yggdrasil. Uhh itu membuatku pusing, jadi kusimpulkan saja bahwa masih banyak lagi Dewa-Dewa yang berada diluar sana dan semuanya sangat kuat-kuat. Tapi apakah aku bisa bertemu dengan para Dewa yang kuat-kuat itu?, bukan untuk melawan mereka sih tapi hanya ingin melihat panorama apa saja yang tempat mereka sajikan untuk mata ini karena aku sangat suka dengan pemandangan alami.
Tepat seperti saat ini, aku sedang bersantai Dengan Dewa Zeus dan Sensei dibawah pohon rindang yang berada tepat dipinggir sungai yang selalu kugunakan untuk berlatih, umm lebih tepatnya tempat 'bunuh diri', aku bisa bilang begitu karena aku selalu diceburkan kedalam sungai itu dan selalu berakhir dengan tubuh babak belur dihajar batu-batu besar penghuni sungai. Sial, Sensei menghajarku dengan cara direndam air yang secara otomatis tubuhku melemah.
Saat ini kami berbincang-bincang, lebih tepatnya Dewa Zeus dan Sensei yang hanya bicara, sedangkan aku hanya diam dan mendengarkan saja. Menguping?, tentu saja tidak. Mereka berdua memperbolehkanku mendengar semua ucapan mereka, dan yah hanya pembicaraan jenuh antara kakek-kakek Dewa, lagian siapa juga yang ingin mencampuri urusan orang dewasa.
Berikutnya aku mendengar Sensei memanggilku.
"Naruto!."
"Ya, ada apa Sensei?," Tanyaku saat menatapnya sambil duduk bersila.
"Naruto, kau sudah tahu, kan? maksudku... Poseidon sudah memberitahumu untuk berkelana ke Dunia ini, kan?."
Yah yang bicara barusan adalah Zeus-sama lalu Sensei yang memanggilku tadi nampak tersenyum, aku mengerti arah pembicaraan ini, aku sudah diberitahu beberapa hari sebelumnya oleh Sensei kalau aku harus tinggal di peradaban manusia saat ini untuk bersosialisasi dengan sesamaku. Tapi ada sedikit masalah yang mengganjal dalam pikiranku ini.
"Kau tak usah khawatir, kami bukan mengusirmu, kau tetap bagian dari Kami, tapi kami hanya ingin kau bermain maupun berbuat hal-hal yang menyenangkan untuk mengisi waktu luangmu, apa kau tidak butuh seorang teman?," Ucap Sensei menasehatiku.
"Baik, aku mengerti Sensei, Zeus-sama, tapi soal namanya teman kurasa aku tidak perlu, aku bisa hidup mandiri," Jawabku, aku merasa bahwa teman adalah musuh yang belum menyerangku, Dan walaupun aku manusia, aku masih tidak memercayai apa yang namanya teman, sahabat, keluarga. itu saja.
"Naruto, kau masih trauma?." Tanya Sensei dengan tatapan menyelidik.
"Ti-tidak, siapa yang trauma?," Elakku.
"Aku tahu kau bohong... Kau tahu?, tak semua manusia itu jahat, masih banyak orang-orang yang berhati baik. . ."
"Dalam menatap dan melangkah kedepan, kita memang tidak boleh menengok kebelakang. Namun, Sejarah hidup tak boleh dilupakan karena masa lalu adalah sebuah pembelajaran yang paling berharga untuk menata diri kita. Masa lalulah yang membuat kita seperti sekarang. Seseorang yang melupakan masa lalu hanyalah orang tanpa arah tujuan." Sensei mengucapkan itu sambil menatapku dengan seksama.
Lagi-lagi aku kembali dibuat termenung setelah mendengar itu. Memang benar apa yang diutarakan Sensei. Tapi berbicara itu lebih mudah dibanding mempraktekkannya, dan baiklah aku akan melihat-lihat dunia ini, dan mungkin saja aku bertemu para Dewa, Tuhan, Raja iblis, malaikat, atau Hantu setengah matang. Ukh dunia ini memang rumit.
"Baik, aku akan mencobanya. mungkin besok aku akan pergi," Ucapku sambil tersenyum.
"Aku tahu kau bisa," Kata Zeus-sama dengan senyumnya pula.
"Baiklah, hamba mohon pamit untuk berlatih kembali," Ucapku sambil membungkukkan badanku lalu pergi meninggal Sensei dan Zeus-sama.
.
.
.
.
Setelah kepergian Naruto, kini Dewa Zeus dan Dewa Poseidon menikmati waktu santai mereka, sampai beberapa waktu kemudian Dewa Zeus bersuara.
"Poseidon, kau tahu? kita beruntung... Mengambil Naruto kesini itu tindakan yang tepat. Sudah kubilang kekuatan buah iblis itu tidak bisa diremehkan begitu saja, kau yakin sudah mengumpulkan semua buah iblis?." Ucap Dewa Zeus sambil mengelus jenggot putihnya dengan tangan.
"Aku tahu, aku sudah mengumpulkan semuanya dari berbagai penjuru Dimensi dan menyegelnya dengan aman, Ini salahku Zeus, berpikir untuk membuat prajurit Sparta pemakan buah ilusi untuk melawan pengguna Sacred gear jahat itu adalah hal yang buruk... Aku tidak tahu kalau jika Buah ini bisa muncul kembali jika pengguna sebelumnya telah tiada. ini sesuatu yang rumit." Kata Dewa Poseidon dengan tangan kiri memijat keningnya.
"Fakta bahwa Yang bertipe Logia itu bisa membuat pengguna merubah dirinya menjadi unsur elemen yang mereka kuasai, ini seperti Dia menjadi Dewa elemen itu sendiri, Walaupun bernama buah iblis, kekuatan berbasis cahaya tidak mempan terhadapnya, dan dia hanya bisa disentuh jika menggunakan elemen penentang, batu laut, Haki ataupun kehendaknya sendiri dan hanya Aku, kau dan Hades yang bisa menyentuh Naruto, makhluk jaman sekarang tak ada yang bisa Haki... Kuharap Naruto tidak berada dijalan yang salah."
"Aku malah berharap ada kekuatan lain untuk menyentuh sifat Logianya itu, aku akan terus mengawasi Naruto, Zeus... Kuharap kau tidak membuatnya menjadi ancaman, akan menjadi sangat buruk jika hatinya terus-menerus merasa terancam, di dimensi asalnya, Naruto tak pernah merasakan kedekatan sesamanya. kau sudah tahu di tiap perkataannya." Kata Dewa Poseidon dengan mata menerawang kedepan.
"Aku tidak membuat dia sebagai ancaman, kita bertiga kan sudah sepakat untuk menjaganya... Naruto masih trauma dengan semua manusia, di matanya sangat terlihat jika masih tertanam rasa bencinya ke keluarganya. Itu buruk untuk masa depannya," Ucap Dewa Zeus dengan ragu.
"Itu benar, itulah sebabnya kakek-kakek seperti kita ini ada untuk memberi nasehat dan memberi pengarahan Gahahahaha."
"Wahahahaha, kita ini memang kakek-kakek keren, bagaimana kalau minum?," ucap Dewa Zeus yang tangannya sudah membawa sebotol minuman anggur.
"Gahahaha boleh-boleh." terima Dewa Poseidon.
Setelahnya mereka menghabiskan waktu mereka untuk minum sambil menunggu Naruto yang sedang latihan.
.
.
.
Esok harinya
.
Pagi hari Di istana Poseidon, Di kamarnya saat ini Naruto nampak terlihat memilah-milah pakaian yang dulu diberikan Dewa Poseidon terhadapnya lalu setelah dirasa cukup, pakaian itu langsung ia simpan di pintu Dimensi miliknya, itu sangat praktis daripada membawanya dengan tas. Naruto saat ini sangat sibuk karena malam ini ia akan pergi ke dunia manusia, walaupun berat untuk pergi tetapi perasaannya menuntut untuk merasakan sebuah petualangan untuk dirinya, Naruto juga Membawa satu buku dan alat tulis karena di dunia manusia nanti ia akan mencari info dan jika bisa ia akan meminta tanda tangan dari Makhluk supranatural, entah itu Dewa, malaikat, iblis, maupun yokai dan semua orang-orang kuat yang akan dirinya temui nanti. Bukan kurang kerjaan sebenarnya, namun Naruto berfirasat akan bertemu hal-hal yang tak terduga, dan buku tersebut untuk nanti akan ia perlihatkan ke Senseinya, apa salahnya? itu hanya kegiatannya di sana, Mungkin.
Tapi kenyataannya itu akan sulit karena Dirinya masih takut berkomunikasi dengan orang lain, memikirkan apa yang terjadi di masa lalunya, Naruto masih menganggap bahwa sifat manusia di tempat ini tetaplah sama. Namun itu juga bukan penghalang untuk ia tetap berjalan ditempat, Naruto berpikir ia juga harus melangkah ke depan untuk perubahan dirinya sendiri.
.
.
.
.
Malam harinya Terlihat Naruto tengah membungkukkan badannya dan didepannya duduk seorang seperti raja dengan tombak trisula yang ia genggam ditangan kanan, aura kewibawaan dan kebijaksanaan sangat terasa darinya.
"Yah, aku sudah melatihmu dan kau sudah menguasai ketiganya dan sekarang carilah, carilah kebahagiaanmu di dunia ini, bermainlah, jangan mencari masalah dengan orang lain, jangan memakai kekuatanmu jika tidak dibutuhkan dan ingat, Kau adalah muridku dan bagian dari Kami para Dewa Olympus. . ."
"Tempat ini selalu terbuka untukmu karena inilah rumahmu Naruto. Dan kutekankan kembali padamu, Disini banyak makhluk yang mungkin orang biasa bilang 'sulit dipercaya', maka dari itu berhati-hatilah!."
"Aku mengerti sensei, aku akan selalu mengingat itu, umm tapi bagaimana caraku supaya bisa berkomunikasi dengan Sensei?," Tanya naruto.
"Oh itu, aku hampir lupa. Energimu sudah menyatu dengan Olympus, kau tinggal berpikir, membatin namaku, Zeus maupun Hades dan kau akan langsung terkoneksi, begitu pula sebaliknya." Jawab Dewa Poseidon.
"Aku mengerti Sensei, Aku pergi dulu." Naruto berdiri kemudian membalikkan badannya dan melenggang pergi.
"Naruto."
Naruto menghentikan jalannya dan kembali menatap Dewa Poseidon dengan mimik wajah bertanya.
"Aku lupa lagi hehe," Dewa Poseidon melemparkan sebuah buku kearah naruto yang langsung ditangkapnya.
Naruto memandang buku yang berada ditangannya ini dengan tatapan heran, sampai terdengar suaranya Dewa Poseidon kembali. "Itu buku 'Time Atlas', buku yang selalu memperbaharui informasi dengan sendirinya, mencangkup peta lokasi semua wilayah Di dunia ini secara mendetail... Keistimewaannya adalah jika kau membuka buku itu ditempat yang saat itu kau pijaki, maka buku itu akan memberitahu informasi tentang wilayah itu. . ."
"Dengan buku itu, kuharap kau tak memakai 'Power EarthQuake' sembarangan karena populasi manusia saat ini sangat banyak."
Menganggukkan kepalanya lalu memasukkan buku itu di saku dalam bajunya, dan Naruto tersenyum. "Arigatou Sensei, Aku pergi dulu. Sampai jumpa!."
Setelah itu, Naruto membuat pintu Dimensi dengan kedua tangannya lalu memasukinya dan setelah Naruto masuk, pintu tersebut lenyap tak berbekas.
Dewa Poseidon tersenyum masam saat setelah Naruto pergi dari hadapannya, "Kau masih suci dan begitu sederhana, Naruto."
Berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah kaca pelindung air istananya, Dewa Poseidon melihat pemandangan bawah laut dan dia pun nampak kembali tersenyum.
"Yah, ternyata sepi juga ditinggal bocah itu. Kurasa aku harus mencari aktifitas baru."
Setelah itu Dewa Poseidon kembali ke tempat duduknya dan memikirkan kegiatan apa yang akan dirinya lakukan setelah Naruto pergi, tak selang beberapa waktu, Dewa Poseidon pergi ke tempat tidurnya untuk tidur.
.
.
.
.
A Place
.
Malam hari, Di salah satu atap gedung berwarna putih, tercipta Sebuah lubang berbentuk pintu dari ketiadaan dan kemudian keluarlah Naruto dari pintu itu dan memijakkan kakinya di atas atap gedung tersebut. Kesan pertama yang dilihatnya adalah rasa kagum, Naruto merasa kagum begitu matanya menangkap banyak cahaya lampu yang menerangi tempat-tempat dibawah gedung ini seperti bintang-bintang, begitu banyak pula orang yang berlalu lalang dibawah sana, sangat menyenangkan sekali.
Mendudukkan tubuhnya, Naruto mengambil buku pemberian Dewa Poseidon di balik bajunya, dan setelah dibuka buku itu dengan ajaib langsung menampakkan sebuah Peta sebuah tempat sekaligus berbagai Infonya, walaupun sedikit terkejut tapi Naruto tetap tenang dan kemudian mulai membacanya.
"Va– etto, Vatikan?," Kening Naruto mengkerut mengetahui nama yang baru ia sebutkan. "Sebuah Negara yang lebih tepatnya Negara Kota Vatikan adalah Negara terkecil yang seratus persen warga Negaranya memeluk Agama ka*****, Luas Negara kota ini hanya. . . ."
Dengan cermat Naruto membaca semua detail dari tempat ini tak terkecuali, Berbagai ekspresi wajah ia tunjukkan saat membaca, ada satu hal, Dirinya sangat kagum dengan Negara ini karena semua informasi yang yang tercetak dibuku ini. Walaupun kecil, namun Vatikan adalah Negara Kota yang tenteram, nyaman dan aman.
Setelah mengetahui semua data tentang Kota yang ia singgahi ini, Naruto kembali memandang lautan cahaya dibawah yang menyinari gelapnya malam. Semilir angin lembut membelai tubuhnya dan seulas senyum menghiasi wajah polosnya, Naruto merasa betah dengan keadaan disini. Sangat tenang dan tak ada yang mengganggu dirinya.
Namun, saat masih menikmati hawa dan pemandangan tersebut, Naruto merasakan sebuah energi suci yang perlahan-lahan semakin menguat dibelakangnya, dan benar saja, tanpa melirik sekalipun Naruto mengacuhkan sebuah Cahaya terkonsentrasi berbentuk salib yang kemudian cahaya itu memudar dan menampakkan tubuh seorang perempuan yang sangat cantik berpakaian mewah dengan banyak sayap emas dipunggungnya dan lingkaran cahaya mengambang di atas rambut blondenya. Perempuan itu berdiri dibelakang dekat dengan tempat Naruto duduk saat ini.
Perempuan yang tak diketahui asalnya itu menghilangkan sayap yang berada di punggungnya dan kemudian mata lentiknya menangkap sosok manusia yang sedang duduk bersila dengan posisi membelakanginya, Ia merasakan hati orang yang ada didepannya ini begitu murni sekaligus aneh. Dia pun berjalan mendekati Naruto dengan sesuatu niat.
"Umm maaf, apa yang kau lakukan disini?," Tanpa mengenal dan tanpa canggung perempuan itu menyapa Naruto dengan nada lembut.
Merasa disapa makhluk lain, Naruto menjawab pertanyaan tersebut tanpa menoleh. "Kota yang indah ya... Sangat nyaman."
Mendengar jawaban yang melenceng dari pertanyaannya tak lantas membuat dahi perempuan itu mengkerut bingung dan tidak berpikir bahwa pemuda yang ada didepannya ini aneh. Sebagai Penghuni Surga, Dirinya tak boleh ataupun merasa berpikir negatif terhadap makhluk lain, Tak terkecuali manusia. Tersenyum tulus adalah hal yang ia lakukan. Ia berpikir mungkin pemuda ini belum mau memberikan identitasnya, Dan mungkin juga Pemuda itu akan kaget jika diberitahu bahwa ia adalah malaikat.
"Kau benar, tak ada perang itu sangat nyaman," Jawabnya, lantas perempuan itu berjalan mendekati Naruto. Ia tahu bahwa pemuda yang berada didepannya ini sama sekali tak berbahaya.
"Boleh bergabung?," Tanyanya setelah dia berada disamping Naruto duduk.
Menolehkan kepalanya, Naruto mendapati perempuan yang begitu cantik dengan tubuh yang sudah pasti membuat kaum adam meleleh ini berdiri disampingnya.
"Boleh, tapi tempat duduknya agak kotor." Jawab Naruto, dan kemudian mencoba membersihkan tempat disampingnya dengan sapuan tangannya.
"Umm tidak apa-apa sudah, nanti tanganmu kotor." Ujar Perempuan itu menghentikan aksi bersih-bersih Naruto.
Mendengar itu Naruto hanya mengangguk dan menepuk-nepuk tempat di sampingnya. Mengerti apa yang dilakukan Naruto, perempuan itu langsung duduk dan tak lupa mengucapkan kata terima kasih ke Naruto. Mereka berdua menikmati pemandangan lautan cahaya bersama tanpa ada yang berbicara. Walaupun begitu, mata peremuan itu sesekali melirik Wajah Naruto yang hanya terdiam dengan mata yang tak lepas dari suguhan sesuatu didepannya. Merasa canggung dengan keadaan ini, perempuan itu menoleh dan mencoba menyapa Naruto.
"Hei!." Ucapnya pelan.
Namun seperti angin lalu, Naruto mengacuhkannya Dan ia pun mencoba memanggilnya sekali lagi dan sedikit mengeraskan suaranya.
"Umm Hei!."
"Ya?," Naruto menolehkan kepalanya menatap Gadis yang duduk disampingnya. dan tanpa halangan Dua sepasang mata berbeda jenis ini bertatapan. Namun seperti terbalik, Perempuan itu malah terdiam dengan matanya tak pernah berkedip dan terus menatap Naruto.
"Halo?," Ucap Naruto yang sukses membuat perempuan itu terkesiap dan kemudian tertawa gugup.
"Ma-maaf, aku melamun."Jawabnya.
"Tidak apa-apa, tadi aku juga melamun saat kau panggil pertama tadi," Tanggap Naruto sambil tersenyum.
Perempuan itu tersenyum hangat mendengar Pernyataan Naruto, rasanya dia ingin tahu apa yang dipikirkan Naruto. Namun itu sesuatu yang mungkin bersifat privasi dan ia tak ingin campur tangan.
"Ka-kau tidak merasa takjub atau heran denganku?... Maksudku apa kau tidak tahu kalau aku bukan manusia?," Tanyanya ke Naruto karena sedari tadi Naruto sama sekali acuh tak acuh dengannya, bukankah seseorang seperti manusia akan merasa takjub atau terkejut kalau didatangi malaikat sepertinya?. Yah walaupun bukan disengaja juga karena Ia turun dari Surga menuju kesini hanya untuk meninjau keadaan dan kebetulan berpapasan dengan Naruto. Saat mendengar itu Naruto tetap terdiam beberapa saat, kemudian dia menjawab.
"Itu yang aku pikirkan dari tadi nona... aku melamunkan itu sejak kemunculanmu, kenapa ada Malaikat sepertimu berada di sini?."
Terkejut, Hal itulah yang dialami perempuan itu saat mendengar itu, Berarti pemuda yang ada di sampingnya ini sudah mengetahui identitasnya sejak Dirinya memijakkan kakinya di Bumi. Ia Berpikiran kenapa manusia ini seperti terkesan biasa-biasa saja, satu hal yang perempuan itu bingungkan adalah setiap ucapan atau tatapan dari pemuda itu seperti ketakutan, bukan takut seperti semestinya, namun takut yang lebih menjurus kepada hal membuka hatinya, Ia tahu bahwa pemuda ini menyembunyikan suatu luka Rohani dan karena itulah dirinya tetap tersenyum, mencoba memberi suasana hangat terhadapnya Tapi malah diacuhkan.
"Hihihi, jadi kau sudah tahu dari tadi ya, untuk pertanyaanmu tadi, Aku kesini karena ingin mengecek situasi saja."Ucapnya sambil tetap tersenyum yang diarahkan ke Naruto
"Ada satu hal yang ingin aku tahu darimu, dan sebagai Malaikat aku ingin kamu berterus terang!," Tambahnya.
"Ingin tahu apa Nona Malaikat ini dariku?," Tanya Naruto dengan senyumnya.
"Tolong beritahu aku, kenapa kamu merasa takut denganku?... Bukan takut dalam hal semestinya, namun takut karena tidak percaya dan merasa kebingungan." Tanya Malaikat perempuan tersebut.
Kini senyuman Naruto luntur, dan kini dia terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan Malaikat perempuan tadi. Matanya menerawang jauh kedepan dan sesaat keheningan kembali tercipta.
"Maaf, Walaupun kau adalah Malaikat, Tapi kau tak berhak tahu atas pribadi apa yang dialami manusia sepertiku." Ucap Naruto dengan nada yang terkesan tak bersahabat.
"Ta-tapi mungkin aku bisa membantumu, tugas Malaikat adalah juga membersihkan hati manusia yang keruh," Kata Malaikat perempuan itu mencoba terus membujuk Naruto untuk menyampaikan keluh kesah dengannya. Ia mencoba mengucapkan kata-kata yang tidak membuat Naruto tersinggung.
"Keruh ya?, oh iya Benar juga, Malaikat sepertimu adalah makhluk yang selalu suci, Malaikat sepertimu tak akan pernah tahu rasanya menjadi manusia dan manusia sepertiku tak akan pernah tahu rasanya menjadi Malaikat. Semua Berjalan mengikuti Jalan takdir yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta." Ucap Naruto menyindir Malaikat Perempuan itu tanpa menatapnya, Hatinya merasa jengkel, Naruto berpikir kenapa Malaikat ini yang baru saja bertemu dengannya beberapa waktu tadi seperti sudah mengenal jauh jati dirinya , Bukannya Malaikat itu makhluk yang lemah lembut?, apa ia salah persepsi dengan arti tersebut.
Tanpa diketahui Naruto, Malaikat perempuan itu wajahnya tertunduk dan tetes demi tetes air mengalir dari matanya dan membasahi pakaian miliknya dan sebagian rambut pirangnya.
"Go-gomenasai." Ucap perempuan Malaikat pelan
Mendengar permintaan maaf tersebut, Naruto menoleh dan ia terkejut saat mendapati perempuan Malaikat itu menangis. Menangis?, apa ini karena ucapannya tadi, Naruto tahu bahwa perkataannya tadi memang berlebihan. Tapi Naruto juga tak habis pikir karena Malaikat bisa menangis karena ucapannya tadi, apa hati Malaikat ini sangat sensitif, Jadi benar bahwa Malaikat itu memiliki sifat lemah lembut. Dalam tatapannya saat ini yang ia lihat dari perempuan Malaikat itu seperti bukanlah malaikat melainkan hanya seperti seorang gadis yang sedang menangis karenanya.
Naruto sadar bahwa dirinya salah, perempuan itu hanya ingin membantunya namun malah ia semprot kata-kata yang menyakitkan, Ia mengingat apa yang selalu di ucapkan Senseinya bahwa membuat wanita menangis karena suatu hal yang dilakukan pria terhadapnya itu adalah suatu tindakan yang tidak pantas dan pria yang melukai perasaan wanita adalah pria pengecut. Walaupun dirinya belum paham betul, namun intinya Naruto sudah menangkap intinya.
"Astaga Nona, A-aku tak bermaksud untuk membuatmu menangis, A-aku tak tahu kalau Malaikat bisa menangis... Sungguh aku menyesal." Ucap Naruto mencoba menenangkan, Ia memang menyesal.
Malaikat perempuan tersebut menyeka airmatanya dengan kedua tangannya, ini Bukan salah Naruto, mendengar ucapan Naruto tadi Dirinya hanya teringat dengan Pembimbingnya yang sekarang sudah Tiada, Hatinya sekarang masih belum menerima dengan hal yang sudah terjadi saat ini, ia pun menatap Naruto dan mencoba tersenyum.
"Ti-tidak, i-ini bukan salahmu... Aku hanya teringat dengan-Nya, Maaf telah memperlihatkan sesuatu yang tidak pantas."
Dengan-Nya?, maksudnya dengan-Nya itu siapa?, Naruto kembali bingung dengan apa yang diutarakan Gadis Malaikat ini, tapi entah bagaimana dirinya merasa bahwa kedepannya nanti akan ada sesuatu yang rumit. Mengabaikan semua persepsi di Otaknya, Naruto memilih untuk menikmati apa yang saat ini ia lakukan sekarang, terutama ke Gadis beda ras disampingnya ini.
"Souka?, tapi aku merasa tidak enak kalau tidak meminta maaf... Maaf kurasa sekarang aku harus pergi." Niat Naruto mengakhiri pembicaraannya dengan Gadis Malaikat itu. Berdiri dari duduknya dan kemudian membalikkan badannya lalu melangkahkan kakinya.
"Tunggu!."
Mendengar itu Naruto menghentikan langkahnya, kemudian menoleh dan wajahnya menatap sumber suara tersebut.
"Bisakah kita akan bertemu lagi?," Tanya Malaikat tersebut.
Naruto berkenyit heran, Satu lagi hal yang membuat Naruto bingung, bukankah Malaikat itu tinggalnya di Surga dan Surga itu tempatnya berada diatas, 'kan?. Bukankah lebih mudah untuk mencari maupun mengawasi seorang manusia ataupun yang lain. Baiklah, mungkin otaknya terlalu mengada-ada, ia tidak berhak memutuskan suatu pemikiran secara sepihak.
"Oh tentu saja, jika Jodoh pasti akan bertemu kembali," Ucap Naruto sambil tersenyum tanpa mengetahui arti kata yang dirinya ucapkan.
Semburat tipis muncul di kedua pipi Malaikat tersebut, Ia sama sekali tak terbiasa dengan kata langka itu. ini pertama kalinya dia mendengar kata tersebut, apalagi kalimat itu diucapkan oleh manusia. Dan Naruto, saat ini dia heran dengan tingkah bengong dari Malaikat tersebut,
"Umm, dan bolehkah aku tahu namamu?," tanyanya sekali lagi ke Naruto, namun kali ini wajahnya tertunduk. Bukan malu melainkan Dirinya hanya ingin menyembunyikan rasa senangnya.
Gadis Malaikat ini tak menyangka bisa sesenang ini hanya karena berbicara sedikit dengan manusia, Ratusan bahkan ribuan orang yang pernah bertemu maupun berbicara dengannya sama sekali tak bisa membuat hatinya menghangat seperti saat ini dan jika berbicara dengan orang lain maka dirinya hanya terus menebar senyum indah miliknya namun Pemuda ini berbeda, aura yang keluarkan sangat hangat dan bersahabat, bahkan ia menangis di depan pemuda ini tanpa ada rasa malu sebagai seorang Malaikat. Semua ekspresinya telah ia tunjukkan ke Naruto.
"Nama ya?... Namaku Naruto." Jawab Naruto tersenyum.
"Naruto? ah iya, aku akan mengingatnya, kalau namaku —"
Perkataan itu terhenti saat wajahnya mendongak dan mata Mata indahnya itu tak menemukan objek yang tadi menjadi lawan bicaranya, perasaan kaget pun langsung memenuhi hatinya, namun kekagetannya pupus dan tergantikan rasa sedih.
"Gabriel." Ucapnya lirih dalam kesendirian.
.
.
.
TBC
Author Notes:Soal Buah Iblis, Di Fict Sebelah, Naruto sudah punya 3 dan ditambah 2 berarti ada 4 buah iblis yang dimakan Naruto. Lalu soal kekuatan 2 Buah iblis baru ini Saya sudah memberikan Clue di chapter kemarin, tapi hanya beberapa readers saja yang jeli dan mengetahui 2 Kekuatan itu... Dengan kekuatan apa Naruto Berpindah Dimensi?. 2 DF itu digunakan untuk berpindah dimensi.
Oh soal Buku Time Atlas itu hanya karangan saya saja,
Gabriel?. Maaf kalau saya gagal membuat feel dari malaikat penyayang. Entah pair atau Sahabat, Biar Naruto yang memilih... Masa langsing Cinlok.
Sekian.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA KARANGANKU. :) :)
