HarinJoy present
Darkness of Destiny
chapter 1
a fanficton about Kyumin
Wanita mungil bersuara nyaring dengan rambut sebahu miliknya terlihat sedang memasuki sebuah bangunan berukuran sekitar 100x100 meter persegi dengan desain vintage. Di depan bangunan mungil tersebut terdapat tiang yang menjulang menampilkan rangkaian kata "De' Floral". Sebuah cafe mungil yang sudah di bangun bertahun-tahun yang lalu dan menjadi cafe favorite wanita berambut sebahu itu. Bukan hanya karena kampusnya yang berada dekat dengan cafe itu, namun hatinya sudah jatuh hati begitu melihat cafe ini pertama kali. "Ada daya tarik yang begitu kuat. Entah apa itu." Jawab wanita itu jika ditanya mengapa begitu menyukai tempat itu.
"Yesungie!" teriak wanita itu begitu nyaring sembari berjalan tergesa-gesa. Wajahnya menampakan kekesalan, yang malah terlihat imut. Tanpa melihat sekelilingnya, ia terus berjalan dengan hentakan high-heelsnya yang terdengar sedikit keras.
Bruk-
"Ah!" Ryeowook-wanita mungil itu—mengaduh, ketika tubuhnya menabrak seorang pelayan wanita yang sedang membawa minuma pesanan salah satu tamu. Minuman itu terlihat tumpah dan mengenai baju sang pelayan. Seketika Ryeowook yang tadi kesal berubah menjadi panik ketika melihat apa yang sudah di perbuatnya. Refleks Ryeowook membantu sang pelayan yang sedang mengiba-ngibas bajunya yang basah.
"ah-hmm, mian—"
"Maafkan saya atas ketidaknyamanannya." Belum sempat Ryeowook menyelesaikan ucapannya, pelayan berwajah dingin itu memotong ucapan Ryeowook, kemudian membungkukkan badannya.
"Saya akan lebih berhati-hati." Ucapnya sebelum pergi menuju dapur. Ryeowook terpaku ditempatnya ia berdiri. Suara pelayan itu dan wajah pelayan itu teramat sangat dingin dan sedih, membuat Ryeowook menahan napasnya beberapa detik.
"Wookie, gwenchana?"
"Ah, ne.." Ucap Ryeowook pelan. "Ya! Yesungi aku hampir melupakan tujuanku kesini!" lanjutnya kesal ketika melihat Yesung sudah berada disampingnya.
"Huh? Waeyo chagi? Kenapa kau tergesa-gesa sekali daritadi, hingga menabrak pelayan tadi."
"Ya! Sahabatmu itu yang membuatku kesal hingga ke ubun-ubun kepala." Ryeowook berjalan meninggalkan Yesung dibelakang, menju meja yang tadi ditempati namja sipit itu. Yesung menghela napasnya, kemuudian mengikuti kekasihnya duduk.
"Kyuhyun? Ada apa dengannya?" tanya Yesung lelah sembari membuka buku menu yang sudah tergeletak manis di meja. Sedangkan wanita di depannya sedang melipat tangannya dan menggerutu tentang Kyuhyun.
"Dia akan pulang ke Korea!"
Yesung mengernyitkan alisnya bingung. "Lalu? Kenapa kau sangat kesal jika Kyuhyun pulang? Bukankah itu hal bagus?"
Ryeowook menghela napasnya pelan mengatur emosinya yaang meledak-ledak. "Ya, memang bagus jika dia pulang, tapi dia dengan seenaknya menyuruhku mengurus perkuliahannya disini. Bukan hanya itu saja, dia menyuruhku mengatur apartemen yang akan ditinggalinya di sini dan menjemputnya di bandara dua hari lagi." Ucapnya panjang lebar dalam satu napas. "Dan yang lebih menyebalkan lagi, dia menyuruhku mengurus itu semua sebelum dia datang, yang berarti waktunya tinggal dua hari lagi. Huh, bagaimana bisa aku menyelesaikan semuanya dengan cepat."
"Kyuhyun tidak tinggal dengan orang tuanya?" tanya Yesung heran. Buat apa ia pulang namun tidak tinggal dengan orang tuanya.
Ryeowook menggeleng, " Tidak. Menurut Hangeng ahjussi dia mengajukan syarat itu untuk pulang ke Korea." Yesung mengangguk mengerti, kemudia melanjutkan membaca buku menu.
"Pesankan aku menu yang biasa." Sambung Ryeowook melihat Yesung akan memanggil pelayan pria ang tak jauh ddari tempat duduk mereka. Yesung mengangguk kemudian segerea memesan pesanan mereka.
"Sudahlah chagi, jangan di pikirkan lagi. Nanti aku akan membantumu mengurus keperluan Ku disini. Jangan kesal lagi oke? Kau terlihat sangat imut jika seperti itu, membuatku ingin memakannmu." Sambil terenyum Yesung mengerlingkan matanya, membuat pipi Ryeowook memerah.
"Aish, jangan menggodaku Tuan kim." Ucap Ryeowook dengan semburat merah di pipinya. Yesung yang melihat Ryeowook hanya tertawa kecil. Kekasihnya ini adalah wanita yang dapat melelehkan hatinya seketika. Sudah 3 tahun ia menjalani romansa cinta dengan Ryeowook dan ia tidak pernah berfikir untuk berpisah dengan wanita mungil ini. Ia sudah cinta mati padanya, bahkan ia sudah berencana untuk melamar Ryeowook ketika ia lulus dari Universitas. Membayangkan keluarga kecil yang nantinya akan tercipta. Oh, yesung benar-benar ingin mewujudkan impian itu.
"Maaf menunggu." Pelayan wanita yang beradu badan dengan Ryeowook tadi meletakkan pesan Yesung dan Ryeowook dengan telaten. "Ada yang bisa saya bantu lagi?" lanjutnya ketika semua pesanan sudah terdiam manis di meja.
"ah, tidak ada. Hmm, itu... maafkan aku tadi menabrakmu." Ryeowook menatap pelayan itu dengan tidak enak.
"Bukan masalah. Lagi pula itu keteledoran saya. Permisi."Ucapnya singkat dan lagi-lagi begitu dingin. Ryeowook menggaruk tengkuk lehernya merasa tidak enak dan canggung. Ia menatap punggung pelayan tersebut. Wanita yang ia ketahui bernama Sungmin jika dilihat dar name tagnya.
"Sayang, ada apa?" Yesung membuka suaranya melihat Ryeowook menatap pelayan itu pergi.
"Oppa.. wanita itu.. entah mengapa setiap melihatnya hatiku merasa sedih.." Dengan helaan napas berat Ryeowook mengalihkan pandangannya menuju Yesung. Tangannya mulai bergerak mengaduk sphagetti pesanannya. "Aku sudah memperhatikan wanita itu dari 6 bulan yang lalu. Dia tidak pernah tersenyum dan terlihat ketus, tapi dia selalu melayani pelanggan dengan telaten. Oppa.. aku ingin sekali membuatnya tersenyum." Sambung Ryeowook lirih.
Yesung tersenyum lembut memandang kekasihnya yang begitu peka terhadap sekitarnya. Dan ada satu hal yang membuat Yesung semakin mencintai wanita itu yaitu wanitanya sangat memikirkan bagaimana orang-orang disekitarnya bisa tersenyum."Benar katamu, dia terlihat tidak senang sama sekali. Lalu apa yang akan kau lakukan sayang?"
"Aku ingin mencoba mendekatinya dan mengajaknya berteman denganku. Apakah aku bisa, oppa?"
"Aku akan mendukungmu Wookie. Lakukan yang menurutmu paling baik." Dengan lembut Yesung memberikan dukungan pada Ryeowook sepenuhnya. "Makanlah, kau butuh asupan yang banyak sebelum memulai misimu itu." Sambung Yesung yang di balas anggukan semangat dari Ryeowook.
.
.
.
Aku menutup loker milikku dengan pelan, setelah mengambil tas dari dalam loker tersebut. Hari ini tubuhku terasa lelah dan kepalaku terasa sedikit pening. Entah mengapa, hari ini pengungjung begitu ramai dan banyak. Dan lagi aku hampir membuat kesalahan dengan menabrak salah satu pengunjung. Beruntung minuman yang kubawa tidak membasahi bajunya. Au benci jika harus berurusan dengan suatu masalah. Sebisa mungkin aku ingin menjalani hidup ini tanpa banyak bersinggungan dengan manusia lainnya.
Aku menghela napas panjang mengingat wanita yang kutabrak tadi. Wanita mungil itu selalu memperhatikanku ketika ia berkunjung ke cafe ini. Paahal sejak awal aku memilih cafe ini untuk bekerja karena terlihat sepi dan tak banyak pengunjung, mengingat cafe ini hanya mampu menampung meja tak lebih dari 10 meja. Namun dihari keduaku bekerja, wanita mungil yang kudengar bernama Ryeowook itu mulai berusaha mengajakku berbicara lebih. Lalu hari berikutnya, dia selalu memandangku seolah aku seorang anak kecil yang tersesat. Dia memberiku pandangan kasihan. Huh, kasihan? Aku tak butuh dikasihani. Pandangan itu sangat membuat amarahku muncul. Kuharap wanita itu tidak menggangguku lagi.
Malam ini angin terasa amat menusuk. Seingatku musim dingin baru akan dimulai sekitar dua minggu lagi, namun udara sudah mulai tidak bersahabat. Sial, aku tak memakai jaket yang tebal hari ini. Aku mendengus pelan sembari terus melangkah menuju apartement kecil milikku.
Tap tap tap
Tubuhku seketika dalam keadaan siaga ketika kudengar langkah kaki dibelakangku. Tanpa membalikkan badan aku langusng mempercapat langkahku. Di dunia ini tak ada orang yanng benar-benar berjiwa mulia. Pikiran itu terus terngiang dalam otakku, hingga membuat jantungku samakin berdegup kencang. Ketika aku sudah siap untuk berlari—tidak sekarang aku sudah dalam keadaaan berlari tanpa kusadari. Oh Tuhan, kumohon jangan lagi.
"Hey! Hey kenapa kau tiba-tiba berlari?!" teriakan itu. Suara yang kukenal. Itu suara wanita bernama Ryeowook. Langkahku memelan secara teratur dan akhirnya terdiam. Nafasku terengah, entah sejak kapan akku mulai berlari. Mungkin sejak awal aku mendengar suara langkah itu, aku sudah berlari ketakutan. Aku memejamkan mataku guna menenangkan emosiku, ketika bayangan-bayangan itu mulai muncul lagi. Bayangan yang bahkan tidak ingin kubayangkan sedetik pun.
"Hei, kau baik-baik saja, Sunmin-ssi?" tepukan pelan dibahuku dan suara wanita mungil itu menolongku keluar dari mimpi buruk. Mataku terbuka perlahan yang langsung bisa melihat Ryeowook berada di depanku dengan wajah khawatir.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya lagi, begitu khawatir. "Apakah aku menakuti mu ? aku tidak bermaksud menakutimu. Tadi aku hanya ingin menyapamu. Namun, kau... langsung berlari...hmm maafkan aku. Sungguh, aku—"
"Aku baik-baik saja." Potongku dingin. Aku pasti terlihat bodoh dimatanya. Bagaimana bisa seseorang ketakutan setengah mati karena ada yang berjalan dibelakangnya. Dan aku telah melakukan hal bodoh itu, terlebih tanpa kusadari.
"Ah syukurlah.. tapi kau terlihat geme—ah! Sudah lupakan saja." Ucapnya ketika wajahku menunjukan ketidaknyamanan. "Namaku Ryeowook. Kim Ryeowook. Kau bisa memanggilku Wookie." Tangannya terulur didepanku.
Apa maksudnya ini? Dia memintaku berkenalan? Aku tertegun beberapa saat. Ini adalah pertama kalinya seseorang mengajakku berkenalan setelah 5 tahun terakhir. Ada getaran dalam hatiku yang sudah lama tak kurasakan. Tangannya masih setia terjulur menunggu balasan, menggodaku untuk segera menjabat tangannya. Namun, tanganku malah terkepal erat. Ingat Sungmin! Kau begitu tidak pantas untuk berteman, begitupula berkenalan. Kau itu menjijikan. Suara itu terngiang dalam otakku begitu lantang.
"Pulanglah." Aku berjalan melewatinya yang menatapku terkejut. Benar, aku tidak pantas. Aku tidak bisa berhubungan dengan seseorang dan tak akan pernah.
"Kau tega membiarkanku pulang sendiri pada malam hari? Apalagi ini sudah hampir tengah malam." Dia berjalan cepat menyesuaikan langkahku hingga kami sekarang berjalan beriringan.
"Lalu mengapa kau masih disini? Bukankah kau sudah pulang beberapa jam yang lalu bersama dengan kekasihmu itu?"
"Waw, kau berkata sangat panjang. Suaramu sangat manis, kau tahu itu?" Aku mendengus pelan. Bagus, karena yeoja disampingku ini tanpa sadar mulutku berbicara sebanyak ini.
"Aku menunggumu tahu." Ucapnya riang. "Aku ingin berkenalan denganmu. Dan tentunya bertemaan denganmu." Lanjutnya membuatku menyernyit dahi tidak suka.
"Tak perlu repot-repot. Aku tidak berteman dengan siapapun." Jawabku terlampau datar. Dengan ucapanku ini pasti dia akan menyerah.
"Gwenchana. Aku akan terus berusaha sampai kau mau berteman denganku." Balasnya. "Oh. Satu lagi. Boleh aku menumpang menginap di tempatmu? Tenang, aku akan pergi besok pagi-pagi sekali. Bus terakhir mungkin sudah pergi sekarang dan aku tidak bisa pulang."
Aku menghela napas berat, kepalaku sekarang benar-benar terasa pening. "Baiklah. Tapi jangan menggangguku." Bagaimanapun aku tidak bisa meninggalkannya di luar sendirian pada malam hari. Dunia ini begitu kejam, lengah sedikit kau akan diseret menuju takdir yang gelap. Aku tak bisa membiarkan yeoja ini terseret pada kegelapan yang menyakitkan.
.
.
.
New York
Lelaki keturunan korea yang kini tengah bersenandung kecil lagu kesukaanya itu tengah menekan tombol lift yang akan mengantarkan ke lantai yang dituju. Rambut hitamnya terlihat rapih dengan bantuan gel rambut. Dengan santai ia berjalan menuju kamar apartement milik teman satu kebangsaan dengannya. Tanpa perlu memencet bel ia langsung memasukkan kode password apartement mewah itu.
"Geez!" Pria itu menahan kekesalannya melihat keadaan apartement milik temannya. Keadaan apartement itu terlihat berantakan. Botol minuman keras tergeletak di atas lantai ruang tv, kursi yang bergeser tidak sesuai dengan tempatnya. Baju wanita yang tergeletak manis di lengan kursi tersebut. Dan pemilik apartement ini sudah dipastikan masih 'tertidur' lelap di kamarnya. Pria itu bersungut kesal sembari menggeser kursi kembali pada tempatnya, dan meletakkan kembali botol-botol minuman keras pada meja. Kemudian dia segera berjalan menuju kamar tidur sang pemilik apartment.
"Kyuhyun! Astaga! Cepat bangun, bodoh!" Umpat Pria berwajah mirip ikan itu melihat kamar tidur yang tak kalah berantakan, seperti kapal pecah. Bau sperma menguar di dalam ruangan itu, membuat teman Kyuhyun itu mendadak mual.
"huh? Donghae? Sejak kapan kau datang?" Kyuhyun si pemilik apartement ini menatap heran temannya dengan mata yang setengah terpejam.
"Bangun dan sadar bodoh! Sekarang matahari sudah akan mencapai puncaknya dan kau masih bergumul ria dengan seorang bitch." Teriak Donghae kehilangan kesabarannya.
Selimut di sebelah Kyuhyun bergerak samar meraasa terganggu dengan gerakan Donghae, "ah, sayang, kau sudah bangun?" dengan suara yang serak ia mengusap dada bidang Kyuhyun dengan gerakan yang menggoda. Tampaknya wanita itu belum menyadari kehadiran orang lain selain dia dan Kyuhyun di kamar itu.
"Jangan menggodaku pagi-pagi, bitch. Kau membuatnya bangun lagi." Mengabaikan Donghae, Kyuhyun mencium bibir wanita yang sudah terlihat bengkak, dan turun ke leher jenjangnya. Membuat pemilik leher mendesah pelan.
"Kyuhyun! Kita sudah terlambat." Donghae menggaruk kepalanya kesal. "Aku tunggu kau di luar. Cepat selesaikan urusanmu! Jangan memulai lagi, aku tahu kau sudah melakukannya beronde-ronde tadi malam, dan aku tak mau menunggu lama."Donghae melempar baju wanita pelacur yang tadi tergeletak di kursi luar. Sedetik kemudian debaman pintu terdengar menggema membuat Kyuhyun menghentikan kegiatannya membuat kissmark.
"Huh? Sejak kapan ada orang lain di kamar ini?" wanita itu menatap pintu kamar dengan heran. "kita lanjutkan, baby?" lanjutnya.
Kyuhyun mengambil dompet yang terdiam manis pada meja di samping kasur. "Pulanglah, aku ada urusan hari ini." Ucap Kyuhyun datar sembari mengeluarkan cek kosong dan berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan badannya yang lengket.
"Cih, jika urusan ranjang dia akan baik padaku, jika sudah selesai tak ada baik-baiknya sama sekali." Gerutu wanita cantik dan seksi itu, namun tangannya meraih cek kosong yang diberikan Kyuhyun. Lalu dia beranjak bangun memakai pakaiannya.
Di luar Donghae mengumpat Kyuhyun yang masih tak bisa menyadari keadaan. Mereka harus mengurus kepindahan mereka ke Korea dan Kyuhyun masih sempat-sempatnya bercinta dengan pelacur itu. Sudah beberapa kali Donghae memergoki Kyuhyun yang sedang bercinta entah dengan wanita mana, yang pasti dia sudah jengahmelihat pemandangan seperti itu.
"Oh, hai." Wanita teman tidur Kyuhyun itu menyapa Donghae yang berdiri menunggu Kyuhyun di ruang TV. Donghae mendelik tidak suka melihat wanita yang bergerak mendekat ke arah Donghae. Pakaian yang dikenakannya tidak benar-benar menutupi tubuhnya, membuat Donghae bisa melihat dengan jelas paha serta payudara-nya yang menyembul setengah. Bermaksud menggoda, eoh?
"Kau terlihat lebih tampan dari Kyuhyun." Ucapnya melihat Donghae dari atas hingga bawah kaki. "kau pasti lebih hebat dari Kyuhyun dalam urusan ranjang." Lanjutnya sambil menggigit bawah bibirnya.
"Pergilah. Aku tidak tertarik padamu." Dengan ketus Donghae menatap tajam wanita di depannya.
Wanita itu terkejut kemudian berbalik badan menuju pintu keluar, "Brengsek! Aku juga tidak benar-benar tertarik denganmu."
"Tsk. Dapat darimana dia wanita seperti itu?"
"Kau berbicara padaku, huh?" Kyuhyun yang terlihat lebih segar dan wangi menghampiri Donghae.
"Jujur padaku, kau dapat wanita itu darimana? Dan berapa ronde yang sudah kau lakukan tadi malam?"
"Waeyo? Kau tertarik dengannya? Memang dia pelacur kelas atas yang ku sewa dari bar langgananku. Dan service-nya tidak mengecewakan. Yang pasti aku bercinta dengannya sangat lama dan menguras tenaga." Kyuhyun berjalan meuju dapur dan mengambil air putih dalam kulkas.
"Huh? Aku tidak tertarik. Hyukkie lebih menggairahkan daripada wanita itu." Donghae mendelik pada Kyuhyun lalu mendudukkan pantatnya pada kursi. "Ya! Kau tidak bercinta di atas kursi kan?"
Kyuhyun menggelen menjawab pertanyaan Donghae, "Yah memang Hyukkie noona terlihat sangat seksi. Jika dia bukan kekasihmu aku sudah menyeretnya ke ranjangku."
"Brengsek kau Cho! Jangan coba-coba membayangkan tubuh kekasihku seujung jari pun." Donghae menggeplak kepala Kyuhyun cukup keras ketika Kyuhyun sudah mendudukkan dirinya di sebela Donghae.
"Hanya bercanda, Hyung!" Ujar Kyuhyun kesal mendapat geplakan pada kepalanya. "Aku tidak akan menyeret wanita baik-baik Hyung. Aku hanya tidur dengan pelacur-pelacur di bar." Suara Kyuhyun mendadak lirih. Donghae yang mengerti hanya memandang Kyuhyun perihatin. "Setidaknya setelah kejadian itu." Lanjutnya begitu lirih.
"Yah, yang berlalu sudah berlalu. Kau tidak bisa mengulang dan memperbaikinya." Donghae menatap ke depan dan menghela napas. "Setidaknya Kyu, hentikan kebiasaanmu itu, mungkin dengan berubah kau bisa menebus dosamu sedikit."
Kyuhyun menghela napas kemudian memejamkan matanya. Kenangan itu membuat hatinya sakit. Bagaimana bisa ia melakukan hal bodoh itu. Menyesal pun sudah tak ada gunanya sekarang. Waktu terus berjalan maju tanpa memberikan lelaki itu kesempatan memperbaikinya.
"Kau memang brengsek, Cho." Umpat Kyuhyun pada dirinya sendiri.
.
.
.
"Pergi kau dari sini! Kau sudah membuat malu nama keluarga kita. Aku tidak akan menganggapmu sebagai anak."
"Kumohon.. maafkan aku, Appa. Tolong jangan seperti ini.. a-aku tidak punya siapa-siapa lagi.."
"Keluar!"
"Eomma.. eomma maafkan aku.. t-tolong aku Eomma..hiks"
"huh? Siapa yang kau bilang Eomma? Kau sudah membuat Eomma malu dengan teman-teman Eomma."
"hiks.. siapapun tolong aku.."
Continue..
haloo chingu~
makasih yang kemaren udah review dan menginginkan FF ini lanjut.
mianhae kalau ff ini masih banyak kekurangan. pokoknya semoga dengan ff ini aku bisa menghibur joyer yang masih bertahan.
Thanks for
|Rly. |nurichan4|dewi. |WineKyuMin|abilhikmah|Cha Eun Sun|OvaLLea|
