Chapter 1: TroUbLE 2 : Meet the Agency 1
.
Still flashback n' OOC. Happy read!
.
"HAAAHH?!"
Atsushi menjerit, dan itu cukup untuk menulikan sepasang telinga. "Menikah? Eh? Eeeeh? T-tunggu dulu, aku masih belum siap!" katanya gelagapan.
Tentu saja, siapa yang tidak akan kaget kalau seseorang mengajakmu menikah tiba-tiba? Setidaknya itu yang dirasakan Atsushi.
"Kau menolak?" tanya Akutagawa. Nada suaranya berubah menjadi 'agak' kecewa.
"A-ah. Bukan seperti itu, tapi... AAARGH! Bagaimana aku akan mengatakannnya?!"
"Baiklah, itu artinya kau menerima lamaranku."
"Hei! Jangan nemutuskan seenaknya-"
Ponsel Atsushi berdering. Ini sudah yang ke-10 tanpa ia sadari. Atsushi meraih ponselnya dan ponsel itu berhenti berdering. Ia menatap layarnya horor. 10 panggilan tidak terjawab, dimana 9 panggilan dari Kunikida dan sisanya dari Dazai.
"Aaah, sial! Aku harus segera berangkat!" Atsushi panik. Ia segera berlari menuju ke luar kamar, tanpa peduli kenyataan bahwa kakinya hampir tidak bisa berjalan dan perut yang kelaparan meminta sarapan. Lagi-lagi ia harus memikirkan alasan jika Kyouka kembali menanyainya kenapa tidak pulang ke apartemen.
Dengan cepat, Atsushi memakai sepatunya. Di belakang tubuhnya, Akutagawa melipat tangannya di depan dada.
"Jinko."
"Apa?"
"Karena kau sudah mengizinkanku, aku akan mencoba meminta restu. Dari Port Mafia atau Agensi Detektif Bersenjata."
"Terserahmu saja!"
"Kalau begitu, bagaimana dengan ciuman selamat pagi?"
"Tidak untuk kali ini! Sudah ya! Aku berangkat!"
Atsushi berlari terburu-buru. Ia membuka pintu dan segera meninggalkan kekasihnya yang masih terdiam di depan pintu. Pintu itu terbanting tertutup, diiringu suara batuk Akutagawa yang langsung berbalik menuju ke dalam ruangannya.
"Baiklah. Selanjutnya..."
Seminggu kemudian...
Kacau. Hanya itu yang bisa menggambarkan keadaan Atsushi saat ini. Untuk kesekian kalinya ia menghela napas berat. Wajahnya begitu pucat. Pekerjaannya menumpuk di sebelahnya, walau tidak menggunung seperti milik Dazai. Sementara ia masih melamun dengan kantung mata di bawah matanya.
Semua orang sudah memperhatikannya sejak seminggu yang lalu dan itu benar-benar harus dipertanyakan. Atsushi yang biasanya suka rela untuk bekerja kini lemas tak berdaya. Mungkin, bisa saja ia tertular sifat Dazai yang pemalas. Tapi ini sudah seminggu dan malasnya melebihi Dazai! Siapa yang tidak akan menganga lebar saat tahu orang seperti Atsushi berubah drastis seperti ini? Presdir Agensi bisa saja terkena jantungan kalau ia tahu hal ini.
Tapi, tentu saja tidak ada yang tahu penyebab utama Atsushi yang kini berbeda dari biasanya.
Sudah seminggu Akutagawa Ryuunosuke tidak menghubunginya. Tentu saja itu membuatnya cemas. Ia pernah mencoba menelpon kekasihnya yang bekerja di Port Mafia itu, namun tidak pernah dijawab. E-mail pun juga tidak dibalas. Ada apa gerangan?
Jangan bilang kalau itu semua karena Atsushi yang memberikan jawaban tak pasti soal pernikahan itu?
AAAAHH! SIAL!
Atsushi mengacak-acak rambutnya stress. Dan jangan bilang kalau Akutagawa menjauhinya hanya karena masalah pernikahan itu. Oh, sial. Mungkin sekarang Akutagawa berencana membatalkan pernikahan yang dinantinya. Mimpi indah tentang berumah-tangga itu akan hancur dan lebih buruk lagi mereka putus hubungan. Tidak. Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Serius. Atsushi harus segera menemui Akutagawa.
"Atsushi-san." Suara lembut itu menyadarkan lamunannya. Izumi Kyouka, gadis yang ia ajak ke agensi-kalau tidak mau dibilang 'memungut'-menghampirinya dengan wajah polos seraya mengulurkan segelas teh hijau. Atsushi tersenyum tulus, "Tidak apa-apa, Kyouka-chan. Aku baik-baik saja."
Kyouka menggeleng kepalanya. "Tidak apa. Aku hanya mencoba membantu."
Mendengar niat malaikat itu, Atsushi segera menerima teh hijau dan meminumnya. "Terima kasih." Senyuman yang manis tercipta. Kyouka hanya mengangguk dengan semburat fuschia di pipinya.
Ahh, tak ia sangka ternyata hanya dengan meminum teh hijau ini ia menjadi lebih rileks. Niat baik untuk membantu dari Kyouka begitu terasa di teh ini. Begitu suci dan murni. Tak seperti si ubanan tanggung yang terlalu banyak dosa karena terlalu banyak nafsu.
Biasa, sepasang kekasih yang akan putus pasti bakal ejek-ejekan di belakang dan saling menyindir mau itu langsung di depan muka atau tidak, di dunia nyata atau dunia maya.
Tok tok tok! Suara ketukan pintu itu menegakkan telinga para penghuni yang ada di ruangan itu. Semuanya menoleh, termasuk Atsushi yang masih meminum tehnya.
"Permisi." Lalu seseorang dengan kacamata lensa kuning dan mantel hitam membuka pintu serta mengintip ke dalam.
Bruuuuuusshh!
Atsushu menyemburkan tehnya tidak sengaja. Perhatian kini mengarah ke arah Atsushi. Sementara Atsushi masih terbelalak melihat orang itu yang berdiri di depan pintu sembari membawa oleh-oleh di tangannya; buket bunga kamelia merah bercampur mawar di tangan kiri, dan sekotak pattissier berada di tangan kanan.
"Ah, selamat datang!" Kenji sebagai penghancur suasana awkward menyapa orang itu terlebih dulu, dengan sikap ramah tamah seperti biasanya. "Ada yang bisa kami bantu?"
"Aku ingin berbicara sesuatu dengan kalian, Agensi Detektif Bersenjata." Jawaban yang ambigu.
"Baiklah, silahkan masuk dan duduk di tempat yang sudah di sediakan."
"Terima kasih."
Atsushi masih cengo. Yang benar saja, rekan-rekannya masih bersikap biasa saja seolah mereka tidak mengenal orang yang baru saja akan masuk itu.
Haloo~! Apa tidak ada yang menyadari kalau orang itu adalah Akutagawa Ryuunosuke? Sudah terlihat jelas dari uban-itu ejekan dari Atsushi-di sebagian rambutnya.
Brak! Atsushi menggebrak meja. Ia langsung berdiri dan melangkah lebar-lebar ke arah Akutagawa. Segera ia menarik lengan orang itu setelah menyerahkan buah tangan yang dibawa kekasihnya Kenji.
"Ikut aku!" seru Atsushi. Yang ditarik hanya pasrah walau ia masih bertanya apa yang terjadi. Pintu tertutup setelah mereka berdua pergi.
"Ada apa sih?" tanya Tanizaki mengabaikan laporannya sementara.
"Entahlah~" Nada bicara Dazai seakan ia tahu apa yang terjadi.
Kenji melirik kotak pattissier yang di bawa Akutagawa di tangannya. Ia tersenyum, lalu dengan intonasi ceria ia menunjukkan kotak yang terbungkus plastik putih itu pada rekan-rekannya.
"Semuanya, ini ada kue dari orang yang barusan. Sepertinya untuk kita semua."
Mata mereka semua langsung berbinar bahagia.
"Apa yang kau lakukan di sini?! Kau tahu kan bahayanya jika kau datang kemari?!"
Atsushi berteriak stress di lorong gedung agensi. Kesal bercampur amarah meluap di tubuhnya, membuatnya semakin depresi. Akutagawa masih di sini, menjawab pertanyaan Atsushi dengn jawaban yang malah membuatnya semakin keki.
Batuk sesekali. "Tentu saja untuk melamarmu secara resmi. Apa lagi?"
"H-HAH?!" Wajah Atsushi memerah. "Tapi, bagaimana dengan-"
"Bosku menerimanya." Kalimat itu membuat Atsushi shock. "Dia hanya mengatakan bahwa aku hanya perlu meminta restu dari Agensi."
Akutagawa mendekat, memojokkan tubuh Atsushi hingga terjepit antara tubuhnya dan dinding. Tangannya yang pucat mengelus pipi Atsushi yang memanas. Kemudian ia berbisik dengan nada seduktif,
"Dan setelah itu, kita bisa menikah. Impian kita berdua pun terwujud."
Sebelum Atsushi membalas ucapannya, Akutagawa sudah membungkam bibirnya dengan bibirnya sendiri. Ada sedikit paksaan sebelum pada akhirnya lidah mereka saling bertaut. Tubuh Atsushi terasa pans, ia meremas mantel berwarna gelap milik Akutagawa erat. Tak ingin terpisah, Akutagawa mendorong punggungnya dan memaksa semakin masuk ke dalam. Atsushi melenguh, antara napasnya sesak atau meminta lebih. Sesaat kemudian Akutagawa melepasnya, menyisakan tarikan napas yang sangat dalam dan sangat rakus.
"Apa yang...kau lakukan?" tanya Atsushi masih gelagapan. Napasnya masih tidak teratur.
Grep!
Akutagawa tiba-tiba memeluk Atsushi erat.
"Aku merindukanmu, Jinko."
"Eh?"
Mereka berduan mengambil sedikit jarak. Setelah napas kembali teratur-dan diselingi batuk-Akutagawa membuka suara, menjelaskan sesuatu.
"Aku sengaja tidak menghubungimu akhir-akhir ini karena.." Akutagawa mengambil napas sejenak. "...aku mengurus pernikahan kita."
"Apa?"
"Ya, butuh waktu bagiku untuk menjelaskannya pada bos. Aku juga harus bekerja bagaimana pun kondisinya. Baru lusa kemarin aku bisa mengatakannya. Dan aku juga harus menyiapkan mentalku untuk datang ke sini. Aku sudah siap dan kemari untuk meminta persetujuan pada Agensi. Dan di hari inilah, aku datang kemari untuk itu."
Kecupan ringan mendarat di dahi Atsushi. Yang dikecup hanya bisa bersemu wajahnya dan memalingkan muka.
"Bodoh." Bibirnya membentuk kerutan kecil. "Harusnya kau bilang dari awal."
Akutagawa tersenyum, ia tertawa dalam diam. Dikecupnya bibir ranum milik Atsushi. Tidak melakukan apapun selain itu. 15 detik kemudian, Akutagawa melepasnya dan menatap mata sayu Atsushi. Ia menahan tawa.
"Hanya dengan kecupan kecil saja kau sudah 'begini'? Kau mesum, jinko." Katanya menggoda.
"A-apa katamu?!"
Akutagawa tertawa, Atsushi menggembungkan pipinya gemas. Ia berpikir sejenak, lalu mengangkat dagunya sambil menutup mata. Tahu akan permintaan pacarnya, Akutagawa sekali lagi mendekatkan bibirnya dan kembali menyentuh bibir keka-
"Ah! Di sini rupanya."
"Oi, bocah! Apa yang kau lakukan di situ?!
-tidak jadi.
" UWAAAA!"
Refleks Atsushi mendorong tubuh Akutagawa menjauh. Ia menoleh cepat ke arah rekannya yang malah menatapnya kebingungan.
"Uwaa, kaget aku." Ini kata Tanizaki.
"Atsushi, apa yang kau lakukan? Jangan seenaknya menarik klien seperti ini!" omel Kunikida.
"Dia siapa, Atsushi-kun?" Dazai seolah berpura-pura bego.
Mereka masih belum tahu siapa orang yang sedang bersama Atsushi ini.
"Ah...dia ini..." Sulit menjelaskannya. Atsushi memainkan kedua jari telunjuknya di depan dada. Tepukan lembut mendarat di bahunya. Atsushi menatap Akutagawa yang malah bersikap tenang di hadapannya. Akutagawa memandang sebagian anggota Agensi Detektif tajam sebelum akhirnya ia membuka suara.
"Mungkin kalian sudah tahu siapa aku, tapi biarkan aku memperkenalkan diriku sekali lagi."
Sebuah jeda dengn suara batuk yang khas, kemudian Akutagawa melanjutkan ucapannya.
"Namaku Akutagawa Ryuunosuke, anggota Port Mafia. Aku datang kemari untuk melamar salah satu rekan kalian, Nakajima Atsushi."
Krik. Semua orang cengo.
"HAAAHHH?!"
Dan seperti itulah awal kisah pernikahan mereka yang terjadi. Eh? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kalian bisa menunggu chapter depan. See ya!
.
.
To be continued
.
.
A/N: yo minna! Aku datang lagi!
Yup, dengan begini, flashback seminggu yang lalu tentang awal mula pernikahan mereka sudah selesai. Chap depan udah mulai masuk ke inti. Dan makasih buat Misaki Younna dan shizu yummy yang sudah memeriksa typonya. Akan aku perbaiki segera. ^^
Bagi yang tidak tahu (padahal memang gak tau) aku ngetik pake hape, di apk WPS (tidk bermaksud promosi). Laptop aku udah gak bisa ditolong lagi, cuma ini harapan yang tersisa di hidupku/alahlebay. Jadi kalau apdet pasti lama, soalnya ngetik di hape pinter (?) gini butuh waktu yang lama juga. Gampang capek soalnya /yha
Akhir kata, thx sudah baca chapter ini, dan makasih pula udah yang review dan fav. How about review? :3
