Yahoiii! Ketemu lg di sekuelnya Just The Two of Us.

Pokoknya big thanks utk om MK yg baek en gak pelit minjemin 2 chara keren dia di animanga Naruto.

And thanks utk Syari Putri yg bantuin meranin jadi Narutonya, eaaa~ *wink wink*


~O~O~O~O~O~O~O~
ll
ll

ONSEN

ll
ll
Pairing : Uchiha Sasuke X Uzumaki Naruto
Genre : YAOI - M 18+ - AU - Romance - Humor gaje

~O~O~O~O~O~O~O~


''A-Apuaahhh?!'' Naruto nyembur kembali di wajah tampan Sasuke meski tersamarkan air shower yang membasahi body aduhay miliknya. Idiiiih, Sasu ternyata diam-diam manja habis kalau di hadapan dobe nya.

Sasu langsung aja pasang tampang -_-''

''Pffttt-! Hahaha.. Teme- sejak kapan kau manja?'' seloroh Naruto plus tawa tjantek - nya sambil nunjuk-nunjuk muka si pemuda Uchiha, dan satu lagi memegangi perutnya.

''Coba lihat apa yang kau lakukan-tteba?! Aku jadi ikut basaaaah!'' Si jabrik doyan sekali teriak hari ini. Ingin sekali dirinya meng-kepret pantat ayam Sasuke dengan bijuudama biar lebih elit dan terlihat gentle.

Kelereng birunya menatap Sasuke yang basah-basah-basah-seluruh-tubuh dan merona dalam sekejap. ''Mandi saja sendiri, Sasuke.'' Setelah mengatakan itu, Naruto balik badan membelakangi Sasuke yang terlihat hot saat basah.

Menyadari dirinya ikut basah, si jabrik kuning langsung lepas baju dan boxer yang dikenakannya, mengambil handuk yang tergantung dan tragedi pelilitan dipinggang .

Sasuke heran kemana otak extravaganza atau avant garde yang tadi dia puji-pujikan untuk Naruto? Apa dia gak tau ini semua adalah akibat Naruto beserta tingkah joroknya karena nyembur sok kopas tingkah mbah dukun?

Saking kesalnya, teme merenggut handuk itu dan lemvar ganteng keluar.

Yassalam! Belum juga setengah langkah Naruto lenggang ganteng ke arah kamar, tiba-tiba saja Sasuke menarik handuk yang menutupi benda antiknya dan lemvar sembarang arah.

Sesudah itu Sasuke merengkuh tengkuk jabriknya dan sumpal mulut Naru dengan menggunakan bibir kekinya, membuat si jabrik terkejut kembali oleh nyosornya bibir si teme raven hingga dirinya kembali terbungkam.

Tak cukup itu saja, bahkan tangan sang Uchiha pun meraih cocuit Naru di bawah, meremasnya dengan gemas. Untung saja Sasu tak sampai mengeluarkan jutsu Chidori-nya saat meremas, atau cocuit-mu bakal klepek seketika, dobe.

''Mphh-?'' Buhaha! Sampai ada nada seolah bertanya dari si blonde. Mungkin saking syoknya Naru. Oke , sejak kapan Sasu-teme jadi doyan nyosor dia terus?

Intinya, si jinchuuriki itu dibuat mati langkah akibat cipokan ganas Sasu dan remasan penggetar imron yang dilancarkan seketika.

Usai adegan waow tadi, Sasu menjauhkan wajah Naru sambil dirinya buka baju.

''H-Huaahh! Teme, apa yang kau lakukan-ttebayou?!'' Naruto panik tunjuk muka yang kegantengannya tak mau diakuinya itu dengan tatapan horor tapi tak berani nyembur apapun lagi di wajah si tamvan Uchiha.

"Sekali aku mendapat semburan darimu, maka kau akan menerima seperti yang barusan." ujarnya datar sambil cuek, telanjang di dekat Naru dan menyabuni tubuhnya ala bintang iklan sabun.

Tiba-tiba sang wadah Kyuubi itu sadar jika bagian bawahnya tak tertutupi lagi. Oh sial, gara-gara grepe ringan tadi, siswanto nya jadi berasa nganu.

Dan Naruto makin horor. Ingin teriak '-pip- ku jadi -pip-!' Tapi berhubung itu memalukan meski dirinya selalu memalukan /nyadar diri/ Naruto milih mengerem mulutnya sebelum kalimat nista itu meluncur tanpa gangguan.

''Gezz, teme menyebalkan.'' Naruto buruan nyambar handuk terakhir dan melakukan hal yang sama, kemudian jalan menghentak menuju kamar.

Ingat, perlu diketahui, handuk terakhir.

Sasuke berpikir... apakah ia perlu merenggut handuk terakhir itu? Bagaimana kira-kira bila ia merebutnya dari si kuning? Apa yah yang bakal di teriakkan si dobe nantinya?

Tapi, ternyata tangan Sasu bergerak lebih cepat ketimbang pikirannya yang terlalu banyak menimbang ini itu. Geez, tangan yang menakutkan.

Tangan itu manjambret handuk di pinggang Naru dan kemudian bertindak santai meneruskan bilasannya yg tinggal sedikit lagi sambil mengamankan itu handuk di tangan satu yang ia jauhkan dari air.

"Berdiri di pojok, tunggui aku mandi." Wohaahh! Titah nan keren sekali, tuan Uchiha.

Bahkan setelah selesai mandi, Sasuke memakai handuk itu untuk dirinya dan sesudah mengeringkan tubuh memakai handuk terakhir tersebut, ia pun menyerahkan handuk agak basah tadi ke Naruto. Ohh nak Uzumaki, kau bagai sedang ada di drama Titipan Ilahi atau Hidayah. Uke yang terzolimi.

Biarlah Sasuke dapat karma, nak Naruto,,, yaitu karma cuma cinta en humuan ama kamu aja, kagak ama char laen.

Usai berbuat like a boss.. Sasu enteng melenggang ke kamar.
"Dobe, beri aku pakaian." Eaaaa~ calon suami yang sugooii.

Naruto tengah memandangi handuk basahnya dengan aura suram-sesuram suramnya. Sudah cukup sikap menyebalkan Sasuke, semua itu harus di kepret - masutnya harus dihilangkan alias dimusnahkan dari muka bumi ini.

''SA-SU-KEEEEEE!'' Lihatlah air mata sudah meluncur keluar dari sepasang manik saphire. Penuh hawa membunuh dan dendam, bahkan mengalahkan scene kala Naruto palsu memakan semua persediaan ramen cup milik yang asli.

Dengan langkah penuh aura dendam itulah, Naruto jalan anteng ke kamar namun jika dilihat retaknya lantai kamar mandi, semua itu terlihat menyeramkan /berasa pilem apa gitu/

Sekali sajaaaa.. Naruto ingin sekali saja mengkepret perut Suke menggunakan rasengan biar dia puas lahir bathin. Dipakainya handuk basah tadi lalu dua tangan itu mmbuat segel hingga bibir itu terlihat bergerak mengucapkan sesuatu.

Kagebunshin no jutsu!...

Tiba di kamar, Naruto malahan dibuat blushing sebentar kala adegan sisir rambut raven si emo dan segera menggelengkan kepalanya agar sadar. Oi, masih ada 2 bunshin yang ia ciptakan di situ, oi!

''Sa-Sasuke! Biarkan aku menghajarmu sebentar-tteba ..'' Naruto berusaha menatap sengit pokerface andalan Sasuke sambil berkacak pinggang ditemani 2 bayangan lain yang mirip dirinya, the bunshin. Apa akan jadi perang dunia ninja ke-enam untuk kali ini?

Biarkan waktu menjawabnya.

Sasuke yang dengar suara berisik berlipat ganda, cuma menoleh sebentar, menghentikan sekejap adegan nyisir rambut yang bagaikan model di tipi.

Menyelesaikan bentukan pantat ayam supaya trademark dia kagak ilang, Sasu pun meletakkan sisirnya ke meja rias Naruto. Lalu ia berjalan hampiri si jabrik duren yang mukanya sedang hot -hotnya. Maksudnya gegara saking emo(si)nya.

Berhenti di depan si dobe, teme emo hanya diam lalu tangannya terulur.. -tenang saja dek Naru, kali ini bukan untuk tindakan pembullyan kamu kok,- melainkan mendarat lembut di pipi Naruto sambil mengusapnya perlahan.

Oya , dan tak lupa ia mendekatkan wajah senyumnya ke Naruto. Walau aneh tapi tetap saja menguarkan aroma seme cool.

Oleh karena ia punya mata Uchiha, maka tak sulit bagi Suke mengetahui mana dobe yang asli di antara 2 bunshin-nya.

Yeah! Hanya itu aja yang dilakukan teme. Dekati Naruto, majukan wajah ke dobenya lalu elus pipi si kuning dengan lembut disertai senyum semanis mungkin.

Usai itu... cabut keluar rumah dan - jangan kuatir, ia sudah memakai pakaian Naruto yang paling keren.

Eaaaa~ si blonde pasti terbengong cantekk.

Benar saja, Naruto ternyata terbengong-bengong begitu elitnya. Pasalnya tak ada pembully-an lagi dari sang Uchiha. Entah kerasukan iblis mana sampai teme nya jadi bersikap aneh hari ini.

Perlahan, satu tangan si blonde tan terangkat dan mengelus pipi yang pastinya sudah terdapat semburat merah, di mana tangan putih pucat itu barusan menyentuhnya dengan elusan ringan.

Duh, kokoro Naruto serasa tak kuat. Yang tadi itu cukup membuat degup jantungnya mengalahkan suara toa milik teman hijau di desa tempat tinggalnya.

''Si teme itu- apa perlu kubawa ketempat Hibari agar bisa meng-kamikorosu-nya?'' gumam si jabrik pelan dengan pose mikir dibuat se-cool mungkin. Tentang dimana Naruto kenal orang yang barusan disebut yang biasa menganggap semua makhluk itu para herbivore - jangan ditanya. Hohoho ...

Mengindahkan pikiran gajenya, Naruto lekas jalan menuju lemari dan memilih pakaian.

Yah meski hanya baju hitam dengan tudung kepala ditambah jaket orange dan biru lengan pendek, semua nampak sempurna bersama celana khasnya. Pokoknya para auth bayangin sendiri saja.

Mengabaikan sisir ajaib di meja riasnya, Naruto sedikit mengernyit, sejak kapan dirinya punya sisir?!

''Oi, teme, kau mau kemana?''


~O~O~O~O~O~O~O~

ll

ONSEN

ll

~O~O~O~O~O~O~O~


Oh, rupanya si dobe tak mau pisah jauh dari teme nya. Paling tidak berikan aku ciuman dulu sebelum pergi, bathin Naru.

Sasuke yang dipanggil-panggil, entah mo dikasi apa atau mau diberisikin apa, terpaksa menghentikan langkahnya en noleh ke jabriknya yang lari-lari kecil ngejar dia.

"Ke rumah Sakura, makan masakan dia." jawabnya pendek singkat dan tegas.

Sebenarnya banyak lanjutan dari jawaban itu. Ia ingin jawab, 'ke rumah Sakura minta dimasakin dia dan makan di tempat dia, karena makan di tempat dia, aku takkan dapat pelecehan harga diri dengan menerima semburan kuah atau makanan lainnya sehingga muka atau bajuku tak perlu basah konyol.'

Nah, panjang bingit kan kalau si tuan Sharingan itu mau merentetkan ucapannya? Kalau dia orang yang cerewet, ucapan panjang itu bakal terburai lepas.

Cuma, berhubung dia orangnya pelit, bahkan dalam hal omongan, maka jangan harap bisa membuatnya bersusah payah mengeluarkan tenaga untuk bicara banyak. Pfftt. Dasar Uchiha. Dimana-mana kok kelihatannya irit omong.

Dan begitulah dia. Sasuke dengan memasukkan dua tangannya ke saku celana, melenggang santai sambil jalan-jalan, sekalian minta makan ke Sakura.

''Ooohh...''

Naruto yang mendengarnya hanya manggut pelan pertanda mengerti. Saking dobe nya tu otak sampai gak ngeh atas jawaban sang Uchiha bungsu.

''Eh-?! Ke rumah Sakura?!'' Tuh kan, sepertinya si jabrik kuning ini baru saja sadar setelah acara manggut tjantek nya tadi. Segera saja ia halangi jalan si tuan emo disertai mata menyipit tajam.

''Kenapa tak mengajakku, teme?'' tanyanya intens. Oh ayolah, Naruto juga kepingin ke tempat teman satu tim nya itu yang tentu pasti jauh sekali berhubung mereka pindah ke tempat ambigu bernama kota AURI.

"Csk." decis teme singkat.

Melangkah mendekati Sasuke, di pegangnya lengan baju si teme agar mereka tak terpisah di jalan. Buhah! Cuma pegang lengan baju, tak sekalian tangannya, dobe?

"Hn~" Suke hanya pandangi lengan bajunya yang diremas Naruto.

''Aku tak akan membiarkanmu ke tempat Sakura sendirian-ttebayou.''

Dan sekarang, bathin Naruto sedang masa senang-senangnya- dimana chibi si jabrik jumpalitan ria di alam lain. Bayangkan saja seperti apa sambutan indah kalau Sasuke ada di rumah si jenong pink satu itu. Makanan enak yang banyak, siapa tahu nyempil ramen juga di sana.

Kini, wajah pemuda Uzumaki itu sungguh sumringah berhias rona merah tipis, entah apa yang terpikir. Tapi jika Sasuke mau GR , boleh kok.

Sasuke berhenti sejenak. Ditatapnya si dobe yang kadang lolanya amit-amit. Gak bisakah otak dobe nya itu memahami perasaan dia secuil aja? Eaaaa~ mulai ngedrama nih Sasu.

Dikarenakan acara membuat jeles si jabrik duren rasanya bakalan gagal pake total sebab tersangkanya malah cengar-cengir doank, terpaksa Sasu kudu mikir strategi baru.

Ahh, mumpung dia pake baju normal-maksudnya kagak aneh-aneh mencolok ala ninja gitu-aja, maka ia berbelok ke sebuah tempat. Yang harusnya lurus menuju kampung si jenong , tapi ini malah belok kiri ke tempat lain.

"Aku ingin santai di Mal. Jangan ikuti aku." cieehhh~ elegan banget cara dia ngusir Naru. Buhaha! Dan teme tamvan ini berfikir kira-kira dia bakal ngapain yah di Mal.

Hanjiirr! Dia kan gak punya duwit! Nekat amet ke Mal?! Haarrghhh!

Rasanya si Sasu mulai stres karena tertular ke-dobe-an yayanknya. Jangan-jangan ini terjadi semenjak ia menusvol Naruto sehingga ia bagai terkontaminasi virus dobe si blonde itu. Pffttt!

''Apa?'' Naruto menoleh kembali ke arah muka ganteng yayank nya yang kini berbelok arah.
Perempatan siku-siku merah muncul manis di pelipis pemuda berdarah Uzumaki tersebut.

''Kau itu niat numpang makan tidak sih, teme?!'' sembur si jabrik, menekankan kata 'numpang makan' dengan sangatlah dalam.

Pfftt! Tak elit benar kalau dipikir, Sasuke numpang makan? Buhah! Semoga kakaknya yang punya tanda lahir kerivut itu tak menangis histeris nun jauh di sana entah.

"Kenapa memangnya?" teme cuma ngelirik uke-nya , singkat.

''Huh, memangnya kau punya uang-tteba?'' Naruto natap skeptis Sasuke yang kayaknya baru ngeh ama kata uang tadi. ''Jangan bilang kau hanya modal tampang saja, Sasuke, tak akan kubiarkan..''

Tiba- tiba saja, api keluar dari pancaran manik safir Naruto, seolah-olah ia tak akan membiarkan teme nya menjual diri pada calon fans-nya di Mall sana. Ah, anggap saja cemburu tak langsung.

Bisa dibayangkan bisik-bisik tetangga/ heh/ saat seorang Uchiha Sasuke berjalan santai sambil pokerface andalannya. Pokoknya menarik minat kaum hawa en uke-uke itu bagi Sasuke bukan hal sulit, dan dengan begitu si emo juga akan dapat makanan gratis.

Makanan gratis?

''Tak akan kubiarkan itu terjadi-ttebayou!''

GREPP!

Naru peluk erat pinggang Sasu dari belakang beserta mata sangatlah tajam, seolah mengusir para penganggu di jalanan yang natap lopidopi si raven. Duh Nar, kau itu cemburu atau ingin ikut andil makan gratis sih?

Teme tamvan yang sedang niat mo jual diri-Naruto kok tau banget sih modus si emo? Jangan-jangan dia punya mata sharingan juga nih!- di Mal , terhenti jalannya dengan si dobe memeluknya kencang.

NAH , sekarang kalau sudah ketahuan gini, musti gimana lagi langkah selanjutnya? Sementara dia kepingin banget bikin dobenya cemburu (barusan dia udah nunjukin jelesnya, baka teme! PLAKK!) , sekaligus juga dia harus makan karena itu sebuah kebutuhan yang hakiki#ciehh.

"Csk! Kau bawel. Aku harus kerja supaya bisa makan enak." kepala emo-nya ditolehkan sedikit ke samping , melirik dobe di belakang yang masih betah ndusel di punggungnya. Jejangan tu jabrik ketiduran di situ. Haiyah!

''Kerja?'' Oke, Naruto memang lola minta ampun jika soal kalimat yang bahkan mudah sekalipun. Dilepasnya pelukan tadi dan natap si teme dalam diam.

"Ya dobe."

''Jangan!'' burai si jabrik, saking nyaringnya teriakan itu bahkan mengalahkan semangat sepasang incest /heh/ masutnya guru dan murid sama-sama hijau nun jauh di sana.

''Kau lupa teme? Bukankah aku yang akan bekerja? Biar aku saja yang menanggung beban hidup kita. Percayakan saja padaku-ttebayou..'' Naruto unjuk gigi sambil nunjukin jempolnya. Dirinya juga pingin sesekali terlihat gentleman di depan Sasu.

Ditariknya tangan sang Uchiha menunju Mal- kata si emo memang ingin kesana- ''kenapa harus ke Mal? Tidak ke onsen saja atau ke kedai ramen?'' gumam si jabrik pelan agar tak kedengaran oleh Sasuke. Pokoknya tempat yang tak ramai begitu lah.

Langkah Naruto terhenti seketika, dirinya bingung kenapa malah suka nyempilin Sasuke sejak tadi? Lagipula cemburunya pun tak ber-alasan. .. Cemburu...

''Aku mau ke onsen saja, teme,'' ucapnya tegas. Tadi malam sudah sampai terbawa mimpi saking inginnya si dobe pirang ke tempat tersebut.

Ho, jadi wajah ambigei en lenguhan pelan itu bukan mimpi basah bersama Sasuke.. Tapi karena lagi rendaman di onsen? Atau ..atau...-pip- nya di onsen?

Bisa jadi.

''Kalau kau tak mau ikut, ya sudah, aku bisa pergi sendiri-tteba..'' Si dobe putar langkah dan siap lompat ala ninja ke arah onsen nun dekat di situ.

◇ ◇ BERSAMBUNG ◇ ◇


Wokeih minna-san.. sangkyu udh baca en comment (kalo ada, hehe)

Gimana kira-kira kelakuan keduanya di onsen?
Silahkan ulik di chapter selanjutnya.

=[ RYUU ]=