Comeback.. gak lama banget kan? hahahaha

Sekali lagi yah,, cerita ini terinspirsi dari sebuah lagu jadi ada scane-scane yang benar-benar kayak lirik, aku gak tau ini juga termasuk fic Song,, langsung saja

TELL ME U LOVE ME

DISCLAMER: ORANG-ORANG DISINI MILIK DIRINYA SENDIRI, SAYA HANYA MEMINJAM NAMA. .

NAMJIN Rated T


"Hey, kukira kau yang akan menyiapkan aku lagu, ternyata tetap aku"

"Sudah ku bilang kan lagu buatan sendiri, jadi kau sendiri yang membuatnya. Dari pada kau membuat lelucon garing mu itu. Lebih baik kau membuat lagu. Bukankah dulu kau sempat bercita-cita jadi penyanyi?" Sandeul berkata sambil memakan buah apel.

Seokjin dan Sandeul sedang berada di cafe yang di miliki Ayah Sandeul. Terletak di dekat kampus tidak membuat cafe ini selalu ramai. Niatnya Seokjin mau menagih lagu yang akan dinyanyikannya saat festival, Tapi ternyata dia benar-benar menyuruh Seokjin membuatnya.

"Tapi kau tahu kan? Sekarang aku tidak terlalu ingin menjadi penyanyi. Yah walaupun aku bisa menjadi penyayi dengan Wajah tampan dan suaraku ini, tapi aku tidak ingin"

Sandeul memutar matanya bosan. Sepertinya sifat kepedan Seokjin muncul kembali.

"Jadi bagaimana? Aku tidak bisa membuat lirik apalagi membuat tangga nada itu menjadi sebuah instrumen"

"Aku tahu itu, karena itu aku sudah menyuruh seseorang untuk membatumu"

"Siapa? Yoongi? Dia bilang tidak bisa, katanya mau membuat lagu untuk Jimin"

"Siapa juga yang mau minta bantuan dengan dia? Aku tidak mau lagi meminta bantuannya. Dia terlalu kaku dan dingin" Seokjin tertawa begitulah Yoongi, entah kenapa dia bisa bersama Jimin yang berkebalikan. Tapi bukankah itu serasi? Saling melengkapi.

"Seorang Hoobae di SMA. Kau akan bertemu dangan sebentar lagi. Karena sebentar lagi dia akan sampai disini" kata Sandeul sambil menunjukan ponsel nya, 1 pesan masuk.

"Dia ahli membuat musik? Aku tidak tahu kau dekat dengan seorang Hoobae saat SMA kau kan selalu bersamaku saat istirahat?"

"Tidak terlalu dekat, dia hanya pelanggan tetap cafe ini dan kebetulan dia bilang dia mengenalku sebagai Sunbaenya. Akusih oke-oke aja kalau aku lebih terkenal dari Seokjin yang katanya tampan"

"Aku kan memang tampan,kau ingat pernah seorang wisata asing meminta foto bersamaku. Kau ingat kan? Tidak mungkin kau tidak ingat"

"Iya aku ingat, aku yang mengambil foto kalian" Seokjin tersenyum bangga sambil berpose.

"Kami berbincang-bincang dan aku tahu dia sorang rapper -"

"Tunggu, jangan bilang itu RM? Aku tidak tahu RM alumni sekolah kita."

Seokjin kaget, astaga entah kenapa pikirannya tertuju pada Namjoon, mungkin karena dia Cuma tahu 2 rapper terkenal di kampusnya.

"Wah kau tahu RM yah? kukira kau hanya tahu AGUST D atau SUGA karena yang ku tahu kau tidak pernah mendengarkan lagu rap yah ini memang ada hubungannya dengan RM sih"

"Siapa yang tidak tahu dia? Seluruh kampus tahu dia kok. Kau kira segitu Kupernya kah aku?"

Cling

Bersamaan dengan itu bunyi lonceng pintu cafe berbunyi.

Membuat Seokjin dan Sandeul menoleh. Diikuti masuknya seorang laki-laki berhoodie Hitam dengan ripped jeans.

"Halo Hyung" Sapanya.

Selanjutnya Seokjin terkejut, bukan karena sapaan laki-laki berhodie itu. Melaikan sosok yang berjalan di belakannya.

'RM!?'

pikiran Seokjin mulai membayangkan,dia ada waktu banyak untuk bersama RM jika RM yang menjadi orang yang membantunya itu. Tapi setelah dibayang bayang telinga Seokjin menjadi merah kalaupun banyak waktu bersama tapi apa gunanya RM saja enggan mengenalnya atau bahkan membalas sapaannya.

"yo J-hope, Wah kau bersama RM? Tak kusangka orang sibuk itu bisa bersamamu. Padahal kudengar dia ada project baru bersama SUGA" balas Sandeul pada orang yang Seokjin kira bernama J-hope itu.

"hahaha hyung bisa saja, ku bilang panggil Namjoon saja saat bertemu seperti ini. Suga-hyung lagi sibuk dia bilang ingin membuat lagu untuk seseorang yang penting untuknya jadi dia ingin kami menunda projectnya" Namjoon membalas pertanya Sandeul yang seharusnya di jawab J-hope.

Saat selesai bicara Namjoon tidak sengaja melihat Seokjin yang berada di samping Sandeul. Namjoon juga terkejut, terlihat dari pupilnya yang mengecil. Sementara Seokjin yang sebelumnya melihat Namjoon tertawa bisa merasakan debaran menyebalkan didadanya, dia juga merasa telinganya sedang memerah. Bagaimana tidak memerah? Bibirnya yang sexy di tambah lesung pipi itu tentu saja salah satu pesona Namjoon. Jhope mengambil tempat duduk di samping Sandeul yang otomatis Namjoon akan duduk di sampingnya, karena meja bundar itu hanya muat di kelilingi 4 orang saja. Bertemu dan melihat Namjoon tertawa seperti ini tidak pernah terpikirkan oleh Seokjin karena mereka hanya bertemu dibis itu pun dengan ekspresi datar, jurusan mereka juga berbeda. Seokjin juga sibuk dengan kuliahnya sebagai anak beasiswa, dia harus menjaga nilainya agar beasiswanya tidak dicabut itu membuatnya jarang berada di tempat lain selain kelasdan perpus. menurut Seokjin Namjoon bukan anak yang suka berada ditempat yang dia berada kecuali di bis, itupun sepertinya terpaksa karena itu keharusan. Astaga debaran jantung Seokjin benar-benar menjadi-jadi, terakhir debaran seperti ini dirasakannya saat hendak melihat nilai ipk semesternya dan saat pertama kali duduk dan bertanya pada Namjoon di bis. Dan saat ini semakin parah dari terakhir kali dirasakannya.

"Jin? Jin? Halo Kim Seok jin !" Sandeul berkata sambil melambaikan tangan ke wajah Seok jin.

"Eh?!"

"Segitu gugup dan terkejutnyakah kau melihat orang terkenal disini?"

"Hah? Ma-maksudmu?"

Sandeul menyentuh telinganya sendiri dan itu membuat telinganya bertambah merah. Sandeul tertawa melihat telinga Seokjin bertambah merah. Sedangkan 2 orang yang lebih muda hanya melihat bingung.

"Kalian ini pesan apa?" Seandeul bertanya pada Jhope dan Namjoon.

"Aku Ice Americano saja hyung" Jhope berkata sambil memamerkan senyumnya.

"Aku Macchiato"

"Kalau kau Jin? Ada yang perlu kau tambah?" Sandeul bertanya pada Seokjin.

Seokjin melihat cangkir ice americano yang tersisa seperempat lalu melihat jam di pergelangan tangannya.

"Tidak, Aku sebentar lagi akan ada kelas" Lalu Sandeul pergi ke dapur cafe, karena sekarang jam istirahat karyawan. Sandeul lebih suka langsung menemui barista di dapur daripada merepotkan pelayan. Bersamaan kepergian Sandeul, Seokjin merasakan hawa canggung yang menguar disekitar mereka. Seokjin tidak sengaja melihat Namjoon mengeluarkan laptop, kertas dan alat tulis. Sepertinya dia sedang membuat lagu. Seokjin sendiri tidak terlalu mengerti definisi sebuah lagu bisa di katakan lagu. Walaupun dia bia memainkan alat musik gitar akustik, yang dia tahu hanya melihat kunci-kunci lagu popular di google. Yoongi bilang lagu itu harmoni. Seokjin meminum ice americanonya. Seokjin heran, bagaimana bisa ada makhuk seperti Yoongi. Dingin tetapi hangat secara bersamaan, luar dia terlihat seperti sesuatu yang sangat keras, tetapi di dalam dia sangat lembut. Banyak sekali lagu-lagu buatan Yoongi yang bisa membuat Seokjin menangis jika di putar di saat-saat tertentu. Apalagi saat banyak-banyaknya tugas, lagu buatan Yoongi salah satu obat. Walaupun dia hanya berbicara atau disa di sebut nge-rap, tapi entah kenapa lirik yang dia gunakan seakan menghipnotis Seokjin, lirik yang isyaratkan rasa sakit. Selain Yoongi, Seokjin juga heran bagaimana bisa Sandeul masih bisa aktif di club? Bagamana bisa orang sepertinya bisa meraih ipk 2.9. Nilai yang lumayan mengingat belajar saja tidak pernah kelihatan. Seokjin menghela nafas lalu melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Masih ada waktu 25 menit sebelum kelas Leeteuk-seonsaengnim, pasti tugas lagi, tugas dari Heechul-seonsaengnim juga belum selesai. Bisa-bisanya Sandeul mendaftarkannya untuk festival itu padahalkan sekarang kuliah sedang sibuk-sibuknya dengan tugas dan demi apa? Sekarang mereka sudah semester 5 harusnya Sandeul membiarkannya sibuk dengan tugas kuliah saja bukannya menambah bebannya, walaupun dia bisa bernyanyi dengan baik , dia bisa memakai lagu buatan seseorang yang tidak terkenal, tapi harga diri seorang Kim sangatlah tinggi mana mau dia seperti itu. Memikirkan tugas-tugas benar-benar membuat kepalanya pening seketika.

"emm, Sunbaenim?"

"eh, iya? Kenapa?" Seokjin terkaget, si Jhope memanggilnya.

Mungkin tidak suka dengan keadaan sunyi canggung.

"Maaf kalau aku lancang, tapi apa kau orangnya?" Jhope bertanya.

"Maksudnya, orang apanya?" Seokjin bingung, pertanyaan Jhope menggantung.

"em itu orang yang akan berpartner denganku?"

"Hah?" pertanyaan J-hope benar-benar tidak jelas.

Bukan tidak jelas di telinga, tidak jelas maksud dan tujuannya. Partner dalam hal apa?

"Iya kau partnerya Jin, mereka lah yang akan berpartner denganmu dalam memproduksi lagu, tentu saja liriknya juga" Sandeul tiba-tiba muncul.

"Tunggu 5 menit lagi, Irine akan mengantarkan pesanan kalian" Sambungnya lalu duduk di tempatnya.

"Tunggu –jadi orang yang akan membantuku untuk membuat lagu festival itu RM dan Jhope?"

"Iya. Aku sudah minta bantuan mereka beberapa bulan yang lalu, tapi kau yang tidak pernah berbicara padaku tentang lagu."

"Hey! Aku subuk dengan tugas kuliahku, lagipula kukira kau yang membuatkan lagunya"

"maaf menyela, tapi yang akan membantu sunbae hanya aku" Jhope berkata.

"Eh,"/ "Kenapa" Seokjin dan Sandeul berpandangan, mereka berkata bersaamaan.

"Kenapa hanya kau? Ku kira RM juga ikut" Sandeul bertanya.

"Seperti yang kau lihat, Namjoon juga sedang sibuk menyiapkan project bersama Woozi. Hey Namjoon mana penjelasanmu kenapa dari tadi diam sajasih" Jhope meyikut Namjoon.

"Maafkan aku hyung, Aku masih ada project dengan Woozi ditambah aku lupa Jackson memaksaku membantunya mengerjakan tugas yang datanya hilang karena aku merusak Laptopnya" Kata Namjoon.

"Begitulah hyung, god of destruction kita ini tidak bisa membantu" Kata Jhope.
"Astaga, jadi kenapa kau ada disini? Tidak membantu Jackson?"

"Aku kabur tentu saja, aku yakin pasti dia sedang mencari-cariku bersama Mark dan itiulah yang membuatku bisa berada disini" Sambar Namjoon

Seokjin mengerti bagaimana frustasinya saat data-data yang kau butuhkan hilang, itu sakit sekali. Oh jadi nanti yang membantunya hanya pria yang bernama Jhope ini. Bicara soal tugas.

"Jadi Jhope ini yang akan membantuku? Mohon kerjasamanya tapi maaf aku harus segera pergi, aku ada kelas 15 menit lagi. Boleh aku minta kontak mu Jhope-ssi?" Seokjin tahu ini tidak sopan tapi sekarang iya buru-buru.


TELL ME YOU LOVE ME


Seokjin sekarang berjalan menuju perpustakaan, dugaanya benar Leeteuk-seonsaengnim memberikan tugas yang sangat sulit. Saat melewati pintu perpustakaan, netranya menangkap punggung yang tidak asing dangan rambut silver duduk di meja dengan seseorang bertopi dan memakai baju tanpa lengan.

"Ya! Namjoon-ah bukan buku ini juga, kau ini aku tidak yakin IQ mu 148"

"Jackson Lihat buku lainnya saja aku banyak membawa buku, Lagi pula kenapa harus pakai buku sih? Sekarang kan sudah ada internet, Kena– "

"Kalau bisa aku sudah mencarinya di internet, tapi kau tahu, tidak ada artikel yang memuat sedetail buku itu."Pria yang Seokjin bernama Jackson itu memotong perkataan Namjoon. Seokjin paham sekali perasaan Jackson ini, Jika di internet itu ada sedetil dan selengkap buku pasti Seokjin tidak akan sering ke perpustakaan.

Seokjin melewati meja mereka, dia harus fokus. Tugas ini harus di selesaikan secepat mungkin.

Seokjin membawa 10 buku ditangannya dan itu beratnya minta ampun, masih ada beberapa buku yang harus dia cari lagi.

Duk

Seseorangmenabrak punggunyanya, membuatnya terkejut dan tidak sengaja melepaskan pegangannya pada buku paling akhir tumpukan buku yang dibawanya akibatnya buku itu jatuh berserakan. Seokjin dengan sigap mengumpulkan dan menumpuk buku, tapi ada tangan lain yang membantunya. Seokjin kembali terkejut setelah melihat pemilik tangan itu, Kim Namjoon.

"Maaf aku tidak sengaja, biar aku bantu"Namjoon berkata sambil membawakan beberapa buku ditangannya.

Seokjin tidak salah dengarkan?

"Ti-tidak usah, aku bisa sindiri"

"Kau tidak bisa, kau ku senggol sedikit saja sudah jatuh apa lagi kalau kau ku tabrak"

"Hey, kau sengaja yah?" Suara Seokjin sedikit meninggi.

"Kau mau kemana? Aku bantu membawa buku berat ini ini berat sekali. Kau tidak keberatan?"

Namjoon berbicara dengannya Astaga, bagaimana ini? Baru kali ini dia berbicara padanya. Ini aneh, kenapa yang gugup.

"Biasa saja, aku tadi membawa semuanya. Dan jaga bicaramu yah, aku Sunbaemu. Tolong antarkan ke meja penjaga perpus"

Astaga Seokjin bagaimana bisa kau minta tolong padanya, padahal tadi kau menolak. Dasar tidak konsesten.

Tak banyak bicara, mereka sampai di meja perpus.

Sebernarnya kalau berdekatan dengan Namjoon, mulut Seokjin gatal sekali bertanya apa dia ingat bahwa dia pernah menyatakan suka padanya. Tapi sepertinya menurut pengalaman Seokjin, Namjoon pasti tidak akan menjawabnya lagi seperti biasa.

"Buku tentang apa?" Seokjin bertanya pada Namjoon sesudah meletakan bukunya di meja penjaga perpus. Namjoon terlihat heran.

"Maafkan aku, tapi aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan orang bernama Jackson itu"Kata Seokjin.

"Oh, buku tentang Undang-undang Negara dan tetek bengeknya, aku menyerahkan banyak buku padanya tapi dia bilang masih ada materi yang kurang padahal aku yakin aku telah mengambil semua jenis buku perundang-undangan" Namjoon menjelaskan.

Ini pertamakalinya Seokjin mendengar Namjoon berbicara sepanjang itu. Bibir Namjoon ternyata benar-benar sexy.

"Apa Sunbae tahu dimana aku bisa mendapatkan buku itu?"

"heh? Eh tentu, bisa ikuti aku?" Seokjin memang dasarnya memang baik, jadi bukan masalah membantu seseorang apalagi seseorang yang 2 bulan ini selalu me ngabaikannya ketika dia menyapanya di bis. Semuanya benar-benar berlalu cepat, padahal kemarin-kemarin Kim Namjoon masih bersikap dingin padanya Aneh sekali hari ini, dia bisa berbiara dengan orang yang mengabaikannya.

Pertama Seokjin sebuah buku tidak terlalu tebal tapi tidak terlalu tipis di dekat kejadian dia menjatuhkan buku-buku tadi lalu berjalan menuju rak paling ujung dan mengambil buku yang sangat-sangat tebal.

"Yang kutahu, anak-anak hukum pintar sekali menyembunyikan buku" Seokjin berkata sambil menyerahkan buku yang sangat-sangat tebal itu pada Namjoon.

Mereka berpisah di meja penjaga perpus. Namjoon berterimaksih pada Seokjin pergi menemui Jackson.

Kemudian

"OH BOY, BAGAIMANA BISA KAU MENDAPATKAN BUKU SELENGKAP INI?" Suara dengan aksen yang khas Jackson terdengar seisi penjuru melihat Namjoon memukul kepala Jackson yang berteriak.

Saat Seokjin menunggu penjaga perpus mendata dirinya yang meminjam buku, Seokjin tidak sengaja melihat Namjoon sepertinya sedang digoda oleh Jackson, Namjoon menutup telinganya sambil meletakan kepalanya bertumpu di meja.

Sudah 2 minggu termasuk hari ini Seokjin tidak naik bis, tetapi naik motor bersama Yoongi. Alasan? Tentu saja tugas yang banyak itu membuatnya selalu bangun kesiangan. 2 minggu Yoongi tidak terlihat bersama Jimin, apa pertengkaran mereka sangat parah? 2 minggu pula dia tidak bertemu Namjoon. 2 minggu pula festival seni itu akan di adakan. Panitia mulai gelabakan, para peserta juga. Seokjin sendiri belum menghubungi Jhope sejak terakhir saatnya, Jhope juga tidak menghubunginya. Mungkin sebaiknya Seokjin yang memulai.

From: Jhope

Baiklah sunbae kita bertemu di perpus jam 11 ini.

Dan disinilah mereka sekarang,diperpus. Seokjin dan Jhope sudah mengobrol cukup banyak mungkin karena pribadi Jhope yang ceria Seokjin bisa cepat akrab dengannya. Seokjin sekarang juga tahu nama asli Jhope itu Jung Hoseok. Seokjin juga tahu bahwa Jung Hoseok itu alumni yang sama dengan sekolah SMA nya, Seokjin minta maaf karena tidak mengenal banyak adik kelas.

"Jadi Jin-Hyung? Boleh kupanggil begitu?"Jhope bertanya.

"Tentu, aku lebih suka itu, aku agak risih jika nanti kau berteriak memanggil sunbae saat bertemu aku"

"Kau boleh pangil aku Hoseok, Hobi, Jdope apa pun itu, aku banyak nama pangilan tapi aku lebih suka Jin-hyung memanggil nama asliku saja"

"tapi aku lebih suka memanggilmu dengan sebtan Jhorse"

Mendengar itu Hoseok cemberut, ini sekian kalinya ada orang memberikan nama pangilan itu padanya.

"Jangan panggil aku dengan nama tu, itu terdengar menyebalkan"

Seokjin tertawa, Wajah jhope benar-benar lucu.

"Jadi hyung kau punya kejadian yang mendebarkan, menakutkan, menyenangkan atau apapun itu yang penting pernah di alami olehmu?" Kali ini Hoseok bertanya dengan serius.

"Kenapa harus seperti itu?" Seokjin bertanya.

"Karena sebuah lagu akan lebih dalam maknanya saat sang penulis pernah mengalami kenjadian tersebut, sejenis membagikan perasaan yang di alaminya kepada orang lain" Hoseok menjelaskan.

Mendengar itu tiba-tiba saja Seokjin teringat malam dimana Namjoon mengatakan menyukainya, tapi terasa sedikit sakit saat pagi harinya mereka bertemu dan Namjoon berkata dia tidak menenal Seokjin. Lalu Seokjin teringat interaksi terakhir mereka membuat dadanya berdegup kenncang.

"Ada " Seokjin menjawab dengan mantap, membuat Jhope bersemangat pula.

"Oh benarkan?kejadian seperti apa?"

"Tentang seseorang yang tiba-tiba mengatakan menyukaiku, tapi paginya saat kami bertemu dia seakan tidak pernah mengatakan itu bahkan seakan tidak pernah bertemu denganku, bahkan sampai 2 bulan aku tetap menyapa dan menanyakan tentang kejadian itu dia tetap mengabaikanku" Kata Seokjin sambil tersenyum.

Sedangkan Hoseok mengangat sebelah alisnya.

TBC

Akhirnya selesai juga.. Adakah yang masih bingung dengan cerita ini? Bisa bertanya di PM ataupun kolom Review kok :)

Udah aku panjangin maaf alurnya agak maksa, Aku gak terlalu tahu tentang perkuliahan tapi tetep aja maksa bikin ffn tentang ini.

BTW KASIH SARAN KALIAN DONG, JANGAN LUPA KRITIK NYA YAH.

BALASAN REVIEW.

honeymon:

bilang aja gak tahulagunya, , iya jin lagi banyak pikiran. makasih banyak semangatnya, aku jadi semangat.! ;D

deebul :

sebenarnya belum ada yang bilang cinta kesiapa-siapa.

hanya saja cerita bermulai Saat Namjoon tiba-tiba bilang suka pada Seokjin padahal Seokjin gak kenal dia, tapi paginya mereka bertemu di bis, dan Namjoon yang bersikap gak tau apa-apa. Cerita singkatnya kayak gitu

MAKASIH YAH UDAH REVIEW. Salam dari Kira AYZ