Pain
Chapter 2
Hanya terbaring lemah sambil menonton TV, memainkan ponsel, makan, minum, dan banyak istirahat? Sambil menunggu saudara kembarku yang lebih mencintai pekerjaanya dibanding aku itu, pulang dari pekerjaannya..
Hhhh.. Sangat membosankan.
Aku juga ingin bisa bergerak bebas, dan melakukan hal-hal yang berguna. Namun penyakit sialan ini sungguh mempenjara hidupku. Ditambah dengan membuat kepalaku pusing setiap saat, menambah keterbatasanku.
"Haaahhh..."
Aku menghela nafas sambil menonton acara TV yang membosankan. Sampai kapan ini akan berakhir memangnya?
Sudah malam juga si gadis berkuncir dua itu tidak kunjung pulang. Kemana sih dia?
Sebenarnya sudah biasa bagiku jika dia lembur, tetapi hari ini aku tidak ingin jauh-jauh darinya. Memang benar aku kesepian, namun aku terkadang juga benci melihat dirinya yang terlalu memaksakan diri untuk bekerja demi aku. Kapan gadis itu sadar jika ini sia-sia saja? Kalaupun sembuh, hanya mujizat yang bisa melakukannya.
"Tadaimaa~"
Akhirnya suara mirip tikus itu muncul juga. Dia langsung berjalan ke arah kamarku, hal itu bisa diketahui dari langkah kakinya.
"Selamat malam Mikuo. Bagaimana keadaanmu hari ini?"
Pertanyaan yang sama tiap harinya..
"Kau bisa melihat kan tidak ada yang berubah dariku?", kataku dingin.
Seperti biasa, dia hanya tersenyum. Kenapa sabar sekali sih jadi orang? Apa aku kurang jahat padanya?
"Baguslah. Tunggu sebentar ya, aku akan segera memasak makan malam. Kau sudah menunggu makan malammu dari tadi kan?~", katanya lalu meninggalkanku dan menuju dapur.
Dasar bodoh, yang kutunggu bukan makan malam. Tapi kau, Hatsune Miku..
Dia mulai memasak makanan untukku. Hal itu bisa diketahui dari aroma masakannya yang masuk sampai ke kamarku.
"Ayo makanlah.."
Seperti biasa dia mulai menyuapiku. Dan seperti biasa pula, aku enggan memakannya.
"Ayolahh Mikuo..", katanya mulai memaksa.
Sebenarnya kalau bisa aku tidak ingin makan lagi. Aku selalu merasa mual dan ingin memuntahkan apa yang kumakan.
Dengan lemah aku mengambil mangkuk dari tangannya itu. Sepertinya dia terkejut dan berpikir kalau aku akan memakannya sendiri.
Tetapi salah..
Aku menaruh mangkuk itu..
"Mikuo? Apa yang kau laku-"
Dan aku langssung membawanya dalam pelukanku.
"Mi-Mikuo?"
"Yang kubutuhkan bukan makanan. Bukan obat. Bukan kerja kerasmu demi aku sembuh.."
Miku terdiam, sepertinya tidak bisa berkata-kata lagi.
"Tetapi kau, Hatsune Miku.."
Miku terlihat bingung, namun wajahnya memerah.
"Ma-maksudmu?"
"Aku membutuhkanmu.. Disisiku.. Bukan terus bekerja keras..", kataku.
Miku terdiam lagi. Pasti dia bingung dengan kata-kataku sekarang. Tetapi ini yang sesungguhnya. Aku lebih membutuhkannya daripada makanan atau obat-obatan yang aku konsumsi.
Aku memeluk gadis berkuncir twintail itu.
"Tetaplah disisiku..", kataku.
"Mi-Mikuo..."
"Pernah dengar istilah obat yang manjur adalah hati yang gembira? Aku akan gembira jika kau terus disampingku..", tambahku sambil tersenyum.
Miku diam. Kemudian dapat kulihat ada sedikit air mata tutun dari matanya.
"Ma-maaf.."
"Ha?"
"Aku.. Aku tidak bisa.."
"Jadi kau lebih mencintai pekerjaanmu itu?"
Aku tidak menyangka dengan jawabannya. Dia memilih pekerjaannya dibandingkan diriku.
Miku terdiam.
"Jawab aku, Hatsune Miku!"
Miku tetap diam. Dia tidak mau mengatakan apapun.. Air matanya keluar..
"Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.. Maaf.."
Aku terdiam. Ternyata Miku memang lebih ingin bersama dengan pekerjaannya dibandingkan denganku..
"Pergilah. Aku juga tidak mau makan makanan hasil dari kerja keras yang membuatmu lebih sibuk dengan itu..", kataku dingin, walau sebenarnya aku sedikit iba dengannya.
"Jangan begitu!", dia membalas dengan tegas.
Aku membalikkan tubuhku dan kembali berbaring. Tidak memperdulikan Miku yang menggoncang-goncangkan tubuhku..
"Pergilah, dasar workaholic..", dan aku memakai selimutku sampai menutupi semua badanku hingga ujung kepala.
Setelah beberapa saat, akhirnya Miku menyerah terhadap aku yang keras kepala ini..
Tanpa mengatakan apapun, tetapi aku bisa mendengar isakan tangisnya.
Maaf Miku.. Hanya saja aku tidak tau bagaimana menyadarkanmu jika tidak begini?
Aku sungguh membencimu bekerja terlalu keras demi aku yang tidak mungkin sembuh ini..
Aku kembali memainkan ponsel didalam selimut. Kembali melihat-lihat foto kami berdua ketika aku masih sehat. Dan ketika hubungan kami baik-baik saja. Dan ketika aku masih menjadi diriku yang asli.. Bukan sekarang, Mikuo yang bermulut tajam dan dingin..
Aku benar-benar merindukan Miku.. Juga merindukan diriku yang sehat. Jika aku sehat, apapun pasti sudah kita lakukan bersama-sama, bahkan sampai hal-hal yang gila..
Aku menurunkan selimutku untuk menoleh apakah Miku masih ada di luar atau tidak.
Biasanya dia akan mengurung diri setelah kejadian seperti ini, atau melakukan hal lain yang menurutnya bisa membuat hatinya lebih tenang.
Kembali melihat ponselku. Aku tersenyum sebentar. Foto-foto gila kami terlalu banyak. Andai saja aku dapat kembali ke masa ini. Bukan berarti aku ingin sembuh, karena aku yakin ini mustahil. Hanya saja, aku ingin kembali ke masa-masa dimana aku dan Miku masih bisa bersenang-senang dengan bebas. Aku menaruh ponselku.
Kulirik keyboard yang ada di sebelah ranjangku. Dulu, kami sering memainkan keyboard ini berdua..
Baik aku maupun Miku sangat menyukai musik, dan kami sering duet dalam memainkan musik maupun bernyanyi.
Kemudian aku menyalakannya. Memainkan nada lagu yang aku dan Miku ciptakan berdua.
Dulu kami bisa memainkannya dengan empat tangan, sekarang aku hanya bisa memainkannya dengan tangan kananku.. Memainkan lagu ini tanpa kunci..
Setidaknya, dengan memainkan lagu ini aku sedikit tenang.
Aku ingin meminta maaf pada Miku, tetapi jangan harap aku akan makan. Semua yang kumakan rasanya hambar, dan selalu ingin. Muntah sehabis makan. Sungguh sia-sia sekali masakan lezatmu itu Miku..
Aku sadar Miku memperhatikanku dari luar kamar, namun aku pura-pura tidak tau.
Apakah dia mendengar aku bermain? Apakah dia masih ingat dengan lagu ini?
Miku..
Miku POV
Aku keluar dari kamar Mikuo. Mikuo baru saja mengatakan hal yang membuatku menangis. Bukannya aku lebih mencintai pekerjaanku dibanding dirinya, hanya saja ini semua kulakukan demi dirinya. Mikuo memang tidak pernah meminta obat dan semacamnya, jadi ini memang salahku juga meninggalkannya.
"Haaah..", aku menghela nafas sambil mencuci piring. Bagaimana bisa mendapat uang jika tidak begini?
Mikuo bodoh..
Justru karena aku mencintainya, makanya aku melakukan semua ini. Demi kesembuhannya, agar kami dapat bersama-sama seperti dulu..
Mengingatnya membuatku sedikit menangis lagi..
Selesai mencuci aku segera pergi ke kamarku.
Lebih tepatnya, aku mengintip kamar Mikuo dahulu dan mengeceknya apakah dia sudah tidur atau belum.
Walaupun sakit, Mikuo tidak pernah tidur normal. Dia selalu begadang hingga malam, entah apa yang dilakukannya atau dia memang tidak mengantuk karena jarang beraktivitas.
Ketika aku mengintip Mikuo, seperti biasa yang dilakukannya adalah membuka ponselnya. Aku tau jika dia melihat-lihat foto kami berdua saat dia masih sembuh. Sebenarnya hal itu sedikit membuatku sedih, melihat Mikuo mengenang masa lalu kita berdua..
Mikuo meletakkan ponselnya. Dia menyalakan keyboard yang ditaruh di sebelah ranjangnya. Hal itu memang sengaja kulakukan agar dia tetap bisa memainkan musik kesukaannya sambil beristirahat, karena aku tau Mikuo tidak bisa hidup tanpa musik. Mikuo memang pandai bermain keyboard, piano, organ, dan beberapa alat musik lainnya. Namun sekarang dia hanya bisa memainkan keyboard dengan keterbatasannya.
Lagu ini.. Membuatku ingat akan kenangan lama kita lagi..
Ini adalah lagu yang kita ciptakan bersama-sama, dan sering kita mainkan..
Namun kini, Mikuo hanya dapat memainkannya dengan tangan kanannya saja. Hal ini membuatku menangis lagi.. Sudah banyak sekali hari ini aku menangis.. Mataku bengkak.. Dan semua karenamu, Mikuo bodoh..
Aku berjalan kearah kamarku. Bingung, memikirkan bagaimana agar Mikuo mau makan dan memaafkanku? Tidak mungkin kubiarkan dia terus-terusan tidak makan begini.
Aku juga khawatir jika nantinya dia tidak mau minum obat lagi. Kau sungguh merepotkanku Mikuo..
Kadang aku merasa tidak adil. Kenapa ini semua harus terjadi pada Mikuo? Kenapa bukan aku? Akan lebih baik jika aku saja yang menanggung sakitnya..
..
-skip time-
"Len.. Tolong ya. Dan jangan bilang ini dariku!", kataku memohon pada Len..
"Ngg.. Miku, sebenarnya aku tidak keberatan. Tetapi, apakah tidak lebih baik jika kau yang memberikannya?", jawab Len.
Aku menggeleng. "Dia tidak akan mau makan jika aku yang memberinya. Yang ada hanya caci maki keluar dari mulutnya..", jawabku sedih.
Len menghela nafas. "Baiklah.. Yang sabar ya Miku. Semoga saja suatu saat si bodoh Mikuo itu mengerti.."
Aku tersenyum. "Terima kasih banyak Len.. Ya, semoga saja..", jawabku dan setelah itu aku pergi bekerja..
To be continued
Mind to review? :D
hatsunemikumikuolove : maaf sdh lma skali sy bwt crita ini lupa d publish x_x enjoy reading ;)
