Chapter sebelumnya;
Sakura memutuskan sambungannya. 'Ahh, ada apa dengan Ino? Dia tidak menjawab teleponku.' batin Sakura khawatir sambil mencoba untuk menghubungi sahabatnya lagi. Tapi masih saja gagal.
'Apa dia baik-baik saja? Atau mungkin dia masih beristirahat, ya?' pikir Sakura. ''Lebih baik aku menjenguknya saja nanti.' pikirnya lagi sambil mengemasi barang-barangnya.
Brak!
"Apa itu?!"
Baru saja gadis berambut merah muda itu melangkah meninggalkan kamar mandi, telinganya menangkap sesuatu yang terjatuh di belakangnya. Tidak. Lebih tepatnya, sesuatu yang terjatuh dari dalam salah satu bilik kamar mandi yang tertutup. Gadis itu sontak menoleh ke sumber suara, tapi tidak ada suara apapun. Ditatapnya bilik kamar mandi itu untuk beberapa detik, memastikan jika siapapun yang ada di dalam sana tidak apa-apa.
"Halo, apa kau tidak apa-apa?" tanya Sakura memastikan. Tidak ada jawaban dari dalam bilik.
Sakura melangkahkan kakinya, mendekati bilik itu. Tapi,
TOK.
Suara ketukan terdengar dari dalam bilik kamar mandi, membuat Sakura terkejut.
"Ah!" pekiknya kaget.
'Mungkin, dia tidak ingin diganggu.' pikir Sakura. Ketukan itu seperti mengisyaratkan Sakura jika seseorang yang berada di dalam sana baik-baik saja.
"Baiklah, aku pergi saja." ucap Sakura seraya berbalik dan meninggalkan kamar mandi.
Selang beberapa detik setelah Sakura meninggalkan kamar mandi, genangan darah yang semula kecil kini meluas hingga melewati bilik yang tak tertutup itu. Di tengah-tengah genangan darah itu, sepasang manik merah mengintip dari bagian bawah bilik. Manik merah yang melebar, merasakan ketakutan dan kesakitan yang luar biasa.
Dia yang berbuat, dia sendiri yang harus bertanggung jawab.
©Characters; Masashi Kishimoto
©Story; coldheather
Jarum jam menunjukkan angka 3. Tidak ada seorang guru pun yang mengajar, membuat sekolah pada hari itu seharian penuh tidak ada kegiatan belajar mengajar. Beberapa murid ada yang senang, beberapa ada yang bosan, dan beberapa ada yang semakin takut. Beberapa hal yang membuat beberapa murid semakin takut tidaklah hanya sekedar fakta tidak adanya kegiatan belajar mengajar. Tapi tidak adanya informasi lebih jauh dari pihak sekolah. Seolah-olah bahkan sampai pihak sekolah pun tidak mempunyai jalan keluar terkait dengan kasus ini.
Para murid yang hendak berkabung itu berkumpul di halaman sekolah. Hanya ada 5 murid yang ikut. Mereka adalah Shikamaru, Naruto, Sakura, Kiba, dan Shino.
"Baiklah, semua sudah siap?" tanya Shikamaru sang pelopor rencana berkabung ini.
"Ya!"
"Aku siap!"
"Yosh!"
"Tentu. Kenapa? Karena hari ini aku sudah menyiapkan mental kalau saja kita diusir oleh kepala Hyuga."
"Ah.. Bisakah kau tidak membicarakan itu?" ucap Kiba dengan sedikit meringis.
"Oh. Baiklah. Maaf." tampak Shino terlihat sedikit sakit hati oleh ucapan Kiba.
Membaca suasana yang tidak terlalu baik, Shikamaru segera bertindak sebelum suasana semakin kacau. "Yosh. Ayo kita berangkat." ucapnya sambil berjalan memimpin.
Keempat murid itu mengikuti Shikamaru. Naruto mulai melontarkan candaannya pada Kiba dan Shino agar mereka kembali akur. Sementara Sakura hanya tertawa mengikuti arus.
Seorang gadis berambut coklat tua berlari mengejar mereka. "Naruto senpai!" panggilnya sambil berlari. Gadis itu bernama Matsuri. Dia adalah junior Naruto di klub musik.
Kelima murid itu berhenti sejenak, lalu berbalik menatap sumber suara.
"Ada apa, Matsuri?" tanya Naruto pada gadis itu. Dia tampak bosan sekaligus terganggu.
"Hahhhh… Hahhh… Hhhh.." gadis bernama Matsuri itu terengah-engah. Dia berusaha mengontrol pernafasannya.
"Sepertinya ini gawat. Dia sampai terengah-engah seperti itu." ucap Sakura.
"Hhhh.. Hhhhh.." Matsuri mendongakan kepalanya, menatap murid laki-laki pirang itu. "Karin senpai.."
"Huh? Ada apa dengan Karin?" tanya Naruto.
"Apa kau melihat Karin senpai?" Matsuri bertanya balik.
Naruto menggeleng cepat. "Tidak. Memang ada apa?"
"Umm, kami sudah mencari Karin senpai kemana-mana tapi kami tetap tidak menemukannya."
"Aku tidak tahu." ucap Naruto sambil menggidikkan bahu.
"Ah. Benar!" pekik Sakura. "Sejak kita berdebat tadi Karin sempat keluar. Dan dia tidak kembali lagi setelahnya."
"Kau benar, Sakura!" Kiba mengusap dagunya seraya berpikir. "Kemana perginya Karin, ya?"
"Tidak perlu dipikirkan. Mungkin saja dia pergi dengan Suigetsu." ucap Shikamaru dengan tenang.
"Aku setuju dengan Shikamaru. Kenapa? Karena Suigetsu adalah kekasih Karin. Setelah perdebatan itu aku yakin Karin pergi menemui Suigetsu lalu Suigetsu membawanya pergi." jelas Shino.
"Umm.. Mungkin.." Matsuri mengangguk pelan. "Tapi Karin senpai juga tidak mengangkat teleponku."
"Mungkin sedang 'main'." jawab Naruto asal. "Kalau sedang 'main' mana bisa diganggu." tambahnya.
"Hus! Jangan sembarangan!" Sakura memukul kepala Naruto.
"Akh! Sakit, Sakura-chan!" ringis Naruto kesakitan.
"Coba aku telepon senpai lagi." Matsuri mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Karin.
Kelima murid itu menatap Matsuri, penasaran dengan keadaan Karin. Sekali, tidak diangkat. Kedua kali, tidak diangkat. Ketiga kali, juga tidak diangkat.
Matsuri menggeleng pelan. "Tetap tidak diangkat." helanya. "Ya sudah, lah. Mungkin dia memang sengaja menghindari kami."
"Eh? Menghindari kalian? Memangnya kalian ada masalah apa?" tanya Sakura ingin tahu.
"Umm.." Matsuri berpikir. Dia tampak gugup. "Beberapa hari yang lalu Karin senpai bertengkar dengan Temari senpai. Dan itu membuat Temari senpai mencoret nama Karin senpai dari daftar anggota."
"Bertengkar?" Shikamaru menaikkan sebelah alisnya. "Tunggu. Hey, Naruto. Kau mengetahuinya?" tanyanya sambil menoleh menatap objek yang ditanyanya.
"Aku tahu." jawab Naruto. "Tapi aku tidak peduli. Jadi aku tidur saja."
"Tch. Kau ini." Shikamaru menghela nafas panjang.
"Atau begini saja. Matsuri-chan, coba kau telepon Temari senpai. Mungkin saja dia tahu keberadaan Karin."
"Ah! Kau benar, Sakura-senpai!" seru Matsuri sambil kembali menekan tombol ponselnya. Dia hendak menelepon Temari. "Kenapa aku tidak kepikiran daritadi, ya? Bodohnya diriku.."
Baru saja Matsuri hendak menekan tombol panggil, sebuah pesan masuk membatalkan niatnya. "Ah! Dari Karin senpai!" seru Matsuri bahagia. Dia membuka pesan itu dan membacanya.
[ Aku sudah di rumah. ]
[ ( Foto Karin yang menatap kamera dengan datar dan senyum yang dipaksakan. ) ]
"Karin senpai sudah pulang! Lengkap dengan fotonya!" seru Matsuri senang.
"Syukurlah." ucap Sakura lega. "Aku khawatir akan terjadi apa-apa dengannya."
"Foto? Untuk apa dia mengirim fotonya juga? Aneh." celoteh Naruto.
"Entahlah. Mungkin sedang tren." sahut Kiba asal.
"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita pergi."
"Yosh! Sampai jumpa, Matsuri!" seru Sakura sambil melambaikan tangannya pada Matsuri. Setelah itu, mereka berlima kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Kediaman Hyuga.
Akhirnya kelima murid itu sampai ke kediaman Hyuga menggunakan bus umum. Shikamaru membawa sebuket lili putih yang mereka beli sebelum pergi menuju ke kediaman Hyuga. Mereka berlima mendongak, menatap gerbang kediaman Hyuga. Gerbang kediaman Hyuga itu sangat besar dan luas. Tingginya kira-kira 2 kali tinggi para murid laki-laki yang tingginya sekitar 170 CM itu. Sedangkan lebarnya mungkin selebar ruang kelas mereka.
"Aku mulai gugup." ucap Kiba. "Para Hyuga menyeramkan."
"Jika dibandingkan dengan Uchiha aku lebih memilih untuk bertemu dengan Uchiha. Kenapa? Karena Uchiha sedikit lebih bersahabat daripada Hyuga."
"Hyuga terlalu serius." ucap Naruto santai. "Lihat saja Neji. Dia bahkan tidak bisa diajak bercanda. Semua candaanku dianggap serius. Berbeda dengan Sasuke. Meski dia serius, tapi dia bisa membedakan candaanku."
"Jangan menggeneralisir. Tidak semua Hyuga seperti itu." ucap Shikamaru. "Hinata contohnya."
"Perempuan Hyuga lebih lembut. Para prianya yang seram." Kiba ikut menimpali.
"Jaga sikap kalian. Aku akan menekan bel." perintah Shikamaru pada keempat temannya, membuat keempat temannya menjaga sikapnya.
Tak lama kemudian pintu gerbang terbuka. Para Hyuga berhakama hitam berbaris di sepanjang jalan menuju bangunan utama Hyuga. Hyuga yang paling depan menghampiri mereka berlima, membuat kelima murid sekolah menengah atas itu semakin gugup.
"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya penjaga Hyuga itu.
Shikamaru mengontrol dirinya agar tidak gugup. "Kami ingin berkabung." jawab Shikamaru.
"Apa kalian dekat dengan tuan muda Neji?"
Shikamaru mengangguk. "Ya. Kami dekat. Dan kami sangat terpukul dengan kematian Neji. Pihak sekolah tidak melakukan tindakan apa-apa. Jadi kami berlima memilih untuk berkabung tanpa campur tangan sekolah."
Penjaga Hyuga itu tampak berpikir. Dia mengamati kelima murid itu dari atas ke bawah secara hati-hati. Setelah yakin jika kelima murid di hadapannya bukanlah orang jahat yang memalsukan identitas, penjaga Hyuga itu mengizinkan para murid itu untuk masuk.
"Kalian boleh masuk." ucap penjaga Hyuga itu.
Shikamaru, Naruto, dan lainnya tampak senang sekaligus lega. 'Ketakutan' pertama sudah dilewati. Sekarang saatnya 'ketakutan' yang kedua, yaitu bertemu langsung dengan kepala Hyuga.
Kelima murid itu duduk berderet di sofa hitam milik keluarga Hyuga. Di depan mereka adalah kepala Hyuga, Hiashi Hyuga. Tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Hiashi Hyuga menatap kelima murid itu dengan tatapan datar dan menusuk, membuat kelima murid itu diam tak bergeming.
Shikamaru sang pelopor berinisiatif untuk memulai pembicaraan. "Kami sangat berduka atas kematian Neji. Dia teman yang baik." ucap Shikamaru, namun tidak digubris oleh Hiashi.
"Sebelum Neji meninggal, kami bersenang-senang dengannya. Kami bahkan memintanya untuk mengajari kami beberapa mata pelajaran yang kami tidak mengerti." lanjut Shikamaru. Sebenarnya bukan dia yang meminta Neji untuk mengajarinya. Karena dirinya sendiri juga adalah seorang jenius seperti Neji. Hanya saja murid berambut nanas itu sangat malas.
"Hm." kepala Hyuga itu berdehum dengan nada suaranya yang berat. "Terimakasih atas perhatian kalian pada Neji." ucap Hiashi. Meski ucapannya terdengar biasa, tapi mampu membuat kelima murid itu menelan ludah. "Saya sangat terkejut mendengar kabar jika Neji mengakhiri hidupnya. Kami pikir dia baik-baik saja. Tidak pernah sekalipun dia mempunyai masalah yang berat."
Kelima murid itu hanya diam mendengarkan. Sesekali mereka mengangguk mengiyakan.
"Sebenarnya, kami juga terkejut mendengar kabar itu. Kami tidak menyangka Neji mengakhiri hidupnya. Selama ini hubungan kami dengannya baik-baik saja. Kami sempat berpikir jika dia mempunyai masalah dengan keluarganya." Shikamaru menjelaskan.
"Neji sangat tertutup. Dia selalu berdiam diri di dalam kamarnya dan hanya keluar saat makan. Tapi bukan berarti Neji mempunyai masalah. Itu hanya sifatnya saja." ucap Hiashi.
"Terkadang Neji juga seperti itu. Dia serius dan sering salah paham dengan kami. Tapi kami tidak mempermasalahkannya." kali ini Kiba yang berbicara.
Naruto yang sejak tadi hanya melihat-lihat sekitarnya mulai merasa bosan. Yang dia lihat hanyalah para Hyuga berhakama hitam yang mondar-mandir ke lantai atas.
"Paman, apa Neji sudah dikremasi?" tanya Naruto blak-blakan.
"Pssshh, Naruto!" pekik Sakura sambil menyikut lengan Naruto.
"Akh! Kenapa lagi sih, Sakura-chan? Kau suka sekali menyiksaku." protes Naruto.
"Sopanlah sedikit! Kita berada di kediaman Hyuga!" Sakura memperingati.
"Neji sudah dikremasi." ucap Hiashi, membuat Sakura, Naruto, dan ketiga murid lainnya menatap Hiashi. "Saya sengaja tidak memberitahu pihak sekolah, karena saya hanya memperbolehkan klan Hyuga dan beberapa kerabat dekat saja untuk memasukki wilayah Hyuga. Tapi karena kalian adalah teman dekat Neji, karena itu saya memperbolehkan kalian masuk."
"Terimakasih banyak karena telah memperbolehkan kami masuk." ucap Shikamaru.
Hiashi beranjak dari duduknya. "Ayo. Saya tunjukkan kamar Neji. Disana kalian bisa berkabung."
"Disini altarnya." ucap Hiashi pada kelima murid itu. "Silahkan pergunakan waktu kalian." lanjutnya.
"Terimakasih, paman Hiashi." ucap Shikamaru dan yang lainnya. Setelah itu Hiashi pergi meninggalkan mereka.
Shikamaru, Naruto, Sakura, Kiba, dan Shino memasukki altar Hyuga. Mereka mencari altar dengan foto Neji sebagai penanda. Kelima murid itu bersimpuh. Shikamaru lalu meletakkan buket lili putih yang dipegangnya di depan altar.
"Teman-teman, ayo kita berdoa. Jangan ada yang bercanda." ucap Shikamaru pada teman-temannya.
Setelah itu mereka berdoa. Tidak ada yang bercanda. Mereka semua hening, larut dalam urusannya masing-masing. Mereka mengutarakan isi hati, harapan, dan penyesalan-penyesalan mereka selama Neji masih hidup dalam hati.
Kelima murid itu sudah selesai berkabung. Mereka meninggalkan altar, lalu kembali menuju ruang tamu. Hiashi sudah menunggu mereka disana, lengkap bersama istri dan juga anak keduanya.
"Kami sudah selesai berkabung." ucap Shikamaru. "Sekarang kami akan pulang. Terimakasih karena telah memperbolehkan kami untuk berkabung."
"Terimakasih sudah berkabung untuk Neji." ucap nyonya Hyuga. Berbeda dengan Hiashi yang tampak tegar, nyonya Hyuga tampak sedih dan terpukul.
"Anou, bagaimana keadaan Hinata?" tanya Kiba tiba-tiba.
"Kemarin kami melihatnya pingsan." tambah Naruto. "Apa dia baik-baik saja?"
"Kami sudah membawanya pulang tadi malam." jawab Hiashi. "Sekarang dia masih beristirahat."
"Lalu, kapan Hinata akan kembali ke sekolah, paman?" tanya Sakura.
"Semua tergantung pada kondisi Hinata. Jika dia sudah baik, dia akan kembali ke sekolah." jawab Hiashi.
Kelima murid itu mengangguk mengerti. "Baiklah, kami akan pulang. Selamat tinggal." ucap Shikamaru diikuti oleh teman-temannya.
"Selamat tinggal, paman."
"Selamat tinggal, paman dan nyonya Hyuga. Dan adik kecil juga."
Penjaga Hyuga itu mengantar kelima murid itu menuju gerbang kediaman Hyuga. Mereka cukup lega karena kepala Hyuga itu tidak mengusir mereka dari kediaman mereka.
2 Orang penjaga Hyuga membuka pintu gerbang. Tapi, betapa terkejutnya mereka berlima saat mereka melihat sosok murid pucat itu di depan gerbang. Sama seperti mereka sebelumnya, murid pucat itu membawa sebuket lili putih ditangannya.
"S-Sasuke? Apa yang kau lakukan?" tanya Shikamaru dengan pupil mata yang melebar.
"Apa yang kulakukan? Jelas saja berkabung." jawab Sasuke dengan nada sinis.
"Kalau kau ingin berkabung, kenapa tidak berkabung dengan kami sekalian?" tanya Sakura.
"Aku piket." Sasuke menjawab singkat. Setelah itu dia melangkahkan kedua kaki jenjangnya memasukki kediaman Hyuga yang anehnya dipersilahkan begitu saja oleh para Hyuga.
'Dingin.' Shikamaru bergidik. 'Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba dingin?' Shikamaru menoleh ke arah teman-temannya. Tidak ada yang merasa dingin seperti dirinya. 'Apa mungkin hanya perasaanku saja, ya?' pikir Shikamaru sambil menatap langit. 'Mendung. Sepertinya akan hujan lagi.'
"Hey! Kukira kau tidak peduli dengan Neji!" seru Kiba, membuat Shikamaru menatap ke arahnya.
"Tidak peduli? Tentu saja aku peduli. Kami meluangkan banyak waktu bersama."
"Huh? Oi, tunggu dulu. Apa maksudnya ini, Sasuke?! Kau bilang kalian meluangkan banyak waktu bersama? Bukankah kalian musuh? Kalian bahkan tidak pernah berbicara satu sama lain!" pekik Naruto meminta kejelasan.
Sasuke tampak kesal. Dia tidak suka privasinya dipertanyakan terus-menerus. "Apa yang terlihat belum tentu sama seperti kenyataannya." ucapnya singkat lalu melangkah memasukki kediaman Hyuga semakin dalam.
Kelima murid itu hanya menatap punggung Sasuke yang menjauh dengan bingung. Mereka masih terkejut dengan pernyataan Sasuke.
"Sejak kapan mereka berteman?" tanya Kiba entah pada siapa.
Tik. Tik. Tik.
"Ah, gerimis! Ayo cepat pergi!" seru Sakura pada yang lainnya sambil berlari meninggalkan kediaman Hyuga.
Sementara itu, malam harinya. Saat semua murid dan guru meninggalkan sekolah, sang penjaga sekolah berkeliling mengecek keamanan sekolah. Satu per satu ruang kelas diperiksa. Satu per satu toilet pun tak terlewatkan.
BRAKH!
"APA ITU?!" pekik sang penjaga sekolah.
Sebuah suara bantingan terdengar dari arah toilet perempuan. Penjaga itu tampak ketakutan. Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya menuju toilet perempuan. Pelan.. Pelan.. Dan pelan..
Kriekk.
Dibukanya pintu toilet perempuan itu. Suasana dingin yang mencekam. Bau busuk yang menusuk. Suara aneh seperti suara gigitan pada tulang. Penjaga sekolah menutup hidungnya, sambil mengarahkan senternya ke segala arah, mencoba mencari pembuat suara itu. Dia berharap hanya seekor tikus. Tapi tidak ada apa pun disana. Lebih tepatnya belum ada apa pun disana.
Semakin dalam bau busuk itu semakin menusuk. Dan suara gigitan itu semakin terdengar. Hingga sampailah dia di depan bilik-bilik toilet, dan betapa terkejutnya melihat pemandangan di depannya.
"Hhhhhhh…"
"Hhhhhhh… Kkkkkhhhh!"
"Kkkkkkhhhh.."
"A-AAAAAKHH!" penjaga itu segera berlari meninggalkan toilet. Apa yang dilihatnya saat itu akan membuatnya tidak akan kembali ke sekolah itu. Ditambah, saat penjaga sekolah itu berbalik hendak melarikan diri, sosok pucat dengan manik hitam pekat yang memenuhi bagian putih matanya itu mencegatnya.
"ARGGHHH!" penjaga sekolah itu berteriak kesakitan saat kuku-kuku sosok pucat itu menembus kulit wajahnya. "T-TOLONG HENTIKAN! A-AKU TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN KASUS INI. T-TOLONG HENTIKAN KUMOHON, AKHH!"
Sosok itu semakin memperdalam tancapan kukunya. Ekspresinya datar, tidak peduli dengan alasan yang diberikan oleh penjaga sekolah itu.
"K-KUMOHON. LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKU, [ XXXXXXXXX ]!"
SLASH!
"AKH! SAKIT!"
SHERRRRR.
JLEB!
"A-AKKH! HHHHH….KKKKK….KHHHH…."
BRUK.
Sosok pucat itu menarik kulit wajah penjaga sekolah, membuat isi wajahnya terlihat semua. Sangat mengerikan. Ditambah darah yang memuncrat saat kulit wajahnya ditarik paksa. Tidak hanya itu, sosok pucat itu menusuk dada penjaga sekolah dengan tangannya sendiri, mengambil jantung yang berdenyut sangat cepat di dalam sana. Setelah jantung itu berhasil di dapatnya, sosok pucat itu melemparkan jantung itu pada sosok pucat lainnya yang tengah memakan tulang-tulang dari korban sebelumnya.
Sosok pucat lainnya ( sosok itu memiliki rambut panjang menutupi sebelah matanya, mulut robek dari telinga kanan ke telinga kiri, serta bagian perutnya hanya terlihat isi perut ) dengan cepat menyambar jantung yang dilemparkan sosok pucat yang membunuh penjaga sekolah. Setelah itu, sosok pucat itu pergi meninggalkan toilet dan membiarkan sosok pucat lainnya di dalam sana.
TBC.
[ Author's note;
Terimakasih untuk semua yang sudah review. Author yang masih newbie ini akan berusaha untuk update cepat, mumpung masih banyak waktu luang. Maaf kalau masih kurang seram. Author baru belajar buat cerita horor. Dan maaf kalau author tidak membalas review kalian agar rasa penasaran kalian pada chapter berikutnya tidak berkurang. Tapi author tetap baca review kalian kok. Next chapter ditunggu ya. Jangan lupa untuk read and review ya. ]
