Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Princess?
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
.
.
Princess? by author03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.
Romance\Fantasy
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
"Apakah ada penyusup?" tanya beberapa pengawal serentak, yang entah muncul dari mana sambil berlari menghampiri Hinata yang di sebut penyusup, dengan pedang ditangan mereka yang kemudian mengarahkannya ke leher Hinata yang membuat Hinata semakin takut! Hinata bahkan tidak berani menelan ludahnya dan mengedipkan kedua matanya.
.
.
Jantung Hinata yang semakin berdebar kencang! Mata nya yang masih membulat, perasaan takut yang masih tidak menghilang dari hatinya. jika ini mimpi, mengapa ia masih belum terbangun?
.
"Sebaiknya kita bawa dia ke istana saja." saran salah satu pengawal yang dibalas angukan oleh sesama pengawal disekitarnya.
Kedua pengawal yang kembali menyimpan pedangnya didekat pinggangnya yang kemudian mengengam lengan Hinata dan sedikit mengangkat nya yang membuat Hinata berdiri.
Menahan kedua tangan Hinata dibelakang dan menuntunnya pergi diikuti oleh pengawal lainnya, Hinata yang semakin takut, ia bahkan tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi padanya? Dimana ia akan dibawa?
.
"Buka gerbangnya!" pinta salah satu pengawal didepan Hinata dan kedua penjaga gerbang itupun membuka gerbang yang lumayan tinggi dan sedikit lebar.
Sang pengawal yang langsung melangkah masuk diikuti beberapa pengawal dibelakangnya, tidak Lupa dengan Hinata.
Kaki Hinata tanpa alas apapun, yang terus menelusuri karpet merah panjang hingga kedalam Istana, di tuntun paksa oleh pengawal-pengawal tadi.
.
Sesampai di sebuah ruangan dengan pintunya yang terbuka lebar, jika ini rumah, maka ruangan ini disebut ruang tamu tapi jika disini? Entahlah. Ruangan yang benar-benar luas, jika dilihat lurus kedepan, terlihat sebuah kursi berwarna keemasan, terlihat berbeda dari kursi dirumah Hinata ataupun kursi disekolah? atau mungkin lebih tepatnya disebut kursi singgasana untuk raja? Terlihat singgasana itu pun terisi oleh seseorang bermahkota berwarna emas, pakaian rapi dan mewah bak pangeran di cerita para princess, ter duduk penuh wibawa, seolah menunggu sang anak buah untuk melapor. Terlihat di kedua sisinya, dua orang maid? Mungkin lebih tepatnya dayang istana? Yang tengah berdiri dan mengipasinya dengan kipas ber ukuran sedang, dengan jarak setengah meter. Dihadapan di kedua sisinya pula terlihat ter duduk beberapa orang dengan posisi saling berhadapan, dipisahkan oleh karpet merah dari pintu masuk sampai singgasana sang raja. Lelaki maupun perempuan yang ter duduk berhadapan itu, terlihat menggenakan pakaian indah dan terlihat mewah seperti di film film keluarga kerajaan. jika ini adalah sebuah film, maka sudah pasti mereka adalah keluarga atau bisa juga Orang kepercayaan sang Raja.
.
Hinata yang dibuat berlutut, menghadap ke singgasana sang raja. Membuat beberapa orang yang tengah ter duduk berhadapan tadi menatapnya, posisi Hinata yang pas berada di antara beberapa orang tadi.
"Pangeran, kami menemukan gadis ini di samping, dihalaman istana." lapor salah satu pengawal itu. Kepala Hinata yang tertunduk dari tadi, tidak terangkat sedikitpun selama perjalanannya kemari. Atau lebih tepatnya ia tidak berani mengangkat kepalanya.
Mata sang pangeran yang masih tertuju pada Hinata.
"Dari mana asal mu?" tanya lelaki yang dipanggil pangeran itu, dengan penuh wibawa. Hinata yang ditanya hanya terdiam, masih menundukkan kepalanya, membiarkan rambut indigo menutupi wajahnya, serta berusaha mencerna apakah ini memang mimpi atau bukan? Mengapa ia masih belum terbangun?
"..."
Tidak ada jawaban..
.
"Angkat kepalamu dan jawab pertanyaanku." perintah sang pangeran tapi Hinata masih terdiam, masih membeku diposisinya.
"..."
"Lancang sekali kau mengabaikan kata-kata pangeran!" marah seorang lelaki berambut raven sambil mendirikan dirinya yang membuat orang-orang ter duduk tadi ikut berdiri.
Hinata yang langsung mengangkat kepalanya karena terkejut mendengar suara teriakan.
.
Matanya yang membulat sempurna ketika ia menatap orang didepannya, tepatnya orang yang tengah ter duduk disinggasana dan dipanggil pangeran.
.
.
"Na-Naruto-senpai?" panggil Hinata terkejut.
Hinata yang langsung berdiri dan ingin menghampiri Naruto. "Aakkkhh..!" Badannya yang kembali terjatuh ketika beberapa pedang di arah kan ke lehernya yang berasal dari pengawal yang masih setia berdiri disamping nya.
"Na-naruto senpai? Apa yang terjadi? Mengapa aku bisa ada disini? Dan mengapa kau bisa ada disini? Apa yang terjadi?" tanya Hinata panik, tidak mengerti sama sekali, ketika ujung pedang para pengawal menjauh dari lehernya.
"Lancang sekali kau berbicara seperti itu padanya! Ia adalah calon penerus dikerajaan ini! Berani sek~!"
"Hentikan Sasuke." sela sang pangeran pada lelaki yang bernama Sasuke, Sasuke adalah teman sang pangeran sedari kecil dan kini Sasuke adalah orang terpercayanya. Hanya saja sifatnya yang tidak bersahabat dan emosian.
.
"Siapa namamu?" tanya sang pangeran pada Hinata.
"Hi-hinata Hyuuga." jawab Hinata takut, ia sungguh tidak mengerti! Apa yang tengah terjadi? Apakah orang ini benar benar Naruto, sang kakak kelasnya? Jika ia mengapa ia ada disini? Dan jika bukan! Mengapa mereka sangat mirip?
"Darimana kau berasal?" tanya sang pangeran lagi
"Aa-aku? Hinata malah bertanya balik dengan alisnya yang berkerut.
"Iya. Apakah kau berasal dari kerajaan Otsutsuki?" tanya sang pangeran memastikan Yang membuat Hinata berpikir keras.
"Kerajaan Otsutsuki? Aa-aku aku tidak tahu! aku bahkan tidak tahu mengapa aku bisa ada disini!" jawab Hinata jujur.
Sang pangeran yang terdiam sejenak, sambil terus mengamati Hinata. Apakah ia berbohong apa tidak?
"Sungguh, aku tidak berbohong. Aku tidak tahu mengapa aku ada disini dan aku hanya ingin pulang!" ucap Hinata berusaha memyakinkan.
.
"Berdiri lah!" perintah sang pangeran dan Hinata pun berdiri dengan perasaan takut dan masih bingung.
"Kau boleh pergi!" lanjut nya yang membuat Hinata kembali menatap nya. Apakah ia sedang beruntung bisa lolos semudah itu?
"Kurasa itu keputusan yang buruk! Bagaimana jika ia berbohong? Bagaimana jika ia benar-benar berasal dari kerajaan lain yang tengah menyusup?" protes Sasuke was-was,
"Para pengawal menemukannya diluar istana! Itu artinya ia gagal menyusup kedalam istana dan ia juga mengatakan ia tidak tahu apa-apa, tidak ada alasan untuk menahannya disini." jawab sang pangeran tegas.
"Aku setuju dengan kata-kata pangeran!" ucap seorang gadis ber wajah cantik disamping Sasuke.
"Shion!" teriak Sasuke tak terima.
"Gerak-geriknya sama sekali tidak mencurigakan, menurutku kita tidak boleh menghakiminya tanpa bukti yang cukup dan dia terlihat terlalu polos untuk berbohong!" ucap Shion membela yang membuat Sasuke terdiam.
"Ini adalah keputusan ku. Hinaya Hyuuga Kau boleh pergi sekarang!" ucap sang pangeran tegas, meskipun Hinata lega tapi ia masih sama sekali tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Tapi sekarang yang harus ia pikirkan adalah cara untuk kembali kekamarnya dan sebelum itu ia harus keluar dari rumah? Istana atau apapun ini. Ini bukan saatnya ia memikirkan orang itu adalah Naruto atau bukan ataupun memikirkan hal lainnya, satu hal yang seharusnya ia pikirkan adalah keluar dari Sini secepatnya!
"Te-terima kasih banyak, tapi kumohon berikan aku satu pakaian yang bisa kukenakan! Ku mohon!" pinta Hinata memohon, entahlah! Ia hanya merasa ia tidak boleh mengenakan baju ini, bagaimana jika ia tersandung dan gaun ini koyak? Bagaimana jika gaun ini ter lepas sempurna dari badannya? Tidak! Tidak! Sebaiknya Hinata menghindari hal ini bukan?
"Aku akan memberikannya, Ikuti aku!" jawab Shion yang kemudian melangkah mengekori Shion.
"Te-terima kasih!" ucap Hinata pada sang pangeran sebelum ia melangkah pergi.
.
"Pangeran? Aku yakin keputusan mu salah! Bagaimana jika ia telah mendapatkan informasi penting dari sini?" tanya Sasuke was-was.
"Dia tidak berbohong, Aku bisa merasakannya." jawab sang pangeran yakin yang membuat Sasuke mengepalkan erat kedua tangannya.
"Dia mengatakan ia mempercayaiku! Tapi ia tidak pernah mau memdengarkanku!"
.
.
.
.
.
Hinata yang tengah memutarkan pelan dirinya dihadapan cermin. Gaun berlengan panjang berwarna lavender, bagian dadanya yang sedikit terbuka. Hinata harus mengangkat gaun ini jika ia berjalan, kalau tidak ia harus menangung berat gaun ini dengan menyeretnya.
Apakah mereka selalu mengenakan gaun seperti ini? Jika didunia Hinata, gaun ini hanya digunakan untuk pernikahan.
Ah! Tidak lupa dengan alas kakinya( gak tahu namanya, yang jelas bukan higheels, tebak tebak aja.. Hahaha)
.
"Gaun ini sungguh indah!" puji Hinata dengan senyumnya ketika ia berhenti memutarkan dirinya.
"Itu punya ku dulu, gaun itu sudah tidak muat pada ku." jawab Shion membalas tersenyum.
"Duduk lah!" pinta Shion dan Hinata langsung mendudukan dirinya di kursi didepan cermin meja hias.
.
Shion yang tengah menyisir rambut indigo Hinata dengan sisir milik nya.
"Terima kasih, apakah kau juga diperlakukan begini disini?" tanya Hinata sambil menatap Shion lewat cermin.
"Iya. Aku diperlakukan layaknya putri di sini." Jawab Shion singkat. Dan untuk sesaat Hinata yang merasa dirinya adalah seorang princess? Hal yang belum pernah ia rasakan selama ini.
Hinata seharusnya sudah sangat-sangat bersyukur karena ia bisa baik-baik saja saat ini dan juga berterima kasih pada Shion yang baik hati sudah memberinya pakaian serta tidak membuatnya dalam keadaan susah. Tidak seperti gadis-gadis di sekolah nya.
"Semua gadis akan iri padamu. Apakah kau kakak sang pangeran itu?" tanya Hinata yang membuat Shion menghentikan acara menyisir rambut Hinata.
.
"Aku adalah calon istrinya!" jawab Shion datar yang membuat Hinata terdiam.
"Ah.. Benarkah? Maafkan aku." ucap Hinata merasa bersalah, ia bahkan tidak tahu mengapa ia meminta maaf.
"Dengar! Kau harus segera pergi dan jangan pernah muncul lagi disini, kau juga tidak usah menghadap pada pangeran, pergilah diam-diam, apa kau mengerti?" tanya Shion seolah mengusir yang membuat Hinata menatapnya lewat cermin.
"Aku mengerti." jawab Hinata memaksakan senyumnya, mengapa ia merasa ada hal yang aneh dengan gadis ini? Ucapannya seolah mengatakan Hinata akan merebut pangerannya?
.
"Dayang! Dayang!" panggil Shion dan beberapa saat kemudian masukklah seorang wanita yang langsung menundukkan kepalanya.
"Apa yang bisa hamba bantu, Putri Shion?" tanya sang dayang sopan.
"Aku ada urusan, dandan dia!" perintah Shion.
"Ah! Tidak usah, aku tidak ingin merepotkan!" tolak Hinata cepat.
"Tidak apa-apa! Duduklah!" jawab Shion yang membuat Hinata kembali ter duduk.
Shion yang langsung melangkah keluar dari kamar mewah nya dengan sebuah seringai di bibir nya. "Anggap saja ini hadiah terakhirku! Aku tidak tahu mengapa tadi pangeran membelamu tapi aku juga tidak bisa membiarkan mu disini! Aku tidak ingin pangeran dekat dengan wanita lain selain diriku dan aku tidak ingin kau merebut cintanya pangeran dariku!" Shion membatin sambil memgepalkan kedua tangannya. Pemikirannya terlalu berlebihan tapi lebih baik berjaga-jaga sebelum menyesal bukan? Tapi ayolah? Cuma karena menurutmu sang pangeran membelanya, itu tetap bukan alasan pangeran akan mencintainya bukan? Atau pun sebaliknya? Hinata hanya beruntung karena kau turut membelanya.
.
.
Wajah Hinata yang baru saja selesai didandan, terlihat sangat Narutal, benar-benar semakin mempercantik dirinya, tidak lupa dengan lipstick peach di bibir nya, rambutnya yang di biar kan terurai. Ia bahkan tidak pernah berdandan sekali pun. Rasanya aneh menggunakan make up ini.
"Terima kasih!" ucap Hinata sopan sambil membungkukkan badannya.
"Tanpa berdandan pun puan sudah terlihat cantik!" puji sang dayang tersenyum yang membuat Hinata merona. Belum ada satu orang pun yang pernah memuji nya cantik kecuali orang tuanya yang sudah lama meninggal, Hinata bahkan tidak pernah atau lebih tepatnya tidak mau mengamati wajahnya sendiri karena semua ejekan jelek yang selalu ia dapatkan. entahlah? Ia hanya takut jika ia benar-benar jelek. Tapi sekarang mungkin Hinata akan mau mengamati wajahnya sendiri.
"Kalau begitu aku pergi dulu!" ucap Hinata yang kemudian melangkah pergi, dengan kedua tangan mungilnya yang sedikit mengangkat sisi gaun nya.
.
Hinata yang langsung melangkah pergi tanpa pamit pada sang pemilik kerajaan atau siapapun. Kakinya yang kembali menginjak karpet merah, Hinata yang terus menelusuri karpet merah itu hingga keluar istana dan berakhir di gerbang masuk tadi.
Kedua penjaga gerbang yang membuka gerbang itu dari luar, hal pertama yang dilihat Hinata adalah seorang pria berambut merah, dengan tato ai didahinya tapi untuk saat ini Hinata sama sekali tidak Perduli, kakinya yang kembali melangkah, melewati lelaki berambut merah itu dan menjauh dari istana besar dan megah itu.
Sekarang ini Hinata benar-benar terlihat seperti seorang pengantin yang gagal nikah dan berjalan pergi dengan gaun nikahnya. Hanya saja ia tidak menangis dan tidak bersedih.
.
.
.
.
"Pangeran, hamba telah kembali dari bertugas." lapor seorang lelaki berambut merah ketika ia berdiri menghadap sang pangeran yang masih ter duduk disinggasananya.
"Bagaimana tugasmu, Gaara?" tanya sang pangeran memastikan.
"Semuanya berjalan dengan lancar, tidak ada kendala sedikipun!" Jawab lelaki yang dipanggil Gaara itu. Gaara adalah orang terpercaya sang pangeran, sama dengan Sasuke. Sang pangeran yang merasa Gaara sangat bisa diandalkan untuk menyelesaikan masalah para penduduknya, itulah kenapa Gaara lebih sering diluar istana, bisa dikatakan Gaara lebih dekat dengan para penduduk dari pada para pengawal di istana. Sang pangeran juga merasa Gaara sangatlah hormat dan patuh? Berbeda dengan Sasuke,
"Baiklah! Kau boleh pergi." ucap sang pangeran.
...
"Mohon maaf pangeran, tadi sewaktu hamba hendak kemari hamba melihat seorang gadis keluar, apakah ia dari sini?" tanya Gaara penasaran.
"Dia sudah pergi?" sang pangeran membatin.
"Iya." jawab sang pangeran singkat
"Hanya sedikit salah faham, jangan dipikirkan. Pergilah dan panggilkan Shion untukku." sambung sang pangeran ketika Gaara hendak bertanya.
"Daulat pangeran!" jawab Gaara patuh sambil memberi hormat yang kemudian melangkah pergi.
.
Beberapa menit setelah Gaara pergi, Shion pun menghadap ke pangeran. "Mengapa pangeran memangil hamba?" tanya Shion sopan.
"Apakah gadis bernama Hinata Hyuuga itu sudah pergi? Mengapa kau tidak menyuruhnya menghadapku sebelum ia pergi?" tanya sang pangeran memastikan.
"Maafkan hamba pangeran, hamba telah menyuruhnya menghadap ke pangeran, hamba mengira ia telah kemari, hamba sama sekali tidak tahu jika ia langsung pergi." jawab Shion yang sepenuhnya bohong.
"Sungguhkah? Apakah aku harus memerintahkan Gaara untuk mencarinya? Aku penasaran dari mana ia berasal dan ada hal yang ingin ku tanyakan. Seharusnya ia menghadapku dulu sebelum pergi." ucap sang pangeran seolah meminta saran.
"Maaf pangeran, menurut hamba. Pangeran jangan melakukan hal itu, untuk apa Gaara harus mencari nya? Tadi hamba sempat berbicara padanya, ia mengatakan ia hanyalah penduduk biasa yang tersesat kesini. Jadi kurasa ia tidak akan bisa menjawab apapun yang pangeran pikirkan." jawab Shion dan lagi, sepenuhnya bohong yang membuat sang pangeran berpikir sejenak.
.
"Begitukah? Kau boleh pergi sekarang." ucap sang pangeran. Shion yang sedikit membungkukkan badannya yang kemudian melangkah pergi.
.
"Menyuruh nya pergi diam-diam adalah keputusan yang tepat!" Shion membatin, dengan sebuah seringai di bibirnya.
"Tapi? Apa yang ingin pangeran tanyakan?"
.
.
Sang pangeran yang masih terduduk, sambil terus berpikir. Mengapa ia berpikir ada yang salah? Ada suatu hal yang menjangal di otak nya tentang sang gadis yang bernama Hyuuga Hinata. Ada beberapa hal yang membuat nya penasaran? Apakah ia harus pergi mencari gadis itu dan mendengar langsung jawaban dari pertanyaannya?
Ia sungguh berharap ibunda nya akan cepat sembuh dan kembali pada posisinya sebagai yang mulia ratu. Pangeran yang merasa dirinya masih terlalu dini untuk memerintah, meskipun ini hanya untuk sementara, hanya sampai sang Ibunda kembali sehat. Setelah itu ia tidak akan menduduki tahta ini lagi sampai waktunya tiba, dimana saatnya ia akan benar-benar diangkat menjadi raja, bukan pangeran sang pengganti ibunya yang tengah sakit.
.
.
.
.
.
Hinata yang terus melangkah menelusuri jalan, ia bahkan tidak tahu dimana dia sekarang? tempat ini sangat ramai seolah ini adalah pasar, banyak dagangan yang ditawarkan kepada keramaian disini. Mereka seperti pedagang-pedagang kecil. Sebelum Hinata tiba disini, ia melewati banyak rumah, mungkin lebih tepat disebut gubuk? Apakah saat ini Hinata tengah berada di sebuah desa?
Hinata yang sudah mencubit dirinya sendiri agar ia terbangun tapi tidak ada hasil apapun, dan kesimpulan nya adalah ini bukan mimpi.
Ia bahkan tidak mengerti apapun tentang semua ini, yang ia lakukan hanyalah terus berjalan mengikuti langkah kakinya.
"Ini bukan saatnya terus berpikir ini adalah mimpi atau bukan! ini adalah kenyataan, dan aku harus menemukan cara agar aku bisa keluar dari tempat ini! Aku harus bersekolah, bekerja dan banya hal lagi yang tida bisa ditinggalkan!" pikir Hinata yang masih berjalan menelusuri dua baris pedagang disisi jalan dan orang-orang yang tengah berbelanja ataupun berlalu.
.
.
Kruukkk..krukk..! Perut Hinata yang tiba-tiba ber bunyi yang membuat Hinata menghentikan langkahnya, satu tangannya yang membelai pelan perutnya itu. Ia belum makan. Dan ia sama sekali tidak tahu sekarang sudah jam berapa? Ia akan tidur dimana? Apakah orang-orang disini jahat? Atau sebaliknya? Dan lebih parahnya ia tidak memiliki uang sepeserpun.
Apa yang harus ia lakukan?
Apakah ia harus mencoba meminta?
Tidak salahnya mencoba bukan?
.
Mata Hinata yang melirik kekanan dan kekiri, terlihat sebuah pedagang yang menjual ...
...
?
Apa itu?
Bentuknya bulat? Berwarna putih dan terlihat panas? Terlihat lembut?
Apakah itu bakpao?
Apapun itu! Yang penting sekarang adalah makanan yang bisa dimakan..
.
Hinata yang melangkah perlahan mendekati pedagang bak pao itu sambil memainkan jari-jarinya di dekat perutnya sambil menyeret gaun nya itu.
"Mau beli berapa puan?" tanya sang penjual semangat yang membuat Hinata mengigit bibir bawahnya.
"Berapa harganya?" tanya Hinata basa-basi dengan matanya yang sudah menatap sempurna bakpao di atas meja.
"Satu buah bakpao hanya 3 keping emas." jawabnya dan tanpa ia sadari Hinata tidak mendengarnya sama sekali.
...
...
"Ah..aa.. Ano... Tuan, sebenarnya aku tidak memiliki uang sama sekali dan aku sangat lapar.. Apakah kau keberatan memberiku satu buah bakpao?" pinta Hinata pelan dan penuh harap yang membuat senyum di bibir sang penjual menghilang.
Matanya yang mengamati Hinata dari atas kebawah dan kembali keatas. "Puan bisa membeli pakaian ini tapi tidak bisa membayar sebuah bakpao?" ucap sang penjual menaikkan suaranya yang membuat Hinata menundukkan kepalanya.
"Pakaian ini bukan milikku dan jika kau tidak ingin memberikannya, kau tidak perlu marah-marah begitu." jawab Hinata dengan suara rendah.
Tidak di dunia sana, tidak disini! Mengapa orang-orang begitu Kasar?
"Sebaiknya aku pergi, aku tidak berani memaksa ataupun mengemis. Lebih baik aku coba meminta pada pedagang lain, siapa tahu ada yang sedang berbaik hati, mau memberiku makanan?" pikir Hinata kecewa.
Hinata yang membalikkan badannya dan hendak melangkah pergi dengan mulutnya yang sudah memanjang, tapi belum selangkah Hinata melangkah. Sang penjual langsung menyodorkan dua buah bakpao kearah Hinata.
Sebuah senyuman super lebar, pertanda betapa bahagianya Hinata saat ini, ketika ia menatap wajah sang penjual yang terlihat iba.
"Ambillah!" ucap sang penjual mengiklaskan dua buah bakpao nya.
"Terima kasih banyak.. Aku berjanji aku akan membayarmu!" jawab Hinata terharu dan masih dengan senyum lima jari yang masih belum luntur dari bibirnya.
"Baiklah!" jawab sang penjual ketika Hinata mengambil dua buah bakpao dari kedua tangannya.
"Aku tidak akan melupakan mu." ucap Hinata bahagia yang kemudian melangkah pergi dengan buah bakpao di tangan nya, tidak lupa dengan menyeret gaun lavendernya itu. Mencari tempat yang nyaman untuk menyantap makanannya itu.
.
.
.
.
?
Terlihat seperti hutan? Sepi? Tapi hutan ini sangat indah! Lihat saja jarak antar satu pohon ke pohon lain! Sangat rapi, rumput nya yang hijau dan terawat. Ini lebih pantas disebut taman daripada hutan. Tapi apakah ini masih termaksud wilayah sang pangeran yang mirip dengan pujaan hati Hinata? Entahlah, Hinata tidak perduli! Yang ia inginkan sekarang adalah mengisi perutnya.
Hinata yang mendudukan dirinya tanah yang dilapisi rumput yang indah itu dengan salah satu pohon menjadi sandaran punggungnya.
.
Hinata yang baru saja melahap habis kedua buah bakpao di tangannya, memang tidak cukup mengenyangkan, tapi setidaknya cukup membuat perutnya tidak berisik.
.
"Apa yang harus kulakukan? Bagaimana caranya agar aku bisa kembali?" pikir Hinata kembali bingung.
Sekilas kejadian sebelum Hinata kesini pun melintas dipikirannya. Hinata yang langsung berdiri dan langsung memutarkan badannya, semakin cepat dan akhirnya matanya terpejam serta kedua tangannya terangkat.
"Pulang! Pulang!" ucap Hinata yang kemudian menjatuhkan dirinya, terduduk dilantai yang membuat gaun nya berbentuk bulat dengan Hinata ditengahnya. Daun-daun dari pohon-pohon yang berwarna coklat pun mulai berjatuhan kebawah.
.
Mata Hinata yang masih terpejam, berharap saat ini ia sudah berada dikamarnya.
,
Perlahan mata itu pun terbuka. Matanya yang dikedipkan beberapa kali hingga pandangannya menjadi jelas.
.
"Aaaakkhhh..\ aaakkhh..!" teriak Hinata kaget ketika ia melihat sebuah wajah ber jarak 3cm dari wajahnya sehingga dirinya termundur kebelakang, keadaan yang tidak beda jauh dengan satu manusia didepan Hinata tadi. Ia yang ter mundur, terjatuh ter duduk ke tanah.
"Siapa kau?" tanya Hinata kaget dan was-was.
"Kau siapa!? Kau membuatku terkejut!" marah lelaki kecil itu tidak sopan setelah ia meluruskan punggungnya dan melipatkan kedua kalinya.
"Hei! Anak kecil kurang ajar! Kau ha~"
"Hei! Kau orang dewasa kurang ajar! Namaku Konohamaru bukan anak kecil" selanya kasar yang membuat darah Hinata seketika mendidih.
"Kau ini adalah anak kecil! Lihat saja badan mungil mu itu! Menjauhlah dariku!" marah Hinata yang kemudian langsung beranjak dari tempatnya, hendak melangkah pergi meninggalkan bocah cilik yang entah muncul dari mana.
Anak kecil itu bukannya pergi, ia malah mengikuti Hinata dari belakang yang membuat dahi Hinata semakin berkerut. Darahnya yang semakin mendidih!
.
"B..." belum sempat Hinata berkata, lima ekor kuda berwarna putih bersih, lengkap dengan penungangnya, berhenti tepat didepan Hinata. terlihat keempat kuda itu ditunggani oleh lelaki berpakaian pengawal dan terlihat satu lagi kuda paling depan ditunggani oleh seorang pria berambut kuning, lengkap dengan mahkotanya?
Tunggu?
Bukankah lelaki ini yang dipanggil pangeran?
"Hinata Hyuuga, kau harus ikut dengan ku keistana!" perintah sang pangeran, yang mutlak dituruti semua orang di wilayah kekuasaannya.
"Ada apa? Mengapa aku harus pergi dengammu?" tanya Hinata yang masih kesal dengan bocah cilik tadi.
"Aku ingin bertanya beberapa hal penting." jawab sang pangeran singkat.
"Kau bisa bertanya disini!" balas Hinata tak perduli. Ohh... Hinata.. Kau pikir kau berada dimana sekarang? Jika kau terus melawan dan menjawab, kau bisa mendapatkan hukuman 100 cambukan.. oohh Hinata..
"Hei bodoh!" pangil Konohamaru disamping Hinata seolah berbisik yang membuat Hinata menurunkan badannya dan mendekatkan telinga nya kearah lelaki kecil itu.( disini Konohamaru versi anak kecil dan imut-imut gitu hahaha)
"Dia adalah calon raja di wilayah ini, jangan berani bertanya padanya apalagi melawan perintahnya! Kau bisa di bakar hidup-hidup!" bisik Konohamaru itu yang membuat Hinata merinding. Sekilas semua rasa kesal nya pun lenyap entah kemana.
Serius? Bagaimana Hinata bisa lupa dimana ia saat ini dan siapa lelaki itu...? Ini adalah wilayah kekuasaanya tentu saja Hinata harus menjadi gadis yang baik agar ia bisa tetap selamat tanpa terluka sedikitpun..
"Minta maaf lah!" bisiknya lagi. Hinata yang langsung berdiri tegak yang kemudian menundukkan kepalanya. "Ma-maafkan aku pa-pa-pangeran!" ucap Hinata takut, berharap sang pangeran berbaik hati, Agar ia tidak dibakar hidup-hidup. tapi apakah orang ini memang sangat kejam? Kalau begitu Hinata harus lebih berhati-hati dengan mulut nya, ia sungguh tidak ingin mati disini.
...
Sang pangeran yang mengulurkan satu tangannya kearah Hinata.
Tunggu?
Apakah itu artinya Hinata akan menaiki kuda yang sama dengannya? Bukankah dia adalah calon raja? Jadi mengapa ia harus datang sendiri hanya untuk menjemput Hinata?
Tapi.. Jika Hinata ikut dengannya, mungkin Hinata bisa meminta makanan dan tempat tinggal bukan? Matahari sudah mulai menurun, tidak mungkin Hinata tidur di hutan Tapi bagaimana jika dia malah menyiksa Hinata? Bagaimana jika tidak ada makanan dan tempat tinggal? Bagaimana jika Hinata benar-benar disiksa?
Jika Hinata kabur? Apakah ia bisa lolos?
Apa yang sebaiknya Hinata lakukan?
.
.
.
.
.
To be continue..
.
.
.
.
?
Sebenarnya aku mau buat Hinata tinggal dengan konohamaru .. Tapi menurut aku itu terlalu bertele tele.. Karena pada akhirnya hinata akan pindah ke istana juga., jadi aku putuskan yah begini laa... Dan mengapa naruto sendiri yang menjemput hinata atau mengapa naruto mencari hinata., adalah alasannya., mungkin next chapter udh diceritain..
Maafkan aku jika ada kesalahan pada ceritanya,, soalnya aku gak gitu pandai.. Aku cuma nebak nebak aja., tinggalkan review dan byee
Ku harap kalian gak bosan dengan ceritanya..
Itu ada yang tanya katanya aku cuti tapi mengapa aku tulis nya hp aku rusak., sebenarnya waktu itu aku memang cuti karena aku mau libur kerja.. Tapi tiba tiba hp aku terbang dan akhirnya rusak.. Hahha.. Itu sebabnya cuti aku diperpanjang.. Rencananya mau cuti smpai bulan dua.. Tapi aku bosan bangat mau baca fic kagak ada yang up baru,, jadi aku pinjam hp adik aku,, dan kembali lagi dehhh disini.. Gitu.
Ngomong ngomong,, ini bahasanya kacau gak? Jika ia bilangin ya biar bisa aku perbaiki..
Byeee
