Matahari sudah mulai tergelincir agak ke barat, beberapa mobil tampak menepi mendekati taman kanak-kanak penuh pelangi itu, yang lainya melaju pergi setelah menjemput anak mereka.

"Sampai jumpa, Sensei." Pamit Kagami, "Hati-hati di jalan, ya, Kagami-kun." Pesan Kuroko yang hanya direspon dengan anggukan kecil anak itu.

Kagami berjalan menghampiri ayahnya lemas. Lain dengan sang Ayah, Tatsuo, yang justru dengan menyambutnya penuh semangat di depan gerbang.

"Oi, oi, ada apa dengan, Taiga? Lemas begitu? Ada masalah? Ada yang menjahilimu, ya?"

Kagami menghela nafas, menatap ayahnya putus asa, "Papa.."

"Hm?"

"Kenapa alisku berbeda dengan alis teman-temanku yang lain?"


Title :

Ayah, Kenapa Alisku Berbeda?

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Story :
©Rall Freecss

Warning :

Typo, OOC, AU, Parody.


Pertanyaan putra kecilnya itu membuat nafasnya tercekat, paru-parunya seolah disumbat oleh sesuatu. Gawat, kalau begini terus ia bisa mati karena kekurangan oksigen.

"A-apa yang kau bicarakan, Taiga?"

Kagami mendesah, "Maksudku, lihat saja alis Papa... Juga alisnya Mama.. semuanya berbeda dengan alisku.."

Tatsuo berusaha mencari akal, mencari sesuatu yang bisa menenangkan putranya.

"Papa, jangan-jangan aku ini anak pungut, ya? Aku tertukar di rumah sakit, ya?"

Nah, sinetron syndromnya Kagami kambuh. Sekarang Tatsuo hanya bisa menepak dahi, menyesal karena membiarkan putra tercintanya menyaksikan sinetron murahan di televisi bersama supirnya (walau sebenarnya Suzaku sudah melarangnya).

Sekarang, ia paham betul kenapa istrinya mati-matian melarang anak mereka nonton acara itu, ya, Tatsuo paham banget.

Pria itu berjalan mendekati Kagami, mengacak surai dwi-warnanya gemas, "Kau bicara apa, sih. Ayo, pulang. Mama sudah menunggu di rumah dengan makan malam yang lezat."

Kagami tak bergerak, ia masih saja berdiri di sana.

"Nanti Mamamu marah, loh." Bisik Tatsuo, Kagami hanya menghela nafas dan segera berjalan memasuki mobil, disusul oleh sang ayah yang tampak menghela nafas lega.

Keduanya duduk tak bersuara di kursi belakang, Kagami hanya memandang keluar jendela dengan tatapan malas. Oh, anak itu tengah galau maksimal tampaknya.

Pak supir yang sibuk mengendarai mobil supaya baik jalannya sesekali mengintip dari kaca dasboard, ingin membuka percakapan di tengah suasana keruh ini dengan beberapa guyonan yang mungkin bisa menghibur. Tapi, kalau sampai salah langkah bisa-bisa tuan mudanya malah makin ngambek.

Wah, gawat, dia tak tahu harus bagaimana saat ini.

Yang ada di kelapanya sekarang adalah mencari cara agar bisa mencapai rumah dengan cepat, hm, mungkin itu adalah pilihan yang tepat di saat seperti ini.

"Papa," panggil Kagami, Tatsuo menoleh gugup, "I-iya?"

"Kita punya album foto keluarga di rumah?"

"Ada," angguk Tatsuo, "Dari generasi ke generasi, sampai sekarang totalnya ada 15 album."

Kagami menoleh antusias, "Di mana Papa menyimpannya?"

"Ada di perpustakaan rumah. Kenapa tiba-tiba bertanya, Taiga?" tanya Tatsuo—yang nyatanya tak digubris oleh Kagami yang kini tengah berteriak memerintah sang supir agar tancap gas dengan segera.

"Tambah kecepatannya, Pak! Kita harus sampai rumah secepatnya!"

Acungan jempol didapat Kagami sebagai jawaban, anak itu tersenyum antusias, tampak benar-benar tak sabar untuk menginjakkan kaki pada istananya itu.

Dan berkat kelihaian sang supir dalam mengendarai mobil, mereka berhasil sampai dengan selamat hanya dalam hitungan detik. Wah, hebat sekali. Jangan-jangan supir keluarga Kagami ini mantan pembalap handal. Hoo, jadi penasaran.

"Keren! Seperti yang diharapkan dari mantan pembalap tingkat nasional!" seru Kagami sambil berlari turun dari mobil.

Hm, sudah ku duga.

Dengan bantuan Tatsuo yang berdiri di belakangnya, Kagami membuka pintu rumah perlahan. Putranya itu tampak lupa akan aturan untuk mengucapkan salam ketika masuk rumah, buktinya anak itu kini tengah sibuk membuka sepatunya, melempar kaos kaki bau bangkainya ke sembarang arah. Untung pembalut kaki bau itu tak mendarat di wajah Tatsuo yang tampan.

Huh, kalau sampai terjadi, perawatan wajah yang selama ini ia lakukan bisa sia-sia. Tak rela, Tatsuo tak rela jika hal itu terjadi.

Suzaku yang keluar dari dapur terkejut melihat putranya berlari kencang menuju tangga hingga nyaris menabraknya. Putranya terlihat seperti harimau kelaparan mengejar mangsa. Buas sekali.

Manik merah yang tak terlalu terang milik Suzaku kini menatap Tatsuo tajam, suaminya yang tengah merapikan sepatu Kagami itu langsung berdiri bulu kuduknya. Merasa tengah diawasi oleh makhluk berbahaya.

"Mas! Lihat, tuh, kelakukan anakmu!" seru Suzaku sambil menunjuk Kagami yang sudah ngacir ke lantai atas. Tatsuo menghela nafas, "Salahku apa, sih, Dek?"

Wanita itu melepas celemek yang ia kenakan, mengantungnya pada pengait yang terpasang di dinding yang membatasi dapur dan ruang keluarga, "Gara-gara nama yang kamu kasih dia jadi mirip harimau beneran, kan!?"

"Aku mesti bilang apa ke Papa sama Mama nanti, kalau anak kita jadi kaya begitu..." Suzaku mengurut dahinya, ia tampak frustasi.

"Kamu ini bicara apa, sih. Dia kan laki-laki, wajar, dong kalau agak liar." Tatsuo berjalan mendekati istrinya, memberikan sebuah kecupan ringan pada pipi. "Nanti biar aku yang bicara sama Mama dan Papamu, oke?"

Suzaku yang wajahnya sudah penuh semburat merah hanya mengangguk pelan, sembari menundukkan kepalanya ia berjalan kembali ke dapur, "Makanannya sudah siap."

Tatsuo tersenyum, "Iya, terimakasih."

"Biar aku yang panggil Taiga." Ujar Suzaku sembari menaiki tangga dengan segera, mengejar anak semata wayangnya yang entah kenapa tiba-tiba langsung melesat menuju lantai atas seperti tadi. Tidak seperti biasanya.

Mencari, langkah kakinya beralih dari satu ruang menuju ruang lainnya, mencari sosok mungil berkulit agak gelap dengan surai dua warna yang merupakan putra tersayangnya itu. Lantai satu hampir selesai ia jelajahi, tapi sosok yang ia cari itu tak kunjung tampak.

Kini satu-satunya tempat yang belum Suzaku cek adalah perpustakaan. Tapi, apa mungkin anak itu ada di sana? Bukankah putranya itu tak terlalu lancar membaca huruf Jepang? Ia hanya tau alphabet, kan? Duh, Suzaku semakin khawatir saja.

Pintu perpustakaan ia buka perlahan, lampu yang menyala terang di tengah-tengah ruangan membuat semua barang yang ada di sana terlihat jelas walau malam menjelang. Udara dingin yang dibawa oleh AC di ruangan itu menyapa kulit putih Suzaku lembut.

"Taiga?" panggilnya lembut, tak ada jawaban.

Putranya yang tampak sedang sibuk dengan dunianya sendiri itu sama sekali tak mendengar suaranya. Suara sang ibu, tak dapat meraihnya. Ah, Suzaku sedih.

"Taiga?" panggilnya sekali lagi, masih tak ada jawaban.

Tangan mungil itu masih sibuk membolak-balik buku bersampul hitam yang tengah ia tekuni, wajah anaknya itu serius sekali, terlalu serius untuk anak seumurannya. Alinya yang bertaut membuat wajahnya terlihat sedikit seram. Tapi, karena hal itu, Suzaku yakin betul kalau itu adalah anakny dan Tatsuo, karena parasnya persis milik Tatsuo.

"Taiga?" sekali lagi, dan lagi-lagi tak ada jawaban.

Suzaku tak mengerti, kenapa putranya tak datang? Ada yang bilang kalau namanya disebut 3 kali ia akan segera datang, tapi kenapa hal itu tak berlaku pada putranya? Kenapa? Suzaku jadi kesal sendiri.

Kesal karena terus-terusan tak dihiraukan, Suzaku pun berjalan mendekati putranya itu.

"Taiga? Apa yang kau lakukan? Ayo, turun. Papa sudah menunggumu di meja makan." Ajak Suzaku selembut mungkin.

Kagami yang tadinya masih asik dengan buku tebal pada tangannya—yang sebenarnya adalah album foto—mau tak mau mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajah sedihnya pada sang ibu.

Suzaku kaget, "Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu kusut begitu? Padahal tadi pagi kan sudah Mama setrika, diberi pelembut pula." Tanyanya sembari duduk di sebelah putranya.

Kagami menutup album foto pada pangkuannya, meletakkannya pada tumpukan album yang berada di sisi kirinya, "Aku sedang melihat album foto keluarga kita, Ma." Jawabnya lesu.

"Ada apa, Sayang? Ada sesuatu yang mengganggumu?" Suzaku mengusap kepala putranya lembut.

Kagami menghela nafas, ia terlihat frustasi, seperti pegawai yang mau diPHK begitu saja oleh atasannya, "Kenapa cuma alisku yang berbeda, Ma?"

"Eh?"

"Punya Mama, Papa, Kakek, Nenek, Yangti, Yangkung, Om, Tante, Bude, Pak De, Bibi, Paman, Mak Dang, Mak Ngah, Mak Etek, dan anggota keluarga kita lainnya yang nggak bisa disebutin satu-satu karena capek, semuanya ngga ada yang mirip punyaku. Beda, nggak ada yang bercabang."

Kagami menunduk, "Kenapa, Ma? Kenapa cuma aku yang berbeda alisnya?"

"Ka-Kamu sudah cek semua album fotonya?" tanya Suzaku, Kagami menggeleng.

"Nah, kamu nggak bisa langsung ambil keputusan kayak begitu, sayang. Kan kamu belum cek semua. Dan itu baru punya Papa, kan? Punya Mama belum. Mungkin saja, leluhurmu ada yang aslinya sama dengan milikmu." Jelas Suzaku berusaha mengalihkan perhatian Kagami.

Anak itu mengangguk, "Um, Mama benar."

Suzaku tersenyum, dalam hati lega karena putranya bisa dipujuk dengan mudah.

"Ayo, nanti ada hantu yang menemanimu, loh~" goda sang Ibu sambil tersenyum jahil.

"Ma-Mama apaan, sih!? Ha-hantu itu kan ngga ada.." tukas Kagami sembari berlari mengejar ibunya yang sudah terlebih dahulu keluar dari perpustakaan pribadi mereka itu, meninggalkan tumpukan album yang belum dikembalikan ke dalam rak.

Keluarga kecil itu duduk bersama menikmati makan malam, gyoza yang menjadi hidangan mereka malam itu, dilahap dengan penuh semangat.

"Boleh aku dapat cheeseburger sebagai makan malam besok?" tanya Kagami kecil yang sibuk menyodorkan piringnya pada Suzaku, minta gyoza tambahan—ngomong-ngomong, itu adalah piring ketiganya.

Suzaku mengangguk, "Tentu, tapi dengan syarat, kau harus jadi anak baik di sekolah besok."

"Cuka? Kecap?" tawarnya sembari menyodorkan piring berisikan gyoza, Kagami menggeleng, "Tidak perlu,"

"Bicara soal sekolah, bagaimana hari pertamamu, Taiga?" tanya Tatsuo yang hendak menyeruput tehnya.

"Oh, um, gurunya sangat manis, dia baik sekali." Ujar Kagami dengan mulut penuh.

Suzaku geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya, entah sudah berapa kali diingatkan agar tidak berbicara ketika mulut penuh. "Taiga," panggil Suzaku sambil menatap tajam, Kagami buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, takut di amuk sang Ibu.

"Hoo, baguslah. Tidak ada teman yang menganggumu?" tanya Tatsuo lagi,

"Ah, tidak. Tapi ada anak laki-laki berkulit redup yang terus menerus mengejek alisku. Aneh, katanya." Sahut Kagami sambil berusaha meraih gelasnya.

Satu-satunya wanita yang duduk di sana menggembungkan pipinya, "Bicara apa, sih, anak itu. Alis anak Mama nggak aneh, kok. Dia iri pasti."

"Tapi, semua orang membicarakan alisku, Ma. Mereka bilang baru pertama kali lihat alis bercabang seperti punyaku." Tangannya menggenggam garpu peraknya erat, merasa kesal.

"A-ah, itu artinya kau beda dari yang lain, kan? Itu keren, Sayang." Ujar Suzaku berusaha menyemangati putranya, Tatsuo ikut mengamini, sebisa mungkin membuat putranya tak lagi murung.

"O-oh, apakah ada tugas dari sekolah, Sayang?" Suzaku buru-buru mengganti topik tak menyenangkan tadi, Kagami berusaha mengingat-ingat. "Hng, aku tidak terlalu ingat, Ma."

Suzaku menuang air ke dalam gelasnya, "Kau yakin? Coba ingat lagi, kalau ada yang terlupa bisa bahaya, loh." Kemudian meneguknya hingga tak tersisa.

Kagami kecil berusaha memutar otak, mengingat-ingat kejadian yang terjadi di sekolah. Namun, yang ia ingat hanyalah perkelahiannya dengan anak yang bernama Aomine dan senyuman manis milik wali kelasnya, Kuroko Tetsuya.

Oh, pesan dari Kuroko-sensei!

"Um, kami disuruh menghapalkan lagu Oh, Vreneli untuk kelas seni besok." Jawab Kagami cepat, "Oh, Vreneli?" Tatsuo berusaha memastikan, Kagami mengangguk.

Suzaku yang tampak sudah selesai melahap semua makanannya berjalan membawa piring kotor menuju wastafel, merendamnya dengan air agar noda yang ada tak menempel dan mudah dibersihkan nanti.

Dalam kepala ia berusaha mengingat-ingat lagu yang kira-kira judulnya cocok dengan yang barusan disebut putranya. Oh, Vreneli. Rasanya tak asing dengan nama itu. Wanita itu menjelajahi setiap celah dalam otaknya lebih dalam, mencari ingatan yang kira-kira cocok dengan lagu itu.

Setelah lama mencari, akhirnya ada satu yang sesuai. Ingatan tentang Tatsuo yang tengah menina-bobokan Kagami dengan lagu berbahasa Inggris.

"Oh, Mama tahu lagu itu. Itu kan lagu pengantar tidurmu ketika masih bayi, Taiga." Ucap Suzaku sambil tersenyum lebar, "Papa sering menyanyikannya untukmu."

Tatsuo mengangguk, "Oh, benar juga, lagu itu. Baiklah, setelah kau makan dan membersihkan badanmu, Papa akan ajarkan lagu itu hingga kau bisa, oke?"

Kagami mengangguk, ia pun langsung menusuk dua gyoza yang tersisa dengan garpunya sekaligus, melumurinya dengan kecap, lalu memasukkannya ke dalam mulut tanpa digigit sama sekali. Dihabiskan dalam satu lahapan.

"Tambah lagi?" tanya ibunya, Kagami menggeleng. Setelah selesai mengunyah dan meneguk airnya hingga habis, anak itu langsung berlari menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Jangan khawatir, Kagami, kan, anaknya selalu mandiri, mandi sendiri. Jadi, tanpa bantuan ibunya pun ia bisa membasuh dirinya dengan benar.

Kagami pintar, ya.

Sembari menunggu putranya membasuh diri di kamar mandi, Tatsuo menyingsingkan lengan kemejanya, berjalan menuju wastafel untuk membantu sang istri mencuci piring. Namun, niat mulianya langsung ditolak Suzaku dengan senyuman hangat, "Nggak apa, Mas. Adek bisa sendiri, kok."

"Tapi—"

"Mas istirahat, aja. Biar Adek yang beresin semua." Suzaku kembali tersenyum, mendorong suaminya mundur, menjauhi wastafel.

"Dek, biarin Mas bantu, lah. Kan kita sudah lama nggak nyuci piring bareng." Pinta Tatsuo.

Suzaku hanya tersenyum, ia tak lagi bersuara, Tatsuo sebenarnya masih ingin menjadi sedikit keras kepala. Tapi, karena sang istri sudah tersenyum seperti itu, ia mau tak mau harus mundur dari dapur. Karena, sesungguhnya senyuman itu adalah alarm peringatan.

Kalau berani melawan, rasakan akibatnya.

Begitulah.

Oleh karena itu, sebagai suami yang baik, yang sayang istri dan sayang anak, serta penurut, Tatsuo pun segera undur diri dan bergegas menuju kamar, membasuh diri dan mengganti setelannya dengan kaos oblong serta celana pendek. Pakaian santai.

Setelah rapi, ia bergegas turun, mengecek keadaan dapur. Sudah selesai, kah, istrinya bersih-bersih?

Dan jawabannya adalah sudah.

Suzaku memang istri unggulan, Tatsuo jadi makin cinta.

"Taiga nungguin di ruang baca, Mas. Nanti aku nyusul, lagi bikin susu buat Taiga." Ujar Suzaku lembut, suaminya hanya mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan dapur, menghampiri sang putra yang tampak duduk manis di atas sofa, tangannya mengenggam sebungkus potato chips dengan perisa keju.

"Hayo, kamu ketahuan, ya. Ngemil setelah makan malam." Kagami langsung mingkem seperti maling ayam kepergok warga, tangannya berhenti memasok potongan kentang itu ke dalam mulutnya.

Sang ayah tertawa laknat, sementara putranya dilumuri keringat dingin, "Ja-jangan aduin Mama, ya, Pa!" rengek sang putra.

"Baiklah, asalkan kamu kenalkan Papa dengan gurumu itu, ya?" pinta sang Ayah sembari mengedip genit, "Maksudnya Kuroko-sensei?"

"Iya, guru yang katamu manis itu."

Kagami baru saja akan mengiyakan, tapi ia kembali terdiam dengan mulut ternganga serta keringat bercucuran seperti baru melihat setan. Tatsuo bingung melihat tingkah anaknya itu.

"Kau kenapa, Taiga? Kok seperti habis liat setan begitu?" tanya sang Ayah penasaran, tangan Kagami terangkat perlahan, jari telunjuknya menunjuk sesuatu dibelakang Tatsuo dengan gemetaran.

"Ada apa, Taig—"

"Siapa yang manis, hah?"

Tatsuo langsung mingkem, lidahnya nyaris tergigit ketika suara mengerikan itu terdengar.

Wah, gawat, ada istriku yang tengah mengamuk di belakang sana, batin Tatsuo ketakutan.

Suzaku masuk lebih dalam, meletakkan baki berisi 3 gelas yang mengeluarkan kepulan asap karena tampaknya isinya adalah lahar dari gunung merapi yang baru meletus. Wah.

"Jawab, Mas. Siapa yang manis?"

Tatsuo meneguk air ludah berusaha mencari alasan, "I-itu, Papa bilang guruku manis, jadi dia mau minta dikenalkan, terus Papa kasih aku potato chips ini buat pujuk aku."

Pria yang mulai berumur itu buru-buru menoleh ke arah putranya dengan tatapan tak percaya.

"A-Apa yang kamu bicarakan Taig—"

"Ooh, jadi Mas tertarik sama gurunya Taiga, ya?" tanya Suzaku sambil merangkul leher suaminya sok mersa, auranya terasa mengerikan bagi Tatsuo, bahkan Kagami pun sampai bergidik ngeri. Dalam hati berdoa demi keselamatan sang ayah dan tentu saja dirinya yang bukan tak mungkin ikut-ikutan kena sembur sang Ibu.

"Bu-bukan begitu, Dek.. Ka-kan, apa salahnya mengenal gurunya Taiga dengan baik. Su-supaya kalau nanti ada apa-apa bisa dengan mudah dihubungi." Tatsuo mulai mengada-ada.

Suzaku mengeratkan rangkulannya—yang kini lebih pantas disebut cekikkan pada leher sang suami, "Kalau begitu, besok aku juga ikut mengantar Taiga ke sekolah. Kita akan berkenalan dengan guru itu bersama, mengerti?"

Suzaku tersenyum, Tatsuo mengangguk takut-takut.

"Ya, anak pintar." Ujar wanita itu sembari mengusap kepala suaminya sayang.

Kagami merasa baru saja melihat atraksi seorang pawang menjinakkan Harimau yang mengamuk. Wah, ibunya hebat sekali.

"Ma-Mama.. tugasku besok bagaimana?" tanya Kagami takut-takut, Ibunya itu segera melepas rangkulannya dan menepuk tangan sembari tersenyum, "Benar juga, kalau begitu ayo kita mulai."

Dan kelas menyanyi Kagami yang berada di bawah bimbingan sang ayah dan ibu tercinta pun di mulai.


Matahari yang bersinar dari ufuk timur menyelipkan sinarnya melalui kaca jendela kamar Kagami yang kebetulan gordennya lupa ditutup. Mengusik tidur anak harimau itu.

Tubuh mungilnya meggeliat, berusaha masuk ke dalam selimut untuk menhindari sinar mentari jahil yang mengganggu tidur nyenyaknya. Ia masih ingin berkelana di dunia mimpi sedikit lebih lama lagi.

Tapi, tampaknya tak hanya sang surya yang melarangnya tidur lebih lama. Sang Ibu yang masih mengenakan celemek kini juga ikut-ikutan berusaha menariknya dari alam mimpi.

"Taiga, Sayang. Ayo bangun, Nak. Sudah pagi, loh."

Kagami masih enggan membuka mata. "Taiga."

Matanya masih berat, tak bisa terbuka dengan mudah, "Ayolah, Sayang. Kamu bisa terlambat sekolah."

Tangan Suzaku mulai mengusap kepala putranya lembut—yang sebenarnya malah membuat Kagami terbuai untuk melanjutkan mimpinya.

"Taiga, ayolah, kau kan sudah janji untuk mengenalkan Mama pada gurumu yang manis itu."

Oh, benar juga, Kuroko-sensei.

Sepasang kelereng berwarna merah gelap mulai terlihat ketika kelopak matanya terangkat perlahan, maninya itu langsung menangkap sosok sang ibu yang tampak sangat cantik ketika tersenyum.

"Akhirnya bangun juga." Suzaku memberikan kecupan selamat pagi pada dahi putranya, "Ayo, cepat mandi. Kau bisa melakukannya sendiri, bukan?"

Kagami yang belum bangun sepenuhnya hanya mengangguk lemah, kedua tangannya mengucek-ngucek matanya yang kucel sembari menunggu seluruh nyawanya terkumpul. Sembari menguap lebar, matanya mengikuti gerak-gerik sang ibu yang berjalan keluar kamar.

Bocah itu dengan malas merangkak turun dari kasurnya, berjalan terseok-seok menuju kamar mandi seperti orang yang tak makan berhari-hari. Padahal, Suzaku selalu memastikan bahwa asupan nutrisi sang putra terpenuhi, 4 sehat, 5 kurang, 6 juga kurang, 7 masih kurang, 8 kurang juga, 9 kurang dikit, 10 sempurna.

Setelah perjalanan cukup panjang menuju kamar mandi yang sebenarnya hanya lima langkah orang dewasa dari tempat tidur Kagami, anak itu bergegas melepas pakaiannya dan segera menyegarkan diri di bawah shower yang menyala. Berusaha untuk tetap terjaga.

Ia tak ingin namanya terpampang di headline koran harian Jepang karena tertidur di bawah shower yang menyala hingga membuat rumahnya kebanjiran atau orang seantero Jepang kehabisan air karena ia embat semua. Itu sama sekali bukan yang bagus untuk menjadi terkenal.

Kalau memang namanya mau dimasukkan ke dalam koran, ia ingin diliput dalam berita yang lebih berkelas. Seperti menjadi lomba makan cheeseburger terbanyak dan tercepat, atau semacam itulah.

Puas berimajinasi di bawah siraman air, anak itu segera mematikan shower yang tadi menyala dan menyambar handuknya. Bergegas jalan keluar kotak berlantai keramik nan dingin itu untuk berpakaian di kamarnya.

Tenang saja, Kagami bukan burung yang mandinya cuma basah-basahin bulu di kubangan air sehabis hujan, dia sudah menggosok tubuhnya dengan sabun, kok, lengkap dengan sikat lantai pula, agar daki yang menempel lepas semua.

Bahkan rambutnya pun kini sudah sangat wangi karena entah sengaja atau tidak ia menuangkan sebotol penuh shampo pada kepala kecilnya itu.

Sekarang aku tak perlu khawatir kalau Kuroko-sensei mengusap kepalaku nanti. Rambutku sudah wangi! Batin Kagami sembari tersenyum aneh, wah, dia mulai berpikiran yang aneh-aneh.

"Taiga! Ayo cepat turun!" panggil sang ibu dari dapur, "Iyaaa!" sahut Kagami sembari mengancingkan seragamnya.

Kaki mungilnya mulai berlari keluar kamar menuju ruang makan, ia langsung bergabung dengan sang Ayah yang tampak asik membaca koran di meja makan.

"Taiga, kemejamu kenapa? Kancingnya berantakan begitu." Tegur Suzaku, "Aduh, ceroboh sekali, sih."

Gawat, gara-gara keasikan memikirkan sang guru tercinta ia sampai salah mengancingkan kemejanya. Untung saja ibunya menyadari hal itu sebelum berangkat sekolah, kalau sampai Kuroko-sensei melihatnya berantakan seperti ini, mau ditaruh kemana mukanya?

Selesai merapikan kemeja sang putra, wanita itu pun segera menuangkan susu segar pada gelas milik Kagami. "Habiskan, ya."

Kagami kecil mengangguk, ia segera meneguk susu itu hingga tak bersisa sembari menunggu telur mata sapi buatan sang ibu matang.

Sarapan kali ini sama seperti biasanya, roti panggang dengan lelehan mentega, telur mata sapi, dan potongan daging sapi. Khas Amerika, tanah kelahiran sang ibu.

"Suzaku," panggil Tatsuo yang tampak memutar-mutar cangkir kopi hitamnya, "Iya?"

"Sesekali buatlah sarapan ala orang Jepang, kau kan juga punya darah Jepang dalam nadimu." Ujarnya sembari menyeruput kopi itu.

Istrinya menoleh, "Kenapa? Sarapan seperti ini juga enak, kan? Lagi pula, kita makan seperti ini juga saat sarapan saja. Kalau makan malam aku kan sering bikin makanan Asia, gyoza semalam contohnya."

Tatsuo menghela nafas, "Bukan begitu, Dek. Kan kasian Taiga kalau tidak pernah merasakan sarapan ala orang Jepang."

"Aku tidak apa-apa, kok. Yang penting aku bisa makan." Jawab Kagami acuh-tak acuh sambil mencomot roti bakarnya, Suzaku tersenyum penuh kemenangan, "Lihat?"

Pria itu menatap kecewa ke arah putra yang ia harapkan bisa membelanya itu. Kagami, Papa kecewa padamu, Nak.

"Masih bagus aku mau masak buat kalian, Mas. Bukannya ku biarkan sarapan dengan sereal ataupun makanan instan lainnya." Lanjut Suzaku sembari mematikan kompor.

"Iya, iya, terimakasih karena selalu menghidangkan makanan yang lezat untuk kami berdua, istriku sayang." Tatsuo mengalah. Wanita itu tersenyum senang.

Setelah menghidangkan telur mata sapi untuk suami dan putra tercintanya, tak lupa membagi potongan daging sesuai porsi masing-masing, Suzaku yang ternyata mengenakan kemeja putih dan rok rapi di balik celemeknya duduk bersama di meja makan, menikmati kopi susunya.

Keluarga itu menikmati sarapan pagi yang lama-lama menjenuhkan—untuk Tatsuo—dengan tenang dan cukup cepat. Jam menunjukkan pukul tujuh ketika mereka selesai menikmati menu sarapan mereka.

Sementara Kagami dan Tatsuo sibuk mengenakan kaos kaki dan sepatu mereka, Suzaku juga tampak sibuk mengenakan blazer dan merapikan make-upnya. Sentuhan akhir berupa polesan lipstik merah muda pada bibirnya mengakhiri acara bersolek yang kira-kira memakan waktu 30 menit itu. Lama sekali.

Kagami dan Tatsuo yang sudah selesai mengenakan sepatu nyaris berjamur karenanya.

Syukurlah Jepang cukup hangat hari itu, jadi jamur tak dengan mudahnya tumbuh pada permukaan kulit mereka seperti pada roti basi yang bersemayan di bawah tempat tidur Kagami.

Ketiganya berjalan keluar rumah setelah yakin pintu terlah terkunci rapat, senyuman ramah dari supir pribadi mereka menyambut. "Oh, nyonya besar hari ini juga ikut mengantar tuan muda?"

"Nyonya saja, jangan pake besar." Protes Suzaku sembari menggembungkan pipinya, "Oh, maafkan saya, Nyonya."

Pria yang sudah lama mengabdi untuk keluarga Kagami itu membukakan pintu mobil untuk tuannya dengan patuh, mempersilahkan mereka masuk sembari sedikit membungkuk.

Semua kini sudah duduk manis di kursi, supir mereka pun sudah siap tancap gas. Mobil hitam itu pun berjalan perlahan meninggalkan kediaman Kagami, bergabung dengan ramainya kendaraan di jalan raya.

Perjalanan menuju taman kanak-kanan tempat Kagami menimba ilmu kali ini tak terlalu lama, hanya perlu 5 menit dan bangunan penuh pelangi itu pun dapat di tangkap oleh netra. Mobil menepi perlahan, pintu sisi kanan terbuka ketika keempat roda bundar itu tak lagi berputar.

Kagami turun duluan, kemudian diikuti Suzaku, dan akhirnya Tatsuo. Ketiganya berjalan memasuki lingkungan sekolah itu. Kuroko yang mendarari kedatangan ketiganya segera menghampiri mereka sembari tersenyum ramah, "Halo, Kagami-kun." Sapanya pada Kagami ramah.

"Sensei! Ini Papa dan Mamaku!" seru Kagami sembari menunjuk dua orang dewasa yang berdiri di belakangnya.

Kuroko menoleh ke arah mereka, menyuguhkan senyuman manis tak lupa sapaan sopan, "Oh, selamat pagi, senang bisa bertemu kalian."

Tatsuo dan Suzaku membalasnya dengan sapaan yang sama dan tentunya senyuman manis yang sama, diam-diam, keberadaan mereka menarik perhatian anak-anak lainnya. Terutama seorang anak berkulit redup yang mengintip dari jendela bersama kawan pirangnya.

"Lihat, kakak itu cantik sekali!" seru anak itu, kawannya mengangguk, "Tapi dia datang bersama Kagamicchi, apakah dia kakaknya, ssu?"

"Hee, beruntung sekali si alis bercabang itu kalau punya kakak secantik dia."

Dari arah belakang, tiga anak datang bersamaan, surai mereka berwarna-warni, merah, hijau, dan ungu. Tinggi mereka pun beda semua, cebol, sedang, dan tinggi. Mereka terus bersama, walau tak ada kemiripan sama sekali pada mereka. Oh, persahabatan itu indah sekali.

Yang paling cebol berjalan mendekat, "Apa yang kalian lihat, Ryouta? Daiki?"

"Oh, kau rupanya Akashi." Ujar yang berkulit paling gelap—Aomine Daiki.

"Itu, kami sedang melihat kakak cantik itu, ssu." Sahut yang pirang sembari menunjuk keluar jendela.

Anak bersurai merah itu mendekatkan kursi pada dinding, ia naik ke sana agar bisa menilik keluar jendela, maklum, tubuhnya pendek sekali, yang paling pendek mungkin di kelas itu.

"Lihat? Cantik sekali, bukan?" Aomine tersenyum lebar, Akashi memperhatikan orang yang dimaksud dua kawannya itu dengan seksama, "Oh, itukan Kagami Suzaku, istri dari Kagami Tatsuo, rekan kerja Papaku."

"Eh? Kau kenal?" tanya Kise, Akashi mengangguk, "Aku bertemu dengannya beberapa kali."

Aomine tampak antusias, tapi kemudian wajahnya berubah bingung, "Istri siapa tadi kau bilang?"

"Kagami Tatsuo, ayahnya Taiga." Ulang Akashi, "Eh? Itu artinya dia ibunya Kagamicchi, dong ,ssu?"

Aomine diam, Akashi mengangguk, "Ya, itu benar, Ryouta."

"Waa, Minechin sukanya sama tante-tante." Ledek yang paling tinggi bersurai ungu, "Berisik, Murasakibara!"

Yang berkacamata dengan surai hijau menggeleng kecewa, "Kau tidak boleh merebut istri orang, nanodayo."

"Seleranya Aominecchi nggak banget, ssu!" Kise ikut-ikutan mengintimidasi, "Diam! Tadi kau juga bilang dia cantik, kan!?"

Kise berusaha mengingat-ingat, "Tidak ada, ssu."

"Tukang bohong! Kemari kau pirang sialan! Ku pukul, kau!" seru Aomine garang, berlari mengejar Kise.

Tak satu pun dari mereka yang tampak ingin menghentikan acara kejar-kejaran itu, tiga anak yang tersisa hanya menonton dengan tenang, tidak ricuh seperti penonton bayaran yang selalu ada untuk memeriahkan acara-acara talk-show atau sejenisnya di televisi.

Kejar-kejaran itu terus berlanjut hingga akhrinya Kuroko yang datang bersama Kagami memisahkan keduanya, "Kalau kalian bertengkar lagi akan sensei hukum, ya!"

Dua anak itu hanya menundukkan kepala mereka dalam-dalam, Kise menangis, Aomine hanya diam, sesekali anak redup itu mendecih kesal. "Ayo, sekarang berbaikan."

Sembari mengusap air matanya, Kise mengulurkan tangannya pada Aomine, menunggu anak berkulit tan yang agak mesum untuk anak sesusianya itu menjabat tangannya.

"Aomine-kun, ayo jabat tangan Kise-kun." Perintah Kuroko, mau tau mau, sudi tak sudi, Aomine pun dengan sangat terpaksa menuruti permintaan gurunya itu.

Seulas senyum merekah pada wajah pucat Kuroko ketika melihat kedua anak didiknya itu bersalaman, "Ya, itu baru anak pintar." Ujarnya sambil mengusap kepala keduanya lembut.

Kagami dapat merasakan bahwa Akashi yang kebetulan berdiri di sampingnya sedikit terganggu akan pemandangan itu. Anak yang notabenenya paling pintar di kelas itu berjalan mendekati Kuroko, menarik kemejanya pelan, "Sensei, sudah waktunya masuk."

Kuroko menoleh, "Oh, kau benar. Terimakasih karena sudah mengingatkanku, Akashi-kun."

Anak bermanik ruby—yang menurut pengamatan Kagami kadang bisa berubah warna tiba-tiba—itu tersenyum senang karena Kuroko menghadiahkannya usapan pada surai semerah cherry miliknya.

Kecurigaan Kagami pada anak itu semakin bertambah.

Dia pasti benar-benar menyukai Kuroko -sensei! Aku berani bertaruh!

Kuroko pun langsung meminta anak-anak didiknya untuk duduk pada bangku mereka masing-masing, mulai mengabsen dan mendapati bahwa anak yang bernama Momoi Satsuki sudah masuk kembali hari ini.

"Senang melihatmu masuk hari ini, Momoi-san." Kata Kuroko sambil menutup buku absensi, anak yang bernama Momoi itu hanya tersenyum.

Rutinitas pagi sudah selesai, maka kelas berikutnya pun dimulai. "Apakah kalian sudah menghapal lagu yang Sensei minta kemarin?"

Semua anak menjawab serempak, "Momoi-san juga?"

Ia mengangguk, "Dai-chan mengajariku kemarin." Jawabnya sembari tersenyum manis, Kuroko menoleh ke arah Aomine yang tampaknya tak terlalu peduli, "Wah, Aomine-kun baik sekali, ya. Anak-anak, kalian harus meniru tindakan baik Aomine-kun ini, ya."

"Baik, Kuroko -sensei."

Aomine yang baru sadar kalau dirinya dipuji tersenyum, ia menggosok bagian bawah hidungnya senang.

"Nah, siapa yang mau maju duluan?" tanya Kuroko, Akashi langsung mengacungkan tangan percaya diri, "Hm, bagaimana kalau Kagami-kun, dulu?"

Akashi langsung cemberut.

Kuroko-sensei, kalau akhirnya kau malah menunjuk orang, sebaiknya dari awal jangan bertanya. Kan kasian Akashi, hatinya tertohok. Akashi tuh ngga bisa digituin, Sensei. Kuroko-sensei ngga peka banget, nih, payah.

"Eh? Aku?" Kagami menunjuk dirinya sendiri, "Cepat maju, Taiga. Sensei memanggilmu." Ujar Akashi dengan aura-aura mengerikan di sekitar tubuhnya.

Kagami bergidik ngeri melihatnya, ia pun langsung meloncat turun dan berlari ke depan kelas. Sementara menunggu Kagami bersiap di depan sana, Kuroko berjalan menuju grand piano yang terletak di bagian belakang kelas, bersiap memainkan musik pengiring bagi anak didiknya itu.

"Siap?" tanya Kuroko, Kagami mengangguk.

Oh, Vreneli, Please tell me Oh, where is your home?
My hometown, It's in Switzerland.
It's made of wood and stone.
It's right beside the pretty lake surrounded by snow.

Kagami berhenti bernyanyi karena ia merasa diperhatikan dengan tidak wajar oleh kawan-kawannya, raut wajah mereka aneh, memandang Kagami dengan aneh pula.

Menyadari suara nyanyian anak didiknya tak terdengar lagi, jemari Kuroko pun berhenti menari di atas tuts hitam putih. Menoleh ke arah Kagami dengan khawatir, "Ada apa?"

"Sensei! Kenapa dia lagunya berbeda, ssu?" tanya Kise.

"Yang diajarkan Dai-chan kemarin tidak seperti itu." Sahut Momoi.

Aomine tertawa, "Lihat dia, tak hanya alisnya yang berbeda, nyanyiannya pun sampai berbeda dengan kita."

"Apa katamu!?" emosi Kagami tersulut, anak itu berjalan mendekati Aomine dengan wajah gahar.

Lagi-lagi alis yang disinggung.

Kenapa, sih anak ini? Terobsesi pada alisku atau bagaimana, heh?

Kuroko langsung berlari melerai mereka, menjauhkan keduanya agar tak kejar-kejaran, pukul-pukulan, dan kemudian peluk-pelukan seperti pertandingan tinju tempo hari yang berakhir sedikit mengecewakan banyak penonton.

"Aomine-kun, ayo minta maaf pada Kagami-kun." Pinta Kuroko, Aomine menolak.

"Aomine-kun, ayo minta maaf." Kuroko mengulang, Aomine masih keras kepala.

"Aomine-kun, jangan seperti itu." Pemuda biru itu menangkap tangan Aomine, menyatukannya dengan tangan mungil milik Kagami, membuat keduanya berjabat tangan.

Kuroko tersenyum, "Ayo, kata maaf mu mana, Aomine-kun?"

"Aku minta maaf," ujar Aomine enggan, permintaan maaf tak tulus itu hanya di hadiahi gumaman tak jelas oleh Kagami.

Setelah kedua muridnya berdamai, guru yang usianya baru sekitar dua puluhan itu menggiring Kagami kembali ke depan kelas, keduanya berdiri bersisian.

"Sensei! Kenapa liriknya berbeda dengan milik kami, ssu?" tanya Kise.

Anak-anak lainnya juga mulai ribut, kecuali Aomine yang masih bete dan Murasakibara yang sibuk mengemut permen diam-diam. "Itu adalah versi Inggrisnya, bukan begitu, Sensei?"

"Ya, kau benar, Akashi-kun." Sahut Kuroko sembari tersenyum simpul mendengar suara anak didik unggulannya itu, Akashi tersenyum mematut diri.

"Seperti yang kalian ketahui, Ibu dari Kagami-kun lahir dan besar di Amerika, jadi tidak heran jika ia dikenalkan lagu itu dengan lirik Inggrisnya, bukan begitu, Kagami-kun?"

Kagami mengangguk cepat, "Ya, Papa dan Mama sering menyanyikannya sewaktu aku kecil dengan bahasa Inggris. Aku tidak tau kalau ada versi lainnya."

"Nah, maukah kalian bernyanyi bersama untuk Kagami-kun yang tidak mengetahui lirik Jepangnya?" tanya Kuroko pada semua anak didiknya.

"Baik, Sensei!" jawab mereka kompak, Kuroko mengangguk sembari tersenyum senang. Ia kemudian kembali berjalan menuju piano di pojokkan sana. Mulai menekan tuts hitam putih yang mirip acara tv itu perlahan, mengalunkan musik pengiring bagi nyanyian burung kecil di dahan pohon ketika mentari terbit—singkatnya untuk murid-muridnya.

Oh, Vreneli anata no o uchi wa doko?
Watashi no wo uchi wa Suisu-rando yo
Kireina kosui no kotori nando yo~
Yo ho ho, tra la la la,
Yo ho ho, tra la la la,
Yo ho ho!

Semua bernyanyi dengan riang gembira, kecuali Kagami yang merasa tengah diperhatikan oleh seseorang—entah siapa.

Ia terus menerus mengusap tengkuknya selama lagu mengalun, bahkan setelah anak-anak bersorak sorai tak lupa bertepuk tangan riuh pun ia masih merinding Merasa diawasi oleh sepasang mata yang entah milik siapa—Kagami tak tau.

Bahkan ketika kelas berikutnya berlangsung pun Kagami terus menerus merasa dikuntit.

Jangan-jangan yang menguntitku itu adalah penggemar beratku!? Tanya Kagami dalam hatinya.

Jangan terlalu percaya diri dulu, nak. Tak ada jaminan bahwa yang menjadi penggemar berat mu itu bukanlah Om-om berkumis mesum yang demennya sama anak kecil—singkatnya pedofil.

Hati-hati, ya, Kagami. Jaman sekarang banyak sekali pedo liar berkeliaran di luar sana. Jepang sudah tak seaman dulu lagi.

Jepang yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu aman sejahtera sekarang masih sama, hanya saja.. ada beberapa oknum yang tak bertanggung jawab yang membuat Jepang tak seperti dulu lagi.. Jepang yang itu.. kini tinggal kenangan.

Ingin ku lupakan, semua tentang Jepang yang dulu. Namun, tak lagi yang seperti dirimu, oh, Jepangku~

Kagami yang jengah pada narasi yang entah siapa yang membacakannya itu mulai celingak-celinguk, toleh kanan-kiri, atas-bawah, semua arah di periksa. Tapi, tak ada yang tampak mencurigakan.

Semuanya aman sentosa, makmur sejahtera.

Mungkin aku hanya berhalusinasi, ya. Batinnya sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Ketika ia hendak kembali fokus pada tugas menghitung yang diberikan Kuroko, mata Kagami secara tak sengaja menemukan sosok yang terus membuatnya tak nyaman.

Ya, sepasang kelereng berwarna merah muda milik seorang gadis yang duduk di belakang Aomine rupanya sejak tadi terus mengawasi setiap gerak-gerik Kagami.

Ada apa dengan anak itu?

Bel berbunyi nyaring, menandakan bahwa jam makan siang telah tiba. Anak-anak bersorak gembira, sepertinya cacing-cacing di perut mereka yang curi semua nutrisi telah berkonser sejak tadi—minta diberi makan.

Sebenarnya Kagami masih penasaran dengan anak perempuan itu, tapi karena perut karetnya sudah mulai keroncongan, ia pun memutuskan untuk menunda investigasinya dan segera berlari menuju ruang makan menyusul anak yang lain.

Teman-teman sekelas Kagami berbaris rapi membawa nampan, mengantri dengan sabar, menunggu giliran untuk mendapat jatah makan siang dari Kuroko yang bertugas membagikan makanan. Ia tampak sibuk dengan celemek putih dan sendok sup pada tangannya.

"Vanilla? Atau Strawberry?" tanya Kuroko pada Midorima, "Vanilla saja, Sensei." Jawab anak berkacamata itu.

Sekotak susu vanilla pun diletakkan Kuroko pada nampan si kacamata itu. "Selanjutnya!"

Midorima keluar dari barisan, mencari tempat duduk yang kosong. Seorang gadis kecil bersurai merah muda seperti maniknya berjalan maju, menyodorkan nampannya.

Sembari tersenyum Kuroko pun meletakkan mangkuk berisi sup miso, nasi, dan piring kecil berisi tumis sawi. "Apel atau Jeruk, Momoi-san?"

Gadis itu tampak berpikir sejenak, "Apel, Sensei. Dan aku ingin susu rasa strawberry!"

"Baik." Sahut Kuroko sembari memberikan pesanan muridnya itu. Momoi yang telah mengucapkan terimakasih langsung meninggalkan antrean, ia menoleh sebentar dan mendapati Kagami berdiri di sana.

Mata mereka bertemu, saling memandang.

Apakah benih-benih cinta akan muncul?

Kagami bergidik karena terus –terusan di perhatikan, "Apa?"

Gadis itu—Momoi buru-buru mengalihkan pandangannya, berlari kecil menuju bangku kosong di sebelah Murasakibara.

Apa-apaan sih anak itu?

"Kagami-kun, kau mau buah apa?" tanya Kuroko, suaranya membuat Kagami kembali ke dunia nyata, "Apa saja boleh, susunya juga terserah."

Nampannya kini telah terisi penuh, anak itu pun segera berjalan mendekati meja yang di duduki oleh Kise. Si pirang itu pun menyambut Kagami dengan senyuman ramah.

"Kagamicchi, kau tidak bisa pakai sumpit, ya?" tanya Kise penasaran, "E-eh..?"

"Benarkah? Apa perlu aku mintakan sendok pada Sensei, ssu?" Kise menatapnya lekat-lekat, Kagami menggeleng cepat, "Ta-Tak apa, aku akan segera terbiasa."

Kise pun hanya membulatkan mulutnya sembari mengangguk, kemudian kembali melahap nasinya dengan tenang. Kagami juga hendak menikmati makananannya seperti yang dilakukan Kise, tapi nyatanya, ia tak bisa karena terus menerus merasa diperhatikan.

"Oi, Kise." Panggil Kagami, Kise menoleh, "Hm?"

"Tidakkah kau merasa kalau cewek merah muda itu terus memperhatikanku?"

Anak berbulu mata lentik itu buru-buru menoleh ke belakang, mencoba memastikan apa yang barusan Kagami bilang. Dan benar saja, Momoi tengah memperhatikan Kagami dengan intensifnya sampai-sampai tak sadar kalau Kise juga dengan memperhatikan dirinya.

"Kau benar, dia bahkan tak berkedip!" seru Kise, "Jangan-jangan, Momoicchi suka padamu, ssu!"

Semburat merah mendadak memenuhi wajah Kagami, anak itu langsung salah tingkah, "A-apa yang kau bicarakan, bodoh!"

"Kagamicchi malu-malu! Cieee!" Kise semakin gencar menggoda Kagami yang sudah mulai malu-malu kambing, tak hanya wajahnya yang merah, kini telinganya pun juga sudah mulai tertutup warna merah, dia mirip kepiting rebus.

"Hentikan, Kise!" seru Kagami kesal, tapi memang dasar Kise bengal (bukan begal, ya, bengal. Ada 'n' diantara 'e' dan 'g'. Wah, 'n' jadi PHO nih.), ia terus saja menyerukan kata 'ciee' dengan nyaringnya hingga Kagami ingin menjadikan si pirang ini kentang tumbuk sekarang juga.

Kuroko yang dari jauh memperhatikan hanya tersenyum tipis, pemuda—bukan, mungkin lebih cocok dikatakan pria karena ia sendiri sudah memiliki istri dan beranak satu pula—berjalan menghampiri dua siswanya itu, langkahnya mulai cepat karena takut dua siswanya itu akan baku hantam nantinya.

"Ada apa, Kise-kun? Kagami-kun?" tanya Kuroko, kedua anak itu bergidik seolah kaget, "Ku-Kuroko-sensei..."

"Apakah makanan kalian sudah habis?" tanya Kuroko, Kise dan Kagami dengan cepat menggeleng.

"Kenapa? Ada makanan yang kalian tidak suka?" gelengan dari Kise dan Kagami kembali jadi jawaban, "Kalau begitu, ayo cepat habiskan."

"Ba-baik, Sensei!"

Keduanya kembali melahap makanan mereka dengan cepat, Kagami yang tadinya kesulitan menggunakan sumpit pun tiba-tiba menjadi lancar. Saking lancarnya, ia menyumpit nasi sebutir demi sebutir masuk ke dalam mulutnya. Engkau sungguh berbakat wahai bocah dengan alis bercabang.

Jam makan siang telah habis, anak-anak yang sudah selesai melahap makanannya hingga tak tersisa berbondong-bondong membawa nampan kosong mereka menuju tempat pencucian piring.

"Kalian sudah letakkan nampan kalian semua?" tanya Kuroko,

"Sudah, Sensei!"

"Bagus, sekarang ayo masuk ke ruang tidur kalian." Pria yang biasanya pendiam tapi ramah terhadap anak kecil itu menggiring anak didiknya menuju ruang berpendingin udara yang bercat putih dengan pola pelangi pada dindingnya—yang tak lain tak bukan adalah tempat yang menjadi ruang tidur siang mereka semua.

Kuroko dan murid-muridnya bahu membahu menggelar futon di atas lantai, menyusunnya sedemikian rupa. "Sensei!"

"Ada apa, Momoi-san?"

Gadis kecil itu berbisik pada gurunya, sepertinya ia tak ingin teman-temannya mengetahui perbincangannya dengan sang guru itu.

"Baiklah." Ujar Kuroko sembari tersenyum, Momoi bersorak kecil, kemudian membungkuk terima kasih.

Kagami kecil tampak sudah siap tidur di bawah selimutnya, ia berbaring memandang langit. Sementara Kise yang sejak kemarin memang tidur di sisi kiri Kagami baru saja akan berbaring, namun...

"Kise-kun, mau kah kau hari ini tidur di sebelah Aomine-kun?" tanya Kuroko lembut, Kise menatap bingung, "Eh? Kenapa? Aku tidak mau, Aominecchi kalau tidur ngorok, ssu."

"Siapa yang ngorok, heh!?" Aomine bersiap melempar bantal ke arah Kise, namun dihentikan dengan sigap oleh Akashi dan Midorima.

Kuroko menghela nafas, "Kemarikan telingamu, Kise-kun."

Pria itu pun membisikkan apa yang tadi diminta Momoi pada murid bawelnya itu, "Bisakan?"

"Hm.. Baiklah kalau begitu, ssu!" Bagus, Kise kooperatif sekali hari ini. Ia segera meraih bantalnya dan meluncur menuju futon yang biasa ditiduri Momoi di sebelah Aomine.

Dan tentu saja, Momoi yang kini mengisi tempat Kise di samping Kagami.

Eh? Apa yang dilakukan anak ini!? Tanya Kagami dalam hati.

Ketika semua sudah berbaring dengan nyaman di futon masing-masing, Kuroko pun mulai membacakan dongeng sebelum tidur, untuk hari ini kisah yang dibawakannya adalah tentang Momotaro, pendekar yang terlahir dari dalam buah persik,

"Dahulu kala, di sebuah desa, kakek dan nenek hidup berdampingan." Kuroko memulai kisahnya.

"Suatu hari, ketika nenek sedang mencuci di sungai, dari hulu sungai, sebuah buah persik yang sangat besar terapung-apung mendekati nenek."

Kagami berusaha mendengarkan cerita itu dengan seksama, memasang telinganya sebaik mungkin, tetapi tatapan dari anak yang berbaring di sebelahnya membuat Kagami tak bisa fokus. Ia terus merasa terusik.

Entah sudah berapa kali sebenarnya mata Kagami nyaris tertutup, namun ketika teringat akan anak perempuan yang kini berbaring di sisinya sembari memandangi dirinya tanpa berkedip, kedua mata Kagami kembali terang. Rasa kantuknya terbang ke langit ke tujuh.

Bahkan ketika cerita sudah hampir mencapai akhir, Kagami masih saja terjaga. Suara Kuroko yang begitu lembut pun gagal membawanya ke dunia mimpi—padahal anak-anak lainnya sudah asik berkelana di dunia khayal mereka masing-masing.

"Momotaro pun berhasil mengalahkan para iblis, nenek dan kakek memuji keberaniannya, begitu juga warga desa. Dengan harta yang ia bawa dari pulau itu, mereka semua pun hidup bahagia selamanya. Tamat."

Bagus, lullaby spesial dari Kuroko-sensei sudah berakhir, dan mata Kagami masih terbuka lebar, terimakasih pada anak perempuan menyebalkan yang tampaknya tak pernah bosan memandangi dirinya.

Ketika Kuroko yang telah mengucapkan pesan selamat tidur berjalan keluar ruangan, Kagami dapat merasakan kalau seseorang yang sudah pasti merupakan Momoi menarik kemejanya.

Mau tak mau, Kagami pun memutar posisi tidurnya, "A-ada apa?"

"Nee, Kagami-kun." Panggil Momoi yang kini memandang lurus ke arah alisnya.

"Kenapa alismu bercabang seperti itu?"


A/N :Halo, wah, siapa sangka kalau ini akan saya lanjutkan. Haha-

Oh, saya minta maaf kalau ceritanya dirasa agak memaksa, dan say mohon ampun kalau komedinya garing, kriuk, kress. Saya akan coba perbaiki untuk kedepannya. Terimakasih banyak atas review yang ditinggalkan para pembaca sekalian, saya benar-benar terharu.

Oh, saya minta maaf, saya melupakan bayi yang bersin karena dipanggil lemah sama Suzaku pada chapter pertama. Saya minta maaf karena telah melupakannya. Mungkin, anak malang itu akan memulai debutnya pada chapter berikutnya. Mungkin saja.

Okeh, buat kalian yang mau nyempetin singgah di sini makasih banyak. Kritik dan Saran, jangan lupa masukan akan selalu saya tunggu, adios amigos~ ahaha-