Sebelum itu, maafkan ceritanya dari chapter 1-4 kedepan bakalan mirip kaya BSD mungkin sama. Ini cerita jaman 2016 awal, jadi saya gatau apa-apa dulu, masih polos :'D dan cerita ini udah draft sampai chapter 14 dan itu juga belum tamat *huhuhu~*

Warning:Cerita mirip anime tetangga, dan kata-kata umpatan. Gaje karena saya 100% pemula, hihihi~

Haikyuu selalu milik om Furudate!


2. Gagak Hitam.

Sebuah gudang tua yang berdinding kayu. Langit-langit atap sana sudah mempunyai lubang yang besar. Awan menutupi sebagian cahaya sinar rembulan. Hinata duduk di atas balok besar, memeluk kedua lututnya sambil menenggelamkan kepalanya.

"Sugawara-san... aku kira ini adalah hal yang buruk..." Hinata berkata.

"Tidak, ini adalah salah satu rencanaku yang paling mudah. Lagian, gagak hitam itu bukanlah tandinganku." Sugawara membuka halaman berikutnya pada buku yang ia baca. "Walaupun tampangku seperti ini, aku adalah anggota andalan The Middle."

Hinata terkekeh hambar. "Aku iri kepadamu, Sugawara-san. Kau benar-benar sangat percaya diri." Pelukan terhadap lututnya pun mengerat. "Tidak sepertiku..." Hinata menghembuskan napasnya. "Aku tidak tahu besok aku akan hidup seperti apa. Mungkin mati saja lebih baik."

Sugawara melihat tubuh bocah mungil itu dalam diam. "Dimana ada kesulitan, pasti kemudahan akan menyusulmu." Pemuda berambut kelabu itu membalikkan halaman berikutnya pada buku itu lagi.

Tsukishima yang berada di sebelah Hinata hanya melihat Sugawara dengan penuh kecurigaan. "Buku apa yang kau baca?"

"Buku psikologi." Jawab Sugawara. "Saking aku menyukai buku ini, aku sampai hafal semua isinya."

Hinata mengangkat kepalanya. "Bukannya membosankan jika membaca satu buku yang sama berulang kali?"

"Hahaha... Orang-orang tidak akan bosan jika membaca buku yang disukainya."

Hujan sudah berhenti. Hanya angin kecil dan hawa-hawa dingin yang menyelimuti. Dari suasana yang sunyi, terdengar suara besi besar yang jatuh di bekalang Hinata. Ia berteriak, turun dari balok besar sembari menutupi telinga dengan panik. "Aku baru saja mendengar suara di sana." Ucap Tsukishima menjauhi tempatnya.

"Ya." Jawab Sugawara masih membaca bukunya dengan santai.

"Itu dia! Si Gagak Hitam! Dia sudah ada di sini! Dia ada di sini! Aku yakin itu gagaknya, Sugawara-san!" Seru Hinata panik.

"Tidak, kupikir itu hanya angin yang menjatuhkan sesuatu." Jawab Sugawara masih membaca bukunya.

"Mana mungkin angin bisa menjatuhkan besi!"

"Tenang, Hinata-kun." Sugawara menutup bukunya dengan satu tangan, dan membuat suara tutupan buku itu terdengar sangat keras. "Gagak tidak muncul dari tempat seperti itu."

"Bagaimana kau bisa yakin?" Tanya Tsukishima dingin. Sugawara menghembuskan nafas panjang. "Kita lihat saja." Lalu ia melihat ke Hinata dengan pandangan jahil. "Kau suka volley, kan?"

Parut wajah panik Hinata tambah menjadi-jadi. "Apa maksudmu, Sugawara-san? Kumohon...! Jangan buat aku bersemangat!" Bukannya berhenti, Sugawara juga tambah memancing semangatnya Hinata dengan terus mengaguminya secara pura-pura. "Wah, aku juga suka dengan volley! Saat di sekolah dulu pun aku menjadi bagian setter. Bukannya Hinata-kun menjadi tim inti di klub volley sekolah? Kalau begitu aku akan memberikanmu toss yang spesial!"

"TOLONG HENTIKAN!" Jerit Hinata mencengkram kepalanya.

"Justru itulah yang membuatnya terasa ganjal." Jelas Sugawara dengan tenang. "Aku ingin melihat, siapa yang menghancurkan sesuatu di depanmu saat kau bersemangat?"

"Kau bisa terkena Cherophobia kalau kamu selalu diancam seperti ini. Rasa takut pada kebahagiaan karena yakin ada hal buruk yang akan terjadi setelahnya. Psikologi Kejiwaan, jilid 3, halaman 117, paragraf kedua, kalimat terakhir." Sugawara mengacungkan telunjuknya. "Kau ingat apa yang dikatakan Daichi? Organisasi The Middle beranggotakan orang-orang yang memiliki kekuatan supernatural."

Tsukishima menggepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tidak ingin amarahnya keluar sekarang gara-gara pemuda yang bernama Sugawara itu.

"Sekalipun tidak banyak yang tahu," Sugawara melanjutkan. "Ada orang-orang yang memiliki kekuatan supernatural di dunia ini. Ada yang menggunakan kekuatan mereka untuk meraih kesuksesan, ada yang menggunakan kekuatan mereka untuk kepuasannya, dan yang lain jatuh karena tak mampu mengendalikan kekuatannya." Jelas pemuda bertahi lalat di sebelah mata kirinya. "Dan itulah kenapa perang antar saudara ini terjadi."

Tsukishima melangkahkan kaki ke depan Sugawara dan mencengkram kerah pemuda yang lebih pendek darinya. "Sudah kuduga ada yang tidak beres. Apa yang kau inginkan kepada kami?!" Gerangnya penuh amarah.

Hinata menjambak rambut jingganya. Ia berteriak histeris. Bocah itu semakin tak karuan. Ia terlihat sedang megalami kegilaan. Garis lingkaran pun muncul bercahaya dalam kegelapan kelam.

"Sialan, apa yang kau lakukan?!" Seru Tsukishima menguatkan cemgkramannya. Salah satu alis Sugawara terangkat. Menyengir meremehkan.

"Membuktikanmu." Jawabnya singkat. "Kau mempunyai kemampuan supernatural yang paling hebat, bukan?"

Mata Tsukishima terlihat berapi-api penuh kemurkaan di balik bingkai kacamatanya, melihat bibir Sugawara yang bergerak lambat. "Kemampuan di Atas Derajat Dewa."

Tsukishima membanting Sugawara ke pinggir, dan pemuda itu pun mendarat dengan mulus. "Mau tunggu apa lagi? Cepat, kita harus hentikan Gagak Hitam itu!" Seru Sugawara. Tsukishima menghentakan langkahnya ke arah Sugawara. "Sebelum menghentikannya, aku akan menghentikan detak jantungmu terlebih dahulu." Ancam Tsukishima.

Tsukishima hendak memukul kepala Sugawara, tetapi ia melesat cepat menghindari pukulan yang membuat dinding kayu gudang besar itu hancur dalam sekali sentuhan.

"Kau menahan dirimu, ya? Aku lihat di berita, dengan sekali tinju, gedung 24 tingkat saja sampai hancur..." gumam Sugawara polos. Tsukishima mendecih.

Jeritan Hinata terdengar dengan histeris. Sayap gagak hitam pun terlihat tumbuh di punggung milik Hinata. Matanya berubah menjadi warna merah seperti burung gagak. Kemudian, terlihatlah burung gagak raksasa. Gagak Hitam yang Hinata takutkan, berada di dalam dirinya sendiri.

Gagak Hitam itu berkoak, suaranya nyaring sampai kaca-kaca di gudang besar itu pecah. Ia mengibaskan kedua sayapnya yang besar. Menggunakan cakarnya untuk menangkap Tsukishima dan Sugawara.

Mereka berdua menghindar, balok-balok besar pun berubah menjadi serpihan-serpihan kecil. Gagak Hitam itu menyerang lagi. Bulu sayapnya menjadi runcing dan tajam, lalu dikibasnya sekali sayap itu, dan bulunya meluncur banyak dengan cepat.

Tsukishima melompat ke atas Gagak Hitam. Mengendalikan gagak besar itu dengan cengkraman di kepalanya. Cahaya berwarna kuning bersinar terik dalam sekejap. Gagak itu sudah dalam kendali Tsukishima. Pemuda berumur sembilan belas tahun itu bersiul, melihat aksi mereka berdua.

Kali ini, Sugawara terpojoki. Di sebelah kanannya ada Tsukishima dengan kekuatan Di Atas Derajat Dewa dan Hinata dengan Gagak Hitamnya. "Sekarang, menyerahlah, Sugawara-san." Tsukishima membuka suaranya dengan ekspresi angkuh merendahkan. Sugawara menyengir, dia melompat dan berlari di dinding kayu tua gudang besar itu.

Cakaran dan hantaman gagak hitam itu pun menghancurkan sebagian besar gudang tuanya. Sentuhan dan tinjuan Tsukishima juga menghancurkan apapun. Suara-suara bising mengiringi malam sepi itu.

"Ini luar biasa." Komentar Sugawara. "Kalian bisa dengan mudah..."

Besi besar dilempar ke arah Sugawara yang hendak mendarat. Pemuda itu menghindarinya, tetapi tidak bisa menghindari pipi kanannya yang tergores oleh ujung besi yang tajam itu.

"... Mematahkan leher seseorang." Lanjutnya.

Akhirnya Sugawara menyentuh tanah dengan kakinya dan membuat sepatunya terseret sampai ke ujung dinding.

Tsukishima pun berlari cepat ke arah Sugawara, mempersiapkan tonjokan ke kepalanya. "AKAN KUBUNUH KA-!" Serunya.

Seketika, semua hanya berwarna putih. Tubuh Tsukishima dan Hinata dalam mode Gagak Hitam tidak bisa bergerak. Seperti ada ribuan rantai yang melilit di sekujur tubuh mereka.

"Katanya mau membunuhku?" Sebuah suara pun muncul di belakang Tsukishima. Lelaki jangkung itu hendak menoleh ke belakang, tapi tidak bisa. Dahi Tsukishima mengkerut. "Tapi maaf saja, kau tidak bisa." Kata Sugawara.

Sedikit demi sedikit, bulu burung gagak itu mengikis dan memperlihatka sosok asli tubuh Hinata. Matanya tertutup tidak sadarkan diri.

"Kemampuanku adalah Halusinasi Pikiranmu." Jelas Sugawara.

"Kau tidak akan bisa menyerangku dengan kemampuanmu. Karena akan kubalas dengan membuat seranganmu itu menjadi sebuah halusinasi belaka." Sugawara tersenyum.

Dalam sedetik, semuanya kembali normal. Gagak Hitam sudah menghilang, Hinata terjatuh tidak sadarkan diri. Tsukishima pun begitu.

"Suga!" Seru Daichi di balik balok-balok yang rusak, melihat goresan di pipi kanan si rambut kelabu itu. "Aku tidak menyangka jika dirimu bisa berdarah."

Sugawara menoleh kemudian tersenyum. "Yo, Daichi~! Kau terlambat." Ia melambaikan tangan. "Aku menangkap gagak hitamnya. Dan bonus, aku juga menangkap orang berkemampuan Di Atas Derajat Dewa."

"Apa, kedua anak ini?" Daichi bertanya. "Dia punya kemampuan berubah jadi gagak." Sugawara menunjuk ke Hinata yang tergeletak, lalu menunjuk ke Tsukishima. "Kalau dia bisa menghancurkan benda dengan sekali sentuhan."

"Ya ampun." Daichi mendengus pelan dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengambil sobekan kertas dari sakunya yang Sugawara berikan saat di restoran. "Apa arti dari semua ini?"

"Burung Gagak Hitam Raksasa dan Manusia Super akan muncul pada pukul setengah sembilan malam di gudang dekat apartemen lokal. Jatuhkan besi yang ada di dalam gudang. Amankan gudangnya agar mereka tak bisa kabur." Sugawara membaca suratnya dengan polos. "Itu adalah pesan bagus yang singkat, 'kan?"

"Kau melupakan hal yang paling penting!" Daichi memperingati. "Selanjutnya, jelaskan dulu. Berkat kau, aku harus memanggil orang yang bahkan tidak bertugas." Daichi mengacungkan jempolnya ke belakang. Tiga orang pemuda dan satu wanita pun muncul dari kegelapan.

"Mereka sudah susah-susah kemari. Setidaknya traktir mereka makan, kek." Ucap seseorang berkulit kuning langsat dengan potongan rambut cepak. Sawamura Daichi, detektif swasta, tangan kanan bos dari The Middle. Nomadic berkemampuan Tak Nyata Menjadi Nyata.

Lelaki berbadan besar dengan sedikit janggut di dagu mengibaskan tangannya kecil. "Tidak apa, Daichi. Di kantor juga kerjaanku hanyalah duduk di depan layar laptop." Azumane Asahi, seorang informan The Middle. Nomadic yang mempunyai kekuatan Tak Lagi Berbohong.

"Yes! Ditraktir Suga-san! Ahahaha!" Seru seorang pemuda dengan rambut yang digundulkan. Tanaka Ryuunosuke, pelajar SMA tahun ketiga. Anggota penyerang dari The Middle. Berkemampuan Fanatik.

Seorang wanita berkaca mata hanya menghembuskan nafasnya. "Setidaknya, dibayari makan malam oleh Sugawara itu lebih baik daripada mendengar celotehan si gundul dan si Noya ini." Shimizu Kiyoko, jurnalistik, sekretaris The Middle, Nomadic berkemampuan sebagai Penulis Takdir.

"Lalu, bagaimana dengan si tinggi dan si pendek ini?" Lelaki yang tingginya hampir setara dengan Hinata melihat ke arahnya dan Tsukishima. Nishinoya Yuu, pelajar SMA tahun ke tiga, anggota penyerang The Middle. Nomadic yang mempunyai kekuatan supernatural Si Anak Desa.

"Kalau begitu, sudah kuputuskan~!" Seru lelaki dengan kulit putih pucat dan surai kelabu. Sugawara Koushi, anggota andalan The Middle, bekerja sebagai bartender di bar terkenal. Nomadic berkemampuan Halusinasi Pikiranmu.

Sugawara berpikir. Tsukishima-kun pernah bilang sesuatu...

"Tapi sama saja. Aku merasa bahwa aku tidak punya alasan untuk hidup. Daripada seperti ini, lebih baik mati saja."

Dan Hinata-kun juga pernah mengatakan hal yang semakna...

"Aku juga tidak tahu besok aku akan hidup seperti apa. Kau benar-benar punya rasa percaya diri yang hebat, Sugawara-san."

Intinya, mereka sedang berada dalam keadaan terpuruk sekarang.

"Mereka akan ikut bersama kita." Sugawara berkata dengan polos.

"Apa?!"

"Yang benar?"

"Suga-san memang bodoh, ya."

"Aku tidak bodoh! Instingku mengatakan kalau mereka harus ikut juga!" Saat Sugawara mencemooh, Hinata bangun dari alam bawah sadarnya, disusul oleh Tsukishima.

Mata Nishinoya pun melebar. "Kalian! Mereka sudah bangun!" Nishinoya melambaikan tangannya.

Hinata pun terduduk. "Ugh... apa yang terjadi?" Tanyanya. Sugawara menoleh. "Hei Hinata, rupanya kau sudah sadar. Apa kamu ingat apa yang terjadi saat kau berubah?" Hinata beranjak duduk. "Apa maksudnya...?"

"Tapi apa itu yang ada di bokongmu?" Tanya Tsukishima datar menunjuk ke belakang Hinata. Karena ingin tahu, Hinata memutar kepalanya ke belakang. Ekor burung gagak pun terjulur panjang dari bokongnya. "HWAAA APA INI? APA INI? GHYAAA!" Hinata berlari-lari sambil memukul bokongnya sendiri. Sedangkan Tsukishima hanya menahan tawa melihat tingkah laku bodoh si bocah berambut jingga.

Sugawara mendengus, puas. "Hinata Shoyou! Tsukishima Kei!" Serunya lantang penuh dengan kemantapan. Tsukishima nemoleh dan Hinata berhenti dari adegan lari-berlarinya. Dengan sepenuh hati, Sugawara menjulurkan tangannya, dan menunduk hormat. "Selamat datang, di The Middle Organization."

Terdapat sebuah jeda setelah itu, dan beberapa detik selanjutnya Hinata dan Tsukishima melempar pandangan sinis nan jijik.

"Maksudnya?"

"Apa-apaan itu?"

Daichi menepuk pundak pemuda bersurai kelabu itu dengan penuh pengertian. "Menyerah sajalah, Suga. Mereka menolak ajakanmu."

"Hei! Setidaknya hibur aku sedikit, napa?!"


Terima kasih telah membaca fanfiction aneh dan sedikit ngopy dari anime tetangga ini, terima kasih. *nunduk* *mewek*

Kritik dan saran kalian akan saya terima dengan senang hati! Dan jangan lupa untuk review cerita ini jika menurutmu itu menarik, hehehe...

Dan satu hal lagi, bagi yang mampu menghadapi keluguan saya, tolong ajari saya tentang semua sistem fanfiction ini :') *merasa jadi bocah naif*