Hari Minggu, seperti kebiasaan lama mereka, bahkan jauh sebelum jadi sepasang kekasih, Hyunsuk main ke rumah Byounggon pagi-pagi sekali. Dianter sama daddy Seunghyun dan daddy Jiyong yang hari ini ada undangan pernikahan anak kolega mereka di Busan.

"Hati-hati, sampai ketemu besok lusa" kata Jiyong sambil nyium pipi putih Hyunsuk. Seunghyun menurunkan koper Hyunsuk dari bagasi, lalu mendekati putra semata wayangnya itu. "Jangan kelewatan 'mainnya' sama si Baygon, kau masih bocah" nepuk-nepuk kepala Hyunsuk.

"Namanya Byounggon, daddy~" koreksi Hyunsuk. "Cih, lama-lama kau lebih sayang si obat nyamuk daripada daddy mu ini" Seunghyun mendecih, kedua tangannya dilipat didepan dada.

Hyunsuk nyengir sampai semua giginya terlihat, Jiyong disebelahnya hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan suaminya. Kalo sudah masalah Hyunsuk, Seunghyun itu cemburuan.

"Aku tidak!" Hyunsuk maju dan memeluk tubuh tinggi daddy-nya. "Hyunsuk paling sayang daddy hyun dan daddy yong di dunia ini~" Seunghyun tertawa, ia membalas pelukan anaknya itu, sehingga tubuh kecil Hyunsuk seolah tenggelam didalamnya. Jiyong hanya tersenyum kalem.

"Seunghyun, lepaskan dia. Kita terlambat" Jiyong mengecek jam tangannya, mereka terlambat kira-kira 10 menit. "Ahh, aku akan merindukan Hyunsukku" Seunghyun makin mengeratkan pelukannya.

"Demi tuhan, Seunghyun! Hanya 2 hari, kau bukan meninggalkannya untuk berperang!" Lama-lama Jiyong emosi juga dengan tingkah kekanakan suaminya.

Dengan berat hati, Seunghyun melepaskan pelukannya, apa mau dikata kalo kanjeng ratu sudah bentindak. Seunghyun nurut saja, daripada tidak dapat jatah.

"Uhh, aku juga akan merindukan daddy" Hyunsuk mencium pipi Seunghyun, kemudian menghampiri Jiyong, matanya berkaca-kaca.

Jiyong tersenyum lembut menyambut putranya, "Astaga, kenapa menangis?" Jiyong merangkul Hyunsuk lebih erat dan menepuk punggungnya supaya berhenti menangis, tapi matanya sendiri kini berkaca-kaca.

Walau kelihatannya Hyunsuk itu lebih dekat dengan Seunghyun, tapi sebenernya secara batin tentu saja dia lebih dekat dengan Jiyong.

Melihat kedua pria mungilnya berpelukan dengan mata berkaca-kaca seperti itu, Seunghyun tak kuasa menahan rasa gemas.

Ia bergabung dalam acara berpelukan Hyunsuk dan Jiyong, membuat tubuh Hyunsuk terjebak ditengah-tengahnya. "Daddy tidak akan meninggalkanmu jika kau menangis" Seunghyun mengecupi kepala Hyunsuk dibawahnya.

"Kami akan membawamu ke Busan, lalu kau tidak akan bisa bertemu Byounggon dua hari kedepan" ucap Seunghyun, kali ini menyebut nama kekasih anaknya dengan benar.

"Tidak!" Hyunsuk membebaskan diri dari rangkulan kedua orangtuanya, "Aku mau Byounggon hyung, hehe" Hyunsuk nyengir, masih dengan mata berair dan hidung merah.

"Kalo gitu cepat masuk, temui Byounggon-mu itu" Jiyong manangkup pipi putranya, menghapus jejak air mata dan ingus Hyunsuk dengan tisu.

"Oke!" Hyunsuk berucap ceria. Ia menggeret kopernya sampai pintu gerbang kediaman Byounggon, kemudia berbalik melambaikan tangan ke orangtuanya.

Seunghyun dan Jiyong masuk kedalam mobil, membalas lambaian putra mereka dan melaju dijalanan.

"Lihat dia, tadi menangis tapi begitu kusebut nama Byounggon dia langsung ceria begitu" Seunghyun tertawa mengingat tingkah anaknya. "Biarkan saja" Jiyong ikut tertawa.

"Nah, sekarang, daddy~ hanya kita berdua" Jiyong tersenyum nakal, ia melepas seat belt dan mendekatkan diri ke kursi pengemudi.

Seunghyun terdiam, ketika tubuh Jiyong makin rapat... "Astaga, Jiyong! Aku sedang mengemudi!" Ucapnya panik.

Kita tinggalkan saja kedua orangtua itu hehehe.

Didepan gerbang, Hyunsuk melihat mobil orangtuanya pergi. Kembali menggeret kopernya, Hyunsuk sampai didepan pintu. Belum sempat memencet bel, pintu sudah terbuka.

"Hyunsuk" Jinwoo dengan apron masih melekat ditubuh dan spatula ditangan kiri, menyambut.

"Ayah~" Hyunsuk memeluk Jinwoo, sepertinya hobi Hyunsuk sekarang meluk. "Masuk, aku buat pancake yang banyak untukmu" Jinwoo mencubit pipi Hyunsuk kemudian kembali ke dapur.

"Sudah datang?" Mendengar ribut-ribut dari pintu depan, Seunghoon mengalihkan tatapan dari berita olahraga di tv. "Sudah, yah" Hyunsuk mendudukan bokongnya di sofa, bersebelahan dengan Seunghoon.

"Ayah, Byounggon hyung mana?" Hyunsuk celigak-celiguk mencari hyung tersayangnya itu. "Anak itu? Masih tidur di kasurnya. Kau bangunkan saja dia, suruh sarapan bersama" kata Seunghoon santai sambil garuk-garuk perut.

Tanpa kata, Hyunsuk membawa kopernya kebagian rumah yang lebih dalam.

Rumah keluarga Lee adalah rumah besar satu lantai dengan dua kamar utama, satu kamar tamu, kamar mandi disetiap kamar dan kamar mandi umum untuk tamu, dapur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu, garasi yang cukup menampung dua mobil keluarga itu dan halaman yang sangat luas. Halaman belakang rumah itu adalah bagian favorit mereka yang berdiam disana.

Setelah menata isi koper, Hyunsuk masuk ke kamar disebelahnya. Kamar Byounggon masih gelap, tapi Hyunsuk bisa melihat siluet tubuh Byounggon diatas kasur.

Mendengus, Hyunsuk masuk kedalam kamar yang berantakan itu, membuka tirai juga jendelanga agar sinar matahari masuk dan udara berganti. Tidur Byounggon sama sekali tidak terganggu dengan kegiatan Hyunsuk tersebut.

Hyunsuk berkacak pinggang, ia bangun pagi-pagi sekali karna begitu bahagia akan menginap lebih lama di rumah Byounggon minggu ini. Tapi rasanya, sang kekasih sendiri tidak begitu tertarik.

Lelaki mungil berambut pirang itu mempoutkan bibir cherry-nya. Lee Byounggon, lelaki yang ia kencani ini sungguh parah cara tidurnya.

Selimut ditendang jatuh dari kasur, sprei sudah tidak terlasang seperti seharusnya, bantal dijadikan guling, sedangkan guling itu sendiri tergeletak tak berdaya di lantai.

Hup!

Hyunsuk menjatuhkan diri diatas tubuh lelapnya Byounggon -yang hanya melenguh seperti sapi-, ia merubah posisi menjadi duduk diatas pinggang Byounggon.

"Byounggon hyung, bangun!" Hyunsuk menjerit. Byounggon membuka sedikit matanya, tapi kembali terpejam. Sejujurnya ia mulai terganggu sejak Hyunsuk menjatuhkan diri diatasnya.

"Ayo bangun! Kita sarapan bersama" Hyunsuk terus bergerak-gerak diatas tubuh Byounggon, membuatnya tidak nyaman.

"Hyunsuk mau sarapan dengan hyung!" Gerakan Hyunsuk semakin brutal demi membangunkan sang kekasih. Dan tingkah itu benar-benar membuat Byounggon tidak nyaman.

Sret!

Byounggon menarik tubuh Hyunsuk jatuh hingga berbaring disebelahnya. "Lima menit lagi" katanya dengan suara serak, kedua lengannya merangkul tubuh Hyunsuk merapat padanya.

Tapi Hyunsuk menolak rangkulan Byounggon dan terus bergerak-gerak ingin dibebaskan. Kenapa Hyunsuk pagi ini aktif sekali?

"Diamlah, Suk" Hyunsuk menggelengkan kepalanya heboh. "Aku mau sarapan sakarang, hyung harus ikut!"

Dengan malas Byounggon membuka matanya, masih bergulat dengan Hyunsuk yang tak mau diam.

Cup!

Si pirang akhirnya diam, kaget dengan ciuman tiba-tiba Byounggon.

"Sekarang kau diam" Byounggon tertawa puas. Wajah bangun tidur Byounggon yang tertawa ditambah rambutnya yang masih berantakan, memberikan efek tersendiri buat Hyunsuk, pipi putihnya berubah merona merah.

Tawa Byounggon reda, "Kau manis saat merona begitu" dan berubah menjadi senyum lembut, sungguh Byounggon sangat memuja paras Hyunsuk, dan melihatnya pertama kali saat kau terbangun tidur lebih-lebih membuat Byounggon bahagia dari apapun.

Pipi Hyunsuk tak bisa lebih merah lagi dari ini, malu luarbiasa ia menyembunyikan wajahnya di dada Byounggon.

Byounggon tertawa lagi dan memeluk tubuh Hyunsuk. Lama mereka hanya diam.

"Aku senang kau datang" bisik Byounggon dengan suara rendah di telinga Hyunsuk membuatnya merasa aneh, tapi bukannya menjauh, Hyunsuk makin merapatkan tubuhnya.

"Akhu juwga" balasnya kurang jelas karna terhalang dada Byounggon. "Apa?" Yang lebih tua pura-pura tak mendengar.

"Kubilang, aku juga senang bisa datang" Hyunsuk tak berani menatap langsung mata Byounggon, pura-pura tidak mendengar dan memaksanya mengatakan hal memalukan seperti itu, Hyunsuk malu.

Siapalah Byounggon menghadapi Hyunsuk yang menggemaskan ini.

Akh!

"Kenapa hyung menggigitku?" Protes Hyunsuk, Byounggon menggigit bahunya yang terbuka. Sangking sakitnya mata Hyunsuk sampai berair.

"You're so cute" desah Byounggon tak berdaya.

"Tapi ini sakit! Pasti membekas!" Rengeknya.

"Maaf" kata Byounggon menyesal, ia mengecupi bekas gigitannya, berharap rasa sakitnya berkurang lalu menghilang.

Dan pagi itu Hyunsuk mendapatkan apa yang namanya kissmark, bentuk kepemilikan Byounggon atas dirinya. Yang semata-mata adalah modus Byounggon untuk 'mendewasakan' kekasihnya.

"Aku akan marah jika hyung tidak menciumku" kata Hyunsuk sok berani padahal terlihat jelas ia gugup dan malu. Berusaha keras menatap langsung mata Byounggon padahal yang ia tangkap hanya tulang hidung. Mulutnya terbuka dengan bibir bergetar.

Apalah kuasa Byounggon menolak kekasihnya yang berusaha sekeras itu hanya untuk mendapat kecupnya.