Warning : OOC, typo(s), gaje, gake jelas dan lain-lain XDD

A/N : Ummm, hai minna saya kembali tapi sih awalnya gak mau lanjutin haha mungkin akan mandek (?) disini ya apa daya otaknya gak nyampe tapi nekat *loh* selamat membaca ff nista ini hahah. banyak typo ya hati-hati karena males baca ulang #plak


Blue Flower

.

.

.

Ukh, Akashi-kun lama sekali memangnya telpon dari siapa sih itu? Tidakkah dirinya tau aku begitu gugup saat berdua saja dengan gadis ini, terlebih lagi sejak tadi ia hanya dia memperhatikanku. Memangnya ada yang salah denganku?

Baiklah sudah 15 menit berlalu dan Akashi-kun tak kunjung kembali tetapi aku dapat mendengar suaranya yang sedang berteriak kesal saat menerima telpon itu. Entahlah siapa orang diseberang sana yang pasti dirinya telah membuat seorang Akashi Seijuuro sekesal itu. Lalu diriku semakin gugup saat kami memutuskan untuk duduk bersebelahan dan gadis itu dengan manisnya tersenyum kepadaku sambil menawarkan sekotak bento yang ia bawa.

"Ini—" Gadis itu mengulurkan kotak bentonya tepat di hadapanku.

"Ti—idak terimakasih."

"Tidak apa kok Kuroko-kun, aku senang jika kita bisa makan bersama."

'Ukh, senang jika makan bersama? Dan terlebih lagi dari mana gadis itu mengetahui namaku?'

"Maaf tapi aku sudah kenyang." Jawabku berbohong.

"Sayang sekali padahal aku mengajakmu makan karena Akashi-kun tak mau makan bersamaku." Wajah gadis itu terlihat sedikit bersedih. Benar, gadis ini begitu mencintai Akashi-kun.

"I—itu bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"

"Tanyakan saja." Gadis itu kembali tersenyum.

"Apa kau dan Akashi-kun berpa—"

"Maaf aku terlalu lama mengangkat telpon."

Gagal! Aku gagal menanyakannya karena Akashi-kun terlanjur datang.

Setelah itu Akashi-kun terdiam sesaat seolah menatap tajam diriku serta gadis itu. mungkinkah Akashi-kun cemburu karena aku terlalu dekat dengan gadis itu? Ya, aku tau ini hal yang wajar tetapi aku tak dapat menahan perasaanku ini. Aku— masih mengharapkan gadis itu.

"Kalian sedang apa?" Tanya Akashi-kun penuh selidik.

"Kami hanya—"

"—makan bersama. Aku dan Kuroko-kun hanya sedang makan bersama karena Akashi-kun tak mau makan denganku."

"Itu karena aku sudah kenyang."

"Huh, menyebalkan."

"Maaf Akashi-kun aku masih ada urusan, kalau begitu aku permisi."

Gyutttttt—

"Eh? Kuroko-kun sudah mau pergi?"

Apa ini? Tiba-tiba saja gadis itu menarik pelan bajuku.

"Ah— maaf Kuroko-kun aku menarik bajumu."

Dan tak lama setelahnya gadis itu tersenyum manis padaku.

"Tidak apa-apa. Kalau begitu aku permisi dulu, bye."

Akhirnya aku pergi meninggalkan tempat itu serta meninggalkan mereka berdua disana. Biarlah aku memendam rasa suka ku pada gadis itu, gadis yang selalu berada ditengah-tengah mawar biru serta gadis yang sama sekali tak kukenal. Dan saat ini aku hanya berharap masih dapat terus melihatnya walaupun dirinya telah bersama Akashi-kun yang begitu kuhormati.

Sepanjang koridor aku terus memikirkan hal itu dan semua itu membuatku tak memperhatikan sekelilingku dengan baik. Berkali-kali aku menabrak seseorang walaupun orang itu tak menyadari keberadaanku. Tak jarang pula kakiku tersandung sesuatu, sungguh bodoh, lebih bodoh dari diriku yang tak bisa memasukkan bola ke ring.

Bruakkkk—

"U—kh sakit."

Tepat sekali, kali ini aku kembali menabrak seseorang dan parahnya ia sampai terjatuh seperti ini.

"Maaf, aku kurang berhati-hati."

Aku meminta maaf kepada orang itu tetapi dirinya seolah tak merespon perkataanku. Mengapa demikian? Kalian bisa lihat sendiri bukan benda apa yang ada ditelinganya itu.

"Ah, maaf aku tidak mendengarmu— eh— Tetsuya?"

"Umm, Ruruka-san? Maaf membuatmu terjatuh seperti ini."

Ternyata gadis yang tak sengaja kutabrak itu Ruruka Fumiwa-san yang tak lain adalah teman sekelasku. Bisa dibilang kami cukup akrab sebagai teman sekelas karena dirinya sering kali menyadari kehadiranku disaat orang lain sama sekali tak menyadarinya. Walaupun terkenal tsundere (bahkan melebihi Midorima-kun) dan cepat sekali naik darah, Ruruka-san adalah gadis yang baik menurutku.

"Fuh, Tetsuya lain kali kombinasikan mata dan kakimu saat berjalan."

"Ya, maafkan aku Ruruka-san."

"Hahaha sudahlah kau tak perlu meminta maaf seperti itu karena mendengar permintaan maaf berkali-kali itu membosankan."

Beginilah dirinya, Ruruka-san memang sosok gadis yang apa adanya serta jujur (walaupun terkadang terlalu jujur dan membuat banyak orang sakit hati). Oh ya, selain diriku Aomine-kun juga cukup akrab dengannya tetapi mereka lebih sering bertengkar sih. Mungkin bagi Aomine-kun sosok Ruruka-san adalah teman bertengkarnya di kelas karena teman bertengkar Aomine-kun sesungguhnya (Kise-kun) tak sekelas dengan kami.

"Ah, Tetsuya sudah ya aku ada urusan dengan 'iblis' sampai jumpa nanti."

Kemudian Ruruka-san melambaikan tangannya sementara diriku masih bingung dengan sosok yang dirinya sebut 'iblis'. Baiklah sebaiknya aku melupakannya karena masalahku tak hanya satu saja.

.

.

Bruakkkk—

"Akhhhh! Daiki bisakah kau tidak mengganguku saat aku menulis?"

"Hah? Siapa yang menganggumu? Aku hanya sedang bersantai wahai gadis kejam."

Huh, baru saja jam pelajaran pertama dimulai tetapi mereka sudah ribut seperti ini. Memang hal yang wajar tetapi jika terlalu sering mendengarnya aku pasti bosan bukan? Aomine-kun vs Ruruka-san sudah menjadi hal yang biasa di kelas ini.

Toktoktok—

"Permisi sensei aku hanya ingin mengantarkan titipan dari kepala sekolah."

'Gadis itu kan—'

"Terimakasih ya Aoka-chan."

'Jadi nama gadis itu—'

"Aoka ya? Hei, Tetsu tadi dia melihat ke arahmu loh." Ucap Aomine-kun dengan nada sangat meledek.

"Aoka-chan memang imut sekali ya."

"Hah? Wahai gadis kejam kau normal kan?"

"Bodoh! Tentu saja aku normal. Kau fikir aku yuri?"

Pertengkaran mereka memang tiada habisnya.

[Skip time]

Senja kembali menyapa dan saat inilah kami memulai latihan kami seperti biasa. Disini kami akan terus berusaha menjadi yang terbaik dan berharap suatu hari nanti kami dapat mencapai puncak itu. Tetapi saat kuperhatikan lagi sepertinya ada sedikit kejanggalan hari ini. Sudahlah mungkin aku salah lihat atau mataku buram karena terlalu lelah. Tetapi ini aneh kenapa dirinya bisa ada di tempat ini?

"Heh? Gadis kejam sedang apa kau disini?"

Gadis kejam, siapa lagi kalau bukan Ruruka-san.

Pemandangan aneh yang ku maksud adalah kehadiran Ruruka-san ditempat ini. Kenapa dia disini? Sepengetahuanku dirinya sangat membenci basket entah karena apa dan saat ini yang difikirkannya hanya musik serta bermain macam-macam alat musik. Tetapi kenapa dirinya berada disini? Apakah rasa bencinya terhadap basket telah hilang?

"Aku dipaksa dasar bodoh! Mana mungkin aku mau menginjakkan kaki di tempat ini."

Ternyata Ruruka-san memang sangat membenci basket.

"Hai~ Rurucchi~"

Tiba-tiba saja Kise-kun datang dan memeluk Ruruka-chan dengan riang tak berperasaan.

"Pemandangan langka."

Dan kali ini Midorima-kun yang berkomentar tentu saja diselingi dengan sesi membetulkan posisi kacamatanya.

"Berisik kau! Itu juga karena ulahmu dan—"

"—dan?"

Wushhhhhhh—

Seketika suasana menjadi sangat mencekam setelah kehadiran sosok itu. Sosok kapten kami tercinta, Akashi Sejuuro. Memang selalu seperti ini, suasana akan terasa sedikit kaku bahkan mencekam jika dirinya hadir secara tiba-tiba seperti saat ini. Sejenak aku menatap Aomine-kun yang ternyata sudah berkeringat cukup banyak dan Kise-kun yang mulai menjauh dari Ruruka-san karena saat ini Akashi-kun berada tepat dibelakang gadis itu.

"—DAN?"

Pengulangan kata, ya Akashi-kun baru saja mengulangi kata-katanya dengan penuh penekanan seolah ia sedang mengintimidasi seseorang.

"KAU!"

"Wah berani sekali gadis kejam itu." Ucap Aomine-kun lirih.

"Ssttt— Aominecchi diam nanti kena gunting loh."

"Hiyyy— baiklah aku diam."

Kami masih diam mematung saat melihat kedua orang itu saling bertatapan. Baiklah biar kujelaskan, tatapan itu bukanlah tatapan seperti yang ada di drama percintaan atau komik shoujo dan sebagainya. Tatapan itu merupakan tatapan seperti—err mungkin seperti benci? Dendam? Ya begitulah sekiranya.

"Tch, cepat keluarkan aku dari tempat ini!"

"Tidak!"

"Cepat! Aku tidak suka berada di tempat ini!"

"Hoh begitu ya? Kenapa memangnya?"

Hening sesaat, terlihat Ruruka-san yang tengah menundukkan wajahnya serta Akashi-kun yang kini tengah memasangpoker face-nya.

"Tempat ini buruk, terlalu buruk untuk diriku. Lalu sangat menji—"

Sighhhhhh—

"A-akashi—"

"Ka—u apa yang kau la—kukan Akashicchi?"

"Akachin jangan bercanda!"

'A—pa yang baru saja terjadi?'


TBC