Yo, minna ketemu lagi. Chapter 2 gw persembahkan Akashi. Yoyoyo.. kmrn pas tetchan, reader agak alay. Nah ini lebih absurd lagi karakternya, jd bersabar ya! *reader sweatdrop* cekidot!
Oye, yg udah review, follow dan fave arigatooooooooooooooooou~ abis ini review lagi ya, wakakakaka
My Boyfriend is ...
Kuroko no Basuke - Fujimaki Tadatoshi
Chapter 2 : My Boyfriend is Akashi Seijuuro
-Reader's POV-
Belum lama sih aku berpacaran dengannya, tapi ada yang terasa aneh. Entah kenapa aku selalu dianggap budaknya.
.
.
.
"Hei, cuci semua ini, sampai BERSIH."
*CKRIS CKRIS*
Baiklah, kalau mau menyuruhku tidak usah pakai gunting kan? masa pacar sendiri kau ancam. Tapi…..
Sosoknya yang sedang mengancam sungguh….kyaaaaaaaaa…..KEREEEEN! Aku bisa mimisan melihatnya.
"Baiklah, Seijuuro-samaaaaa~"
Aku sudah lupa tekanan gunting itu kalau sudah melihat wajah kejamnya yang menggoda.
"Jangan tambahkan '-sama'. Kau menjijikan."
"Tidak mau! Kau pantas dipanggil begitu! Karena aura rajamu tidak ada habisnya."
"Sudah, kerjakan."
Seijuuro-sama selalu diduduk dipojok sana sambil baca buku saat aku cuci baju seragam tim basket. Mentang-mentang aku dipilih jadi asisten klub basket, aku disuruh-suruh cuci baju. Yang paling tidak enak adalah kenapa harus dicuci sekarang? Apa susahnya aku bawa pulang dan cuci di rumah? Aku kan bisa pura-pura mencucinya padahal aku kirim ke laundry. Tapi karena ini perintah langsung dari Yang Mulia Seijuuro-sama, aku sudah pasti tidak bisa menolak.
"Eh? Uwaaaah. Ini pasti seragam punya Seijuuro-sama. Terlihat dari ukuran, nomor dan aromanya…."
Aku memeluk seragam milik pacarku tercinta itu. Seijuuro-sama terlihat menoleh ke arahku dan berkata,
"Heh. Kau menjijikan. Tidak hanya kata-katamu tapi perbuatanmu juga. Lihat apa yang kau perbuat setiap melihat seragamku?"
Biar saja. Aku tidak bisa peluk orangnya, ya, aku peluk saja bajunya‼
"Habisnya Seijuuro-sama tidak mau dipeluk! Padahal kau tidak usah malu-malu gitu ah. Kita kan 'itu'."
"?"
Seijuuro-sama menutup bukunya, berjalan ke arahku dan e—to, jangan-jangan aku mau dipeluk? Kyaaaa. Mau dong. Eh? kenapa dia hanya berdiri saja. Oh, tidak, tatapan intimidasi itu membuatku meleleh.
"Kau itu budakku!"
"Aku pacarmu! Kau yang nembak aku duluan!"
"Itu hanya pernyataan untukmu, agar budakku tidak dijadikan budak orang lain. Sudah, kerjakan tugasmu!"
"Eeeeh…"
Seijuuro-sama pergi begitu saja meninggalkanku yang sedang mencuci di dekat keran air. Budak, budak, budak. Selalu saja begitu. Padahal jelas-jelas Seijuuro-sama yang menyatakan perasaan duluan. Tunggu dulu, apa itu benar-benar pernyataan perasaan? Kenapa jadi ragu sekarang?
.
.
"Ini seragamnya. Sudah dipastikan BERSIH, KERING dan RAPI."
Aku mengatakannya malas-malasan tapi penuh dengan tekanan. Capek.
"Kerja bagus. Kau boleh pulang. Dan jangan lupa besok—"
Aku yang sudah melangkah ingin pulang tiba-tiba terhenti dan menoleh karena Seijuuro-sama menunda ucapannya, walaupun aku sudah tau apa yang akan dia ucapkan.
"—bawa makan siangku. Ingat, HARUS MASAK SENDIRI. Buatanmu!"
Tatapan tajamnya membuatku bungkam. Aku benar-benar tidak bisa menolaknya. Aku sudah jatuh dalam jurang cinta terdalam bahkan sampai ke dasar-dasarnya karena tingkah laku, tatapan dan auranya.
"Kyaaaaa… jangan pandang aku seperti itu dong! Kau membuatku deg-degan, Seijuuro-samaaaaa~"
"Tidak bisa hentikan tingkah lakumu yang aneh itu?"
"Sudah, sudah, sudah, jangan bicara lagi. Besok aku bawakan. Kalau begini terus aku hanya akan berfangirl saja!"
Aku pergi meninggalkannya. Seperti biasa, Seijuuro-sama hanya bisa menggelengkan kepalanya setiap melihat tingkahku.
.
.
.
Bisa dibilang, aku adalah fans berat Akashi Seijuuro semenjak melihatnya di pertandingan basket sekolah. Awalnya hanya kagum akan keahlian dan kepintarannya. Tetapi, setelah mengenal kepribadian tenangnya yang penuh dengan 'perintah absolut', 'wajah intimidasi' dan 'seringaian' membuatku makin tergila-gila dan akhirnya benar-benar menyukainya. Apa seleraku seburuk itu? Tidak juga ah, dia keren.
"Hmm… aku sudah siapkan makanan penuh cinta untukmu Seijuuro-samaa~"
.
.
.
Makan siang bersama. Bahkan dengan semua anggota Kiseki no Sedai. Ada apa ini? tumben. Ya, 'perintah' Seijuuro-sama jadi 'hayuuk' saja.
"Akashicchi tidak bawa makan siang?"
"Kise-kun, Akashi-kun kan selalu dibawakan olehnya, kau lupa ya."
"Oiyaya, Kurokocchi. Ahaha. Aku lupa-ssu."
Aku mengeluarkan tempat makan yang sudah kusiapkan untuk Seijuuro-sama. Sip, mudah-mudahan makanannya enak dan dia suka. Jangan seperti sebelum-sebelumnya, dia bilang tidak ada rasanya, keasinan, pahit lah, gosonglah atau apalah. Maafkan aku, aku tidak bisa masak.
"Ini, Seijuuro-sama~!"
Aku tersenyum padanya. Dia hanya menaikkan alisnya satu dan mengambil bentou itu.
"Hoi, Akashi. Kau yakin masih mau memakannya? Percuma saja, sampai kapanpun kau menyuruhnya masak, sudah pasti hasilnya tidak enak! Kemampuan masaknya sama NOLnya dengan Satsuki atau jangan-jangan MINUS."
"Aomine.."
Enak saja! Aku pukul saja orang paling 'dim' yang tidak berguna ini! Aku memang tidak bisa masak, tapi jangan meremehkan aku begitu!
"Aduh… aku salah apa?"
"Jelas-jelas kau mengejeknya nanodayo."
"Nyam…nyam..nyam…"
Terdengar suara mengunyah yang sunggu liar di dekatku. Pasti Murasakibara-kun.
"Murasakibara-kun tidak hentinya mengunyah ya? Jangan-jangan saat buang air kau juga mengunyah."
Oke, pertanyaan aneh. Mana ada orang makan di wc, aku sih bawaannya mau muntah.
"Hem.. aku makan kok dimanapun aku berada~"
Ha? Apa? Jiwa seperti apa yang orang ini miliki?
"Masakanmu makin buruk saja."
Oh yeeeh, komentar sadis milik Seijuuro-sama sudah keluar. Tidak, aku gagal lagi! Sejelek itukah kemampuanku memasak? Seijuuro-sama meletakkan bentou yang kubuat lalu pergi keluar lapangan. Kami makan siang di lapangan basket. Aah~ pasti dia tidak suka.
Aku berlari menghampirinya yang sedang menyusuri lorong kelas. Tadi aku sudah beli roti sebagai pengganti masakan mengerikan buatanku.
"Seijuuro-sama. Ini roti untukmu. Maaf, lagi-lagi masakanku tidak enak."
Dia menatapku miris. Uh, baiklah. Aku memang tidak berbakat. Seijuuro-sama hanya menatap roti yang kubawa, tidak ambil sama sekali.
"Tidak perlu. Aku sudah kenyang—"
Apa? Jadi masakanku sudah menghilangkan nafsu makanmu? Uwaaaah, aku minta maaf, Seijuuro-sama!
"—jangan lupa, besok bawa lagi bentou buatanmu. Masak yang benar."
"?"
Kenapa? Kenapa kau selalu saja menyuruhku membawa bentou buatanku yang jelas-jelas tidak enak? Kalau terus begini kau bisa sakit. Apa yang harus kulakukan? Perintahnya tidak bisa kubantah. Kalau aku bawakan buatan Ibuku seperti waktu itu, dia langsung mengenali itu bukan masakanku, karena rasanya enak. Setelah itu aku diceramahi disertai ancaman gunting merah sakti mandra guna, kalau melakukannya lagi habislah aku.
Aku kembali ke lapangan untuk mengambil tempat makanku dan Seijuuro-sama, aku bermaksud membuangnya saja demi kebaikan bersama. Sesampainya di lapangan,
"Aominecchi! Kau baik-baik saja?!"
"Aomine-kun/ Aomine/ Mine-chin~?"
Eh? ada apa sih? Aku hampiri saja mereka. Yee, ternyata Aomine mencicipi makananku diam-diam. Alhasil, wajah 'dim'nya berubah jadi hijau 'dim'. Sepertinya, Aomine hampir dijemput ke alam sana.
"Tidak kusangka Akashi tahan memakan makanan seperti ini. Hei, kau! Jangan meracuni kapten kami ya!"
"Eh, apaan sih 'dim', aku buat itu dengan penuh rasa cinta!"
"Cintamu mematikan! Pantas saja Akashi tidak melanjutkan makan dan pergi begitu saja! Kau merusak moodnya!"
"…?"
Ah, Aomine bodoh! Aku tidak pernah ada maksud meracuni Seijuuro-sama! Aku benar-benar menyukainya! Ih, kau bodoh. Pukul perutnya! Perut kepalanya! Jewer telinganya! Tendang kakinya! Eh? kenapa ada air menetes?
"Ano, kau baik-baik saja-ssu?"
"Kenapa kau menangis nanodayo?"
"Eh? jangan nangis begitu. Aku kan hanya bercanda."
"Sudah, sudah."
"Hiks. Itu memang kenyataannya. Aku tidak bisa masak, tapi selalu dipaksa memasaknya. Aku juga tidak mau Seijuuro-sama sakit."
Aomine, Murasakibara-kun, Midorima-kun, Kise-kun dan Kuroko-kun berusaha menenangkan diriku. Tapi tetap saja, ini percuma.
.
.
.
Hari itu, aku dipanggil oleh sensei masalah jadwal ujian susulan yang akan aku ikuti. Aku harus mengikuti ujian susulan karena waktu ujian aku sakit dan tidak bisa masuk sekolah. Setelah mendiskusikan jadwalnya, aku kembali ke kelas untuk merapikan semua barangku dan pulang.
Saat aku sendirian di kelas karena semua teman sekelasku sudah pulang, tiba-tiba saja ada seseorang bersurai merah dan bermata heterokrom yang sangat kukenal masuk tergesa-gesa dan kemudian berkata,
"Hei, mulai sekarang kau adalah pacarku!"
"Ha—"
"Jangan membantah. Turuti saja."
Akashi Seijuuro baru saja 'memerintahku' untuk menjadi pacarnya. Aku sempat bengong. Lalu seketika, aku bersumpah akan menyukainya seorang, walaupun saat itu aku memang sudah menyukainya. Pernyataan perintah yang egois itu membuatku makin luluh dengan mudah.
"Dan mulai sekarang panggil aku Seijuuro."
.
.
.
Aku kembali mengingat momen indah itu. Ya sebenarnya tidak ada yang terjadi setelah perintahnya itu. Tapi setidaknya aku sudah dinyatakan sebagai pacarnya.
"Bersihkan sebelah sana juga."
Hemm.. aku capek tau. Sudah dong. Tapi perintahnya tidak bisa kubantah, tatapannya itu loh! Aku tenggelam melihatnya.
"Baiklah."
Aku menjawabnya agak malas, habisnya aku capek dari tadi pagi disuruh bersih-bersih loker tim basket. Sudah banyak sekali barang aneh tersembunyi disini. Kotornya juga minta ampun.
"Hei, budak! Kerja yang benar."
Budak lagi, budak lagi! Huh, bosan dengarnya! Panggil aku 'cinta' atau 'sayang', gitu seharusnya.
"Seijuuro-sama, jangan panggil aku begitu! Panggil aku 'sayang'!"
"Hah? Jangan memerintahku!"
"Tapi, yang mesra sedikit dong panggilnya. Aku tidak pernah disayang-sayang sama Seijuuro-sama."
"Jangan bercanda."
Hmmmm… manyun. Cemberut saja ah. Atau aku mogok kerja saja? Tidak, tidak, nanti gunting sakti keluar.
Sejak kemarin, pekerjaanku banyak sekali. Menyapu dan mengepel lantai lapangan basket sendirian, benar! SENDIRIAN! Lalu, lagi-lagi mencuci baju anggota tim. Bayangkan ada berapa banyak anggota tim di Teikou? Ratusan! Aku disuruh cuci semua. Aku ini bukan Cinderella yang akan dijemput pangeran tampan dengan kuda putihnya kemudian diajak nikah! Aku adalah seorang budak yang paling menurut pada seorang pangeran kegelapan tukang merintah sambil mengancam dengan gunting! Sial sekali hidupku!
"Seijuuro-sama, aku capek!"
"Ya sudah istirahat dulu."
Selama beberapa hari ini kami melakukan bersih-bersih besar-besaran atas perintah sang kapten, Seijuuro-sama. Entah kenapa yang lain hanya santai-santai saja, karena segala sesuatunya diserahkan padaku. Sial, karena aku pasti menurut pada Seijuuro-sama, mereka memanfaatkanku!
Walaupun capek, tetap senang sih, karena Seijuuro-sama memperhatikanku. Atau jangan-jangan sebenarnya dia mengawasiku agar tidak kabur? Geh! Tapi dia menemaniku seharian, jadi tidak apa-apa. Habisnya disini cuma ada kita berdua. Ehem, siapa tau akan ada adegan-adegan romantis yang yahud antara aku dan Seijuuro-sama! Kyaaaah~
"Nee, kenapa kita harus bersih-bersih hari sabtu? Aku kan mau tidur di rumah."
"Kalau tidak hari libur, tidak akan selesai. Kita harus menyelesaikannya dalam satu hari."
"Ya kalau begitu bantu aku dong, Seijuuro-sama! Kalau aku sendiri tidak sanggup!"
"Enak saja. Tidak ada yang boleh memerintahku!"
Baiklah. Aku tidak bisa membantahnya kan? oke.
Aku dianggap budak terus nih, disuruh-suruh. Bukannya tidak suka, bukan bukan. Kalau selain Seijuuro-sama yang menyuruhku, aku tidak suka! Tapi kan..
"Nee, Seijuuro-sama…"
"Apa?"
"Kenapa kau suka menyuruh-nyuruhku sih? Seperti bersih-bersih, lalu cuci baju."
"Bukannya itu semua tugasmu sebagai asisten tim basket?"
"Lalu bagaimana dengan masak? Aku tidak bisa masak! Nanti kau bisa sakit kalau terus-terusan makan makanan aneh itu."
"Biar saja. Memangnya tidak boleh?"
Rrrrrghh. Jangan jawab setengah-setengah begitu! Aku ingin kejelasan! Aku tau kau memang suka mempermainkan orang, tapi jangan keterlaluan juga. Seijuuro-sama, kenapa kau selalu menyiksaku dengan perintah absolutmu itu sih?
"Baiklah, tapi kenapa kau hanya menyuruh-nyuruh aku saja? Kau tidak kasian melihatku kecapaian ya?"
"Tidak tuh."
"Seijuuro-sama kejam! Jangan menyiksaku terus!"
"Kau kan budakku, jadi tidak apa-apa kan? lagipula, bukannya kau suka disiksa? Kau 'M' kan?"
APAH? AKU DIBILANG 'M'? Seijuuro-sama, kauuuuuuu~
"AKU BUKAN MASOCHIST!"
"Oh, jadi 'DoM'?"
Krik. DoM? Parah. Aku bukan Maso apalagi Super Maso! Ini sudah diluar batas kewajaran! Seijuuro-sama betapa kau kejamnya. Sesukanya aku padamu, tapi ini tidak bisa diterima! Demi kerang ajaib, tidak ada yang lebih memalukan disebut 'DoM' oleh pacar sendiri—bukan, majikan sendiri. Habisnya aku dianggap budak.
"Terserah saja, Seijuuro-sama mau menyebut aku apa! Tapi, Seijuuro-sama sendiri adalah DoDoDoDoDoDoDoDo nya DoS! DoS yang memaksa seorang DoM buat jadi pacarnya, cuma untuk disiksa!"
Oke, ini pertama kalinya aku marah padanya. Aku tidak mau bicara untuk sementara pada Seijuuro-sama! Aku cueki saja!
"Hei."
Masa bodoh.
"Hei."
MASA BODOH!
Kenapa? Menyesal? Pasti tidak. Kenapa menghampiriku sekarang? Mau menyuruhku lagi? Sudahlah, aku sudah tidak mau tau. Aku memang menyukainya, tapi kalau terus-terusan begini, mau dibawa kemana hubungan ini? semua perintahnya tak beralasan sama sekali. Aku hanya dimanfaatkan! Benar, DI-MAN-FA-AT-KAN!
"Hei, ayo kita main games."
"Hah?"
"Kalau kau berhasil mengambil gunting ini dariku, kau boleh menanyakan apapun yang ingin kau tanyakan padaku. Aku akan menjawabnya. Kalau kau kalah, ya tidak usah protes lagi."
"Menanyakan apapun? Berapa banyak?"
"Sebanyak yang kau inginkan."
Sebanyak yang aku inginkan? Hehe, kenapa terlihat menarik? Aku bisa tanya macam-macam kan? bahkan aku bisa tanya perasaannya padaku! hm? Lupakan saja acara ngambek tadi, sekarang ada yang lebih menarik.
"Oke. Aku terima tantangannya."
"Baiklah."
Oke, diam sebentar. Buat dia lengah. Aku pura-pura beres-beres dulu dan HOP!
"O-ow~ gagal~"
"Rrrrgh!"
"Jangan meremehkanku ya! Aku punya mata ini! aku bisa liat gerakanmu."
"Curang!"
Oke, berusaha! Lagi, lagi, lagi, lagi! Kanan? Kiri? Atas? Bawah? Depan? Belakang? Diagonal? Spiral? Segitiga? Kotak? –dari tadi aku menyebut apa sih— AAAAH… gagal terus!
"Bagaimana? Sudah menyerah?"
"Tidak akan!"
Huah, sudah capek beberes, ditambah lagi ini. Apa aku menyerah saja? Tapi ini kesempatan bagus untuk mengetahui perasaannya padaku. Seijuuro-sama curang! Mentang-mentang punya 'Emperor's Eyes'. Istirahat dulu, sandarkan diri sebentar di loker ini. Fuuh.
"?"
Hm? Seijuuro-sama? A-ada apa ya? Kau tidak kembali duduk dan baca buku lagi disana? Kenapa menghampiriku? Heh? HEH? Kenapa lama-lama dekat sekali. Ja-jangan pojoki aku begini! Tu-tunggu dulu! Ini sudah mentok!
"Sei..juuro-sa..ma..?"
Adegan yang aku impikan benar terjadi. Seijuuro-sama tiba-tiba memojokkanku di loker, menghalangi tubuhku bergerak dengan kedua tangannya. Salah satu tangannya masih memegang gunting. Singkirkan dulu guntingnya!
Wa-wajahnya dekat sekali. Mata heterokromnya ada TEPAT di depan mataku. Pelan-pelan mendekat. Eh? Apa yang mau dia lakukan? eh? bibir? eh? Di-dia mau…menciumku! TIDAAAAAAAK~
Apa yang sedang terjadi? Apa aku mimpi? Mimpi di cium Seijuuro-sama? INI PASTI MIMPI! AYO BANGUN! BUKA LEBAR MATAMU! Tapi kalau aku buka lebar mataku, yang terlihat hanya telinga dan rambut merahnya saja. Jadi benar-benar aku dicium?
Aku pasrah saja. Tentu saja dicium olehnya adalah mimpi indah. Pejamkan mata pelan-pelan, oke jangan tegang, jangan panik! Oke, ini pertama kalinya dia menciumku jadi ini momen langka. Apa harus diabadikan? Tidak!
Aku berusaha membalas ciumannya tapi dia menciumku semakin dalam, aku kalah. Uuuh, aku sudah tidak tahan lagi. Tapi, aku suka cara Seijuuro-sama 'memainkan' ciumannya. Sudah, sudah, aku sudah tidak kuat.
Fuh, sudah selesai? Pengalaman yang mendebarkan. Hm? AH? Kenapa mendekat lagi? DU-DUA KALI?! AKU DICIUMNYA DUA KALI! Kali ini, lebih 'intense' dibandingkan tadi. Aku suka diciumnya lama-lama, tapiiiiii….
Tidak kusadari saat dicium olehnya, Seijuuro-sama mengaitkan tangannya—yang sedang memegang gunting—pada tanganku. Dia memindahkan gunting itu ke tanganku. Dan akhirnya, ciumannya benar-benar berakhir.
Aku bengong. Masih bahagia sekaligus shock! Hm? Guntingnya ada di tanganku sekarang.
"Oh… kau mendapatkan guntingnya, jadi kau yang menang. Heh? tidak, aku yang menang. Aku tidak mungkin kalah."
"…?"
Dia bicara seakan-akan tadi tidak ada kejadian apa-apa. Pengendalian dirinya hebat sekali. Aku saja sudah kembang kempis.
"Baik, anggaplah seri. Walaupun aku benci dengan kata-kata 'seri' tapi kau boleh menanyakan 1 pertanyaan sebagai hadiahnya."
Satu pertanyaan? Apa ya? Kenapa dia menciumku? Tidak, tidak, aku masih malu menanyakan itu. Atau apa kau suka padaku? aah, apa ya! Atau, kenapa kau selalu menyuruhku mencuci di hadapanmu? Kenapa aku selalu disuruh beres-beres? Kenapa aku selalu disuruh bawa bentou buatanku sendiri? Apa dong? Aku ingin menanyakan semuanya! Dia tidak pernah mengatakan alasan yang jelas.
"Aku tidak suka padamu. Aku menciummu karena ingin saja. Cuci, bersih-bersih, masak? Hmm.."
Apa? Dia tau apa yang aku pikirkan? Bahkan langsung dijawab. Jadi dia tidak suka padaku? lalu arti ciuman tadi apa? aku dicium karena iseng saja? Teganya. Dan..
"Ah, untuk melatihmu! Benar! Karena suatu hari nanti kau yang akan mencuci semua bajuku, membersihkan rumahku, memasak untukku dan mengurusi—"
"Mengurusi apa?"
"Lupakan."
Eh? Seijuuro-sama? Kenapa dia pergi begitu saja? Jangan tinggalkan aku sendirian! Disini masih banyak yang harus dibersihkan! Seijuuro-samaaaaa~
Jadi, itukah semua jawabannya? Jadi sampai akhir hidupku aku masih dianggap budaknya? Lalu perintah jadi pacar itu apa? Lalu ciuman tadi? Jangan-jangan untuk mengikatku. Jadi, aku harus menjalani kehidupan sebagai pembantu rumahmu nantinya lalu melihat kau, istri dan anak-anakmu hidup bahagia? Aku tidak mau!
Di saat yang sama, saat Seijuuro-sama berjalan keluar ruang ganti, dia membisikan sesuatu—kata-kata terakhir yang menjadi misteri bagiku, kata-kata yang tidak ia lanjutkan tadi. Andai saja aku mendengarnya, mungkin semua akan berubah,
"Mengurusi apa? Tentu saja mengurusi anak-anak kita. Tapi, kalau aku bilang begitu, dia akan tau kalau aku 'bukan suka' padanya tapi 'cinta' padanya. Hm.."
OMAKE
Oke, aku tidak mau hidup jadi pembantu rumah tangga keluarga Akashi. Aku akan berusaha merebut Seijuuro-sama sebelum dia bertemu dengan calon istrinya. Aku akan meningkatkan diri jadi 'High Quality Servant'.
"Hmm.. bagaimana?"
"Tidak bisa dipercaya! Ini bukan buatanmu kan?"
"Enak ya-ssu? Kau pakai jurus apa?"
"Enak sekali."
"Hmm.."
"Behar- behar..(baca : benar-benar)"
"Terima kasih, Kuroko-kun, Murasakibara-kun , Kise-kun, Midorima-kun."
"Kok aku tidak diucapkan terima kasih?"
"Tidak perlu! Minggir sana, Aomine 'dim'. Kalau begitu, aku akan berikan ke Seijuuro-sama dulu~"
Seijuuro-sama sedang duduk di pinggir lapangan. Oke, waktunya menunjukkan hasil les masakku sebulan ini.
"Seijuuro-sama~ silahkan. Dijamin, puas!"
Dia mulai memakannya. Apa? Apa? Apa hasilnya?
"—enak. Kulihat, akhir-akhir ini kerjamu makin bagus saja, budak."
Budak lagi?!
"Hehehe.." Tawaku krenyes garing sekali. Tawa renyah yang diganggu si 'dim'.
"Hee..pasti itu bukan masakanmu kan? kau pungut dimana?"
"Heh, Aomine 'dim'! kalau kau segitu irinya, tidak usah mengatai aku begitu! Lebih baik urusi baju kotormu yang bau minta ampun itu!"
"APA? BAU?"
"Iya! Harusnya kau tiru Kuroko-kun. Seragamnya dilipat rapih habis dipakai, wanginya pun enak, vanilla!"
"Hah? Apa bagusnya laki-laki bau vanilla. Aduh!"
Bagus, pukul saja terus dia, Kuroko-kun!
"Atau tiru Kise-kun, dia pakai parfum bermerk. Wanginya juga awet."
"Aku bukan banci yang suka pamer iklan minyak angin."
"Minyak angin? Hidoi-ssu, Aominecchi!"
"Atau, tiru juga Murasakibara-kun, bajunya wangi…e—to, ada banyak. Kadang susu, kadang biscuit, kadang permen buah, maiubo dan…"
"—itu kan bekas makan dia semua! Dia suka meper di baju kalau habis makan!"
DUAK!
Murasakibara-kun memukul Aomine pakai kardus maiubo ukuran besar.
"Ck!"
"Seburuk-buruknya, kau tiru Midorima-kun. Bajunya tidak ada baunya, aku juga heran."
"Apa maksudmu nanodayo? Lalu kenapa kau tau itu bajuku?"
"Kau kasih nama disana kan? Diujung bajunya. Ahaha.."
"Mungkin tsundere tidak punya bau."
Sekali lagi, kardus maiubo ukuran besar melayang tepat jatuh ke kepala Aomine.
"DAN! Kau harus tiru Seijuuro-sama! Seragamnya penuh dengan aroma KEMENANGAN! KYAAAA~ tapi, kau tidak mungkin bisa menirunya sih."
"APA? Aku juga bau kemenangan. Soalnya yang bisa mengalahkan aku cuma aku!"
"Iya, bau kemenanganmu adalah bau kemenangan yang baru saja jatuh ke kubangan!"
"APA?"
*Ckris ckris*
"Hentikan."
GLEK. Semua diam. Pangeran kegelapan mau bicara, dipersilahkan.
"Jangan bertengkar terus. Aomine, latihanmu bertambah jadi 10 kali lipat."
"Cih.."
WEEEE… makan tuh.
"Dan kau, budak. Aku menyuruhmu untuk MENCUCI baju bukan MENYIUMI BAU bajunya. Jadi…"
Ampun, Seijuuro-sama.. jangan bunuh aku! Ja-jangan lempar gunting itu padaku!
"Tidaaaak, tolooong akuuu…"
Yo, kelar. Bego. Bego. Entah kenapa aneh sekali. Omakenya panjang bener. Pdhl niatnya mu bikin yg co cwiiit krn Akashi sebenernya nyuruh2 reader mulu buat ngelatih dia jd calon istri. Aseli, ini gak bener. Kenapa jadinya gak greget gt ya? Bodo ah.
chapter ini kerasa ya bedanya ma chapter 1/ya iya lah/ khikhikhi~
Gw bingung, deskripsi gw ttg adegan kisunya, sangat errrr…. Unik? *muji diri sendiri* /plak
Eiya, pd ngerti M, DoM, S, DoS kan? M=Masochist, S=sadis. Klo pake 'Do' berarti udah akut /lebay/
Hmmmm…Abis ini siapa lagi ya? ahahahah
Sebelumnya, Review onegaishimasu~
