Akhirnya bisa update chapter 2 juga. Yah… walaupun gak yakin ada yang mau baca, yang penting bisa lanjutin cerita yang gaje, abal, OOC, OC, dsb. Oke, mulai aja.

Warning: OOC, OC

Pairing: SasuSaku, NaruHina, NejiTen, ShikaTema, SaiIno

Genre: Friendship/Romance

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Naruto Anime:Life Story

Sakura terbangun dari tidurnya karena mendengar suara handphonenya yang berbunyi.

"Siapa sih yang menelepon , mengganggu orang tidur saja. " batinnya.

"Ternyata Ino" gumamnya setelah melihat nama pemilik nomor tersebut di hanphonenya.

"Moshi-moshi" kata Sakura di telepon.

"Selamat pagi Sakura!" kata Ino dengan suara yang keras sampai-sampai sakura sedikit menjauhkan telinga dari handphonenya.

"Tidak usah teriak-teriak!" balas Sakura dengan suara yang agak keras.

"Hahahaha…. Aku kan sedang bersemangat. Oh ya, kau mau ikut ke taman tidak? Teman-teman yang lain sih ikut, tapi kalau kau tidak mau ikut ya tidak masalah. " Kata Ino.

"Aku ikut! Jam berapa?" kata Sakura bersemangat.

"Kalau bisa sekarang. Aku sedang bersiap-siap, jadi kalau bisa secepatnya kau bersiap-siap!" jawab Ino.

"Hmm. . baiklah" kata Sakura.

"Oh ya, jangan lupa bawa bekal!Kita akan makan bersama disana" kata Ino

"Oh, baiklah" jawab Sakura.

"Sudah dulu ya" kata Ino.

"Ya" jawab Sakura.

"Ketaman? Pasti akan sangat seru, hehehe…" gumam Sakura.

"Oh ya, aku harus segera bersiap-siap" tambah Sakura sambil menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.

Sakura memang sangat senang sekali bila diajak ketaman. Ia sangat senang melihat pemandangan yang indah disana. Apalagi tamannya berada di atas bukit, sehingga seluruh desa Konoha dapat terlihat jelas dari atas sana. Jadi, ia sangat bersemangat jika diajak kesana.

.

.

.

.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia langsung mengambil tasnya dan memasukkan barang-barang yang harus dibawanya. Setelah itu, ia langsung turun kebawah karena kamarnya ada di lantai 2 dan segera keluar, menutup pintu rumahnya, dan menguncinya. Lalu ia segera berlari kecil menuju taman.

.

.

.

Di taman

Sesampainya di taman, Sakura langsung mencari teman-temannya.

"Mereka di mana ya?" gumamnya.

"Ah, itu dia!" ucapnya setelah menemukan teman-temannya. Kemudian ia langsung berjalan menuju kea rah teman-temannya.

Sementara itu, Ino dan Hinata sedang menggelar tikar, Naruto dan Kiba menyusun tas-tas mereka dengan rapi, Chouji memakan keripik kentang yang ia bawa, Sai sedang mencari objek untuk dilukis, dan yang lainnya melihat-lihat ke kanan dan kiri untuk mencari Sakura.

"Hei teman-teman!" kata Sakura.

"Hai juga! Akhirnya kau datang juga, kami sudah lama menunggumu" kata Tenten.

"Hehehe. . maaf membuat kalian menunggu lama" kata Sakura.

"Tidak apa-apa. Ayo duduk, aku dan Hinata sudah selesai menggelar tikar" kata Ino.

"Ayo!" kata Sakura.

Setelah itu mereka semua duduk di atas tikar yang sudah disiapkan.

"Ayo cepat kita makan!" kata Chouji tidak sabar.

"Iya, iya. Kau ini tidak sabaran" gerutu Ino.

"Kau bawa makanan apa Naruto?" tanya Kiba.

"Aku bawa ramen!" jawab Naruto.

"Kau ini makan ramen terus" kata Kiba.

"Biarkan saja" jawab Naruto.

"Sudah-sudah lebih baik sekarang kita makan saja" kata Tenten.

"Itadakimasu" kata para remaja itu bersamaan

.

.

.

.

Setelah selesai makan para remaja itu melihat-lihat pemandangan.

"Wah… pemandangan di sini bagus sekali" kata Ino kagum seakan-akan baru pertama kalinya ia ke sana.

"Iya, kau benar. Disini pemandangannya sangat bagus. Aku bisa melihat Kakashi-sensei yang sedang membaca buku dari sini, hahaha" tambah Sakura.

"Ya, seluruh Konoha terlihat dari sini" kata Tenten.

Sementara itu, Sai sedang sibuk dengan lukisannya. Tiba-tiba Ino datang dan membuatnya terkejut.

"Kau sedang melukis apa?" kata Ino.

"Eh…I-ino, kau mengagetkanku saja. Aku sedang melukis Konoha" jawab Sai.

"Oh…" kata Ino.

"Sudah selesai!" kata Sai.

"Eh, sudah selesai? Boleh kulihat?" tanya Ino.

"Boleh" jawab Sai.

"Wah, bagus sekali lukisan mu! Kau hebat sekali dalam hal melukis" kata Ino kagum.

"Ah, tidak juga" kata Sai merendahkan diri.

"Sudah, tidak usah merendahkan diri begitu. Lukisan ini benar-benar bagus kok" kata Ino.

"Yah, itu kan kau saja yang bilang begitu. Mungkin, bagi yang lain itu tidak bagus" kata Sai.

"Jadi kau tidak percaya. Baik, akan kubuktikan kalau lukisanmu ini memang bagus" kata Ino.

"Bagaimana caranya?" kata Sai.

"Begini…. " Ino menggantungkan kata katanya, lalu….

"Hei semuannya coba lihat lukisan Sai!" teriak Ino pada teman-temannya.

"WAH! Bagus sekali lukisannya" kata para remaja itu serentak.

"Tuh, apa kubilang. Lukisanmu ini memang bagus Sai!" kata Ino.

"Ya…. Terimakasih karena telah memuji lukisanku" kata Sai sambil tersenyum.

"Sama-sama" kata Kiba mewakili semuannya.

Kemudian mereka bercanda ria di taman itu. Wajah mereka terlihat bahagaia seakan-akan tidak ada hal buruk yang pernah terjadi. Sampai akhirnya….

"Hei, ini sudah jam 15. 00 , sebaiknya kita pulang" kata Sakura.

"Ah, benar juga. Karena kita terlalu asyik di sini sampai lupa waktu" kata Tenten.

"B-benar le-lebih baik ki-kita pulang sekarang" kata Hinata.

"Yasudah, ayo kita beres-beres lalu pulang!" kata Shikamaru.

"Ayo!" kata mereka semua bersamaan.

Setelah itu mereka kembali ke rumah mereka masing-masing.

.

.

.

.

.

Hari-haripun berlalu, tibalah saatnya Sakura untuk pindah, teman-teman Sakura tidak ingin Sakura pergi. Tapi mereka harus menerimanya dengan terpaksa.

"Sakura-chan…. jangan pergi, aku akan sangat merindukanmu" kata Tenten.

"Y-ya, aku ju-juga" kata Hinata.

"Kenapa hari ini harus tiba…. . " kata Ino.

"Tsunade-sama, apakah tidak bisa diperlambat lagi. Aku belum siap untuk berpisah dengan Sakura" kata Naruto dengan nada memohon.

"BODOH! Sakura harus masuk sekolah besok, kalau diperlambat lagi dia harus berangkat kapan. Kau pikir sekolahnya yang baru itu dekat dari sini!" omel Tsunade

"Hah, sudahlah kita harus menerima ini. Suatu saat Sakura-chan akan kembali ke sini dan bertemu dengan kita lagi. Jika kita melewati hari-hari dengan ceria, itu tidak akan terasa lama" kata Ino.

"Ya, benar" kata Shikamaru.

"Hati-hati di perjalanan ya!" kata Tenten.

"Jangan lupa membawa makanan!" kata Chouji.

"Semoga kau mendapatkan teman-teman yang baik" kata Neji.

"Semoga makanan di sana enak" kata Chouji.

"S-semoga kau b-baik-baik saja" kata Hinata.

"Jangan lupakan aku ya" kata Naruto.

"Jangan lupakan aku juga" kata Lee

"Semoga teman barumu tidak merepotkan" kata Shino

"Semoga disana ada anak anjing yang baik" kata Kiba.

"Belajar yang semangat" kata Sai.

"Semoga di sana ada guru yang baik yang mau mentraktirmu ramen" kata Naruto

"Semoga gurunya tidak galak" kata Lee.

Teman-teman Sakura mengucapkan kata-kata perpisahan mereka kepada Sakura. Sebagian dari mereka mengucapkan kata-kata perpisahan dengan hobi mereka masing-masing. Sakura hanya bisa tersenyum dibalik kesedihannya sambil berkata. .

"Iya, teman-teman. Kalian tenang saja"

"Yang penting jangan lupakan persahabatan kita ya" lanjutnya.

"Tentu saja aku tidak akan melupakan persahabatan kita" kata Naruto

"Kami tidak mungkin melupakan persahabatan kita" kata yang lainnya.

"Baiklah Sakura harus segera pergi. Kau sudah siap Sakura?" tanya Tsunade.

"Huft, siap-tidak siap aku harus siap" kata Sakura.

"Baiklah, kau akan diantar oleh tim anbu kesana. Disana kau bisa menginap di asramanya, dan juga kau bisa berlatih jurus, karena di sana juga sekolah shinobi. Tapi kebanyakan dari mereka bukan shinobi yang terlibat perang serius seperti kita. Tingkatan cakra yang mereka miliki juga tidak tinggi. Mereka cuma shinobi yang biasa mengerjakan misi yah… paling tinggi rank B. Jadi, seharusnya kau mengungguli mereka" kata Tsunade.

"Aku akan berusaha sebaik-baik mungkin!" kata Sakura semangat.

"Baiklah, para anbu sekarang antarkan Sakura ke sekolah barunya. Pastikan Sakura aman dan tidak diketahui oleh Akatsuki!" perintah Tsunade.

"Baik!" kata para anbu bersamaan.

"Selamat tinggal teman-teman!" kata Sakura dengan nada sedih.

"Selamat Tinggal Sakura-chan, kami akan merindukan mu!" jawab teman-temannya.

Lalu Sakura pergi dengan para anbu meninggalkan desa Konoha, desa yang penuh kenangan untuknya. Setelah setengah perjalanan, para anbu berhenti dan berkata. .

"Kami hanya mengantarmu sampai disini. Perjalanan selanjutnya kau teruskan sendiri. Karena kami khawatir jika ramai-rami bisa ketahuan oleh Akatsuki. Kalau dari sini meskipun sendiri kurasa Akatsuki tidak akan menemukanmu, karena wilayah ini hampir dekat dengan perbatasan wilayah shinobi, jadi kau aman. Ini petanya. Semoga kau baik-baik saja" kata Kakashi sambil memberi sebuah peta kepada Sakura

"Baik sensei" kata Sakura.

"Kalau begitu, kami akan kembali ke desa" kata Kakashi. Lalu para anbu itu dengan cepat kembali ke desa.

Tapi Sakura tidak langsung kesekolahnya. Ia malah pergi ketempat lain.

"Tempat inikan dekat dengan kuil klan Uchiha. Mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang dapat membuat Sasuke-kun kembali" batin Sakura.

Akhirnya ia sampai ke kuil klan Uchiha. Kuil itu memang sudah sangat tua, tetapi masih kokoh dan bangunannya masih bagus. Lalu Sakura memasuki kuil itu. Tidak ada seorangpun di dalamnya. Kuil itu berdebu karena tidak ada yang menghuni. Tetapi kuil itu masih bagus.

"Pasti jika dibersihkan kuil ini akan terlihat seperti istana" gumam Sakura.

Saat Sakura sampai di ruang tengah, ia melihat sebuah lemari. Ia mendekati lemari itu. Entah kenapa hati kecilnya menyuruh Sakura untuk membuka lemari itu. Tetapi, saat Sakura mencoba membukanya ternyata lemari itu terkunci. Tidak tahu dirasuki setan apa Sakura mencoba menghancurkan lemari itu dengan pukulannya. Tetapi saat ia mencobanya seperti ada kekuatan yang melindungi lemari itu. Entah dari mana ia mendapatkan ide, ia mencoba membuka lemari itu dengan kunci yang didapatnya dari Tsunade setelah Tsunade menyegel jurus Sakura ke sebuah kalung yang hanya bisa dilepas oleh Sakura dan klan Uchiha (?).

Flashback

Sekarang, aku telah mengunci kekuatan itu di kalung yang ada lehermu itu.

"Hah, ada kalung dileherku? Sejak kapan?" Sakura kebingungan. Ia melihat ada sebuah kalung di lehernya. Tali kalung itu berwarna merah. Liontinnya berwarna merah muda berbentuk kristal dan memancarkan sinar biru.

"Kalung itu akan menjadi tak terlihat dan tidak bisa disentuh dalam waktu 1 jam setelah aku mengunci kekuatan itu. Kalung itu akan kembali terlihat saat kau mengaktifkan jurus itu. Dan kalung itu hanya bisa dilepas olehmu dan anggota klan Uchiha. Tapi jika kau yang mencoba untuk melepaskannya akan mudah dilepaskan, jika klan uchiha yang mencoba untuk melepaskannya akan sulit untuk dilepaskan. Apa kau mengerti?" kata Tsunade.

"Y-ya aku mengerti" jawab Sakura.

"Dan ini kuncinya" kata Tsunade sambil memberi kunci berwarna biru laut yang memancarkan cahaya.

"Kunci?" kata Sakura heran.

"Ya, ini adalah sebagian dari kekuatan itu. Kekuatan yang kau miliki itu ada 2 macam. Jadi aku memisahkannya. Kekuatan yang pertama berfungsi untuk membuka segel, jadi aku menguncinya di kalung itu, dan suatu waktu kau bisa mengeluarkan jurus itu. Yang ke dua berfungsi untuk membuka sesuatu yang aku tidak tahu apa itu, tapi kata Rikudou Sennin di dalam benda itu terdapat petunjuk tentang letak segel itu. Petunjuk adalah kode-kode yang harus kau pecahkan. Tapi kau tidak bisa melakukannya sendiri, kau harus melakukannya dengan seorang klan Uchiha" jelas Tsunade.

"Seorang klan Uchiha? Bagaimana aku bisa meminta bantuan dengan klan Uchiha kalau klan Uchiha yang tersisa hanya Sasuke-kun saja?" tanya Sakura.

"Entahlah, mungkin kau harus berusaha keras" jawab Tsunade.

End Of Flashback

Kemudian Sakura mencoba membuka lemari itu menggunakan kunci yang didapatnya dari Tsunade. Dan ternyata lemari itu dapat terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah gulungan yang memiliki lambang 6 magatama. Saat Sakura membuka gulungan itu, ia melihat kode-kode. Ia berpikir bahwa itu adalah kode-kode petunjuk tempat segel itu berada.

"Jangan-jangan, ini adalah kode-kode yang dibicarakan Tsunade-sama. Soalnya kunci ini dapat membuka lemari ini. Aku akan menyimpannya" gumam Sakura.

Lalu, ia keluar dari kuil itu. Diluar, ia mendengar suara. Ia penasaran suara apa itu. Lalu ia menelusuri arah datangnya suara. Dan ternyata suara itu berasal dari seseorang yang sedang berlatih. Dan orang itu adalah….

"Sa-Sasuke-kun?" kata Sakura.

Ternyata Sasuke mendengar kata-kata Sakura. Merasa namanya disebutkan ia menoleh kearah pemilik suara, dan. .

"Sedang apa kau disini!" omel Sasuke.

"A-aku h-hanya…" Sakura menjadi gugup saat bicara dengan Sasuke. Ia benar-benar tidak percaya orang yang ingin ditemuinnya ada di hadapannya sekarang.

"Hanya apa?" Tanya Sasuke dengan nada membentak.

"H-hanya kebetulan le-lewat" kata Sakura.

"Kebetulan lewat kau bilang. Ini kan jauh dari desa. Kau bukan hanya kebetulan lewat kan?" omel Sasuke lagi.

"Tapi, a-aku tidak bo-bohong" kata Sakura.

"Cepat jawab atau kau kubunuh!" ancam Sasuke

Sakura tidak percaya bahwa Sasuke berkata seperti itu. Sifat Sasuke lebih dingin dari yang dulu. Ia tahu bahwa apa yang sedang dirasakan Sasuke itu sangat menyedihkan.

"Apa yang harus ku lakukan? Jika aku tidak membuat alasan yang tepat, mungkin Sasuke-kun akan benar-benar marah. Ah, aku tahu! Kalau aku menjelaskan tentang gulungan yang kudapat barusan dan memintanya untuk membantuku memecahkan kode ini, mungkin ia mau …. mungkin" batin Sakura.

"Cepat jawab! Atau jangan-jangan kau sedang ditugaskan untuk menjadi mata-mata?" kata Sasuke.

" Aku tidak sedang menjadi mata-mata. A-aku…." Sakura menggantungkan kata-katanya.

"Kau apa?" tanya Sasuke dengan sedikit membentak.

"Aku….. Aku ingin meminta bantuanmu" kata Sakura.

"Bantuan? Huh, kau adalah shinobi yang bodoh. Mana ada seseorang yang meminta bantuan musuhnya sendiri? Yah…. Mungkin ada, yaitu kau" kata Sasuke.

"Ta-tapi, ini penting. Aku menemukan gulungan di dalam kuil Uchiha. Gulungan ini berisi kode-kode yang hanya bisa dipecahkan oleh klan Uchiha. Kode ini adalah petunjuk yang menunjukan letak sebuah segel. Segel itu isinya memang belum diketahui, tapi…." Sebelum Sakura selesai bicara, Sasuke memotong pembicaraannya.

"Apa! Beraninya kau masuk ke kuil itu! Kau tidak boleh masuk sembarangan. Satu hal lagi, kau hanya mau menjebakku kan? Aku tidak akan terpengaruh dengan semua ucapanmu! Berhentilah mengganggu hidupku! Berhentilah mencampuri urusanku! Dan ingat! Aku ini bukan lagi temanmu! Sekarang aku ini musuhmu! Seharusnya kau sadar!" bentak Sasuke.

"Ta-tapi,aku ti-dak pernah menganggapmu sebagai musuh Sasuke-kun" kata Sakura sambil menitikan air mata.

"Lupakan itu, lupakan persahabatan kita dulu. Sekarang sudah berbeda!" bentak Sasuke lagi.

"Tapi aku tidak bisa melakukannya! Kumohon izinkan aku membantu meringankan bebanmu!" kata Sakura.

"Jika kau mau membantuku, lupakan perasaanmu padaku! Semua perasaan itu hanya membuat perasaanmu semakin sakit! Lagipula, perasaan itu benar-benar merepotkanku" kata Sasuke, tapi kali ini ia tidak membentak Sakura.

Kemudian Sasuke pergi. Sakura masih terbayang dengan kata-kata Sasuke barusan. Seharusnya ia bahagia jika ia bertemu dengan orang yang selama ini ia tunggu kedatangannya. Tapi Sakura tidak merasa bahagia sama sekali, yang ia rasakan hanyalah perasaan bersalah.

"Jadi selama ini aku hanya merepotkannya saja dengan perasaanku ini. Kenapa aku tidak bisa melupakan perasaanku ini? Pokoknya aku harus berusaha melupakan perasaanku ini. Aku berjanji akan membantumu meski kau tak mengizinkannya, dan meskipun taruhannya nyawaku sekalipun!" batinnya.

"Ah,ya. Aku sampai lupa kalau aku harus mencari sekolahku yang baru. Baiklah sekarang aku harus kesana!" gumam Sakura.

Sakura menelusuri hutan yang lebat hanya dengan bantuan sebuah peta. Akhirnya ia sampai di kota Kumamoto. Kehidupan di sana jauh berbeda dengan di desanya. Banyak gedung-gedung, jalan raya, kendaran, orang-orang yang berlalu-lalang, dan tidak ada pertarungan yang besar. Suasana di sana benar-benar suasana yang mencari alamat sekolah ia melihat tiga buah gedung yang bagus dan sangat besar. Halamannya luas, gedung itu dibatasi pagar putih yang bertuliskan "KUMAMOTO HIGH SCHOOL."

"Ini dia!" kata Sakura.

Sakura memasuki halaman sekolah itu. Terdapat tiga gedung disana. Ia tidak tahu yang mana yang harus dimasukinya. Ia melihat ada seorang wanita melewatinya. Lalu ia mencoba bertanya pada wanita itu.

"Permisi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Sakura.

"Boleh. Sepertinya kamu pendatang baru ya?" tanya wanita itu.

"Iya. Perkenalkan, namaku Sakura, Sakura Haruno. Aku berasal dari desa Konoha!" kata Sakura.

"Namaku Akiko, aku guru disini. Kau murid Tsunade ya?" kata wanita yang bernama Akiko tersebut.

"I-iya. Bagaimana sensei bisa tahu?" kata Sakura.

"Waktu itu dia yang mengurus pendaftaranmu sebagai murid baru disini. Ya, waktu itu kami sempat berkenalan" jawab Akiko.

"Oh, begitu" kata Sakura.

"Biar kutebak, pasti kau kebingungan untuk memilih gedung mana yang akan kau masuki" kata Akiko.

"Eh, bagaimana sensei bisa tahu?" kata Sakura bingung.

"Hahaha… sebagian besar orang yang baru pindah kemari atau belum mengetahui tentang sekolah ini, pasti kebingungan untuk memilih gedung mana yang harus dimasukinya pertama kali" jelas Akiko.

"Oh, pantas sensei tahu" kata Sakura.

"Biar kuberitahu, gedung yang paling kiri itu adalah asrama khusus pria, yang ditengah adalah sekolahnya, dan yang paling kanan adalah asrama khusus wanita" kata Akiko.

"Baiklah aku mengerti" kata Sakura.

"Ayo kuantar kau kedalam, kau harus mengurus berkas-berkas pendaftaranmu dulu dengan kepala sekolah" kata Akiko.

"Terimakasih" kata Sakura.

Lalu mereka berdua masuk kedalam, sekolah itu begitu ramai. Satu tingkatan terdiri dari 4 kelas, kelas 1 terdiri dari kelas 1A, 1B, 1C dan 1D sama halnya dengan kelas 2 dan 3. Akhirnya, Sakura sampai di depan ruangan kepala sekolah. Lalu ia mengetuk pintunya.

"Masuk!" jawab sebuah suara yang berasal dari seorang wanita yang agak tua.

Lalu Sakura memasuki ruangan kepala sekolah bersama dengan guru yang baru saja dikenalnya. Di dalam ruangan itu, ada seorang wanita yang berumur sekitar 50 tahun.

"Nyonya, ini murid baru yang berasal dari desa Konoha" kata Akiko.

"Oh, ya silakan duduk em… siapa namamu?" kata kepala sekolah.

"Namaku Sakura, Sakura Haruno" jawab Sakura.

"Ku tinggal dulu ya" bisik Akiko.

"Iya" jawab Sakura.

Setelah lama berbincang -bincang, akhirnya Sakura keluar dari ruangan itu. Ia diberi kunci kamar di asrama sekolah itu,dan diberi beberapa baju seragam. Dan ia mendapat kelas 2A. Kelas 2A adalah kelas yang lebih unggul dibanding kelas 2 yang segera mencari kamarnya. Dikunci itu tertulis "No. 19 2A". Di dekat pintu masuk, ada denah besar yang ditempel di tembok. Kamar Sakura terletak di lantai 6. Ternyata tiap kamar digolongkan sesuai dengan kelasnya, lantai pertama loby, lantai ke-2 kamar murid kelas 1A, lantai 3 kamar murid kelas 1B, lantai 4 kamar murid kelas 1C, lantai 5 kamar murid kelas 1D dan begitu seterusnya sampai lantai 13 yaitu kamar murid kelas 3D. Sakura segera menaiki lift menuju lantai 6 dan mencari kamar No. 19 . Setelah masuk ia langsung berbaring di tempat tidurnya.

.

.

.

.

.

Keesokan Harinya

Sakura POV

Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Pada saat aku memasuki gedung sekolah, aku bertemu dengan Akiko-sensei. Ternyata ia adalah wali kelasku yang baru. Dan ternyata ia adalah guru yang biasanya melatih shinobi. Ya, dia adalah guru yang baik. Dia juga mudah akrab dengan orang lain, begitu juga denganku. Baru kemarin ia berkenalan denganku, ia sudah sangat akrab padaku. Sepertinya menyenangkan juga sekolah di sini. Tiba-tiba Aiko-sensei berhenti di depan suatu kelas, di pintunya ada sebuah papan bertuliskan 2A. Ah, ternyata ini adalah kelas baruku. Suasananya tenang. Aku dan Akiko-sensei memasuki ruangan itu. Semua murid yang ada di kelas itu menatapku.

End Sakura POV

Normal POV

"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Nah, Sakura silakan perkenalkan dirimu" kata Akiko.

"Namaku Sakura Haruno. Aku biasa dipanggil Sakura. Aku berasal dari Konohagakure. Salam kenal " kata Sakura.

"Nah, Sakura kau duduk dengan Harumi ya. Harumi, tunjukkan tempatnya" kata Akiko.

Lalu Harumi menghampiri Sakura dan mengajak Sakura ketempat duduknya.

"Namamu Sakura ya?" kata Harumi.

"Ya, lalu namamu Harumi kan?" tanya Sakura.

"Ya, salam kenal" Kata Harumi.

"Salam Kenal. Dan mohon bantuannya" kata Sakura.

"Kau tenang saja, anak-anak di sekolah ini baik-baik kok, hehehehe…." Kata Harumi

"Kurasa kata-kata Harumi benar, sepertinya murid-muri disini ramah. Mungkin aku akan betah di sini. Tapi, bagaimana keadaan teman-teman di Konoha ya? Semoga mereka baik-baik saja" batin Sakura.

~To Be Continued~

Akhirnya selesai juga. Apakah masih ada kesalahan pengetikan?. Kalau ada, mohon maaf karena mungkin aku kurang teliti. Terimakasih untuk yang mau membaca :)