AITAKUTE, AITAKUTE…
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei
This fic belong to : Kanon1010
Pairing : Uchiha Sasuke X (female)Uzumaki Naruto
Rate : T
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Poetry,drama
Warning : masih belum bisa lepas dari typo dsb…, AU, (agak) ooc, dan lainnya yang akan kalian temui selama membaca. No BL karena disini Naruto sebagai cewe. Minim percakapan,
Backsound : kana nishiino – aitakute & Celin dion – all by my self
Have a nice read~
Dozoo~…..
.
Hurt 2:…
.
"I-i-ino…" Naruto jatuh tertidur tak sadarkan diri dengan mulut yang mengeluarkan darah.
"Narutooooo!."
Dengan cepat Sai dan Ino membawa Naruto ke rumah sakit di Amegakure. Kondisi Naruto saat ini bisa dikatakan amat sangat tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Karena selama ini ketika Naruto kumat, belum pernah hingga tahap mengeluarkan darah seperti ini.
.
Begitu sampai di Rumah sakit Ame, Naruto langsung di bawa masuk ke ruangan UGD. Terlihat beberapa suster serta dokter keluar masuk dari ruangan itu dengan wajah yang panik. Sai memeluk istrinya, Ino yang terlihat sangat ketakutan hingga membuat tubuhnya gemeteran. Tak berapa lama kemudian Iruka datang menyusul dan ikut bersama mereka menunggu kabar tentang Naruto.
Hampir satu jam setengah mereka menunggu di luar, tak lama kemudian seorang dokter wanita berambut hitam pendek keluar dari UGD dan menghampiri mereka bertiga.
"Bagaimana dok, keadaan adik saya?" Ino langsung memeberikan pertanyaan kepada dokter tersebut.
"Anda keluarganya? Bisa kita bicara di ruangan saya?" dibalas anggukan oleh Sai dan Ino, sedangkan Iruka berkata akan menemani Naruto di ruang rawat.
.
Di dalam ruangan yang bernuansa putih dengan berbagai replika organ-organ tubuh serta obat-obatan duduklah Sai dan Ino mendengarkan penjelasan dari dokter yang diketahui bernama Shizune.
"Sebelum saya menjelaskan mengenai kondisi saudari Naruto, ada yang ingin saya tanyakan pada anda." Doket Shizune meletakan kacamatanya di kantung jubah dokternya.
"silahkan dok"
"Apakah Naruto pernah mengikuti terapi penyembuhan, semacam kemotrapi begitu?"
"Iya, 2 tahun lalu ia menjalaninya tetapi karena ada suatu hal ia menghentikan pengobatannya, Memang kenapa dok?" Ino menatap sang dokter dengan rasa ingin tau sambil menggenggam jemari Sai.
"Begini, sebenarnya bisa dikatakan hampir 45% kanker tersebut menghilang mungkin saat itu ia berjuang keras melawan penyakitnya, mungkin akibat berhentinya pengobatan itu sehingga dengan cepat kanker itu kembali lagi dan mencapai satdium 4. Dan akan berakibat Naruto akan sedikit- demi sedikit akan mengalami kehilangan ingatan. Hal ini dikarenakan ada yang dipikirkan terlalu keras olehnya hingga membuat tubuhnya shock. Benarkan?"
"Ya, dok memang ada hal yang dipikirkan Naru." Sai menjawab
"Saran saya,tolong pastikan Naruto jangan sampai memikirkan hal itu. Jika tidak itu akan mempercepat perkembangan kanker tersebut. Untuk sekarang ia sudah dalam kondisi stabil dan soal mulutnya yang berdarah itu salah satu efek yang ditimbulkan jika sudah mencapai stadium ini." doket Shizune memberikan selembar hasil ronsen kepada Sai dan Ino.
"Anda lihat bagian yang saya tandai lingkaran, ini adalah bagian otak Naruto yang masih belum terjamah kanker itu, kecil memang hanya 30% tetapi akan sangat membantu jika Naruto mau menghindari pikiran yang memeberatkan batinnya untuk sekarang biarkan dia dirawat disini 2 hari untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Terima kasih dok."
"Sama-sama, sudah tugas saya untuk menyelamatkan nyawa seseorang." Dokter Shizune tersenyum lembut.
.
.
-skip time-
Matahari pagi telah bersinar dengan cerahnya, membuat beberapa orang terbangun dari tidur nyenyaknya. Berkas-berkas sinar pun masuk melalui celah jendela menyinari sosok tubuh pria yang tertidur diatas meja kerjanya. Perlahan-lahan ia membuka kedua matanya dan terlihatlah sepasang bola mata berwarna onyx kelam. Pemilik mata itu adalah Sang direktur muda Uchiha Sasuke. Setelah perbincangannya dengan Neji semalam ia tak kembali ke apartermentnya malah bermalam dikantornya sendiri.
Sungguh, perkataan Neji mengenai 'mantan kekasihnya' itu membuat seorang Uchiha tidak nyaman di tidur. Di kepalanya terngiang-ngiang perkataan sang Hyuuga dan ketika tidur ia sempat bermimpi mengenai dirinya, mimpi ketika ia mencampakannya melalui telpon.
-.-
"Teme! Sombong sekali kau tak menelponku belakangan ini."
"Sibuk." Jawab Sasuke datar
"Oh.. aku tau kok kau sibuk semngat ya, kau sedang apa? Sudah makan? Jangan minum kopi terus tak sehat untuk tubuhmu." Terdengar suara Naruto yang riang untuk mengingatkan kebiasaan jelek kekasihnya itu
"Hn, sudah."
"Baguslah."
"Ano, Naru ada yang ingin kukatakan."
"Apa?"
"Kita PUTUS!."
"Sasuke bercanda ya? Hahahha bisa bercanda juga kamu."
"Aku serius, aku punya pacar baru tak tahan dengan hubungan seperti ini."
"Sa-sasuke kenapa? 6 tahun sasuke, 6 tahun! Apa yang salah dariku?" Naruto sedikit berteriak di telpon
"Aku tau, maaf." Kemudian telpon ditutup Sasuke.
-.-
Sauke mengelap keringat yang mengucur di pelipisnya ketika mengingat kejadian itu lagi. Kejadian setelah 5 bulan kepergian Naruto ke Suna. Ia mencekram rambut ravennya kuat-kuat agar melupakan kejadian itu. Ia tetap bersikeras bahwa ia tak akan mau perduli dengan keadaan mantannya itu.
"Tuh kan bener, pasti kau tidur di kantor lagi." Seorang gadis manis berambut pink pendek dengan mata emeraldnya berdiri di depan pintu ruangan Sasuke.
"Hn."
"Apa pekerjaanmu numpuk?"
"Hn, sedang apa kau disini Sakura?" tanya Sasuke sambil mengelap mukannya dengan sapu tangan
"Mengantarkan baju ganti untukmu, nih." Sakura nama gadis tersebut memberikan satu stel pakaian bersih ke Sasuke.
"Hn." Sasuke beranjak mengambil baju tersebut dan menuju kamar mandi untuk berganti baju.
Di saat Sasuke keluar ruangannya, Sakura membuka isi laptop Sasuke dengan senyum yang mengembang dan setelah beberapa lama ia menutup laptop tersebut dengan senyum riang.
'Aku punya kejutan untukmu Sasu-koi.'
.
-Sasuke POV-
'Aku harus melupakannya! Ia hanya bagian masa lalu sudah tak berguna.' Batinku dalam hati sambil menyiramkan air ke wajahku agar sedikit lebh jernih pikiran ini. dasar Hyuuga sialan kenapa dia harus membahas itu lagi tanpa dia beritahu aku juga tak akan mencarinya lagi.
Stelah berpakaian dengan baju yang dibawakan Sakura dan tubuh yang sudah segar, aku kembali ke ruangan tak enak juga meninggalkan kekasihku menunggu lama. Jika di ingat-ingat awal perkenalan kami secara tak disengaja, ia adalah anak dari keluarga Haruno salah satu pengikut aliansi Uchiha Inc. gadis yang anggun yang bisa kugambarkan dari sosoknya. Ia juga sangat wanita sekali, lemah lembut dan perhatian dan ia selalu ada bersamaku.
Saat memasuki ruanganku, kulihat Sakura yang tengah mengenakan baju kemeja dengan warna yang senada dengan rambutnya lalu rok mini berwarna putih dengan heels berwarna sama, membuatnya sangat cantik. Kemudian ia berjalan ke arahku dan memberikan kecupan singkat di pipiku.
"Aku pergi dulu ya Sasuke, ada urusan di rumah."
"Hn."
Selepas itu ia pergi meninggalkan kantorku. Kulihat beberapa karyawan telah datang dan memberikan spaan padaku yang hanya kubalas seadanya. Saat itu sayup-sayup terdengar suara Tenten, kekasih Neji di ruangan editor.
"Ya, ino? Bagaiman keadaan Naru?" kulihat Tenten sedang menelpon seseorang dan ia menyebutkan apa? Naru?.
"Apa? Naruto benar-benar sudah sangat parah? Kau harus menjaganya Ino jika seminggu waktu cutimu tak cukup aku akan bilang ke Neji."
"Baiklah salam buat Naru-chan ya. Dia harus semangat! Pasti bisa dia lawan penyakit itu, Naru kuat! Jaa".
Aku lupa kalau Tenten telah mengakhiri pembicaraannya dengan Ino, aku terlalu terlarut dalam mendengarkan hingga tak sadar ia telah berdiri disampingku.
"Mendengar pembicaraan orang lain tanpa izin itu tidak sopan, Uchiha-san." Tenten melipat kedua tangannya di dadanya.
"Hn, ada yang mau kutanyakan," Tenten hanya menatapku dengan pandangan curiga. "Apa tadi kau beru saja berbicara dengan Ino, sepupu Naruto?"
"Iya, kenapa?"
"Apa benar Naruto sedang sakit kanker?" tanyaku dengan ragu dan entah kenapa menunggu jawaban dari gadis bercepol dua ini membuat jantungku berpacu dengan cepat.
"Hah~ untuk apa anda tau? Ia sudah bukan urusan anda. Yang pasti sebentar lagi anda akan bersenang ria karena hidup Naruto tak akan lama lagi. Anda PUAS? Saya permisi." Sepeninggal Tenten rasa sakit menjalar di dadaku ini dan kutonjokan tanganku di dinding
"Kusoo!"
-end Sasuke POV-
.
Sepasang bola mata berwarna biru saphire itu, akhirnya membuka. Ia melihat ke sekelilingnya hanya di dominasi warna putih dan bau obat-obatan yang menyengat, sudah dipastikan ia tengah berada di rumah sakit. Saat menengok ke kiri ia melihat Sai, kakak iparnya tertidur di sofa dan sepupunya Ino tertidur di pangkuan suaminya. Terlihat rawut wajah mereka berdua yang kelelahan. Naruto tersenyum miris melihat keduannya, betapa merepotkan dirinya karena menyusahkan kedua orang itu. Dengan perlahan ia bangkit dari tempat tidur tanpa suara agar tidak membangunkan keduannya dan keluar kamar dengan membawa infusnya.
Hembusan angin kencang menerpa wajah tannya yang terlihat pucat, Ia memejamkan mata mencoba mencari ketenangan. Atap merupakan tempat yang disukainya. Setiap ia merasa sedih, gundah ia mengadukan nasibnya di tempat tertinggi di sebuah bangunan. Kadang ia pun menangis dalam diam hingga tak seorangpun tau bahwa hatinya sangat rapuh. Ia berdiri di belakang pagar pembatas dengan perlahan kakinya dinaikan satu. Ya dia Uzumaki Naruto mencoba meloncat dari sana. Ia merasa tak ada gunanya lagi ia bertahan hidup.
Ia makhluk tak berguna, ia anak yang tak diharapkan, ia sampah masyarakat, ia lemah dan ia juga merasa bahwa dirinya hanya makhluk yang tak sepatutnya terlahir di dunia. Air mata mulai menetes kembali di pelupuk matanya. Dengan pasti ia akan melompat, tetapi sebelum melompat tubuhnya segera ditangkap oleh seseorang.
"Kalau mau bunuh diri jangan disini, merepotkan saja." Pemuda berambut nanas dengan wajah mengantuk menggendongnya dan menurunkannya di tempat yang agak jauh dari pembantas.
"Jangan suka ikut campur urusan orang lain tuan Nara." Naruto memandang Shikamaru dengan tajam.
"Mendokusai, kau mengganggu tidurku. Jika ingin mati lakukanlah di tempat lain." Naruto menunduk mendengar perkataan orang yang baru dikenalnya kemarin dan berjalan keluar.
"Aku kenal dengan seseorang yang sama sepertimu, ia juga terkena penyakit yang sama, dia juga berpikiran bahwa ia merepotkan orang lain dan ingin mengakhiri hidupnya." Shikamaru membuka pembicaraan tanpa mengubah posisinya yang sedang menyender di dinding dengan pandangan menerawang ke langit. Naruto yang hendak pergi langsung berbalik menuju ke arah Shikamaru.
"Siapa dia? Apa dia juga pernah merasakan penghiantan dan pengucilan?" Naruto berkata dengan tatapan datar yang dingin
"Ya, dia pernah juga mengalami itu."
"Dimana dia?"
" Di langit…dia kekasih ku namanya, Temari. Apa kau mau tau tentangnya?" Shikamaru menawarkan pada Naruto agar ia mau mendengarkan kisah tenatng Temari.
"Ceritakan lah, akan ku dengarkan."
"Hah, merepotkan tetapi semoga ini membantumu melupakan orang-orang yang menyakitimu." Shikamaru merubah posisi duduknya jadi lebih setengah merebahkan diri dengan mata menerawang ke langit.
"Namanya Temari, ia lebih tua 2 tahun darimu, mungkin sama seperti sepupumu itu. Ia terkena Kanker otak sama denganmu. Dulu, ia seorang gadis tomboy dan ganas meskipun begitu jika sudah bersamaku ia akan menjadi gadis yang manis. Kanker itu mengenainya sekitar 2 tahun lalu. kau tau dia dikhianati keluarganya sendiri ia dikucilkan keluarganya sendiri begitu keluarganya mengetahui soal penyakitnya mereka mengasingkannya disini," Shikamaru berhenti sejenak dan mengeluarkan sebatang rokok kemudian mengisapnya."Tak apa kan aku merokok?"
"Iya, teruskan ceritamu."
"Dia tinggal di Ottogakure, aku juga disana. Tetapi ia diasingkan kesini oleh keluarganya, mereka tak mau tau mengenai keadaan Temari lalu mereka pergi menghilang entah kemana. Mengetahui hal itu aku menyusulnya kesini, aku merawatnya dengan baik. Tetapi, ia sama sepertimu ia merasa hanya merepotkanku dan mencoba mengakhiri hidupnya. Beruntunglah hal itu bisa dicegah olehku saat itu aku hanya bisa memukul kepalanya yang bodoh itu. Mulai saat itu, para suster dan doker disini membuatnya ceria hingga ajal menjemputnya. Sebelum meninggal ia berpesan agar aku meneruskan kuliahku sebagai seorang dokter sehingga ketika aku bertemu dengan orang yang sama sepertinya, aku bisa menolongnya. Mungkin kau salah satunya. " Shikamaru tersenyum tipis saat setelah berhenti menceritakan tentang Temari.
"Setidaknya dia memiliki kekasih yang setia ketika dia sakit, kau masih terus berada disampingnya. Sedangkan aku? Malah di jatuhkan ke lubang kematian. Mungkin kami berdua memang sama tapi, ada hal di dirinya yang tak sama denganku dan kau salah mengenai kesamaan kita." Naruto mulai berdiri dari duduknya dan menjalankan infusnya. Tetapi ketika sudah mencapai di depan pintu ia berbalik menghadap Shikamaru.
"Terima kasih untuk ceritanya, ia pasti sangat beruntung memilikimu. Tapi maaf aku tak butuh bantuan darimu." Selepas itu Naruto hilang dibalik pintu. Shikamaru menghembuskan asap rokok dari mulunya serya berkata pelan.
"Apakah setiap gadis pirang selalu merepotkan, Temari…"
.
.
.
Hari demi hari di lalui Naruto di rumah sakit. Wajahnya semakin pucat saja, rambut kuning panjangnya mulai rontok satu persatu. Tiap kali kumat selalu mengeluarkan darah, meskipun begitu ia selalu memberikan senyumannya yang lebar. Tetapi ketika semua orang meninggalkannya sendiri ia hanya tersenyum pahit dan menangis tanpa suara.
Seminggu telah berlalu, Ino kembali ke Konoha karena ia hanya mengajukan cuti selama seminggu. Di desa ia hanya bersama Sai dan Iruka. Terkadang ia membantu Matsuri, seorang gadis manis tetangga sebelah untuk memetik bunga di bukit atau mereka bertiga dengan Shikamaru menangkap ikan di sungai. Sedikit demi sedikit semua orang berusaha menghilangkan memori orang itu dari otak Naruto. Membuat Naruto terlihat sedikit lebih segar, meskipun tatapan matanya masih terlihat sendu dan menyiratkan kepedihan.
-Naruto pov-
Satu hari lagi kulewati dengan setengah hati. Entah kenapa kami-sama belum juga mencabut nyawaku. Mesikipun ada Matsuri dan Shikamaru yang mengobati sedikit kesedihanku tetapi masih saja aku memikirkan dia. Sungguh jika memori ini cara kerjanya sepert komputer mungkin dengan segera aku mendelete semuanya.
Setelah perbincangan di atap bersama Shikamaru minggu lalu, perlahan-lahan dia sering memberiku nasihat kata-katanya selalu bisa menyadarkanku dari keterpurukan. Ia seperti sosok kakak kedua setelah Sai nii-chan. Dan dengannya aku melakukan terapi lagi, dengan telaten dia membantuku. Apakah ini maksud dari perkataan ino tempo hari? Apakah aku masih pantas menerima cinta dari orang-orang? Apakah aku bisa membalas kebaikan mereka? Jika tuhan masih memberiku umur panjang, aku akan berusaha kembali memepercayai mereka.
Saat ini aku sedang berjalan menuju bukti, Matsuri mengajakku untuk memetik bunga edelwise yang sangat langka di bukit. Dengan langkah yang pelan aku tak sadar jika ada sebuah truk berkecepatan tinggi menuju ke arahku. Sangat cepat kejadian itu dan tau-tau aku tak sadarkan diri. Mungkin ini saatnya untuk aku pergi selamanya?...
-end Naruto pov-
.
Bunyi berbagai alat di ruang oprasi memenuhi ruangan itu, sesekali terlihat garis-garis lemah yang menandai bahwa detak jantung itu mulai melemah, bahakan alat kejut jantungpun telah digunakan. Tubuh mungil itu bersimbahan darah di bagian kepalanya, pada dokter dengan wajah serius berusaha sekuat tenaga menyelamatkan nyawa orang itu. Ya orang itu Naruto, tabrakan itu memgenai bagian kepalanya. Sang penabrak yang diperkirakan sedang mabuk langsung melarikan diri.
Sudah hampir 2 jam lampu di ruang orpasi belum berubah menjadi hijau. Terlihat Iruka duduk menemani Matsuri yang terlihat shock, Sai mencoba menenagkan Ino yang daritadi terus menangis dan Shikamaru berdiri di depan pintu. Semuanya cemas mengenai berita Naruto tertabrak. Akhirnya setelah penantian yang lama lampunya berubah menjadi hijau menandakan oprasi telah selesai. Keluarlah dokter Shizune dan salah seorang suster yang tangannya penuh darah dari ruang oprasi itu.
"Gimana dok, apakah Naru selamat?" Ino menghambur menerjang Shizune.
"Ino tenanglah, jika kau menarik-narik baju dokter gimana dia bisa menjelaskan." Sai melepas pegangan Ino di jubah Shizune.
"Ah, maaf."
"Tak apa. Oprasinya berhasil nyawa Naruto terselamatkan dan juga ini suatu keajaiban Kanker yang menerjang Naruto telah hilang 100%. Bisa dikatakan kemungkinan karena tabrakan yang mengenai kepalanya sehingga bibit-biit kanker itu lenyap. Ini salah satu kebesaran tuhan." Dokter Shizune tersenyum sambil menepuk pundak Ino.
"Yokatta, sekarang Naruto dimana dok?" Iruka membuka suara
"Ia sudah kami pindahkan di ruang rawat, tetapi mungkin ia akan mengalami koma yang tak tau akan terjadi berapa lama." Wajah semua orang yang tadinya ceria, mendengar hal itu menjadi sendu.
"Baiklah, jika memang seperti itu keadaannya kami terima. Terimakasih dok telah berusaha merawat Naru." Ujar Sai sambil tersenyum menatap dokter Shizune.
"Sama-sama sudah kewajibanku sebagai dokter, dan kau Shikamaru! Cepat kerjakan tesis mu biar kau bisa bekerja disini." Perintah Shizune sekaligus dosen pembimbing Shikamaru di Universitas Medical Ame.
"Iya, iya merepotkan saja."
.
.
PRANG… suara figura foto yang terpasang di dinding sebuah rumah pecah berserakan di lantai. Kemudian disusul seorang pemuda berperawakan tinggi memandang pecahan itu dengan bingung dan memungut foto yang di dalamnya yang tergambar wajah dua orang anak-anak sedang tersenyum.
'Naru-hime, apakah kau baik-baik saja?...'
.
.
Sudah 3 hari, Naruto mengalami koma. Hingga saat ini beluam ada kemajuan dari perkembangan bahwa ia akan sadar. Dengan telaten semua orang merawatnya, tanpa ada rasa keterpaksaan mereka merawat dengan sepenuh hati. Hari ini giliran Iruka merawat Naruto. Di sebuah ruang rawat VIP, Iruka duduk disamping ranjang Naruto sambil menonton tv.
"Engh..nh.." terdengar lirihan suara dari arah Naruto, begitu Iruka menengok ia terkejut akhirnya Naruto membuka matanya.
"Naru-chan, kamu sudah sadar? Apa yang kamu rasakan?" Iruka bertanya histeris karena gadis yang sudah dianggapnya seperti keponakan sendiri, akhirnya sadar.
"Dimana aku?" Naruto memegang kepalanya yang terasa sakit.
"di rumah sakit, kamu mengalami tabrakan ingat? Sebentar aku panggilkan dokter." Iruka menuju ganggan telpon yang untuk memanggil dokter tetapi terhenti saat Naruto berkata,
"Anda siapa?.."
.
.
Konoha, sebuah kota besar yang sangat metropolitan. Berbagai macam orang memenuhi kota yang juga sebagai jantung negara ini. di salah satu gedung tinggi di pusat kota, sedang diadakan sebuah pesta yang diadakan oleh Haruno Inc. hari ini adalah perayaan terpilihnya Sakura Haruo anak tunggal dari Takeshi Haruno sebagai penerus dari Haruno Inc.
Berbagai macam orang datang kesana, tak terkecuali sang kekasih nona muda itu, Uchiha Sasuke. Saat ini Sasuke sedang berdiri di dekat salah satu meja yang menyediakan minuman sambil berbincang sedikit dengan beberapa orang. Ia merasa agak risih dengan orang-orang yang datang di acara ini. bukan karena alasan ia membenci keramaian yang memang tak ia sukai, tetapi karena orang-orang yang hampir datang kesini adalah para pemilik perusahaan kecil yang sudah perushaannya hancurkan satupersatu. Tatapan sinis mengarah padanya.
"Ehm, selamat malam para hadirin. Terimakasih telah berkenan hadir ke acara pengangkatan saya sebagai direktur utama Haruno Inc." Sakura membuka pembicaraan di panggung. Ia mengenakan dress berwarna putih panjang dan rambut pendeknya di sanggul membuatnya terlihat sangat cantik.
"Hari ini saya mau mengucapkan terima kasih pada seluruh orang yang membantu memajukan perusahaan ayah saya ini." Sakura masih terus berbicara dan Sasuke mendengarkan dengan tersenyum tipis melihat kekasihnya itu.
Drt…drrtt…. Getaran dari ponsel Sasuke, mengusik konsentrasinya memandangi Sakura. Dengan segera ia membuka flip ponselnya dan tertera nama Shino, salah satu pekerjanya di kantor.
"Ada apa Shino?" suara Sasuke terdengar sangat dingin kakrena merasa terganggu.
"Gawat tuan Uchiha! Ada seseorang yang mengetahui kelemahan perusahaan kita, membuat para investor pergi meninggalakan kita dan menarik kembali saham yang telah mereka tanam." Suara Shino terdengar panik
"Apa maksudmu? Apa kau mau bilang ada penyusup yang sengaja membocorkan identitas perusahaan kita."
"Iya! Anda benar dan pelakunya adalah… perusahaan Haruno."
"Apa? Aku akan segera menuju kesana, tolong kau usahakan agar tidak semua menarik sahamnya."
"Baik!."
.
Sasuke terlihat geram melihat Sakura yang masih berpidato dipanggung. Dan tanpa permsi langsung naik ke atas panggung.
"Ah, satu orang lagi yang harus saya ucapkan terima kasih banyak. Di adalah Uchiha Sasuke, beri tepuk tangan untuknya." Lampu sorot langsung mengarahkan ke arah Sasuke yang tengah berdiri di samping Sakura dengan wajah menyeramkan.
"Untuk Sasuke, terima kasih ya berkat kebaikan hatimu yang memberikanku informasi berharga sekarang para investor pindah ke perusahaan kami." Sakura tersenyum ke arah Sasuke.
"Apa maksudmu Sakura?"
"Um bagaimana jika aku bilang, aku yang mengambil semua data perusahaanmu." Sasuke terkejut atas pernyataan Sakura barusan.
"Ya, sebenarnya aku mendekatimu dan menjadikanmu pacar hanya ingin balas dendam. Kau masih ingat perusahaan Lee?"
Ya, Sasuke masih ingat jelas perusahaan itu. Perusahaan kecil yang sedikit mencari masalah dengan Sasuke, sehingga ia menjatuhkan perushaan itu hingga bangkrut.
"Jangan-jangan…."
"Yap! Kau benar Uchiha, aku adalah tunangan dari Lee. Dan aku datang untuk membalsakan dendamnya. Berkat kesadisanmu sekarang Gai, orang tua Lee sakit-sakitan memikirkan kelangsungan hidupnya. Dan sebagai calon istri yang baik sudah sepatutnya membantu mereka."
"KAU!."
"Dan inilah keakhiran masamu UCHIHA, kau Skak matt!." Sasuke terdiam tanpa harus tau mau mengatakan apa. Ia merasa marah, benci, kecewa. Dengan penuh amarah ia meninggalkan ruang pesta itu sedangkan para tamu menertawakannya. Hancurlah sudah image Uchiha.
Di dalam mobil, Sasuke memukul stir mobilnya. Ia merasa sangat bodoh bisa terjebak seperti ini. ia merasa dikhianati oleh orang yang dicintainya. Tunggu sebuah kata membuatnya terdiam. Dikhianati , apakah ini yang dirasakan Naruto? Beginikah rasanya dibuang? Apa ia sedang terkena karma akibat perbuatannya pada Naruto?...
'Naruto…maafkan aku….'
.
.
TBC..
a/n : entah ceritanya ini jelas atau tidak, kanon berterima kasih atas para pembaca. Jika cerita ini mirip sama cerita seseorang kanon bersedia menghapusnya. Setidaknya kanon dari awal bkin fic berusaha ga akan mencontek karya orang lain. kanon tau rasanya di contek karyanya akan merasa kesal karena 2x karya kanon di contek orang hanya ia membedakan tokoh dan sedikit jalan ceritanya. Jadi jika memang mirip kasih tau kanon biar kanon segera menghapus ini. ^^
Buat : Rosanaru, Namikaze Trisha, Kodokuna Yosei san, Ashahi Kagiri-kun, Kotaru, Namikze Hikari, Vii no kitsune, Yashina Uzumaki, Hikaru, dan Naru freak. Maksih buat review dan udah baca fic kanon ini. karena hampir semua ingin liat Sasuke menderita. Akan kanon buat sasuke menderita disini tenang aja. ^^
Buat Naru freak, emang kanon ga buat pairing Shika Naru kok, krena belum dapet feel untuk dua pairing ini. jadi seperti kata mu hanya friendship aja.
Saa, minaa maksih udah baca. Ditunggu kritik, saran, sumbangan, sanggahan, dan lain-lainnya di kotak REVIEW. n_n
