Main Cast : ChanBaek
Other Cast : temukan di dalamnya ^^
Disclaimer: Cerita ini pure milik CupidKyumin a.k.a. Gloomy Rosemary
.
.
Notes:
Chanyeol : 25YO
Baekhyun : 19 YO
Previous Chapter
"Apa Bai Xian baik-baik saja?"
"..."
"Kau akan membawaku pada Bai Xian bukan?"
"..."
"S-suster...katakan sesuatu, di mana Bai Xian?"
"..."
.
Chapter 2
Please Take Care Of My Boyfriend
.
.
.
Detik berganti menit... terus berulang tanppa satupun yang menyadari, jika putaran waktu itu telah berulang hingga 2 bulan lamanya.
Dan disinilah semua tersambut...
Dalam heningnya ruangan berbekalkan suasana putih yang terang itu, seorang bocah tengah berusaha menerka harinya seorang diri.
"Cha...sekarang buka matamu Baekhyun~ah" Ujar seorang pria cantik seraya mengamati lekat-lekat anak yang masih kesulitan membuka kedua matanya.
"Luhan...benarkah ini akan berhasil?" Gumam Sooyoung, turut antusias menunggu Baekhyun benar-benar bisa menggunakan mata itu dengan baik.
"Jangan meragukanku" Sahut Dokter bernama Luhan itu dengan pasti.
"Baekhyunnie...jangan tergesa-gesa mengerti?" Ucap Sooyoung seraya merapikan anak rambut yang menjuntai di kening dan pipi Baekhyun.
Baekhyun mulai menggerakkan kelopak matanya, terasa menyakitkan kala bias lampu ruangan itu serasa mengepungnya dalam bayangan putih. Berkali-kali Ia mencoba mengerjap, semakin banyak Ia mengerjap...semakin goyah bayangan yang di tangkapnya. Dan Itu benar-benar membuatnya pening.
"Pejamkan sejenak...lalu buka sepelan mungkin Baekhyun" Ucap Luhan lirih.
"T—tapi ini sakit" Baekhyun nyaris terisak, Ia benar-benar tak biasa melihat fraksi seterang ini
"Cobalah sekali lagi, bukankah kau ingin melihat kami?" Sooyoung terlihat mendorong batin anak itu.
Baekhyun mengangguk patuh. Tentu saja Ia ingin melihat lalu mencari kemana perginya Bai Xian selama ini. Sejenak Baekhyun memejamkan mata erat...lalu membukanya dengan perlahan, hingga kedua foxy eyes itu benar-benar terbuka dengan sempurna.
"Berhasil? Dia berhasil melakukannya?" Pekik Sooyoung seraya mengguncang lengan Luhan, mencari kepastian.
Namun racauannya terhenti begitu sebelah tangan Baekhyun menyentuh bahunya. "Kau kah...Sooyoung Nunna?" Tanya Baekhyun tiba-tiba dengan mata mengerjap polos.
Tak ayal...Sooyoung menjerit antusias melihatnya. Dan memeluk namja mungil itu dengan eratnya...bahkan bulir bening mulai mengalir cepat dari sudut matanya. "A-aku seperti melihatmu kembali" Ucap Sooyoung terbata Membuat bocah mungil itu makin tak mengerti dengan sikapnya.
Ya! Sampai detik ini...Baekhyun masih belum mengetahui apa yang terjadi pada Bai Xian. semua tetap dirahasiakan dengan apik dari bocah mungil itu.
.
.
.
...
"Mulai sekarang, kau harus menggunakan dan menjaga kedua mata ini sebaik mungkin Baekhyun" Sooyoung menangkup kedua pipi Baekhyun, lalu setelahnya beralih mengemas beberapa potong pakaian Baekhyun ke dalam koper berukuran sedang.
Baekhyun tetap bergeming, dan makin tertegun begitu melihat pantulan dirinya dari cermin. Untuk pertama kalinya Ia melihat wajah dan tubuhnya sendiri. Benarkah itu dirinya?
Surai cokelat... kulit putih.. dan—
Mata itu.
Sepasang mata berwarna coklat muda yang jernih...
Benarkah Ia yang memiliki sepasang mata yang indah itu?
"Y—yeppeo" Gumamnya pada sepasang manik caramel itu.
Suster itu terkekeh pelan. "Hm... ya, mata ini sangat cantik"
"Siapa yang memberikannya padaku? Mengapa Dia memberikan mata ini untukku?" Celoteh Baekhyun seraya menengadah ke atas.
Sooyoung terhenyak,
'Kau tak akan mungkin melihat sosoknya lagi Baekhyunn' Batin Sooyoung, seraya menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan matanya yang memerah menahan tangis.
"A-apa? Siapa yang tak mungkin ku lihat lagi?" Celetuk Baekhyun tiba-tiba. Membuat Sooyoung menepuk jidat keras, lupa...jika Baekhyun memiliki kemampuan mendengar suara hati seseorang. Dan hanya dirinya yang tau, tentunya Bai Xian telah mengatakan hal ini sebelumnya.
"Berhenti membaca pikira seseorang. Dan kau harus merahasiakan kemampuanmu itu dari siapapun. Demi kebaikanmu... mengerti?" ujar Sooyoung seraya menyeka sedikit rembasan bening di sudut matanya.
Baekhyun berdecak tapi tetap mengangguk mematuhinya. "Ah! Nunna...di mana Bai Xian? Bukankah kau berjanji akan —
"Sssshhh...apa kau masih mengingat apa yang Bai Xian katakan padamu?"
Baekhyun mengerjap tapi setelahnya ia bangkit dan terlihat mengacak isi koper yang telah dikemas dengan rapih oleh Sooyoung.
"Apa yang kau cari?"
"Dimana kotak itu? aku yakin...aku membawanya bersama baju-baju ini" Ucap Baekhyun tergesa.
"Apa yang kau maksud benda ini?" Sooyoung meraih sesuatu dari lipatan baju Baekhyun, lalu memperlihatkan kotak berukuran kecil untuk namja mungil itu.
"B-benar! Benda itu!" dengan antusias Baekhyun mengambil lipatan kertas dalam kotak kecil itu, dan membukanya dengan perlahan.
..
.
.
"Sebuah alamat?" Baekhyun mengerjap polos.
"Hm...dan pesan dari Bai Xian di setiap lembarnya, aku harap kau melakukan apapun yang diinginkannya Baekhyun" Ujar Sooyoung seraya mengelus kepala Baekhyun.
Bocah manis itu mengangguk pasti. Lagipula...Bukankah Bai Xian mengatakan jika benda ini yang akan membimbingnya menemui Bai Xian bukan? Dan Ia yakin, pasti alamat ini yang akan mengantarnya pada Bai Xian. Yakin Baekhyun sembari menatap lekat-lekat rentetan huruf dan angka di kertas itu.
"Cepat berkemaslah, Pak Song yang akan mengantarmu menuju rumah ini"
.
.
.
.
Beberapa Jam kemudian.
"Terima kasih Paman..." Baekhyun tersenyum lebar sembari membungkuk dalam, begitu Pria paruh baya itu kembali memasuki kemudinya.
Pria itu tersenyum ramah. "Nona Sooyoung berpesan, Dia akan mengunjungimu sore ini" Ujarnya Lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya benar-benar memacu mobil hitamnya meninggalkan kediaman, bertag' Park' di gerbang besarnya.
Baekhyun kembali berjalan, meski sesekali Ia terlihat terhuyung karna belum terbiasa dengan kedua matanya. Tapi sesaat kemudian Ia nyaris memekik begitu sadar... Gerbang itu sama sekali tak terkunci.
Mungkinkah memang sengaja dibiarkan terbuka seperti ini? untuk menyambutnya masuk?
.
.
"Benarkah ini rumahnya? Whoaa besar sekali" Takjub Baekhyun begitu memijakkan kaki tepat di pintu utama di rumah mewah itu.
Lama Ia menelisik ke sekitar. Lalu setelahnya memutuskan menekan bel tepat di sisi atasnya...barang kali Bai Xian di dalam, dan segera membuka pintu untuknya.
Tapi lama Ia menekan benda nircable itu, tak ada satupun yang menyahut terlebih membuka pintu untuknya. Ah! Mungkin sampai bel itu remuk sekalipun...pintu tersebut akan tetap tertutup rapat seperti itu.
Merasa tak sabar, Baekhyun beralih mengetuk-ngetuk pintu itu...namun betapa terkejutnya Ia begitu mengetuk lebih keras...dan pintu terbuka dengan sendirinya.
"T-tidak di kunci?"Pekiknya tak percaya.
.
.
.
.
Sementara itu...
"Tck!"
Decaknya keras begitu bias mentari menerpa wajah kusutnya, ia beralih bangkit untuk duduk dan mengacak kasar surai ikalnya. Bahkan mentari pagi bisa terasa menyakitkan seperti ini. Lama Chanyeol menatap kosong ke depan, tapi semakin ia diam semakin tak menentu pula perasaan itu. Masih lekat dalam ingatannya, bagaimana sosok mungil itu menyibak tirai dan menjerit dengan lengkingan tenornya, untuk membangunkannya.
Ah! Benar-benar manis...saat Ia menariknya, lalu memenjarakan tubuh mungil itu di ranjang ini dan menciumnya dengan intens. Demi apapun itu...setiap kenangan yang terajut bersama Bai Xian... benar-benar hidup di kamar ini.
"Semua tak akan sama tanpamu" Gumam Chanyeol sebelum akhirnya bangkit untuk berdiri, dan mengeratkan tirai yang sedikit tersingkap. Tak membiarkan cahaya menerobos masuk...barang secercah pun. Atau bias mentari itu, hanya akan mengingatkannya pada sosok Bai Xian.
Lebih dari dua bulan ini, Chanyeol cuti dari rumah sakit...mengurung diri dalam rumah yang bahkan lampu pun tak diizinkannya untuk menyala. Semuanya begitu gelap...senyap dan dipastikan dibalik kesuraman itu, debu tercecer di manapun.. bahkan sepertinya jaring laba-laba turut menghias setiap sudut rumah mewahnya. Apapun itu...Chanyeol benar-benar menyerupai pangeran kegelapan di rumahnya sendiri. Dan Ia nyaman dengan keaadaan itu. Sekali lagi, bias mentari ataupun suasana terang dan bersih hanya akan membuatnya ingat akan sosok Bai Xian. dan Itu benar-benar menyakitkan.
Chanyeol terpuruk...terlalu jauh membenamkan dirinya dalam luka itu. selepas...Bai Xian benar-benar menghilang untuk selamanya dari rengkuhannya.
Pria itu beralih berjalan gontai, keluar dari kamarnya...untuk sekedar mengambil Minuman bersoda dari lemari pendinginnya. Kedua matanya masih setengah terpejam, saat membuka benda itu...hingga tak sadar. Ruang makan itu...telah berpendar cahaya terang.
.
.
'Thud...Thud'
Chanyeol sedikit mengernyit begitu merasakan sesuatu yang keras seperti menusuk-nusuk pinggangnya, tapi ia mengabaikannya dan tetap meneguk cola itu dengan tenang.
'Tuk...Tuk'
Namun lagi-lagi, sesuatu kembali menusuknya dan kali ini beralih di kepalanya. Ah! Sial...siapa sebenarnya yang mengusiknya saat ini. Apa penghuni yang lain dari rumahnya? Memang tak heran jika itu makhluk halus. Karna bagaimanapun Chanyeol membiarkan rumahnya tak terurus, begitu gelap dan mengerikan layaknya makam umum.
Chanyeol berdecak sembari menutup kasar pintu kulkasnya lalu memutar tubuh dengan gusar. "APA HAH?! BERANI-BERANINYA KAU—
Chanyeol mendadak stagnan, begitu melihat seorang namja kecil berdiri was-was dengan sebuah sapu di tangannya, seolah dirinya adalah ancaman mengerikan. Tapi bukan sikap penuh waspada itu yang membuatnya tercekat, melainkan pada paras namja mungil itu.
Apa ini?
Mungkinkah dirinya benar-benar gila ? Melihat sosok Bai Xian berada di hadapannya seperti ini? Oh demi apapun itu! ini bukanlah hal yang bisa dicerna oleh logika! Tapi Ia memang tak sedang bermimpi...Kekasih mungilnya benar-benar nyata mengerjap polos ke arahnya. Meski sosok itu hantu sekalipun, ia tak akan peduli! Selama itu benar-benar Bai Xian miliknya.
"Dear" Gumamnya lirih seraya berjalan mendekat dengan tatapan kosongnya.
"S-siapa huh? Apa kau salah seorang pembantu di rumah ini?" Ujar Baekhyun takut-takut, sambil merambati meja pantry di belakangnya, bermaksud ingin menghindar.
Chanyeol sedikit mengernyit, merasa ganjal dengan celoteh tersebut. Apa Bai Xian mengalami amnesia...hingga menganggap kekasihna sendiri sebagai 'pembantu'?
Ah! Biarlah namja cantiknya meracau seperti itu. setidaknya Bai Xian kini di hadapannya. Ya! Kekasih mungilnya benar-benar kembali. Tidakkah dirinya satu-satunya namja paling beruntung di dunia ini? Tuhan begitu berbaik hati mengembalikan Bai Xian untuk nya, meski telah berubah warna rambut menjadi cokelat seperti itu.
"K-kau ingin mencuri di sini?!" Baekhyun makin ketakutan, begitu pria tinggi itu kian mengikis jarak dengannya...bahkan hingga merampas sapu di tangannya dalam sekali tangkap.
"Kembali...kau benar-benar kembali padaku Dear"
Kedua manik caramel itu terbelalak lebar, apa maksudnya itu? siapa yang kembali sebenarnya .. tapi belum sempat Baekhyun menerka segalanya, jeritannya pecah begitu saja...kala Pria itu mendekapnya dengan tiba-tiba.
"Y-YACKKK! LEPASKAN A—Mpppfth~
Baekhyun berjengit hebat dengan pupil membesar begitu sesuatu yang basah menghisap penuh bibir bawahnya. Apa lagi sekarang?
Sesaat Baekhyun mengerjap hingga lumatan itu semakin intens dan menyentak sadarnya,
Ya Tuhan! ...Pria itu benar-benar sedang menciumnya!
Baekhyun berontak panik, ia tak mungkin membiarkan pria asing dan tak waras itu mencuri ciuman pertamanya seperti ini!
"Lepfhast! Mpfth! MMMMMHH!"
.
.
.
Sesak...
Terlalu sesak ...hingga nyaris baginya tak mendapat kesempatan secelahpun untuk mengais nafas...apalah arti perlawannya kali ini. Semakin Ia berontak ingin lepas...semakin erat pula namja asing itu mendekap tubuhnya, bahkan bibir tebal yang kini memagut bibirnya makin bringas menjeratnya hingga tersedak saliva yang telah melebur satu sama lain.
"Uhmpfth! Unghh...MMMH!" Erang Baekhyun tertahan sembari mencakar-cakar punggung sosok tinggi itu. tapi nihil...alih-alih melepaskannya, pria asing itu lebih memilih mencengkeram kedua tangannya ke atas hanya dengan sekali genggam. Dan makin menghimpit tubuhnya hingga tertindih di atas meja pantry yang keras dan dingin.
'Aku merindukanmu...terlalu merindukanmu Dear'
Baekhyun makin terbelalak lebih lebar,begitu sayup-sayup suara hati namja itu terdengar olehnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah dirinya tengah menjadi pelampiasan rindu seseorang hingga menjebaknya tanpa sebab seperti ini?
Kepalanya kian berdenyut pening, menyadari pasokan udara dalam parunya kian menipis. Tidakkah ini seperti ... pria tak waras itu ingin membunuhnya dengan ciuman seperti ini?
Tidak!
Baekhyun memejamkan mata erat-erat, berusaha menulikan pendengaran dari bisikkan hati yang kian berdengung di kepalanya. Hingga tiba-tiba saja Baekhyun reflek mengangkat sebelah lututnya dan..
BUAGGH..
Chanyeol stagnan...dengan kedua mata membulat lebar, begitu sesuatu yang tumpul mendepak keras miliknya di bawah sana. Sesaat Chanyeol memegang kepala Baekhyun dengan hati-hati demi menjauhinya, mengendalikan emosi sesaat itu pada bocah mungil di hadapannya.
Sejak kapan Bai Xian, bersikap sekasar ini padanya?
"Argghtttt~!"
Baekhyun mengerjap polos melihatnya, sungguh! demi apapun itu...ia tak pernah menduga sikapnya akan menjadi sefatal ini. Ia tau, Pria itu kesakitan. Tapi itu perlawanannya
Meski demikian, Baekhyun tetap merangkak menjauh dan meringkuk di bawah kolong meja pantry seraya memeluk lututnya sendiri. Menghindari kemungkinan terburuk jika Ia lengah, bisa saja setelah pulih... pria itu tiba-tiba saja menyerangnya lagi.
"A-anda baik-baik saja?" Lirih Baekhyun takut-takut. Semakin panik saja kala pria itu tak pernah berhenti mendesis kesakitan. "M-maaf Tuan ..k -kau pun juga mengejutkanku ta—
"Keluarlah..." sergah Pria itu tba-tiba, membuat Baekhyun makin menyudutkan dirinya di bawah kolong pantry.
"T-Tidak mau"
Chanyeol memijit kening sembari memejamkan mata, berusaha meredam nyeri yang makin berdenyut panas di bawah sana.
"Keluar Dear" Titah Chanyeol lagi. Tentu saja...Baekhyun yang masih bersembunyi di kolong pantry itu kembali mengerjap tak mengerti mendengarnya. Baru kali ini Ia melihat Pria tinggi itu...tapi mengapa Dia memanggil dirinya dengan sebutan sayang seperti itu. oh sungguh! Baekhyun benar-benar tak mengerti dengan apayang terjadi saat ini.
"S-siapa yang kau panggil 'Dear' itu?" Cicit Baekhyun
Chanyeol berdecak lidah mendengarnya, dan makin mendekati meja pantry lalu berjongkok di depannya berusaha menatap lekat namja mungil yang masih meringkuk bulat di dalamnya.
"Keluar..." Tegas Chanyeol, membuat Baekhyun makin memeluk erat-erat kedua lututnya.
'Oh ayolah Dear...apa harus seperti ini, kau memberiku kejutan untuk pertemuan kita?' Gumam Chanyeol dalam hati
Baekhyun kembali tersentak mendengar suara hati itu. "A-aku tak mengenalmu...ja-jangan memanggilku seperti itu?!" sungutnya
Chanyeol sempat berjengit terkejut, merasa bocah mungil itu baru saja membaca pikirannya. Tapi sesaat kemudian Ia menghela nafas...mungkin itu hanya kebetulan saja.
"Memanggil apa?" Tanya Chanyeol setelahnya sembari memegang tepian meja pantry.
"D-dear! Kau memanggilku Dear! Apa itu?!" Racau Baekhyun lebih berani.
Pemuda tampan itu terkekeh pelan, merasa ini memang bagian lelucon yang dibuat namja yang diyakininya sebagai Bai Xian-Nya itu. "Jangan bercanda lagi, keluarlah...aku benar-benar merindukanmu Dear"
"Berapa kali ku katakan! Aku tak mengenalmu...Jangan—akhh! YACKK!"
Baekhyun memekik keras begitu Chanyeol mendadak menangkap kaki kanannya dan menariknya keluar, membuat tubuhnya yang lebih ringan turut terseret dan kembali terperangkap di bawah kungkungan pemuda asing itu.
"Tsk...kau tak mengenalku? Lucu sekali" Chanyeol menatap lekat-lekat kedua mata indah di bawahnya...ya, sepasang manic milik Bai Xian yang selalu dirindukannya itu... kini benar-benar berada di hadapannya. Bahkan Chanyeol tak pernah menduga...keajaiban itu akan benar-benar menyambutnya seperti ini.
Baekhyun makin menggigil ketakutan. "A-aku benar-benar tak mengenal Ughh—
GREB
Chanyeol kembali memeluk erat tubuh kecil itu,tak peduli Baekhyun makin menjerit dan meronta ketakutan dalam dekapannya. Apapun itu...hatinya benar-benar terasa penuh dengan aroma tubuh namja mungil itu.
"Oh ya...jadi bocah asing diam-diam menyusup ke dalam rumahku hn?" Canda Chanyeol seraya menyatukan hidung keduanya, dan terkekeh pelan melihat wajah pasi di bawahnya. Apa ini? ah Bai Xian mungilnya memang selalu ulung dalam bersandiwara seperti ini.
"R-rumahmu?" Baekhyun mulai tergagap. Sempat Ia menerka-nerka bahwa dirinya telah salah alamat. Bukankah Bai Xian sendiri yang menulis semua gurat alamat itu untuknya. Bahkan Pak Song sendiri yang mengantarnya kemari, mustahil Bai Xian menjebaknya hingga terkurung bersama pria tak waras ini!
"Geez...kau ini benar-benar"
Chanyeol kembali terkekeh pelan mendengarnya, masih berkilah...namja mungil itu pasti sedang memberi kejutan dengan lelucon bodohnya. Sampai-sampai dirinya pun turut gemetar karna lelucon bocah itu. Oh ayolah Ia tak mungkin begitu saja melupakan wajah Bai Xian setelah 2 bulan berlalu, setiap pahatan dari paras manis itu masihlah lekat dalam ingatannya! Namja kecil itu tetaplah Bai Xian miliknya.
"T-tunggu tapi aku—
"Tck! apa kau pikir dengan merubah warna rambut menjadi coklat seperti ini, dan kau bisa mengelabuiku begitu saja hm?"
Baekhyun makin menggeleng frustasi. Harus dengan apa lagi Ia menjerit...untuk meyakinkan pria itu bahwa dirinya sedang tak main-main dengan ucapannya.
.
.
Sementara itu di tempat lain
"Apa yang sebenarnya ada dalam kepala kalian hah?!" Lagi, teriakan gusar itu kembali menggema. Bahkan terdengar semakin jengkel saja, kala dua sosok di belakang kemudinya itu hanya menundukkan kepala tanpa berucap apapun.
"Jika seperti ini...bagaimana kalian akan mempertanggung jawabkan semuanya?! Bukan tidak mungkin Chanyeol akan menggugat kalian secara hukum!" Dokter bernama Sehun itu makin naik pitam, begitu menyadari kekasihnya terlibat dalam masalah pelik semacam ini. Lebih dari dua bulan ini Luhan bergerak diam-diam di belakangnya bersama suster itu. dan baru kali Ini Luhan mengakui semua rahasia bermuatan resiko besar itu padanya. Itupun karna paksaan ...sebab dirinya yang menaruh curiga akan gerak gerik keduanya.
Ah tapi sial! Bagiamana mungkin mereka melakukannya cukup apik...lebih-lebih dirinya. Chanyeol dan keluarganya saja tak mengetahui semua perihal operasi rahasia itu.
"A-aku hanya memenuhi apa yang diinginkan Bai Xian, kau tau...anak itu sangat berharga untuk kami. Dan aku menyanyanginya" seorang suster yang sedari tadi menundukkan kepala itu, mulai angkat bicara.
"Sooyoung benar, itu adalah hal terakhir yang diinginkan Bai Xian. kau pun harus tau...dua anak itu benar-benar mirip. Mereka pasti kembar...dan aku yakin keluarga Bai Xian akan menerima semua ini. Ku mohon mengertilah Bai Xian benar-benar ingin mendonorkan kedua matanya pada anak itu" Imbuh Luhan masih dengan kepala tertunduk.
Sehun berdecak keras. "Apa kalian tak sadar?! Tindakan ini illegal! Kalian seharusnya tak bergerak di belakangku seperti ini!"
"..."
Keduanya diam, sama sekali tak berkelit dari tuduhan Sehun...ya mungkin benar, tindakan ini memang tak bisa sepenuhnya dibenarkan. Tapi mau apa lagi...jika nurani dan hati kecil keduanya sudah memihak Bai Xian, dan menjadikan keinginan bocah kecil itu lebih utama dari apapun.
"Kau tak pernah tau perasaan anak itu" Suara lembut Luhan kembali mengalun, membuat Dokter yang masih mengemudikan mobil menuju kediaman Chanyeol itu mendadak bungkam. Berusaha menahan diri.
"Aku tau...Bai Xian memang tak pernah menunjukkan kelemahannya pada kita. Dan akupun sama menyayanginya seperti kalian. Tapi bukan berarti kalian bisa megambil tindakan seceroboh ini...setidaknya denganku—
"Kau tak akan mengizinkannya! Aku tau dirimu!" Sergah Luhan, begitu mencium niat kekasihnya ingin membahas tarik ulur perizinan itu.
"Tentu saja! Karna aku tak cukup bodoh membiarkanmu terlibat tindakan fatal yang akan merugikanmu seperti ini!"
"Aku tak pernah merasa dirugikan! Meski polisi menyeretku sekalipun aku tak akan peduli!" Sahut Luhan santai.
Sehun makin mengeras mendengarnya. "YACK! Apa kau sadar dengan ucapanmu itu?! terlepas dari semua ini, apa kau memikirkan apa yang akan terjadi pada— ah! Siapa namanya?"
"Baekhyun.." Sahut Sooyoung cepat.
"Ah Ya! Baekhyun!...Apa kau memikirkan apa akibat yang akan diterima Baekhyun? Anak itu sudah pasti tak tau apapun bukan?! " Seru Sehun penuh emosi.
"Parahnya, kalian membiarkannya mendatangi rumah Chanyeol seorang diri. Dan jika memang Baekhyun memiliki wajah yang sama dengan Bai Xian, apa kalian tak berpikir apa yang akan dilakukan Chanyeol pada bocah itu?!" Lanjut Sehun lagi
Sooyoung mendadak menutup bibir dengan sebelah tangannya, demi apapun itu...Ia tak pernah berpikir hingga sejauh itu. Benar! Baekhyun sangat mirip dengan Bai Xian...tentu bukan tidak mungkin Chanyeol akan mengiranya sebagai kekasih kecilnya.
"P-ppali!..Ppali!" Tiba-tiba saja Sooyoung berjengit dari joknya dan menepuk-nepuk bahu Sehun dengan panik, meminta Dokter tampan itu lebih mempercepat laju mobilnya.
"M-Mwoorragoo?!" Seru Sehun tak terima.
"Baekhyun dalam masalah sekarang! Bagaimana jika anak itu ketakutan di sana? AH! Eottohhkkae?! Cepat! Dokter Oh!"Pekik wanita itu sembari mengacak rambut frustasi.
"Oh Ya?! Jadi isi kepalamu mulai berfungsi setelah seseorang meracau hingga mulut berbusa seperti ini?!" Gertak Sehun jengkel.
"S-salahku! Ini memang salahku! Tapi ini... sekarang ti-dak penting! AH! Ya Tuhan! Baekhyun benar-benar membutuhkan kita di sana!" Racau Sooyoung kacau. Takut kalau-kalau Chanyeol melakukan sesuatu yang buruk pada Baekhyun.
Sehun kembali berdecak keras mendengarnya, merasa jengkel sekaligus cemas dalam waktu bersamaan. Sementara itu...Luhan di belakangnya hanya memilih diam dengan mata terpejam,tak ingin ambil pusing dengan racauan yang terdengar semakin berisik dan kacau itu.
"Baekhyun~ah! Maafkan Nunna! Aisshh bagaimana bisa aku sebodoh ini?!"
.
.
.
.
.
Park's House
"A-ANDWAEE! AHH!"
Jeritan tenor itu kian melengking begitu sosok tampan yang menyeretnya kini beralih memanggulnya hanya dalam sekali angkat. Berulang kali Baekhyun berontak bahkan hingga memukul-mukul punggung namja tinggi itu, tapi semuanya tetaplah berbuah percuma, sekeras apapun Ia mengamuk...posisinya tetaplah tersangkut di pundak namja itu layaknya sebuah karung .
.
.
.
"YACK! TURUNKAN AKU!"
Chanyeol hanya tertawa pelan mendengarnya dan tetap melangkah mantab menapaki satu persatu anak tangga menuju kamar pribadinya.
"Hn? Kau sudah lelah bercanda denganku?" Kekeh Chanyeol sembari menepuk-nepuk butt Baekhyun, membuat namja mungil itu mengacak surai Coklatnya frustasi.
Baekhyun makin menjerit dan kembali memukul punggung Chanyeol bertubi-tubi. "S-SIAPA YANG BERCANDA?! AKU BENAR-BENAR TAK MENGENALMU! AKU KEMARI MENCARI BAI XIAN! INI RUMAH BAI XIAN BUKAN?! SIAPA KAU?!"
"Aku?...Tentu saja kekasihmu yang tampan" Kekeh Chanyeol, tak peduli namja mungil yang masih meronta di lengannya itu makin menggila dengan tekanan batinnya.
"T-tuan...Apa sesuatu membentur kepalamu?! KAU SAKIT! BENAR-BENAR SAKIT! AKU BUKAN KEKASIH—
"Aku tak mendengarmu..." Canda Chanyeol santai.
"B-Baekhyun! Byun Baek—hyun...i-itu namaku. Aku benar-benar tak mengenalmu...sungguh! aku bersumpah" Lirih Baekhyun penuh hati-hati. Berharap pria itu luruh dan tak membawa tubuhnya dengan posisi memalukan seperti ini.
"Byun Baek-hyun?" Eja Chanyeol sembari mengernyitkan dahi, dan di balik punggung lebar itu Baekhyun mengangguk antusias mendengarnya. Yakin...namja itu mempercayai ucapannya kali ini.
"Nama yang indah untuk sandiwaramu...Dear" Lanjut Chanyeol setelahnya sambil melanjutkan langkahnya santai.
"AHHHTT! SANDIWARA PANTATMU!" Jerit Baekhyun histeris karna jengkel.
Chanyeol berhenti sejenak dan menepuk butt Baekhyun dengan pelan. "Yya! itu tak sopan...aku tak pernah mengajarimu bicara demikian Dear"
"J-jebal...jangan seperti ini, aku benar- benar takut...di mana Bai—
CKLEK
Baekhyun mendadak bungkam, begitu mendengar suara seperti pintu yang dibuka. Berulang kali Baekhyun berusaha menoleh ke belakang ingin mencari tau, tapi gagal! Ia tak kan bisa berkutik dengan posisi perut tersangkut dan kepala di bawah seperti ini.
"Di mana Bai Xian?! apa kau menculiknya?! Aku benar bukan?...Kau menculik Bai Xian seperti yang kau lakukan padaku saat ini?!" Jerit Baekhyun
Chanyeol mengernyit heran, sejak kapan kekasih mungillnya itu berubah menjadi sevokal dan serusuh ini. Sesaat Ia menghela nafas pelan sebelum akhirnya menurunkan Baekhyun dan menatap lekat bocah yang masih meracau tidak jelas itu.
'Berhentilah bercanda...itu sama sekali tak lucu Dear' Gumam Chanyeol dalam hati. Masih dengan menatap lekat-lekat kedua manic foxy itu.
"AKU BUKAN KEKASIHMU! DAN AKU TAK SEDANG BERCANDA TUAAAN!" Baekhyun kembali berteriak sembari menarik surai Coklatnya frustasi.
Tak ayal, Chanyeol kembali terperangah terkejut mendengar namja mungil itu seolah mencerca suara batinnya.
"BAI XIAN!" Panggil Baekhyun keras seraya berjalan gusar ingin keluar dari kamar tersebut, namun dengan cepat Chanyeol menggenggam tangannya dan memegang kedua bahunya agar menatap padanya.
"Ada apa denganmu?!" Bentak Chanyeol sembari mengguncang bahu kecil Baekhyun.
Baekhyun sedikit gemetar melihatnya. Oh sungguh...Ia bisa melihat amarah dari kedua mata tajam itu."M-mencari Bai Xian...ku mohon—
"Kau Bai Xian! Dan kau kekasihku! Apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu sebenarnya?!" Sergah Chanyeol telak. Tak ingin mendengar namja mungil itu kembali meneruskan lelucon bodohnya. Demi apapun itu...Ia benar-benar tak menyukai cara bercanda Bai Xian kali ini.
Baekhyun terperangah hebat,lebih dari sekedar rasa terkejut...Baekhyun benar-benar shock mendengar namja itu kembali menganggapnya kekasihnya dan kini Dia pun menyebut dirinya Bai Xian.
('Entahlah, aku merasa kita memiliki ikatan yang kuat Baekhyun~ah...bahkan wajah kitapun benar-benar mirip')
Kedua manic caramel itu seketika membulat lebar, begitu suara hati Bai Xian kembali terngiang dalam benaknya. Ya...Ia ingat benar...Bai Xian berulang kali mengatakannya. Tapi benarkah semua itu?
Mustahil!
Selama ini...Baekhyun selalu beranggapan bahwa Bai Xian hanya bercanda dengannya. Selalu mengatakan 'wajah keduanya yang mirip' di setiap saat mereka bertemu. Tapi Baekhyun yakin itu hanyalah lelucon yang Bai Xian buat untuk menghibur dirinya yang buta.
"Kau Bai Xian-Ku"
"..."
"Bai Xian...baby?"
Tapi mengapa, Pria asing itu masih saja memanggilnya Bai Xian? benarkah Ia memiliki wajah yang sama dengan Bai Xian. hingga pria ini menganggapnya Bai Xian?
Tidak! Ini semua tidak benar!
"BAI XIAN!" Panggil Baekhyun keras, tak peduli pria tinggi di depannya kembali menatap terkejut. Apapun itu...Ia harus secepatnya bertemu dengan Bai Xian dan menuntut penjelasan darinya. Ya Tuhan! Ia benar-benar tak mengerti dengan rencana Bai Xian yang dirindukannya itu, hingga membuatnya terjebak bersama pria asing di hadapannya ini!
"BAI XIAAANN!"
GREB
Chanyeol menangkap cepat tubuh mungil itu, sebelum berlari keluar dari kamarnya. Kedua obsidiannya kian berkilat geram...merasa omong kosong ini sudah terlalu jauh menyulut emosinya.
"Hentikan!"
"A-Aku Baekhyun...Tuan, ku mohon percayalah. Aku bukan Bai Xian"
Chanyeol beralih kembali meremas kedua bahu Baekhyun dan memaksanya melihat kesekitarnya.
"Apa kau melupakan kamar ini?"
Namja mungil itu meneguk ludah payah. Dan Ia benar-benar semakin takut sekarang. "T-tuan...aku—
"Semua yang pernah kita lakukan di kamar ini...Apa kau melupakannya?!" Sentak Chanyeol penuh emosi. Membuat Baekhyun makin menciut takut...bahkan bulir beningpun perlahan merembas dari sudut mata indahnya.
"..."
Chanyeol makin meradang melihat sikap diam itu. dengan sekali gerakan Ia menarik tubuh mungil Baekhyun hingga terhempas di ranjang King size nya.
BRUGH
"Akhh!"
"Kau juga melupakan ranjang ini?!" Bentak Chanyeol lagi, tak peduli bocah di bawah kungkungannya itu makin menggigil ketakutan. Rindu yang hebat itu sedikit banyak telah mengacaukan perasaannya, hingga membuatnya gelap mata dan tak mampu berpikir jernih seperti ini.
Masih dengan tubuh gemetar, Baekhyun beralih meraih sesuatu dalam sakunya dan berusaha menunjukkan secarik kertas itu pada Chanyeol.
"A-aku...benar-benar men-carinya. Bai-Bai Xian ...memberi ini padaku untuk—
"BAIKLAH! Aku yang akan membuatmu menghentikan semua omong kosong ini!"
SREEKK
"A—AAHH!" Baekhyun menjerit panik begitu tiba-tiba saja kemejanya di robek paksa, hingga sebagian kancingnya terpental entah kemana. Berulang kali...Ia mencoba berontak dan menjejak perut pria asing itu untuk membebaskan diri. Tapi percuma, begitu Chanyeol mencengkeram erat kedua tangannya dengan sekali genggam, bahkan hingga menghisap brutal perpotongan lehernya.
"AHNN! Sa—kith!"
"Katakan kau hanya bercanda denganku!" Gertak Chanyeol geram. Tapi namja mungil itu masih menggeleng membuatnya makin gelap mata menggigit dan menghisap kasar dada kembang kempis itu, menyisakan spot merah matang di kulit putihnya.
"Aku bu-khan Bai~ Ahmmphft!" Baekhyun kembali tersedak nafasnya sendiri, saat Pria itu membungkam bibirnya dengan ciuman basah . Meski berulang kali menghentak perlawanan, tapi apalah daya tubuh kecilnya. Tenaganya tak cukup mampu menghalau cumbuan sekuat itu
"Jangan menyiksaku! Katakan kau Bai Xian! Kau memang Bai Xian yang kembali untukkku!" Tekan Chanyeol begitu melepas pagutannya, segalanya semakin mengeruhkan pikirannya. Kala namja mungil di bawahnya hanya menangis dan memandangnya dengan sorot ketakutan. Membuatnya lepas kendali dan kembali mencium paksa bibir mungil yang telah membengkak itu. Tak peduli jerit ketakutan Baekhyun semakin memenuhi kepalanya, apapun itu...Ia tak kan berhenti sebelum 'Bai Xian' mengakhiri sandiwara bodoh ini.
"Uhmph! Bai—Xian! mmph! Mmhhah!...To—long~hhmpfth!" Baekhyun membusungkan dada dan memalingkan wajahnya, berusaha melepas ciuman itu, namun semakin Ia memaksa semakin kasar namja itu memagut bibirnya. Di mana Bai Xian? mengapa Dia tak datang dan menolongnya? Sungguh ...tak pernah dalam hidupnya Ia merasa setakut ini. Dipaksa mengelak jati dirinya bahkan hingga dicumbu sebringas ini oleh kekasih orang lain. Ya Tuhan! Meskipun jika benar Ia memiliki wajah yang sama dengan Bai Xian, tapi bukan berarti Ia harus berakhir semiris ini.
'Aku takut! Hentikan Dear...jangan bertingkah seperti orang lain' Gumam Chanyeol dalam hati.
Baekhyun membelalak lebar mendengarnya, kedua tangannyapun terlihat menarik-narik kemeja Chanyeol. Berusaha meyakinkan namja itu,bahwa dirinya memang orang lain! Bukan kekasihnya bukan pula Bai Xian.
"MMH! MMHMPH!"
Chanyeol beralih melepas pagutan itu dan menatap lekat-lekat kedua manic caramel di bawahnya, ya...sepasang mata, yang hanya dimiliki Bai Xian-nya seorang.
senyumnya terkembang begitu saja kala melihat namja yang diyakininya sebagai Bai Xian itu tampak terengah-engah payah.
Dengan lembut Ia menyingkirkan helaian Coklat di wajah pias itu, lalu mencium keningnya lama. "Apa kau takut?"Bisik Chanyeol masih dengan mencium kening Baekhyun dengan mata terpejam.
"..." Baekhyun hanya diam, tak mampu berucap apapun selain menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Kau pun melakukan hal yang sama terhadapku, membuatku ketakutan dengan sikap asingmu. Itu benar-benar mengerikan Dear...kau—
"To—long...le-lepaskan aku"
DEG
Chanyeol terbelalak lebar, dan beralih mengangkat wajah demi menatap namja di bawahnya.
"B-Baekhyun...aku Baek—hyun" Gagap Baekhyun gemetar,
Namun apa yang diucapkannya kembali membuat Chanyeol meradang, masih saja namja mungil itu mempermainkan perasaanya dengan lelucon murahan itu, siapa Baekhyun?! Darimana Bai Xian mendapatkan nama itu?! pikir Chanyeol
Cukup...
Ia benar-benar geram menyadari Bai Xian benar-benar bukan seperti dirinya lagi.
Dengan penuh emosi, Chanyeol melepas paksa celana Baekhyun, biar saja bocah mungil itu makin menjerit histeris. Amarah, takut dan rasa tak rela itu telah menguasai dirinya, hingga tak sadar...apa yang dilakukannya kali ini benar-benar terlalu jauh dan tak terkendali.
"BAI XIAN!"
"AKU BUKAN BAI—XIAN! ..A-ANDWAAEEYO!...A—AHHH! "
BRRAAKKK
"Hentikan Yeol! Anak itu bukan Bai Xian!"
Seorang pria brunette tiba-tiba saja mendobrak pintu kamar , membuat Chanyeol mengumpat keras dan menatap tak suka dengan kedatangan tak pantas itu. meski demikian, kedua tangannya masih mencengkeram kuat pinggul Baekhyun yang nyaris naked total di bawahnya.
"Astaga Baekhyun!" pekik Sooyoung begitu tiba di ambang pintu kamar, Wanita itu mendadak terisak . Ia benar-benar tak pernah menduga semua akan berakibat sefatal ini. melihat Baekhyun menangis bahkan hingga menggigil ketakutan seperti itu.
'Baekhyun yang malang' dan semua karna kecerobohannya.
"Percayalah! Anak itu bukan Bai Xian"
Kali ini Sehun berucap lebih pelan, berusaha meyakinkan pria yang kini terlihat menatap nanar ke depan bahkan kedua tangannya pun tampak gemetar. Ia tau Chanyeol lengah, dan tak manyiakan kesempatan untuk menarik bocah mungil yang masih menggigil ketakutan dalam rengkuhan Chanyeol hingga dipastikan tenang di tangan Luhan.
Sehun kembali beralih mendekati Chanyeol dan menepuk bahunya pelan."Dia Baekhyun...sadarlah Yeol, Bai Xian telah tiada. Kaupun menghadiri pemakaman di sore itu" Ucapnya hati-hati, mengantisipasi Baekhyun benar-benar tak mendengarnya.
DEG
Pria tinggi itu terduduk dan meremas surai ikalnya kasar. Apapun itu, segalanya benar-benar terasa goyah detik ini. sekelebat krumunan payung hitam dan isakan berbaur dengan gerimis kembali terngiang dalam ingatannya. Semua begitu berdengung di senja itu...Ya, masih lekat dalam ingatannya bagaimana remuk dirinya... kala berdiri di ambang pemakaman Bai Xian, meletakkan sekuntum bunga mawar putih dan membisikkan kata cinta terakhir kalinya untuk sosok mungil itu. Chanyeol ingat benar dengan semua itu.
Terlalu sakit...untuk dikenang.
Bahakan terlalu perih untuk sekedar di sematkan dalam batinnya. Hingga tanpa tersadar rembasan bening lolos cepat dari mata tegas itu.
Luhan mulai membuka suara, ia paham benar...Chanyeol tengah tertekan dan mungkin terlalu kacau saat ini. Tapi tentu, Ia tak bisa membiarkannya berlarut-larut dalam tatapan nanar itu. Pastilah...hatinya tengah bertanya-tanya saat ini, hanya saja...batinnya yang tertekan membuat Pemuda tampan itu diam seribu bahasa.
"A-aku tau perasaanmu, dan kau mungkin sangat marah. Tapi percayalah kami tak bermaksud menyembunyikan semua ini darimu. I-ini..." Luhan menghentikan kalimatnya begitu melangkah mendekati video player di sebrangnya.
"Ku rasa ini waktunya kau melihatnya" Pria cantik itu sedikit merunduk, dan terlihat menyisipkan sesuatu ke dalam pemutar video tersebut
"Sebelum malam itu...Bai Xian datang dan menyerahkan rekaman ini padaku. Aku yang sibuk saat itu...hanya tersenyum dan menerimanya begitu saja. Ku pikir anak itu hanya bercanda dan ingin meminjamiku video nakal seperti yang biasa kami lihat saat waktu senggang" Ia mengulum senyum pahit, ketika mendengar dengung putaran cakram video yang terpasang.
"Tapi aku salah..." Lirih Luhan sembari memalingkan wajah, detik itu pula...senyum ceria seorang bocah mungil muncul dari dalam layar.
"Luhan Hyung..." Sosok mungil itu mulai melambaikan kedua tangannya ke arah layar, dan sesekali menguap kecil. "Ku harap kau bersama Sooyoung Nunna saat melihat ini" Lanjutnyalagi sambil tersenyum cerah.
"C-Chanyeol..." Sejenak Bai Xian terlihat menggigiti ujung ibu jarinya.
"Beritahu Chanyeol di waktu yang tepat saja. Arrasseo?!" Tekan Bai Xian, tapi sesaat kemudian Ia kembali tertawa lepas.
Semakin menyita perhatian Chanyeol, Ia benar-benar tak mengerti...bagaimana mungkin namja mungilnya hingga membuat rekaman seperti ini. bahkan lebih mempercayakannya pada Luhan dan Sooyoung, meski benar dua sosok itu memang yang selalu menemani Bai Xian dan bermain bersamanya di rumah sakit ini, tapi Ia kekasihnya...bukankah semestinya Bai Xian lebih percaya padanya, di bandingkan dengan Dokter spesialis dan suster penjaga itu?
"Jangan bertanya untuk apa rekaman ini, karna aku memang tak tau"Celetuk Bai Xian sembari menggeleng cepat, sesaat kemudian Ia beralih merekam dirinya yang berjalan mengendap-endap memasuki sebuah kamar. Dan Chanyeol memang tau itu apartemen Bai Xian.
Sementara Baekhyun yang masih meringkuk dalam rengkuhan Sooyoung itu hanya mengerjap shock, kala menatap layar. Oh sungguh! Ia benar-benar seperti melihat dirinya yang lain berbicara dalam video tersebut. "N-Nunna...Dia—
"Ne...Dia Bai Xian, Baekhyun~ah" Bisik Sooyoung lirih. Sampai detik ini pun Ia tak sanggup menatap mata Baekhyun, karna memang...namja mungil itu belum mengetahui perihal mengenai Bai Xian sebenarnya.
Baekhyun kembali terperangah tak percaya, untuk pertama kalinya ia melihat Bai Xian. Dan wajah mereka benar-benar sama. Ah! Pantas saja Pria mengerikan itu menganggapnya Bai Xian. Lalu di mana Bai Xian? untuk apa Dia memberinya alamat itu? Jika saja dirinya tau ini rumah kekasih Bai Xian...tentu Ia tak kan datang kemari dan menjadi mangsa seperti itu.
"Aku tak menggodanya! Kekasihmu yang menyerangku" rutuk Baekhyun dalam hati.
Kedua manic caramelnya pun seketika membulat lebih lebar, begitu Bai Xian merangkak ke atas ranjang dan mendekati sosok berambut Coklat namun berawajah persis dengannya.
Hey! Itu dirinya yang masih tertidur.
"Kalian lihat...Dia benar-benar sama sepertiku bukan?" Ucap Bai Xian sembari melambai-lambaikan tangannya di atas wajah Baekhyun. Memaksa siapapun yang melihat video tersebut menatap lekat-lekat paras namja yang masih tertidur itu.
"Jangan bertanya bagaimana bisa aku bertemu dengannya. Karna aku juga tak tau...cukup perhatikan aku bicara saja. Arrasseo? " Monolog Bai Xian, masih dalam aksen bercanda miliknya.
"Dia Baekhyun...Byun Baekhyun. Kalian tau?aku selalu mencuri waktu untuk bertemu dan bermain dengannya di tempat ini. Tidak! Aku tidak menyembunyikannya...aku hanya ingin melindunginya dari kalian. Karna aku tau kalian mengerikan!"
Chanyeol tertegun, merasa... selama ini dirinya tak becus menjaga atau bahkan mencurahkan perhatiannya untuk Bai Xian. hingga namja mungilnya yang mencuri waktu bahkan menyembunyikan rahasia seperti ini pun Ia tak tau.
Kata demi kata masih mengalun dari bibir kecil itu bahkan lebih dari setengah jam lamanya Bai Xian berceloteh dalam video rekamannya. Dan Chanyeol sama sekali tak menghiraukan apa yang sebenarnya di katakan Bai Xian tentang namja bernama Baekhyun itu. Seluruh perhatiannya hanya tersita pada paras dan kikikkan namja mungilnya. Melihat dan mendengar Bai Xian berceloteh seceria itu lebih dari cukup untuknya. Persetan semua hal mengenai sosok Baekhyun, Ia sama sekali tak akan peduli.
lama Chanyeol memandang namja mungil dalam rekaman itu mendiskripsikan apapun yang diinginkannya. Hingga...
"Yeollie..."
Bai Xian tiba-tiba saja menyebut namanya, membuatnya terkesiap sadar dan menatap penuh seksama layar kaca , seolah-olah...kekasih mungilnya itu benar-benar sedang memanggilnya.
"Aku di sini Dear" Bisik Chanyeol tercekat.
"Aku yakin pada akhirnya kau akan melihatku di sini..." Raut ceria itu berangsur-angsur meredup sayu dan bulir beningpun perlahan mengalir dari sepasang mata cokelat itu.
"Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Kau tentu tau apa yang pertama kali ingin ku katakan bukan?" Bai Xian sedikit mengerjap, membuat air mata itu lolos cepat dari pelupuknya. "Saranghae". Lanjutnya kemudian.
"Ah..ingatkah kau jika aku selalu bertanya seperti ini? 'Yeollie...bisakah kau mencintai seseorang selain diriku?' dan kaupun akan selalu menjawab 'Tidak bagiku itu harus dirimu'."
Bai Xian terdiam sesaat untuk menunduk. Lalu setelahnya mengangkat wajah dengan mengulas senyum manis, meski nyatanya itu terlihat begitu sesak.
"Bahkan jika aku bertanya seribu kali, jawabanmu hanyalah diriku." Bai Xian kembali terkekeh getir. "Gomawo.." Ucapnya lagi.
"Berapa banyak lagi kau harus tersakiti, berapa lama lagi kau harus menungguku sembuh? Berhentilah...jangan memaksakan terlalu jauh. Aku tak akan mungkin bertahan...kaupun tau itu bukan?" Bai Xian mulai tergugu dalam isakannya.
"Bahkan jika itu terdengar menjengkelkan bagimu. Kumohon berhentilah... meski semua jarum dan pisau menembus tubuhku, aku tak kan bertahan. Kaupun harus belajar mencari hidupmu sendiri. Jangan seperti pria bodoh...kau terlalu tampan untuk menjadi Ahjjushi bodoh!" Canda Bai Xian di tengah isakannya.
Chanyeol bangkit berdiri, Ia benar-benar tak sanggup mendengarnya lebih lama lagi. semua kata yang terucap dari Bai Xian benar-benar menyakitkan untuknya. namun langkahnya tersendat begitu saja, kala suara Bai Xian kembali menyapa benaknya.
"Dan jika waktu itu benar-benar tiba. Aku tak akan pergi dengan hanya omelanku saja. Dia..." Bai Xian menghentikan ucapannya begitu membelai kepala Baekhyun yang masih terlelap di hadapannya.
"Dia adalah namja yang harus kau kenal. Aku dan Baekhyun memang terlihat sama dalam berbagai hal, hanya saja Baekhyun tak bisa memandang selayaknya diriku"
Chanyeol mengernyit mendengarnya. Jadi Bocah bernama Baekhyun itu buta?
"Baekhyun~ah..."
"Saat kau melihatku di sini, itu berarti kau telah memiliki kedua mataku"
DEG
"APA MAKSUD SEMUA INI HAH?!" Chanyeol tiba-tiba saja meradang, dan menatap ketiga sosok di belakangnya dengan geram. Bahkan Dokter muda itu benar-benar ingin menghempas Led TV nya, jika saja Sehun tak menahannya detik itu.
"M-mata?" Sementara Baekhyun hanya mematung dengan tubuh gemetar. apa yang baru saja di dengarnya dari Bai Xian?
"Aku selalu mengharapkan kebahagiaanmu...dan aku tak akan pernah menyesal jika saat itu tiba"
Masih saja...Bai Xian bergumam tak jelas di sana. Ia datang kerumah ini hanya untuk mencarinya, bukan untuk mendengar semua lelucon bodoh itu. Ya! Bai Xian tentu saja masih di sini...hanya saja Dia masih bersembunyi darinya. Karna ingin memberinya kejutan...tentu saja seperti itu. Yakin Baekhyun dalam hati.
"Jangan mencariku, jika kau sudah melihatku di sini. Karna saat itu...bagian dari diriku telah menjadi milikmu. Ku harap kau bisa menjaganya dan satu hal lagi..."
Semakin kacau, dan Ia benar-benar tak ingin meyakini pemikirannya saat ini. semua itu telalu mustahil...bahkan masih lekat dalam ingatanya tentang semua janji itu. bahwa keduanya akan bertemu...tapi, mengapa semua seperti ini. Baekhyun berontak dari dekapan Sooyoung, hingga selimut yang melilit tubuhnya kini merosot turun, bagaimanapun Ia harus mencari Bai Xian di sini . Namja mungil itu masih meyakini Bai Xian masih hidup dan tengah memberinya kejutan saat ini.
"Lepaskan aku! Aku ingin mencari Bai—
"Ku mohon...Jaga kekasihku...jaga manusia bodoh yang selalu kita bicarakan itu"
Baekhyun kembali stagnan, dan memandang layar dengan gemetar
"Karena dengan begitu...aku akan tenang. Saat bagian ini benar-benar berhenti berdetak" Lanjut Bai Xian lagi sembari menepuk-nepuk dada kirinya.
BRUGH
Baekhyun tiba-tiba saja jatuh terduduk, lebih dari rasa terkejut dan takut itu...Ia benar-benar pening melihat kenyataan yang semakin terlihat jelas untuknya. Ya...perlahan Ia mulai tau, apa maksud Bai Xian memberinya alamat, pendonor mata rahasia itu dan Pria asing yang tiba-tiba saja menyerangnya. Ia mulai memahami...setiap rangkaian rencana yang dibuat Bai Xian.
"Keluar.."
Sayup-sayup,Chanyeol mulai berbisik lirih.
Sehun menatap miris. "Yeol ..aku tau perasaanmu,tapi semua ini tak terjadi begitu saja. Bai Xian—
"Keluar! Dan bawa anak itu pergi dari sini!" Sentak Chanyeol geram, membuat ketiga sosok dewasa itu terkesiap dalam hening.
Memang...mereka tak memiliki kuasa apapun untuk mengendalikan situasi. Dan lebih dari itu...Chanyeol menjadi pihak yang tersakiti dalam hal ini.
"M-maafkan aku...t-tapi ku mohon ja-jangan membenci anak ini. sebelum malam itu...Bai Xian benar-benar berpesan padaku. Untuk me-memberikan kedua matanya pada Baekhyun, ji-jika Dia tak bisa melalui operasi itu " Sooyoung meracau panik sembari mendekap Baekhyun, takut jika Chanyeol nantinya menumpukan semua kesalahan pada namja mungil itu.
"KELUAR!" Geram Chanyeol sembari menghempas Led Tv di sisinya hingga remuk total. BRAKKK
Membuat Sooyoung yang masih mendekap namja mungil itu terlonjak gemetar. Tapi Iapun tak bisa berenti meracau untuk tetap berdiri memihak Baekhyun"B-Baik...a-aku akan membawa Baekhyun bersamaku! Aku akan merawatnya seorang diri! Aku—
"Baekhyun tetap di sini"
Tiba-tiba saja seorang pria melangkah memasuki ruangan tersebut, dan diikuti seorang wanita yang berlari cepat merengkuh lengan Putra tunggalnya.
"D-direktur Park" Sehun tampak tergagap, tapi setelahnya membungkuk penuh hormat pada sosok pimpinan rumah sakit dirinya bekerja itu. ah sungguh sejak kapan Siwon tiba di sini.
"Aku telah mendengar semuanya..." Ujar Siwon sembari berjalan mendekati Baekhyun, dan tersenyum tipis melihat bocah mungil itu hanya menatap kosong ke depan dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir dari pelupuknya. Ia tau benar...Baekhyun tentu terlalu terkejut dan mungkin terpukul dengan semua keadaan ini. anak itu tak tau apapun...
"Operasi itu tak akan mungkin berjalan tanpa perizinan dariku. Bai Xian telah mengatakan semuanya padaku...dan aku yang mengizinkan mereka merahasiakannya darimu. Dan juga anak ini" Lanjut Siwon lagi sambil menutup kedua mata Baekhyun dengan telapak tangan besarnya, membiarkan bocah manis itu menangis dalam diam.
Sehun menggaruk belakang kepalanya, tak pernah menduga... Siwon rupanya turut berperan dibalik semua rencana ini. Ah pantas saja operasi itu berjalan tanpa tercium oleh siapapun, bahkan Chanyeol sekalipun.
"Baekhyun akan tetap tinggal di sini..." Imbuhnya lagi. Sembari menatap putra tunggalnya.
"Tapi anak itu orang asing Sayang!" Rengek Heechul keberatan , sembari menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian. Ah sungguh! sebagai ibu ia benar-benar tak rela...anak asing itu tinggal dan menikmati segalanya di rumah Putranya dengan cuma-cuma. Anak itu bukan Bai Xian! Dan Ia tak mengenalnya.
"Itu yang diinginkan Bai Xian"
"Tapi Dia—
"itu juga keputusanku! Byun Baekhyun tetap tinggal di rumah ini...apapun yang terjadi" Tegas Siwon tanpa bisa ditelak,
Chanyeol mengeras dengan tangan terkepal kuat. Sial! Apa yang sebenarnya terjadi pada semua orang dewasa itu...
perasaannya bukan untuk dipermainkan seperti ini! Ia tak mungkin menerimanya dengan tangan terbuka begitu saja. dan lagi...hingga ujung rambutnya memutih sekalipun, tak akan ada yang bisa mengganti Bai Xian dalam hatinya. Tidak untuk namja berparas sama dengan kekasihnya itu!
Ia beralih menatap Baekhyun tajam, lalu setelahnya melepas genggaman tangan Ibunya dan berjalan keluar dari kamar itu tanpa menyisakan sepatah katapun selain pintu yang dibanting keras.
BRAAKK
"Uhnn.." Baekhyun terlonjak terkejut mendengarnya, dan detik itu pula...Siwon mendekapnya sedikit lebih erat.
"Aishh...lihat apa yang kau lakukan pada putra kita?! Bagaimana bisa kau membela anak yang tak berlatar belakang seperti Dia?! " Racau Heechul kesal sembari menunjuk Baekhyun.
"..."
Tapi Siwon tak memberi jawaban apapun, selain menutup kedua telinga Baekhyun dengan telapak tangannya.
"Ah Ya Tuhan!..." Heechul mengusap kasar tengkuknya seraya menatap langit-langit kamar Chanyeol, tak percaya...suaminya akan bersikap seperti ini. "Geurrae! Lakukan apapun yang kau inginkan. Tapi untuk anak itu...aku tak akan terima begitu saja Dia tinggal di rumah ini!" Serunya lagi, sebelum akhirnya berjalan menghentak keluar dari kamar tersebut, demi mengejar Chanyeol.
"Semua baik-baik saja.." Bisik Siwon lirih, berusaha menenangkan namja mungil yang terlihat semakin goyah dalam rengkuhannya. Ia tak tau apapun...dan mendapat penolakan bahkan gertakan seperti itu tentu...sangat mengguncang batinnya
"D-direktur...N-nyonya Park—
"Biarkan saja" Sergah Siwon menyela ucapan Sehun. Ia beralih membimbing Baekhyun untuk berdiri, dan merapikan letak selimut yang membungkus tubuh mungil itu.
"Anak itu tak akan selamanya bersembunyi di dalam rumah ini" Ucap Siwon seraya memandang potret besar Chanyeol di dinding kamar itu. Ya...Siwon tau benar, semenjak kepergian Bai Xian. Putranya berubah menjadi pribadi yang tertutup. Tak pernah berbaur di luar lebih-lebih pergi ke rumah sakit untuk bekerja. Perlahan...Chanyeol mulai melupakan jati dirinya sebagai Dokter. Tentu seorang Ayah sepertinya tak akan membiarkan Putranya berlama-lama terpuruk seperti itu.
"Kehadiran Baekhyun di rumah ini, akan membawa perubahan untuk anak itu. Kau yang akan membuka kedua matanya" Lanjutnya lagi sembari menatap lekat namja mungil yang masih menundukkan wajah itu. ya...Siwon sepenuhnya meyakini, Baekhyun akan menyadarkan Putranya untuk tak selalu terpaut pada bayang-bayang Bai Xian, meski nyatanya memangt terlihat dalam sosok yang sama.
.
.
.
Beberapa Jam Kemudian
"Baekhyun...jangan paksakan dirimu, kau bisa tinggal di rumah Nunna jika kau takut di sini" Bisik Sooyoung hati-hati sembari melirik was-was Siwon yang masih terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya..Ia benar-benar merasa tak nyaman dan sungkan jika Tuan besar itu berada di sini. Terlebih Sehun dan Luhan pun lebih dari 2 jam lamanya pergi dari kediaman Cho ini. Ah...Ia hanya seorang suster, tentu tak memiliki bahan untuk dibicarakan dengan atasannya itu.
Baekhyun tampak mengerjap cepat mendengarnya, dan beralih memandang keluar jendela besar di hadapannya. Hari telah berangsur petang namun pemilik rumah sekaligus kekasih Bai Xian itu belum juga terlihat akan kembali.
Benar...Ia memang takut,bahkan terlalu takut untuk sekedar menatap kedua obsidian Pria itu. tapi...
"Ku mohon...Jaga kekasihku...jaga manusia bodoh yang selalu kita bicarakan itu"
"Karena dengan begitu...aku akan tenang. Saat bagian ini benar-benar berhenti berdetak"
Pesan Bai Xian selalu menyentaknya, bahkan semakin memenuhi kepalanya setiap kali Ia berusaha mengukuhkan kaki untuk melangkah keluar dari rumah itu.
"Baekhyun...sudah hampir larut. Cha..kau ikut—
"Nunna...aku akan mencoba bertahan di sini"
"A—Apa? Tapi.. C-chanyeo—
"Aku tak memiliki pilihan lain" Lirih Baekhyun sambil meremas kedua tangannya.
"Hanya dengan ini aku bisa menebus rasa terima kasihku untuknya. aku berhutang apapun pada Bai Xian" Lanjut Baekhyun lagi, kali ini dengan melilitkan syal hangat di leher Sooyoung. Membuat wanita itu tersentuh dan menundukkan kepala sembari menyeka rembasan bening dipelupuknya.
Sooyoung beralih mengusap pipi Baekhyun. "Maafkan Nunna...Baekhyun" Ucapnya serak, Sooyoung tau benar semua ini terlalu berat untuk anak seusia Baekhyun. Tak hanya sikap acuh Chanyeol, bahkan Nyonya Park pun tak bisa menerimanya. Dan satu hal yang mnejadi ketakutannya,bagaimana jika Baekhyun menjadi yang dipersalahkan untuk semua ini. Ya Tuhan...anak manis itu tak tau apapun.
"Aku akan baik-baik saja...pulanglah Nunna, sebelum semakin larut, udara malam tak baik untukmu"
Siwon tampak tersenyum tipis mendengar percakapan kecil itu, lalu beralih mendekati keduanya.
"Pulanglah... Han akan mengantarmu"Ujar Siwon seraya menepuk pelan bahu Sooyoung.
Wanita itu mengangguk dan membungkkukkan tubuh sungkan. "Ah Y-ye... t-terima kasih Direktur Park" .
Sooyoung mengusap pelan kepala Baekhyun, sebelum akhirnya melangkah keluar dari kediaman mewah itu.
.
.
.
.
"T-terima kasih Tuan" Tiba-tiba saja Baekhyun membungkukkan tubuh 90 drajad di hadapan Siwon, membuat pria berkharisma itu terkekeh pelan melihatnya.
"Untuk apa hm?" Siwon beralih menyilangkan kedua lengan di dada dan memandang namja mungil itu dengan senyum terkulum.
"K-karena anda sangat baik padaku. Terima kasih Tuan" Ucap Baekhyun lagi, masih dengan membungkukkan tubuh.
"Hmm" Gumam Siwon. Membuat Baekhyun mengernyit, dan mulai menerka-nerka mungkin jawabannya kurang memuaskan hati pria itu.
"A-aku akan melakukan yang terbaik. Aku akan bangun pagi-pagi...memasak sarapan, makan siang juga makan malam, lalu membersihkan rumah ini hingga kau bisa menjamin tak ada debu yang tercecer di mana-
"Nak...aku tak memintamu menjadi pelayandi rumah ini" Kekeh Siwon sembari menepuk-nepuk kepala Baekhyun. Sontak namja mungil itu menegakkan tubuh dan memandang Siwon dengan mata mengerjap.
"Cukup hidup sehat di sini. Dan seperti pesan dari Bai Xian ...jaga putraku dengan baik" Ujarnya masih dengan menepuk kepala Baekhyun bahkan kini mengacak surai Coklat itu. Ah...benar-benar. bocah di hadapannya itu, persis dengan mendiang calon menantunya. Bahkan benar-benar tanpa sela. Mungkin saja benar Baekhyun dan Bai Xian itu memang saudara kembar.
Baekhyun hanya diam, dan merenungkan pesan itu. yang benar saja...menjaga Chanyeol. Pria sehat setinggi itu bukan bayi besar bukan?
Siwon kembali terkekeh. "Kelak kau akan melihat kebiasaan buruknya di setiap harinya. Terlalu buruk untuk seorang Dokter...jadi kau tau apa tugasmu bukan?" Tukas Siwon, lebih sekedar untuk bercanda. Tapi melihat raut itu sepertinya Baekhyun menganggapnya sebagai sesuatu yang serius. Benar-benar namja kecil yang polos.
DRRTT...DRRTT
"Hallo...?" Sahut Siwon, begitu mengangkat panggilan dalam ponselnya. Ia sedikit mengambil jarak dengan bocah mungil di sisinya. Dan raut hangat itu berangsur-angsur berubah lebih serius.
Baekhyun hanya memandangnya dalam diam, meski sesekali Ia mencoba mencuri dengar dengan percakapan line telfon tersebut. sepertinya mereka benar-benar membicarakan hal yang genting'. Pikir Baekhyun.
Namun tak berselang lama...ia kembali menegakkan tubuh begitu pria itu, mengambil langkah mendekatinya.
"Aku akan pergi, kau bisa menjaga dirimu sendiri bukan?"
"N-ne?" Gumam Baekhyun seolah tak terima sosok hangat itu pergi meninggalkannya seorang diri di rumah sebesar dan segelap ini.
"Pasien menungguku di rumah sakit. Tak apa...tak lama lagi Chanyeol akan kembali"
Baekhyun mengangguk pelan, tak tau harus menjawab seperti apa. Karna memang...jika itu tentang Chanyeol. Sejujurnya nyalinya terlalu ciut.
"Anggap rumah ini seperti rumah sendiri. Jangan pedulikan apapun...meski Putraku mengancammu. Percayalah...tak akan ada satupun yang akan menyakitimu"
"N-nde" Lirih Baekhyun sembari menunduk gugup.
"Baiklah..aku pergi"
Kedua caramel eyes itu meredup sayu, saat memandang punggung lebar Siwon perlahan menghilang dari balik mobil mewahnya. Baekhyun beralih menutup pintu lalu berjalan pelan menapaki rumah besar itu...sesekali Ia berjengit bahkan bergidik takut, begitu melihat ruangan yang benar-benar gelap total itu.
Ah sungguh! apa yang sebenarnya dilakukan sang Tuan rumah selama ini. Bahkan terlihat jelas jaring laba-laba menggantung di setiap sisi ruangan rumah itu.
"Benarkah Dia seorang Dokter?" Gerutu Baekhyun sembari merambati dinding berusaha mencari saklar lampu.
Cklak
"hhhh..." desisnya seraya mengusap wajahnya, begitu lampu menyala dan melihat ruangan di hadapannya benar-benar kacau.
Bekas Minuman Kaleng bersoda berserakan, dan ber cup-cup mie ramen bertumpuk di setiap sudut ruangan belum lagi dengan snack yang berbaur dengan debu tercecer di mana-mana. Bisakah ini di namakan ruang tamu?
"Dokter macam apa tinggal di tempat seperti ini?!" sungutnya sembari menyambar sapu di sudut ruangan. Dengan gusar namja mungil itu mengibas apapun yang berdebu di hadapannya, dan menyisir segala kotoran yang menempel di carpet dengan alat seadanya. Jika rumah dalam kondisi seperti ini, bagaimana mungkin Pria bernama Chanyeol itu bisa hidup sehat.
KRIEEETT
Baekhyun stagnan dengan mata membulat lebar, begitu mendengar suara asing dari arah dapur.
KRIEEEEEEETTT
Lagi suara aneh itu kembali berdecit, dan kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Ah sial! Lampu yang menyala hanya ruang tamu dan kamar Chanyeol.. Meski demikian Ia tetap memberanikan diri menoleh ke arah dapur, tubuhnyapun seketika meremang begitu melihat jendela dapur terbuka dan bergoyang tanpa sebab.
Baekhyun meremas sapunya. Demi apapun itu Ia akan benar-benar mati mendadak jika sesuatu benar-benar muncul dengan tiba-tiba dari ruang dapur itu.
'SRAAKK' ...'SRAAK'
Kakinya makin melunglai lemas, melihat sesuatu seperti bergerak merangkak-rangkak dalam kegelapan. Tidak! Ia tak mungkin benar-benar mati di sini!
'RRRRRR'
"AAAAAAAAHHHHHH!"
Habis sudah
Jeritannya pecah begitu saja, ketika mendengar suara geraman itu . Baekhyun berlari kacau ke atas, tak peduli berulang kali Ia jatuh tersungkur saat menapaki satu per satu anak tangga. Dan berakhir dengan melompat ke atas ranjang Chanyeol dan bersembunyi di dalam selimutnya dengan tubuh menggigil ketakutan.
.
.
.
Seorang pria terlihat melirik arloji di tangannya, dan menghela nafas berat begitu menyadari ini benar-benar terlalu larut. Tapi biarlah...barang kali semua pengusik itu telah pergi dari rumahnya. Dengan gontai Chanyeol membuka pintu utamanya, dan melangkah malas ke dalam.
Namun tiba-tiba saja langkahnya tersendat begitu saja, kala merasakan semilir angin dingin dari arah kanannya. Dan berdecak keras saat menoleh ke dapur dan melihat jendela ruangan itu di biarkan terbuka begitu saja.
Siapa pula yang membukanya? Jika seperti ini, bukan tak mungkin pencuri akan menyusup dengan leluasa bukan?
Ia berjalan gusar hendak menutup jendela itu. Tapi geramannya kembali menggema begitu melihat dua ekor kucing saling berebut makanan dalam paper bag miliknya.
'MIAUUUUWW!' BUAAAGGH'
Tanpa pertimbangan apapun lagi, Chanyeol mencekik dua ekor kucing itu lalu melemparnya asal ke luar. Dan menutup jendela serapat mungkin. Tanpa tau...dua binatang itu baru saja membuat seorang bocah mungil menjerit ketakutan di dalam rumahnya.
.
.
.
DRRRRTT...DRRTTT
Chanyeol berdecak lidah, kala ponselnya kembali berdering. Bahkan terhitung lebih dari 20 kali semenjak Ia masih memacu mobilnya di jalanan, dan penelfon rusuh itu...Ibunya sendiri.
"Ya ibu?"
"Apa kau sudah sampai di rumah?"
"Hn.." Gumam Chanyeol sembari mematikan lampu ruang tamu.
"Baguslah...cepat tidur. Ibutau kau sangat lelah Sayang...jangan memikirkan apapun. Ayahmu hanya bercanda dengan anak tak tau diri itu"
"Hn.." Sahut Chanyeol lagi kali ini dengan melangkah menuju kamarnya.
"Aku sudah mengecam Ayahmu. Dan Ibu pastikan...anak itu telah pergi dari rumahmu"
"Aku tau.."
Heechul terkekeh pelan mendengarnya. "Baiklah, selamat tidur Sayang" Ucapnya sebelum akhirnya menutup line telfon tersebut.
Chanyeol mengangguk malas mendengarnya, sedikit bernafas lega...kala mendapati rumahnya begitu sepi. Sepertinya memang Ayah dan semua tamu tak diundang itu benar-benar enyah dari rumahnya. Bahkan mungkin namja kecil yang memaksa menyerupai Bai Xian juga tak ada di sini. Pikir Chanyeol.
Namun begitu membuka pintu kamarnya, tatapannya seketia menyipit tajam...saat melihat gundukkan yang gemetar di dalam selimutnya.
"Apa itu?" Gumam Chanyeol was-was sembari berjalan mendekat,
Semakin Ia mendekat...semakin jelas gundukan itu bergetar. Bahkan terdegar suara seperti gemretak gigi darinya. Chanyeol memang tak takut...hanya saja, ia benar-benar risih melihat sesuatu yang tak lazim seperti itu menempati ranjangnya.
Chanyeol berallih mencengkeram ujung selimut itu, lalu menariknya kuat hanya dengan sekali gerakan... Namun detik itu pula Ia berjengit saat tau gundukkan itu rupanya seorang manusia.
"K-kau—
GREBB
"A-AAHHH ...TUAN K-KAU DATANG! RU-RUMAH INI ...BERHANTU! DI BAWAH HANTU! HANTU DI SANA!" Racau Baekhyun kacau.
Chanyeol makin terkejut bukan main, begitu namja mungil itu melompat ke arahnya dan memeluk pinggangnya terlalu erat. Bahkan hingga menjerit-jerit sekacau itu.
Tapi Chanyeol hanya diam, tak mengucapkan kata apapun...atau bahkan menepuk-nepuk punggung namja mungil itu untuk menenangkannya. Ia hanya menatap dingin ke depan dengan aksen stoicnya, dan sesekali menguap malas.
Sungguh Ia benar-benar ingin menyentak Baekhyun karna sikap yang mungkin lancang itu, tapi semua hanya menjadi niat terbesit saja. Ia tak bisa melakukannya...karna itu sama saja seperti dirinya tengah membentak Bai Xian. Tidak! Selama hidupnya tak pernah sekalipun dia menyentak marah pada kekasih mungilnya.
Lama Dokter muda itu bertahan denan posisi demikian, membiarkan bocah itu memeluknya terlalu kuat. Hingga akhirnya Baekhyun tersadar dan melepas rangkulan itu dengan takut-takut.
"M-maafkan aku.." Lirih Baekhyun seraya menundukkan kepala.
Sesaat Chanyeol melirik namja mungil itu, dan sesuatu kembali berdesir sesak kala melihat parasnya. Membuatnya memalingkan wajah, masih tak mampu jika harus mengenang Bai Xian. Ah sungguh...mengapa bocah itu memiliki wajah yang sama dengan kekasihnya.
"..."
Tanpa suara Chanyeol beralih melenggang ke meja nakas, dan melepas arlojinya di sana. Membuat Baekhyun meremas-remas tangan kikuk melihat sikap dingin itu. Jika seperti ini...bukankah Chanyeol tak menghiraukan kehadirannya. Bahkan namja tampan itupun kini beralih melepas satu persatu kancing kemejanya...dan masih dalam sikap dinginnya.
Baekhyun makin gugup...begitu menyadari kemeja itu benar-benar nyaris tertanggal dari tubuh tingginya. Ya Tuhan! apa pria itu benar-benar ingin bertelanjang sementara dirinya masih berada di kamar ini.
"T-tuan—
PLUK
Baekhyun terdiam, begitu kemeja itu dilempar...melayang melewati wajahnya dan berakhir di sudut kamar. Baekhyun yang melihatnya hanya mengerjap berulang-ulang. Tapi sedetik kemudian Ia kembali berjengit Pria tampan itu kini beralih melepas pengait celananya.
"H-AAHH!" Jerit Baekhyun sembari menutup wajah dengan kesepuluh jemarinya.
Chanyeol yang mendengarnya,hanya menghela nafas malas. 'Terlalu berisik' pikirnya. Dan tak menaruh hirau, tetap membuka pengait celana panjangnya.
"J-jangan! Jangan membuka—
"Kau masih di sini"
Baekhyun mengerjap mendengar nada ketus itu, dan beralih membuka kedua tangannya untuk menatap Chanyeol. meski nyatanya wajahnya merona hebat melihat dada bidang pria itu.
"Keluarlah jika tak ingin melihatnya"
Baekhyun membulatkan mata lebar lalu menggeleng kasar, di luar pintu kamar ini pasti banyak hantu gentayangan. Hanya ruangan ini dan bersama Chanyeol Ia merasa aman. Pikir namja mungil itu
"Aku ingin tidur" Ucap Chanyeol lagi, kali ini benar-benar dengan membuka celananya dan hanya menyisakan under wear saja. Lalu beringsut masuk kedalam selimutnya.
Sontak Baekhyun terkejut bukan kepalang, dan merangkak kelabakan menuruni ranjang itu.
BRUGHH
Hingga tersungkur dengan posisi terbalik. Tapi Baekhyun beranjak cepat untuk bangkit dan menyudutkan diri di sudut kamar. Meski sesekali Ia meringis nyeri di jidatnya.
Chanyeol hanya mengerjap heran melihat sikap luar biasa ceroboh dan kacau itu. mungkin wajahnya memang sama...tap tidak untuk perilakunya. Mereka benar-benar berbeda.
"Keluarlah" Ujar Chanyeol masih dengan tatapan dinginnya. Ia lelah...dan benar-benar ingin tidur sekarang. Tapi sosok mungil yang tak pernah berhenti menatapnya di sudut kamar itu benar-benar mengganggu.
Baekhyun mengeratkan pelukannya di lutut dan menggeleng kasar. Membuat Chanyeol sedikit mengeras sial! Ia benar-benar ingin mengusir namja kecil itu. Tapi tak bisa! Anak itu benar-benar seperti Bai Xian.
"Kau bisa menggunakan kamar yang lain dari rumah ini"
"T-tidak mau" Elak Baekhyun lagi, bagaimanapun Ia benar-benar takut jika harus dipaksa keluar dari kamar itu.
"Terserah.." Ketus Chanyeol dan lebih memilih memejamkan kedua matanya
Sementara Baekhyun hanya menggigiti kukunya ragu, sesekali Ia terlihat mendongak memastikan Chanyeol . tapi sepertinya pria itu benar-benar telah tidur. Baekhyun makin mengeratkan dekapannya ditubuhnya, bahkan terkadang mengusap-usap lengannya sendiri...demi apapun itu Ac di ruangan ini benar-benar dingin. Dan Ia sama sekali tak berselimut apapun.
"Di—ngin" Bisik Baekhyun lirih,lebih untuk dirinya sendiri. Tapi sesaat kemudian Ia menyandarkan kepala di lipatan tangannya, berusaha menepis rasa dingin itu dengan mata terpejam.
Diam-diam Chanyeol membuka matanya, perasaan sesak itupun kembali berdenyut melihat Baekhyun tidur dengan posisi meringkuk seperti itu. Ia tau...Namja mungil itu menggigil kedinginan. Ah...benar-benar seperti Bai Xian yang meringkuk kedinginan. Tapi entahlah...Ia benar-benar enggan untuk mendekat dan merengkuhnya, meskipun ingin.
"Kau bukan Bai Xian" Gumamnya, sebelum akhirnya benar-benar terlelap. Membiarkan namja mungil itu tidur menggigil di sudut ruangannya.
.
.
.
Esoknya
"Mmh..." Chanyeol sedikit mengernyit sembari merentangkan kedua tangannya, dan membuka mata cepat begitu sadar pagi memang telah menjelang. Ia beralih mendudukkan diri, namun seketika itu pula Ia mengerjap heran kala tak melihat Baekhyun di manapun. Bukankah semalam anak itu tidur di sudut kamarnya?
Hingga tiba-tiba saja Chanyeol berdecak, kala melihat sisi kanannya. Dan menyadari...Rupanya Baekhyun masih terlelap di kolong meja nakasnya. Sejak kapan anak itu berguling hingga ke tempat seperti itu.
Chanyeol beralih menuruni ranjang, untuk mendekati namja mungil itu. Senyumya pun terkembang begitu saja, saat memandang paras Baekhyun.
Ini benar-benar seperti...dirinya melihat wajah Bai Xian di pagi ini. begitu menakjubkan...begitu mempesona, hingga tanpa tersadar Chanyeol merunduk mendekati bibir pouty itu.
Chupp
Bagai terlena...Chanyeol benar-benar mengecup lembut lapisan ranum itu, aroma yang sama...bahkan lembutnya pun sama. Ia benar-benar merasakannya dengan nyata...Ya! Dirinya memang tengah mencium bibir Bai Xian mungilnya.
Gasp
Chanyeol tiba-tiba terlonjak, dan menjauhkan dirinya dari sosok yang masih terlelap itu. Sial! Hal terkutuk macam apa yang baru saja dilakukannya. Anak itu bukan Bai Xian! Meski terlihat sama...tapi Dia bukan kekasihnya...tak seharusnya Ia melakukan hal sebodoh ini.
Chanyeol mengusap wajahnya gusar, lalu setelahnya beranjak...lebih memilih membersihkan tubuhnnya. Kepalanya benar-benar kacau saat ini...dan Ia butuh air dingin untuk meleburkannya.
.
.
.
Beberapa Jam kemudian
Sesekali Chanyeol melirik ke bawah dan berdecak melihat bocah mungil itu masih meringkuk bulat di sana, tapi ia mencoba acuh...dan lebih memilih melihat tayangan dalam layar tv Led yang baru saja di gantinya itu.
Dan tak lama berselang, mulai terdengar dengungan halus namja mungil itu. namun tiba-tiba..
'JDUAGGH'
"Ahh!"
Baekhyun terantuk tepian nakas, begitu ia bangkit terduduk dengan tiba-tiba...membuatnya kembali terkapar di bawah kolong meja itu.
Chanyeol turut terlonjak mendengar suara benturan dan pekikkan keras itu, dan nyaris terkekeh melihat Baekhyun mengusap kasar jidatnya yang memerah, tentu saja itu sangat sakit.
Tapi setelahnya senyum itu berangsur pudar, begitu Baekhyun benar-benar beringsut bangkit...dan mengerjap polos padanya.
"M-maaf...aku bangun terlalu siang" Sesal Baekhyun sembari mengais surai Coklatnya yang kusut.
Chanyeol hanya meliriknya sesaat, dan kembali melihat Tv...bangun terlalu siang ataupun tidak, itu juga bukan urusannya.
'Mengapa kau memintaku tinggal bersama bocah sepertinya...Dear' Batin Chanyeol dalam hati.
Membuat Baekhyun semakin menunduk bersalah mendengarnya, ah sungguh...sepertinya Ia benar-benar yang terburuk.
Baekhyun beralih bangkit berdiri dan tersenyum manis, mencoba membuat sekat lebih dekat dengan Dokter muda itu.
"A-anda tidak bekerja hari ini?" Tanya Baekhyun antusias.
Sesaat Chanyeol tampak menghela nafas. "Tidak.." singkatnya.
"A-ah...j-jadi begitu" Baekhyun hanya mengangguk, lalu bergerak kikuk tak tau harus bersikap seperti apa.
Hingga tiba-tiba saja, kedua matanya mengerjap begitu melihat sepasang mug di meja nakas. Itu terlalu indah dan berbeda, membuat Baekhyun mengambil salah satu dari benda keramik itu dan memekik takjub.
"Whooa...indah sekali? Ini—
"Letakkan! Jangan menyentuh apapun milik Bai Xian!" Gertak Chanyeol
Baekhyun terlonjak terkejut...Dan..
PRANKK
Mug itu tanpa sengaja terjatuh dan pecah berhamburan di bawah keduanya...membuat Baekhyun menatap nanar dengan kedua tangan gemetar.
"What the fuck!"
.
.
.
.
.
T.B.C.
.
Next Chapter (Chapter Berikutnya)
.
"L-Lepaskan aku!" Baekhyun mulai meronta ketakutan, bahkan kedua mata rubah itu terlihat retak karna air mata di pelupuknya.
"You're still cry baby, just like before" Kekeh Chanyeol, sembari menyesap air mata Baekhyun.
"Uhnn~" Sentak Baekhyun tertahan, sembari memalingkan wajahnya.
"Bukankah kau selalu mengatakan ini? 'Kiss and embrace me'"Bisik Chanyeol sembari menjilat leher Baekhyun. " And then tell me you love me...Bai Xian"
"T-tidak! Anda mabuk Tuan! AH...A-Andwae! AHHHT!"
.
.
CUTT
.
.
.
Allohaaa
Gloomy hadir bawa Chap 2 nyaa...
bagaimana? Lanjut or delete?
cepat atau lamanya updt trgntung review... ok?
ig= gloomy_rosemary
Untuk:
inspirit7starlight, Tiara696, Yeolliebee, Dheacho, kirameku-14, Byun Jaehyunee, baekhyuneebc, Fau, Yana Sehunn, auloseh, Hasil enaena ChanBaek, BaekheeChanlove, sitikkaebsongbae, Hyo luv ChanBaek, restikadena90, loeypark04, Fitri MY, Kitukie, neniFanadicky, chanchannie, Loey761, berrybyun, pongpongi, Chel VL, realoey614, cherrybaek, LordLoey, BaekhChan0461, Marshamallow614, chococaramello, kimi2266, Byunexo, xiaobao, veraparkhyun, ChanBaekGAY, AuliyaRchy, vivifangirls, ilpyopark,Loeybee614, byunniepie, cici fu, nisahyun, hoholin, xxrealpsxx , Park Shiina, Rhnzysme,Aisyah1,ChoLoveForLee, sekaiyeollie, selepy, D, loeeeeyy, chanbaek1597, krung, winter park chanchan, all Guest
Terima kasih sudah mereview di ch sebelumnya
jgan lupa review lagi nee
Saranghaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaeeeee
