Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadathosi

Story by Mel

DLDR

Cerita ini diilhami dari banyak kisah sebelumnya, maaf bila banyak kesamaan – mohon tidak di-flame

Please enjoy

Chapter 2 : Is it you?

"Tetsuya…" lirih suara Akashi terbawa angin. Kedua tangannya mengepal kuat, dia hanya mampu melihat bis yang semakin jauh membawa seseorang. Akashi tidak sadar sadar sudah berlari sejauh lebih dari tiga ratus meter. Nafasnya tersengal. Tapi…

'Aku tidak salah lihat 'kan, tadi itu Tetsuya' batinnya. Otak jeniusnya sepertinya sempat membeku, apa mungkin terpapar dinginnya cuaca? Kini ia menyadari sesuatu, refleks membuat tangannya menepuk dahi dengan sedikit bertenaga. Puk! Bodoh. Bodoh sekali, umpatnya.

"Haaah! Tidak mungkin" serunya pada diri sendiri. Tidak peduli pada tatapan orang yang lewat. Sosok yang tadi dilihat hanyalah bocah SMA, sedangkan aku dan dia sudah berumur 20, walaupun baru bulan depan dia akan berumur 20 tahun.

Pasti hanya kebetulan saja sosok dan surainya hampir mirip, belum tentu 'kan dengan bola matanya yang berwarna biru cerah itu, kembali membatin. Di negara ini memang tidak banyak orang yang memiliki rambut yang berwarna khas seperti biru muda yang cerah seperti dirinya.

"Akashi Seijuurou!" sebuah tepukan pada pundak menyadarkannya dari monolog yang dilakukannya. Mata rubi menatap sepasang manik gelap di depannya, sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan. Uap dari lubang hidung Nijimura seolah menyembur, bersamaan dengan raupan udara karena tenaganya terkuras untuk berlari.

"Apa yang kau lakukan? Siapa yang kau kejar?" Nijimura menuntut jawaban. Tatapannya tajam, ia yakin ada yang tidak beres. Akashi yang dikenalnya selalu bersikap tenang, sangat perhitungan, tetapi apa yang dia lakukan barusan berlari seperti dikejar setan. Padahal reinkarnasi iblis tak akan takut dikejar setan pikir Nijimura nista. Apa yang membuatnya berubah seperti ini? Pastilah hal yang sangat penting.

"Tidak, sepertinya aku salah orang" Akashi membalikkan tubuhnya, segaris kekecewaan tercoreng pada parasnya, berjalan tenang menuju ke tempat yang nyaman sebelumnya. Saat itu baru terasa angin menusuki sekujur tubuhnya yang hanya berbalut sweater, mantel yang tadi dipakai masih tergantung manis pada kapstok di dinding dekat pintu masuk kafe.

"Aku minta sake lagi, atau bir yang lebih kuat" tuturnya pada waiter yang sekarang bertubuh pendek. Lelaki itu hanya mengangguk dan sedikit membungkuk. Nijimura yang sudah duduk kembali, menatapnya dengan mata memicing. Ada yang aneh pada diri rekannya ini.

"Hey, berhentilah minum, kau sudah menghabiskan 4 botol sake!" tangannya mencengkeram bahu berbalut sweater itu. Akashi bergeming, pipi putihnya sudah berwarna merah, karena terpengaruh cairan yang kini mengaliri tubuhnya. Pikirannya masih menerawang entah kemana.

Nijimura mencoba mengalihkan perhatian agar sang rekan kembali ke dunia nyata, "Akashi, tolong jelaskan tentang perbankan yang sedang berkembang di Asia Tenggara, apa itu namanya sharia?" menatap lawan bicara yang sudah tidak fokus. Akashi menghela nafas, matanya masih menatap cangkir kosong yang ada dalam lingkup kelima jarinya. Menggoyangkannya ke kanan ke kiri.

"Keterangan tentang itu ada di buku Perbankan Modern, chapter empat, bacalah sendiri" nada malas sangat kental dari suaranya. Nampak sekali dia tidak tertarik dengan pembicaraan yang disodorkan Nijimura.

Hari sudah sangat gelap ketika mereka memutuskan untuk ke luar dari kafe itu. Akashi tidak mabuk, hanya saja badannya terasa panas. Mantel yang tadi tergantung sekarang berpindah disampirkan di lengan.

Melaju dengan kecepatan sedang, kendaraan yang mereka naiki melewati beberapa tempat hiburan malam, café-café, bar, night club, tempat billyard, seakan bertebaran di kedua sisi jalan. Karena malam ini weekend, jalanan itu terasa lebih hidup. Lampu berwarna warni menambah semarak jalanan. "Kita hangout saja, Akashi, sepertinya kau suntuk sekali, lihat gadis-gadis itu, so hot!" setengah berseru, telunjuknya mengarah pada beberapa gadis yang berjalan melenggak lenggok. Di cuaca yang sedingin ini mereka menggunakan rok pendek menggunakan legging berwarna warni dan boots selutut. Akashi hanya melirik sedikit. "Turunlah kalau kau mau Shuuzou, aku mau pulang, capek!" dengusnya cuek. Nijimura mengangkat kedua bahunya, gumaman tidak jelas keluar dari mulutnya. Akashi sedang dalam mood yang jelek.

"Ya sudahlah, antarkan aku pulang, oke" yang dibalas Akashi dengan anggukan kecil.

Handuk putih masih tersampir dikepalanya yang basah, t-shirt lengan panjang berwarna putih, dan celana navy selutut dikenakan, ditangannya secangkir gyokuro, teh hijau yang berkualitas tinggi masih mengepul menguarkan harum menggoda hidung untuk menghirupnya dalam. Maid mengantarkan satu poci teh dan sebuah cangkir dengan setoples kecil kue kering dengan taburan kismis saat Akashi di kamar mandi.

"Ah, mungkin ini sebuah petunjuk" gumamnya, cangkir teh diletakkan disamping laptop. Tadi saat dirinya berendam di bathtube yang hangat, berbaring merilekskan seluruh anggota tubuh, aroma terapi serupa citrus dan mint menguar dari lilin-lilin putih yangdinyalakan, lampu sengaja dipasang redup. Akashi ingin benar-benar rileks. Mengosongkan pikiran yang sempat kalut yang berakibat lelahnya seluruh tubuh.

Dalam bayangannya mencoba untuk memvisualisasi guguran sakura berwarna merah muda, lalu berubah menjadi guguran salju lembut ringan berwarna putih yang terkadang berterbangan tertiup angin. Salju serupa vitrase tipis menghalangi segerombolan remaja berseragam hitam dengan polet biru sepanjang baju di bagian dada.

Tubuh Akashi merosot dari sandaran bathtube yang merendamnya sebatas leher. Lebih dalam lagi sehingga kepalanya pun terendam. Visualisasinya masih menatap para remaja itu menaiki bis, sampai akhirnya ia menatap bagian belakang bis yang menjauh. Badan bis berwarna silver dengan nama dan nomor yang tercetak dibawah jendela belakang yang lebar.

Seketika tubuh Akashi keluar dari air, matanya membeliak, tersengal, udara diraup sebanyak mungkin, paru-parunya serasa diremas.

Suara keyboard diketuk terdengar lamat. Jaringan internet super cepat di mansion-nya memudahkan untuk melakukan segala bentuk pencarian di dunia maya. Mulai dari informasi yang biasa sampai dengan yang sangat luar biasa.

Saat ini ia sedang menggugling sebuah bentuk moda transporasi bis dengan kata kunci 'Silvertrans 22', sederet informasi muncul hasil dari penelusuran dalam tempo kurang dari 5 detik. Tampaknya informasi yang paling akurat adalah yang paling atas di layar laptop selebar 14 inci , di kliknya deretan huruf itu, maka tak lama kemudian nama website muncul dengan jargon yang bertajuk 'sarana transportasi aman, terpercaya, dan tepat waktu', berbagai foto moda transportasi terpampang, matanya terpaku pada bis yang sore tadi dilihatnya,

"Hm, aku harus lihat jadwal dan rute, lalu tempat-tempat apa saja yang ada di sekitar alur ini, sekiranya berkaitan". Hampir setengah jam Akashi mencari informasi lewat alat penelusur paling besar di dunia ini. Beberapa yang dibutuhkan sudah ia dapatkan.

Punggungnya yang dari tadi tegak kemudian dilemaskan, bersandar pada kursi belajarnya. Kesimpulan terakhir adalah satu nama sebuah senior high school dengan seragam yang baru-baru ini dilihatnya "Seirin koukou!" seringainya tampak menyembulkan deretan gigi putih yang rapi. Akashi mencatat dalam otaknya dimana letak sekolah menengah atas tersebut, kurang dari lima ratus meter dari tempatnya minum sake bersama Nijimura tadi sore.

Terakhir, untuk menandaskan rasa penasarannya, keyborad laptop ditekan, menuliskan sebuah nama keramat, KUROKO TETSUYA.

Dihirupnya oksigen yang terasa berat, jemari lentik menuliskan dua patah kata, 'Kuroko Tetsuya'. Bola mata dengan iris merah melebar sempurna. Sekira 20 informasi terpampang di layar laptop, disertai foto-foto, baik foto sendiri maupun foto dalam pose yang bersama dengan rekan-rekannya. Nafas tercekat. Sepasang mata rubi itu tidak berkedip. Wajah manis dengan surai biru muda terpampang di beberapa media sosial.

Dikliknya salah satu foto dilayar laptop. Benarkah dia? gumam Akashi, wajahnya sangat imut, mata sewarna langit musim semi, hidung yang mancung, serta bibir ranum sewarna coral, tampak tengah tersenyum. Tapi tunggu, bukankah dia harusnya akan berusia 20 bulan depan? Inikah Tetsuyaku? Wajah dalam foto itu sama sekali tidak nampak gurat dewasa, wajah polos dengan kisaran tujuh belas tahunan.

Aku harus mengenalmu, berteman denganmu, Kuroko Tetsuya, siapa pun dirimu. Pemuda itu dengan mudah membuat akun palsu, dengan foto diri yang palsu pula, hasil mencomot dari internet, entah milik siapa, lalu ikon 'berteman' diklik, berharap sang biru muda akan menerima pertemanan yang diajukannya.

Beberapa foto ia download dan disimpan dalam memory laptop, menyimpannya dalam folder bernama 'blue angel'.

Tak terasa tengah malam telah menjelang, Akashi masih sibuk dengan kegiatan barunya, menatapi satu persatu foto yang ia curi dari dunia maya. Kau mirip sekali dengan Tetsuyaku, gumamnya.

Kembali alisnya menukik. Tunggu apa yang bocah itu pegang? Ketika irisnya menatap satu foto yang diyakini hasil selfi, memperlihatkan segerombolan remaja dengan seragam hitam, menatap ke arah atas, semuanya tersenyum, jempol dan dua jari membentuk V tampak pada gambar itu. Sesuatu yang menjadi minat mata Akashi adalah sebuah gelas kertas dengan logo yang Akashi kenal. Ya, Tetsuyaku juga sangat menggemari milk shake dari franchise resto itu. Déjà vu!

- TBC -

Note:

Many thanks buat yang sudah read, follow, favorite-kan fict pertamaku – deep bow. Benar-benar buat Mel semangat, terutama buat:

^Arnest sirleena: Akashi cari tetsu karena testunya hilang

^Anitayei: ini lanjutannya, please enjoy

^ShirShira: ceritanya masih pembukaan, alurnya agak lambat, mudah-mudahan tambah penasaran….huehehe [tawa nista]

^Sunsuke UzuChiha : already….

See you next chapt.