"Kencan Buta"
Naruto disclaimer Masashi Kishimoto
Dan saya cuma pinjem karakter saja,
Pairing : Uchiha Sasuke – Haruno Sakura
*Pair nomor satu favoritku*
Warning : Pertemuan Awal diadaptasi dari Drama Korea "Wedding" Jang Nara
Namun kelanjutan kisah mengalir sesuai ide yang terlintas di otak author saja.
Sudah pasti ceritanya jauh dari canon.
Tapi saya mencoba untuk tidak Out of Character.
Genre : Romance
"Saat kamu ragu dalam mengambil keputusan, tanya hatimu"
~ At Kediaman Uchiha
"Arrrghhhh….. Dasar gadis menyebalkan," erang Sasuke tiba-tiba membuat dua orang pria yang duduk tak jauh darinya menatap heran ke arah pria berambut pantat ayam itu.
"Hey, Itachi nii. Kau dengar tadi? Si teme menyebut kata gadis," Naruto menyenggol lengan Itachi dan menunjuk Sasuke yang duduk di sofa sebelahnya. Itachi mengalihkan pandangannya dari televisi ke arah Sasuke dan tersenyum mengerikan.
"Siapa yang kau maksud gadis, eh Otouto?" tanya Itachi disambut anggukan Naruto. Sasuke mengernyit heran saat kedua makhluk di depannya mendadak menatapnya seperti kucing kelaparan.
"Gadis?" Sasuke mengerutkan dahinya bingung.
"Jangan pura-pura tak mengerti, Teme. Barusan kau mengerang dan menyebut kata gadis," ujar Naruto geram. Sasuke menghela nafas dan memejamkan mata hitamnya.
"Gadis kencan buta yang kalian atur minggu lalu," jawaban Sasuke membuat kedua orang laki-laki dengan rambut orange jabrik dan hitam panjang itu saling memandang heran. Mereka mengira Sasuke tidak akan peduli dengan gadis di kencan butanya itu. Tapi…. Ternyata Sasuke masih memikirkan gadis kencan buta itu. Sesuatu yang langka bagi seorang Uchiha Sasuke.
"Kau tidak pernah cerita padaku kalau kau tertarik dengan gadis itu, eh? Jangan-jangan hubungan kalian sudah jauh? Cantikkah dia?" tanya Itachi beruntun membuat Naruto yang dilanda penasaran pun mengangguk-angguk tidak jelas. Sasuke sangat menyesal kenapa tadi dia tanpa sadar mengerangkan kata gadis di depan dua makhluk yang mengidap rasa penasaran tingkat akut dalam hal ikut campur urusan orang. Dan Sasuke yakin jika dia tidak menjelaskan secara detail masalahnya sekarang, pasti dia tidak bakal tenang sampai seminggu kedepan karena kedua orang ini akan terus mendesaknya sampai rasa penasaran mereka terobati. Menghela nafas pasrah, Sasuke pun menceritakan pertemuan terakhirnya dengan gadis maniak pink itu kemarin. Eh, ternyata usut punya usut Sasuke sudah tiga kali bertemu dengan gadis pink itu. Pertama, saat kencan buta berlangsung, kedua saat di Butik membeli kemeja dan dasi, dan kemarin,
~Flashback on
~At Café Laa Latte
"Jadi? Ada apa kau mengundangku ke sini?" tanya Sasuke setelah kurang lebih lima belas menit terjebak dalam kesunyian. Gadis merah muda di depannya hanya menunduk sambil meremas rok balon warna pinknya 'gugup'. Sasuke sendiri heran bukan main saat setengah jam yang lalu dia menerima pesan dari gadis merah muda –sebut saja Sakura, kalau dia ingin bertemu di sini. Dalam perjalanannya, Sasuke bertanya-tanya ada gerangan apa gadis merah muda ini ingin bertemu dengannya?. Sebenarnya bisa saja Sasuke menolak ajakan gadis itu dengan alasan sibuk, tapi entah kenapa begitu membaca pesan dari Sakura, Sasuke langsung bergegas ke tempat dimana gadis itu menunggu. Dan di sinilah dia sekarang, duduk sambil sesekali mengaduk-ngaduk kopi pahitnya, menunggu sang gadis membuka suara.
"Ano…., mungkin ini terlalu cepat. Tapi sungguh aku tak bisa menyimpannya sendiri. Rasanya begitu sesak," suara lirih Sakura mulai terdengar. Sasuke mnegernyit tak mengerti maksud gadis itu.
"Hn?"
"Aku…. Aku menyukai Sasuke kun," Sakura menarik nafas sejenak.
"Sejak bertemu dengan Sasuke kun, aku langsung suka tapi… sungguh rasa ini membuatku sesak dan ingin meledak. Aku menyukaimu, benar-benar menyukaimu" lanjut Sakura masih dengan menunduk. Sasuke memandang lekat gadis itu, yah… meski banyak gadis yang sering mengatakan cinta padanya, tapi entah kenapa saat gadis ini yang bicara rasanya berbeda. 'Hening'
"Aku mengatakannya ini bukan karena aku ingin memilikimu, sungguh. Aku juga tidak berharap jawabanmu, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja. Tidak lebih," Sakura semakin kencang meremas roknya.
"A… aku permisi, Sasuke kun. Arigato telah bersedia menemuiku," ujar Sakura tiba-tiba dan langsung beranjak dari kursinya pergi sambil berlari meninggalkan Sasuke yang diam terpaku. 'Apa-apaan gadis itu?' batin Sasuke.
~Flashback off
"Aku jadi penasaran dengan gadis itu, eh Sasuke. Kau juga penasaran kan, Naruto?" tanya Itachi setelah mendengar cerita Sasuke tentang gadis yang membuat adiknya itu bertingkah aneh.
"Hai, gadis itu pasti sangat polos. Siapa tadi namanya, Teme?" tanya Naruto.
"Sakura,"
"Kapan kau akan bertemu dengannya lagi?" tanya Itachi lagi.
"Hn?" Sasuke sendiri tidak tahu kapan dia akan bertemu dengan Sakura lagi. Semenjak kemarin, Sakura tak menghubunginya lagi. Sasuke sendiri tak yakin dengan pernyataan Sakura. Kalau dia benar menyukai Sasuke, seharusnya gadis itu mengejarnya, seperti gadis-gadis lain di sekitar Sasuke. Tapi dia malah menghindar, membuat Sasuke dilanda penasaran. 'Menarik' batin Sasuke. Sasuke beranjak dari kursinya dan melangkahkan kaki sambil mengutak-atik handphonenya.
"Teme, kau mau kemana, eh? Kau belum menjawab pertanyaan kami!" seru Naruto saat Sasuke melengos pergi.
"Hn, aku akan menemui gadis itu," sahutan Sasuke membuat dua orang pria beda usia itu saling pandang dan tersenyum setan.
~~~~0000~~~~~
~Rumah Sakit Konoha
Seorang dokter cantik berambut merah muda, tengah sibuk menatap tumpukan-tumpukan map yang menggunung di mejanya. Memijit keningnya pelan. Sungguh hari ini benar-benar melelahkan bagi gadis itu. Bagaimana tidak, hari ini ia baru saja menangani 10 anak yang mengeluh sakit kepadanya. Sahabat setia gadis itu tengah berada di depan lemari yang ada di sebelah kiri dari meja kerja gadis merah muda itu. Sesekali melontarkan pertanyaan kepada gadis merah muda itu dan mengambil beberapa buku yang ia perlukan. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dan masuklah seorang perawat.
"Maaf Dokter Haruno, ada seorang pria tampan yang mencari Anda di depan," Haruno Sakura mengernyit bingung saat tiba-tiba salah satu perawat rumah sakit mendatangi ruangannya dan berkata bahwa ada seorang pria yang mencarinya. 'Siapa?' batin Sakura.
"Siapa, Ayame?" tanya Ino yang kebetulan sedang berada di ruangan Sakura. Tak lupa ia meletakan map yang tadinya berada di tangannya ke meja Sakura.
"Uchiha san," begitu mendengar nama keramat itu, Sakura langsung bergidik ngeri. Menyadari perubahan raut muka Sakura, Ayame langsung pamit undur diri meninggalkan Sakura dan Ino yang saling pandang. Sakura terduduk lemas di bangkunya.
"Mati aku,"
"…" Ino memandang Sakura bingung.
"Ino, apa yang harus aku lakukan? Aku malu bertemu dengannya, Ino," Sakura menjatuhkan wajah ayunya di meja yang dipenuhi tumpukan dokumen kesehatan.
"Kau harus temui dia, Saki!"
"Ino, aku sudah tidak punya muka untuk bertemu dengannya. Pasti dia akan mentertawakan aku. arrrgghhh…. Baka baka baka, kenapa kemarin aku mengatakan perasaanku padanya," Sakura meruntuki kebodohannya.
"Hey hey, Saki. Kau bukan seorang pengecut kan? Ayo temui dia, kau harus mempertanggungjawabkan pernyataanmu kemarin," Ino mulai menarik Sakura bangun dan mendorongnya keluar. Sakura menghela nafas pasrah. Sedikit demi sedikit ia mengintip seseorang yang ada di balik pintu ruangannya. Dan ia mendapati seorang pria tampan dengan gaya casual, berbalut kaos biru dongker dan celana jeans warna abu-abu. Ditambah sebuah kacamata coklat bertengger manis di atas hidung mancungnya tengah duduk asik mengutak-atik handphone hitamnya. Sakura takut-takut melangkah maju mendekati pria itu. Merasakan ada seseorang yang melangkah mendekat, Sasuke mengalihkan pandangannya dari handphonenya dan mendapati Sakura dengan langkah kecil mendekatinya dengan raut muka pucat.
"O-ohayo, Sasuke kun," sapa Sakura saat mata emeraldnya bertemu dengan mata onix Sasuke.
"Hn," sahut Sasuke tanpa melepas pandangannya dari Sakura membuat Sakura semakin merasa tersudutkan. Sakura pun mendudukkan dirinya tepat di samping Sasuke. Meremas rok warna pinknya sambil menunduk. 'Cemas'.
"Sekarang waktu istirahatmu kan, kau ada praktek lagi sekitar dua jam lagi," ujar Sasuke tiba-tiba. Sakura tersentak kaget. 'Bagaimana dia tau?' tanyanya dalam hati memandang heran ke arah Sasuke.
"Aku sudah melihat jadwal praktekmu hari ini," ujar Sasuke lagi seakan menyadari tatapan bingung gadis merah muda di sampingnya. Sakura hanya mengangguk.
"Kau belum makan?" tanya Sasuke dan Sakura mengangguk lagi.
"Ikut aku," Sasuke beranjak dari duduknya sambil menarik lengan mungil Sakura dan menggenggam tangannya. Sakura tersentak kaget saat menyadari bahwa tangannya tengah berada dalam genggaman tangan kekar Sasuke. Beberapa perawat memandang heran ke arah Sakura seakan bertanya-tanya siapa lelaki tampan di sampingnya dokter merah muda yang menjadi primadona di rumah sakit itu. Sakura hanya tersenyum terpaksa menanggapi sapaan beberapa perawat yang seakan menggodanya.
~~~~0000~~~~
~At Café Laa Latte
Sakura memandang takut ke arah Sasuke saat mobil hitam Sasuke berhenti tepat di Café Laa Latte. Ia semakin meremas erat roknya hingga kusut. 'Kenapa Sasuke membawanya ke tempat ini lagi? Memalukan,' batin Sakura mengingat pertemuannya kemarin di mana ia menyatakan perasaannya pada Sasuke. Menyadari kegugupan Sakura, bibir Sasuke sedikit berkedut.
"Kau akan membuat rokmu kusut jika kau terus meremasnya," ujar Sasuke sambil membuka pintu mobilnya dan turun. Sakura tak bergeming. Tersentak kaget saat Sasuke membuka pintu mobil sisi yang lainnya membuat Sakura yang duduk di sisi itu mau tak mau turun. Sasuke kembali menggenggam tangan Sakura. Sambil menunduk Sakura mengikuti kemana pun Sasuke melangkah. Dan Sakura kembali terkejut saat Sasuke berhenti tepat di kursi yang sama persis dengan tempat yang dipesannya kemarin. Sakura pun duduk setelah melihat Sasuke memdudukkan dirinya. Terlihat Sasuke melambaikan tangannya ke arah pelayan yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Sang pelayanpun segera menghampiri dengan membawa catatan menu.
"Satu porsi cumisaus tomat dan jus tomat, kau?" setelah menyebutkan pesanannya Sasuke bertanya pada Sakura. Sakura pun membuka buku menu yang ada di mejanya.
"Beef teriyaki dan jus strawberry," sahut Sakura menutup buku menunya. Sang pelayan mencatat pesanan dan membacakannya.
"Satu porsi cumi saus tomat, beef teriyaki, jus tomat dan jus strawberry," ulang sang pelayan memastikan. Sasuke mengangguk. Setelah mengucapkan kalimat 'tunggu sebentar' pelayan pun berlalu pergi.
"Ano, kau tidak bekerja, Sasuke kun?" tanya Sakura memecah keheningan.
"Tidak, hari ini tidak ada meeting penting yang harus kuhadiri," sahut Sasuke. Pecakapan kecil pun terus berlanjut seperti membicarakan pekerjaan dan keluarga, Hingga seorang pelayan datang menginterupsi perbincangan kecil itu, mengantarkan pesanan mereka. Sambil menikmati makanannya, Sakura sesekali memandang takut ke arah Sasuke. Dalam hati Sakura berharap agar Sasuke tidak mengungkit-ungkit pembicaraan kemarin. Tapi ternyata,
"Kau tidak penasaran apa jawabanku atas pernyataanmu kemarin?" pernyataan Sasuke yang tiba-tiba membuat Sakura yang tengah menikmati makanannya tersendak.
"Uhuk uhuk," Sakura langsung menyambar gelas yang ada di mejanya. Tanpa menyadari kalau gelas yang diambinya itu milik Sasuke. Sasuke tersenyum tipis dan meyerahkan selembar tissue ke Sakura.
"Ano, ka-kau tidak perlu menjawabnya, Sasuke kun," Sakura mengambil tissue dari tangan Sasuke dan mengelap bibirnya yang basah. Sasuke memandang tajam Sakura.
"Tapi aku ingin menjawabnya," sahut Sasuke. Mendengar sahutan Sasuke membuat Sakura menatap heran ke arah Sasuke. Dalam hati Sakura bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada di otak pemuda tampan ini. Bukankah kemarin Sakura sudah tegaskan kalau dia tidak butuh jawaban.
"Kau kekasihku, sekarang!"
~~~~0000~~~~
~ At Apartement Sakura
Di sebuah kamar dengan wallpaper bunga Sakura di sekitar dindingnya, terlihat seorang gadis dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan tengah menenggelamkan wajah cantiknya di bantal warna merahnya, meredam segala macam teriakan yang keluar dari bibir mungilnya. Sudah lebih dari satu jam gadis itu tak bergeming dari posisinya itu, beberapa panggilan yang masuk di handphonenya pun ia abaikan. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
'Tok tok tok'
Gadis itu menegakkan kepalanya saat mendengar pintu apartemennya diketuk. Dengan malas ia bangun dari posisi nyamannya itu dan melangkah terseok-seok menuju pintu. Ia pun menemukan tiga gadis manis tengah berdiri dibalik pintu. Yang satu berambut ungu gelap dengan setelan baju warna cream dan rambut panjangnya ia biarkan tergerai indah, yang satunya lagi berambut hitam dengan model cepol menggunakan cardigan merah dan celana warna biru muda, dan yang terakhir gadis pirang dengan model rambut ponytail memakai dress ungu muda dan legging warna putih.
"Kalian?" tanya Sakura heran mendapati tiga gadis yang merupakan sahabatnya itu berkumpul di depan pintu apartementnya. Tiga gadis itu langsung masuk ke apartement Sakura dan langsung mengambil tempat di atas ranjang sang pemilik apartement.
"Kau tidak menjawab panggilanku, Saku. Kau ini kenapa? Tidak biasanya kau jauh dari benda mungil merah mudamu itu?" Ino mulai mengomel. mengambil boneka teddy bear warna coklat yang tak jauh dari posisinya berbaring dan memeluknya.
"Ya, bahkan kau lupa kalau hari ini kita ada acara ke Salon bersama dan kau membuat kami menunggu lebih dari dua jam. Iya kan, Hinata?" Tenten ikut manambahi. Hinata hanya mengangguk setuju. Sang terdakwa hanya menatap ketiga sahabatnya sayu dan langsung mendudukkan dirinya di pinggir ranjang lalu menjerit histeris. Hal itu tentu saja membuat ketiga sahabatnya saling memandang penasaran satu sama lain.
"Dia mengancamku?" ujar Sakura lirih.
"Dia? Dia siapa, Saku?" tanya Ino penasaran. Hinata dan Tenten ikut menatap penasaran ke arah Sakura.
"Sasuke kun, pemuda kencan buta itu? Dia mengancam bahwa sekarang aku adalah kekasihnya," mendengar jawaban Sakura, ketiga gadis itu hanya melongo tak percaya. 'Sejak kapan kata-kata kau kekasihku menjadi sebuah ancaman? Bukankah Sakura juga menyukai pemuda itu?' batin ketiga gadis itu.
"Hey, bukankah kau menyukainya? Kenapa kau malah seperti orang yang merasa terancam? Apa dia pemuda yang kejam?" tanya Tenten mewakili pertanyaan yang ada di benak dua sahabatnya itu.
"Bukan, bukan seperti itu. Hanya saja, aku tak pernah sampai membayangkan menjadi kekasihnya. Ini terlalu tiba-tiba." Ujar Sakura lemah. Ketiga sahabatnya hanya menghela nafas pasrah melihat tingkah laku dokter merah muda itu yang terkadang agak melebih-lebihkan sesuatu.
"Sudahlah, Saku. Terimalah nasibmu ini yang sudah menemukan jodohmu," ujar Ino. Yang lain mengangguk setuju. Mau tak mau Sakura juga ikut mengangguk setuju.
Tiba-tiba handphone Sakura berdering tanda ada telepon masuk. Sakura melihat layar handphonenya itu dan mendapati nama 'Sasuke kun' tertera di sana. Ketiga sahabat cantik Sakura memandang penuh tanya karena Sakura tak kunjung mengangkat teleponnya. Mengerti tatapan penasaran ketiga sahabatnya itu, Sakura menunjukkan layar handphonenya. Begitu melihat nama yang tertera di benda mungil pink itu, ketiga sahabatnya langsung memberi isyarat agar Sakura segera mengangkatnya. Menarik nafas, Sakura pun menekan tombol kecil berwarna hijau.
~Telephone
"Moshi moshi"
"Hn"
"Ano, ada apa kau menelponku?"
"Kau belum tidur?" bukannya menjawab pertanyaan Sakura, Sasuke malah balik bertanya.
"Belum," sahut Sakura.
"Hn, jangan tidur terlalu malam. Tidak baik bagi kesehatan." Suara Sasuke terdengar tegas, membuat Sakura mau tak mau menolehkan kepalanya ke arah ketiga sahabatnya yang masih setia berbaring di ranjangnya. Melirik jam dinding mungil yang menunjukkan pukul delapan malam. Ingin rasanya ia menginterupsi kata-kata Sasuke. Namun diurungkannya.
"Hai,"
"Besok kau ada praktek pukul sepuluh kan. Pukul sembilan aku ke rumahmu, aku antar kau ke rumah sakit." Saat mau menjawab iya, Sasuke sudah terlebih dahulu mematikan teleponnya. Sakura menggeleng lemah dan menatap ketiga sahabatnya itu bergantian dan menceritakan apa yang tadi Sasuke katakan padanya di telepon. Mendengar cerita Sakura, ketiga sahabatnya itu akhirnya mengerti arti kata ancaman yang Sakura maksud.
~~~~0000~~~~
TBC
Akhirnya kelar juga chapter 2 yang benar-benar menguras ide di otakku
Ehemm… entahlah fic ini ada yang menunggu updatenya atau tidak…
Tapi mudah-mudahan ada yang menanti kelanjutan cerita fic ini..
Ditunggu reviewnya yahh…
Arigato…..
