Dark Love © Choi RinRi
Main Cast : [Kim Jongwoon & Kim Ryeowook]
YeWook couple, always.
Rated : T [Semi M]
Disclaimer : Super Junior is belongs to God.
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort.
Warning : YAOI, Out Of Character, Some Typo(s), M-Preg.
.
.
[Chapter 2]
.
.
'Ting Tong!'
"H-hyung… tamu, ad-ada tamu…"
"Ssst! Biarkan saja."
"Tap-tapi, huhh…"
"Diam dan nikmati ini."
"Sshh… no more, nghh…"
Tanpa memperdulikan suara bel rumah yang terus berbunyi, Jongwoon terus melanjutkan 'pekerjaannya'. Menjelajahi area leher putih Ryeowook, bagian tubuh Ryeowook yang seakan terus menggodanya.
Apa pedulinya pada suara bel itu? Baginya, suara desahan Ryeowook lebih penting. Right?
Ryeowook terus menggerakkan kedua tangannya yang dicengkram erat oleh Jongwoon di atas kepalanya. Ia pun sedari tadi terus menendang-nendang bagian bawah tubuh Jongwoon. Menyuruh namja itu menjauh dari tubuhnya.
'Ting Tong!'
"Nghh… stop it,"
"No, Ryeowook. Aku tak peduli- ARGHHHH!"
Jongwoon secara cepat menjauhkan tubuhnya, membuatnya terduduk sembari wajahnya yang kini menampilkan ekspressi kesal. Meringis kesakitan sembari mengusap pelan kesejatiannya yang baru saja mendapat tendangan telak dari Ryeowook.
Namja kecil yang nakal!
"Yak! Kenapa kau menendang 'adikku'?" desis Jongwoon, "Apa kau ingin tak mendapat jatah selamanya jika 'ini' sampai bermasalah akibat ulahmu itu, eoh?" sambungnya, kedua matanya menatap tajam Ryeowook, yang justru namja manis itu kini hanya memperlihatkan cengiran tanpa dosanya.
"Itu semua juga salahmu, hyung! Apa tadi malam belum cukup, huh?" Ryeowook mendengus, kemudian bergegas turun dari atas ranjang. Dengan sebelumnya memakai piyamanya yang berserakan tak beraturan di lantai.
Hasil ulah tangan Jongwoon semalam, yang membuat adiknya berarkhir di ranjang tanpa busana dan memberinya beberapa 'serangan'.
"Salahmu juga karena memiliki tubuh yang selalu membuatku ketagihan!" balas Jongwoon merasa tak ingin kalah, dan Ryeowook hanya memutar bola matanya.
"Ting Tong!'
"Ya! Ya! Tunggu sebentar!" teriak Ryeowook, namja mungil itu pun segera keluar dari dalam kamar. Jongwoon yang bersandar di ranjangnya terkekeh geli melihat Ryeowook yang berjalan dengan susah payah.
"Bagus, akan kubuat kau tak bisa berjalan selama satu bulan, Kim Ryeowook."
Smirk.
.
.
'Cklek!'
"Kyaaaaaa! Halo calon adik iparku yang imut!" Ryeowook terlonjak kaget, tubuh mungilnya mendapat terjangan tiba-tiba dari seorang yeoja di depannya. Membuatnya kesulitan bernafas akibat yeoja itu yang memeluknya terlalu erat. "Aku merindukanmu! Bagaimana liburanmu di Paris? Menyenangkan?" tanyanya, yeoja itupun merangkul pundak Ryeowook, membawanya memasuki rumah.
Hey, beri tahu aku siapa pemilik sebenarnya rumah itu.
Ryeowook tersenyum kaku saat yeoja itu sesekali menatapnya disela asiknya ia berceloteh. Sebaliknya, ia akan mendelik tak suka saat yeoja itu tak menatapnya.
[Ryeowook's POV]
Yak! Mengapa di pagi hari seperti ini aku sudah harus bertemu yeoja ini? Menyebalkan sekali!
Hah, jika aku tau yang menekan tombol bel adalah dia, pasti aku lebih memilih terus melanjutkan 'aktifitas'ku tadi bersama Jongwoon hyung. Membuatku tak akan bertindak nekat dengan menendang 'milik'nya itu.
Aku rela jika harus terus melakukan 'itu' hingga kembali bertemu malam jika bisa membuatku tak bertatap muka dengan yeoja ini, kok! Ah, oke, sepertinya wajahku memanas.
Yeoja genit yang selalu mengganggu hubunganku dengan Jongwoon hyung!
Yeoja genit yang selalu berusaha mencari perhatian Jongwoon hyung dengan sikap manisnya yang menjijikkan itu!
Yeoja yang selalu- argh! Intinya aku sangat membenci yeoja ini!
Dia selalu bersikap seolah-olah hubungan kami ini sangat akrab dan- hey! Apa tadi dia menyebutku 'adik ipar'? Cih! Tak akan ku biarkan seorang pun merebut Jongwoon hyung dariku!
Jongwoon hyung adalah milikku!
'Cklek'
Secara bersamaan tatapan kami teralih pada bunyi pintu kamar. "Soyoung?"
Akh! Aku hanya bisa menggerutu dalam hati saat Yesung hyung kini menampakkan dirinya di hadapan kami. Ugh, bisa kupastikan pasti kini yeoja ini sedang mempersiapkan ekspressi imutnya yang bagiku sangat aneh itu.
"Woonie chagiyaaaa!" pekiknya sembari berlari menghampiri Jongwoon hyung.
Hey, bisakah kau tak membuat keributan di rumah orang lain?
[Ryeowook's POV End]
Jongwoon hanya bisa terdiam saat yeoja bernama Soyoung itu memeluknya. Ia hanya diam tak membalas balik pelukannya, ia enggan. Dan semakin enggan lah saat ia mendapat tatapan tajam dari adik manisnya yang kini berdiri tak jauh darinya itu.
Oh, Ryeowook kita yang manis itu sedang terbakar api cemburu.
"Kau tak merindukanku, eoh?" tanyanya dengan suara semanja mungkin. Kedua tangannya melingkar indah di leher namja yang berstatus err- kekasihnya itu. Jongwoon yang mengerti maksud Soyoung segera membalas pelukan yeoja itu.
Semakin membuat Ryeowook memanas.
Kedua tangannya mengepal keras dengan matanya yang memerah.
'Ryeowook, kau tak boleh menangis!'
Yang yeoja itu tahu bahwa Ryeowook adalah adik kandung Jongwoon, bukan orang istimewa yang selama ini selalu Jongwoon katakan padanya. Menangis hanya memperkeruh suasana.
"Soyoung, bukankah kita baru saja bertemu kemarin? Mana mungkin kau bisa merindukanku?"
Oh, ayolah, ucapan polosmu itu semakin membuat namja manis di ujung pintu sana terbakar api!
"Ekhem!" meski terdengar sedikit tercekat, akhirnya Ryeowook pun membuka suara. Dan Jongwoon mengerti maksud suara yang baru saja Ryeowook keluarkan itu.
"Soyoung, aku baru bangun tidur dan aku bau. Apa kau masih ingin terus memelukku?" tanya Jongwoon. Berharap yeoja itu melepaskan pelukannya.
"Bagaimanapun penampilanmu, kau tetap terlihat tampan!" Ryeowook berdecih pelan mendengarnya. "Tapi…" Soyoung mendengus aroma tubuh yang dikeluarkan namja tampan itu. "bau tubuhmu aneh!"
"Pfttt!" Ryeowook segera menutup mulutnya saat mendengar ucapan –polos- yang dikeluarkan Soyoung. Ia tahu, dengan sangat jelas tahu apa bau yang Soyoung maksud.
Bau dari hasil kegiatan mereka semalam.
"Benarkah?" Jongwoon balik bertanya. Dengan sedikit mendengus aroma tubuhnya sendiri "Ah, baunya tak terlalu buruk. Adikku saja menyukainya. Betul 'kan, Wookie?" dengan genitnya Jongwoon mengedipkan sebelah matanya, membuat Ryeowook yang mendapatkan tatapan seperti itupun merona hebat.
Dengan santainya Jongwoon pun melenggang pergi meninggalkan kedua manusia itu. Kamar mandi adalah satu-satunya tempat yang saat ini ia butuhkan.
Tanpa peduli dengan reaksi Soyoung yang mengernyit bingung dan Ryeowook yang masih bertahan dengan wajahnya yang memerah.
.
.
Tak terdengar sedikitpun suara saat ketiganya berkumpul dalam satu meja di ruang makan. Ya, Soyoung yang begitu perhatian pada kedua namja itu dengan rajinnya membawakan sarapan pagi. Kedua namja itu jelas saja dengan senang hati menerima, walau tak senang hati menerima kedatangan sang pemberi sarapan gratisnya itu.
Jongwoon telah menjadikan Soyoung sebagai kekasihnya dalam waktu hampir memasuki dua tahun ini, atau mungkin aku bisa menyebutnya bahwa Soyoung lah yang telah menjadikan Jongwoon sebagai kekasihnya?
Jika kembali ke masa yang lalu, masih teringat jelas bagaimana reaksi Ryeowook saat mengetahui hubungan baru Jongwoon dengan Soyoung. Ryeowook sampai mengancam ia akan membeberkan hubungannya pada yeoja itu jika Jongwoon tak segera memutuskannya.
Mungkin kalian bingung. Oke, biar aku jelaskan.
Soyoung adalah salah satu teman Jongwoon saat keduanya masih menjajaki dunia perkuliahan setahun lalu. Dan Ryeowook saat itu masih berstatus mahasiswa baru.
Entah bagaimana caranya, Souyong dapat memergoki Jongwoon dan Ryeowook yang saat itu tengah berciuman di salah satu gudang. Awalnya, Jongwoon dan Ryeowook yakin bahwa gudang itu jarang sekali di datangi itu membuat Soyoung menuduh Yesung yang sebenarnya 'iya-iya'. Soyoung menolak semua berbagai alasan –kebohongan- yang Jongwoon dan Ryeowook berikan padanya.
Jongwoon pun menarik tangan Soyoung untuk keluar dan mengajaknya berbicara empat mata. Jongwoon terus menjelaskan bahwa yang Soyoung lihat itu 'hanyalah sebuah-ungkapan-kasih-sayang-seorang-kakak-pada-adiknya'. Konyol memang, tapi saat itu Jongwoon benar-benar tak tahu lagi harus bicara apa karena ia yang memang sudah benar-benar tertangkap basah.
"Arghhh! Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?"
Itulah kata-kata yang menjadi awal dimulainya hubungan baru antara Jongwoon dan Soyoung. Soyoung yang mendengar itu jelas saja saat itu menyeringai.
"Simple, jadi kekasihku dan aku percaya bahwa kau normal dan tak memiliki hubungan apapun dengan adikmu. Mudah, bukan?"
Jongwoon yang saat itu sedang kalut dan tak ingin yeoja itu terus mengatakan hal yang aneh –mengingat ia adalah ratu gossip- segera menerima tawaran Soyoung saat itu juga.
Sebuah kesalahan yang akhirnya di tutupi dengan kesalahan-kesalahan lainnya, sebuah kebohongan yang terus saja ditutupi dengan kebohongan-kebohongan lainnya, itulah yang terjadi pada Jongwoon dengan Ryeowook.
Cinta memang rumit!
"Hmm, chagiya? Wookie?" kedua namja itu menatap Soyoung saat nama keduanya dipaggil. "Aku ingin bertanya, boleh?"
"Apa? Silakan saja." Jongwoon menjawab, sedangkan Ryeowook memilih diam dan terus menikmati sarapannya.
"Apa kalian tidur dalam satu kamar?"
"Uhuk!" mendengar pertanyaan itu sontak saja membuat Ryeowook tersedak.
Jongwoon dengan cekatan segera memberinya segelas air. "Minumlah." ucapnya.
"Ne, gomawo, hyung." Ryeowook mengangguk kecil sembari memukul-mukul dadanya pelan, setelahnya ia pun meminum air yang diberikan Jongwoon.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Soyoung, kedua matanya menatap Kim bersaudara itu secara bergantian.
"Kau sendiri kenapa bertanya seperti itu?" Jongwoon menyelidik.
"Aku hanya sedikit penasaran," Soyoung menopang dagu dengan kedua siku tangannya yang bertumpu diatas meja. "aku tadi melihatmu keluar dari dalam kamar Wookie. Betul 'kan?" Tanya Soyoung meyakinkan.
"Lalu? Apa itu salah? Apa kau masih mencurigaiku setelah nyaris dua tahun berlalu?"
"Tidak!" seru Soyoung. "Bukan begitu, jangan menganggap bahwa aku masih mencurigaimu, chagiya! Aku percaya kau itu normal kok!" ucapnya, dengan tanpa beban. Jongwoon mengernyit sebal. "Buktinya, kau menjadikanku kekasihmu dan mencintaiku dengan tulus." sambungnya, dengan suara manja andalannya. Sedangkan Ryeowook rasanya ingin memuntahkan seluruh isi perutnya saat mendengar itu.
"Aku hanya berpikir, betapa imutnya uri Wookie jika tidurpun masih meminta untuk ditemani tidur oleh hyungnya. Apa kau masih tidak berani untuk tidur sendiri, baby? Uh, kau menggemaskan sekali! Hahaha." Soyoung pun tertawa nyaring. Berbeda dengan Jongwoon dan Ryeowook yang saling melempar tatapan aneh dan selanjutnya pun ikut tertawa, meski terdengar memaksakan.
Hey, apa itu lucu?
Ya, yeoja itu selalu saja bertingkah aneh dan di luar perkiraan. Benar-benar makhluk AB line!
.
.
'Tok! Tok!'
"Ahaha.. Geli! Geli! Hahaha.." Seorang yeoja berpakaian rapi –namun minim- tengah menggeliat nakal di atas pangkuan seorang namja yang tak penampilannya tak kalah rapi darinya. Meja dengan papan yang bertuliskan 'Sajangnim' di atasnya ia jadikan sebagai tumpuan tubuh yoeja itu bersandar. Ia terus terkikik geli saat kedua pahanya yang sengaja ia perlihatkan secara gratis dijamah oleh tangan namja berjas hitam itu.
'Tok! Tok!'
Seolah pendengaran mereka ditulikan, mereka tanpa peduli dengan suara ketukan pintu ruangan itu terus asik dengan dunianya sendiri.
'Tok! Tok!'
"Kau benar-benar menggairahkan, chagiya." Ucap namja itu. Kini kedua tangannya menyelinap masuk dan mulai membelai daerah sensitive yeoja itu.
"Akh.. Sajangnim.." Desah yeoja tadi, kedua tangannya pun menarik keras kerah Bos di perusahaan tempat ia bekerja itu.
'Cklek!'
Merasa jengah, namja di balik pintu itu pun akhirnya dengan lancang membuka pintu. Jongwoon, si pengetuk pintu dengan ekspressi datarnya menatap perilaku ayahnya yang kini dengan nafsu mencumbui sekretarisnya itu.
"Ehmm.."
"Ada orang, kita lanjutkan nanti saja, ne?" Ucap namja bernama lengkap Kim Kangin tersebut. Yeoja itu pun mengangguk, kemudian turun dari atas pangkuannya. Dengan semburat merah di pipinya ia pun berjalan keluar, dengan sebelumnya berpapasan dengan Jongeoon, namja yang sebenarnya cukup ia kagumi karena ketampanan dan sikap professialisme yang dimilikinya. Ya, meskipun tentu saja ia lebih memilih untuk menjadi 'milik' Kangin karena namja tegap itu lebih dapat memberinya banyak harta.
Jongwoon menghampiri kursi di hadapan meja appanya itu. "Aku belum menyuruhmu duduk, Jongwoon." Ucap Kangin.
"Aku tak peduli." Jawab Jongwoon acuh. "Aku hanya ingin menyerahkan ini." Jongwoon pun menyerahkan sebuah map biru, permintaan data yang Kangin minta darinya kemarin.
"Kerja yang bagus, anakku." Jongwoon tersenyum pahit saat mendengarnya.
"Kau masih mengakuiku anak, hum?" Tanyanya, dengan nada yang terdengar meremehkan.
"Apa maksudmu, huh!"
"Kini seleramu benar-benar payah, Kangin sajangnim. Apa wanita murahan seperti itu yang akan mendampingimu, eoh?" Tanyanya, mencoba tak menghiraukan tuntutan penjelasan yang Kangin inginkan darinya.
"Aku tak memiliki cinta sedikitpun untuknya, dia hanyalah mesin nafsuku!" Timpalnya.
"Munafik."
Kangin hanya bisa menatap tajam Jongwoon sembari mengepalkan kedua tangannya erat di atas meja. Selalu saja seperti ini, anak sulungnya itu selalu saja bersikap sinis padanya jika menyangkut masalah wanita yang ada bersamanya. Atau bahkan mungkin dalam hal apapun Yesung selalu bersikap dingin dan sinis padanya.
Ia dapat merasakannya itu. Dilihat dari tatapannya yang sarat akan kebencian dan ucapan-ucapannya yang selalu menusuk. Beruntung ia adalah anak kandungnya. Jika tidak? Mungkin sejak dulu Kangin menendang Jongwoon keluar dari perusahaannya.
Tapi.. Apa Jongwoon sendiri masih menganggapnya seorang ayah? Kau dengar bukan bagaimana 'dengan-sopan-nya' Yesung memanggil Kangin dengan sebutan 'Kangin sajangnim' atau terkadang 'Kangin ssi'. Ckck!
"Hey, kemarin aku melihatmu membawa seorang wanita lainnya ke hotel. Lalu dua hari yang lalu aku juga sempat melihatmu makan malam bersama dengan wanita seksi di sebuah restoran mewah. Dan tadi pagi aku sempat mencuri pembicaraanmu dengan wanita lainnya. Kalian terlihat seperti pasangan muda saat berkomunikasi. Ternyata kau cukup pintar juga ya mendapatkan banyak hati wanita?"
'Brak!'
"CUKUP JONGWOON! KELUAR DARI RUANGANKU!" Dengan nafas terengah-engah karena emosi Kangin bangkit dari tempatnya, menunjuk pintu agar Yesung segera keluar dari ruangannya.
"Tanpa kau katakan pun aku akan keluar, tuan sajangnim yang terhormat!" Ucapnya tenang, namun penuh penekanan. "Dan lagipula, aku tak terlalu suka berlama-lama di ruangan ini. Tempat ini lebih pantas di sebut sebagai gudang sex dibanding ruangan seorang sajangnim."
"JONGWOON!"
"Terima kasih, aku pamit." Dan setelahnya Jongwoon pun beranjak keluar, meninggalkan Kangin yang kini diliputi emosi akibat kata-kata yang Jongwoon keluarkan.
Dihempaskannya kasar tubuh tegapnya itu di kursi. Ia lelah, sampai kapan hubungannya dengan Yesung akan terus seperti ini?
Di gebraknya beberapa kali meja tak berdosa miliknya itu, mencoba melampiaskan rasa kesalnya. Mendengar ucapan Jongwoon, ia merasa seperti seorang keledai yang bodoh. Pecundang.
"ARGHHHHH!"
.
.
Sore ini Ryeowook tengah bersiap pergi menuju kampusnya. Setelah sebelumnya menenggak habis air mineral di dapur, ia pun beranjak pergi menuju pintu utama.
Kedua matanya pun teralih saat mendapati televise yang masih menyala, ternyata ia belum mematikan televisinya. "Ah, aku lupa." Dihampirinya televise yang berada di ruang tengah itu. Ternyata kini siaran tersebut tengah menampilkan acara gossip para ibu-ibu.
"Semakin hari kalian terlihat semakin mesra, kapan rencana penikahan kalian akan segera di laksanakan?"
Seorang namja yang bertugas sebagai reporter mewawancarai yeoja cantik di hadapannya itu. Seorang disainer ternama di Korea. Disainer yang namanya kini tengah melambung tinggi akibat salah satu karyanya yang menjadi trend fashion di kalangan remaja Korea, bahkan sampai keluar negeri seperti Paris.
"Aku dan Siwon berencana akan menikah dalam waktu dekat, perkiraan di akhir tahun. Tapi kami belum tahu pasti kapan tanggal ataupun waktu yang tetap."
Yeoja itu tertawa pelan, terlihat manis dan awet muda di umurnya yang kini sudah memasuki kepala empat itu. Ditatapnya dalam seorang pria berwajah tampan yang berada di sampingnya. Namja yang lebih muda darinya itu, yang kini berstatus sebagai kekasihnya.
"Meskipun kalian terpaut umur yang cukup jauh, tapi kalian benar-benar cocok. Semoga hubungan kalian bisa benar-benar sampai ke jenjang pernikahan, Leeteuk ssi, Siwon ssi."
Seorang reporter lainnya berucap. Keduanya pun terkekeh pelan.
"Ya, semoga saja. Doakan kami."
Kini namja bernama legkap Choi Siwon itupun menimpali.
Tubuhnya seketika terasa lemas saat melihat tayangan tadi. Dengan langkah lunglai ia pun menghampiri sofa panjang yang menghadap televisinya itu. Pandangannya terlihat kosong, tapi tetap fokur mengarah pada layar yang terus menampilkan kemesraan pasangan beda usia tersebut.
"Um-umma.." Pandangannya memudar, tak terasa kini butiran bening mengalir di kedua sudut mata indahnya tersebut.
Sakit, rasanya terlalu sakit mendapat kenyataan bahwa ummanya itu sebentar lagi akan memiliki pendamping lain. Selama ini ia selalu berharap bahwa keajaiban akan datang padanya. Mengubah kondisi keluarga mereka seperti dulu, saat mereka masih menjadi keluarga yang bahagia. Ia selalu berharap Leeteuk dan Kangin dapat kembali berama, menjadi kedua orang tuanya seperti dulu. Tapi sekarang.. Harapannya semakin memudar dan menipis!
Dan yang lebih menyakitkan, Leeteuk bahkan tak pernah mengabari soal itu padanya maupun Yesung. Seolah kini ia telah benar-benar meninggalkannya. Meninggalkan masa lalunya.
Membangun kehidupannya yang baru. Menjadi seorang disainer terkenal dan ditemani oleh seorang namja tampan yang kini menjadi kekasihnya. Ditemani seorang namja yang awalnya merupakan model untuk setiap pakaian yang ia rancang. Hingga akhirnya keduanya pun saling memiliki ketertarikan dan menjadlin hubungan yang lebih khusus, tak hanya sekedar hubungan rekan kerja. Ah, benar-benar cerita yang manis.
"Umma.. Apa kau sudah tak menganggapku dan Yesung hyung? Apa kau sudah benar-benar melupakan app? Aku sangat sedih umma.." Ryeowook terus mengucapkan kata-kata kepedihannya. Ia lelah dengan keadaan seperti ini. Leeteuk benar-benar tak mempedulikan orang-orang yang dulu sangat penting baginya. Telah melupakan sosok dua namja yang terkena imbas perceraiannya.
Kabar itu merusak moodnya, hingga akhirnya membuat Ryeowook tak jadi pergi kuliah. Tertidur di sofa karena kelelahan.
Ia lelah terus menangisi keadaan.
.
.
"Wookie?" Entah sudah berapa kali Jongwoon memanggil nama namja yang paling istimewa di hidupnya itu, dengan tangan yang juga tak hentinya mengetuk pintu rumah mereka. Tak biasanya seperti ini, biasanya hanya dengan mendengar suara mobil Jongwoon yang terparkir di garasi pun Ryeowook pasti akan keluar rumah. Menyambutnya dengan pelukan hangat dan juga ciuman singkat penyambut kedatangannya.
'Cklek'
Sebelah alis namja tampan itu terangkat. "Tidak dikunci?" Wajar saja Jongwoom merasa heran. Jika hanya sendirian, Ryewoook selalu tak pernah absen untuk mengunci pintu rumah. Megingat ia adalah seorang namja penakut. Dan jangan lupakan di rumah sebesar itu hanya ada Jongwoon dan Ryeowook yang menempatinya.
"Baby? Kau dimana?" Jongwoon mendapati keadaan rumahnya gelap, padahal kini hari sudah malam. Ia pun menekan semua tombol penyala di rumahnya itu. Hingga akhirnya ia Jongwoon mengerti kenapa keadaan rumahnya seperti ini. Saat ia mendapati Ryeowook yang tertidur pulas di sofa ruang tengah dengan televise yang masih menyala.
"Malaikat kecilku, bangun. Tidak baik tidur diluar." Jongwoon pun mengguncang tubuh kecil Ryeowook, mencoba membangunkannya. Jogwoon sedikit tertidur saat menyadari penampilan Ryeowook yang rapi, dan sebuah tas selendang yang melingkar di tubuhnya.
"Hey, kau membolos kuliah, chagi?" Tanya Jongwoon kembali. Ryeowook pun perlahan tersadar, membuka matanya pelan.
"HYUNG!"
Jongwoon terkejut saat tiba-tiba Ryeowook memeluknya, dan semakin terkejutlah saat ia merasakan tubuh Ryeowook yang bergetar dan merasakan lehernya basah. Sepertinya basah karena air mata Ryeowook, namja itu menangis –lagi-.
"Ada apa denganmu? Ceritakan padaku!" Jongwoon mulai khawatir dengan keadaan Ryeowook kini.
"Um-umaa, hyung! Umma.." Ryeowook terus tersedu, ia pun semakin mengeratkan pelukanya. Jongwoon menghela nafas saat mendengar nama wanita 'itu' disebut. Ia tak menyukainya.
"Jangan menangisi orang yang tak pernah memperdulikamu, Wookie." Ucapnya, dielusnya lembut punggung 'adik'nya itu.
"Di-dia.. Dia.. Akan segera menikah, hyung. Dia akan benar-benar meninggalkan masa lalunya dan memiliki kehidupan baru. Aku tak mau itu terjadi, hyung! Hiks… Aku ingin umma tetap menjadi seperti yang dulu. Hiks… Aku menyayanginya, hyung." Ucapnya, masih terus tersedu.
Jongwoon menarik lepas Ryeowook yang memeluknya.
"Tatap aku." Ucapnya. Dengan matanya yang basah dan memerah Ryeowook pun menatap sepasang mata milik namja yang sangat dicintainya itu. "Lupakan mereka, Wookie."
Kedua mata namja manis itu membulat. "Ti-tidak, hyung! Bagaimana pun mereka tetap kedua orang tua kita." Ucapnya lirih.
"Tapi mereka tak beranggapan sama denganmu. Mereka sudah benar-benar melupakan keberadaan kita. Biarkan mereka kini hidup dengan pilihannya masing-masing."
"Tapi aku terlalu menyayangi mereka. Aku mencintai mereka, hyung. Hiks…"
"Terkadang cinta itu butuh pengorbanan," Jongwoon tersenyum miris. "Apa kau benar-benar menyayangi mereka?" Ryeowook mengangguk pelan. "Buatlah orang kau sayangi bahagia." Ryeowook menunduk, ia mulai mengerti maksud ucapan Jongwoon.
"Mereka pasti bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing, jangan memaksakan keinginan. Itu hanya akan membuat mereka sakit. Kau tak ingin itu kan?" Dibelainya lembut kedua pipi tirus 'adik' lelakinya itu, menghapus jejak air yang paling ia benci itu. Ryeowook menangguk pelan, seakan terhipnotis dengan semua kata-kata yang Jongwoon ucapkan.
Merelakan, sepertinya kata itu yang kini harus ia terapkan dalam prinsip hidupnya.
'Jangan membuat mereka merasa sakit. Walau sebenarnya kita lebih tersakiti, Wookie." Batinnya.
Kini mereka terdiam, saling menatap dalam dengan posisi berhadapan di atas sofa. Pelahan kedua tangannya turun, memegang kedua bahunya. Jongwoon pun secara pelahan memajukan wajahnya mendekat, dengan kedua matanya yang kini tertutup rapat. Ryeowook tahu ini, ia pun ikut menutup mata, dengan kedua tangan yang berada di dada namja tampan itu.
Semakin lama ia dapat merasakan terpaan hangat deru nafas hyungnya itu mengenai wajahnya.
Dekat.. Dekat.. Dekat..
Hingga akhirnya kedua hidung mereka saling bersentuhan, dan dua bibir yang kini bertemu. Menciptakan rasa manis tersendiri bagi mereka. Jongwoon mencium Ryeowook dengan lembut, memberikan rasa tenang bagi namja manis tersebut. Mereka terus saling memagut satu sama lain. Ciuman lembut namun begitu dalam.
Hingga akhirnya mereka pun saling melepas diri, saat merasa kebutuhan akan bernafas memaksa mereka untuk menghentikannya –untuk sesaat-.
"Jangan menangis, kau terlihat lemah." Jongwoon menangkup kedua pipi tirus itu. "Ne, hyung." Ryeowook tersenyum saat Jongwoon kembali menciumnya. Dengan ciuman yang kali ini sedikit berbeda dengan sebelumnya. Lumatan-lumatan dan hisapan keras kini hadir dalam ciuman itu, bahkan kini lidah terlatih Jongwoon mulai menerobos masuk. Mengaduk segala isinya hingga menciptakan cipratan-cipratan kecil. Mereka begitu menikmatinya, ciuman yang dibumbui rasa gairah yang kini mulai mereka rasakan. Mereka menginginkan lebih!
Jongwoon melepas dan melempar jas hitamnya asal, kemudian menarik turun dasi yang melilit di kerah kemeja putihnya. Ryeowook pun menggerakkan kedua tangannya, membuka satu persatu kaitan kancing di kemeja yang Jongwoon pakai. lalu menarik cepat kemeja putih itu hingga terlepas. Setelahnya ia pun mengalungkan kedua tangannya erat di perpotongan leher hyung tampannya itu.
Ryeowook menggeliat geli saat sebelah tangan Jongwoong menyelinap masuk ke dalam kaus biru muda yang ia kenakan. Atau bahkan kini satu persatu mulai melepas peralatan pertahanannya. Dimulai dari ikat pinggangnya kemudian melepas kancingnya, dan terakhir menurunkan resleting celana jeansnya dengan sangat pelan. Begitu menggelitik.
Dan Ryeowook pun tahu apa yang akan Jongwoon lakukan, mengetahuinya dengan jelas saat Jongwoon secara perlahan menidurkannya. Membuatnya tertidur di bawah tubuh bertelanjang dada itu.
Hah, sepertinya ini akan menjadi malam yang indah-
Sama seperti malam-malam sebelumnya.
.
.
TBC
.
.
[Author's note]
Dark Love muncul weheyy~
Review? :B
"Ayo lestarikan Fanfic YEWOOK yang mulai langka! Hwaiting~!"
