-Prev Chapter-
Lelaki itu menatap ke arah Baekhyun, lalu berkedip sejenak, kemudian mengalihkan matanya, dan melangkah menuju sudut lain di Café itu, Baekhyun terus mencuri-curi menatapnya, mencoba menemukan jawaban. Lelaki ini tidak mirip dengan Yifan, apalagi penampilannya berbeda. Yifan selalu rapi, sederhana dan tampan dengan kacamata yang bertengger manis di hidungnya. Sedangkan lelaki ini berbeda, lebih urakan, lebih santai sekaligus elegan dengan rambut cokelat tua dan mata cokelat muda, hidung mancung dan bibir tipis yang sangat sesuai dengan keseluruhan wajahnya yang maskulin. Lelaki ini begitu tampan, seperti lukisan. Jenis lelaki yang sudah pasti dihindarinya, karena pasti seorang pemain perempuan.
Dengan gugup Baekhyun meneguk kopinya, berusaha menenangkan diri. Kenapa dia begitu tertarik dengan lelaki ini, seolah tidak mampu mengalihkan pandangannya? Dan kenapa dia langsung teringat kepada Yifan? apa karena caranya memasuki ruangan? dengan rambut basah tapi tidak peduli, khas Yifan? Dan kenapa pula Yifan terus memenuhi pikirannya, bahkan ketika dia sudah ingin melangkah, meninggalkan masa lalu dan melupakan Yifan? Apakah ini pertanda bahwa dia tidak boleh melupakan kekasihnya itu?
REMAKE NOVEL
Menghitung Hujan
By: Santhy Agatha
Main Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Wu Yifan, and others.
WARN!
Gender Switch, typo(s) everywhere.
If you don't like
.
.
.
Don't read!
.
.
.
Check this out!
"Mungkin kau salah lihat, atau kau terbawa lamunan sehingga kau berpikir lelaki itu tampak mirip dengan Yifan." Kyungsoo melirik ke arah sahabatnya yang begitu murung setelah bercerita.
Baekhyun menghela napas, "Masalahnya lelaki itu tidak mirip dengan Yifan. Dia lebih seperti pangeran hedonis yang salah tempat di Café itu."
"Kalau kau sebegitu penasarannya, kenapa kau tidak mendekati laki-laki itu?"
Baekhyun mengerjapkan matanya, "Aku... aku takut..."
"Takut apa? Takut jadi korban pesona sang pangeran hedonis?" Kyungsoo terkekeh
Bukan. Gumam Baekhyun dalam hati. Aku takut kalau aku sudah gila dan mengira semua orang sebagai Yifan. Aku takut kalau ternyata aku hidup di dunia khayalanku selama ini.
Kyungsoo menatap Baekhyun dengan simpati, sahabatnya itu masih sering melamun dan tampak sedih, bahkan setelah setahun kematian Yifan. Ya, siapa juga yang tidak sedih, ditinggalkan kekasihnya sehari sebelum pernikahan mereka, kalau Kyungsoo mungkin tidak akan bisa setegar Baekhyun menghadapinya.
"Datanglah ke sana lagi."
"Apa?" Baekhyun mendongakkan kepalanya, mengernyit.
"Datanglah ke café itu lagi, mungkin saja kau akan berjumpa laki-laki itu lagi, Entah dia memang mirip Yifan atau dia hanya halusinasimu, setidaknya kau tidak akan bertanya-tanya lagi."
-CB-
Baekhyun melangkah ragu memasuki café itu. Hari ini, tepat seminggu kemudian, pada jam yang sama, hari yang sama. Dia duduk dan memesan seperti biasa, lalu menunggu sambil mengeluarkan buku bacaan yang selalu dibawanya kemana-mana, terjemahan novel sastra inggris lama lama, berjudul Jane Eyre.
Hari ini juga sama, hujan turun begitu deras di luar, mendung membuat langit menghitam, sehingga suasana sore ini tampak seperti malam. Dan Baekhyun menunggu. Menunggu laki-laki yang mirip Yifan itu.
Lama. Hampir satu jam Baekhyun menunggu, tetapi lelaki itu tak kunjung datang. Mungkin dia tak akan datang lagi, Baekhyun mendesah. Mungkin kemarin memang hanya halusinasinya. Halusinasi yang muncul kala hujan turun. Karena dia terlalu merindukan Yifan...
Café itu sudah hampir tutup karena sore sudah menjelang. Dan meskipun hujan masih turun dengan derasnya di luar, Baekhyun mengemasi tasnya, kemudian melangkah pergi. Dengan gontai, dia berjalan menyusuri trotoar, berpayungkan payung kecil warna merah hati. Entah kenapa dia merasakan sebersit kekecewaan karena ternyata laki-laki itu tidak ada. Yah, lagipula apa yang diharapkannya? Mana mungkin sebuah kebetulan terjadi dua kali?
"Agassi! Tunggu sebentar!"
Langkah Baekhyun terhenti ketika menyadari panggilan itu ditujukan kepadanya. Kepada siapa lagi? Trotoar itu sepi karena semua orang memilih berteduh di dalam, menghindari hujan deras.
Dengan hati-hati Baekhyun membalikkan badannya, dan untuk kesekian kalinya... tertegun.
Lelaki itu. Dan memang tidak mirip dengan Yifan. Sedang melangkah tergesa mengejarnya, tanpa mempedulikan baju dan rambutnya yang basah kuyup di terpa hujan. Novel Jane Eyre-miliknya terlindung dalam lengan laki-laki itu.
-CB-
"Kau meninggalkannya di meja ." Lelaki itu berdiri, begitu tinggi menjulang di atas Baekhyun, membuat Baekhyun harus mendongakkan kepalanya ketika menatapnya.
Ketika Baekhyun tidak berkata apa-apa, lelaki itu terkekeh, "Aku biasanya mampir di café itu pukul empat, sepulang kuliah, tetapi hari ini terlambat, karena hujan deras membuat jalanan macet dan banjir, ketika aku datang café sudah hampir tutup dan aku melihat buku itu di meja, dan melihatmu melangkah di trotoar ketika aku masuk. Betul bukan ini bukumu?" Lelaki itu mengulurkan bukunya, suara laki-laki itu mengeras, mencoba mengalahkan derasnya hujan.
Baekhyun masih terpana menatap sosok itu, kemudian mengerjap ketika mendapati lelaki itu menatapnya dengan bertanya-tanya, dia lalu menganggukkan kepalanya dan menerima buku itu, dengan hati-hati memasukkannya ke dalam tasnya.
"Terimakasih."
"Sama-sama. Namaku Chanyeol. Park Chanyeol"
Baekhyun menelan ludahnya,
"Oh...aku Baekhyun. Byun Baekhyun." dengan gugup dia menghela napas. Sudah selesai. Lelaki ini sama sekali tidak mirip dengan Yifan, mungkin Baekhyun memang sudah sedikit gila, mengira semua lelaki sebagai Yifan . Baekhyun mencoba membalikkan tubuhnya, "Terimakasih, aku.. aku harus pergi."
"Baekhyun-ssi." Chanyeol menggenggam tangannya, menahan Baekhyun, ketika Baekhyun hanya terdiam dan melirik tangan Chanyeol yang mencengkeram tangannya, lelaki itu langsung melepaskannya dan berdiri dengan gugup.
"Eh.. maaf, aku merasa, mungkin kita bisa lebih mengenal lagi. Aku juga suka membaca, meskipun sastra inggris kuno bukanlah kesukaanku." Chanyeol tampak terkekeh lagi, begitu ceria. "Kau akan sering ada di café itu kan?"
Baekhyun tercenung. Beranikah dia? Bertemu lagi dengan lelaki ini? Hening yang lama, kemudian dia mengangguk,
"Mungkin aku akan datang ke sana, ketika aku ingin menikmati secangkir cappuccino dan menghitung hujan." jawabnya pelan,
Chanyeol mengangguk, "Menghitung hujan, istilah yang bagus, itulah yang sering kulakukan setiap sore di café itu. Semoga aku beruntung bisa menjumpaimu lagi di sana. Sampai jumpa Baekhyun."
Dan kemudian lelaki itu membalikkan tubuhnya, berlari menembus hujan deras. Baekhyun terpaku menatapnya, sampai bayangan lelaki itu tertelan kabut hujan.
-CB-
"Jadi, kau tidak berani ke sana lagi?" Kyungsoo menatapnya dengan mencemooh, "Kau menjanjikan sesuatu pada seseorang, lalu kau mengingkarinya."
Baekhyun memalingkan muka, tidak kuat menanggung rasa bersalah, Memang dia pengecut. Sangat pengecut. Ini sudah satu bulan sejak pertemuannya dengan lelaki bernama Chanyeol yang sangat mirip Yifan itu, dan Baekhyun sama sekali tidak berani menginjakkan kakinya ke Café itu. Dia... takut, entah kenapa.
"Untuk apa aku ke sana Soo? toh aku hanya memandang lelaki itu sebagai pengganti Yifan, sebagai orang yang entah kenapa mirip dengan Yifan."
"Tetapi dia bukan Yifanmu, kau sendiri yang bilang kalau penampilan mereka berbeda."
"Dia tetap mirip Yifan. Bukan dari segi fisik, dia mirip dengan cara yang berbeda." Dan Jantungku berdebar setiap ada di dekatnya. Baekhyun mendesah, putus asa.
Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya, "Baek. Kau tahu, aku sedih melihatmu terpuruk seperti ini. Sudah setahun sejak kematian Yifan, dan kau seharusnya sudah melangkah. Kau masih muda, jalanmu masih panjang. Mungkin Tuhan punya misteri dan rencana tersendiri mempertemukanmu dengan lelaki yang mirip Yifan, mungkin. Dan kau tidak akan mengetahui rencana apa itu, kalau kau takut melangkah."
"Jadi menurutmu aku harus menemui laki-laki itu?"
Kyungsoo mengangkat bahunya, "Mirip atau tidak dengan Yifan. Setahuku, laki-laki itu adalah satu-satunya yang kau pikirkan selain Yifan. Temuilah dia."
-CB-
"Hai Chanyeol." Baekhyun berdiri gugup, di depan laki-laki itu yang sedang menundukkan kepala, tenggelam dalam bacannya.
Chanyeol mendongakkan kepalanya. Sekejap dia mengerjapkan matanya, seolah terkejut, tetapi kemudian senyumnya terkembang,
"Baekhyun-ah!." senyumnya makin melebar, "Duduklah."
"Kau ada di sini setiap sore?" Baekhyun mengalihkan pandangan ke luar. Entah kenapa hujan turun lagi dengan derasnya, dan entah kenapa Baekhyun tidak kuat menghadapi pandangan tajam laki-laki itu.
"Setiap sore." Chanyeol meletakkan bukunya, "Sepertinya kau sangat sibuk ya."
Baekhyun menganggukkan kepalanya gugup. Dia tidak sibuk apa-apa. Dia cuma tidak berani datang dan menemui Chanyeol, tetapi kebohongan itu sudah meluncur mulus di bibirnya.
"Aku sibuk dengan kuliah dan pekerjaan rumahku bulan ini, jadi tidak sempat keluar-keluar,"
Chanyeol menatapnya memaklumi. Meskipun Baekhyun sadar, Chanyeol jelas-jelas mengerti bahwa Baekhyun sudah berbohong kepadanya.
"Aku senang pada akhirnya kau bebas dan bisa datang." Lelaki itu menunjukkan sampul buku yang dibacanya, "Lihat aku sudah menyelesaikan satu set buku ini sambil duduk di sini setiap hari.
Baekhyun melirik ke sana. Bacaan itu tidak dikenalnya, bukan tipe bacaan yang disenangi Baekhyun.
"Kau tidak tahu ya. Ini novel karangan Michael Scott, yang ada di tanganku ini adalah buku ke enam dari serial The Secret of The Immortal Nicholas Flamel, yang ini judulnya The Enchantress." Chanyeol tetap menjelaskannya meskipun judul buku itu sudah tertera jelas di halaman depannya, membuat Baekhyun tertawa.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak." Baekhyun menahan kekehan gelinya, "Hanya saja buku itu bukan tipeku."
"Ah tentu saja. Kau penggemar bacaan romansa gelap dari masa lalu, kisah pengasuh yang jatuh cinta kepada majikannya yang dingin, kejam dan tak berperasaan tetapi sebenarnya romantis." Chanyeol mencibir, "Tipikal bacaan perempuan."
"Tapi kau tahu isi Jane Eyre, berarti kau membacanya."
Chanyeol memutar bola matanya, "Aku ingin tahu, ketika melihat seorang perempuan meninggalkannya di meja sebuah cafe, jadi aku mencari tahu dan membacanya."
Baekhyun terpana, lalu tersenyum. Hatinya terasa hangat, entah kenapa. Sudah lama sekali dia tidak merasakan kehangatan ini. Sama seperti dulu, ketika bersama Yifan, berdebat masalah buku di tengah hujan, perasaannya sama. Dan meskipun secara fisik Chanyeol berbeda jauh, lelaki ini mengingatkannya kepada Yifan. Mengingatkannya kepada masa-masa bersama Yifan.
"Kau belum memesan. Aku rekomendasikan kau membeli roti Palm Suiker sebagai teman minum kopimu." Lelaki itu mengedipkan matanya ke arah buku menu.
Baekhyun mengernyit. Biasanya dia hanya memesan roti bakar standar sebagai teman minum kopinya di sini, "Apakah enak?"
"Enak kalau sambil minum kopi diiringi hujan, sambil menyantap selembar roti sederhana yang ditaburi brown sugar dengan aroma harum yang khas."
"Kau membuat air liurku keluar." Baekhyun tertawa, lalu memesan roti itu, dan secangkir cappuccino. "Sampai di mana kita tadi?"
"Sampai ketika aku bilang bahwa perempuan selalu menyukai tipikal penjahat romantis di buku-buku roman mereka."
Dan percakapan itu berlanjutlah. Di tengah hujan deras yang mengiringi di luar, diantara harumnya uap beraroma kopi dan harumnya roti yang baru keluar dari pemanggangan. Baekhyun terlarut bersama Chanyeol, di sebuah Café yang temaram.
TBC
Thanks to:
[sunrise blossom;parklili;Park FaRo;faul;KyungMiie;jengkyeol;Nameyeol yeol;Re-Panda68]
Makasih atas respon yang kalian berikan ke cerita kak Santhy ini. maaf aku gak bisa bales satu-satu, tapi aku udah baca semua review kalian kok.. jadinya aku seneng:3 nanti chapter depan mungkin aku pos agak lama soalnya senin besok aku uas/? tapi kalo banyak review yang masuk aku usahain bakal update cepet:-)
Mind to review? No Sider Please:-)
