Review Zone! :

Sabaku Yuri : ok, ini sudah update. Tapi tidak kilat. Hehehe… Gomen nggak bisa flash update. Waktu ujian yang menghambat fic ini flash update. Thanks for review! :)

Melani Joseph : thanks sudah memberitahu saya tentang tata cara penulisan. Sekali lagi, thanks for review! :)

Laxus Vermillion : hehehe… iya. Sebenernya aku mau bikin Hinata, tapi ntah kenapa akunya nggak mau. Thanks for review! :)

Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romance, Friendship

Warning! : AU, OOC, typo, gaje, dll.

Happy Reading, minna-san^^

"Huh! Kemana sih dia? Lama sekali." gerutu Hinata.

Cewek berambut indigo ini sedang berdiri di gerbang sekolah dengan tampang wajah yang kesal. Dia hanya bisa melihat siswa-siswi berlalu lalang didepannya untuk menghilangkan rasa bosannya. Hingga dia melihat kepala kuning cerah dari kejauhan sambil berlari-lari kearahnya. Membiarkan jas coklat sekolahnya berterbangan oleh angin.

"Hina-chan!"

"Naru-kun! Lama sekali! Aku bosan tau." Hinata melipat tangannya didepan dada dan mengerucutkan bibir kecilnya.

"Hei, jangan cemberut dong. Nanti kalau cemberut, penampilan kamu jelek. Kalau penampilan mu jelek, siapa lagi yang akan menyanyikan lagu dengan merdu? Apalagi aku dengar, lagu yang akan kamu bawakan untuk Anniversary kita." rayu Naruto. Hinata pun merona mendengar rayuan mautnya Naruto.

"Iih, kamu bisa aja. Ayo kita pergi." Hinata pun kembali cerah karena rayuan sang pacar. Dasar cowok gombal!

"Hei, Hina-chan!"

"Ada apa Tema-chan?" Temari berlari kecil menghampiri Hinata. Meninggalkan Sakura dan Ino yang ada di belakangnya.

"Kau mau kemana?" tanya Temari.

"Aku mau beli dress untuk penampilanku nanti di acara perpisahan minggu depan," Hinata mengaitkan lengannya di lengan Naruto, "bersama Naru-kun."

"Oh. Mau ikut dengan kami tidak?" tawar Ino sambil menghampiri Hinata. Disusul dengan pasangan primadona sekolah, Sasuke dan Sakura. Hinata dan Naruto berpandangan sejenak lalu menatap Ino dengan senyuman. Sepertinya Sakura mengenali senyuman itu. Senyuman penolakan.

"Oh, come on! Nggak cuma kalian, aku dan Sasu-kun juga ikut. Please, jangan nolak."

Akhirnya, pasangan NaruHina ini hanya bisa mengangguk pasrah menanggapi ajakan Sakura.

.

"Hei, guys! Dress ini cocok nggak sama aku?" kata Ino sambil berjalan keluar dari ruang ganti. Mencoba dress pilihannya yang berwarna hitam.

"Cocok. Kalau aku?" Sakura memutar badannya, membuat rok dress nya berputar.

Ino menatap Sakura sebentar disertai dengan wajah datar, lalu masuk kembali ke ruang gantinya. Sakura yang di perlakukan seperti itu mengerucutkan bibirnya dan mendekati Sasuke.

"Sasuke-kun, bagus nggak dress ini?" Sakura bergelut manja.

"Hn, Bagus."

Temari memutar mata teal-nya bosan. Semua disini sedang sibuk sendiri. Apalagi melihat pasangan warna kontras Lavender dan Orange serta pasangan musim dingin dan musim semi sedang berduaan sambil memilih dress untuk pasangan mereka. Benar- benar cobaan hidup dan pengorbanan hatinya. Ckckck…

"Tenang Tema-chan, kamu nggak sendiri kok!" Ino menghampiri Temari sambil menepuk pundaknya, seolah memahami apa yang dirasakan Temari. Memang benar, Temari nggak sendiri. Tapi, kalau ada si tukang senyum itu pun, sama aja.

"Nih! Aku udah nemuin dress yang cocok untuk mu. Pergi ke ruang ganti sana!" Seru Ino. Ino mendorong Temari ke ruang ganti dan memberikan dress pink pilihannya.

.

Sekian lama Ino menunggu, akhirnya rasa bosannya terbalaskan juga dengan melihat Temari dan dress pilihannya. Dress pink berlengan panjang dengan rok selutut yang bermodel A serta aksen lipatan dan kerutan.

Ino membelalakkan aquamqrine-nya dengan kagum. Tak percaya sahabatnya terlihat manis dengan dress pilihan si pirang panjang. Ino langsung menarik Temari ke kerumunan sahabatnya beserta pasangan mereka masing-masing.

"Hei, sepertinya kita menemukan dress yang cocok untuk sahabat jomblowati kita!" Ino mengheboh. Maklum lah, kebiasaan.

Pasangan Sasusaku dan Naruhina ini melakukan aksi yang sama seperti Ino ketika melihat Temari keluar dari ruang ganti.

"Wah, Tema-chan! Kamu manis banget!" seru si pink.

"Cocok lho, Tema-chan." si indigo pun tak kalah memuji Temari.

"Cantiknyaa…"

Wait!

Ada yang salah di sini. Tadi itu 2 suara baritone cowok yang mereka kenal. Sakura dan Hinata yang mengenali suara itu langsung mengambil ancang-ancang dan…

PLAK!

Sakura dan Hinata serentak menjitak pangeran mereka. Yaa, menjitak dengan PENUH CINTA. Sedangkan Naruto dan Sasuke hanya bisa mengelus-elus kepala mereka, tempat mereka mendapatkan HADIAH dari sang kekasih. Mereka berjalan kearah kasir dan membayar semua belanjaan mereka.

"Sudahlah, sekarang ayo kita berburu sepatu dan aksesoris!" kata Sakura dengan nada ketus. Masih kesal dia pun hanya memutar matanya bosan, cemburu melihat sahabatnya berjalan dengan kekasih hati masing-masing.

.

"Haah~~~ capek sekali."

Temari membaringkan dirinya dikasur kamarnya. Belanjaannya diletakkan di atas meja belajar di samping tempat tidurnya. Di tatapnya sebentar belanjaannya itu. Lalu, berjalan kearah mereka. Temari membuka satu-satu bungkusan belanjaannya. Satu dress, sepasang flat shoes, dan aksesorisnya. Temari mencoba semuanya dan berkaca di depan cermin lemarinya.

"Temari, kau yakin dengan penampilanmu seperti ini kamu bisa memikatnya?" kata Temari pada pantulan dirinya di cermin.

"Huft. Aku capek. Aku tidur dulu, dan memikirkan ini besok."

Temari mengganti bajunya dengan baju tidur lalu membaringkan dirinya diatas kasur tempat tidur kuning nya. Menutup matanya dan berusaha menjelajahi seluruh ruangan mimpi.

.

"Temari, ikut aku."

"Kita mau kemana, Shika?"

"Sudahlah, jangan banyak tanya!"

"Apa ini Shika?"

"Itu bunga mawar, untukmu."

.

Temari langsung bangkit dari tidurnya. Temari memandang jendela yang ada didepannya. Terlihat sinar matahari mulai memasuki kamarnya. Ayam tetangga juga sudah berkokok. Temari menghela nafas lega.

"Cuma mimpi."

Temari melihat jam disamping tempat tidurnya. Seketika saja, mata Temari terbelalak hingga akan keluar dari tempatnya.

"Astaga! Sudah jam 6:45! Aku kesiangaaann!"

Temari dengan cepat dia mandi dan bersiap-siap kesekolah. Di lihatnya Gaara dan Kankurou sudah ada didalam mobil. Temari segera memasuki mobil itu dan tampaknya, wajah adik-adiknya ini sudah memerah marah.

"Nee-chan! Kalau mau dandan jangan lama-lama!" protes Kankurou.

"Aku tidak dandan tau! Aku kesiangan!"

Temari langsung memberikan isyarat agar sang supir melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Mengingat 10 menit lagi bel sekolah akan berbunyi.

.

"Hei, Shika! Kenapa kau melamun?" suara cowok berambut coklat ini mengagetkan Shikamaru dan menolongnya karena sempat terpisah jauh dari kesadaran.

"Kau mengagetkan saja Kiba! Eh, kudengar kau dan Shion udah jadian." kata Shikamaru.

"Iya. Tumben kau menggosip." Kiba mengelus-elus bulu anjing peliharaannya, Akamaru.

"Mendokusai. Hei! Kau tidak tau peraturan sekolah? Di sekolah ini tidak boleh membawa hewan peliharaan!" seru Shikamaru.

"Hei, ketua OSIS. Aku sudah izin dengan kepala sekolah kita, Tsunade-sama, ini laporannya." Kiba menyodorkan selembar kertas yang berisi pernyataan kepada Shikamaru.

"Shika, kau tidak tanya kepada pacarmu kalau dia ikut?" Kiba membuat Shikamaru kehilangan selera tidurnya.

"Pacar? Yang mana?" tanya Shikamaru dengan wajah bingung. Shikamaru sudah mempunyai perasaan tidak enak kepada si sahabat bertato segitiga terbalik ini.

"Itu lho, cewek galak rambut pirang di kelas sebelah, kelas 8-A." kata Kiba menggoda Shikamaru.

"Aku tidak pacaran sama dia!" bantah Shikamaru.

"Halah, memang kau belum berpacaran sama dia. Tapi, itu HAMPIR-kan?" kata Kiba sambil menekankan kata 'hampir.'

"Aku tau, kau rencananya mau nembak dia pas acara perpisahan nanti kan?" Oke, kali ini wajah Shikamaru memerah cuma karena pertanyaan Kiba.

"K-kau tau dari mana soal itu?" Shikamaru berusaha untuk tidak salah tingkah.

"Aku ini teman sebangku mu! Aku tak sengaja melihat kau menuliskan kata-kata romantis untuk dia, nanas." kata Kiba.

"Oh, Temari. Mau kah ka-Hmmpphh!"

Dengan sigap Shikamaru menyumpal mulut Kiba dengan roti yang akan di makannya. Bahkan, keadaan roti itu masih berplastik. Shikamaru membawa Kiba ke koridor yang sunyi dan jauh dari jangkauan kelasnya.

"Baka! Kenapa kau teriak? Kau nggak tau, itu merusak citraku!" seru Shikamaru.

Kiba melepaskan sumpelan roti dari mulutnya,"citra apanya? Muka mu selalu malas gitu kau bilang citra." kata Kiba sambil membuka bungkusan roti itu lalu memakannya. Shikamaru mau memarahi Kiba karena memakan roti miliknya itu pun terhenti karena melihat seorang cewek yang menarik perhatiannya.

"Eh, tumben Temari datang jam segini. Biasanya dia datang setengah jam sebelum bel." kata Shikamaru dengan spontan.

Shikamaru yang dari tadi menatap Temari yang lari terbirit-birit kekelasnya, mengalihkan pandangannya ke Kiba. Merasa nggak genah di tatap oleh Kiba, Shikamaru hanya bisa memasang wajah heran. Sedangkan Kiba, dia sudah senyum-senyum gaje menatap Shikamaru. Seolah-olah ia ingin menerkam Shikamaru hidup-hidup.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Shikamaru menyilangkan tangannya di dadanya, "aku masih normal!"

"Hei, aku juga masih normal! Eh, ternyata kamu memperhatikan Temari diam-diam, huh? Waaahhh, kemana motto mu yang 'cewek itu merepotkan' huh?" Kiba meninggalkan Shikamaru sendirian di koridor dengan wajah yang sedikit merona. Terlihat senyum kemenangan menghiasi wajah kerennya Kiba.

.

"Tema-chan! Tumben kau telat. Ada apa?" kata Ino sambil duduk di bangku sebelah Temari.

"Aku bangun kesiangan. Oh iya, aku boleh nanya nggak?" Temari membetulkan posisi duduknya menghadap ke Ino.

"Boleh, I will answer it." kata Ino sambil tersenyum. Astaga, udah ketularan sang pacar rupanya.

"Begini, kalau kita mimpi di kasih bunga mawar merah oleh seorang cowok, itu tandanya apa?" tanya Temari.

"Mawar merah ya? Mungkin kau akan di tembak sama seseorang. Kenapa kau menanyakan hal itu?" Ino menatap Temari dengan tatapan curiga.

"A-ah, bu-bukan apa-apa kok, hehe." Temari langsung melesat keluar kelas. Meninggalkan Ino yang masih menatap dirinya bingung bercampur curiga.

.

Temari berjalan mengitari koridor, mumpung masih ada beberapa menit lagi, dia puaskan untuk melihat-lihat sekeliling koridor. Tapi, aktivitasnya terganggu ketika mata teal-nya menangkap bayangan seorang cowok yang ia kenal. Tentu saja ia mengenalnya, mana ada siswa selain dia disini yang mengikat rambutnya seperti nanas di sekolah ini?

Temari mempercepat jalannya, lalu menghampiri cowok itu. Shikamaru. Sepertinya, Shikamaru sedang tidur sambil berdiri. Kebetulan, angin yang menerpa koridor itu lumayan tenang. Dasar, kebiasaan sekali!

'Dasar Shika! Sekali kena angin saja sudah tertidur. Mana sambil berdiri pula!' batin Temari.

"Shika! Bangun!" Seru Temari sambil mengoyang-goyangkan badan Shikamaru.

"Haah~~, mendo-Temari!" Shikamaru langsung kaget melihat Temari ada di depannya. Seketika saja Shikamaru langsung merona tipis. Melihat sang pujaan hati ada di depannya.

"Hei, jangan tidur! Bentar lagi bel." Temari berdiri disamping Shikamaru.

"Hn, aku tau. Kudengar kau mewakili kelas untuk datang ke acara perpisahan sekolah?" Shikamaru menatap Temari begitu dalam.

"Tentu saja. Hei! Kenapa kau menatapku seperti itu?" Spontan saja Temari menatap Shikamaru.

Akhirnya terjadilah peristiwa tatap-menatap. Onyx bertemu dengan teal. Mereka terperangkap dalam buaian iris indah milik mereka. Mengagumi keindahan iris mereka satu sama lain. Hingga akhirnya suara yang begitu kuat dan mereka kenali terpaksa mengakhiri peristiwa ini.

KRINGG!

Mereka pun langsung menghentikan peristiwa itu. Terlihat, wajah mereka sama-sama merona. Tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

Temari POV

Kami-sama, apa aku bermimpi? Aku ditatap oleh my prince charming begitu dalam. Oh Shikamaru, tidak taukah kau bahwa tatapanmu membuat jantungku serasa mau melompat? Aku merasakan adanya kupu-kupu yang beterbangan di perutku ketika kau disampingku. Astaga, ini pertama kalinya aku merasakan hal-hal seperti ini di samping Shikamaru.

Temari POV end

"A-ano, Shika, a-aku kekelas dulu. Jaa!" kata Temari lalu pergi meninggalkan Shikamaru sendirian di koridor.

"I-iya, Jaa!" Shikamaru membalikkan badannya membelakangi Temari dan berjalan menuju kelasnya.

Shikamaru POV

Apa ini? Kenapa aku selalu memanas menatapnya? Ah, aku menatap ibuku saja nggak seperti ini. Lagian, kalau disamping dia rasanya mau melek aja. Nggak ada ngantuk sedikit pun. Jantungku berdetak kencang setiap kali mendengarkan suaranya. Oh, kami-sama, apa aku sedang jatuh cinta?

Shikamaru POV End

"Baiklah, ini tidak bisa dibiarkan!"

TBC

Haah~~ selesai juga fic ini. Boleh curhat nggak? Author cukup degdegan melewati hari-hari ujian. Semoga author naik kelas ya, minna-san #aminn! Ngomong-ngomong, gomen ne kalau ada salah dan fic ini pendek *kebiasaannih! Need your review, readers!