Characters ;

- Kim Jungwoo of NCT

- Huang Xuxi/Wong Yukhei/Lucas of NCT

- Chittaphon Leechaiyapornkul/Ten of NCT ( Cameo )

- Seo Youngho/Johnny Seo of NCT ( Cameo )

Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.

WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~

Selamat membaca!

.

Aku Kim Jungwoo.

Tahun ini, kepalaku bertambah menjadi dua.

Maksudnya, tahun ini aku menginjak umur 20.

Sudah 20 tahun aku terlahir dan hidup didunia ini.

Aku merupakan seorang college student di salah satu universitas negeri Korea Selatan.

Aku bekerja part-time disebuah cafe yang cukup dekat dari kampusku.

Keluargaku tidak kaya, tetapi tidak juga miskin. Yah— gampangnya, keluargaku ini masih mampu membiayai biaya kuliahku.

Lalu, kenapa aku bekerja part-time? aku bekerja part-time untuk menambah uang jajan-ku, karena aku cukup sibuk di kampus, aku tidak memiliki waktu untuk memasak— dan itu mengharuskan diriku untuk membeli makanan diluar.

Oh! Aku lupa memberitahu, kalau aku tinggal sendirian di Seoul. Kedua orangtuaku dan kakak perempuanku tidak tinggal di Seoul.

Kehidupanku bisa dibilang cukup normal. Aku mempunyai teman, walaupun tidak banyak karena aku sedikit pemalu dan kaku.

Dan kalau boleh jujur, seumur hidup aku belum pernah punya pacar.

Aku tidak populer dengan para gadis, mungkin kalau dipikir-pikir, tidak ada perempuan manapun yang ingin menjadikanku sebagai kekasihnya.

Mengapa begitu?

Karena diriku ini,

Merupakan lelaki yang cantik.

.

.

Mungkin hal yang tidak normal dari kehidupanku adalah, banyak sekali laki-laki yang ingin menjadikan diriku ini kekasih mereka.

I mean, aku bahkan tidak seperti itu! Aku masih menyukai perempuan. Tetapi bukan berarti aku membenci mereka yang lebih memilih sesama jenis. Lagipula teman dekatku yang berasal dari Thailand, Chittaphon Leechaiyapornkul — alias — Ten, berpacaran dengan salah satu senior di kampus kami, Johnny Seo.

Perempuan tidak menginginkan lelakinya memiliki wajah cantik. Lelaki lain menginginkanku untuk menjadi kekasih mereka karena mereka bilang aku lebih cantik dari gadis-gadis yang berkeliaran di daerah Gangnam.

Cukup.

Aku tarik ucapanku.

Mungkin kehidupanku ini tidak normal — dan semua ini karena wajah cantik yang aku anggap sebagai kutukan dihidupku — karena wajah ini, aku menjadi incaran para homo.

.

.

Malam itu, Ten menyeretku secara paksa ke daerah Hongdae karena ada sebuah pertemuan jurusan dengan para senior di salah satu restaurant kawasan tersebut.

Padahal aku sudah menolak, karena aku ingin langsung pulang dan beristirahat. Tetapi Ten mengancam akan mogok-nugas-kelompok, kalau aku tidak ikut datang ke pertemuan tersebut.

Geez, bilang saja kau hanya ingin bertemu kekasih tiangmu itu.

.

.

Pertemuan tersebut selesai tepat pada jam satu malam.

Aku menggerutu pelan.

Padahal besok ada kelas pagi, lagipula kenapa aku malah masih terjaga pada tengah malam begini?

Aku melirik Ten yang terlihat sudah tepar di atas meja — ia habis minum-minum. Aku menggerutu kembali.

Padahal sudah kubilang untuk tidak minum-minum, besok pagi kan ada kelas!

Aku mengambil smartphone yang berada di saku jeansku lalu mengecek jam yang tertera dilayar.

01:14

Sebaiknya aku pulang.

"Johnny sunbaenim (senior)— aku harus pulang sekarang. Aku pamit dulu." Ucapku pada Johnny sunbae, yang masih meneguk sojunya disamping Ten.

"Oh— oh! Ya, ya! Kamu tidak pamit ke Ten?" Ia bertanya, aku menggelengkan kepala.

"Tidak ada gunanya aku pamit ke bocah Thailand itu. Lagipula ia sudah tepar. Jangan lupa untuk mengurusinya ya!" Aku menunjuk ke arah Ten yang sudah tidak sadarkan diri. Johnny sunbae terkekeh. "Baiklah kalau begitu. Hati-hati!"

Setelah membayar jatah makanku kepada Taeyeong sunbaenim—senior yang berada di satu angkatan yang sama dengan Johnny sunbae, aku berjalan keluar restaurant dan menghirup udara malam dalam-dalam.

Ah, segar sekali. Tidak ada bau rokok ataupun bau minuman keras.

Aku mengedarkan pandanganku ke sepanjang jalanan Hongdae. Bahkan saat sudah berganti hari seperti ini, masih ada beberapa orang yang berkeliaran.

Aku merapatkan hoodie unguku dan segera melangkah pergi.

Saat sedang berjalan, pandanganku terarah ke seorang lelaki dengan tubuh tegap yang duduk di sebuah bangku.

Entah mengapa, ia terlihat begitu depresi.

Habis diputusin pacarnya, kah?

Ia terlihat murung, dan sesekali mengeluhkan sesuatu dari bibir miliknya.

Apa dia cuma orang aneh?

Aku memutuskan untuk tidak peduli dan berjalan melewatinya,

Hingga—

"Tunggu!"

Lelaki tadi, ia memanggilku.

Saat itu aku tidak sadar, bahwa dirinya, menginginkan diriku.

Menginginkan darahku.

Darahku yang katanya, begitu enak, begitu lezat.

Bahwa kehidupanku yang awalnya, hanya sebatas hubungan antar manusia, menjadi semakin luas —hingga berhubungan dengan seorang vampire.

Kehidupanku yang awalnya kukira tidak normal pun, semakin tidak normal.

Sighs, apakah pilihanku untuk mengantarkannya ke hotel saat itu merupakan pilihan yang tepat?

.

.

Aku memperhatikan wajah Yukhei — vampire tampan asal Hongkong yang kini telah menjadi pacarku — secara teliti.

Aku baru sadar, kalaupacarku ini, sangat tampan.

Maksudnya, aku tahu semenjak tadi malam, kalau ia memang tampan.

Tapi, di saat matahari sudah memutuskan untuk menunjukkan dirinya, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Sebagai sesama pemilik pisang, aku merasa iri dengan ketampanan Yukhei.

Dan lagipula kenapa aku ingin menjadi pacarnya ya, semalam?

Apa karena aku lemah dengan wajah tampannya ini?

"Kamu sudah bangun?" Suara Yukhei menyadarkanku dari lamunan terdalamku.

"Ah, iya. Selamat pagi."

Yukhei tersenyum tipis lalu mengecup dahiku singkat. Wajahku seketika memanas.

"Akhirnya kamu memutuskan untuk menginap disini ketimbang kembali ke apartement-mu."

"Itu karena aku sudah terlalu lelah dan mengantuk. Aku benar-benar kalah darimu."

Yukhei terkekeh, "Maafkan aku." Ia mengusap pipiku perlahan. Aku menggelengkan kepala. "Tidak usah dipikirkan."

Yukhei tidak mengatakan apapun setelah itu. Ia hanya memandangi wajahku. Perlahan tangan kanannya terangkat, menyentuh bekas luka gigitan yang berada dileherku. Tubuhku merinding ketika Yukhei menyentuh bekas tersebut secara hati-hati.

"Sakit, kah?" Bisiknya. Aku meraih tangan Yukhei, menjauhkannya dari leherku. "Tidak sakit. Ini tidak ada apa-apanya."

Dan setelah itu, Yukhei tidak mengatakan apa-apa lagi dan aku kembali ke apartementku dengan perasaan yang tidak nyaman.

.

.

Aku, Kim Jungwoo.

Setelah 20 tahun terlahir ke dunia ini, akhirnya aku melepas status jomblo abadi-ku dan memutuskan untuk bergabung ke jalur yang sesat.

Eh?

Kenapa jalur yang sesat?

Karena pacarku, bukan seseorang yang memiliki gunung kembar dan jeruk dibagian bawah.

Tetapi, ia memiliki pisang dibagian bawah. Sama seperti diriku.

Ah, ah.

Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan kalau pacarku itu sesama jenis. Tapi, entah mengapa aku merasakan keraguan dari Yukhei.

Apakah karena sebelumnya ia hanya mengincar perempuan? Apakah karena ia sebelumnya adalah playboy? Apakah karena ia belum ikhlas gelar playboynya dicabut?

Aku menjadi ragu, apakah ini adalah pilihan yang tepat.

Lagipula aku baru saja bertemu dengannya, dan aku langsung mau mau saja saat ia mengajak berpacaran.

Dasar Jungwoo gampangan.

Jangan cuma karena kamu jomblo abadi lalu saat ada yang menembakmu, kamu langsung menerima.

Argh!

Prak!

Sesuatu yang keras menghantam kepalaku,

Aku menoleh dan mendapati Ten yang menjatuhkan kamusnya di atas kepalaku.

"Sakit tahu." Protesku. Ten mendengus, "Kamu ini, kelas sudah berakhir daritadi tetapi kamu masih sibuk melamun! Dan tidak hanya sekarang! Kamu tadi juga melamun selama kelas! Padahal biasanya kamu memperhatikan, ada apa?"

Aku mengerucutkan bibir, "Bukan urusanmu."

Ten terlihat kesal, dengan cepat ia menjitak kepalaku. "Dasar bodoh! Aku ini adalah teman dekatmu tahu! Wajar saja kalau aku khawatir kalau tiba-tiba temanku yang termasuk golongan ambisius tiba-tiba memutuskan untuk bergabung ke golongan 'tidak-apa-nilaiku-jelek-yang-penting-aku-lulus'!"

Aku menatap Ten datar, "Jangan samakan diriku dengan golonganmu! Dan sudah kubilang berkali-kali aku ini tidak ambisius."

"Kamu ambisius."

"Tidak."

"Tetapi nilaimu selalu bagus, seperti anak-anak ambisius."

"Itu karena aku memang pintar. Tidak ada hubungannya dengan ambisius."

"Dasar sombong. Ada hubungannya tahu."

"Tidak ada."

"Ada."

"Tidak."

"Ada."

"Sudah hentikan. Ayo kita pergi."

.

.

"Eh, eh! Kamu lihat tidak? Lelaki itu! Yang berdiri didepan gerbang kampus kita!"

"Iya, iya aku lihat! Tampan sekali ya! "

"Gimana kalau kamu samperin aja dia? Minta nomornya!"

"Eh, eh~ Tetapi ia tidak terlihat seperti orang Korea ya!"

"Benar, benar~ Apakah ia adalah bule? "

"Wah, gilz! Ngapain ada bule seperti dia dikampus kita?

"Ada ribut-ribut apa ini?" Celetuk Ten saat melihat keramaian gadis-gadis didepan kampus. Aku hanya mengangkat bahu.

"Mungkin karena kamu belum membayar hutang, lalu para penagih hutang itu datang kesini." Ucap Ten, ngawur. Terkadang aku masih merasa heran kenapa aku bisa berteman dengan orang seperti ini.

"Hey, ada apa ini?" Tanya Ten, ke salahsatu gadis yang berada didekatnya. "Ah, itu. Ada lelaki tampan yang berdiri didepan gerbang kampus!" Gadis tersebut menunjuk ke arah gerbang, pandangan kami mengikuti kearahnya.

Ah, lelaki itu...

"Yukhei." Bisikku. Ten menoleh, "Kamu bilang apa tadi?" Aku menggelengkan kepala.

"Hee~Tampan sekali ya, lelaki itu. Apa aku minta juga ya nomornya? "

"Heh, bocah Thailand. Ingat kamu sudah punya Johnny sunbaenim."

Ten menggembungkan pipi, "Cih, tidak asik~"

Yukhei, yang sedaritadi menunggu didepan gerbang tiba-tiba menoleh ke arahku lalu kedua mata kami bertemu. Ia pun melambaikan tangan, aku segera membuang muka. Bagaimana ia bisa menyadari keberadaanku ditempat ramai begini?

"Jungwoo~! " Ia berlari menghampiriku.

"Eh, eh! Si tampan berlari ke arah sini!"

"Ah! Gila, gila! Make-upku tidak luntur kan?"

"Kyaaaa! Dari dekat tampan sekali! "

"Loh? Apakah ia mengenal Kim Jungwoo? Kenapa ia menghampirinya?"

"Eh? Kim Jungwoo?"

Para gadis tersebut terlihat berbisik-bisik. Aku menundukkan kepala.

Vampire ini, apakah ia tidak sadar kalau kalau ketampanannya menarik perhatian?!

"Jungwoo~! Kamu sudah selesai? Bagaimana kelasnya tadi?" Yukhei tersenyum kecil. Seketika gadis-gadis yang berada disekitar kami pingsan berjamaah.

"Senyumannya! Senyumannya itu!"

"Cuman senyuman kecil! Tetapi bisa membuatku hamil online!"

"A, anu, kenapa kamu bisa tahu kalau aku kuliah disini?" Aku tidak mengindahkan pertanyaan Yukhei. Seingatku, semalam aku tidak bilang kepadanya aku berkuliah dimana.

Yukhei tersenyum, lagi. Kali ini lebih seperti seringai. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku, "Kamu lupa? Kalau pacarmu ini adalah v-a-m-p—"

Buru-buru aku menjauh dan menutup mulut Yukhei. Wajahku begitu memerah, "Jangan katakan itu disini!" Pekikku.

Tiba-tiba seseorang menarik kedua bahuku, aku pun menoleh.

"Ah, Ten. Kamu masih disini."

Ten melipatkan kedua tangan didepan dada. "Daritadi aku juga disini!" Ia menekankan setiap ucapannya, "Lagipula, ngomong-ngomong, rupanya kamu ini kenalannya si pangeran ya! Harusnya kamu bilang!"

Pangeran? Siapa?

"Pangeran? Siapa pangeran?" Ten menunjuk ke arah Yukhei, membuat vampire tersebut menatapnya kebingungan. "Dia ini pangeran!"

Aku mendengus pelan. Anak ini terkadang tidak punya urat malu ya.

"Pokoknya, ikut aku! Ten, kamu duluan saja." Aku segera menarik tangan Yukhei menjauh dari tempat tersebut.

"Heh, Jungwoo! Kamu mau kemana?!"

.

.

"Kenapa kamu kesini?" Tanyaku kepada Yukhei, saat kami sudah berada dikelas yang tidak digunakan. Yukhei mengusap tengkuknya. "Karena aku ingin bertemu denganmu."

"Kan kita sudah berjanji, kalau kita akan bertemu nanti malam setelah aku kerja part-time."

"Aku sudah tidak sabar." Sela Yukhei. Ia menatap kedua mataku dalam. Ah, iris merah darahnya menatap kedua mataku dalam. Entah mengapa kedua mata tersebut seakan-akan bisa menyihirku dan membuatku terpesona olehnya.

Tak kunjung mendapatkan respon dariku, Yukhei mengigit bibirnya. "Tidak boleh, ya?" Bisiknya. Aku tersadar dari pikiranku. "Ya?"

Tangan kanannya menyentuh band-aid yang berada dileherku, menyentuh bekas luka semalam. Ia masih menatapku. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasakan perasaan tidak enak seperti tadi pagi.

"Yukhei, kamu—"

"Maafkan aku."

"Eh?"

Yukhei menarik tubuh rampingku kedalam pelukannya. Aku dapat merasakan tubuhnya bergetar.

"Maafkan aku, aku berjanji tidak akan meminum darah darimu lagi."

Aku terkejut mendengar perkataan Yukhei.

"Yukhei, kamu kenapa?" Aku melepaskan pelukannya, menatap ekspresi wajahnya yang terlihat sedih— Seakan-akan ia menyembunyikan luka yang dalam.

"Aku, aku sejujurnya, baru kali ini aku jatuh cinta pada seseorang." Ia mengusap pipiku perlahan, lalu tersenyum samar. "Karena ini baru pertama kalinya, aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku ingin mencintaimu dengan caraku. Tetapi aku sadar, kalau aku ini berbeda darimu. Aku ini adalah seorang vampire. Manusia menganggapku sebagai Predator. Yah— walaupun gadis-gadis tersebut tidak mempermasalahkan ketika aku menghisap darah mereka."

Yukhei menghela nafas, lalu kembali membuka mulutnya. "Aku ingin menjaga dirimu. Aku tidak ingin membuatmu ketakutan. Aku tidak mau membuatmu berpikiran kalau— aku memperlakukanmu seperti mangsa-mangsaku sebelumnya." Yukhei menarik tangannya dari leher milikku. Ia menundukkan kepala. "— Maka dari itu, aku tidak akan meminum darahmu lagi, aku akan meminum darah orang lain."

Ah.

Perasaan tidak nyaman yang kurasakan pagi ini.

Keraguan yang kurasakan dari Yukhei.

Apakah karena hal ini?

Karena ia takut bahwa aku akan menjauh karena dirinya merupakan seorang vampire?

"Yukhei! Tidak apa-apa! Tidak usah dipikirkan!" Tanpa sadar, aku menggenggam kedua tangan Yukhei, membuatnya sedikit terkejut. "Aku tidak selemah yang kamu pikirkan! Tidak apa-apa kalau kamu menghisap darahku, dan lagipula—"

Entah mengapa, aku merasakan hatiku seperti dihujani oleh ribuan tombak. Terasa begitu sakit ketika membayangkan kalau Yukhei akan menghisap darah gadis-gadis seperti sebelumnya, bukan menghisap darahku.

"—Aku tidak tahan kalau harus melihatmu menghisap darah orang lain! Bukan darahku!"

Pipiku terasa basah. Buru-buru aku melepas genggaman tanganku dan menutupi wajahku.

"Jungwoo—"

"Jangan lihat!"

"Jungwoo." Yukhei memanggil namaku dengan lembut, lalu memeluk tubuhku dari belakang. Aku dapat merasakan deru nafasnya mengenai leherku. "Jungwoo, apakah benar tidak apa-apa? Aku tidak mau melukaimu."

"Dasar bodoh, aku ini tidak lemah. Kamu tidak perlu khawatir." Bisikku. "Lagipula aku ini laki-laki, bukan perempuan. Jadi aku tidak lemah." Lanjutku.

Yukhei terkekeh, "Iya, aku tahu. Lelaki yang cantik."

Tanpa Yukhei sadari, aku tersenyum.

Tersenyum bahagia.

Dihatiku, aku merasakan kelegaan. Perasaan aneh yang kurasakan,

Keraguan dari Yukhei,

Ketakutan Yukhei,

Maupun ketakutanku,

Keraguanku,

Semua itu seketika hilang.

Yukhei mengecup leher bagian belakangku, perasaan geli menggelitiki tubuhku.

"Aku mencintaimu, Jungwoo."

"Aku juga mencintaimu, Yukhei."

Kalau begitu, aku tarik lagi perkataanku sebelumnya.

Wajah cantik ini, bukanlah lah kutukan bagi kehidupanku.

Tetapi wajah ini, merupakan pembawa kebahagiaan untukku.

.

.

The End.

.

[ Halo! ーーヽ(*'▽)ノ Bagaimana dengan side story dari sisi Jungwoo? Garing ya? Atau tidak selucu vampire tampan kita, Wong Yukhei? Heheheーkarena aku memang membuat sifat dan karakter Jungwoo seperti pemalu dan tidak miring seperti Yukhei, maka dari itu cerita ini mungkin keliatan sedikit gloomy atau mellow. Tetapi aku berharap kalau side story ini dapat menghibur dan membuat para pembaca senang! Oh ya, jangan lupa untuk leave a review side story ini ya! Terimakasih banyak! (⁼̴̀ .̫ ⁼̴́ )✧ ]