Yah, akhirnya saya update juga chapter 2 dari fic gaje ini. Sebenarnya saya buat fic ini cuma buat iseng aja *plak, buat refreshing karena waktu itu lagi stres TO, tapi ternyata ada juga yang mereview fic ini. Jadilah saya buat chapter 2-nya, karena kebetulan saya juga lagi dapet ide. Jujur, saya belum tahu fic ini mau di bawa kemana (armada) nantinya, tapi kalau saya ada inspirasi untuk fic ini pasti saya lanjutkan.
Okelah, dari pada saya banyak omong, kalau begitu langsung saja...
.
.
.
Happy Reading ^^
Warning : Hinata OOC, CRACK, abal, gaje, typo(s), garing, dan segala hal buruk lainnya~
Disclaimer : Naruto tidak akan pernah menjadi milik saya!
Bagi yang tidak suka ke-OOC-an segera tinggalkan fic ini, anda sudah diperingatkan!
Chapter 2
"Nah, ini adalah gedung olahraga. Tapi biasanya Gai-sensei lebih memilih olahraga di luar..."
Bla bla bla bla bla. Hinata tampak bosan mendengarkan penjelasan Kiba tentang sekolah barunya ini. Dia sudah menghadap kepala yayasan tadi dan setelah itu kepala yayasan menyuruh Shino dan Kiba untuk memberikan tour kepada Hinata agar Hinata lebih mengenal sekolah barunya.
'Agar tidak tersesat nantinya', itulah alasan Minato –kepala yayasan saat Hinata menolak untuk mendapatkan tour dari kedua sahabatnya itu. Dia masih sangat lelah jadi dia ingin segera istirahat. Dan kini dia sudah berkeliling gedung Konoha Gakuen selama setengah jam lebih. Kepalanya sudah sangat pusing, kakinya pegal, cacing-cacing diperutnya sudah berontak, dan yang paling parah –menurutnya lollipopnya sudah habis dari tadi. Itulah yang membuatnya semakin tidak semangat.
"...asrama ini diperuntukkan untuk anak-anak yang tinggal diluar kota, tapi kau juga bisa-"
"Apa kau tidak lelah, Kiba? Daritadi kau ngomong terus."
"Heeii, aku melakukan ini kan demi kau!" salak (emang anjing, *author ditendang kiba) Kiba. Lalu tiba-tiba matanya menyipit menatap Hinata tajam. "Jangan-jangan kau tidak mendengarkanku, yaa?" desisnya.
"Hah, kalaupun aku mendengarkanmu sama saja aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Lagipula bagaimana aku bisa mendengarkan ocehan tidak jelasmu itu kalau cacing-cacing diperutku menyanyi terus," jawab Hinata dengan santai.
"Kau ini, aku sudah merelakan tidak ikut pelajaran dari Haku-sensei yang cantik-"
"Sejak kapan kau jadi 'Kiba Si Anak Rajin'?
"Heeii..."
"Lagipula kau pasti juga lapar kan," sela Hinata yang sudah tidak tahan mendengar Kiba yang dari tadi mengoceh tidak jelas. "Lebih baik sekarang kita ke kantin saja, bagaimana?" tanyanya pada Kiba dengan memasang senyum yang dimanis-maniskan.
Baru saja Kiba mau menolak ajakan Hinata, Hinata sudah menariknya, ralat mungkin lebih tepat menyeretnya.
"Kantinnya sebelah mana?" tanya Hinata.
"Kau benar-benar tidak memperhatikanku yaa... aku sudah mengahabiskan seluruh isi perutku hanya untuk-"
"Kalau begitu dimana kantinnya? Segera kita isi perutmu itu. Aku yang bayar. Dimana kantinnya?" lagi-lagi Hinata menyela perkataan Kiba.
Dengan sedikit tidak rela Kiba menunjukkan arah kantin pada Hinata. Hinata sedikit heran dengan sikap Kiba. Rajin dan patuh bukanlah sifat Kiba. Setahu Hinata dua sifat itu sangatlah jauh dengan seorang Inuzuka Kiba. Tapi hari ini saat Hinata mengajak Kiba untuk malas-malasan, Kiba malah terlihat tidak rela. Apa waktu sepuluh tahun mampu membuat Kiba berubah, pikirnya. Lima puluh tahun pun rasanya tidak cukup jika menilik kepribadian Kiba selama Hinata di Konoha.
"Hei Kiba, kau salah makan yaa pagi ini?"
"Hm?" Kiba mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Kau aneh sekali. Tidak biasanya kau rajin begitu..."
"Hei, kau kan sepuluh tahun tidak bertemu denganku Hinata! Jadi kau mana tahu kalau aku sudah berubah."
"Yaah, kalau menilik dari email-email yang kau kirimkan padaku, sepertinya kau tidak berubah."
"Hhh, aku hanya tidak ingin bolos dijam pertama. Lagipula ini kan masih pagi..."
"Kalau kau mau tahu, daritadi kau sudah bolos."
"Hei, tadi kan perintah dari Minato-sama jadi bukan bolos namanya..."
"Terserahlah. Aku lapar."
.
.
.
Setelah dari kantin Hinata dan Kiba segera menuju kelas mereka masing-masing. Setelah memperkenalkan diri, Hinata diizinkan duduk di bangku paling belakang. Dikelas barunya ini Hinata duduk sendiri, karena semua siswa sudah punya teman duduk masing-masing.
Karena dia sudah berniat untuk tidak memperhatikan pelajaran apapun yang diajarkan hari ini dan entah keberuntungan darimana kelasnya hari ini ada ulangan, berhubung Hinata adalah murid baru jadi Hinata diizinkan untuk tidak mengikuti ulangan. Maka setelah duduk dia segera mengeluarkan komik yang belum selesai dibacanya.
Kalau Hiashi-sama mengetahui apa yang dilakukannya sekarang –lebih memilih membaca komik daripada mengikuti ulangan, pasti sekarang Hinata sudah mendapat ceramah panjang dari Tuan Besar Hyuuga.
Tepat ketika waktu ulangan selesai lonceng tanda istirahat berbunyi. Para siswa menghela nafas berat, setelah Orochimaru-sensei keluar kelas. Sementara para siswa masih sibuk membicarakan tentang ulangan yang sangat mengerikan tadi, Hinata segera keluar kelas untuk mencari kedua sahabatnya.
Hinata melihat ke kelas kedua sahabatnya, namun dia tidak menemukan kedua sahabatnya tersebut. Dia kemudian bertanya kepada seorang siswi yang baru saja keluar kelas, dimana Shino dan Kiba biasa menghabiskan waktu istirahat mereka.
Setelah mengucapkan terima kasih, Hinata segera mencari kedua sahabatnya di gedung olahraga. Menurut siswi yang ditanyainya tadi, Kiba dan Shino biasa menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain basket bersama teman-teman klubnya. Hinata tidak menyangka kalau Shino juga tertarik dengan olahraga basket. Kalau Kiba sih, Hinata tidak heran.
Hinata mempercepat langkahnya. Tetapi ketika baru sampai di depan tangga, dia berbalik lagi mencari siswi yang ditanyai tadi untuk bertanya lagi dimana gedung olahraga. Setelah mengucapkan terima kasih –lagi dan minta maaf pada siswi tersebut dia segera berlari ke arah yang ditunjukkan siswi tersebut.
'Bodohnya aku, seharusnya aku tadi memperhatikan penjelasan Kiba! Sekarang aku jadi harus menahan malu begini! Hh, benar-benar tidak Hyuuga!" rutuk Hinata dalam hati.
Hinata, sadar atau tidak sifatmu itu sudah sangat tidak Hyuuga sejak dulu. (a/n : chapter lalu maksudnya ^^)
.
.
.
Hinata sampai di gedung olahraga dengan terengah-engah. Dia kemudian menyapukan pandanganya keseluruh gedung. 'Ah, itu dia mereka!' Dia segera menghampiri kedua sahabatnya yang sedang bermain basket dengan teman-temannya itu. Ia melambaikan tangannya ketika melihat Kiba sedang menatapnya.
"Kenapa terengah-engah begitu?" tanya Kiba saat Hinata sudah sampai ditempatnya.
"Apa yang mengejarmu?" tanya Shino datar.
Hinata mengibaskan tangannya. "Hah... t-tidak ada. A-aku hhanya sedang menahan malu, hh..." jawabnya dengan nafas putus-putus.
Shino dan Kiba mengernyitkan keningnya tidak mengerti. Menyadari hal itu, Hinata menjelaskan hal memalukan tadi.
"Itu salahmu sendiri yang tidak mendengarkanku," dengus Kiba.
"Ooh, maafkan aku Inuzuka-sama. Aku tidak akan mengulanginya lagi," kata Hinata dengan ekspresi minta maaf yang berlebihan.
"Ini teman kalian?" tanya pemuda berambut hitam klimis seperti mangkok dengan alis tebal.
"Ini?" Hinata tampak tidak suka dengan kata 'ini' yang digunakan si alis tebal untuk menanyakannya. "Aku bukan benda," katanya ketus.
"Eeerr..." Kiba tampak sulit untuk menjawab pertanyaan temannya yang berambut klimis itu.
Hinata yang menyadari sikap Kiba meyipitkan matanya menatap tajam Kiba. "Kau tidak mau mengakuiku, eh?" tanyanya pada Kiba dengan nada berbahaya.
"Mengakui?" tanya seorang pemuda berambut coklat jabrik yang hampir mirip Kiba.
"Ya. Dia sahabat kami," akhirnya Shino memutuskan untuk angkat bicara sebelum Hinata benar-benar marah dan kedua temannya salah paham dengan kata 'mengakui' yang digunakan Hinata tadi.
"Ooh, kenapa kami tidak pernah melihatnya bersama kalian?" tanya si alis tebal.
"Itu karena dia baru saja pulang setelah lama tinggal di Iwa," jelas Kiba.
"Halo, aku Hyuuga Hinata. Salam kenal!" kata Hinata tiba-tiba dengan cerianya.
"Ehh? Ng, aku Rock Lee. Cukup panggil Lee saja. Salam kenal!" kata Rock Lee dengan senyum pepsodentnya.
"Aku Nawaki Senju," kata pemuda berambut coklat jabrik.
"Oh, hai Lee, Nawaki..." sapa Hinata ulang dengan memasang senyum manis andalannya.
"Sudah selesai acara perkenalannya?" tanya Kiba tiba-tiba.
"Eh? Memangnya kenapa? Kau cemburu yaa, Kiba-kun?" tanya Hinata dengan sura genit dibuat-buat.
"Iieh, tentu saja tidak. Aku hanya mau bilang sebaiknya kita segera ke kelas. Jangan sampai kita terlambat. Apalagi setelah ini kita Ibiki-sensei," kata Kiba kepada tiga temannya.
"Jadi kalian sekelas?"
"Ya," jawab Shino.
"Yaaa, kau benar Kiba. Sebaiknya kita segera kembali. Di sekolah ini terlalu banyak guru killer," timpal Lee.
"Ayo Hinata," ajak Nawaki pada Hinata.
"Iya."
.
.
.
Setelah makan malam selesai, Hinata langsung menuju kamarnya. Dia sudah menduga pasti ayahnya akan menanyakan hari pertamanya di sekolah. Hinata hanya menceritakan apa adanya saja, walau ada beberapa hal yan tidak dia ceritakan. Walau ayahnya selalu tau kalau anak-anaknya ada yang menyembunyikan sesuatu, Hinata tidak terlalu khawatir akan hal itu karena dia sudah terbiasa –menyembunyikan sesuatu dari ayahnya tercinta, meskipun pada akhirnya dia akan mengatakan pada ayahnya juga. Itulah untungnya jadi seorang Hyuuga, mampu meminimalkan emosi –walaupun sebenarnya Hinata tidak termasuk dalam hal itu.
Hinata sedang tidur-tiduran sambil membaca novel, saat Neji masuk ke kamarnya. Neji kemudian duduk di kursi meja belajar Hinata. Untuk beberapa saat yang dilakukannya hanya mengamati kamar Hinata, sedangkan Hinata tidak mempedulikan kehadiran Neji karena sedang asyik membaca novel.
"Bagaimana sekolah barumu?" tanya Neji datar.
"Hm?" gumam Hinata tak jelas.
"Kurasa kau sudah mendengarnya imouto," kata Neji dingin.
"Oh, aku belum memberi tahumu ya aniki?" tanya Hinata yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Neji tanpa mengalihkan pandangannya.
Neji hanya memandang adiknya tidak mengerti. Hinata yang tahu kalau kakaknya itu tidak mengetahui maksudnya, bangkit dari posisi tidurnya dan mengalihkan pandangan pada Neji lalu tersenyum manis.
"Sasame pindah ke Kumo. Neneknya sakit, dia sudah tiga bulan disana. Tenang saja, setelah keadaan neneknya membaik dia akan kembali ke Konoha lagi."
"Apa maksdumu?" tanya Neji dingin. "Kau tau bukan itu jawaban atas pertanyaanku."
"Hah, tapi 'itu' maksudmu. Iya, kan?" kata Hinata dengan menekankan kata itu.
Neji memutar bola matanya menanggapi imoutonya yang satu ini. Terkadang memang butuh tingkat kesabaran yang tinggi dalam menghadapi Hinata.
"Aku tidak mengerti maksudmu, imouto," katanya dingin.
"Bukankah itu yang kau tanyakan, aniki? Kabar Sasame, hm?" goda Hinata.
"Bukan itu yang aku tanyakan."
"Yayaya, terserahlah. Aku tau apa yang ingin kau tanyakan nii-chan. Pertama, bagaimana sekolahku, lalu kabar sahabat-sahabatku, dan itu intinya kabar Sasame," goda Hinata dengan wajah menyebalkan kemudian menyeringai kecil.
"Tch," hanya itu yang keluar dari mulut Neji. Dia kemudian beranjak dari duduknya dan menuju pintu kamar Hinata hendak keluar.
"Oh, ayolah nii-chan... jangan marah, aku hanya ingin memberikan informasi yang kau butuhkan."
Neji tidak menghiraukan Hinata, dia sudah memegang kenop pintu Hinata.
"Aniki, kau sam-"
"Aku tidak marah. Terima kasih sudah memberitahuku. Sekarang aku bisa tenang," katanya seraya tersenyum tipis ke arah imouto-nya yang terlihat cengo.
Hinata masih cengo setelah Neji menutup pintu kamarnya. Dia tidak menduga kalau anikinya itu akan berkata begitu. Tidak biasanya Neji blakblakan seperti itu.
Hinata tahu kalau anikinya itu tertarik dengan sahabatnya –Sasame. Neji mulai tertarik pada Sasame saat Sasame mengirimkan fotonya bersama Shino dan Kiba pada waktu pertama kali masuk Konoha Gakuen melalui e-mail.
Saat itu Neji tanpa sengaja melihat laptop Hinata yang wallpapernya foto mereka –Sasame, Kiba, dan Shino. Dan saat itu juga Hinata memergoki Neji dengan wajah bersemu merah yang belum pernah dia lihat. Setahu Hinata, Neji dengan wajah bersemu merah begitu ketika dia sedang demam.
Nah, saat itulah Hinata menyimpulkan kalau kakaknya itu menyukai sahabatnya. Dan ternyata kesimpulannya tidak salah. Malah terkadang dia berfikir kalau anikinya itu sudah lama tertarik pada Sasame, sejak mereka kecil mungkin? Karena dulu Neji juga terlihat perhatian pada Sasame. Kalau memikirkan hal itu Hinata sering tersenyum sendiri, seperti saat ini senyum merekah dibibirnya.
.
.
.
"Mau ya Kiba? Ya ya ya?"
Saat ini sedang istirahat pertama. Hinata, Shino dan Kiba baru saja dari kantin, sekarang mereka ingin pergi ke taman sekolah. Dan saat ini Hinata sedang membujuk Kiba dan Shino untuk menemaninya keliling Konoha minggu ini.
Sudah lima hari Hinata di Konoha, dan dia belum berkeliling untuk melihat-lihat kota kelahirannya itu. Menurutnya itu sangat salah, seharusnya dia berkeliling dulu baru sekolah, sampai sekarang dia masih jengkel dengan gagasan ayahnya yang menyuruhnya sekolah dihari pertama dia sampai di Konoha.
Seperti yang Hinata duga, kedua sahabatnya itu tidak mau menemaninya. Mereka pasti takut dimarahi ayah, pikirnya.
"Bagaiman Shino? Kau mau kan?"
Shino hanya diam saja tidak menanggapi Hinata. Dia berjalan dengan tenangnya seolah Hinata tidak bertanya padanya, dan itu membuat Hinata jengkel.
"Bagaimana denganmu?" tanya Hinata ketus pada Kiba.
"Senin besok ada banyak ulangan, jadi kami tidak bisa," kata Kiba.
"Kiba benar. Hampir semua mata pelajaran ada ulangan," sahut Shino.
"Huh, bilang saja kalian takut pada ayah."
Shino dan Kiba tidak menanggapi perkataan Hinata yang barusan. Memang benar, mereka takut pada Hiashi-sama yang super keras itu. Mereka tidak habis pikir, dengan ayah seperti itu Hinata masih bisa menjadi anak yang susah diatur begini.
"Aku berjanji ayah tidak akan marah pada kalian," kata Hinata sambil berjalan mundur menghadap dua sahabatnya. "Mau ya? Ya? Ya?" mohonnya dengan kedua tangan memegang kaleng soft drinknya.
Lagi-lagi kedua sahabatnya itu tidak menanggapi perkataannya. Kiba pura-pura sibuk dengan hp-nya, sedangkan Shino masih berjalan dengan gaya cool-nya dengan kedua tangan di dalam saku celananya.
Hinata yang sudah benar-benar jengkel dengan sifat kedua temannya itu, segera merebut hp Kiba.
"Hei, apa-apaan kau? Kembalikan!" seru Kiba.
"Tidak akan kukembalikan, kalau kalian tidak mau menemaniku," kata Hinata dingin. Shino dan Kiba sedikit terkejut dengan nada bicara Hinata yang dingin.
"Jangan bersikap kekanakan begitu, Hinata," Shino akhirnya angkat bicara.
"Kalau begitu coba ambil sendiri," kata Hinata dengan menjulurkan lidahnya. Dia segera berbalik dan sedikit berlari. "Ayo coba ambil, Kiba! Aku tidak akan mengembalikannya kalau kalian tidak mau menemaniku!" katanya sambil menolehkan kepalanya ke kedua sahabatnya.
Karena tadi tidak melihat jalan di depannya, saat Hinata baru saja menolehkan pandangannya kedepan, dia sudah menabrak seseorang. Dan naasnya, minuman kaleng yang di bawanya tumpah ke seragam orang yang di tabraknya tersebut.
Seorang pemuda berambut raven dengan mata onyx menatap tajam Hinata. Untuk sepersekian detik Hinata belum mengerti apa yang terjadi, dia hanyan mengedipkan matanya.
"Kau..." geram pemuda itu.
"Kyaa, apa yang kau lakukan?" seru seorang gadis berambut pirang yang ada disamping pemuda tersebut.
"E-eh, maaf... aku tidak sengaja," kata Hinata meminta maaaf setelah menyadari apa yang terjadi.
"Mati aku. Seharusnya kita turuti saja permintaannya tadi," bisik Kiba pada Shino dengan keringat dingin di dahinya.
"Hn." Shino mengahmpiri Hinata yang sedang berusaha minta maaf pada pemuda yang ditabraknya.
"Senpai..." panggil Shino pada pemuda yang ditabrak Hinata.
Mata onyx yang tadi menatap tajam Hinata, kini beralih menata Shino dengan pandangan dingin yang mampu meluluhkan hati setiap siswi di Konoha Gakuen.
Siapakah pemuda itu?
.
.
.
TBC
Yak, saya rasa reader sekalian sudah bisa menebak siapa pemuda tersebut ^^
Terima kasih untuk yang sudah review di chapter kemarin ^^ :
Merai Alixya Kudo : hm, Sasame itu gadis (*plak) dari klan Fuma, dia muncul waktu eps naruto, sakura dan jiraiya mencari sasuke sampai ke tempat orochimaru. dan kebetulan sasame juga ingin membawa pulang kakanya yang juga disana, apakah anda sudah ingat? O.o , saya sasame karena menurut saya dia sangat manis (g ad yg nanya) tapi sayang dia cuma muncul sebentar ==' , btw terima kasih untuk reviewnya ^^
uchihyuu nagisa : yaah, sebenarnya saya sudah sering mengimajinasikan hinata yang tomboy, dan karena tampaknya tidak ada fic yang menampilkannnya, maka saya coba buat sendiri deh, walaupun hasilnya hancur == , terima kasih untuk reviewnya ^^
Shaniechan : hehe, iyaa... mungkin chap depan muncul ato mungkin chap ini ? *smirk , terima kasih untuk reviewnya ^^
Terima kasih juga untuk silent reader sekalian ^~^
.
.
.
Thanks for reading , Review please? O.o
