Haus

.

.

.

Eren Jeager pemuda 19 tahun baru saja mengalami kecelakaan yang menyebabkan kedua tangannya harus diperban karena patah tulang. Setelah keluar dari rumah sakit kini ia dirawat oleh kekasihnya Levi Ackerman seorang pengusaha muda kaya raya dan sukses. Dia rela untuk meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk sang pujaan hati.

Mereka baru saja tiba di apartemen dan duduk di sofa.

"Kau, bodoh!" Levi menatap tajam kekasihnya yang berbalutkan kain perban disepanjang tangannya.

"Huh?" Eren tidak fokus

"Jangan meng-huh-kan aku!" Kesal karena kecerobohan Eren yang menyebabkan dirinya hampir terbunuh.

"Hmm hehehe maaf Levi-san," pemuda bersurai coklat gelap hanya tersenyum merasa bersalah.

"Lalu bagaimana dengan kuliahmu? Sudah 3 hari kau tidak masuk kuliah."

"Hmm aku kira Keith Shardis sudah tahu, dan dia memaklumi keadaanku."

Lalu keheningan melanda seluruh ruangan.

"Hmm maaf Levi-san karenaku kau harus meninggalkan pekerjaanmu untuk merawatku dan melakukan semua pekerjaan rumah, padahal kau sangat sibuk," Eren tidak berani mentap mata sang kekasih, kini iahanya memandang karpet berwarna biru dongker di bawah kakinya.

"Kau pasti haus, kuambilkan air minum," beranjak meuju dapur untuk memberikan orange juice kesukaan Eren.

Tidak lama kemudia Levi kembali membawakan orange juicenya, di letakan di meja kaca di hadapan Eren.

Eren hanya memandang orange juice yang diberikan pemuda bermanik abu kelam.

"HmmLevi-san," Eren ragu untuk bertanya pada Levi.

"Kenapa?" suara bariton datarnya terasa menusuk pendengaran.

"Maafkan aku Levi-san, tapi bisakah kau sediakan sedotan?" Lalu menggerakan sedikit kedua tangannya yang terbalut perban mengingatkan tentang keadaannya saat ini. "Ingat?"

"Oh, my bad," Levi kembali beranjak dari kursinya, lalu mendekati Eren, " tapi aku tidak punya sedotan. Lagipula sedotan menambah sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang yang akan menyebabkan menumpuknya sampah dan global warming." –(oke sejak kapan Levi mulai banyak bicara hal yang ga penting)-

"Hmm, lalu bagaimana aku meminumnya?"

"Biar aku saja yang membantumu."

"Oh baiklah, terimakasih Levi-san sudah mau memegangkan gelasnya untukku."

"Sama-sama," seringaian tipis diwajahnya luput dari pandangan Eren.

Levi mangambil gelas, alu duduk di sebelah Eren. Eren menghadap pada Levi agar memudahkan untuk minum. Levi bersiap memegang leher Eren.

"Eh?" Eren bingung melihat Levi meminum minumannya.

"Umm Levi-san..."

Levi mendekatkan wajah mereka berdua hingga tidak ada jarak dan menautkan kedua bibir. Lalu Levi mendorong minuman yang tertahan di mulutnya, memaksa masuk ke mulut Eren. Eren yang sedang membuka mulutnya mau tidak mau menerima cairan itu ke mulutnya lalu meneguknya.

Setelah terteguk semuanya, Levi memberikan lumatan di bibir ranum Eren, lalu melepaskannya.

"Bagaimana?"

"Umm.."

"Apa? kau masih haus?"

Levi mengulangi aksi untuk kedua kalinya, wajah Eren hanya merah padam tidak bisa menolak.