Rina: Oke, Rina jujur, Rina eneg membaca ulang chapter yang satu ini...

Rui: Ara~ Kenapa Rina-san? Kan Rina-san sendiri yang bikin, kok Rina-san yang eneg sih lihatnya?

Rina: Begitulah Rui... Aku baru sadar oh bagaimana gilanya kepalaku waktu masih memulai kisah kasih (?) sebagai seorang author... Aku bener2 hutang minta maaf pada siapapun yang nge-bash waktu aku nulis ini pertama kali. *pundung*

Rui: Ara~ tapi itu juga adalah salah satu alasan Rina-san menulis ulang cerita ini bukan? Untuk membenarkan apa yang ternyata menjadi acak-acakan. *sambil minum teh*... setidaknya, Rina-san merasa menyesal bukan? Jadi, sisihkanlah waktu juga untuk cerita-ceritamu yang belum selesai itu...

Rina: Ah, bener juga ya Rui dan please jangan diingetin dong yang satu itu... lagi pusing nih lihat draft ternyata kacau balau semua... bingung mau nulis dari mana, tapi bener Rina menyesal memberi cerita ngawur yang (bagi Rina) gak desserve perhatian dan kebaikan para pembaca yang sudah dengan setia menunggu Rina update waktu itu... |・ω・`)

Rui: *tepukin kepala Rina* Ara~ sudahlah Rina-san, mari kita buka saja chapter rewrite ini dengan lebih banyak perasaan senang dibandingkan pundung. Nih, kubacakan Disclaimer juga. Disclaimer: Rina tidak memiliki Vocaloid karena mereka milik Developer mereka masing-masing dan siapapun yang punya ide buat bikin genderbend mereka masing-masing. Yang Rina miliki hanyalah cerita ini dan OC milik Rina, yaitu Akane Rui/Akarui Kura serta Mel (Merlinne Adilisia Lamferd Elfinia Slynx).

Rina: Hiks, Rui kau baik amat sih... gak kayak sie Mel tuh yang dimana-mana selalu mara- *dilempar sapu*

Mel: WOI JANGAN NGOMONG JELEK DIBELAKANG ORANG! ヽ(#゚Д゚)ノ┌┛Σ(ノ´Д`)ノ

Rina: ┗( ●-﹏ `。)づ... A-apa?! Woi Mel, kenapa kau bisa ada disini?!

Mel: Ya jelas karena kau menulisku disinilah, mau bagaimana lagi? Yah, kau juga jarang pakai aku dimana-mana jadinya nganggur nie.

Rina: A-ahahaha... baiklah, dibandingkan mendengarkan pojok komedi yang gak lucu ini, silahkan melanjutkan membaca~ Rina Aria mempersembahkan The Two Of Us -Rewrite- Chapter 2 "Present Time Part 1 - Len side" dan bagi siapapun yang membaca ini mohon jangan lupa melakukan ritual...

Read...

And...

...Review!

Review kalian semua adalah dukungan dan tempat kalian untuk mengkritik Rina habis-habisan! Rina sudah lama tidak bikin fanfic Indonesia jadinya agak susah. Jadi bagi kalian semua yang sadar bahwa Rina melakukan kesalahan, silahkan dengan sangat untuk melemparkan granat ke Rina~

Mel: ... BakAuthor, jangan-jangan gara-gara kebanyakan main Diabolik Lovers, kau jadi Masochist ya?

Rui: Ara~ Mel di dunia ini ada beberapa hal yang tidak perlu kau ketahui~ salah satunya adalah kewarasan BakAuthor Rina~ *sambil minum teh*

Mel: Yah, benar juga sih... hanya buang-buang waktu *makan apel sambil lihat Rina mulai tidak waras*

Rina: WOI, AKU WARAS!


Len POV


"Selamat datang semuanya di acara 'Meet Your Idol!' spesial Valentine!" ujar seorang MC laki-laki yang berdandan dengan pakaian yang flamboyan meskipun perilakunya masih seperti seorang pria tulen.

"Ahh, kenapa ya padahal ini hari Valentine tapi kita harus bekerja, ya? Padahal aku juga ingin merayakannya dengan orang spesial. Tapi, tamu kita hari ini juga tidak kalah spesialnya! Ayo semua, siapa yang bisa tebak?" ujar MC wanita dengan pakaian santai ala musim semi dengan perawakan santai dengan potongan rambut yang terlihat tomboy.

Para penonton di studio mulai berteriak meneriakkan berbagai macam nama idola mereka masing-masing, tentunya yang cowok karena penonton pada saat ini adalah cewek. MC laki-laki yang mendapat tanda bahwa dia bisa memulai acara segera berkata, "Baiklah semuanya, kita berikan petunjuk. Tamu kita pada hari ini adalah idola peraih penghargaan Yamaha Music Award selama 2 tahun sejak debutnya. Kira-kira siapa ya?"

Dibalik panggung yang gemerlapan para kru dari pihak acara tampak berlarian kesana kemari seperti biasa karena ulah manajerku yang perfeksionis. Namanya Akane Rui, dia lebih muda dariku 2 tahun tapi dia memiliki kemampuan manajemen artis sebanding dengan orang-orang dewasa, dan dia benar-benar tidak memiliki kata 'merepotkan' di kamusnya, karena dia selalu saja repot meski hasilnya memang benar bagus.

"Kagamine-san sekarang giliran anda!" ucap salah seorang kru panggung yang memanggilku yang sedang enak-enakan menunggu giliranku untuk tampil di atas panggung.

Aku hanya merapikan pakaianku sedikit dan segera menjawab, "Baik!" jawabku sambil menuju ke arah pinggir panggung dan kru panggung yang tadi memanggilku memberikan kode pada MC wanita.

"NAH, SEKARANG KITA SAMBUT BINTANG TAMU SPESIAL KITA, LEN KAGAMINE!" ucap si MC wanita setelah dia mendengar bahwa para penonton sudah mengetahui bahwa akulah bintang tamu pada acara hari ini.

Itu merupakan tandaku untuk memasuki panggung. Pada saat itu, aku mendengar suara dari Rui yang entah bagaimana sudah berada di sebelahku berkata, "Lakukan sesuatu yang menarik," ucapnya sambil mengedipkan mata kanannya tanda bahwa dia tidak menerima 'tidak' sebagai jawaban.

Aku hanya mengangguk pada Rui yang melambaikan tangannya padaku dengan santai. Dia memiliki rambut berwarna merah seperti api, dan mata yang berwarna senada, dan untuk membuatku sebal, dia lebih tinggi 5 cm dariku, meski dia lebih muda 2 tahun dariku! Tapi, aku setengah bersyukur memiliki manajer yang umurnya tidak terlalu jauh denganku karena membuat komunikasi jauh lebih enak... meskipun dia sedikit lebih workaholic dari orang normal.

Saat aku memasuki panggung, semua penonton berteriak-teriak meneriakkan namaku. Aku sudah terbiasa dengan teriakan mereka ketika aku melambaikan tanganku pada penonton dan sesekali mengedipkan salah satu mataku, biasalah fanservice. Menjadi idola itu berat tapi ketika berada di depan penonton, aku sangat wajib memasang wajah segar dan tidak boleh tampak lelah.

Eh? Kalian bertanya bagaimana ceritanya aku menjadi idola begini, dan… apa yang terjadi dengan Rin bukan? Yah, tentu saja Rin sekarang berada entah dimana di luar negeri tapi tetap saja aku kan berbeda. Baiklah, ceritanya dimulai saat Rui melakukan sesuatu yang menakjubkan di sekolah saat aku masuk SMP.

-Flashback Start-

Sudah setahun semenjak Rin pergi ke luar negeri. Ketika aku menyadarinya, aku sudah lulus dari SD dan kini melanjutkan ke SMP yang berada di dekat rumah tapi memiliki kelas musik yang bagus. Toh, sudah lama aku menekuni musik dan satu-satunya hal yang bisa membuatku berpikir akan hal lain selain Rin adalah musik.

Tapi, aku baru tahu bahwa kehidupan SMP-ku akan sangat jauh dari kata normal ketika aku bertemu dengan seorang anak kecil bertubuh besar di kelasku. Aku hanya melihat ke arahnya sebentar, sebelum memandang ke luar jendela kembali. Aku tahu siapa dia itu karena penampilannya yang secara alami mencolok meskipun dia tidak melakukan apapun, terutama karena rambutnya yang merah menyala itu.

Dia cukup terkenal waktu aku masih SD karena kepintarannya. Anak itu bernama Akarui Kura, dia dua tahun lebih muda dariku dan memiliki kepintaran yang diatas rata-rata. Pernah sekali dia menjuarai sebuah lomba tingkat Perfektur melawan banyak pelajar yang berada di kelas 5-6. Aku melihatnya sebagai seorang pribadi yang tenang, tapi tetap saja aku lebih suka pada Rin.

"Akarui-san seharusnya sekarang masih duduk di bangku SD kelas 5. Tapi, pihak sekolahnya mengatakan bahwa tidak ada lagi yang bisa dia pelajari sebagai seorang pelajar SD sehingga dia lompat kelas 2 tahun dan memasuki SMP ini atas rekomendasi sekolahnya yang dulu. Baiklah Akarui-san, silahkan perkenalkan dirimu kepada semuanya…" ucap wali kelasku.

Dia memilin-milin ujung roknya, saat wali kelas memanggilnya, lalu dia berkata, "Namaku Akarui Kura, silahkan panggil saya Rui!" kenalnya dengan menambahkan senyum meanis di bagian akhir.

Semua anak laki-laki di kelas kami melotot melihatnya, kecuali aku, karena aku sudah punya Rin untuk aku perhatikan. Mikuo yang duduk di bangku di depanku berbisik, "Len, Rui ini lumayan cantik, ya…" bisik Mikuo.

Aku hanya menaikkan kedua bahuku, karena aku tidak terlalu berpikir bahwa Akarui-san itu menarik. Setelah itu, dia duduk di bangku yang ada disampingku, karena hanya itu bangku di kelas yang masih tersisa untuk diisi.

"Selamat siang Kagamine Len-san. Kalau tidak bermasalah, bisakah kau menungguku di perpustakaan sepulang sekolah? Aku tidak akan menyatakan perasaanku seperti anak gadis lain, tapi aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting kepadamu," ucap Akarui-san melakukan perkenalannya. Sepertinya dia tahu bahwa bagaimanapun juga aku masih tidak ingin menjalin hubungan lagi, sehingga mengatakan dengan sejujurnya apa yang ingin ia katakan.

Mikuo yang mencuri dengar hanya bisa menempelkan wajahnya kepada mejanya saat dia mendengar Akarui-san mengajakku bertemu sepulang sekolah. Sepertinya dia merasa bahwa dia sudah kehabisan kesempatan untuk mendapatkan Akarui-san.

"Akarui…-san?" ucapku dengan nada tanya pada Akarui-san yang tertawa kecil dan tanpa mengatakan apapun lagi segera memperhatikan papan tulis.

Setelah pelajaran berakhir, Akarui-san segera dikelilingi para murid laki-laki di kelasku. Mereka menanyai macam-macam kepadanya dari hal yang sopan hingga yang hampir melampaui batas kesopanan. Biasa, perhatian yang didapat gadis cantik, pintar, nan bersahabat seperti biasa… maklum, meski tidak mencolok Akarui-san tetaplah seorang gadis yang terkenal.

Mikuo hanya bisa memojokkan dirinya sepertinya patah hati karena tidak mendapat kesempatan berbicara dengan gadis pembuat heboh ini. Tapi, aku bisa melihat bahwa terkadang, Akarui-san melihat ke arah Mikuo ditengah-tengah kerumunan anak-anak lain. Matanya terlihat sedikit khawatir dan ragu-ragu.

Aku juga kadang-kadang memperhatikannya, penasaran atas apa maksud perkataannya tadi. Tapi, dia hanya tersenyum simpul saat aku ketahuan memperhatikannya. Tapi, senyumnya itu sedikit menyeramkan... benar-benar menyeramkan.

Waktu di sekolah berjalan dengan sangat lambat, hingga akhirnya, bel pulang berbunyi. Aku masih tinggal di kelas, saat anak-anak lain mulai keluar dari kelas hingga kelas menjadi benar-benar sepi dan tinggal aku sendirian di sini. Setelah semua orang pergi aku baru melangkahkan kakiku untuk menuju perpustakaan untuk menemui Akarui-san.

Sebenarnya aku bisa saja tidak mempedulikan perkataannya, tapi entah kenapa dia membuatku jadi sangat penasaran. Dia tampak menyeramkan meski tidak tampak membahayakan. Dua hal itu sangatlah berbeda, kau tahu.

Ketika aku membuka pintu perpustakaan, aku bisa melihat Akarui-san yang sedang membaca sebuah novel roman di salah satu sudut membaca di perpustakaan. Dia tampak sangat menikmati cerita yang bisa kulihat berjudul 'Hamlet'. Sepertinya dia suka cerita klasik.

Tanpa perlu aku menyadarkannya bahwa aku sudah tiba, dia mengangkat kepalanya untuk melihat ke arahku seakan sudah tahu bahwa aku sudah datang. Dia kemudian tertawa kecil dengan gaya yang mencurigakan sebelum berkata, "Terimakasih Len-san karena sudah datang," ucapnya dengan senyumnya yang manis-tapi-seram.

Aku hanya mengangguk pelan dan tanpa mengatakan apapun menyuruhnya untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan. Seakan memahami perkataanku Akarui-san menempatkan sebuah bookmark pada halaman yang sedang ia baca sembari berkata,"Len-san sedang mencari keberadaan Rin-san bukankah begitu?" tanya Akarui-san.

Aku merasa sedikit tercengang, tapi aku ingat bahwa setiap anak yang menyatakan perasaan padaku, selalu menyinggung nama Rin pertama kali. Tapi bukannya dia bilang bahwa dia tidak berniat melakukan hal yang biasa dilakukan murid perempuan-perempuan yang menyukaiku bukan? Setidaknya dia tampak jujur ketika mengatakan hal itu.

"Sepertinya mengatakan itu tidak akan membuatmu mengerti. Baiklah, akan kupotong langsung ke inti pembicaraan kita ini. Len-san apakah kau berniat menjadi idola?" tanya Akarui-san dengan wajah yang digabung antara serius dengan tidak.

Aku memiringkan kepalaku karena aku tidak mengerti apa yang dia katakan, lalu Akarui-san melanjutkan, "Jika kau menjadi idola, ada kemungkinan bahwa kau bisa pergi ke luar negeri untuk mencari Rin-san. Dengan senang hati, orang tuaku akan membantumu. Tentunya aku sudah memberikan mereka penampilanmu ketika kau mengikuti kontes menyanyi ketika kau masih kelas 5 SD. Sayangnya saat itu kau tidak menang, tapi aku yang melihat bahwa kau memiliki bakat dan orang tuaku sudah menyetujuinya," lanjut Akarui-san.

"Aka-…"

"RUI!" potong Akarui-san dengan cepat dan terdengar seperti sedang marah.

Aku hanya sweatdrop sebelum bertanya, "Eh, Aka- maksudku, Rui-san, apa maksudmu dengan aku menjadi idola? Apa untungnya bagimu?" tanyaku.

"Seperti yang kukatakan tadi, aku sudah mendengarmu bernyanyi sebelumnya, dan aku ingin kau menjadi seorang idola, dan jika kau menjadi seorang idola, maka kemungkinan untuk mencari Kagamine Rin-san akan bertambah. Aku tahu kau mencarinya bukan? Yah, walaupun awalnya aku juga ingin mengajak Rin-san untuk menjadi idola juga, tapi sayang sekali dia sudah pindah terlebih dahulu ke luar negeri… yah, tapi melihat potensi di dalamnya, aku yakin dia pasti menemukan jalan pula di sana. Kalau kau tanya apa keuntunganku... sudah jelas bukan, jika aku berhasil membuatmu menjadi idola, aku akan diakui sebagai seorang manajer yang profesional sekaligus menambah penghasilan orang tuaku. Bukankah itu cukup alasan bagiku?" jelas Rui-san sekali lagi dengan menjelaskan jauh lebih detai.

"Oke kuterima penjelasanmu. Tapi satu hal lagi, siapa kau?" tanyaku. Rui-san belum menjawab pertanyaanku yang membuatku bertanya-tanya tentang bagaimana dia bisa dengan mudah mengatakan bahwa dia ingin menjadikanku idola, seingatku dia juga mengatakan sesuatu tentang Rin bukan?

Rui-san hanya tersenyum kecil sebelum berkata, "Nama asliku adalah Akane Rui, seorang pencari bakat profesional dari perusahaan rekaman D.S. Music, yang mengorbitkan bintang-bintang terkenal. Orang tuaku adalah pemilik dari perusahaan rekaman itu," jawab Rui-san dengan santainya seakan-akan itu adalah hal yang sangat alamiah.

Aku hanya terbelalak sebentar. Aku sudah dengar tentang D.S. Music, perusahaan itu mencetak penyanyi yang sangat hebat, hampir semua penyanyi yang menduduki tangga lagu teratas adalah penyanyi dari perusahaan itu. Meski sedikit, aku merasa bahwa aku bisa dan ingin menerima penawarannya itu.

"Jika kau berkata iya, ini kartu namaku, dan pergilah ke alamat yang ada disana pada hari Sabtu minggu ini. Orang tuaku akan segera melihatmu, ah jangan khawatir, mereka sudah mengetahui kualitasmu, dan sekarang mereka ingin melihat bagian yang terpenting dari seorang idola. Dan jika mereka berkata oke, maka bersiap-siaplah untuk jadi sibuk," ucap Rui-san yang memberikan sebuah kartu nama dengan tulisan yang rapi, dan menunjuk sebuah bagian dari kartu itu, dan kemudian meninggalkanku tanpa membiarkanku membantahnya.

Aku menerima kartu itu, dan melihat kembali Rui-san yang sudah menghilang. Aku kemudian mendatangi gedung itu pada hari Sabtu, dan orang tua Rui-san langsung berkata "Oke", lalu aku memulai debut menyanyiku dibantu oleh Rui yang menjadi manajerku.

Dan dia tidak berbohong bahwa aku menjadi benar-benar sibuk.

-Flashback End-

"Ah, Len-san, kudengar kau akan merilis sebuah single terbaru, ya?" tanya MC laki-laki yang menanyaiku saat aku selesai menyapa para penggemarku di-seantero Jepang. Tentu saja aku sekarang berada pada bagian talk show yang merupakan salah satu bagian acara yang cukup membuat capek ini, atau begitulah yang kulihat dari rekaman acara ini sebelumnya.

"Itu benar, mereka bilang, single itu akan dirilis beberapa minggu lagi, meski aku sudah menyelesaikan rekamannya beberapa hari yang lalu," jawabku berusaha seramah mungkin. Aku masih mengingat bahwa setelah ini akan ada sesi menyanyi, jika penyanyi atau berbagai macam sesi lain jika bukan penyanyi.

Nah, setelah itu... karena ini adalah hari Valentine, aku harus menerima cokelat yang diberikan perwakilan dari official fanclub milikku yang sudah diatur oleh Rui, agar dia bisa menyaksikanku sengsara. Dia benar-benar tahu bagaimana cara agar membuatku sengsara karena dia dengan sangat sengaja menulis bahwa aku menyukai sesuatu yang manis-manis padahal aku tidak terlalu tahan.

"Kalau begitu, kenapa kita tidak mendengarkan single terbaru itu dari Len-san sendiri?" saran MC wanita itu. Aku hanya melihat sekilas ke arah Rui, dan dia mengatakan iya. Lalu aku hanya mengangguk, dan segera menjawab permintaan dari MC wanita itu.

"Yah, meski ini masih sedikit terlalu cepat, aku akan menyanyikan single terbaruku yang berjudul 'Falling Falling Snow'. Jangan lupa beli saat sudah dirilis ya!" ucapku.

Segera terdengar teriakan dari para penggemarku. Tak terasa waktu sudah berlalu 4 tahun sejak aku memulai debutku saat SMP. Awalnya aku merasa sedikit terpaksa, tapi sekarang aku sudah menikmatinya dan berpikir untuk tidak mundur, meski sudah menemukan Rin.

-Song Skip- (males nih…)

Kini aku, Rui, dan Mel-san, sedang berada didalam sebuah mobil berwarna hitam. Kami baru saja menyelesaikan pekerjaan terakhir kami pada hari ini, yaitu acara yang sudah kuceritakan tadi yang dengan cepat berubah menjadi neraka bagiku. Bagaimana tidak? Sekarang aku memiliki jumlah cokelat penggemar yang muat satu bagasi dengan tingkat kemanisan yang membuatku muntah. Rui sih dengan enak-enaknya menertawakan kesengsaraanku itu.

Oh ya, selain aku dan Rui disini, aku tadi bilang juga terdapat Mel-san. Mel-san itu… seorang hairstylist yang merupakan kakak dari Rui. Umurnya baru 18 tahun, dan dia sudah menamatkan jenjang kuliah, dan menjadi seorang hairstylist yang disegani hingga ke Prancis!

Aku harus bersyukur bahwa Mel-san tetap tinggal di Jepang karena dia benar-benar sangat ahli dalam pekerjaannya sebagai hairstylist artis. Nama lengkap Mel-san yang asli adalah Merlinne Adilisia Lamferd Elfinia Slynx, namun karena dia menetap di Jepang, namanya menjadi Akane Mel.

"Len-kun, kerja bagus juga hari ini!" ucap Rui yang tiba-tiba langsung memelukku. Spontan aku segera menghalaunya dengan dua macam alasan. Salah satunya karena Rui memang agak suka memeluk seseorang tiba-tiba, mungkin karena itulah, orang yang disukai Rui jadi merasa agak bimbang ya… sementara separuhnya adalah dengan membuatku mendapatkan sebagasi penuh cokelat yang tidak mungkin kumakan.

Mel-san hanya melihat kebelakang melalui kaca, sebelum memfokuskan pandangannya ke arah jalan, dan langsung menancap gas dengan sangat kuat. Menyebabkan Rui yang memelukku terjatuh, dan secara efektif melepaskanku. Dalam hati aku bersorak kegirangan.

"Mel-neechan kejam!" protes Rui dengan sedikit tangisan buaya.

Mel-san hanya diam membisu, sebelum mulai menyetir lagi dengan kecepatan yang biasa. Aku lupa untuk bilang, bahwa Mel-san tidak bisa berbicara karena beberapa sebab yang aku tidak mau tahu ataupun mencari tahu. Karena pernah sekali aku bertanya, aku menjadi nyaris kehilangan nyawaku sendiri, jadi aku berhenti ingin tahu soal itu.

Tidak ada lagi yang berbicara santai setelah itu kecuali Rui yang membacakan jadwal berbagai macam acara yang harus kudatangi besok. Dia sudah memastikan bahwa aku mendapat waktu bersekolah, tapi tetap saja setelah itu dia berubah menjadi seorang workaholic dengan kemampuan membuat jadwal setan.


Setelah beberapa lama, kami akhirnya sampai di kediaman Akane, yang mirip rumah biasa meski menjadi pemilik dari label musik ternama di Jepan (bohong lho ya). Kebetulan tempatnya juga berseberangan dengan apartemenku, yang terletak tepat di depan rumah mereka. Sebagai manajerku yang baik-tapi-sadisnya-minta-ampun, Rui yang lebih muda dariku 2 tahun, memasuki sekolah yang sama denganku, dan hebatnya lagi sekelas denganku.

"Selamat malam Len-kun!" teriak Rui sambil melambaikan tangannya kuat-kuat. Mel-san hanya melambaikan tangannya dengan sedikit lebih rendah, dan dengan wajah yang sedikit tidak memiliki emosi. Dia selalu tampak terlihat bosan dan pada awalnya aku juga takut padanya, tapi pada akhirnya aku menjadi lebih terbiasa dengan ke-'diam'-annya.

Saat itu, aku jadi ingat, "Ah, Mel-san kau lupa untuk…" belum selesai aku berbicara, Mel-san melemparkan sebuah botol kaleng ke arahku, yang kutangkap dengan sempurna (untungnya) sebelum berjalan ke dalam rumahnya meninggalkan Rui untuk mengatakan pesannya.

"Mel-neechan bilang, 'Lakukan sendiri, kau tahu caranya bukan? Kalau lupa, kau hanya perlu menyemprotkan cat rambut itu ke rambutmu dan jangan sampai kena air,' begitu katanya," ucap Rui yang sepertinya paham betul dengan perkataan Mel-san entah bagaimana. Mungkin itu adalah salah satu keajaiban dari hubungan saudara.

"Terimakasih Mel-san! Hari ini terimakasih atas segala bantuannya!" teriakku.

Aku bisa melihat Mel-san yang mengangguk. Dia lalu menarik Rui untuk segera memasuki rumah. Dan kemudian aku menaiki apartemenku tentunya dengan lift karena kebetulan kamarku ada di lantai 10. Setelah aku sampai, aku membuka pintu dari apartemen, yang bertuliskan "Kagene Rei" itu.

Aku menggunakan nama samaran, dan penampilan samaran sebagai 'Kagene Rei' karena Rui menyuruhku seperti itu agar tidak menarik perhatian, meski di ijasah namaku masih Kagamine Len. Keluarga Rui menyumpal orang-orang sekolah dengan uang yang cukup banyak, dan mereka hanya menurut, karena tahu jangan pernah main-main dengan keluarga Akane. Rui sendiri mengenakan nama samarannya, Akarui Kura, di sekolah, dia juga mengubah penampilannya sedikit, dengan mengikat rambutnya ke atas, dan mengenakan kacamata yang terkesan modern. Toh, dia hanya seorang manajer, atau itulah yang dia selalu katakan.

Aku sendiri tetap seperti biasa, kecuali rambutku yang kucat hitam dengan pewarna rambut temporer, dan mengenakan contact lens berwarna kuning. Satu-satunya orang yang mengetahui kehidupan gandaku sebagai Rei dan Len hanyalah Mikuo. Omong-omong, saudaranya, Miku, juga terjun ke dunia hiburan dibawah perusahaan yang sama denganku, bersama dengan seorang gadis lain bernama Gumi, dan membentuk duo "Greens".

Aku membuka pintu apartemenku dan segera masuk, takut kalau ada yang melihatku disini. Setelah sampai di dalam, aku segera memasuki kamar mandi, mengecat rambutku, dan memakai contact lens, dan dengan sekejap aku berubah menjadi Kagene Rei.

Aku melihat ke arah meja tamuku, dan mengambil sebuah foto lama, yang terdiri atas dua orang anak-anak dengan rambut blond dan terlihat serupa. Tangan mereka bergandengan dengan sangat erat ditengah-tengah padang bunga matahari.

"Rin…" gumamku pelan. Aku jadi mengingat hari dimana kami mengambil foto itu.

-Flashback Start-

"Len! Len! Len! Ayo cepat kemari!" teriak Rin yang memakai rok terusan berwarna putih tanpa lengan dan diganti dengan pita. Dia memakai sebuah topi jerami yang memiliki pita besar berwarna putih.

"Iya, iya, tunggu aku Rin!" jawabku. Aku berlari mengejar Rin dan menangkap tangannya. Lalu Rin mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah kamera digital yang dia simpan sejak tadi.

"Rin, darimana kau mendapatkan benda itu?" tanyaku.

Rin hanya tertawa kecil sebelum menaikkan tangan kami yang sudah terikat dengan kuat. Lalu ia berkata, "Ayo kita ambil beberapa foto!" ucap Rin dengan puppy eyes.

Aku hanya tersenyum dan akhirnya luluh oleh puppy eyes yang diberikan Rin, lalu aku segera memeluk pundak Rin dan menampilkan tangan kami yang berkaitan, sebelum Rin yang tersenyum menaikkan kamera yang dia bawa dan mengambil beberapa foto.

Lalu Rin, segera memelukku sambil berteriak-teriak dengan senang. Wajahku sedikit memerah, dan saat Rin mengetahui bahwa tangannya berada di leherku, wajahnya juga memerah. Dia terlihat sangat cantik dan imut saat itu.

Dengan reflek aku mendekatkan wajahku ke wajah Rin, dan Rin yang sepertinya sedikit kaget, hanya menutup matanya perlahan, membiarkanku melakukan apa yang akan kulakukan. Aku kemudian menutup mataku pula, sebelum melekatkan bibirku dengan bibir Rin. Mengambil ciuman pertama dari Rin.

-Flashback End-

Aku menutup mataku sejenak, dan kemudian mulai menghela nafas panjang, sebelum berpikir, 'Dimana kau sekarang Rin? Apa kau sehat-sehat saja?' pikirku.

Aku meletakkan foto itu kembali pada tempatnya, dan segera memasuki kamarku. Aku kemudian merebahkan diri di tempat tidurku yang berukuran king size, dan sangat empuk. Aku tinggal sendirian di apartemenku, orang tuaku tinggal di tempat yang terpisah, karena itu bisa berbahaya akan keamanan identitasku. Selain itu dengan jadwal setan buatan Rui, akan sangat sulit bagi mereka untuk menemuiku entah dimana saja mereka tinggal.

"Aku ingin bertemu denganmu Rin…" gumamku. Tak lama kemudian, aku pun terlelap dalam alam mimpi.


Rina: Wah, ternyata chapter ini selesai lebih cepat dari yang Rina duga sebelumnya. Yah, gak papa deh, toh ini masih belum saat dimana Rina haru melakukan senam otak untuk membuat chapter baru. Sebagian besar ini adalah hasil editan pula~

Rui: Ara~ tapi tentu saja chapter 3 ke atas akan sangat berbeda karena Rina-san bersungguh-sungguh ingin mengubah cerita dari fanfic ini. Jadi, jangan khawatir kalau mengira ini akan sama seperti cerita lama karena...

Mel: BakAuthor ini tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena itu meski peran Rui masih besar di awal cerita, dia akan menjadi support character dalam kurang dari 5 chapter. Aku mah, seperti biasa seorang hairstylist dan supir di cerita ini. BakAuthor itu bilang cerita ini tidak akan diusahkan menjadi terlalu panjang dan berbelit-belit tapi tetap memiliki panjang setidaknya 15 chapter.

Rina: Tapi tentunya itu bukanlah sesuatu yang bisa dipastikan karena Rina memberi limit 3k words untuk tiap chapter kecuali benar-benar butuh tentunya minus Author Note. Tapi jika sudah di-edit mungkin bisa jadi lebih dari itu. Tapi, ini hanyalah hal2 teknis yang tidak usah dipikirkan oleh para readers Rina baik yang lama maupun yang baru~ Rina hanya ingin kalian menikmati cerita ini dan jangan lupa untuk dengan terus terang mengatakan apa salah Rina dan mengingatkan jika Rina mulai ke arah supernatural! Tapi jangan lupa untuk tetap memberikan Review demi kelancaran cerita ini!