Title: Hurt (Hello Baby!)

Disclaimer: JkRowling.

Pairing: DMHP,

Warning: Slash, Mpreg,

Summary: Draco yang bosan dengan kesehariannya, mengawali harinya dengan membaca the Daily Prophet dengan headline 'Harry Potter, The-Boy-Who-Pregnant' terkejut, sekaligus tertarik untuk mencari siapa 'ayah' dari anaknya tersebut walaupun di Koran menyebutkan Ron Weasley.


Chapter 2: White robes, Pale Face and Straw Crepes

...

"Healer Robinson?"

"Ya, Healer Steward?"

"Bisa kita bicara sebentar, ada sesuatu yang perlu aku tanyakan?"

"Apakah ada hubungannya antara bagian Obstetri dengan bagian Accident Magic-Unit?"

Draco terhenti sebentar ketika ia secara tidak sengaja mendengar Healer Steward (Penanggung Jawabnya sebagai Trainer di St. Mungo) masuk kebagian Obstetri. Setiap calon Healer yang masuk Program Training di St. Mungo Hospital memang perlu memperlajari berbagai macam dasar penyakit dan cara menyembuhkannya.

Sebenarnya Draco lebih tertarik dalam bagian Preventive and Restorative of Impact on Dark Magic-Unit (DMU). Walaupun saat ini ia sedang di latih oleh bagian Obstetri-Magical Creature Unit, jadi tidak hanya mengatasi para penyihir tapi termasuk penyihir yang memiliki darah campuran di tubuhnya seperti Hagrid atau Maxima yang setengah Giant dan Fleur Weasley yang setengah Veela.

Ia menghembuskan napasnya karena tahu sebenarnya ia tidak boleh menguping. Healer Steward meliriknya, dan Draco sedikit menunduk padanya sebagai ganti dari sapaan. Sesaat sebelum Draco keluar dari ruangan OMC-Unit. Tiba-tiba Healer Steward memanggilnya.

"Mr. Malfoy!"

Healer Robinson melirik keduanya, ia tahu Healer Steward penanggung jawab Mr. Malfoy, karena memang hanya Healer Steward dan Healer Stella yang mau menerima Malfoy diawal-awal tahun. Walaupun saat ini sebagian besar Healer dan Mediwizard sudah menerima Draco, kepandaian dan kecakapannya dalam menangani masalah atau menerima pelajaran membuat para Healer di St. Mungo kagum. Apalagi kalau sudah menyangkut Dark Art, Draco sangat tanggap dan bahkan ada beberapa hal yang tidak diketahui oleh para Healer pada umumnya. Sayangnya bagian DM-U belum mempercayainya.

"Ya, Healer Steward… ada yang bisa ku bantu?" Sebenarnya ia tidak sedang senggang tapi ia juga tidak sedang mengerjakan tugas yang mendesak, hanya melihat beberapa kasus kelahiran hampir cacat dan diminta membuat analisisnya.

Healer Steward melirik Healer Robinson yang akhirnya mengangkat pundaknya.

"Aku perlu bantuanmu, selain karena kau sepertinya cocok dalam kasus ini, kau juga seorang Malfoy. Jadi, kurasa kalau itu kau… kasus ini akan lebih aman?"

Kasus apa yang aman diserahkan kepada Malfoy? Bukankah hal ini terdengar aneh, baru pertama kali ini Draco dipercaya hanya karena nama Malfoy-nya bukan karena kredibilitasnya.

"Yah, menurutku juga demikian, melihat sejarah nama Malfoy…" sambung Healer Robinson.

Healer Steward menatap lekat Draco, "Tapi sebelum dirimu kami libatkan Mr. Malfoy, kau harus bersedia untuk melakukan Unbreakable Vow, karena kau belum di sumpah menjadi Healer jadi mau tidak mau kau harus melakukan hal itu. Demi kerahasiaan pasien penting kami."

Draco berpikir sejenak, dan tanpa ia sadari kepalanya mengangguk. Pasien penting? Sepertinya seseorang yang berkuasa…mungkinkah itu ada hubungannya dengan apa yang tertulis di Daily Prophet akhir-akhir ini?

"Saya sanggup Healer Steward."

Healer yang berambut hitam kecoklatan itu tersenyum, dan matanya seperti melihat harapan yang hampir musnah, "Baiklah Mr. Malfoy." Lalu ia mengayunkan tongkatnya dan memasang Silencing Charm pada ruangan itu. Kasus yang ditangani pasti kasus yang benar-benar penting dan mendesak.

Mereka (Healer Steward dan Draco) melilitkan tangannya dan Healer Robinson yang mengikatkan janji diantara mereka. Setelah Unbreakable Vow selesai, wajah santai Healer Steward berubah menjadi sangat kaku dan tegang. Ia yang duduk dihadapan Draco membuatnya ikut-ikutan tegang.

"Kau tahu, kabar burung kehamilan Mr. Potter?"

Draco mengangguk, ia tahu itu hanya gossip karena setelah ia bersusah payah mencari 'sumber'nya pun tidak ia temukan. Bahkan di Daily Prophet pun seakan-akan tidak mengetahui secara pasti siapa yang memberikan info tersebut. Analisisnya menyatakan kalau ini ada hubungannya dengan Memory Charm.

"Salah seorang murid Program Training St. Mungo, secara tidak sengaja menaruh Hearing Charm pada gelas kopi yang sengaja di berikannya pada Mr. Potter. Gadis ini adalah pengagum Mr. Potter sejak ia membunuh Voldemort. Rasa penasaran dan khawatir akan keadaan Mr. Potter membuatnya melakukan hal yang menghancurkan Secrecy Bill yang dibuat di St. Mungo. Yah…tapi sekarang gadis itu telah dihilangkan ingatannya terkait apa yang diketahuinya…"

"Lalu apa hubungannya dengan kehamilan Mr. Potter kalau itu hanya dibuat-buat…" mendengar perkataan Draco ini Healer Steward berdehem, "Jangan-jangan Mr. Potter benar-benar ha-ha-hamil?" Draco sampai terbata saking terkejutnya.

Healer Steward mengangguk, "Sepertinya iya, karena Healer Robinson dan Healer Erlen pun berpendapat kalau Mr. Potter hamil."

"Ba-bagaimana bisa? Apakah mungkin Mr. Potter adalah hermaphrodite?" ia kaget…karena Potter di dunia itu hanya ada satu Harry Potter. Rivalnya saat ia bersekolah di Hogwarts tiga tahun lalu. Sudah hampir tiga tahun ia tidak bertemu dengan Potter, terakhir kali adalah saat ia mendapatkan tongkat sihirnya kembali, dan setelah itu…ia hanya melihat Potter melalui surat kabar saja.

"Kupikir awalnya begitu, tapi tidak. Janin yang dikandungnya berasal dari dua-orang tua, artinya ada orang lain lagi dan berita buruknya adalah ada sisa Dark Ancient Magic menurut Healer Erlen. Bahkan Healer sendiri ragu, karena itu jenis sihir yang benar-benar sudah sangat tua. Jarang sekali ada teks buku sihir kuno yang membahas mengenai kutukan yang membuat hamil seorang laki-laki."

"Awalnya kami pikir itu reverse pregnance, jadi kau menghamili seorang perempuan tapi karena ada kutukan atau sihir itu, maka kehamilan itu berbalik kepada pihak laki-laki. Orang kuno dulu sering kali melakukan hal ini pada istri yang sakit dan sudah tidak sanggup melahirkan." Kata Healer Robinson.

"Tapi ternyata bukan…karena kutukan yang ada pada Mr. Potter jauh lebih kuat dan kuno dari itu."

"Kutukan yang sangat kuno?"

"Iya…mungkin kau pernah mendengarnya Mr. Malfoy? Atau setidaknya tahu ada seseorang yang mengutuk Mr. Potter dengan kutukan mengerikan itu?"

"Tidak…tapi kenapa kutukan kuno itu mengerikan? Apakah Potter akan melahirkan bayi yang cacat? Atau mungkin Dangerous-Magical-Creature? Atau…kah akan mati karena bayi tersebut memakan 'hidup' Mr. Potter?"

Healer Steward malah tertawa mendengar hal ini, "Aku tidak tahu ada yang seperti itu, Mr. Malfoy. Kau benar-benar mengejutkan. Bukan-bukan hal itu, tapi yang mengerikan adalah anak dari Mr. Potter memiliki 'ayah' lainnya."

Eh?

"Sayangnya, ketika aku mengintip memory-nya tidak sedikit pun terdapat petunjuk mengenai bagaimana caranya janin dalam kandungannya berasal dari dua DNA yang berbeda…"

"Maaf…apa itu D-DNA…?" tanya Malfoy kebingungan, karena dalam istilah kedokteran sihir manapun ia belum pernah mendengar kata DNA

"Oh, DNA… Deoxyribonucleic acid; kau pasti tidak pernah belajar tentang dunia muggle…yah, wajar sih…mengingat namamu." Kata Healer Robinson yang sedikit menyinggung Draco, tapi setelah dua tahun berada di St. Mungo ia sudah terbiasa disindir seperti itu. "Setiap orang memiliki DNA yang berbeda dan cenderung memiliki kecocokan ketika dianalisis dengan DNA kedua orang tuanya. Muggle menggunakan tes DNA ini untuk menentukan siapa orang tua si bayi. Namun kita tidak perlu menggunakan tes ini, kita bisa tahu dari Magical Signature yang dimiliki si bayi."

"Iya…bayi itu sangat kuat… entah karena Mr. Potter itu sendiri secara pribadi memiliki kekuatan sihir yang mengagumkan atau memang ayah lainnya memang memiliki sihir yang juga kuat." Tambah Healer Steward.

"Kenapa kita tidak mencari ayahnya dengan menghubungkan Magical Signature milik bayi dengan milik ayahnya itu?" tanya Draco.

"Hal ini sulit dan hampir mustahil…bahkan menggunakan tes DNA dengan mengambil seluruh sample DNA yang dimiliki oleh para penyihir, sayang kita tidak punya alatnya jadi kita tidak bisa mengambil satu persatu rambut penyihir yang ada di dunia ini dan mencobanya di Lab Muggle. Lalu Magical Signature si bayi dalam bentuk janin sekuat apapun itu, akan sulit dipisahkan dari Magical Signature ayahnya, apalagi Mr. Potter sangatlah kuat, dan ditambah kita harus menguji satu persatu Magical Signature janin itu dengan memeriksanya bersamaan dengan Mr. Potter…kurasa Mr. Potter lebih suka menjadi Single-dad daripada dunia tahu ia sedang hamil."

"Lalu….apa tugas saya? Kenapa harus seorang Malfoy?"

Wajah Healer Steward benar-benar menjadi keras, "Ini permintaan dari Healer Erlen, untuk melibatkanmu, mungkin lebih tepatnya mengujimu. Ia ingin tahu apakah kau benar-benar akan mendedikasikan hidupmu dengan menjadi seorang healer bukan karena hal lain. Lalu…" ia menghembuskan napasnya, "Harus kami akui, kau tahu banyak tentang Dark Art, dan Ancient Dark Magic, serta dengan kepandaianmu itu…kurasa kau bisa membantu Mr. Potter….lagi pula, siapa yang akan berpikir kalau seorang Malfoy membantu seorang Potter yang kemungkinan mengandung anak Weasley?"

"Bukankah sudah kukatakan kalau itu bukan anak Weasley…" kata Healer Robinson, "Kau melihatnya sendiri kan? Magical Signature mereka berdua benar-benar berbeda jauh tanpa kesulitan yang berarti, kita bisa melihatnya secara langsung sekalipun tanpa memisahkan Magical Signature antara Potter dan janinnya."

"Iya… aku hanya sedikit terselip." Kata Healer Steward simpel.

"Kalau kau terselip saat mengobati pasienmu…kau akan mencelakakan orang Healer Steward."

Steward tersenyum, "Terimakasih, tapi sayangnya aku tidak pernah terselip saat mengobati orang lain…" lalu menatap Draco, "Bagaimana Mr. Malfoy?"

"Erm…hal apa yang harus saya bantu?"

"Karena kau sudah bersama denganku di tiga bulan terakhir ini, kurasa kau sudah mengerti cara Mediwizard atau Healer melakukan Assisted-Pregnance? Kau akan ditugaskan untuk membantu kehamilan Mr. Potter sekaligus akan mendapat lisensi untuk bimbingan Healer Erlen di Dark Magic Unit."

Draco senang sekali mendengar hal ini, setali tiga uang, ia bisa melanjutkan 'game detektif'-nya yang sempat terhenti karena tidak mendapatkan clue sama sekali dan mendapatkan lisensi bimbingan Healer Erlen!

"Baik, Healer Steward, saya bersedia…berapa lama kehamilan laki-laki itu?"

Healer Robinson berdehem, "Itu pun menjadi salah satu hal yang harus kau analisis, berdasarkan kecepatan perkembangan janin."

Draco merasa wajahnya menjadi pucat…itu artinya ia akan membantu Potty dalam menjaga kehamilan hingga melahirkan, sampai dengan membuatkan diet makanan untuknya. Merlin! Kalau Healer yang berpengalaman saja tidak tahu, apa mungkin dirinya bisa mengetahui sihir macam apa yang ada pada Potter, tapi bukan seorang Malfoy kalau ia tidak mampu melewati batas ekspektasi orang lain. Semenjak ia ada di St. Mungo, ia selalu dengan mudah melewati 'ekspektasi' para Healer disana dengan kerja kerasnya, berbeda saat ia di Hogwarts…karena Trio Golden Boy kurang ajar itu bahkan diluar hal yang disebut 'ekspektasi'. Seseorang tidak bisa ber-ekspektasi mengenai kekuatan mereka.

Dan ia sekali lagi, dalam hidupnya harus masuk kedalam lingkaran ketiganya.

"Baik, Healer Steward dan Healer Robinson, saya akan menjadi Assisted-Pregnance Healer, walaupun saya bukan Healer itu sendiri." Katanya dengan mantap.

"Jangan lupa berikan laporan dan hasil analisis pada kami setiap hari." Kata Healer Robinson, "Kau akan dibebaskan dari laporan harian di St. Mungo dan kau tetap bisa memasuki training setiap hari, lalu…kau akan mendapatkan akses bebas Restriction-section di perpustakaan DM-U dan OMC-U."

Wajah Draco berubah menjadi sumpringah, ia memang perlu banyak buku lainnya yang sulit di dapatkan. "Saya menyanggupinya, dan kapan bisa saya mulai?"

"Hari ini kalau kau sanggup?" tanya Healer Steward.

"Kalau begitu besok pagi saya akan mengunjungi Mr. Potter."

Healer Steward memberikan secarik kertas, "Ini alamatnya, kertas itu akan lenyap sesaat kau membacanya keseluruhan, jadi harus kau ingat baik-baik."

"Baik, Healer Steward dan Healer Robinson, saya mau menyiapkan bahan yang harus saya gunakan untuk hari pertama."

Kedua Healer senior itu melihat Draco keluar dari Obstetri-Magical Creature Unit. Healer Robinson melirik rekan kerjanya itu.

"Kau tidak mengatakan alasan lain mengapa kau tidak bisa membantu Mr. Potter pada anak muda itu?" tanya Healer Robinson, usia keduanya memang berada pada kepala empat dan hampir lima, sudah bukan usia yang cukup dikatakan muda lagi.

"Ah, aku lupa."

"Dan lupamu itu juga benar-benar membahayakan orang lain, Healer Steward." Lalu menghembuskan napasnya, "Iya…kurasa begitu…amarah Mr. Potter dua minggu yang lalu pun karena 'terselip'mu itu kan?"

"Iya…dan aku tidak berani menghubunginya saat ini" Steward terhenti karena mengingat apa yang terjadi dua minggu lalu, "Ia…saat marah…sangat mengerikan."

"Mr. Potter sedang hamil dan sangat sensitif, Steward."

"Andaikan aku tahu…perkataan apa yang harus ku hindari."

"Sekalipun kau tahu, kau akan tetap terselip."

"Mungkin…hish…aku hanya berharap Mr. Malfoy tidak mengatakan apapun terhadap Mr. Potter."

"Kalau tidak kau akan kehilangan satu tanggung jawab Steward."

"Hm…sayang sekali, padahal Mr. Malfoy adalah calon Healer yang baik dan pekerja keras, walau kau tidak akan menyangka dari wajahnya yang manja."

"Kau seperti yakin kalau Mr. Malfoy akan gagal membantu Mr. Potter."

"Ah, aku terselip."

...

Malfoy tidak bodoh, seorang Malfoy tidak bodoh. Kalau pun ia terlihat bodoh berarti kau sedang dibodohi karena ia jenius, karena ia cerdas, karena ia pintar dan diatas segalanya karena ia Slytherin, si licik dan si haus kekuasaan. Yep, begitu pula Draco Lucius Malfoy. Berdiri dengan 'gaun putihnya' bertuliskan Malfoy, yang dibawahnya terpampang 'Healer-Trainee' berwarna merah disamping kata 'St. Mungo'.

Dihadapan pintu yang tidak besar juga tidak kecil, terbuat dari pohon mahoni yang kuat…sejak kapan Malfoy tahu pepohonan? –lupakan- , pintu yang berwarna hitam dan kuat, dikelilingi tembok yang berwarna kecoklatan, lantainya terbuat kayu. Godric Hollow, ia baru tahu Potter ada disini? Kenapa tidak ada seorangpun yang sadar kalau Potter ada disini?

Ia membunyikan bel, beruntunglah ada jas St. Mungo yang telah diberi charm oleh Healer Steward. Charm yang akan dikenali langsung oleh dinding sihir yang sangat kuat ini. dinding yang kuat akan menunjukkan sekuat apa pemilik rumah ini, dan Malfoy tidak pernah tersesat, karena ia tahu rumah ini sungguh milik si rambut hitam itu. Ia berkali-kali memencet bel, dan kesal. Kenapa Healer Steward tidak meminta koneksi floo saja! Draco melirik jas putihnya, mungkin karena Healer aneh itu tidak mau jas putihnya kotor –begitu juga dengan dirinya-.

Ting tong….

Setelah sekian kalinya, baru terdengar bunyi pintu dibukakan, seseorang yang berambut coklat seperti warna madu keluar dari rumah itu.

"Molly, kukira kau akan datang seteng-"…laki-laki bermata hijau dan berkacamata itu terdiam. Ia masih menggunakan piyamanya dibalik sweeter yang tebal, maklum ini masih musim dingin, kulitnya sedikit kecoklatan, dan ia mengubah sedikit bentuk rahangnya.

Sekali lagi, seorang Malfoy tidak lah bodoh. Walaupun Potter menggunakan charm yang membentuknya menyerupai kucing sekalipun, ia akan tahu langsung kalau itu Potter. Kalau ditanya 'kenapa'? jawabannya tentu karena ia seorang Malfoy, dan Potter akan bertindak bodoh seperti Potter.

"Selamat pagi, Mr. Potter." Laki-laki itu tersenyum, "Lama tidak berjumpa denganmu."

Malfoy menyeringai saat, mata kehijauan Harry terbelalak. Ia sudah bersusah payah mengubah penampilannya seperti ini, tapi rival yang selalu mampu membuat darahnya mendidih itu selalu mampu mengenali itu dia. Bagaimana caranya ia tahu? Apakah ada sesuatu dibalik jas putihnya itu! Kenapa juga ia menggunakan jas itu! Ia akan membuat perhitungan dengan Healer Steward atas apa yang ia perbuat dengan memunculkan si pirang kurang ajar ini.

Harry tiba-tiba menjadi geram, "Apa yang kau lakukan disini, Malfoy!"

Draco memiringkan sedikit kepalanya, "Hm…kau tidak mencoba membohongiku, seperti kau mengubah penampilanmu, Mr. Potter?"

"Apa itu perlu?" jawabnya ketus.

"Tidak, tidak perlu…" ia terdiam sebentar, karena Potter tidak juga menyuruhnya masuk, ia sedang mengusap-usap perutnya, "Apakah Healer Steward tidak mengatakan hal apapun aku akan datang kemari?"

Harry menatapnya, rasanya aneh. Ada perasaan kecil yang muncul entah dari mana, dan mualnya pun hilang. Ia mengusap-usap perutnya dan berharap janinnya baik-baik saja.

"Tidak, tidak ada pemberitahuan apa-" dan dari dalam tiba-tiba Kreacher muncul, "Ada apa?"

"Mr. Harry, Sir, Mr. Steward ingin berbicara melalui floo," kemudian ia melirik kearah tamu mereka, "dan katanya kalau Mr. Malfoy sudah datang persilakan ia masuk, Sir. Nanti akan Mr. Steward jelaskan."

"Apa?" Harry sedikit kesal mengingat apa yang terjadi dua minggu lalu. Sebenarnya sepele, tapi entah kenapa rasanya ia sangat kesal. Ron pun pernah melakukan kesalahan itu, tapi Ron berbeda dari Steward! Merlin's sake, Sterward itu dokter dan…dan…

"Kau harus membolehkan aku masuk, Potter! Apa kau semakin bebal?" kata Draco sedikit kurang sabaran, dan Harry menatapnya dengan tajam.

"Ini rumahku!"

"Dan aku assisten kehamilanmu..."

"Jangan membual, Malfoy! Lebih baik kau pergi sebelum aku mengutukmu!" kata Harry lalu mengacungkan tongkatnya pada Malfoy, Kreacher hanya terdiam dan tidak peduli dengan keduanya.

"Aku akan mengatakan kalau kau hamil keseluruh dunia, Potter!"

"Lakukan itu! Dan kau tidak akan pernah memiliki anak seumur hidupmu!" ancamnya kesal, entah kenapa sifatnya makin kekanakan, termasuk ancamannya juga.

"Uhu… aku memang tidak akan pernah mengandung, Mr. Potter the Boy-who-Pregnant!"

Harry tanpa ragu melemparkan kutukan pada Malfoy, dan langsung ditangkis dengan mudahnya. Malfoy lalu membuat shielding charm disekitarnya, dan perlahan-lahan ia mundur kebelakang, hampir saja ke jalanan umum depan rumah Potter. Ia tidak bisa menyerang Harry, seberapa besar pun keinginannya, ia harus mengingat kalau Harry saat ini adalah pasiennya.

"Hentikan, Potter! Aku kemari untuk membantumu!" bentaknya, dan Harry tidak juga menghentikan serangannya, ia tidak maju dari depan pintunya, karena memang tidak perlu, "Siaaaalll!" umpat Malfoy.

Asam naik ketenggorokan.

*Hueeeekkkk*

Harry tiba-tiba memuntahkan kembali coklat keduanya. Ia sulit sekali memakan sesuatu dipagi hari, dan kalaupun ia paksa ia akan memuntahkan kembali isi perutnya. Tapi mualnya ini semakin lama semakin parah, dan tidak hanya dipagi hari, tapi siang, bahkan malampun ia sering mual. Harusnya ini yang disebut dengan morning sickness! Kalau begini kehamilannya ini seperti membunuhnya perlahan!

Mata hijau yang melemas, dan tubuh rivalnya yang sudah dilantai, sepertinya Harry membisikkan sesuatu pada Kreacher, dan elf itu entah pergi kemana. Entah kenapa Draco panik, sedikit panik maksudnya. Ia mengangkat tongkatnya, dan Harry tidak juga berhenti menunjukkan gerakan seperti orang yang mau muntah, walaupun pada kenyataannya ia tidak muntah. Ia mengayunkan tongkatnya dan Harry terdiam sesaat. Rasa mualnya terhenti.

Ia menatap Malfoy, dan berusaha untuk bangkit. Rivalnya itu tidak juga mendekatinya. Ia masih jauh berada ditengah jalanan umum. Kreacher muncul dan membawakannya handuk serta air putih, ia mengambilnya dan mengusap-usap mulutnya. Lalu ia membersihkan lantai serta bajunya yang terkena muntahan dengan cleaning charm.

"Apa yang kau lakukan Malfoy?"

"Refreshing Charm, mantra sederhana untuk menghilangkan rasa mualmu." Saat Draco mulai melangkahkan kakinya, Harry menghentikannya.

"Sudah cukup Malfoy, kau sudah membantu kehamilanku! Aku akan belajar tentang refreshing charm, jadi kau pergilah!" Harry mengayunkan tongkatnya dan dalam sekejap ia mampu menggunakan refreshing charm. Ingat, Harry Potter tetap seorang Harry Potter walaupun ia sedang mengandung, "Lihat? Aku sudah bisa menggunakannya."

Malfoy berdecak, seorang Potter memang anggota Trio Golden Boy dan selalu mampu melewati ekspektasi orang lain. "Hm…tapi kau perlu mantra lainnya, Mr. Potter dan kau perlu seorang Healer."

"Lalu? Kau seorang Trainee Mr. Malfoy! Lihat tulisan dibawah namamu! Aku rabun, tidak buta!" katanya sewot.

"Aku tidak pernah mengatakan kalau kau buta Mr. Potter!"

"Aku tidak peduli! Pergi kau!"

"Mr. Pot-"

"Pergi!"

Malfoy menghembuskan napasnya, dan mengambil satu langkah kedepan. Ia sudah menyangka kalau ini akan terjadi, tapi Potter benar-benar kekanakan! Hamil membuat otaknya semakin kekanakan!

"Baiklah, Mr. Potter! Tapi aku akan dat-" Saat Malfoy perlahan melangkah pergi, Harry kembali mual dan memuntahkan apa yang bisa dimuntahkannya.

"Mr. Potter…" panggil Kreacher yang belum pergi dari sisinya.

Harry tidak bergeming, perutnya sakit sekali, tolong…! Seseorang tolong! Perutku! Janinku! Bayiku! Ia mulai khawatir, sudah dua minggu lebih ia tidak menemui Healer, mungkin terjadi sesuatu dengan janinnya, anaknya …seseorang yang akan lahir dan memiliki darah yang sama dengannya.

Keluarganya satu-satunya.

Ia menggenggam erat sweeternya, rasa mualnya perlahan hilang. Tapi rasa sakit diperutnya tak kunjung hilang juga. Seseorang memegang tangannya dan membantunya berdiri, saat ia tidak mampu berdiri. Orang itu…mendekapnya dan menuntunnya untuk masuk ke dalam.

Orang itu terhenti dan bertanya, "Kau tidak mau masuk, erm…Mr. Malfoy?"

Malfoy sedikit terkejut melihat betapa kesakitannya Potter. Ia pernah melihat rivalnya itu tersiksa atau kesakitan, itu bukan hal yang asing baginya. Namun, saat ini…rasanya Potter tidak berdaya dengan rasa sakitnya itu. Rasanya ada sesuatu yang berbeda dan menggelitik dipikirannya. Melihat Potter begitu lemah dihadapannya dan didekap erat oleh…oleh…seseorang, lainnya. Bukan Granger, Bukan Weasley, dan Bukan diri-

'f*ck, apa yang aku pikirkan! Katanya lirih.

"Mr. Malfoy? Ah! Aku lihat ada sesuatu melingkupimu, tapi aku yakin itu bukan wackspurts, jadi masuklah Mr. Malfoy…" ia melirik ke Harry yang ada di pundaknya, "Aku pikir Harry mulai, merintih lagi…kau seorang Healer kan? Erm…kalau aku lihat dari pakaianmu…"

Harry kembali menggeliat kesakitan, dan Draco bergegas mendekatinya, mengambil tangannya yang melingkupi gadis aneh dihadapannya itu. Sesaat kemudian ia menggendong Potter (FYI: bridal style..hooho) dan dengan petunjuk gadis aneh berambut pirang, membawanya ke tempat tidurnya. Ia terlihat tenang sesaat Draco merebahkannya di atas kasur, dan ketika ia akan beranjak untuk pergi, tangan Harry sudah menggenggam jas putih bertuliskan St. Mungo yang dikenakan Draco.

"Sepertinya, ia butuh dirimu…" kata seseorang dengan nada ingin mencari tahu akan suatu rahasia.

Draco melirik Potter dan mendengus, "Aku adalah manusia terakhir di planet ini yang akan ia pinta untuk bantu."

"Aku tidak sepakat, Mr. Malfoy…" gadis itu memutar-mutar kalung aneh yang ia kenakan. Draco tahu, dari dulu memang ada yang aneh dengan gadis ini. siapa pula nama gadis aneh yang sering kali bersama Potter saat mereka di tahun kelima? Atau keenam? Terserah.

"Kita memang tidak perlu sepakat…kau…? namamu?"

"Oh, maaf Mr. Malfoy…" ia menunduk sedikit, "Perkenalkan namaku Luna Lovegood, kau tidak perlu memperkenalkan dirimu Mr. Malfoy…atau Draco?"

"Cukup dengan Malfoy."

"Baik Mr. Malfoy."

Suasana hening sesaat, Draco melirik dan mencoba membebaskan dirinya dari Potter, sial Potter menggenggam jasnya sangat erat dan wajahnya itu…wajahnya telah kembali seperti semula, seperti Harry Potter yang ia sering lihat di Koran-koran. Wajahnya yang sangat tenang, dan kerutan seperti orang kelelahannya perlahan hilang. Draco menghembuskan napasnya, hari ini sepertinya akan sangat melelahkan, belum ada satu jam ia ada di rumah Potter, tapi ia merasa seperti berlari setengah jam tanpa henti.

Lovegood sudah duduk disisi jendela dan menatap keluar. Sepertinya ia melihat sesuatu yang gaib, dan bisa membuatnya tersenyum sendiri. Draco yang baru calon Healer saja tahu, ada masalah dikepalanya. Tiba-tiba gadis itu menatapnya dan Draco sedikit terkejut.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kesehatanku Mr. Malfoy, aku baik-baik saja…aku hanya sedikit kebingungan kenapa Oregel suka sekali berbicara dengan Nargel." Gadis itu mengatakannya sambil memutar-mutar kepangan rambut pirangnya. "Apa kau tahu alasannya Mr. Malfoy?"

Draco menatapnya, ia tidak habis pikir kenapa Harry bisa berteman dengan gadis abstrak seperti ini, "Tidak, aku tidak tahu…"

Gadis dihadapannya itu berdiri, "Kurasa ini sudah waktunya aku pergi…"

'Iya, pergilah yang jauh.' Pikir Draco, "Hm…"

"Katakan pada Harry, kalau Molly tidak jadi kemari…makanya aku yang kemari."

Draco berusaha mengingat siapa itu Molly.

"Weasley, ia ibunya Weasley…"

"Lalu untuk apa kau kemari?" kata Draco menahan untuk memutar bola matanya.

"Harry suka sekali memuntahkan makannya akhir-akhir ini. Hermione sedang sibuk dikementerian, ada sedikit masalah, Ron juga…dan Ginny…" Draco sedikit tertegun saat nama kekasih Potter itu disebutkan, "Ia juga sibuk, lalu aku kemari untuk memastikan ia memakan makanannya."

"Apa yang biasa kau lakukan agar ia tidak memuntahkan makanannya?" tanya Malfoy penasaran dengan hal medis dan melupakan hubungan Potter-Weasley. Ia sudah tahu, anak yang dikandung Potter adalah anak hasil hubungan antara laki-laki dengan laki-laki. Itu artinya Potter gay…erm…mungkin pula ada yang mengutuknya. Rasanya ada yang aneh…tapi sudahlah…

"Mengusap-usap punggungnya sambil menceritakan harimu atau cerita lucu lainnya."

Draco melirik gadis yang sedang menepuk-nepuk rok selututnya yang berwarna krem, sepadan dengan warna rambut pirang dan blus putihnya.

"Kau tahu siapa ayah dari anaknya, Mrs. Lovegood?"

"Uhm? Bukankah jelas anak itu milik Harry?"

Draco menghembuskan napasnya, dan ia sungguh ceroboh.

"Sudah lupakan." Katanya sewot dengan tingkah lakunya sendiri.

"Kau tidak percaya kalau ayah anak ini bukan Ron, Mr. Malfoy?" selidiknya,

"Tentu bukan Weasel, Mrs. Lovegood."

"Kenapa kau yakin sekali? Apakah jackspurts memberitahumu?"

Alis mata kanan Draco sedikit naik, ia sebenarnya penasaran apa itu Jackspurts, Wackspurts, Oregel, dan Nargel…tapi biarlah mungkin teman gadis ini dari dunia lain.

"Potter dengan Weasel? Jangan bercanda, mereka menjijikan."

"Kau terlihat benci sekali?"

"Bukan benci tapi jijik."

"Ok…"

..Suasana kembali hening dan Luna sudah duduk kembali…

"Jadi, anak Harry memiliki ayah lainnya ya…" gumamnya.

"Hm…"

"Aku tahu…walaupun Hermione dan Neville yakin sekali kalau Harry itu Hermaphrodite."

"Kau tahu?" telisik Draco, mungkin gadis ini tahu siapa ayahnya yang lain.

Luna mengangguk,

"Siapa ayahnya?"

"Entahlah…Jackspurts hanya memberitahuku kalau anak ini memiliki orangtua lainnya."

Draco ingin sekali tahu siapa itu Jackspurts, lalu Ia akan mengutuk entah apa itu sampai wujudnya tidak akan pernah kembali seperti semula.

"…"

"Kenapa kau ingin tahu siapa ayahnya?" tanya Luna tanpa menatap Draco.

"Aku hanya ingin tahu."

"Mungkin kah kau ingin tahu, karena kau sesungguhnya sudah tahu dan ingin memastikan 'pengetahuanmu' itu tepat?"

"Aku-tidak-tahu." Kata Draco perlahan dengan kesal.

"Lalu kenapa kau ingin tahu?"

"…"

Tidak hanya Jackspurts, Wackspurts, atau apalah itu yang ada di dunianya! Ia ingin sekali melenyapkan gadis yang ada dihadapannya ini. gadis yang ia lihat sedang meneliti kukunya dan tiba-tiba bangkit.

"Ah, aku harus, pergi." Katanya lalu menengok ke langit.

Draco tak habis pikir dengan otak gadis ini, "Lebih cepat lebih baik!"

"Ah…" gadis itu tersenyum, "Ternyata Mr. Malfoy ingin berduaan saja dengan Harry. Aku tidak tahu kalau Mr. Malfoy begitu perhatian dengan Harry…"

"Aku tidak perhatian dengan Potter! Aku hanya Healer!" katanya kesal, sial! sial! rasanya panas sekali!

"Wajahmu memerah."

"Ini karena aku marah karena kau mengatakan hal yang non-sense!"

"Aku tidak mengatakan kalau kau malu?" katanya simple.

Seorang Malfoy tidak akan malu hanya karena seorang Potter! Sial! tidak! Tidak mungkin! Cuaca kali ini panas sekali!

'Ctaaaaarrrrr…'

Gadis itu tersenyum kembali, "Sepertinya aku perlu payung, tapi sudahlah…"

'iya pergilah'

"Aku permisi dulu, Mr. Malfoy…dan jangan lu-"

"Iya..iya-iya!"

Luna mulai melangkah keluar kamar dan menuju keperapian, ia akan pergi dengan floo dan langsung menuju ke rumahnya. Sebelum itu, ia berbalik, "Ah…Mr. Malfoy.."

'mau apa lagi kau!', Draco hanya meliriknya.

"Mungkin kah kalau kau ayahnya?"

"Ayah siapa?"

"Ayah anak yang dikandung, Harry?"

"Apa?...Mustahil!"

Gadis itu mengangkat bahunya, "Entahlah, Winny yang memberitahukannya padaku."

Draco kali ini benar-benar akan melenyapkan gadis itu. Ia menggaruk rambutnya yang sangat rapi, dan sedetik kemudian ia menyesalinya. Saat ia mengangkat kepalanya gadis aneh itu sudah tidak ada dihadapannya.

Ayah dari anak Potter? Anak Potter! Mustahil!

Kalau ia bisa menghamili Potter dari rasa bencinya, mungkin Potter sudah memiliki (Draco terhenti untuk menghitung sebentar), memiliki 9 anak dan ini anak ke-10-nya. Ia terkekeh sendiri, aneh sekali! Ia melirik Harry yang masih tertidur dengan lelapnya. Aku dan Potter memiliki anak, anak kami, itu artinya kami akan jadi keluarga? Harry James Malfoy, ya…ampun! Menggelikan!

Malfoy tak hentinya tertawa sampai mata yang berwarna hijau membuka matanya.

"Urm…Malfoy?"

Draco melirik kearah bawah, 'oh, f*ck!' karena kali ini tanpa ia sadari tangannya yang berusaha melepaskan genggaman tangan Harry, sudah menggenggam tangan laki-laki yang lebih pendek darinya itu.

"Kau kenapa Healer Steward?"

"Ah, Healer Robinson?" ia kembali menatap kopi didepannya, "Aku hanya khawatir, Mr. Potter tidak menjawab floo-ku dan Mr. Malfoy belum kembali juga."

"Mungkin ia tidak akan pernah kembali?"

"Itu maumu!"

"Tidak…aku juga sedikit khawatir."

"Hm…baik sekali dirimu."

"Aku memang baik."

-o0o-

"Harry?"

Ia menatap seseorang yang sudah lama hilang dari hidupnya, tapi tidak pernah sedikit pun ia melupakannya. Orang yang disayanginya melebihi apapun dan telah membuatnya hampir membunuh seseorang. Orang yang pernah membuatnya menjadi seseorang yang sangat bahagia, dengan impiannya, dengan impian mereka. Orang yang sudah lama ia cari. Orang yang sama, ada didepannya.

"Harry?" suaranya bergetar, ia memanggilnya sekali lagi untuk memastikan kalau orang yang ada dihadapannya ini memang benar-benar Harry, Harry yang pernah menjadi miliknya.

Mata hijaunya terbelalak, napasnya tersengal, "Dr-Mr. Malfoy?" katanya berusaha menenangkan suaranya, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Dra-Malfoy di tempat seperti ini? siapa yang akan menyangka kalau kau mencari seorang anak kecil dan menemukan seseorang yang paling tidak ingin kau temui.

Sesaat ia tahu kalau Malfoy kecewa dengan apa yang ia katakan, dan ia terkejut saat laki-laki dihadapannya itu tersenyum, tersenyum..senyum yang sangat menyedihkan. Hatinya, entah hatinya yang bagian yang mana tapi rasanya pun sedikit sakit.

"Maaf karena telah lancang Mr. Potter." Kata Draco dengan sopan.

Harry membuang pandangannya, "Tidak-tidak…itu…" yang disela oleh James.

"Daddy!" James berlari dari samping Malfoy dan memeluk Harry, "Daddy. Angkat, Daddy, angkat!"

Harry menggendongnya dan tersenyum saat melihat wajah anaknya belepotan dengan selai dan gula dari apa yang sepertinya ia makan. Kalau melihat anak seimut ini siapapun tidak akan melupakan tindakannya, "James…" panggilnya lembut.

"Daddy! Daddy, kenal orang itu?" tunjuk James pada Draco.

"James, kau tidak boleh menunjuk orang seperti itu, tidak sopan!"

"Dadddyyyy!" rengeknya sambil menarik kembali jarinya, Draco tersenyum dihadapannya.

"Iya..iya…kami…kenalan lama."

"Kenalan lama itu apa? Aku tadi kenalan sebentar dengan…Mr…?"

"Malfoy, James…Namaku Draco Malfoy." Kata Malfoy mantap.

"Mr. Dreeeyyy?"

"Draco, James!" tegas Harry, dan ia terkejut dengan ucapannya sendiri, "Maksud Daddy panggil dia Mr. Malfoy."

"Mr. Merfoy?"

"Mr. Mal-foy, James! Daddy tahu kau bisa mengucapkannya."

Draco tersenyum, "Kau boleh memanggilku sesukamu, James."

"Kalau begitu, Mr. Dreeeyyy!"

"Begitu juga tidak buruk."

Keduanya tertawa bersama dan Harry hanya menghembuskan napasnya.

"Sudah waktunya kita pergi, James. Ucapkan selamat tinggal pada Mr. Malfoy."

James menunduk dan menusuk dada ayahnya dengan telunjuknya. Harry tahu kalau sudah begini James sedang ngambek.

"Ada apa, James?" bisiknya, ia tidak ingin Malfoy dengar. Bukan urusannya.

"Apakah kita tidak akan bertemu lagi dengan Mr. Drey?" katanya, suaranya sedikit kencang, dan James memang sepertinya sengaja mengencangkan suaranya.

"Mungkin."

Jantung Draco berdetak lebih kencang. Ia akan pergi? Dan apakah ia akan membiarkan Harry pergi? Tapi kegelisahannya luntur saat ia melihat James bersedih.

"Kita bisa bertemu kapan saja, James…" katanya simpel.

"Benarkah? Benarkah? Daddy? Mr. Dreeeyy?" James bersemangat.

Harry melirik Draco tajam, "Sudah, kita harus pergi dari sini."

"Unggg! Daddy!" rengek James.

Malfoy melihat Harry menundukkan kepalanya, di sisinya James merengek. Itu rasanya seperti pernah terjadi dalam hidupnya, dan ia akan mengulanginya kembali. Dihadapannya sendiri! Tapi, tapi,…ia yang sekarang sudah memiliki hidupnya sendiri, dan begitu juga dengan Harry.

Mata Draco seperti berkunang-kunang dan napasnya tersangkut karena ia melihat James melihatnya dan memanggil namanya. Ia masih ingat saat balita itu, masih sangat kecil. rambutnya sangat sedikit, tapi suara tangisnnya sangat kencang. Draco masih ingat ketika pertama kali anak itu membuka matanya…matanya yang berwarna hijau…dan…

"Malfoy?"

"Mr. Dreeeeyyyy!"

….dan sangat ia rindukan itu…

"Ah? Maaf…." Draco melepaskan pegangannya pada pakaian Harry. Ia menghentikan Harry saat rivalnya saat sekolah itu akan pergi. Ia harus berpikir cepat.

"Ya…sudahlah…" Harry membalikkan tubuhnya lagi.

"Tunggu!"

"Apa?"

"Erm…" Draco melirik James yang dipipinya masih terdapat serpihan Crepesnya, "Anakmu, James telah menghabiskan sarapan pagiku…rasanya kau harus menggantikannya."

Harry melirik James, "Jamesss…sudah Dad-"

"Crepes! James mau Crepes!"

"Kau sudah sarapan pagi, menghabiskan Crepes orang lain…"

"Dua…" tambah Draco.

"DUA? Dan kau masih mau makan Crepes?"

Draco tersenyum melihat ayah-anak yang sedang bertengkar ini.

"Daddy! Kata Daddy aku harus banyak makan biar cepat besar!"

"Bukan dengan makan-makanan seperti ini, James! Kau bisa kegemukan nantinya!"

Draco menelan ludahnya saat Harry mengatakan kegemukan.

"Kalau begitu…James tidak usah makan saja."

"Jamessss!"

"James takut kegemukan." Kata James cemberut.

Draco tertawa kecil, "Mengalahlah Potter! Ia tidak akan kegemukan, kau tahu…anak ini lincah sekali." Dan tersenyum hangat pada anak kecil itu.

"Hish! Baiklah. Kita beli dan bawa pulang! Ah..sekalian punyamu juga Malfoy," kata Harry benar-benar kesal.

"Crepes paling enak dimakan saat hangat." Kata Malfoy.

"Hangaaattt…" tiru James,

"Kita bisa menggunakan Warming Charm, James."

"Crepes paling enak dimakan ditempatnya." Tambah Malfoy tidak menghiraukan Harry.

"Ditempatnyaaaa…." Ulang James.

Saat Harry akan membantah keduanya, seseorang memanggilnya dari luar.

"Mr. Potter? Rupanya anda disana?"

"Ah, iya, Mr. Dwignorm. Sebentar dulu." Harry kembali melihat anaknya, "James, dan…erm..Mr. Malfoy, kalian mau makan rasa apa? Biar kupesankan..."

"Apel!" keduanya menjawab dengan serentak dan Draco tersenyum pada anak kecil disampingnya, "Dan..coklat dan jeruk, dan melon, dan…"

"Satu saja, James!"

"Unngggg…apeell…"

Harry memesan tiga crepes Apel, dan bergegas keluar.

"Daddy, kenapa aku diajak pergi! Kan aku mau makan Crepesnya disini."

"Iya nanti kesini lagi."

"Nanti dingiinnn!"

Draco mendekati mereka berdua dan menepuk kepala James, "Biar kami makan berdua, kau pergi saja mengurusi urusanmu…"

"Tapi…"

"Mr. Potter?" panggil Mr. Dwignorm dari luar.

"Iya…baik." Dan kembali menatap Draco, "Awas kalau kau melakukan sesuatu pada James!"

Draco tersenyum pahit saat ia menggendong James dari Harry, "Kau pikir aku siapanya?"

Saat Harry akan mengatakan sesuatu yang mungkin akan ia sesali, Mr. Dwignorm memanggilnya kembali dan Harry bergegas keluar toko.

"Nanti Daddy akan kembali, bersikap sopan James!" dan menghilang begitu saja.

James dan Draco saling memandang, dan kemudian tersenyum. Draco mengayunkan tongkatnya dan mengubah kursinya sedikit lebih tinggi untuk James. Mr. Werren membawakan mereka dua piring Crepes. Dua Crepes dipiring Draco dan satu Crepes apel dipiring James. James menatap piring Draco.

Draco tersenyum melihat wajah polos anak itu, "Kau mau minum apa, James?"

"Um? Orange Juice?" dan matanya kembali melirik ke Crepes milik Draco. Tentu Draco tidak bodoh dan tahu apa maksudnya, tapi perkataan Harry tentang 'kegemukan' itu membuatnya untuk pura-pura tidak tahu saja.

"Ok… Orange juice dan secangkir teh." Mr. Werren mengiyakan.

Ia kembali pada anak kecil disampingnya itu. Anak yang imut berambut pirang sama seperti dirinya. Tentu saja sama, karena di dalam aliran darah mereka mengalir darah yang sama.

"Ada apa, James?" tanya Draco, karena ia sudah tidak tahan lagi menatap mata polos itu.

"Kenalan lama itu apa? Tadi kita kenalan sebentar? Apa itu sama?"

"Erm…kenalan lama…itu seperti teman lama." Hati Draco sedikit sakit, karena Harry bahkan tidak mengakui kalau mereka berteman.

"Ah…teman lama…kenapa aku tidak pernah melihat Mr. Drey?"

"Karena kami sudah tidak pernah bertemu semenjak kau lahir, James…sudah sangat lama…"

"Ah..aku belum berkenalan dengan baik, namaku James…James…erm…" James terhenti sebentar seperti mencoba mengingat sesuatu, "James…blablabla…Potter."

Draco tertawa, benar-benar tertawa, "Namamu James Blablabla Potter? Apa itu Blablabla?"

"Ungg! Aku lupa nama tengahku…" rengeknya.

"Oh…lupa. Toh?"

"Iya…James kan masih kecil…baru berumur hampir 4 tahun..."

"Jadi boleh lupa?"

"Boleh kan? Daddy selalu lupa…"

Draco tidak menjawabnya, karena ia hanya tertawa. James kembali melirik Crepes mereka, Crepes di piringnya tanpa ia sadari sudah habis, dan di piring Mr. Dreeeey, masih ada satu.

"Kau masih mau makan Crepes, James?"

Anak kecil itu mengangguk.

"Tapi kau kan masih kecil…dan baru berumur hampir 4 tahun?" godanya.

"Umm… James sudah berumur 4 tahun! Dan itu artinya James boleh memakan banyak Crepes."

Draco tertawa, "Kata siapa?"

"Kata James barusan?"

"Kenapa harus kata James?"

"…" sepertinya James berpikir keras, "Jangan menanyakan pertanyaan sulit, Mr. Dreeyy, James kan masih kecil."

Dan Draco kembali tertawa. Kemudian melirik kearah Mr. Werren yang sudah membawakan mereka minuman, "Satu Crepes rasa apel lagi."

James tersenyum lebar saat menerima gelas dari Mr. Werren, ia cukup cerdas untuk tahu kalau Crepes itu untuknya.

"James…"

"Iya?" James melirik orang yang lebih tua darinya itu dengan tatapan bahagianya. Mulutnya masih saja terdapat banyak serpihan dan selai Crepes.

"Kenapa kalian ada di sini?"

"Errr?"

"Dengan Mr. Dwignorm? Orang gendut tadi, yang memanggil ayahmu?"

"Oh…kami akan pindah rumah." Katanya datar.

"Kemana?"

"Er… aku lupa?" Draco tersenyum, dan James menanyakan hal lainnya, "Mr. Drey…"

"Iya?"

"Kenapa aku tidak pernah melihatmu? Daddy punya banyak orang yang datang kerumah dan dijalan dan dikantor…tapi tidak pernah lihat Mr. Drey?"

"Karena aku terlalu sibuk bekerja, dan kami…tidak pernah bertemu lagi."

"Oh…kenapa tidak pernah bertemu?"

"Kenapa ya?"

"Huum?" Angguknya.

Draco menyentuh pipi chubby milik James, dan perlahan membersihkan pipi itu dari serpihan Crepes ataupun jus jeruknya.

"Dulu…kami sangat dekat…dan kami harus berpisah."

"Kenapa?"

"Entahlah?"

"Mr. Drey tidak suka Daddy?"

Draco tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu, James…"

"Terus?"

Ia mengusap-usap kepala James. Ingatannya terbang kemasalalu, ke langit biru yang luas setiap saat ia berhenti mencari Harry dan menatap ke atas. Ia selalu melihat langit yang luas, terkadang mendung, tapi ia jauh lebih seiring melihat langit biru. Tapi setahun lalu semuanya telah berhenti, ia seakan-akan lupa warna langit.

Draco tersenyum sedikit pahit, "Ayahmu yang pergi meninggalkanku."

Tbc~

:D, cerita ini disukai banyak orang yaa? *nggak ngerti kenapa…dan nggak nyangka…* Ini semua karena James *meluk james* jadi semangat ngelanjutinnya. Maaf lama, karena saya masih punya tanggungan pendidikan yang terancam sangat. Karena saya nggak bisa ngereview dan ngebales satu persatu comment (apa pernah ngebales? *pernah kok*), tapi saya tetap baca dan hargai apapun itu.. :)))) thankyou. Btw, saya bisa dipanggil, Tanpopo/Tan/Popo… itu aja terserah pilih yang mana. Dan jangan Tanpo ...kedengerannya kaya masakan padang. *lol, dan jangan Pout…kok kesan saya….Sudah lah..

:D special thanks buat GUEST yang nggak pintar comment tapi tetap review, gueh suka gaya loe (hehehe), begini aja..sekarang kalau yang nggak bisa comment (buat Guest-san khususnya). Jawab aja ini:

1. Apakah Chapter kali ini bagus dan menarik?

2. Apakah Cerita ini harus dilanjutkan?

Silakan jawab pertanyan itu dengan:

A. IYA B. BISA JADI C. NGGAK.

*lol. Kidding bro..tetep ditunggu BANGET reviewnya.

Thanks to: Pibichimu, Aristy, Luna Ginerva, Drarry Shipper, GDzuraGON, SeIn Kim, IFunny-danshi boy, olive1315, heriyandi kurosaki, Rhie95, Angel Muaffi, paradisaea Rubra, madness break, YukiMiku, guest, heyoyo, Baby Ziren KTS, uchiwani, dan JungJaema. For the review… :DDDD
Thanks buat yang udah Favorit-in dan alert cerita saya dari chapter awal *much kiss for you from Jamieeee*
Thanks buat yang tetep baca cerita saya dengan sabar.
:DDD sampai jumpa.