Naruto © Masashi Kishimoto

This Story is Mine, Asterella Roxanne.

Warning : Rated M for any reason. | Bahasan yang berat. | Little bit gore. | OOC. OC (coming soon). | Typo's maybe. | Dan segala kekurangan lainnya.

.

.

Enjoy!

.

"Bisakah kalian membunuhku sekarang juga, daripada harus melihat Sasuke semakin gila saat mendengar kabar ini?!" teriak Ino dengan nada parau yang lemah. Wajahnya kini sudah sepenuhnya dibasahi oleh air mata.

"Tenanglah, Ino."

"Bagaimana aku bisa …."

"Ino," potong Naruto dengan suara rendah, yang seketika membuat wanita itu bungkam. "Aku tahu bagaimana menyesalnya kau dengan kejadian ini. Tapi, keadaan pun tidak akan berubah jauh lebih baik meski aku membunuhmu sekarang juga. Dengar, satu hal yang perlu kau ingat, dan aku sangat yakin kau masih mengingatnya hingga sekarang, Sasuke tidak pernah menginginkan kau mati. Tidak diantara kita semua."

Ino terdiam, walaupun suara sesegukkannya masih sayup terdengar. Kepingan-kepingan ingatan masa lalu kembali berputar dalam benaknya. Bagaimana ia, Naruto serta Sasuke dulu bertahan hidup di Sendai dari cekalan makhluk biadab bernama Senju Tobirama. Manusia yang sebenarnya tidak layak disebut manusia, makhluk paling keji dan tidak berotak di dunia ini. Meski tubuh itu babak belur dengan darah mengalir dari sekujur tubuh, Sasuke tidak pernah sekali pun meninggalkannya. Meninggalkan ia dan Naruto. Serta seruan itu:

"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian mati. Kita harus berjuang, bagaimana pun caranya, kita harus bisa bertahan hidup. Aku yakin, tuhan pasti akan membantu kita."

Ino menutup kedua kelopak matanya. Membayangkan sosok pria yang sangat ia sayangi, sama seperti Naruto. Bersama dengan Naruto, Sasuke menyelamatkan dirinya keluar dari jeratan setan berwujud manusia itu. Tidak, sebenarnya bukan hanya mereka bertiga yang selamat malam itu, selamat dari sebuah peristiwa yang bisa disebut tragedi, namun ada seorang lagi.

"Kita harus memberitahu Sasuke secepatnya. Kita tidak bisa terus-terusan menyimpan informasi ini. Kita harus segera bergegas," ucap Naruto tegas. Ia memandang Ino sekali lagi. "Bisa?"

Ino hanya memberikan senyum singkat. Menggunakan tangan kanannya, wanita itu pun mencoba membersihkan sisa-sisa jejak air matanya yang mengering. Suasana hatinya perlahan kembali normal. Memang benar yang diucapkan orang bijak zaman dahulu, suasana hati sangat mempengaruhi jalan pikiran seseorang.

"Jika benar Hozuki Suigetsu menculik Sakura, apa yang menjadi motif pria itu? Ataukah, ia bekerja pada seseorang yang mengincar orang-orang Uchiha Agency?" tanya Hinata memecah keheningan. "Tidakkah kalian berpikir, mungkin saja orang itu adalah …."

"Jangan bilang kalau kau berpikiran pelakunya adalah Senju Tobirama," potong Shikamaru. "Kita semua sudah tahu, bahwa pria itu sudah lama mati." Kepala pria berkuncir satu tersebut menggeleng pelan ke kanan dan ke kiri.

"Tapi, Shikamaru, jangan lupakan laporan yang dikirim agen FBI ke agensi kita beberapa bulan lalu. Senju Tobirama kini sudah bangkit dari kuburnya dan siap meneror siapa saja," sanggah Hinata. "Aku tidak tahu pasti bagaimana masa lalu kalian, Naruto dan Ino serta Mr. Uchiha, tapi aku yakin, semua ini saling berhubungan. Dan berpusat pada Mr. Uchiha."

Naruto membisu hampir satu menit penuh, mata biru jernihnya terlihat tidak fokus, tubuhnya yang tegap dan kekar tampak kaku. Kemudian ia menghirup napas dalam-dalam dan berkata, "Daripada kita hanya berdiam diri di sini tanpa melakukan tindakan yang berarti, lebih baik kita bubar. Aku dan Ino akan menemui Uchiha Sasuke di ruang kerjanya di lantai atas. Shikamaru, kau tahu apa yang harus kau lakukan kan? Mungkin kali ini kau bisa bekerja sama dengan Hinata dan mengambil beberapa agen lagi kemudian membentuk tim."

"Baik."

"Oh, satu hal lagi. Pastikan seluruh sumber daya Uchiha Agency berkonsentrasi penuh atas pencarian Uchiha Sakura. Musuh kita bukan orang sembarangan. Kalau Senju Tobirama yang asli adalah makluk bajingan tak berotak, bukan tidak mungkin sang hantu akan meniru kekejian yang asli."

Tanpa kata sanggahan, Shikamaru dan Hinata melesat meninggalkan koridor lantai satu dari bangungan utama Uchiha's Residence menuju bangunan lain yang berjarak sekitar lima ratus meter, namun masih dalam wilayah Uchiha's Residence, ke tempat di mana pusat aktivitas seluruh pekerja Uchiha Agency untuk memperoleh informasi.

Setelah Hinata dan Shikamaru hilang dari pandangan mereka, Ino dan Naruto kemudian melanjutkan langkah kaki mereka ke lantai teratas, lantai lima, bangunan utama Uchiha's Residence, tempat ruang kerja pimpinan mereka berada.

"Ini semua salah kita," ujar Yamanaka Ino. "Kita seharusnya memaksa Sasuke menceritakan semuanya pada Sakura sebelum ia menikahi wanita itu. Tentang semua yang sudah terjadi pada kita di Sendai."

Naruto melirik wanita blondie di sampingnya melalui ekor mata, selang beberapa detik kemudian kembali ia memfokuskan arah pandangnya ke depan. "Itu adalah keputusan Sasuke, bukan kita."

"Sasuke tidak ingin menceritakan awal mula masalahnya, dengan asumsi jika ia melakukan itu Sakura tidak akan meninggalkannya. Tapi ia salah besar. Naruto, Sakura pergi dari Uchiha Residence karena kebohongan dan ketidakjujuran Sasuke."

"Kita punya sesuatu yang lebih penting untuk dicemaskan ketimbang memikirkan kondisi pernikahan Sasuke." Naruto mengingatkan Ino.

"Ya, kau benar. Nyawa Sakura dalam bahaya."

"Begitu juga dengan kewarasan Sasuke dan mungkin juga nyawanya serta nyawa kita."

Ino menghela napas. Membiarkan emosi menguap bersamaan dengan karbon dioksida yang keluar dari mulut mungilnya. Tidak disangka, jika kejadian seperti ini bisa terjadi. Di mana seharusnya mereka semua dapat hidup dengan damai tanpa memikirkan lagi apakah nyawa mereka terancam atau tidak, apakah mereka masih hidup dan merasakan aliran oksigen memasuki tubuh mereka atau tidak. Setelah delapan belas tahun berlalu sejak peristiwa yang mereka alami di Sendai, kabar penculikan Uchiha Sakura adalah hal terakhir yang ingin mereka dengar.

"Ino?" panggil Naruto.

"Hm?"

"Kau harus membatalkan rencana penerbangan ke Amerika besok. Dalam situasi seperti ini …"

"Ya, tentu saja." Ino bertanya-tanya apakah penculikan Sakura ada hubungannya dengan surat yang diterima oleh Sasuke kemarin pagi … sebuah surat, yang bahkan pengirimnya sangat diragukan, dari pria yang menyebut dirinya Senju Tobirama. Surat yang memaksa Sasuke untuk berkata jujur pada istrinya sekaligus surat yang membawa malapetaka bagi pernikahan mereka.

Dear Sasuke,

Kuharap surat ini sampai padamu dan juga istrimu dengan selamat. Salam hangat untukmu dan Mrs. Uchiha. Dan sampaikan juga salamku pada Ino kita yang cantik dan manis . Perlu kau ketahui, jika aku sering memikirkannya, kalian berdua dan juga Naruto. Ah, betapa indah masa-masa yang kita alami di Sendai. Betapa aku ingin sekali berkumpul bersama kalian lagi, seperti saat itu.

Kurasa cukup untuk membahas masa lalu kita yang indah itu, karena aku mempunyai kabar yang lebih menarik dan juga sangat berarti, mungkin, untukmu dan Mrs. Yamanaka kita. Aku beruntung sekali tidak menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam kesendirian, selepas kalian yang pergi begitu saja dari wilayah surgaku, beruntung bisa menyimpan bagian dari Ino bersamaku. Dia hampir dua puluh tahun sekarang. Dia memanggilku Papa dan mencintaiku sebagaimana aku pun mencintainya.

Mungkin aku sudah sangat keterlaluan dengan bersikap egois menyimpan gadis itu untuk diriku sendiri, jadi, aku memutuskan untuk membaginya dengan ibunya. Jika Ino ingin menemui putrinya, katakan padanya kalau dia bisa menemui Kotoko di McMurray School di Kanada. Kau akan menemukan seorang gadis secantik dan sepandai ibunya serta keras hati seperti ayahnya.

Salam,

Senju Tobirama.

Apakah benar gadis muda ini, Senju Kotoko, benar-benar anaknya? Bayi yang Senju Tobirama ambil darinya sesaat setelah ia melahirkan?

"Kau sadar kalau kemungkinan besar gadis itu bukan anakmu," ujar Naruto, menyuarakan apa yang ada di benaknya. "Si Senju palsu ini mungkin saja hanya ingin mencari sensasi dengan mengirim surat bodoh itu, bukan hanya untuk menyiksa kita, tapi juga karena dia tahu Sasuke tidak akan punya pilihan selain mengungkapkan kebenaran pada Sakura."

"Aku juga tidak bisa membohongi hati kecilku, Naruto, jika aku pun berharap gadis ini adalah anakku …" Ino berhenti melangkah, kepala yang berhias suraian pirang lembut itu menunduk, merasa bahwa memandang lantai keramik tempatnya berpijak kini lebih menarik daripada bertatapan dengan Naruto.

Naruto menumpukan kedua telapak tangannya pada bahu mungil wanita itu. "Jangan terlalu gegabah. Senju Tobirama palsu ini mungkin saja memanipulasimu dengan memanfaatkan keinginan besarmu untuk bertemu dengan anakmu. Dia mengirim surat sebagai senjata untuk menyerang Sasuke dan Sakura. Surat itu memaksa Sasuke untuk mengaku pada istrinya bahwa ia mungkin saja adalah ayah dari anakmu. Dan surat itu juga membuat salah satu tujuan si pelaku tercapai, yakni membuat Sakura meninggalkan Sasuke dan keamanan dari Uchiha's Residence."

"Tapi kita semua tahu kalau Sasuke mungkin saja bukan merupakan ayah dari anakku, ada beberapa orang yang …" Ino sebisa mungkin tidak ingin mengingat masa lalu kelamnya, tapi itu sangat sulit dilakukan jika ia sedang memikirkan anaknya. "Bahkan jika terbukti Sasuke benar ayah dari anakkku, Sakura tidak punya alasan untuk cemburu padanya."

Melepaskan tumpuan kedua tangan Naruto, Ino kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda cukup lama akibat perbincangan mereka. Naruto yang tertinggal di belakang, segera menyusul wanita itu. "Apa hanya sebatas itu kau tahu tentang Sakura? Dan kau percaya dia akan berpikir seperti itu? Sakura tidak cemburu pada anakmu."

Ino mempercepat langkahnya. Pada awalnya ia percaya kalau wanita yang Sasuke pilih sebagai pasangannya akan memaklumi dan menerima hubungan unik antara ia, Sasuke dan Naruto. Tapi nyatanya, sekeras apapun ia berusaha untuk menjalin hubungan yang baik dengan Sakura, rahasia dari masa lalu mereka telah menghancurkan semuanya dan menimbulkan masalah kepercayaan dalam pernikahan Sasuke.

"Seharusnya Sakura mengerti, jika Sasuke hanya mencintainya. Sangat mencintainya. Dan aku tidak akan pernah lebih dianggap sebagai adik oleh Sasuke."

"Sakura tahu itu. Dia meninggalkan Sasuke bukan karena cemburu, tapi karena Sasuke berbohong padanya," seru Naruto nyaris berteriak.

Ino menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat. Ia memutar tubuhnya untuk menatap Naruto yang kini sudah berdiri di hadapannya.

"Tapi Sasuke berbohong demi melindunginya."

"Apa dia berbohong untuk melindungi Sakura atau dirinya sendiri?"

"Mungkin keduanya," ujar Ino seraya mengangkat kedua bahunya.

Naruto mengusap wajahnya kasar. "Hentikan perdebatan konyol ini. Aku akan masuk ke dalam, dan kau menunggu di luar. Jika aku butuh bantuan, maka kau baru kuizinkan masuk."

Naruto membuka pintu kayu berwarna cokelat di belakang Ino, dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Meninggalkan Ino sendirian di koridor yang lengang. Pikiran wanita itu kembali melayang pada permasalahan Sasuke dan istrinya. Sejak awal, Sakura memang telah menyerukan kecurigaan tentang hubungan dirinya dan Sasuke lebih dari teman biasa. Namun Ino dan Sasuke telah bersumpah pada Sakura bahwa mereka tidak pernah menjadi sepasang kekasih. Secara harfiah memang benar.

Menjadi sepasang kekasih merujuk kepada dua orang yang bercinta atas dasar kemauan mereka sendiri. Namun baik Sasuke maupun Ino tidak pernah mau menjadi pasangan dalam bercinta. Mereka dipaksa melakukannya, seperti ia yang telah dipaksa untuk bercinta dengan banyak pria lain oleh orang gila yang amoral dan sadis.

Senju Tobirama. Suaminya.

"Tidak mungkin! Kau … Hozuki Suigetsu?!"

"Halo, akhirnya kita bertemu, Mrs. Uchiha."

Kedua manik emerald tersebut membelalak. Kaget dengan informasi yang baru saja ia dapatkan. "Tapi Hozuki Suigetsu sudah mati."

"Ya, aku tahu. Begitu juga Senju Tobirama. Walaupun begitu di sinilah aku, dalam keadaan utuh, sedang berbicara denganmu, dan datang untuk membawamu menemui pria yang sudah mati lainnya, Mr. Senju sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu."

Dengan terhuyung-huyung Sakura berhasil bangun dan menapakkan kakinya di karpet berbulu berwarna merah. Pada saat itulah ia menyadari, gaun babydoll berwarna hijau, gaun terakhir yang ia pakai sebelum pingsan, kini telah terlepas dari tubuhnya dan digantikan dengan sebuah dress musim panas berlengan tali berwarna merah.

"Apa yang terjadi padaku selama aku pingsan, Mr. Hozuki?" tanya Sakura hati-hati. Ingatan terakhir yang ia dapatkan, adalah saat seseorang menundukkannya dan menyuntiknya dengan semacam obat. Sakura mencoba melakukan perlawan, namun tidak berani melakukan perlawanan fisik yang mungkin saja akan berdampak buruk pada bayinya.

Bayi. Ah, tentu saja. Saat ini usia kandungannya sudah mencapai tiga bulan. Namun sayangnya, sang suami malah belum mengetahui kabar bahagia ini. Benarkah bagi Sasuke ini kabar bahagia? Sakura tanpa sadar merubah raut wajahnya menyendu saat membayangkan suaminya. Suami yang sangat ia cintai namun tega membohonginya.

"Tidak banyak. Aku hanya membantumu berganti pakaian dan sedikit membersihkan tubuhmu. Kau tahu, seorang Uchiha Sasuke memang memiliki selera yang bagus dalam memilih wanita. Kau mempunyai bentuk tubuh yang sangat seksi dan menggairahkan, Mrs. Uchiha," jelas Suigetsu dengan nada tenang dan senyuman ramah belum hilang dari wajahnya.

Lagi-lagi kedua batu giok sehijau hutan milik Sakura membelalak. Refleks kedua tangannya menyilang di depan dada dan menampilkan raut wajah waspada. Suigetsu tergelak menatap sikap antipati yang dilakukan oleh Sakura.

"Aku bercanda, Sakura. Yang mengganti pakaian dan membersihkan tubuhmu adalah Koyuki."

Diam-diam Sakura menghela napas lega. "Di mana aku, Mr. Hozuki?" tanyanya kemudian.

"Tidak usah terlalu formal begitu, Sakura. Panggil aku Sui."

Sakura mengamati interior kamar tidur yang tampak mewah itu dan berasumsi bahwa ia sedang berada di dalam kapal pesiar pribadi.

"Di mana aku, Mr. Hozuki?"Sakura mengulang pertanyaannya.

"Saat ini kita sedang berada di tengah lautan menuju sebuah tempat di salah satu pulau di Korea Utara."

"Kau menculikku."

Suigetsu mengangkat bahu, tak acuh. "Aku hanya membantumu dalam menerima undangan dari seseorang yang kau sebut sebagai Senju Tobirama, pria yang kita tahu sudah mati," jelas Suigetsu. "Dan kau juga percaya jika aku sudah mati." Suigetsu mengingatkan Sakura.

"Ya, Inuzuka Kiba telah membunuh Hozuki Suigetsu."

"Inuzuka telah membunuh pria yang dikiranya sebagai Hozuki Suigetsu. Hanya melakukan autopsi singkat, dan tada kebenaran pun akan terungkap. Suamimu pasti akan menyesal telah membanggakan gladiatornya yang hebat, ternyata hanya melenyapkan penjahat kelas teri."

Benak Sakura dipenuhi oleh beberapa kemungkinan yang berputar-putar. Mungkin saja Hozuki Suigetsu, seorang pembunuh yang dipekerjakan untuk membunuh orang-orang yang berkaitan dengan Uchiha Agency, masih hidup dan pria di hadapannya ini mengatakan yang sebenarnya. Namun satu hal yang ia tolak untuk percaya. Senju Tobirama yang asli telah mati, ditangan suaminya sendiri.

"Walaupun aku tahu dia sudah mati, aku tetap memotong kepalanya," ungkap Sasuke. "Aku harus memastikan bahwa bajingan itu benar-benar mati."

"Terserah kau saja," ucap Suigetsu memecah lamunan Sakura. "Yang pasti kau akan segera mengetahuinya. Persiapkan dirimu."

Dan Sakura berani bertaruh, apa yang pria berambut putih itu ucapkan adalah benar adanya. Firasat buruk menyelubungi diri Sakura, membuat tubuh wanita itu tanpa sadar bergetar. Apapun yang akan terjadi padanya nanti, Sakura tahu satu hal yang pasti―ia akan melakukan apa pun untuk tetap bertahan hidup dan melindungi bayinya.

Uchiha Sasuke berdiri menatap ke luar jendela, membayangkan di atas tanah berukuran seribu hektameter di depannya berdiri sebuah vila megah yang ia berikan pada Sakura sebagai hadiah pertunangan mereka. Pertama kali mereka berdua mendatangi vila yang berdiri kokoh di atas bukit di daerah Yokohama tersebut, Sakura langsung melompat kegirangan dan memeluknya dengan erat. Ia hampir bisa merasakan pelukan Sakura, kecupan yang dilayangkan bibir mungil nan basah Sakura ke seluruh wajahnya. Ia sangat menginginkan Sakura, membutuhkan Sakura.

Ia tidak pernah membayangkan vila yang ia bayangkan menjadi tempat mereka menghabiskan hari-hari yang tenang berduaan, kini malah menjadi tempat bagi Sakura untuk menjauh darinya, tempat berlindung yang aman di mana ia menjadi satu-satunya orang yang tidak diterima.

Jika saja Sakura tidak kabur. Jika saja Sakura tetap tinggal agar ia bisa membuatnya mengerti kenapa ia tidak sepenuhnya jujur. Tapi apa benar jika ia berbohong? Tidak. Ia tidak berbohong saat mengatakan kalau ia dan Ino tidak pernah menjadi sepasang kekasih. Namun kenyataan itu hanya didasari semata-mata oleh faktor teknis. Mereka tidak pernah menjadi sepasang kekasih, tapi pernah menjadi pasangan bercinta, dipaksa untuk melakukannya seperti binatang.

Jika saja ia memberitahu Sakura semua kebenaran tentang masa lalunya sebelum mereka menikah, kebenaran tentang semua yang terjadi di Sendai, tentang kerumitan hubungannya dengan Ino, semua tidak akan berakhir seperti ini.

"Dasar bodoh," seru Sasuke dengan keras terlebih pada dirinya sendiri. Sakura pergi meninggalkan dirinya serta keamanan dari Uchiha's Residence, dan pernikahannya kini hancur karena kebodohannya sendiri. Ia telah gagal membuktikan pada Sakura bahwa ia akan selalu mendahulukan istrinya, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih penting baginya, bahwa ia harus memilih antara cinta untuk Sakura dan kesetiaannya kepada Ino, ia akan memilih Sakura.

Tapi, meskipun ia mendahulukan Ino, semua itu hanya semata-mata rasa sayangnya kepada Ino yang telah ia anggap sebagai adiknya. Pengalaman bersama selama lima tahun di Sendai, membuatnya tidak bisa begitu saja mengacuhkan wanita bersurai pirang tersebut.

Kau telah membuktikan bahwa kau adalah bajingan egois yang berpikir bahwa kau bisa bertindak seenaknya, bahwa tidak ada alasan bagimu untuk terpaksa memilih antara Sakura dan Ino.

Semuanya belum terlambat. Ia tidak boleh kehilangan Sakura.

Naruto bisa terbang besok pagi dengan Ino dan menemaninya ke McMurray School di Kanada untuk bertemu dengan Senju Kotoko. Mereka bisa melakukan tes DNA nantinya untuk membuktikan apakah ia benar merupakan ayah dari anak itu. Tapi baik Ino maupun anaknya tidak lebih penting baginya ketimbang Sakura. Sementara Ino pergi ke Kanada besok pagi, ia akan berkendara ke Yokohama, kemudian saat ia tiba di vila mereka, ia akan berlutut dan memohon ampunan dari istrinya itu.

Suara pintu berderit seketika menghentikan lamunan Sasuke akan semua hal yang akan ia lakukan untuk dapat kembali bersama istrinya. Pria itu berbalik dan melemparkan tatapan tajam pada Naruto yang masuk tanpa permisi ke ruang kerjanya.

"Sasuke."

"Apa yang kau mau?" tanya Sasuke dengan nada dingin. Dapat ditangkap oleh kedua manik gelapnya perubahan tubuh pada teman seperjuangannya di Sendai itu berubah kaku dan tegang.

"Aku hanya ingin menyampaikan kabar berita yang sangat penting untukmu."

Sasuke mendengus, membalikkan kembali badannya menghadap jendela. "Tidak ada yang lebih penting bagiku selain Sakura."

"Maka dari itu, ini berkaitan dengan Sakura."

"Apa yang terjadi?" tanya Sasuke cepat. Kembali memutar tubuhnya berhadapan dengan Naruto. "Ada apa sebenarnya?"

"Rock Lee ditemukan tewas oleh Departemen Kepolisian Yokohama di jalur bebas hambatan Yokohama-Tokyo. Diperkirakan sebelum mobil yang dikendarai Rock Lee menabrak pembatas jalan, ia telah diserang duluan."

"Bagaimana dengan Sakura? Apa ia tahu keadaan tentang Rock Lee? Apa Temari yang pergi tadi pagi ke vila telah sampai?" Sasuke menerjang ke arah pintu. "Aku akan segera ke sana. Telepon dia dan …"

"Sakura tidak ada di vila."

Sasuke mendadak berhenti dan menoleh ke arah Naruto. "Di mana dia? Apa Temari membawanya ke tempat lain?"

"Temari menelepon Shikamaru dan berkata, saat ia sampai di vila ia tidak menemukan Sakura di manapun …" Naruto menghentikan kata-katanya sejenak. "Kami tidak tahu di mana dia sekarang, tapi kami menduga kalau dia telah diculik oleh Hozuki Suigetsu."

Sasuke memandang Naruto dengan tatapan tidak percaya. "Hozuki Suigetsu sudah mati. Inuzuka Kiba …"

"Mr. Inuzuka Kiba menghubungi kurang dari sejam yang lalu," ujar Naruto. "Dan melaporkan jika yang ia bunuh bukanlah Hozuki melainkan Hoshigaki Kisame."

Selama beberapa menit, Sasuke hanya berdiri di sana menatap Naruto. Kemudian layaknya binatang buas yang lumpuh oleh tembakan yang mematikan seorang pemburu, Uchiha Sasuke meraung penuh penderitaan.

Uzumaki Nagato pantas mati. Sebenarnya, bajingan busuk itu layak mendapatkan yang lebih buruk lagi. Jika ada sedikit keadilan di dunia yang tidak adil ini, pria itu seharusnya mengalami penderitaan tak terbayangkan selama bertahun-tahun. Ia akan dipukuli dan kelaparan, diburu layaknya binatang buas, kemudian disodomi secara paksa sebelum ia benar-benar merasa terhina dan tersiksa hingga memohon belas kasihan.

Uchiha Obito percaya pada keadilan seperti yang tercantum dalam Alkitab di mana hutang nyawa dibayar nyawa, dan menjadikan penebusan terhadap dosa-dosa tak termaafkan yang dilakukan olej pria-pria seperti Uzumaki sebagai misi hidupnya. Butuh waktu hampir delapan belas tahun untuknya menghabisi empat sahabat serta kolega Senju Tobirama, orang-orang yang seringkali Senju Tobirama hibur di Sendai.

Pria telanjang itu tergantung di kasau kandang kuda dengan pergelangan tangan terikat, tubuhnya berayun seperti daging sapi siap potong. Saat Obito mendekat, pandangan Uzumaki Nagato yang kabur berusaha untuk fokus pada senjata di tangan penyiksanya. Mengetahui takdir yang menunggunya, ia menjerit ketakutan. Tidak ada siapa pun, kecuali Tuhan dan Iblis, yang bisa mendengarnya. Dan hanya Tuhan, Iblis, serta Obito yang ada di sana saat Obito menggunakan pisau tajam dan bergerigi untuk mengebiri setan yang jiwanya ditakdirkan untuk terkutuk selama-lamanya.

"Tidak ada tempat untuk sampah sepertimu di dunia ini."

.

.

TBC

AN:/

Halo! Maaf banget kalo chapter ini terasa flat, aku mengerjakannya dibarengi dengan belajar matematika untuk ulangan harian besok :'(

Ditunggu tanggapannya untuk chapter ini ya!

Special thank's to:

Aerizna Yuii, Anka-Chan, Cherry Philein (Sasuke gila karena Sakura pergi darinya xD), Nakazawa Miyuki, SinHye, Tsurugi De Lelouch (terima kasih sdh tertarik kak ), ellena rienita, hanazono yuri, iachan iachan, maya clarck3914, prince ice cheery, sayaka haruchan, EveShya, Eysha CherryBlossom (Uchiha Agency itu semacam kantor polisi milik pribadi (?) bisa disamakan dgn FBI), Hikari Matsushita, Kumada Chiyu (bosen sih dgn gaya penulisan yg lambat, mencoba hal-hal yg baru xD), chiechie elfsuperjuniorcliquersejhathie, siMeji Lunacular kushii, uchiwa, Fivani-chan, Anisha Ryuzaki, uchiharuka, Guest (fic yg lain pasti dilanjut kok ), vanny-chan, sami haruchi 2, Guest, Y O G (Ino bukan istri kedua Sasuke kok), Guest, cherryl, fuchaoife (hallo fuu! Kyaa makasih udah mau konkrit / sip aku bakal lebih teliti lagi deh, dan ayoo kembali lah menulis seperti dulu :3), xoxo, harunosaki (wah makasih sarannya, sangat membantu sekali /)

Terima kasih kepada readers yg udah review, follow dan fave, juga silent readers. Tanpa kalian, fanfic ini tidak bisa di sebut karya tulis :'D keep reading semuanyaaa!

See you in the next chapter!

Salam hangat, Asterella Roxanne. 28 September 2014.