Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Tittle : Paint My Love

Genre : Hurt/Comfort, Romance, Friendship, Angst.

Rate : T

Pairing : NaruSaku, ShikaIno.

Warning : AU, OOC, OC, gaje, abal, ancur, minim deskriptif, typo(s), dll.

.

.

Summarry: Mereka semua menyukai musik. Musik memiliki arti tersendiri bagi mereka. Dengan musik pula mereka bisa saling memahami satu sama lain. Musik menceritakan sejarah tentang hidup mereka. Musik menghibur mereka di kala lara. Musik membuat mereka memiliki sebuah harapan. Dan Musik menuntun mereka pada cinta. Seperti apakah pandangan keempat remaja ini tentang music dan bagaimanakah kisah cinta mereka? Let's see!

.

Chapter 2 : Shocking News

.

.

"The fear when I realized I was alone… that more than anything. Hey, Dad! If I'm not necessary to you, why am I here?"Uzumaki Naruto

oooOOPaintMyLoveOOooo

.

.

.

Gadis itu menatap Shikamaru dengan pandangan tajam. Gadis itu seperti sedang menahan emosinya. Kini Shikamaru bisa melihat mata gadis itu berkaca-kaca.

"Dari ekspresimu sepertinya kau ingin membicarakan hal yang serius?"

"Tentu saja, bodoh! Dasar rambut nanas!"

"—tapi Ino aku sibuk! Aku hanya akan memberimu lima menit!"

'PLAKK!'

Dengan kemarahan yang tergambar jelas di wajahnya, Ino menampar Shikamaru dengan keras. Napas Ino memburu pertanda kalau dia benar-benar sangat marah.

"Dengarkan aku bicara dan jangan memotongnya sebelum aku selesai!" tegas Ino.

"Baik! Akan kudengarkan kau bicara!"

"Aku tanya sekali lagi, kenapa kau ingin kita putus?"

"Bukankah sudah kubilang, aku sudah tidak mencintaimu karena aku tertarik pada gadis lain."

"Memang waktu itu aku mempercayainya tapi sekarang sudah tidak lagi! Shika, kita bersahabat sejak kita masih kecil dan kupikir karena dulu kita bersahabat… meskipun hubungan kita sebagai kekasih sudah berakhir, kita berdua akan tetap bersahabat. Tapi kenyataannya apa? Kau mengabaikanku, Shika. Kau menghindariku selama berbulan-bulan. Dan itu menyakitkan." Air mata menggenangi mata Ino. Amarahnya lenyap tapi rasa frustasinya tidak.

"Bukan," balas Shikamaru cepat. "Aku hanya memberimu ruang."

"Ruang untuk apa?"

"Ruang. Ruang untuk bernapas."

"Memangnya aku memintamu untuk memberiku ruang untuk bernapas?"

Shikamaru menyusurkan jemarinya di poni Ino yang sudah sangat panjang hingga menutupi sebelah matanya. Lalu Shikamaru merogoh saku celananya dengan tangannya yang lain dan mengeluarkan sebuah jepitan berwarna ungu yang kemudian ia pasangkan di rambut Ino hingga poni pirang Ino tidak lagi menutupi matanya.

"Dengan begini aku bisa melihat wajahmu dengan jelas. Dengar Ino, aku tak mau bertengkar denganmu lagi."

"Bagus, sebab aku juga sudah bosan bertengkar denganmu." Ino menahan napas dalam-dalam lalu menahannya. Akhirnya karena merasa sangat kesal ia berkata, "Ayahku punya asisten baru. Dia adalah pemuda yang tampan dan orangnya sangat baik. Dia ingin aku berkencan dengannya dan sepertinya ayahku akan menjodohkanku dengannya."

"Kau mau?"

"Aku sedang mempertimbangkannya."

Gelombang emosi kini tergambar jelas di wajah Shikamaru.

"Kumohon jangan." Suaranya selirih bisikan.

"Kenapa tidak? Maksudku, kita berdua sudah putus dan bukankah kau sendiri yang memberiku ruang ini. Mana mungkin aku diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Aku sudah capek terus-menerus mengharapkan kau kembali padaku!"

Shikamaru melingkarkan lengan di tubuh Ino dan memeluknya erat-erat. "Jangan Ino!" dia memohon, terdengar tersiksa. "Jangan mencampakkanku dan pergi dengan pria lain!""

"Kau duluan yang mencampakkanku!"

Perlahan Shikamaru melepas pelukannya. Di raihnya tangan Ino lalu membimbingnya ke tempat duduk yang tadi diduduki oleh Naruto. Shikamaru mengamati wajah Ino dengan mata gelapnya, begitu tajam hingga Ino merasa akan tenggelam di dalamnya.

"Tidak mudah bagiku untuk menjauh darimu. Kuakui, sebenarnya aku menderita."

"Lalu kenapa kau melakukannya? Kalau kau merasa sengsara dan menderita sepertiku, kenapa kau terus melakukannya? Menghindariku… bersikap dingin padaku!"

"Aku benar-benar tertekan dan aku tidak mau membuatmu sedih... itu saja."

"Apa maksudmu? Apa ini ada hubungannya dengan saat aku tidak sengaja melihatmu di rumah sakit?"

"Ino, aku-aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang kurasakan."

"Katakan yang sejujurnya, apa yang terjadi denganmu?! Kenapa hari itu aku melihatmu di rumah sakit dan kau terlihat sangat marah sampai kau melukai tanganmu sendiri?" tanya Ino sambil menggenggam tangan Shikamaru yang di perban.

"Aku— mendokusai, apa yang harus kulakukan?"

"Apa kau sakit? Shika, katakan padaku apa kau sakit?! Jika kau tidak mau mengatakannya aku akan menyeledikinya sendiri, kau tau sendiri kan, aku mempunyai koneksi yang sangat bagus di rumah sakit."

"Ya, kau benar. Percuma terus menerus membohongi gadis keras kepala seperti dirimu."

"Tentu saja! Kau pasti tidak lupa siapa orang tuaku?"

"Aku benar-benar tertekan sewaktu aku tahu kalau aku mengidap kanker—"

"APA? Kanker?" potong Ino, ia terlihat semakin frustasi mendengar berita mengejutkan ini.

"Umm, kanker paru-paru. Aku sudah melakukan kemoterapi dan melakukan semua yang mereka suruh. Kupikir semuanya akan berakhir tapi ternyata aku malah mengetahui bahwa itu baru di mulai. Kemoterapi masih belum cukup untuk menyembuhkannya. Itulah sebabnya aku ingin menjauh darimu. Aku ingin kau melupakanku. Tapi saat kau berkata kau akan pergi dengan pria lain… hatiku sakit, Ino."

"BAKA! SHIKAMARU BAKA!" teriak Ino sambil meremas tangan Shikamaru yang masih digenggamnya.

"Ya, aku memang bodoh."

"Kalau begitu, biarkan aku mendampingimu sampai kau sembuh total, Shika!"

"Kalau aku tidak bisa sembuh?"

Aliran dingin seakan membekukan jantung Ino dan membuat perutnya menegang. Ia sudah cukup banyak membaca buku tentang ilmu kedokteran, penyakit, virus, dan lain sebagainya. Ia sudah tahu apa yang kemungkinan besar akan terjadi jika kemoterapi dan terapi radiasi tidak berhasil. Ia mungkin akan kehilangan Shikamaru untuk selamanya.

"Aku— aku tak peduli! Aku ingin terus berada disisimu! Didekatmu, sekarang dan selamanya! Memangnya kau tak ingin aku dampingi?"

"Kalau beritanya buruk, tentu saja jawabannya 'Tidak.' Aku mau kau memiliki hidup yang normal, Ino. Kau tak seharusnya duduk di rumah sakit dan ruang dokter hanya untuk menunggu untuk mengetahui apakah hidupku akan berakhir atau tidak."

"Kau lupa ya, kalau cita-citaku adalah menjadi seorang dokter? Tentu saja aku tak keberatan menghabiskan waktuku di rumah sakit untuk selalu mendampingimu."

"—tapi Ino kau…"

"Shika, katakan, apa itu hidup yang normal? Kencan dengan orang lain? Menikah lalu hidup bersamanya seumur hidupku?"

"Kau suka asisten baru ayahmu itu? Kau benar-benar ingin kencan dengannya?"

"Kenapa kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi, dasar rambut nanas pemalas!"

"Lalu kenapa kau bertanya begitu padaku?"

"Astaga, sepertinya otak jeniusmu itu berhenti bekerja sejak kau sakit. Maksudku bukan itu, tapi kau juga tidak berkencan denganku, kan? Kau memutuskan hubungan kita. Kau mencampakkanku, Shikamaru."

"Sebab aku tidak mau mengikatmu." Shikamaru menatap lantai, tampak malu karena ia akan mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia katakan sebelumnya. Sebuah pujian.

"Aku sangat mencintaimu dan bila aku mencintaimu, seharusnya aku menginginkan yang terbaik bagimu dan kau tidak selayaknya memiliki pacar yang sakit. Kau cantik, Ino, dan seharusnya kau mendapatkan lebih daripada apa yang selama ini kuberikan padamu. Kau seharusnya pergi ke pesta-pesta dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Kau layak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku."

Hati Ino ikut hancur begitu memahami alasan tindakan Shikamaru. "Jadi menurutmu, dengan menghindariku, aku akan tertarik pada orang lain?"

"Ya."

"Tapi waktu kubilang mungkin aku akan kencan dengan orang lain—"

"Aku tidak tahan. Ya, mendengarnya saja aku tidak tahan. Aku begitu mencintaimu hingga sakit rasanya. Jadi kini kau mengerti kan, aku bukan cuma sakit, aku juga pengecut."

Ino menatap wajah Shikamaru. Ia kemudian mengecup kening Shikamaru penuh sayang. "Aku membenci apa yang menimpamu, Shika. Menurutku itu tidak adil dan mengerikan… tapi itu tak sedikitpun mengubah perasaanku kepadamu. Aku masih mencintaimu dan perasaan itu tidak akan hilang."

Shikamaru tersenyum sambil membelai pipi Ino dengan lembut. Kemudian ia memegang tangan Ino dan mengecup punggung tangannya. "Gomen ne, Ino. Maaf karena aku telah menyakiti hatimu. Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu dan duduk menungguku sembuh sepertinya bukan sesuatu yang seharusnya kau lakukan."

"—tapi itulah yang ingin kulakukan, Shika! Mulai dari sekarang dan setelah semuanya berlalu, aku tetap ingin bersamamu karena itulah Shika, kumohon kembalilah padaku!"

"Dasar, kau memang gadis bodoh! Mana ada seorang wanita yang menginginkan kisah cintanya berakhir dengan sad ending?!"

"Ada!"

"Siapa? Gadis bodoh di depanku ini yang menginginkannya? Wanita lain tidak ada yang sepertimu. Mereka memulai cinta mereka dengan harapan akan mendapat kebahagian yang indah. Tidak ada seorang wanita pun yang memulai cinta mereka untuk kemudian berakhir begitu saja."

"Kau itu jangan sok tahu, ya. Tentu saja ada. Dan itu bukan hanya aku."

"Kalau begitu siapa lagi, coba katakan!"

"Little Mermaid…"

"Hahaha… dia bahkan tidak memulai. Dia hanya memendam cintanya pada sang pangeran di dalam hati kemudian berakhir menjadi buih di lautan."

"Baik, aku salah soal Little Mermaid… pokoknya di dunia ini ada wanita seperti itu!" tegas Ino keras kepala.

"Ckck… keras kepala."

"Shika, back to me please!" kata Ino merajuk.

"Mendokusai. Baiklah, terserah kau." kata Shikamaru menyerah.

Ino tersenyum lebar. Meskipun ia baru saja mengetahui sebuah berita yang sangat mengejutkannya… pada akhirnya ia tetap senang karena Shikamaru bersedia untuk kembali kepadanya. Ia ingin selalu bersama dengan Shikamaru apapun yang akan terjadi nanti.

'Gadis bodoh! Dia malah tersenyum?'

"Ino, kau yakin bisa bahagia bersamaku?"

"Tentu saja. Shikamaru adalah kebahagian terbesar dalam hidup Ino."

"Lalu apa yang akan kau lakukan kalau seandainya kebahagian terbesarmu ini menghilang untuk selamanya? Apa kau akan ikut menghilang?"

"Itu masalah nanti… yang terpenting, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu bersamamu. Aku akan selalu berada disisimu."

"Lihat, jawabanmu saja tidak jelas begitu! Jangan-jangan ujungnya kau bisa depresi dan menyiksa dirimu sendiri?"

"—karena itulah kau tidak boleh menyerah! Kau harus bisa mengalahkan penyakit itu. Pokoknya kau harus sembuh. Aku akan selalu menghiburmu dan tidak akan membiarkanmu menderita sendirian."

"Nampaknya keyakinanmu lebih besar dibandingkan aku."

Ino menupuk bahu Shikamaru lalu bangkit berdiri, "Salah satu dari kita harus begitu!"

"Dan asisten ayahmu itu? Lelaki yang ingin kencan denganmu?"

"Sudah menjadi sejarah."

Perlahan senyum mengembang di wajah Shikamaru, membuat lutut Ino terasa goyah dan jantungnya berdebar-debar. Ia senang bisa melihat Shikamaru tersenyum lagi.

"Ayo ke bioskop, lalu kita beli apapun yang kau mau untuk merayakan ini. Mari kita nikmati hidup kita. Mari kita lakukan apapun yang kita suka dan apapun yang kita mau karena hidup ini singkat!"

Yah, pernyataan Shikamaru tentang hidup itu singkat, Ino memang sudah sering mendengar kalimat itu tapi sewaktu Shikamaru yang mengatakannya, maknanya terasa lebih dalam dan berarti. Hidup memang singkat. Dan hanya orang yang pernah berhadapan dengan kematian seperti Shikamaru lah yang mampu memahami betapa singkat hidup ini sesungguhnya.

"Aku mau. Kebetulan aku belum makan malam."

"APA? Astaga Ino, ini sudah pukul 22.15! Apa kau ingin sakit?" kata Shikamaru terlihat khawatir.

"Sebenarnya aku sedang diet tapi karena kau yang mengajakku, dietnya tidak jadi!"

"Mendokusai. Memangnya kau pikir semua lelaki itu menyukai gadis yang kurus? Aku lebih suka gadis yang berisi, jadi Ino… jangan buat tubuhmu kerempeng apalagi sampai kurus kering, mengerti!"

Ino memutar bola matanya jengkel. Ia tidak mau dengar. Baginya penampilan adalah segalanya. Jadi dia harus berpenampilan bagus. Apapun yang terjadi dia tidak mau gemuk. Bisa-bisa Sakura bukan cuma mengatainya babi tetapi kuda nil.

"Ayo! Katanya mau pergi?" kata Ino. Shikamaru hanya menghela napas. Lalu menggandeng tangan Ino.

oooOOPaintMyLoveOOooo

.

.

.

"Ya ampun, forehead! Kau stalker!" teriak Ino saat ia memasuki kamar Sakura yang penuh dengan canvas dengan lukisan seorang lelaki berambut pirang keemasan, bermata blue sapphire dan tanda kumis kucing di kedua pipinya.

"Apaan sih pig? Pagi-pagi begini sudah teriak-teriak!" Sakura keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan handuk kimono seraya mengusap rambut pink halusnya yang masih basah dengan handuk kecil.

"Sejak kapan seorang Haruno Sakura menjadi stalker?"

"Sejak aku jatuh cinta pada Uzumaki Naruto." jawab Sakura sambil tersenyum.

"Kau gila, forehead! Kenapa kau mau dengannya?"

"Memangnya butuh alasan untuk mencintai seseorang?"

"Kau tahu sendiri siapa dia sebenarnya. Dia itu anak di luar nikah."

"—kan bukan salahnya kalau dia terlahir sebagai anak dari wanita simpanan Namikaze Minato. Memangnya dia sendiri yang memilih orang tuanya?" Sakura mengatakan hal itu dengan wajah murung. Perkataan Ino barusan menyakitkan. Ino memang tidak mengatai Naruto anak haram tetapi kalimat 'anak di luar nikah' terkesan seperti itu.

"—tapi kau puteri Haruno Kizashi, Sakura."

"Memangnya aku sendiri yang meminta dilahirkan sebagai puteri mereka? Salahkan takdirku! Kenapa aku harus terlahir sebagai puteri kandung mereka?" Sakura terlihat sangat kesal saat membahas kedua orang tuanya.

"Oh, ya ampun! Benar kata orang… cinta itu buta!"

"Seperti kau tidak begitu pada Shikamaru?" balas Sakura dengan nada datar tanpa ekspresi. Ia tidak suka Ino memandang Naruto dengan sebelah mata.

"Baiklah, aku menyerah. Aku tidak akan pernah menang melawanmu. Dan maaf kalau perkataanku soal Naruto barusan melukai hatimu. Aku hanya tidak ingin kau mendapatkan masalah karena hal ini."

"Bagus kalau kau sadar dan terimakasih karena sudah peduli padaku. Kau memang sahabat terbaikku. Tapi aku benar-benar tidak peduli, Ino, karena aku menyayanginya."

"Aku tahu."

"Ngomong-ngomong untuk apa kau datang kesini pagi-pagi begini?" tanya Sakura. Ekspresinya sudah kembali seperti biasa.

"Ini kan hari libur, kita shopping, yuk! Lalu beli cake. Sudah lama aku tidak makan cake." kata Ino dengan mata aquamarine-nya yang berbinar-binar. Mata green emerald Sakura pun ikut berbinar-binar. Nampaknya good mood Sakura sudah kembali.

"Kau benar, sudah satu bulan kita tidak makan cake karena diet khusus kita. Hahaha, tunggu sebentar aku mau pilih baju dulu!" Sakura kemudian memilah-milah pakaiannya sambil bersenandung kecil.

"Aku mau kue cokelat yang paling lezat!" kata Ino.

"Aku?" Sakura terlihat berpkir, "Nanti saja ah! Aku mungkin akan bingung karena terlalu banyak pilihan." sambung Sakura.

Ino kembali memperhatikan karya-karya Sakura. Sakura memang sangat pandai melukis. Goresan-goresan di atas canvas itu benar-benar sempurna… mirip sekali dengan sosok aslinya. Meskipun begitu tetap saja Ino merasa sahabatnya itu sudah gila karena lukisan-lukisan tersebut pose-nya berbeda-beda, begitupula dengan ekspresinya. Apa itu berarti sahabatnya ini menguntit Naruto setiap saat. Bahkan poster besar Jeong Yong Hwa yang katanya adalah idolanya sepanjang masa sudah diganti dengan foto Naruto.

'Benar-benar stalker Sakura itu.' pikir Ino.

"Forehead, kapan kau mengambil foto Naruto?" tanyanya.

"Oh, aku memotretnya diam-diam saat dia sedang latihan karate. Keren, kan?" Sakura tersenyum lebar.

"Kau kemana kan, Yong Hwa oppa-mu?" sindir Ino.

"Oh, aku kasih ke Muki-chan. Wah! Dia seneng banget tahu!"

"Tentu saja! Itu kan ada tanda tangannya. Dan Muki-chan adalah fans beratnya Yong Hwa oppa."

"Naruto yang dalam angle begitu, jauh lebih keren." Sakura tersenyum sambil melihat foto Naruto yang sedang mengangkat sebelah kakinya untuk menendang lawan. Pipinya merona merah.

"Kau tidak akan menyesal?"

"Kalau aku menyesal akan kuambil lagi darinya."

"Mana boleh begitu! Barang yang sudah diberikan, tidak boleh di ambil kembali!"

"Kalau begitu akan kudapatkan lagi tanda tangan Yong Hwa oppa walau harus pergi ke Korea sekalipun."

"Iya deh, yang udah punya idola baru." kata Ino pula.

.

.

.

'Prang!'

Nampan berisi sepiring French Toast, Macaroons, dan dua gelas Caffe Latte itu, tiba-tiba saja terjatuh dari tangannya. Seorang pelanggan memandangnya penuh amarah.

"Astaga, apa yang kau lakukan? Kau membuat sepatuku kotor dan kulitku hampir melepuh karena terkena ciptratan kopi itu! Panas tahu!"

"Maafkan saya nona, saya tidak sengaja!" mohonnya sambil menahan rasa pusing di kepalanya.

"Panggil manajermu sekarang juga! Cepat panggil!" teriak pelanggan wanita berusia sekitar dua puluh tahunan tersebut.

"Ada apa ini?" tanya seorang lelaki berkulit pucat menghampiri mereka.

"Apa kau manajernya?" tanya wanita itu pula.

"Ya, saya juga pemilik Café ini." jawabnya.

"Aku minta, pecat karyawanmu itu! Dia sudah melukaiku!"

"Maaf nona, saya tidak bisa memecatnya begitu saja, lagipula dia hanya pekerja part time."

"Aku tidak peduli! Aku ingin kau memacatnya sekarang juga! Atau akan kusuruh teman-temanku untuk tidak pernah datang ke Café ini lagi!"

"Naruto, ikut aku ke ruanganku!" tegas lelaki berkulit pucat itu.

Naruto pun membungkuk hormat pada wanita itu lalu mengikuti langkah atasannya tersebut.

"Aku benar-benar minta maaf, Sai-senpai. Aku tidak sengaja."

"Duduklah dulu, Naruto!" perintah Sai dan Naruto menurut. Dari ekspresinya Naruto benar-benar terlihat menyesal.

"Apa kau sedang sakit? Hari ini kau tidak seperti biasanya. Pekerjaanmu berantakan semua."

"Maafkan aku. Apakah kau akan memecatku, senpai?"

"Tidak! Tapi aku akan mengantarmu ke rumah sakit sekarang juga!"

"Untuk apa?"

"Ya, untuk memeriksakan kesehatanmu!"

"Aku tidak sakit, senpai!"

"Mukamu sangat pucat. Pergerakkanmu juga sangat lambat hari ini. Kau terlihat lemas. Apa itu yang namanya tidak sakit?"

"Aku tidak punya riwayat penyakit apapun. Kurasa aku hanya kelelahan saja."

"Bagaimana dengan Ruka yang memintaku untuk membujukmu pergi check up? Aku sudah tahu dari Ruka, dua minggu lalu orang tua kalian bertengkar hebat. Kau mencoba melerai mereka tetapi malah terkena serangan salah sasaran dalam perkelahian mereka. Benda keras itu menghantam kepalamu hingga kau langsung pingsan dan kehilangan banyak darah."

"Kenapa Ruka-Nee menceritakan hal itu padamu?"

"Wajar, kan? Aku ini sahabatnya! Waktu itu lukamu diobati dokter pribadi kalian yang sengaja dipanggil ke rumah. Dokter itu bahkan memintamu untuk check up, tapi sampai sekarang kau tidak melakukannya."

"—karena aku merasa itu tidak penting."

"Sejak kapan kesehatanmu menjadi sesuatu yang tidak penting? Memangnya sejak kejadian itu kau tidak merasa ada yang aneh dengan tubuhmu? Ruka bilang, kau jadi sering pusing tiba-tiba dan kau juga sering mual-mual hingga muntah, bahkan kemarin kau jatuh pingsan setelah selesai kerja part time di tempatku ini. Jadi dia menyuruhku untuk membujukmu check up."

"Aku takut, senpai." kata Naruto dengan suara lirih.

"Takut apa? Apa yang kau takutkan? Mereka hanya akan memeriksamu!"

"Beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja tanganku tidak bisa digerakkan. Bagaimana kalau mereka bilang aku—" perkataan Naruto tersendat. Matanya birunya mulai berkaca-kaca.

"Bagaimana kalau mereka bilang aku tidak akan pernah bisa memainkan alat musik lagi? Aku tidak mau pergi hanya untuk mendengar berita mengejutkan seperti itu. Bagiku musik adalah… hidupku, senpai."

"Naruto…" gumam Sai. Ia sendiri sudah tidak bisa mempertahankan ekspresi datarnya lagi.

"Gara-gara permohonan ibuku, aku harus tinggal bersama mereka. Bagiku itu bukan rumah tetapi neraka. Okaa-san adalah sumber kebahagianku dan dia sudah tiada. Kakakku sudah tidak mau menjadi kakakku lagi. Otou-san dan juga ibu Ruka-Nee menolakku. Lalu apa mereka juga harus merebut musik dariku?"

Kini Naruto sudah menjatuhkan air mata. Sai merasa ikut sedih. Dia tahu sebesar apa kekaguman juniornya itu terhadap musik. Hatinya pasti akan hancur lebur kalau semua itu harus direnggut darinya.

"—tapi Ruka mengkhawatirkan kondisi kesehatanmu, Naruto, begitu pula aku. Kau harus check up! Toh itu hanya dugaanmu saja. Siapa tahu tidak ada masalah dengan syaraf motorikmu." bujuk Sai pula.

Naruto merasa kepalanya semakin sakit. Pandangan matanya mulai buram. Saat rasa pusing itu sudah tidak tertahankan lagi, ia tidak tahu lagi apa yang terjadi selain hanya kegelapan yang bisa ia lihat.

"NARUTOO!" teriak Sai semakin panik. Ia pun lekas memanggil ambulance dan menghubungi Ruka.

.

.

.

Seorang anak kecil meringkuk di atas kasur besar yang nampak empuk sekaligus lembut itu. Rambut pirang keemasannya menutupi mata birunya yang mengalirkan air mata. Ia masih ingat dengan jelas kejadian beberapa jam yang lalu—saat matahari mulai terbenam… saat langit biru berubah menjadi jingga. Ibu yang sangat disayanginya tiba-tiba saja membawanya ke rumah besar ini. Mengatakan bahwa sebenarnya pemilik rumah ini adalah ayah kandungnya. Tentu saja ia bingung sekaligus merasa heran. Bukankah ibunya pernah bilang kalau ayahnya sudah meninggal.

.

"Waa! Mama, ini rumah siapa?" tanyanya sambil memandang rumah di depannya dengan tatapan takjub. Ia belum pernah melihat rumah sebesar ini kecuali dari televisi.

"Kau memang mirip sekali dengan papamu."

Anak itu memiringkan kepalanya, merasa heran karena perkataan ibunya sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaannya barusan. Tetapi entah kenapa hari ini ekspresi ibunya terlihat begitu sedih. Wajah ibunya juga sangat pucat. Apa ibunya sedang sakit?

Anak itu tersenyum karena ingin menghibur ibunya, "Tidak! Aku mirip mama, kok!"

"Memang wajahmu mirip denganku tapi tidak dengan warna rambut dan matamu. Tapi mama yakin sekali, suatu saat nanti kau pasti akan setampan papamu bahkan kau bisa tumbuh menjadi seorang pria yang jauh lebih hebat darinya."

"Dan juga lebih keren?"

"Ya!"

"Mama sedang kangen papa, ya?"

"Naru-chan, apa kau ingin bertemu dengan papa?"

"Bukannya mama bilang, papa sudah meninggal? Bagaimana bisa aku bertemu dengannya?"

"Maaf, dulu mama berbohong padamu. Jam saku ini adalah milik papamu. Sekarang, ini menjadi milikmu. Kau tahu lambang ini?" Kushina memperlihatkan jam saku yang bahan dasarnya terbuat dari emas murni itu kepada putera kesayangannya.

Naruto kecil mengambilnya dan memperhatikannya dengan teliti. Ia mencoba mengingat-ngingat. Sepertinya ia pernah melihatnya. Ya, ia ingat sekarang, lambang ini sering muncul di televisi.

"Bukannya ini lambang clan Namikaze yang terkenal itu?"

"Yup! Ini lambang clan Namikaze dan rumah ini adalah rumah ayah kandungmu."

Naruto kecil terlihat semakin bingung, "Maksud mama?"

"Namikaze Minato… sebenarnya dia adalah papamu. Ayah kandungmu. Dan mulai sekarang mama ingin kau tinggal bersamanya."

Kushina berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan putera kecilnya. Ia membelai pipi Naruto dengan lembut. Bibir Kushina melengkungkan sebuah senyum tetapi tidak dengan matanya. Ini adalah keputusan terberat dalam hidupnya.

"Mama, kenapa menangis? Kalau memang aku harus tinggal bersama papa, kita akan tetap bersama. Mama akan tinggal disini juga, kan?"

Kushina memegang kedua bahu Naruto, "Tidak, Naru-chan. Mama tidak bisa tinggal bersamamu lagi."

Saat itu juga dada Naruto terasa sakit. Sangat sakit. Rasa sakit dihatinya itu bahkan sampai membuat matanya memanas dan berair. "Mama, tidak menginginkan Naru lagi?"

Kushina memejamkan matanya pedih lalu mencium kening puteranya selama beberapa menit. Air mata menetes membasahi hidung mungil Naruto. "Bukan begitu, sayang! Mama sangat menyanyangi Naru lebih dari apapun. Mama sangat menginginkan Naru."

"Kalau begitu, kenapa? Kenapa mama mau membuangku?"

Kushina membuka matanya lagi. Ia kembali menatap mata bulat Naruto. Rasa sakit dihatinya membuat dadanya sesak, "Bukannya mama ingin membuangmu tapi mama harus segera pergi."

"Pergi kemana? Naru tidak boleh ikut?"

'Oh, Kami-sama… Anakku masih begitu polos. Berat rasanya untuk menjauh darinya.'

"Bukannya tidak boleh, sayang. Naru tidak bisa ikut sekarang karena waktu yang Naru punya masih panjang."

"Aku tidak mengerti apa yang mama bicarakan!"

"Naru, jangan pernah membenci papa, ya! Sudah cukup dengan dia membenciku dan mama harap dia tidak membencimu juga!"

"Sebentar, aku masih tidak mengerti."

Kushina menghela napas panjang, "Bukan papamu yang tidak mau menikahiku tapi sebaliknya, akulah yang menolak lamarannya. Aku sangat sakit dan aku tidak mau membebani Minato soal ini. Naru pasti akan mengerti suatu saat nanti."

"…."

"Sekarang, Naru harus tinggal bersama papa karena waktuku sudah tidak banyak. Mama harus segera pergi. Mama sayang sekali sama Naru dan mama senang bisa menghabiskan sisa umur mama denganmu. Naru harus sekolah hingga tingkat tertinggi, ya. Masuklah ke sekolah favorit dan setelah lulus sekolah kau juga harus masuk universitas terbaik. Makanya Naru harus rajin belajar, mengerti?"

"…"

"Naruto, jangan suka pilih-pilih… makanlah yang banyak biar cepat besar. Mandilah setiap hari biar hangat. Lalu jangan sering bergadang dan banyaklah istirahat. Terus, carilah teman… sedikit juga tak apa. Cukup beberapa teman yang bisa dipercaya."

"Mama…." Naruto mulai menangis begitu juga dengan Kushina tetapi Kushina kembali tersenyum.

"Kau harus menjadi anak yang pintar seperti papamu, jangan seperti mama yang payah! Tapi tiap orang punya kelebihan dan kekurangan… jadi jangan putus asa kalau ada yang tidak berjalan lancar. Patuhlah pada guru serta senior di sekolahmu. Lalu soal perempuan, mama juga perempuan jadi tidak begitu mengerti…"

"..."

"Karena di dunia cuma ada laki-laki dan perempuan… jadi suatu saat kamu pasti tertarik, tapi jangan sama cewek aneh ya! Carilah perempuan seperti mama, yang sangat menyangimu dengan tulus. Perempuan yang tidak memandangmu dengan sebelah mata. Perempuan yang bisa membuatmu bahagia."

"…."

"Naruto, maafkan mama, ya! Aku menjadikanmu sebagai anak—" Kushina tidak tega melanjutkan perkataannya. Ia merasa berdosa karena telah membuat puteranya harus menanggung beban seberat ini.

"Yah, karena kau akan tinggal di lingkungan keluarga terpandang, pasti banyak penderitaan dan kesedihan yang menunggumu. Tetaplah ingat jati dirimu dan milikilah cita-cita. Lalu percaya dirilah kalau kamu bisa mewujudkannya."

Kushina menghapus air mata di pipi Naruto dan memeluknya erat, "Mama sebenarnya ingin lebih banyak mengajarimu macam-macam hal… lebih lama bersamamu serta memberimu cinta setiap hari tapi mama benar-benar harus segera pergi. Terimakasih banyak karena sudah terlahir ke dunia ini. Kau adalah puteraku yang berharga. Kau adalah anugerah terindah di dalam hidupku. Mama sangat menyayangimu."

Kushina mengecup puncak kepala Naruto penuh sayang.

"Mama, kenapa mama begitu banyak bicara seolah mama tidak akan pernah kembali lagi kepadaku?"

"—karena sepertinya mama tidak bisa kembali. Ah, satu lagi, sebenarnya setiap bulan mama selalu menulis surat cinta untuk papamu tapi mama sengaja tidak pernah mengirimkannya karena mama terlalu mencintainya. Nah, ayo kita masuk, Naru-chan!" kata Kushina yang kemudian menggandeng Naruto. Setelah menekan bel berkali-kali dan mengatakan siapa dirinya, pintu gerbang itu pun terbuka.

.

Jam di dinding terus berdetak berisik. Jarum jamnya menunjuk pukul 00.00. Rupanya sudah tengah malam. Naruto membuka jam saku yang sejak tadi tergeletak di dekat kepalanya. Jam saku pemberian ibunya. Ia pun mengulurkan tangannya, mengambil jam tersebut dan membukanya. Dan seperti sebuah kotak musik, suara dentingan piano tiba-tiba terdengar dari sana. Ia ingat melodi ini. Melodi ini adalah melodi yang sering dimainkan oleh ibunya setiap malam —Melodi yang indah dan terkesan misterius— Tanpa menutup kembali jam saku tersebut, Naruto mengalihkan pandangannya pada cermin lemari yang letaknya beberapa meter dari ranjangnya. Melodi itu masih setia menemaninya dalam kesunyian malam.

Naruto merasa sendirian dalam kegelapan. Ia merasa kesepian. Ia merasa seperti ia bisa mendengar langkah kaki yang mengintai dari bagian dalam cermin itu. Ia benar-benar merasa takut. Rasa takut ketika ia menyadari bahwa ia sendirian… itu lebih menakutkan daripada apapun. Saat itu juga sosok cantik ibunya yang tengah tersenyum terlintas di kepalanya. Ia kembali terisak. Dadanya terasa begitu sesak. Hatinya sakit. Padahal baru beberapa jam yang lalu ibunya meninggalkannya di rumah besar ini tetapi ia sudah sangat merindukannya. Naruto terus menangis karena kembali teringat dengan kenangan-kenangan indah bersama ibunya hingga akhirnya ia tertidur karena terlalu lelah menangis. Dan satu bulan setelahnya ia mendengar kabar bahwa ibunya sudah tiada.

.

.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan hingga akhirnya dua tahun berlalu. Sudah dua tahun ini ia belum bertemu dengan ayahnya lagi karena ayahnya sibuk dengan bisnisnya di luar negeri. Selama dua tahun itu pula hatinya selalu tersakiti oleh perkataan kasar seorang wanita yang selalu kakaknya panggil dengan sebutan ibu. Namikaze Yukari—Itulah nama wanita itu. Tidak hanya menyakiti hatinya, wanita cantik itu juga kerap-kali menyiksa dirinya hingga tubuhnya penuh dengan luka lebam, setiap kali dia merasa kesal, tapi Naruto menerima semua itu dengan tegar. Kini ia mengerti apa maksud ibunya. Baginya di dunia ini tidak ada seorang ibu yang jauh lebih baik daripada ibunya.

"Nee-chan, benarkah yang dikatakan para pelayan, kalau ibu dan ayah membenciku?"

"Otouto, kau jangan berpikir macam-macam, mungkin ibu membencimu tapi aku yakin ayah pasti tidak. Dia hanya sibuk karena banyak pekerjaan makanya dia tidak pernah menemuimu. Tapi kudengar ayah akan pulang malam ini, ayo kita menyambutnya!"

"Benarkah?"

"Iya. Ayah pasti membawakan banyak oleh-oleh untuk kita."

Namikaze Ruka tersenyum. Naruto pun membalas senyuman kakaknya itu.

.

Malam ini salju pertama turun, Ruka terlihat sangat senang melihat salju pertama yang turun pada musim ini dari balik jendela kamarnya. Ruka memang sangat menyukai salju. Terdengar suara pintu diketuk. Ruka menoleh ke arah pintu.

"Masuklah!" ujarnya.

Beberapa orang pelayan membungkuk hormat padanya lalu menghampirinya, memberi kabar bahwa tuan mereka sudah datang. Ruka pun tersenyum lebar lalu membangunkan adiknya yang sudah tertidur.

"Otouto, bangun! Mereka bilang Tou-chan sudah pulang, ayo kita sambut!"

Naruto membuka matanya perlahan. Ia kemudian mengucuk-ngecek matanya.

"Mendingan cuci muka! Jangan mengucek matamu!" kata Ruka sambil tersenyum manis seperti biasanya.

Naruto mengangguk lalu menguap, ia benar-benar masih mengantuk, tapi ia sudah tidak sabar menunggu kedatangan ayahnya sampai akhirnya ia jatuh tertidur di kamar kakaknya. Akhirnya ia pun beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

Ruka berlari dengan riang diikuti Naruto dibelakangnya. Tangan kanannya menggenggam sebuket bunga. Saat melihat sosok ayahnya, ia semakin mempercepat laju larinya.

"Otou-chaaan! Ruka kangen Tou-chan!" teriaknya. Saat itu juga Namikaze Minato langsung tertawa lalu menggendong puteri kecilnya dan memutarnya di udara.

"Otou-san juga kangen sekali sama Ruka-chan!" kata Minato yang kemudian menurunkan Ruka dari gendongannya.

"Oh, ya, Otouto juga kangen sama Tou-chan. Bunga ini adalah hadiah darinya untuk Tou-chan." kata Ruka masih mempertahankan senyumannya.

Tiba-tiba saja ekspresi ayahnya berubah mengeras. Tidak ada lagi lekuk senyum di wajah tampan itu. Senyum Ruka lenyap saat itu juga. Suasana disekitarnya menegang. Naruto menghampiri ayahnya sambil tersenyum lebar tetapi Ruka terlihat khawatir karena sepertinya Naruto yang polos tidak menyadarinya.

"Tou—" Naruto baru saja akan memeluk ayahnya tetapi tangannya malah ditepis oleh ayahnya dengan kasar.

"Don't touch me! You are filthy!" bentaknya dalam bahasa inggris.

Tentu saja Naruto sangat shock atas perlakukan ayahnya. Ayahnya dengan senang hati memeluk kakaknya tetapi kenapa ayahnya itu tidak mau ia peluk. Meskipun usianya baru sembilan tahun, ia sudah mengerti bahasa inggris dasar. Ibunya yang mengajarinya —Ibunya fasih berbahasa inggris karena dia adalah pianis terkenal yang sering menggelar konser di berbagai Negara sejak masa kejayaannya.

"Tou-chan, jangan begitu! Bukankah Naruto-kun adalah puteramu yang berharga? Dia sangat penting untuk Tou-chan, kan?" kata Ruka dengan air mata menetes. Tentu saja Ruka juga mengerti bahasa inggris —dia adalah anak yang cerdas.

Minato meremas buket bunga yang Ruka berikan tadi dan melemparnya pada Naruto. Tatapan matanya pada puteranya itu sangat tajam dan dingin, "Cih! Puteraku yang berharga katamu? Penting? Akan lebih baik jika dia tidak pernah dilahirkan! Dia selalu mengingatkanku pada wanita j***ng itu!"

'DEG!' jantung Naruto terasa begitu sakit. Sangat sakit. Jauh lebih sakit daripada saat ibunya meninggalkannya. Perkataan ayahnya benar-benar menyakiti hatinya sampai rasanya dadanya terasa begitu sesak. Ia tidak bisa bernapas. Lututnya terasa goyah dan saat itu juga ia langsung jatuh terduduk. Ia benar-benar merasa shock, tidak menyangka ayah kandungnya mengatakan hal setega itu, bahkan dia mengatai ibunya wanita j***ng. Ia kembali teringat perkataan ibunya.

"Naru, jangan pernah membenci papa, ya! Sudah cukup dengan dia membenciku dan mama harap dia tidak membencimu juga!"

"Otou-san, kau jahat! Kenapa kau berkata sekejam itu pada Otouto?"

"Cepat, masuk ke kamarmu, Ruka!"

"—tapi…"

"Kubilang cepat masuk! Dan bawa anak ini pergi! Aku muak melihat wajahnya!"

Saat itu juga Ruka langsung menangis tersedu-sedu. Meskipun perkataan kejam ayahnya ditujukan untuk Naruto tetap saja hatinya juga terasa sakit, walau bagaimana pun Naruto adalah satu-satunya adiknya. Ruka mendekati Naruto. Napas adiknya itu tersenggal-senggal dan wajahnya berubah pucat. Ruka pun membelai rambut Naruto lembut.

"Jangan dengarkan, Tou-chan! Bagiku kau adalah orang yang sangat penting! Ayo kita pergi!" kata Ruka sambil membantu Naruto berdiri. Naruto masih memegang dadanya yang sakitnya tidak mau hilang. Sebelum ia pergi, ia kembali menoleh pada ayahnya yang malah membuang muka.

"Otou-san, jika aku tidak penting bagimu, kenapa aku di sini?" tanya Naruto dengan suara lemah, tetapi Minato hanya tertawa sinis.

"Naru, ayo!" ajak Ruka pula yang langsung membimbing Naruto menuju kamarnya.

.

.

.

"Naru…! Naruto...!" samar-samar ia bisa mendengar suara yang sangat familiar baginya.

Perlahan ia pun membuka kedua matanya. Setelah pandangannya menjadi jelas, Naruto tersenyum tipis. Seandainya kakaknya ini tetap seperti dulu. Tetap menganggapnya sebatas adik… perasaannya pasti tidak akan sekacau ini.

"Kau menangis dalam keadaan tak sadarkan diri. Kau bahkan terus mengigau memanggil ibumu. Apa kau bermimpi buruk?"

"Iie…! Dimana ini?" tanya Naruto dengan suara lirih.

"Di rumah sakit. Kau tiba-tiba pingsan lalu Sai membawamu kemari."

"Sudah berapa lama aku kehilangan kesadaran?"

"Kau pingsan selama setengah hari. Naruto, Tsunade-sensei bilang saat kau sudah siuman dan merasa baikan... dia akan menemuimu. Dia akan membahas hasil diagnosismu. "

"Nee-chan..." suaranya selirih bisikan. Mata birunya sayu. Dan Ruka bisa melihat sinar mata itu redup dan tampak begitu kelam. Sinar di mata Naruto tidak lagi secerah dulu dan itu membuat hatinya sakit.

"Hmm?"

"Kali ini saja kumohon panggil aku 'adik' seperti dulu!"

"…."

"Nee-chan, kumohon kembalilah menjadi kakakku. Aku tidak tahu sejak kapan kau menyukaiku tapi hari ini aku sungguh membutuhkan sosok seorang kakak." kata Naruto memelas.

Ruka memejamkan matanya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak tangis. Ia sendiri tidak tahu dengan pasti sejak kapan ia mulai menyukai Naruto lebih dari seorang adik.

"Aku merindukan onee-chan yang dulu."

Ruka membuka matanya kembali lalu tersenyum pada Naruto, "Ha'i, otouto!" katanya.

Naruto tersenyum tulus kali ini. Setidaknya Ruka setuju walaupun ia tidak tahu akan sampai kapan Ruka seperti ini. Menjadi kakaknya seperti dulu. Ia bisa melihat Ruka membalas senyumanya dan memeluknya seperti dulu— saat ia menangis semalam dalam pelukkan Ruka setelah mendengar penolakkan yang sangat menyakitkan dari ayahnya.

"Hangat...! Pelukkan Nee-chan masih sama hangatnya seperti dulu. Arigatou, onee-chan."

Ruka menepuk-nepuk punggung Naruto pelan, "Apapun yang dikatakan Tsunade-sensei nanti, kau harus tetap tegar, ya! Aku ada disini!"

Ruka bisa merasakan Naruto mengangguk. Ia sebenarnya sudah tahu apa yang ingin dikatakan dokter ahli saraf itu. Ia bahkan sudah melihat semua hasil pemeriksaan Naruto. Air matanya menetes. Hati adiknya pasti akan hancur mendengarnya.

"Tetaplah menjadi adik yang kuat!" lanjut Ruka.

oooOOPaintMyLoveOOooo

.

.

Naruto menatap ke luar jendela dengan pandangan menerawang. Hari sudah menjelang sore, dan seperti biasa, langit senja selalu mengingatkannya pada sosok ibunya. Kini ia mengerti semua perkataan ibunya. Ibunya sakit parah. Itulah sebabnya ibunya memintanya untuk tinggal bersama ayahnya. Dan ibunya meninggal karena penyakitnya. Kini ia tahu kenapa semakin lama badan ibunya semakin kurus. Selama ia hidup bersama ibunya, ibunya selalu menyembunyikan wajah pucatnya dibalik riasan make up yang dikenakannya setiap hari. Hari dimana ibunya mengantarnya ke mansion Namikaze adalah pertama kalinya ia melihat wajah pucat ibunya. Hanya satu hal yang ia sesali, sampai sekarang ia tidak tahu penyakit apa yang sudah merenggut nyawa ibunya. Dulu mereka hanya tinggal berdua karena ibunya memang sudah tidak memiliki sanak keluarga.

Ia juga tahu bahwa ibunya sangat mencintai ayahnya, karena itulah setiap bulan, ibunya selalu menulis surat untuk ayahnya… walaupun surat-surat itu tidak pernah dia kirimkan. Andai ia tahu dimana ibunya menyembunyikan surat-surat itu, ia pasti sudah memperlihatkan semua surat itu pada ayahnya. Dengan begitu, ayahnya tidak akan salah paham lagi pada ibunya dan berhenti membenci ibunya.

Kemarin Ruka bercerita padanya, bahwa pernikahan ayah mereka dengan ibu Ruka tidak berdasarkan cinta, makanya mereka sering sekali bertengkar. Mereka berdua menikah karena dijodohkan, dengan kata lain, orang tua mereka menikahkan putera-puterinya hanya untuk hubungan bisnis. Awalnya ia pikir alasan mereka berdua sering berkelahi adalah dirinya tetapi ternyata anggapannya itu salah. Ayahnya mencintai ibunya. Begitu juga dengan ibu Ruka— Yukari mencintai pria lain. Lalu kenapa wanita itu sering menyiksanya? Itu karena Yukari adalah seorang wanita yang memiliki harga diri tinggi. Ia selalu ingin menjadi nomor satu dan baginya statusnya sebagai istri resmi seorang Namikaze Minato adalah harga diri terbesarnya. Itulah sebabnya wanita itu tidak suka kalau ada wanita lain di hati Minato karena secara hukum, Namikze Minato sudah berstatus sebagai suaminya. Ia juga tidak mau bercerai dengan Minato dan menyandang status single parent, mau ditaro dimana mukanya. Lalu kenapa Ruka bisa terlahir ke dunia ini kalau memang kedua orang tuanya tidak saling mencintai? Itu karena kakek-neneknya menuntut orang tuanya untuk memberi mereka seorang cucu. Dan Uzumaki Kushina menerima semua itu dengan lapang dada meskipun hatinya teramat sakit.

"Okaa-san, kau sangat kuat! Kau menanggung semua beban itu sendirian. Kalau begitu aku juga. Aku akan berusaha untuk tetap kuat apapun yang terjadi."

Kaca pintu itu diketuk, Naruto pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu tersebut. Tsunade Senju masuk ke kamarnya diikuti Namikaze Ruka dibelakangnya. Ruka kembali menutup pintu. Naruto menahan napas. Tsunade Senju dengan tangan penuh map dan kertas, menarik kursi ke samping ranjang. Ruka duduk di atas ranjangnya dan menggenggam tangannya yang tak terpasang selang infus.

"Kau tak tersenyum, sensei." komentar Naruto.

"Yah, aku hanya kesal karena asistenku—Shizune melarangku minum sake selama satu minggu penuh." candanya santai, tapi Ruka melihat bahwa mata wanita cantik berambut pirang dengan kuncir dua longgar ini tidak ikut tersenyum.

"Jadi berita mengejutkan apa yang kau bawa untukku, sensei?" tanya Naruto.

Tsunade Senju membuka map di pangkuannya, "Aku akan mengatakannya terus terang, gaki, sebab aku memang harus mengatakannya."

"Ya, kau memang harus berkata jujur!"

"Ya, dan begitulah caraku berurusan dengan seorang pasien. Aku berbicara terus terang meskipun harus menghancurkan hatinya."

"Kau bicara begitu seperti aku akan mati saja."

"Bukankah musik adalah hidupmu? Jadi mungkin kau akan mati karena depresi."

Naruto tertawa kecil, "Jahatnya!"

"Ya, langsung saja. Cedera di kepala yang disebkan oleh serangan salah sasaran perkelahian kedua orang tuamu menyebabkan kerusakan pada otak dan syaraf motorikmu. Kau bahkan sudah mulai mengalami kerusakan Lobus Frontalis. Perlahan tapi pasti kau akan mengalami kesulitan dalam menulis, memainkan alat musik, atau mengikat tali sepatu."

'Deg!'

Ruka memejamkan matanya. Ia bisa merasakan tangan adiknya gemetar dan terasa dingin.

"Hal terburuknya adalah jika otakmu mulai meradang, kau mungkin akan kehilangan daya bicaramu akibat stroke dan mungkin akan mengalami kelumpuhan permanen. Jika hal seperti itu sudah terlanjur terjadi, kami mungkin tidak akan bisa menye—"

"Hentikan! Sudah cukup!" potong Ruka tidak tega.

"Tidak apa-apa onee-chan. Biar bagaimana pun aku harus tau semuanya."

Naruto tersenyum kepadanya. Ruka menggigit bibir, ia bisa melihat bahwa dibalik senyuman yang melengkung di wajah adiknya yang masih tampak pucat itu… ada air mata yang menitik di sana. Ruka semakin mempererat genggaman tangannya dan berbisik pelan di telinga Naruto.

"Harus berapa kali kubilang bahwa menangis itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Meskipun kemarin kubilang kalau kau harus tetap tegar dan kuat… tak apa jika kau ingin menangis sekarang."

Naruto melirik Ruka dan menggelengkan kepalanya. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya pada Tsunade Senju. "Sensei, silakan dilanjutkan!"

"Ya, jika hal itu sudah terjadi. Kami mungkin tidak akan bisa menyembuhkanmu lagi."

"Lalu apa yang sebaiknya aku lakukan?"

"Aku menyarankan pembedahan untukmu. Jika kau dan orang tuamu setuju, kami akan melakukan operasi itu secepatnya."

"Lalu apa operasi itu bisa menyembuhkanku? Apa kau bisa menjamin hal itu untukku, sensei?"

"Itulah sebabnya kita harus mencoba sebelum semuanya terlambat."

"Jika semuanya sudah terlambat, apa yang akan terjadi? Apa aku akan mati?"

"Hal seperti itu bisa saja terjadi tetapi akan lebih baik jika kita menyerahkan semuanya pada Tuhan."

"Maaf, sensei. Aku tidak mau."

"Gaki, kau tidak boleh begini!"

"Sudah kubilang aku tidak mau. Terimakasih untuk semuanya."

"Naruto, jangan seperti ini!" kata Ruka dengan pandangan memohon. "Dokter, apa ada hal lain yang bisa kita lakukan?"

"Baiklah, sambil menunggu keputusan adikmu… Kita akan melakukan fisioterapi. Kau harus datang ke rumah sakit ini— ke bagian pusat rehabilatasi sesuai jadwal yang akan kutentukan."

"Huh! Lucu sekali, aku tidak akan bisa memainkan alat musik bahkan bernyanyi lagi? Lalu apakah setelah itu aku juga tidak akan bisa berjalan lagi? Dan hanya bisa terbaring di atas ranjang dan menggantungkan seluruh kehidupanku dengan bantuan orang-orang di sekitarku?"

Ruka yang sudah tidak bisa lagi menahan kesedihannya hanya bisa menundukkan kepala sambil menggigit bibir menahan tangis.

"Gaki, berpikirlah positif! Kau harus tetap optimis dan kau tidak boleh menyerah! Ingat pesanku, jangan bunuh diri!"

"Memangnya kau pikir aku selemah itu? Sebodoh itu? Tenang saja, nenek, aku akan menikmati hidupku karena hidup ini singkat."

"Apa maksudmu memanggilku nenek, hah? Memangnya aku terlihat seperti nenek-nenek?" Tsunade terlihat sangat marah.

"Memang tidak terlihat tapi kudengar gosip dari beberapa suster, katanya sebenarnya kau itu sudah berumur 50 tahun lebih!"

"Siapa yang berani menyebarkan gosip seperti itu? Aku yakin mereka semua pasti iri dengan kecantikanku!"

"Hahaha, sudahlah baa-chan. Ini adalah panggilan sayangku untukmu. Sudah kubilang hidup itu singkat, jadi biarkan aku melakukan apapun yang ku sukai, hmm!"

"Tidak! Mulai sekarang kau berada dibawah pengawasanku! Kau harus menjaga pola makanmu dan lain sebagainya!" tegas Tsunade.

"Oke! Tapi aku boleh memanggilmu baa-chan, kan?"

"Terserah kau!" ketus Tsunade. Naruto hanya tertawa karena merasa menang.

'Sampai kapan kau bisa tersenyum dan tertawa palsu seperti itu, Naruto?' pikir Ruka.

.

.

.

"Otou-san, kumohon jenguklah Naruto… dia sedang sakit!" mohon Ruka pada ayahnya.

"Aku tidak peduli pada anak itu!"

"Kenapa kau begitu membencinya, Tou-san? Memangnya dia salah apa padamu?"

"Ruka, kau sudah dewasa. Kau pasti sudah mengerti apa yang paling menyakitkan dalam hidup ini. Itu adalah fans yang berubah menjadi anti fans. Saat cinta berubah menjadi kebencian. Aku merasakan keduanya."

"…tapi—"

"Dulu aku adalah fans berat Kushina. Aku sangat mengaguminya lebih dari apapun. Aku selalu datang ke konsernya. Permainan pianonya selalu menggetarkan hatiku. Perasaan cintaku tumbuh dari itu. Sampai akhirnya hubungan kami terjalin. Kami menjalani kisah cinta yang indah. Setiap aku bersama dengannya, aku merasa bahagia tetapi sepertinya hanya aku yang merasakan hal itu."

"…."

"Saat kakek dan nenekmu menjodohkanku dengan ibumu… aku mendatangi Kushina, kubilang padanya 'Menikahlah denganku agar aku tidak perlu menikah dengan wanita itu!' tapi apa kau tahu apa yang dia katakan?"

Ruka bisa melihat luka, kesedihan dan rasa sakit dalam sorot mata biru ayahnya.

"Kalau begitu menikah saja dengannya. Aku lebih suka kau putus hubungan denganku daripada dengan orang tuamu."

"Bukankah itu berarti dia mencintaimu, Tou-san? Dia hanya tidak ingin memutuskan ikatan antara kau dengan kakek dan nenek!"

"…tapi dia mengatakannya dengan ekspresi dingin. Nada suaranya datar. Bukankah itu berarti dia tidak punya perasaan apapun padaku?"

"Jangan sok tahu!"

"Aku tidak sok tahu. Aku juga menanyakannya sendiri pada Kushina. Kau tahu apa jawabannya?"

"…." Ruka menggeleng. Tentu saja dia tidak tahu.

"Ya, aku hanya ingin bermain-main denganmu, jadi sebaiknya kau pergi. Pergilah dari hidupku untuk selamanya."

"Ya Tuhan…" Ruka menggelengkan kepalanya lagi.

"Kau tahu, betapa sakitnya hatiku saat itu? Kushina adalah wanita kedua yang kucintai setelah ibuku. Dan dia menghancurkan hatiku."

"Jadi karena itu, karena itu kau bersedia menikah dengan Kaa-san walaupun Tou-san tahu bahwa sebenarnya tidak ada cinta diantara kalian?!"

"Ya. Kupikir dengan begitu aku bisa membalas rasa sakitku pada Kushina. Aku sebenarnya tidak punya hasrat sedikitpun untuk menyentuh ibumu, tapi kedua orang tua kami mendesak kami. Mereka bilang mereka ingin segera menimang cucu. Akhirnya kami melakukannya untuk memuaskan hati mereka."

"Lalu apa itu berarti bahwa sebenarnya aku juga tidak diinginkan?" kata Ruka sambil terisak. Air mata membasahi wajah cantiknya.

"Tidak, Ruka! Aku sangat menyayangimu begitu juga dengan ibumu, kau tahu itu dengan pasti!"

"Lalu kenapa Naruto bisa…"

"Saat aku kembali teringat dengan Kushina, aku sangat menyesal. Dulu aku punya keiginan untuk menikah dan melakukan itu dengannya. Lalu saat usia kandungan ibumu 3 bulan… aku pergi mabuk-mabukan hanya agar aku bisa melupakan semua rasa sakitku. Tapi bodohnya, setelah itu aku malah datang ke tempat Kushina dan memintanya melakukan itu denganku."

"Kau jahat, Tou-san!"

"Tidak! Kushina lah yang jahat! Kau tahu apa yang dia katakan setelah kami melakukan itu?"

"Apa yang dia katakan?"

"Sekarang kau sudah mendapatkan semua yang kau mau dariku, kan? Kalau begitu pergilah dan jangan pernah menemuiku lagi! Jangan sekalipun muncul di hadapanku lagi!"

"Apa Kushina-san, sebrengsek itu? Itu tidak mungkin!"

"Dia memang wanita j***ng! Padahal dia sendiri yang memintaku untuk tidak pernah muncul lagi dihadapannya. Tapi beberapa tahun setelah itu dia sendiri yang malah mendatangiku dan bilang…"

"Besarkan dia toh dia adalah anak kandungmu juga. Aku harus pergi."

"Dan dia pergi begitu saja!"

"TAPI NARUTO BUKAN KUSHINA UZUMAKI!" teriak Ruka frustasi. Napasnya memburu. Wajahnya penuh dengan air mata.

Minato merasa tertohok dengan bentakkan puterinya sendiri. Tidak pernah sekalipun Ruka berteriak sekasar itu padanya. Siapa yang mengajarinya menjadi gadis yang tidak punya sopan santun seperti itu?

"Dan Naruto adalah anak laki-laki yang bahkan seperti tiruanmu sendiri! Bagaimana bisa kau menyamakan Naruto dengan ibunya? Dia lebih mirip denganmu daripada ibunya!"

'DEG!'

Minato tersentak. Ruka benar. Apa yang selama ini ia lakukan? Apa yang selama ini ia pikirkan?

"Dan asal Tou-san tau! DIA SAKIT GARA-GARA TOU-SAN DAN KAA-SAN! Kalian sudah menghancurkan impiannya. Kalian benar-benar membuatnya menderita. Bagaimana bisa orang egois seperti kalian berdua menjadi ayah dan ibuku?"

"Apa maksudmu, Ruka?"

.

.

TBC

.

.

Yosh! Sampai disini saja dulu, soalnya udah kepanjangan. Duh maaf ya, Naruto-kun, Muki udah bikin kamu menderita disini. Mau bagaimana lagi ini tuntutan cerita, hehehe.

Naruto: Biasanya juga kau membuatku menderita. Tumben minta maaf?

Shikamaru: Dia juga sudah membuatku menderita! Kagemane no jut—

Muki: #kabuur, sebelum dikagemane Shika dan dirasengan Naru

Minna, mind to review? Review please and No Flame! Arigatou gozaimasu. ^^

.

Balasan review yang login and nggak login:

Sakurazawa Ai: Hahaha, iya sekali-kali aku mau bikin Shikamaru agak OOC tapi sepertinya malah OOC banget, ya. Yah, tak apalah…namanya juga fict AU, apapun bisa terjadi di fict ini, hehehe. Ini udah dilanjut. Arigatou for RnR. ^^

Xoxo, Red devils: Nie udah dilanjut. Arigatou for RnR. ^^

AL Blue Blossom: Soalnya aku suka Yong Hwa oppa! ;-)

Iya sebenarnya Naru juga udah lama memperhatikan Saku. Dia juga pengen nembak Saku tapi dia ngerasa nggak pantes sama Saku karena statusnya, makanya dia diem aja. Ini udah update. Arigatou for RnR senpai. ^^

Natsuyakiko32: Sankyuu. Naruto nggak punya penyakit tapi dia jadi sakit karena kecelakaan. Ini udah dilanjut. Arigatou for RnR. ^^

Ae Hatake: Hehehe... udah tau, kan, Naruto kenapa? Arigatou for RnR. ^^

Kei Deiken: Iya nih, nasib Naruto disini memang menyedihkan. Arigatou for RnR. ^^

Ineedtohateyou: Sebenernya ini bukan fanfic bertema musik, soalnya aku nggak begitu ngerti soal musik tapi mereka berempat memang suka musik. Ya, begitulah semuanya bermula, hehe. Nie udah update. Arigatou for RnR. ^^

.

R

E

V

I

E

W

.