Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Yaoi, Alur kecepetan, gaje, typo, OOC

Rating : M untuk Touching-touching (?), kata-kata kasar, dan pebedaan budaya.

Pair : NaruSasu

I Stole Your Heart!

(Part 2/Last Chapter)

.

.

By Midori Spring

.

.

"Naruto, ini masih pagi!" Wajah semraut Shikamaru muncul dari balik pintu yang diketuk Naruto.

Naruto langsung menyerobot masuk ke dalam mansion kecil Shikamaru. "Ini emergency! kau harus membantuku!"

"Kalau emergency harusnya kau hubungi FBI." Balas Shikamaru berbasa basi, ia mengerling Gaara yang menepuk bahunya pelan.

"Geezzt, hanya kau yang bisa membantuku untuk saat ini." Kata Naruto serius, "Shika, aku tidak punya banyak waktu!" tegurnya ketika melihat Shikamaru hanya berdiri di depan pintu dengan wajah mengantuk.

"Aku mengerti! katakan padaku apa yang kau perlukan!" Pemuda berambut nanas itu duduk di meja kerjanya, ia membuka laptopnya dan menunggu Naruto mencapainya.

Nara Shikamaru dulunya adalah salah satu agent dari kepolisian. Ia bekerja undercover di sebuah lembaga penelitian untuk menemukan seorang hacker yang membajak seluruh isi file salah satu mentri. Setelah sukses dengan misinya, Shikamaru memilih untuk berhenti dan melanjutkan hidupnya dengan ketenangan. Dia seorang informan dan ahli komputer, walau dia berhenti, bakatnya masih tetap tertanam didalam otaknya, dan hal itulah yang menarik Naruto untuk menjadikannya sebagai agen rahasia dibeberapa misinya.

"Bantu aku menemukan seseorang." Terang Naruto, ia menarik kursi dan duduk disisi kiri Shikamaru. Gaara mengikuti jejaknya dan duduk disisi kanan pemuda berambut nanas.

"Namanya?"

"Uhm, Sasuke."

Alis Gaara langsung berkerut mendengar Naruto menyebut nama 'Sasuke.' Nama yang tidak asing, ia merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya. Ia mengerling Naruto yang sedang memerhatikan layar laptop Shikamaru dengan serius.

"Boleh ku tahu siapa tepatnya orang ini?"

"Dia mencuri sesuatu dariku."

Mata Gaara menyipit, Hmmm… Sasuke…?

"Hanya Sasuke?"

"Sebenarnya aku tidak yakin dengan marganya." Naruto menggaruk pelipisnya, "tapi kurasa nama aslinya benar-benar Sasuke."

"Alasanmu?"

"Karena dia selalu bereaksi ketika aku memanggilnya dengan nama itu." Jawabnya cepat yang dihiadiahi dengan kerlingan bingung oleh Shikamaru.

Ya, dia memang selalu bereaksi. Naruto bisa merasakannya, pada waktu itu, setiap Naruto mendesahkan namanya, dia jadi lebih… sempit… dan…

Gah, fokus Naruto! Naruto tiba-tiba menyisir rambutnya dengan tangan. Berharap bayangan tubuh Sasuke yang basah oleh keluh menghilang dari ingatannya.

"Aaaah Sasuke!" Gaara tiba-tiba menyahut. Ia menjentikkan jarinya dengan bersemangat. "Dia seseorang yang berbicara denganmu ditelponkan? Kau menyebut namanya saat aku menelponmu, mengira aku adalah dia." Dia akhirnya ingat dan ingatannya itu membuat logikanya bekerja dengan cepat. Pemuda berambut merah itu memandang Naruto dengan mata menyipit, "Naruto jangan bilang, kau dan dia…"

"Gaara, jangan memulai." Naruto tidak ingin membicarakannya. Tapi Gaara menganggap obrolan itu menarik.

"Jadi ini sebabnya kau bisa kecolongan? Gadis bernama Sasuke ini membuatmu lemah. Man, I know it! Dari caramu menyebut namanya saja aku sudah tahu bahwa kau sedang jatuh cinta." Gaara menggebrak meja dengan antusias, senang analisisnya terdengar masuk akal. Tapi beberapa detik kemudian senyum bergairahnya menghilang, ia seakan-akan sadar akan suatu hal. "Tapi Sasuke, bukannya nama seorang pria?"

Hening sesaat. Gaara menatap Naruto dengan wajah bengong, hatinya sedikit risih. Sahabatnya, apa benar seorang gay? Tapi Naruto tidak mengatakan satu kalimatpun. Ia malah terlihat seperti menghindari tatapan Gaara.

Shikamaru yang berada di tengah-tengah memilih untuk mencairkan suasana.

"Ehem, aku haus." Katanya, "Gaara bisa kau belikan minuman kaleng untukku?"

Gaara memandang Shikamaru, lalu mengangguk. Pemuda itu beranjak, lalu mengerling Naruto sekilas sebelum keluar, meninggalkan Shikamaru dan Naruto.

"Baiklah, kita lanjutkan." Shikamaru meregangkan tubuhnya, lalu kembali mengetik. Ia lebih memilih untuk fokus daripada membicarakan hal pribadi Naruto. "Kita mulai dengan nama Sasuke. Jika kau yakin dengan nama itu, mungkin kita akan menemukan nama marganya melalui latar-"

"Coba nama Uchiwa Sasuke." Naruto memotong. "Ia selalu menggunakan aksesoris bergambar kipas di kaos atau kalungnya. Mungkin itu lambang organisasi atau jika beruntung bisa saja itu lambang keluarganya." Jelas Naruto berusaha mengingat kembali sosok Sasuke, "Untuk ciri-cirinya, ia memiliki rambut hitam sepanjang leher, tapi disaat-saat tertentu rambutnya terlihat hitam kebiruan. Ia punya mata Onyx yang tajam. Ia lebih putih dari Gaara, tapi tidak sepucat Sai. Kulitnya terlampau halus untuk seorang pelayan ataupun pencuri. Sebagai tambahan pria itu punya tatto dibagian bawah lehernya. Tingginya sama denganku, tapi pinggangnya benar-benar langsing. Tubuhnya proposional, agak berotot dan… Apa kau mendengarku?"

Shikamaru menatap Naruto dengan bibir yang sedikit terbuka, saat Naruto berhenti bicara, ia mengedipkan kedua matanya beberapa kali seraya mengembalikan perhatiannya ke layar laptop. Walau begitu Naruto masih bisa melihat sebuah senyuman geli pada eksprisi pemuda berambut nanas itu.

"Kau menertawakanku sekarang?" Naruto berkata sambil cemberut.

"Aku hanya berpikir ternyata kau punya kelemahan juga. Biasanya kau menyelesaikan misimu dengan sempurna."

"Ku akui, aku memang telah kecolongan." Naruto benar-benar bosan mengucapkan kalimat itu.

"Tenang saja, aku akan menemukannya untukmu." Kata Shikamaru sambil mengedipkan satu matanya pada Naruto, "Mungkin kau bisa melanjutkan hubunganmu dengannya nanti?"

Naruto hanya menyeringai. Melanjutkan hubungan? Ya, setelah ia memberinya pelajaran.

"Yup, aku menemukan satu keluarga bermarga Uchiha." Shikamaru menyahut. Sementara Naruto kembali memusatkan perhatiannya ke layar. "Uchiha dan Uchiwa sama saja kan?"

"Sebentar, aku akan masuk ke salah satu jaringan perusahaannya." Shikamaru mengklik, lalu mengetik beberapa kata. Naruto memerhatikan aksi Shikamaru dengan alis berkerut.

"Kau benar-benar telah menjadi hacker yang handal." Komentar Naruto takjub, ketika data-data perusahaan itu muncul dilayar."Seandainya aku tidak membutuhkanmu, aku pasti sudah menangkapmu."

Shikamaru hanya menaikkan sudut bibirnya sebagai tanggapan.

"Itachi Uchiha adalah pemilik dari perusahaan itu, dan ya adiknya bernama Uchiha Sasuke."

Naruto menatap layar tanpa berkedip ketika wajah Sasuke muncul dilayar, lebih muda dari yang sekarang.

"Kalau aku bisa mendapatkan nomor teleponnya, kita akan bisa melacak keberadaannya." Sahut Shikamaru puas dengan pencariannya.

Sedangkan Naruto memberikan dua buah jempol untuknya sambil tersenyum super lebar.

"Thanks, Shikamaru."

.

.

"Loh, kemana Naruto?" Gaara kembali ke mansion Shikamaru dengan membawa tiga buah kopi panas. Maniknya menyapu setiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan pemuda berambut blonde itu.

"Dia sudah pergi, aku sudah menemukan Sasukenya." Jelas Shikamaru, ia mengambil kopi panas dari Gaara dan meminumnya perlahan.

"Ck, dia harusnya menungguku!" Gaara berjalan ke komputer Shikamaru. "Jadi dimana pencuri itu berada? Aku harus menyusul Naruto."

"Langsung lihat di laptopku saja, orang itu terus berpindah." Balas Shikamaru.

Gaara menyipitkan mata, memandang wajah Sasuke yang masih terpasang disisi kiri layar. Dibawahnya tertulis nama 'Uchiha Sasuke' dan disamping foto itu, Gaara bisa melihat sebuah titik merah yang berkelap-kelip dalam sabuah denah kota.

"Uchiha Sasuke?" Gaara mengulang nama itu.

Dari Jauh Shikamaru menyahut, "itu nama aslinya." Jelasnya.

"Dia seorang Uchiha!" Gaara kembali berkata, kali ini terdengar kaget.

"Ada masalah dengan itu?" Tanya Shikamaru.

Gaara memandang Shikamaru dengan wajah luar biasa terkejut.

"Dude, aku harus pergi!" Kata Gaara cepat, ia berlari ke pintu keluar seraya mengeluarkan telpon genggamnya.

"Ini dari kepolisian Tokyo, bisa kau hubungkan aku dengan Uchiha Itachi?"

.

.

.

"Sasukeeeeee! Aku merindukanmu!"

Suara memekakan telinga sukses menarik perhatian seluruh pengunjung di hotel berbintang lima itu. Termasuk seorang pemuda raven yang merupakan pemilik nama yang tadi diteriakan oleh gadis berambut merah.

"Karin!" Sasuke memandang gadis, yang baru saja menubruk tubuhnya, dengan jengkel, "Sudah kubilang jangan berlebihan!"

"Tapi aku senang sekali kau menelponku! Kau bahkan mengajakku ke hotel!" Sahut gadis itu antusias. "Malam ini kita akan bersenang-senang kan?"

Melihat gadis itu cekikikan dengan wajah mesum, membuat Sasuke memutar bola matanya malas. Kenapa dia selalu dikelilingi oleh orang-orang mesum?

"Sudah kita langsung ke kamar." Kata Sasuke sambil menarik gadis itu ikut bersamanya.

"Geezt Sasuke, apa kau begitu horny?" Karin memberikan sebuah senyum menggoda.

Mereka berhenti di sebuah kamar bernomor 413, Sasuke melepaskan genggamannya dan mulai merogoh sakunya. Di sebelahnya Karin memeluk pinggang Sasuke sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang Uchiha.

"Apa ini artinya kita jadian?" Tanyanya dengan senyum penuh pengharapan.

Sasuke tidak menjawab, ia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar dengan Karin yang tidak pernah lepas darinya.

"Kau tunggu disini. Aku mau mandi dulu." Katanya lalu berjalan ke kamar mandi.

Karin hanya mengangguk lalu memilih duduk diatas tempat tidur. Ia bersenandung riang sambil memandangi pintu kamar mandi. Senyuman senang sama sekali tidak pernah hilang dari wajahnya.

Di dalam kamar mandi, Sasuke membuka bajunya dalam keheningan. Ia memandang dirinya di kaca, memerhatikan bekas gigitan dan 'kiss mark'yang terlihat kontras dengan kulit porselinnya. Tiba-tiba bayangan tentang kejadian itu kembali muncul dalam benaknya, tapi hanya sebentar karena Sasuke segera menggelengkan kepalanya, mengusir ingatan itu jauh-jauh.

Sasuke menyalakan shower, membiarkan tubuhnya basah oleh air dingin. Matanya terpejam, sedangkan telapak tangannya ia biarkan menyentuh dinding tembok. Ada yang salah dengan dirinya. Ia tidak bisa melupakan kejadian itu. Bagaimana bisa ia menikmati setiap sentuhan yang diberikan Naruto padanya. Ia bersikap seperti perempuan, mendesah tanpa henti saat jemari Naruto menyentuhnya. Secara spontan tangan Sasuke bergerak meraba bekas kiss mark di lehernya. Ada apa dengannya? Kenapa saat Naruto menyentuhnya ia merasakan kenikmatan yang luar biasa? Ia sama sekali tidak sadar bahwa ada kenikmatan seperti itu. Ia bahkan sangat menyukai ketika Naruto 'mengisi' dirinya. Apa sekarang dia Gay karena ikut larut dalam hubungan sex dengan Naruto?

Sasuke menggeretakkan giginya kesal. Tidak! Dia tidak akan membiarkan perasaan ini menguasainya! Karin akan membawanya kembali menjadi normal. Ia bukan Gay dan malam ini ia akan membuktikannya.

Sasuke meraih handuk kecil dan melilitkannya dipinggangnya. Dengan rambut dan tubuh basah, ia keluar dari ruangan. Sedikit tersentak ketika menyadari kegelapan di kamar hotelnya. Ada seseorang yang mematikan lampu.

"Karin?" Sasuke memanggil, ia menyipitkan mata sambil melihat sekelilingnya. Percuma, ia tidak bisa melihat apapun. Ia berdecak kesal, sambil mulai meraba tembok, mencari-cari saklar lampu. Ingin rasanya ia meneriaki wanita itu, Karin selalu melakukan hal-hal yang tidak biasa. Ia tidak mengerti apa yang ada dikepala perempuan itu.

Brak

"Ouch!" Sasuke merasakan ia menendang sesuatu. Sesuatu yang keras seperti meja, ia berdecak sebal, "Karin, berhenti bermain-main dan nyalakan lampunya!" Sasuke memperingati. Moodnya mulai menghilang. Seandainya ia tidak benar-benar butuh, ia sudah meninggalkan wanita itu.

Bugh–

"Ugh!" Sasuke mundur selangkah sambil memegangi hidungnya, sepertinya ia sudah menabrak lemari. "Sial!" Umpatnya berang. Ia benar-benar akan mencampakkan wanita itu.

Seandainya ia bisa menemukan ponselnya untuk mendapatkan sumber penerangan.Dengan lebih hati-hati ia meraba tembok sambil berusaha menemukan saklar lampu kamarnya. "Karin! Ini sama sekali tidak lucu!" Sahutnya marah.

Dan seketika Sasuke merasakan seseorang. Seseorang yang bersandar ditembok.

Ia merabanya, dan bisa merasakan kain yang dikenakan 'seseorang'itu."

"Ka-karin?" Suara Sasuke sedikit bergetar. Ia tidak yakin bahwa itu adalah Karin. Sosoknya terlalu jangkung, dan pundaknya terlalu lebar.

Tiba-tiba lampu menyala. Begitu menyilaukan sehingga Sasuke harus memejamkan matanya sebentar untuk membiasakan diri. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, untuk memperjelas pandangannya yang masih buram. Dan saat pandangannya mulai jelas, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak berjengit.

"Hai, Sasuke, rindu padaku?" Naruto bersandar ditembok dengan wajah yang luar biasa senang. Sasuke langsung mundur menjauh. Ia memandang Naruto dengan mata terbelalak, tidak sanggup mengatakan sepatah katapun. Melihat ekspresi Sasuke, Naruto semakin sumringah. Ia memamerkan guci emas yang dicuri Sasuke dengan penuh kebanggaan.

"Aku berhasil mendapatkannya." Sahutnya, seraya memasukkannya kembali ke dalam kotak brankas. Brankas yang berbeda dengan yang dulu. Dan Sasuke yakin kodenya pun telah berubah.

Sasuke mengeras saat Naruto mengunci brankas itu, ia kembali menemukan kesadarannya. "Kembalikan!" Desisnya tajam.

Naruto memandang Sasuke dengan alis terangkat, "kau tidak boleh meminta sesuatu yang bukan milikmu, Sasuke."

"Tapi itu milikku!" Sasuke membalas dengan penuh penekanan. Kedua tangannya mengepal, dan ia kembali memajui Naruto. Tapi dengan gaya ala pemain basket, Naruto melempar kotak brankas itu ke atas kasur melewati Sasuke.

Kepala Sasuke spontan berputar mengikuti arah brankas, saat brankas itu mendarat dengan empuk di kasur, ia langsung melangkahkan kakinya untuk mendapatkan guci itu kembali, namun sebuah lengan kuat tiba-tiba menarik tubuhnya ke belakang, memeluknya erat.

"Jika kau ingin berkelahi lebih baik pakai dulu pakaianmu." Bisik Naruto tepat ke telinga Sasuke, "Tapi jika kau memaksa ingin menuju kasur, aku siap melayanimu."

Sasuke menggertakkan giginya, berusaha untuk tidak terpengaruh dengan udara hangat yang menggelitik telinganya. Ia memberontak berusaha melepaskan diri, "Lepaskan, Idiot! Jangan menyentuhku!" Raungnya galak ketika jemari Naruto meraba perutnya.

Ia memberontak semakin kuat, ketika dirinya mulai digeluti kegelisahaan. Ia bisa merasakan dada Naruto dipunggungnya yang telanjang. Hawa nafas Naruto yang menggelitik lehernya, dan jemari Naruto yang mulai bergerak menuju daerah sensitifnya. Jantung Sasuke berdetak semakin cepat, tubuhnya mulai memanas. Dia tidak suka perasaan ini, membuatnya menjadi lemah.

"JANGAN MENYENTUHKU, BRENGSEK!"

Sasuke berteriak atau lebih tepatnya menjerit. Dan beberapa detik kemudian, Naruto melepaskannya. Dengan sigap Sasuke berbalik dan melemparkan pandangan waspadanya ke Naruto yang balik menatapnya dengan ekpresi bingung. Kedua tangannya mengacung ke udara seperti tanda menyerah. Kedua alisnya terangkat, dan matanya penuh keterkejutan. Sepertinya ia sama sekali tidak menyangka Sasuke akan bereaksi seperti tadi.

"Jangan menyentuhku!" Ancam Sasuke lagi dengan telunjuk mengarah ke Naruto.

Ada selang beberapa detik sebelum Naruto menjawab, "Ok." Katanya lalu berjalan melewati Sasuke menuju ranjang. Sasuke ikut berputar mengikuti Naruto. Ia memerhatikan Naruto duduk diatas ranjang sambil memindahkan brankas, yang tadi dilemparnya, ke atas pangkuannya.

"Apa yang kau tunggu?" Naruto menatap Sasuke dengan alis berkerut ketika menyadari sang Uchiha tidak bergerak sejengkalpun dari tempatnya. "Cepat pakai bajumu dan kita pergi dari sini."

"Pergi denganmu?" Ulang Sasuke, sekarang tampak lebih tenang.

Naruto mengangguk santai, "tentu saja, kau buronan sekarang. Aku harus membawamu ke kantor polisi." Katanya dengan ekspresi seakan-akan ia akan mengantar Sasuke ke tempat penitipan anak.

Sasuke seperti ingin menyahut, tapi pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan kotak brankas di pangkuan Naruto, berpikir, ia akhirnya memutuskan untuk menutup kembali mulutnya dan bergerak dalam keheningan ke lemari. Ia membelakangi Naruto dan melepaskan handuk yang melilit pinggangnya, membiarkan dirinya telanjang sepenuhnya. Ia tidak perduli dengan sepasang iris biru yang terus mengamati tubuhnya dari kasur tanpa berkedip.

Pakaian ia gunakan satu-persatu, dimulai dari celana dalam, boxer, celana jeans hitam, baju kaos biru berlengan pendek, dan terakhir sweeter kain yang berwarna sama dengan celananya, tidak lupa kalung berlambang Uchihanya. Ia kembali berbalik tepat ketika Naruto memalingkan wajahnya.

"Kita pergi?" Sasuke menyahut, ketika Naruto tidak kunjung mengatakan apapun.

Naruto menghela nafas pelan, lalu bangkit berjalan mendekati Sasuke. Ketika ia sampai didepan sang raven, ia mengeluarkan borgolnya dan memborgol tangan kanan Sasuke dengan tangan kirinya sendiri. Setelah benar-benar terkunci, ia mengangkat tangan kirinya ke atas yang diikuti oleh tangan kanan Sasuke.

"Agar kau tidak kabur." Katanya. Sasuke hanya membuang muka, tidak perduli.

Sambil membawa brankas di tangan kanannya, Naruto turun bersama Sasuke menggunakan lift. Kemudian mereka berjalan menuju pintu keluar, yah setidaknya itulah yang dipikirkan Sasuke, karena mendadak Naruto berhenti untuk melihat jam tangannya.

"Kita masih punya waktu." Katanya lalu mempercepat langkahnya. Sasuke melemperkan deathglare-nya kepada belakang kepala Naruto yang dengan terpaksa juga ikut memperpanjang langkahnya.

Mereka berjalan ke luar gedung, tidak memperdulikan tatapan heran orang-orang yang dilewatinya. Ketika sampai di mobil, Naruto membuka pintu depan lalu menurunkan kacanya. Sasuke memandang gerak Naruto dengan kedua alis berkerut. Tatapannya masih tidak berubah ketika sang pemuda blonde menarik keluar kuncinya dan melepaskan borgol yang menghubungkan tangan kirinya dengan tangan kanan Sasuke.

"Apa yang kau-" Kalimat Sasuke terhenti ketika Naruto menarik tangan Sasuke mendekati pintu mobil. sekarang Sasuke mengerti mengapa ia membuka kaca jendela, ia bermaksud untuk mengalungkan borgolnya ke bagian penyangga kaca yang tebuka dan memborgol sisi satunya ke tangan kiri Sasuke. Alhasil langkah Sasuke jadi terkunci, ia jadi tidak bisa pergi kemana-mana.

"Aku mau ke toilet. Kau jangan kemana-mana." Jelas Naruto dengan senyuman usil. Kelihatannya pemuda blonde itu senang sekali menindas Sasuke.

"Brengsek! Awas kalau kau pergi lama-lama!" Sekarang Sasuke mulai resah dengan imagenya. Untung saja tempat parkir itu sepi.

"Ckckck, aku baru mau pergi kau sudah merindukanku." Naruto cekikikan. Ingin sekali Sasuke menghajar wajah pemuda blonde itu.

"Ok, aku pergi." Naruto berbalik, lalu kembali memasuki gedung. Sedangkan Sasuke hanya berdiri ditempatnya sambil melemparkan death glare andalannya ke belakang punggung Naruto. Mata Onyxnya melirik brankas yang berada digenggaman tangan Naruto yang semakin menjauh.

Damn it! Umpatnya dalam hati, ia menendang ban mobil Naruto sebagai pelampiasan kekesalannya.

.

.

Beberapa menit kemudian, Naruto kembali ke tempat parkir. Dengan masih membawa brankasnya ia bersenandung riang sambil berjalan menuju mobilnya.

"Sasuke, apa kau merindukanku?" godanya ketika jaraknya semakin dekat. Namun ia langsung mengerutkan alisnya ketika balasan tak kunjung terdengar. Sebenarnya ia yakin bahwa si pencuri cantik itu akan meneriakinya saat dia kembali.

Heran, Naruto menyipitkan matanya, dari jarak sedekat ini seharusnya ia sudah bisa melihat bagian tubuh sang Uchiha. Ia semakin mempercepat langkahnya.

Kedua alisnya mengerut ketika mendapati bahwa tempat Sasuke ternyata kosong, hanya ada borgol yang masih terpasang di pintu mobilnya. Ia memandang ke segala arah berusaha mencari jejak sang Uchiha, tapi semuanya nihil.

Naruto menarik keluar kuncinya lalu membuka borgol itu, menelitinya.

Ada bercak darah, dan sedikit kulit yang mengelupas, seakan-akan Sasuke menarik tangannya dengan paksa.

Apa dia kabur? Tanyanya dalam hati.

Jika benar dia kabur, berarti Naruto telah kehilangan si pencuri manis itu.

Sayang sekali! Keluh Naruto. ia menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya ke mobil sambil menatapi borgol bekas Sasuke dalam keheningan.

"Tapi ada yang aneh." Gumamnya. Ia menundukkan kepalanya untuk memandang brankas yang masih dalam genggamannya. Beberapa menit kemudian, ia meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.

"Shikamaru…"

.

.

.

Sasuke terbangun di sebuah ruangan kosong. Bau kayu lapuk menggelitik indra penciumannya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Tempat itu agak redup, satu-satunya penerangan adalah lampu kecil yang menempel di tembok kayu dekat pintu.

Sasuke mengerang tanpa suara, kepalanya sakit sekali, ia bisa melihat bagian bawah baju kaosnya ternoda oleh bercak darah. Entah bagian mana tubuhnya yang terluka, semuanya terasa perih.

"Sial!" Umpatnya ketika menyadari bahwa tubuhnya terikat. Ada tali tambang yang melilit tubuhnya ke sebuah tiang kayu besar yang bagian ujung bawahnya menyatu dengan lantai dan ujung atasnya menyatu dengan atap. Sedangkan dia terduduk dilantai bersandar pada tiang tersebut.

Seandainya tadi dia lebih berhati-hati. Jika saja si detektif sialan itu tidak memborgolnya, ini semua tidak akan terjadi. Ia pasti bisa mempertahankan diri saat penyerangan tiba-tiba di tempat parkir tadi.

Sasuke berusaha menggerakkan tangannya, berusaha melepas paksa ikatan itu dengan kekuatannya. Sayangnya percuma, tali sama sekali tidak bergeming, malah tubuhnya yang terasa semakin perih.

"1 Milyar."

Sasuke mendengar seseorang menyahut dari luar pintu. Ia mematung, memasang telinganya lebar-lebar.

"Bodoh!" Suara lain yang lebih dalam menyahut, "dia itu dari Uchiha, kau tahu seberapa besar kekayaan mereka? Minta 10 Milyar."

Kedua onyx Sasuke melebar mendengar ini, "Sial!" umpatnya lagi.

Mereka tahu tentang jati dirinya. Dan sekarang mereka berniat untuk memeras keluarganya.

Memalukan sekali.

Dia benar-benar tidak berguna!

Sasuke berusaha membuat otaknya bekerja. Ia memandang sekelilingnya, di ruangan itu banyak sampah. Drom yang diduga Sasuke kosong ada di ujung ruangan. Tepat di depan Sasuke ada meja besi yang sudah berkarat, selebihnya hanya serpihan kayu, dan kursi-kursi lapuk yang dimakan rayap.

Ia tidak bisa menebak dia ada dimana. Tapi ia tahu bahwa bangunan ini jauh dari jalan raya, sebab ia tidak bisa mendengar suara kendaraan sedikitpun. Sasuke memukul-mukul sepatunya ke lantai kayu, bunyi tok-tok-tok terdengar. Ia menghela nafas, ruangannya ini tidak berlantai satu. Mungkin sekarang ia berada di lantai dua, yah semoga saja begitu. Semakin rendah lantainya semakin mudah dia kabur.

"Oi deidara, beli makanan sana." Seseorang kembali menyahut. Suaranya berbeda dengan yang tadi.

Entah ada berapa orang diluar sana.

"Kenapa aku lagi, suruh Tobi saja!" Suara yang berbeda.

"Hei bocah! Disini kau yang paling muda, ikuti saja apa kata seniormu!" Suara orang yang mengatakan '1 Milyar' menyahut.

"Geezz, menyebalkan sekali!" –brak. Terdengar suara meja ditendang, "Oi Tobi, kita pergi beli makanan."

"Ok," Suara baru lagi.

Kemudian suasana kembali hening. Sasuke menghela nafas dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya. Dengan sangat perlahan dah hati hati ia menarik keluar sebuah pisau lipat yang disembunyikan dari dalam lengan jaketnya, ia baru akan membukanya ketika pintu tiba-tiba terbuka.

"Wah, tuan muda Uchiha sudah bangun." Sahut seseorang yang muncul dari balik pintu. reflek Sasuke kembali menegakkan dirinya, melemparkan death glarenya pada pria besar yang wajahnya mirip dengan ikan hiu.

"Kau!" Sahutnya tajam.

"Lama tidak bertemu Sasuke. Bagaimana kabar Itachi? Dia baik-baik sajakan?" Pria itu berjalan mendekati Sasuke, sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya.

"Beraninya kau memunculkan dirimu dihadapanku!" Bentak Sasuke dengan kedua mata memerah.

Pria besar yang bernama Kisame itu tertawa renyah, "aku hanya sedang butuh uang, jadi ku panggil teman-temanku untuk menculikmu."

Sasuke menggeram, marah. Dulu Kisame adalah bodyguardnya sekaligus kaki tangan Itachi. Mereka memberikan kepercayaan penuh padanya, sampai akhirnya ia ketahuan menyelundupkan uang perusahaan. ketika mengetahuinya, ia langsung dijebloskan dalam penjara.

"Seharusnya Itachi membiarkanmu membusuk di penjara!" Serapah Sasuke.

Kisame duduk di meja sambil menghadap Sasuke, kedua matanya terlihat begitu antusias. "Sikap angkuhmu masih belum hilang juga, bocah. Seharusnya kau berdoa demi keselamatanmu."

"Kaulah yang harusnya berdoa demi keselamatanmu, idiot!"

Sebuah seringai muncul di wajah Kisame dan selanjutnya, -Bugh

Sebuah pukulan mendarat dipipi Sasuke, cukup keras hingga membuat Sasuke pening seketika. Ia meludah di lantai, mengernyit ketika melihat darahnya sendiri.

"Jaga mulutmu! Kau tidak sedang pada posisi untuk bersikap sombong!" Kata Kisame dingin. "Aku berniat untuk menukarmu dengan uang, tapi jika kau terus bersikap seperti ini aku takut aku akan menukar uang itu dengan mayatmu."

Sasuke terdiam, bukan karena takut tapi karena terbakar amarah. Ingin rasanya ia membunuh lelaki besar itu sekarang juga, membuatnya berlutut memohon ampun. Disisi lain tangan Sasuke terus bergerak menggesekkan pisau pada tali yang mengikatnya.

"Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja." Ancam Sasuke.

Kisame tertawa selama beberapa saat, menganggap perkataan Sasuke sebagai lelucon belaka. Setelah tawanya reda, ia bangkit dan berjongkok di depan Sasuke. Ia mengeluarkan sebuah alat kecil seperti perekam suara, lalu mendekatkannya ke wajah Sasuke.

"Katakan lagi nanti akan ku kirim pada kakakmu." Katanya.

Sasuke menolak. Ia menutup mulutnya rapat-rapat sementara jemarinya semakin cepat menggesekkan pisau ke talinya. Tangannya benar-benar sudah gatal ingin mengahajar wajah lelaki itu.

Tidak puas dengan reaksi Sasuke, Kisame mencengkram pipi Sasuke kasar dengan satu tangannya, memaksanya untuk bicara. "Ayo katakan sesuatu, bocah angkuh! Sebelum aku membuatmu tidak bisa bicara seumur hidupmu!"

Sasuke bergeming. Hanya iris Onyxnya yang terlihat mendeath glare Kisame.

Kisame berdecih, kesal. ia merogoh kantung celananya lalu mengeluarkan sebuah pistol. Tanpa ragu ia tempelkan pistol itu ke kepala Sasuke. "Ayo bicara!" Bentaknya.

Sasuke tetap bergeming. Tidak ada ketakutan dalam pancaran kedua matanya, yang ada hanya kebencian, membuat Kisame muak dan kesal karena ancamannya sama sekali tidak berpengaruh pada sang Uchiha.

"Baiklah, kalau kau tidak mau bicara." Katanya akhirnya, "Kalau begitu akan ku kirimkan foto mayatmu pada Itachi."

Sasuke masih bergeming, kedua Onyxnya menatap mata Kisame dengan tajam. Ia bahkan melihat dengan jelas bagaimana jemari kisame bergerak untuk menekan pelatuknya dan selanjutnya

DUARH

Sebuah ledakan tiba-tiba terdengar. Bukan berasal dari pistol Kisame melainkan dari arah lain. Sepertinya berasal dari bagian rumah yang lain. Kedua orang itu sontak tersentak kaget. Kisame langsung menurunkan pistolnya dan berdiri, berbalik ke belekang ke arah pintu ruangan yang masih tertutup. Sedangkan Sasuke berhasil menguasai dirinya sedetik kemudian.

Ia merasakan talinya melonggar dan dengan sentakan kuat ia melepaskan dirinya dari tiang. Tanpa membuang waktu ia tendang tubuh Kisame yang lengah. Saat tubuh besar itu jatuh tersungkur di lantai, Sasuke bangkit berdiri kemudian bergerak untuk membanting meja besi yang terletak tidak jauh darinya. Meja itu jatuh berdebum keras menimpa tubuh Kisame.

"Arghh!" Kisame berusaha melindungi wajahnya dengan tangan. Sedangkan Sasuke telah berlari menuju pintu keluar.

Ia harus segera lari sebelum kelompok Kisame berdatangan. Sasuke tidak yakin dia bisa mengalahkan mereka semua sekaligus. Sasuke bergerak dengan hati-hati. ia mengintip setiap ruangan yang dilewatinya, bernafas legah ketika menyadari ruangan itu kosong. Ia langsung berlari ke tangga. Kedua Onyxnya menatap sekelilingnya dengan waspada ketika ia menuruni tangga kayu yang terus berderit saat ia melewatinya.

Dan kemudian sebuah ledakan kembali terdengar dari luar, sama besarnya dengan sebelumnya. Sasuke melompati dua anak tangga sekaligus seraya dalam hati bertanya-tanya apa yang sedang terjadi diluar sana. ia baru akan berbelok ke ruangan berikutnya ketika sesosok bertubuh besar menabraknya membuatnya hampir tejatuh –seandainya sepasang tangan kuat tidak langsung menopang tubuhnya.

"Na-Naruto!" Sahut Sasuke kaget, saat menyadari Narutolah orang yang menabraknya.

"Sepertinya kau sedang kesusahan, eh Sasuke?" Naruto nyengir lebar.

"A-apa yang kau lakukan disini?"

"Eh, apa masih belum jelas? Aku datang untuk menyelamatkanmu."

Sasuke mengerjapkan matanya beberapa kali, sedikit tersentuh. Tetapi beberapa detik kemudian arogansinya kembali. Ia menatap Naruto jutek, seakan-akan apa yang dikatakan Naruto telah merusak harga dirinya.

"Cih, tidak perlu aku bisa menyelamatkan diriku sendiri."

"Oh yeah, ku lihat kau hanya melumpukan satu… eh?"

Sasuke mendelik ke wajah Naruto yang terlihat semakin menyebalkan. Kenapa juga wajah itu terlihat begitu dekat?

"Ehem ehem… Ma-maaf…" Seorang pria berambut merah muncul dari balik pintu, ia menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. "aku hanya mau numpang lewat." Katanya, sambil sesekali melirik kepada mereka.

"Oh, lewat saja Gaara tidak apa-apa, masih ada satu diatas." Balas Naruto nyengir.

Sasuke mengedip-ngedipkan matanya bingung pada Gaara. Beberapa detik kemudian ia baru sadar bahwa dirinya sedang dalam posisi berpelukan dengan Naruto, atau lebih tepatnya menempel akibat kedua tangan Naruto yang dengan santainya –seakan-akan disitu memang tempatnya- melingkar dipinggang Sasuke.

"Singkirkan tanganmu dariku!"

Sasuke langsung memisahkan diri dari Naruto, sedangkan Naruto kembali menggunakan posisi siaganya dengan kedua tangan terangkat keatas, tanda menyerah.

"Kenapa kau begitu sensitif sih?" Tanya Naruto dengan alis berkerut.

Sasuke membuang muka tidak perduli. Ia berjalan keluar pintu sedikit menghindar ketika hampir bertabrakan dengan dua orang bersenjata, yang diduganya adalah polisi, rekan Naruto. lalu seakan-akan mengingat sesuatu, Sasuke tiba-tiba berhenti dan berbalik, menatap Naruto.

"Dimana guci itu?" Tanyanya dengan gaya angkuh.

Naruto yang sedari tadi hanya menatap punggung Sasuke, langsung tersenyum. Ia tidak langsung menjawab, ia hanya mengeluarkan borgolnya kembali mengikat Sasuke dengan dirinya.

"Kau masih buronanku." Katanya santai. Dan berikutnya Sasuke kembali digiring menuju mobil.

.

.

.

Kantor kepolisian Tokyo

"Aku benar-benar minta maaf atas semuanya." Uchiha Itachi pemimpin perusahaan Uchiha corp menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa, ini bukan salah anda. Saya rasa ini hanyalah kecelakaan belaka." Namikaze Minato, kepala kepolisian juga menundukkan kepalanya dengan salah tingkah.

"Tidak, masalah keluarga sampai melibatkan anda semua, sungguh memalukan." Uchiha Itachi masih menunduk membuat Minato semakin bingung sekaligus tidak enak.

Dari kejauhan Uchiha Sasuke mengamati kedua orang itu dengan pandangan masam. Ia kesal, tepat ketika ia sampai dikantor polisi, ia langsung mendapatkan sebuah geplakan dikepala dari Itachi. Benar-benar mencoreng harga dirinya, apalagi dihadapan seorang pemuda blonde bertampang bodoh.

"Sebagai gantinya saya akan mentraktir kalian semua." Sahut Itachi.

Sasuke hanya memutar bola matanya, muak. Selalu menyelesaikan masalah dengan uang.

Tidak tahan berada disitu terus, Sasuke beranjak, kedua Onyxnya melirik sekitarnya mencari seseorang. Dari tadi ia tidak melihat batang hidung sang pemuda blonde. Ia berjalan memeriksa koridor, mencari dimana tepatnya keberadaan pemuda blonde itu.

Eit, jangan salah paham dulu, tidak ada maksud Sasuke untuk menemuinya, ia hanya ingin mengambil kembali barang yang dicuri oleh pria itu. Setelah mendapatkannya, Sasuke akan segera angkat kaki dari sana.

Berkeliling, Sasuke membuka ruangan satu demi satu. Tidak memperdulikan tatapan heran orang-orang yang ruangannya dimasuki.

Tepat di ruangan paling ujung dengan penerangan redup, Sasuke melihat Naruto tengah duduk sendirian disalah satu kursi. Iris safirnya memandang serius ke layar laptop, sedangkan jemarinya bergerak dengan lihai, mengetikkan beberapa kalimat.

Sasuke masuk kedalam ruangan, sengaja tidak menutup rapat pintu. Ia berdiri didepan meja Naruto menunggu sang pemuda blonde menegurnya.

Teguran yang tidak kunjung datang.

"Ehem," Sasuke berdeham, kedua Onyxnya mendelik tidak ramah pada Naruto.

"Jangan sekarang, Sasuke, aku hampir menyelesaikan laporanku." Jawab si detektif, tanpa memindahkan perhatiannya dari layar laptop.

Sasuke mengigit bibir bawahnya."Cukup berikan guci itu dan aku akan pergi dari sini."

"Tidak bisa, nama Itachi yang tertera dalam kepemilikan guci itu, akan ku berikan jika kakakmu yang memintanya."

"Itu milik keluargaku, bukan milik Itachi seorang."

"Tetap tidak bisa." Balas Naruto acuh.

Sasuke mengernyit, kesal juga dengan sikap Naruto padanya. sedari tadi ia tidak mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari layar laptop.

Sasuke berjalan memutar, lalu menyandarkan dirinya ke meja dekat Naruto meletakkan laptopnya. Kedua tangannya ia lipat didada dan kedua Onyxnya memandang Naruto tajam.

"Katakan saja dimana kau menyimpannya."

"Selesaikan dulu masalahmu dengan Itachi."

Sasuke menghela nafas, berusaha untuk bersabar. "Dengar, guci itu adalah benda kesayangan ibuku sewaktu ia masih hidup! Aku tidak akan membiarkan Itachi menjualnya hanya karena ia bermaksud menyingkirkan kenangan orang tua kami! Jadi lebih baik kau berikan guci itu padaku sekarang!"

Naruto berhenti, untuk pertama kalinya ia mengangkat kepalanya untuk memandang Sasuke. Ia berdiri lalu mendekatkan tubuhnya ke Sasuke. Iris birunya menatap sang onyx tajam."Aku sebenarnya tidak tahu harus memandangmu sebagai apa." Katanya, "pertama pelayan, kedua pencuri, ketiga konglomerat, dan sekarang kau berlagak seperti pemuda rapuh yang manja…"

"A-apa kau bilang –" Sasuke sedikit kalang kabut ketika Naruto menundukkan sedikit tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya dikanan kiri meja, mengunci pergerakannya, membuat Sasuke sedikit memundurkan tubuhnya kebelakang untuk menghindari kontak fisik yang berlebihan.

"Sekarang jawab pertanyaanku Sasuke, kau ini sebenarnya apa?"

"Kenapa aku harus menjawabnya? Apa peduliku!"

"Geezzt," Naruto berdecak, ia semakin mendekat, "Jujur saja, aku lebih suka melihatmu sebagai pelayan. Kau jauh lebih penurut."

Sasuke berjengit ketika merasakan Naruto menjilat lehernya. Tubuhnya seakan-akan seperti sedang terkena sengatan listrik. Ia meremas pundak Naruto, berusaha mendorong tubuh itu menjauh darinya.

"Ja-jangan menyentuhku!" Sahut Sasuke, berusaha setengah mati untuk tidak mendesah.

Naruto benar-benar berhenti, tapi alih-alih menjauhkan tubuhnya, ia malah menempelkan telinganya ke dada Sasuke. Seakan-akan ia mendengar seuatu yang benar-benar menarik disana.

"Suara debar jantungmu keras sekali." Komentarnya. "Sepertinya kau benar-benar nervous berada begitu dekat denganku. Apa kau suka padaku?"

"Jangan bercanda, Idiot!" Sahut Sasuke keras. Sekarang ia berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan warna wajahnya. Sesungguhnya ia merasa akan meleleh jika Naruto tidak cepat-cepat menjauhkan dirinya. Pemuda blonde itu sepertinya sudah membuat Sasuke hilang kendali atas tubuhnya sendiri.

Perasaannya sudah sangat jelas. Namun egonya menolak untuk mengakui.

"Jangan salah paham, usuratonkachi, aku hanya merasa jijik. Jadi menjauhlah dariku." Balas Sasuke dingin.

"Jijik?" Naruto mengulang kata Sasuke. Kedua safirnya menatap Sasuke tanpa berkedip, sedangkan ujung bibirnya melengkung membentuk sebuah seringai licik. "Sungguh aneh kau mengatakan hal itu padaku."

Dan seketika kedua Onyx Sasuke melebar shock. Naruto menyelipkan satu kakinya ke sela kedua kaki Sasuke. Pahanya menekan benda intim di selangkangan Sasuke, spontan sang Uchiha berjinjit untuk memutuskan kontak itu.

"Kenapa kau menghindar? Apa kau takut?" Bisik Naruto, jemarinya bergerak ke belakang pinggang Sasuke, menahan tubuh sang Uchiha agar tidak kabur.

"Breng-sek!" Umpat Sasuke, menggeretakkan giginya, ketika paha Naruto kembali menemukan benda sensitifnya.

"Kenapa kita tidak memperdalam hubungan kita saja, Sasuke?"

"A-ku bukan Gay!" Teriak Sasuke dengan wajah memerah.

Naruto tertegun selama beberapa detik. Alisnya berkerut, jawaban Sasuke bukanlah jawaban yang diinginkannya.

"Kau tahu kau sedang membohongi perasaanmu." Katanya.

"Aku tidak menyukaimu!" Desis Sasuke.

"Kau menyukaiku!" Balas Naruto tidak mau kalah.

"Tidak!"

"Ya!"

Sasuke mendelik jengkel, "Aku harusnya lebih tahu tentang diriku sendiri dibanding kau!"

"Kau tahu, tapi kau terlalu gengsi untuk mengakuinya." Balas Naruto tepat sasaran.

"Bagaimana mungkin…" Sasuke terlihat tidak mengerti, "kau begitu tenang dengan perasaanmu padaku? Apa menjadi Gay membuatmu bangga?"

"Ck, Aku hanya ingin bahagia, apa itu salah?"

Sasuke terdiam, Onyxnya menatap safir Naruto lekat, mencari kekuatan disana.

"Aku tahu kau suka padaku, Sasuke." Lanjut Naruto mencium dada Sasuke, tempatnya menempelkan telinganya tadi. "Kau tidak perlu menjadi seorang Gay, kau hanya perlu mencintaiku seorang."

Sasuke masih diam.

"Jangan membohongi perasaanmu, kau hanya menyakiti diri." Naruto berusaha meyakinkan sang Uchiha. "Aku mencintaimu dan aku akan menjaga perasaan ini. Jadi maukah kau menjaganya bersamaku?"

Sasuke belum mau bicara, tapi tatapan dari kedua Onyx itu seperti telah menjawab pertanyaan Naruto. Penuh dengan perasaan; takut, bingung, tapi juga terdapat cinta. Sang detektif tahu bahwa Sasuke masih gundah dengan pilihannya.

Perlahan Naruto mengangkat dagu sang Uchiha, satu tangannya naik untuk menopang punggungnya. Dan dengan penuh hati-hati Naruto mencium bibir Sasuke. ia sengaja melakukannya dengan lembut, ia ingin menyampaikan kesungguhannya lewat ciuman itu. Karena terkadang kata-kata saja tidak cukup.

Lewat ciuman itu Naruto ingin meyakinkan bahwa Sasuke tidak akan menyesal dengan memilihnya. Ia akan memperlakukannya dengan baik dan penuh cinta, seperti bagaimana ia memperlakukan bibir Sasuke. Melumatnya pelan lalu menjilat bibir bawahnya dengan lembut.

Setelah berciuman yang lamanya hampir seabad, menurut Sasuke, Naruto akhirnya melepaskannya, lalu mundur untuk membiarkan Sasuke mengambil nafas. Bagaimanapun juga ia tidak ingin memaksakan perasaannya pada Sasuke.

Sasuke terlihat masih memejamkan mata, sepertinya ia ikut terlena dengan ciuman Naruto. Namun beberapa menit kemudian Onyx Sasuke terbuka langsung menatap ke Naruto.

"Apa begini caramu melumpuhkan buronanmu?" Kalimat pertama yang dilontarkan Sasuke.

Naruto menggeleng santai, "biasanya aku menggunakan tinjuku. Tapi khusus untukmu aku menggunakan hatiku."

"Cih," Sasuke berdecih. Apa begini cara seorang detektif menggombal?

"Aku tetap belum menyerah tentang guci itu." Kata Sasuke, sambil beranjak.

"Huh, kau akan pergi sekarang?" Tanya Naruto kecewa melihat Sasuke yang tengah berjalan keluar. Apa ciumannya tidak mempan?

Sasuke berbalik, menatap Naruto. "Bukankah kau sudah bilang kau sibuk sekarang?"

"Tapi sekarang aku-"

"Ku beri kau waktu 10 menit untuk menyelesaikan pekerjaanmu." Potong Sasuke seraya melihat jam tangannya. "Setelah itu kita lanjutkan di apartemenmu…" Ia membuka pintu lalu kembali berbalik untuk menatap sang pemuda blonde untuk terakhir kalinya.

Sebuah seringai nakal muncul diwajah rupawan sang raven. Seakan-akan ia sedang mengatakan Lalu kita selesaikan diranjangmu.

Naruto hanya meneguk ludah melihat tingkah menggoda Sasuke. Ia melirik laptopnya, laporannya baru setengah jadi, tapi dia sudah tidak bisa menunggu lagi. Dengan sedikit terburu-buru ia sambar jaket dan kunci mobilnya, lalu berlari menyusul Sasuke.

Naruto tidak akan membiarkan Sasuke pergi lagi. Tidak jika ia masih membawa hatinya.

-END-

Hiks hiks hiks Minna Gomenasai.

Midory updatenya lama banget, maaf juga kalau mengecewakan.

Sebenarnya FF ini sudah sampai 90% cuman karena keterbatasan ide, waktu, dan mood, jadi terlantar deh.

Midory memberanikan diri buat menyelesaikan 10%nya ditengah kegalauan skripsi, padahal 3 hari lagi midory ada ujian.

Terimakasih ya yang sudah review, fav, dan follow FF ini. Juga yang sudah susah-susah PM Midory, Makasih banget ya…