.
Taehyung yang melihat sosok itu semakin dekat—dan semakin nyata, mencoba menutup matanya. Kedua tangannya menutupi kedua telinganya. "Kau tidak apa-apa?" Mendengar suara itu, membuat Taehyung semakin bergetar. Dan detik itu juga, sebuah kata dengan nada bergetar yang begitu jelas lolos begitu saja dari bibirnya.
"…S-seokjin?"
.
.
"Kau bisa…melihatku?"
"Kau tak mau makan?" Lantun lelaki berambur merah itu memecah keheningan yang berjalan begitu lama tadinya. Lelaki itu melipatkan tangannya di depan dada, sambil sedikit mem-pout-kan bibir tebal bawahnya. Taehyung yang sedikit melirik ke arah namja itu kembali terkesiap. Meneguk air liurnya lalu kembali mengacuhkan pandangannya.
Melihat gadis mungil yang tak kunjung menjawab itu, namja itu mendegus keras. Mencoba menggapai pipi gadis agar menatapnya tapi tak bisa. Gadis itu mencoba menjauhkan kepalanya dari tangan namja itu.
"Jangan menyentuhku!"
Namja itu, alisnya berjengit saat menatap sosok kedua manik hitam yang begitu kental. Menurunkan tangannya, lalu mendekatkan piring berisi sup rumput laut itu pada Taehyung. "Aku tidak nafsu," ucapnya dengan nada yang kecil dan terkesan kumur-kumur. Matanya tiba-tiba redup, dan ia merasakan panas meggelayati. Bukan karena suhu ruangan, bukan juga badannya yang merasakan. Tapi sesuatu yang berada disekitar matanya.
"Ee—kenapa!? Kau sakit?" seru namja itu sedikit heboh, dan menatap keadaan gadis itu secara dekat. Sesaat sepasang matanya membulat, setetes keringat lolos jatuh begitu saja dari dahinya, dan semburat merat muncul dilapisan pipi kenyal gadis itu—dan tentu saja sang empu tak mengetahui hal itu.
"Kubilang, Ja-jangan menyentuhku!"
Namja itu terlonjak dan kembali duduk. Sedangkan, gadis yang tadinya berteriak kini bergegas pergi sambil terus menghentakkan kakinya. Membuka pintu yang berada disudut ruangan, dan mengakhirinya dengan hentaman keras dari pintu yang ditutupnya.
Lelaki yang berada didepan meja makan kecil itu hanya bisa menghela nafasnya. Menatap sayu, sup rumput laut yang sepertinya sudah dingin. Mencoba meraih mangkuk kecil bermotif realis itu dengan posisi membungkuk. Memegang sendok kayu lalu mengaduknya pelan. Dicelah-celah degusannya yang kembali keluar, ia membuka mulutnya dan menyeruput sup rumput laut tersebut.
Satu hal yang membuat… Jin mendesah kecewa saat itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Taehyungnya… tak menyambutnya dengan baik.
Scent of Your Shadow
|| Romance/Supernatural/Hurt/Comfort ||
.
Warn(s); Typo(s)! AU! OOC! Complicated Feels! X3 And any others.
Chapter 2; Her Selfish Way
.
"Setiap orang pernah mengalami penyesalan dalam hidupnya. Dan… apakah masuk akal jika seseorang mati dengan rasa penyesalam yang mendalam akan membuatnya bangkit kembali?"
.
Angin berhembus begitu tenang, malam yang penuh kesunyian, dan bulan yang bersinar terang dengan percaya dirinya tak mau kalah dengan kegelapan yang menggelayuti. Sejenak kedua remaja yang bertumbuh menjadi dewasa itu begitu tenang. Terdapat perasaan lega di kedua dada mereka, dan—entah kenapa keduanya merasa begitu nyaman disaat seperti ini.
Beberapa detik kemudian, keduanya menghela nafas bersamaan. Membuat kedua pasang mata mereka bertemu. Lelaki itu pun tersenyum setelah puas menatap gadis itu. Gadis yang ditatapnya hanya bisa mengalihkan pandangannya. Entah karena sesuatu alas an, gadis itu tak bisa menyembunyikan senyuman manis yang ragu-ragu. Dia sedikit tenang—entah kenapa ingin tetap dalam keadaan seperti ini. Berdua dengan lelaki itu dalam keheningan yang menyengat begitu kenyaman dicelah-celahnya.
"—Oh! Lihatlah kau tersenyum," Gadis yang menyadari jika jarah mereka begitu dekat terlonjak dan menjauhkan posisi duduknya. Semburat kecil dikedua pipinya berlomba muncul dan menunjukkan siapa yang paling kental tertara warnanya.
"Kau tersenyum! Akhirnya, Taehyung tersenyum! Gadis ini tersenyum!"
Melihat tingkah lelaki yang tiba-tiba overdosis itu, membuatnya kembali menahan tawanya. Menyeruput milk shake, dan (pura-pura) mengalihkan pandangannya.
Itu hanya sebuah senyuman, dan kenapa dia begitu heboh? Dasar idiot, pikir gadis itu sambil menutup mulutnya tak kuasa untuk menahan tawanya.
.
Lelaki yang melirik respon Taehyung—kembali tersenyum. Mencoba mendekat, dan mencuri seteguk Vanilla milk shake milik Taehyung. Taehyung yang melihat pergerakan namja itu yang begitu tiba-tiba kembali terlonjak dan terkejut. "Ya!" serunya sambil menjauhkan miliknya dari lelaki pencuri itu.
"Terlalu manis! Kadar glukosanya terlalu tinggi, jangan pernah membeli itu lagi," ucapnya tiba-tiba membuat Taehyung terkejut tak percaya. Ia tak mampu berkata apa-apa. Apa tadi katanya? Terlalu manis? Kadar glukosa yang tinggi? Jadi, sekarang lelaki ini melarang gadis itu meminum yang manis-manis sedangkan dia begitu suka yang pahit? Lucu sekali.
"K-kau sendiri selalu membeli yang pahit!" tutur Taehyung sedikit berteriak dengan nada tak terima dengan apa yang dikatakan lelaki itu tadinya. "Latte tak begitu pahit. Dan, setidaknya minuman ini tidak lebih berbahaya dari Americano!"
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan tatapan kesal dan lagak yang arogan. Taehyung yang melipatkan dadanya secara ototiter, dan lelaki itu yang memasang wajah yang ekstrentik, terlihat seperti pasangan yang tengah bertengkar, menggemaskan.
.
Taehyung menyeruput minumannya, tak berpikir ada suatu yang ganjal karena dia terlihat kesal. Sedangkan, laki-laki yang setengah melirik Taehyung tiba-tiba terkekeh—memecahkan keheningan beberapa detik lalu. Gadis yang mendengar kekehan itu, segera menatap sosok yang berada disebelahnya—menatapnya dengan tatapan aneh dan mulut yang mengeluarkan degusan.
"Kau gila!? Tidak ada yang lucu disini," ucap Taehyung lalu kembali dengan posisinya tadi; duduk membelakangi laki-laki itu. Lelaki yang mendengar ucapan dari gadis itu kembali terkekeh. Mengeluarkan nafasnya sedikit lega, lalu menyeruput minumannya. "Kau tak menyadarinya? Kita kembali seperti dulu."
Taehyung yang tadinya memperlihatkan ekspresi kesal kini menatap laki-laki sedikit tertegun. Saat membuka mulutnya dan beranjak ingin bertanya, lelaki itu melanjutkan kalimatnya, "Kau benar-benar tak menyadarinya!?"
Si lelaki menatap Taehyung lekat-lekat saat Taehyung menggelengkan kepalanya. Degusan yang keluar dari mulutnya memperlihatkan perasaan tak percaya-nya pada gadis itu. "Dulu kita juga seperti ini. Kau lupa!? Kita selalu beradu mulut dan mempertengkarkan hal kecil yang tak berguna." Matanya semakin tajam menatap gadis itu, "Kukira kau masih mengingatnya—ternyata tidak."
Hening.
Lelaki itu duduk menjauh dari Taehyung, dan Taehyung memutar-mutar memori. Darahnya berdesir, dan seakan-akan ia lupa tentang bagaimana caranya bernafas; mengingat beberapa puzzle memori acak yang ada lelaki itu dan Taehyung didalamnya. "Kau marah?" ucap Taehyung beberapa detik kemudian sambil menyenggol sikutnya pada bagian belakang punggung kokoh si lelaki. Entah kenapa, dan entah kapan ia tak tahu dengan jelas, ia berani membuat skinship kecil dengan lelaki itu sekarang.
Terkekeh kecil lalu mencoba mendekatkan jarak antara mereka, "Kau tak memberiku clue tentang apa yang kau sadari tadi," menggodanya dengan tetap menyenggol kecil sikutnya pada punggung yang membelakanginya itu. "tentu saja aku mengingatnya—bahkan lebih jelas daripada dirimu."
Si lelaki langsung menoleh kebelakang dan memberi tatapan intens pada Taehyung. Taehyung yang mengerti dari tatapan ekstrentik itu langsung tersenyum dan menyamankan tubuhnya disendenan bahu lebar si lelaki. "Instingku mengatakan aku mengingatmu lebih dari siapapun." Lirihnya bahkan tidak bisa didengar ketelinga lelaki itu. "Apa katamu? Aku tak mendengarnya."
Taehyung terkekeh kecil mendengar pertanyaan si lelaki, "Tidak. Bukan apa-apa. Aku tak bisa mengulanginya." Si lelaki mendegus dan menjauhkan punggungnya dari tubuh Taehyung. Membuat punggung Taehyung hampir terjatuh bersentuhan dengan bangku kayu panjang yang mereka duduki. Sesaat Taehyung terlonjak lalu mendegus menatap lawan bicaranya.
Mengangkat tangannya diudara dan siap-siap menjatuhkan tinjuannya pada kepada lelaki itu. Si lelaki yang mengerti pergelakan Taehyung segera melindungi kepala bagian atasnya dengan punggung kedua telapak tangannya.
Déjà vu.
Posisi mereka, sama seperti saat kejadian hari itu. Hari dimana, hari yang seharusnya membuat Taehyung bahagia, tapi malah membuatnya trauma setengah mati. Seandainya hari itu tak pernah ada, mungkin sosok yang ada dihadapannya sekarang ini tak akan menderita seperti ini. Seandainya hari itu tak pernah ada, mungkin sosok yang ada dihadapannya sekarang ini tak akan se-menyedihkan ini. Seandainya… seandainya—
"Kenapa diam saja?"
Memori lama memasuk kalbu. Menyeruakkan satu demi satu potongan masa lalu yang menyakitkan tiada tara. Tersiksanya hati, membuat semua orang berubah. Walau hanya sekedar sepercik potongan masa lalu, selamanya waktu berlalu, itu malah akan membuat semua orang mengalami ketakutan trauma akut. Dan tak akan ada yang bisa berlari, karena itu hanya akan menyiksa diri.
Dan kini… memori lukanya kembali terbuka. Sosok ini kembali dihadapannya dan Taehyung entah kenapa menerimanya begitu senang.
Saat lelaki itu menatapnya dengan senyuman khasnya, Taehyung menyadari sesuatu yang tak masuk akal dari pikiran jiwanya.
—Ia belum mengetahui…. kenapa Seokjin—bisa—berada disini.
.
Merasa tak kuat menatap kedua manik hitam yang kental dari seorang Kim Seokjin, Taehyung segera melempar pandangannya kesamping dan menghabiskan minumannya secepat mungkin. Menyadari matanya mulai perlahan memanas, ia berdeham kecil lalu melangkah menjauh dari lelaki itu.
Ia tak ingin ketahuan oleh Seokjin jika gadis ini terlalu lemah. Terlalu lemah dengan hal apapun yang menyangkut lelaki ini. Hatinya terlalu lemah karena dibutakan cinta yang tak masuk akal yang sudah terkubur didalam tubuhnya.
"Kau mau kemana?" Taehyung menghiraukan suara itu dan tidak memelankan langkah kakinya. Meremas minumannya yang telah kosong dengan tangannya yang bergetar.
Seokjin yang melihat itu, segera beranjak dari tempat duduknya dan meraih tubuh mungil itu dengan tangan dinginnya. Mengeratkan pegangan kedua tangannya yang melingkari pinggang kecil yang rapuh itu.
Merasakan pelukan Seokjin dari belakang, Taehyung membulatkan matanya, dan minuman dari tangannya terjatuh. Tiba-tiba, ia tak bisa berpikir jernih dan badannya begitu kaku. Menelan air ludahnya berkali-kali dan kembali merasakan nafas hangat yang menerpa kulit leher bagian belakangnya. Lelaki itu meletakkan kepalanya dibahu kiri Taehyung, dan menutup matanya.
Taehyung yang merasa ini tidak benar segera melakukan pergelakan dengan melepas tangan yang melingkar erat pada pinggulnya. "Kau tak berubah." Ucapnya mengalun begitu lembut diatas kulit putih leher Taehyung; membuat gadis itu menghentikan pergelakannya dan nafasnya tercekat. Sambil kembali mengeratkan pelukannya pada Taehyung, lelaki itu menggesek-gesekkan hidungnya pada leher jenjang itu. Lagi-lagi nafas Taehyung tercekat dan jiwannya seolah-olah menghilang saat merasakan pergerakan hidung Seokjin pada lehernya.
"Wangimu tetap sama. Tak pernah berubah."
Enam kata, yang sukses membuat tubuh Taehyung lemas dan membuat jiwa Taehyung seolah-olah yang menghilang diangan-angan.
"Suaramu tetap lembut, menenangkanku dalam keadaan apapun."
Lelaki itu membalikkan posisi Taehyung agar berhadapan dengannya langsung. Tangannya yang membelai lembut pada sudut bibir Taehyung—oh! Taehyung bersumpah akan pingsan setelah ini.
"Sifatmu masih sama. Terlalu kekanak-kanakan."
Pipinya memanas dan merasakan darahnya mengalir deras didalam jantungnya saat tangan itu mencubit pipi Taehyung yang tak se-chubby dulu.
"Semuanya tak berubah. Aku tetap menyukaimu."
Menggengam kedua tangan Taehyung erat dan menatap kedua mata Taehyung begitu posesif.
Ini, eyes contact yang membunuh jiwanya, pikir Taehyung frustasi.
"Yang aku khawatirkan… apa yang kau lakukan dua tahun belakangan ini saat tak bersamaku? Kenapa badanmu sangat kurus? Hoseok tak merawatmu dengan baik!?"
Taehyung melempar pandangannya. Takut menatap sepasang manik yang terbubuhi kegelapan yang menyakitkan itu. Eyes contact tadi… membunuhnya perlahan. Membunuh pergerakan Taehyung bahkan membuat otak Taehyung seolah-olah tak bekerja. Ia tak bisa berfikir dengan benar dan pikirannya mendadak blank—kosong dan absurd.
"Jawab aku, Taehyung.."
Lirihnya pelan sambil memeluk Taehyung erat. Dan Taehyung berani bersumpah ia melihat tatapan sayu dari sosok dihadapannya sebelum saat lelaki itu memeluknya.
"Taehyung-ah, jawab aku," mendengar lirihannya yang tenggelam dalam leher Taehyung membuat akal gadis itu semakin hampa. Dua tahun.. sudah dua tahun Taehyung tak mendengar suara lembut ini. Suara lembut yang selalu ia rindukan sampai-sampai setiap harinya ia mengulang dialog yang sama saat berkunjung dimakamnya.
Taehyung menginginkan suara lembut ini.
Taehyung menginginkan tatapan yang membunuhnya ini.
Taehyung menginginkan semua yang ada pada seorang Kim Seokjin.
Tapi, Taehyung teringat pada statusnya. Hal itu membuatnya sakit dan tak bisa mencapai keinginannya yang begitu konyol dan tak masuk akal.
"Jangan lakukan." Ucapnya sambil melepas pelukan lelaki itu. "Jangan lakukan ini lagi, Jin." Taehyung menghapus airnya yang terjatuh pada pipinya, "Hoseok memperlakukanku sangat baik. Lebih baik dari dirimu!"
"Aku sudah menikah dengannya. Jangan lakukan ini lagi—ini membuatku sakit. Aku tak menginginkanmu. Jadi pergilah!" Teriak Taehyung tiba-tiba dan duduk terkulai lemas dibalkon atas café yang sepi itu.
"…Kalau begitu berhenti mengunjungiku." Ucap Seokjin dengan tatapan sayunya, "berhenti merangkai bunga padaku, berhenti memberikannya padaku, dan juga—berhenti mengucapkan dialog yang sama setiap harinya."
"Kau memberi harapan palsu padaku setiap harinya!" emosinya mencuak dan tangannya menggumpal; memperlihatkan urat-uratnya yang menyembul pada punggung telapak tangannya. "Jika kau tak menginginkanku… berhenti memohon agar aku kembali selamanya dan berharap aku berteriak ditelingamu saat kita bersama! Berhenti berteriak menangis bahwa kau akan mengabulkan permintaanku jika itu benar-benar terjadi!"
Itu… kata-kata yang sering Taehyung ucapkan tiap harinya. Seokjin tahu semua apa yang menjadi dialognya tiap hari secara detail. Dan, Taehyung menyadari sesuatu. Dia bersembunyi dan selalu mengikuti Taehyung selama ini?
Taehyung menatap derap langkah Seokjin yang menuruni tangga—pergi meninggalkan Taehyung yang tak berdaya saat ini. Rasanya semua ini adalah kesalahannya. Sifat egoisme-nya terlalu keterlaluan bahkan membuat seorang Kim Seokjin merasakan sakit selama ini.
Taehyung segera bangkit dan berlari memeluk Seokjin. Melingkarkan tangannya pada bahu lebar Seokjin, dengan begitu erat—bahkan lebih erat daripada eratan pelukan Seokjin beberapa menit lalu.
Ia menenggelamkan kakinya pada leher lelaki itu dan berlirih kecil, "Maafkan aku…"
Scent of Your Shadow
Taehyung berjalan kecil sambil meletakkan kedua tangannya pada saku dalam jaketnya. Tidak ada yang berbicara saat itu. Keduanya masih tenggelam dalam ego masing-masing dan terlalu larut pada pemikiran mereka sendiri. Sejak kejadian tadi, mereka benar-benar merasa awkward setelahnya.
Taehyung mencoba melirik Seokjin yang berjalan berada disampingnya. Lelaki itu hanya menunduk dan pandangannya kosong. Melihat hal itu Taehyung menghela napas dan kembali menatap kearah depan.
BUK!
Taehyung membulatkan matanya saat seseorang dengan baju serba hitam berlari kearahnya dan sempat bertubrukan dengannya. Bukunya yang berada ditangan sosok itu berhemburan didepan Taehyung.
Entah kenapa, dari balik topi hitamnya, Taehyung merasa familiar dengan sosok itu. Tangan putih yang rapuh, rambut merah lurus sebahu, dan badan setengah kurus tertutupi cardigan hitamnya.
Saat ingin membantu—mengambilkan buku, orang itu terlalu teburu-buru mengambil semua bukunya dan berdiri dihadapan Taehyung saat bukunya tertata kembali dalam pangkuan tangannya.
Taehyung yang merasa aneh dan familiar akan sosok itu segera menggapai tangan putih yang berkeringat itu. Sedikit menunduk mengecek wajah seperti apa yang tengah bersembunyi pada topi hitam itu.
Saat melihat wajah orang itu, Taehyung membulatkan matanya. Sekali menatap Seokjin—yang berada dibelakangnya—kemudian menatap kembali sosok itu dengan wajah tak percaya dicampur gelisah.
Dengan sedikit lirihan yang mencelos pada indera pendengaran Seokjin, Taehyung melepas genggamannya pada lengan bawah sosok itu. "J-jungkook."
Seokjin yang terkejut segera menoleh dengan tatapan terkejut. Gadis yang bernama Jungkook itu menoleh ke arah Taehyung dengan tatapan tak percaya. Mereka bertiga, memasang wajah terkejut satu sama lain.
"K-kau kenapa berada di—," Dada Taehyung mencelos begitu saja ketika melihat Seokjin yang berlari kecil dan memeluk bahu Jungkook dalam-dalam. Semua tubuhnya melemas dan ada pergerakan yang salah pada tranportasi darahnya. Dan itu refleks membuat tangannya bergetar dan bahu yang meninggi kaku karena efek keterkejutan.
"—E-eh?" Jungkook yang tiba-tiba memegangi tengkuknya dan tidak membalas pelukan Jin. Ia bahkan tak menatap Jin. Ia hanya menatap Taehyung dengan bulatan mata yang semakin lebar.
"Ke-kenapa?" Taehyung melihat Jin yang masih memeluk erat bahu gadis itu, "Entah kenapa, a-aku merasakan berat yang berlebihan pada bahuku."
DEG!
Gadis itu menelan ludahnya dan membuka topi hitamnya. Memperlihatkan senyuman manisnya pada Taehyung detik itu.
Entah kenapa, dunia seperti lambat saat itu juga. Pernyataan yang gadis itu seruakkan seolah terus-menerus terulang-ulang di telinga Taehyung. Bahu yang meninggi karena efek dari ekspresi terkejutnya kini merendah. Memperlihatkan betapa lemasnya tubuh Taehyung sekarang ini.
'Entah kenapa, a-aku merasakan berat yang berlebihan pada bahuku. Entah kenapa, a-aku merasakan berat yang berlebihan pada bahuku. Entah kenapa, a-aku merasakan berat yang berlebihan pada bahuku.'
Kata-kata itu terus mengiang-ngiang ditelinga Taehyung layaknya bisikan udara.
Dengan ekspresi dan kata yang diuraikan gadis itu… Taehyung mulai menyadari sesuatu—yang begitu mustahil dan tak masuk akal sama sekali.
.
.
.
.
.
Gadis itu hanya tersenyum pada Taehyung dan tak membalas pelukan Jin seolah-olah hanya Taehyung yang bisa melihat Jin disini. Dan—
.
.
.
.
.
Sosok Jin yang menampakkan dirinya pada Taehyung dua hari lalu,
Apakah hal itu bagian dari wujud hasil halusinasi traumanya yang terlalu mendalam?
{tbc}
A/N: Maafkan diriku yang tiba-tiba semi-hiatus gak bilang-bilang/? Plus didukung sama speedy yang blokir jadi agak susah buka di laptop pake speedy. Bisanya mungkin pake wi-fi. Adakah solusi guys? TuT biar bisa tetep update tanpa gejala. Mohon bantuannya~
Btw, gak sabar nunggu BTS mau comeback dengan concept bad boy ala ala gangsters yang bikin ngiler sewaduk :'''9 /? Semoga comeback kali ini, bikin BTS nomor 1 di all chart music! Kita musti banyak ngevote plus dukung tiap hari gak bosen-bosen ;3;
Reply reviews;
suhokjin—JSBTS—kseokjinv—jinbae—guest; ini udah lanjut beibeh hehe;;
0221cm; jungkook sedang dalam keterpurukan yang overdosis/? Pinginnya update ketiganya sekaligus tapi gak sanggup TuT
Jiminey; haiiii miney kau selalu setia padakuuu /peyuk cium/? Itu kan suruh pilih satu kok malah pingin ketiganya TuT
Jin-senpai; Ini udah lanjut senpai-sannn~
Armybana575; dia hanya bangkit jadi hantu ganteng yang memabukkan seperti aroma tubuhnya dan warna merah wine pada rambutnya ;3; /abaikan
Soo-iceusuyanq; yang suyanq unyu unyu :'3/? swaggy lol nama panggilan yang bagus xD sebenernya gak tega juga bikin Jungkook nyium Jin ato hal-hal yang lain, tapi kalo itu ikut membantu jalan cerita ya mau gimana lagi /usep air mata/? Emot paling berjaya dalam dunia per-php-an adalah emot melet yang dekil tiada tara/tawa om-om xD
Yang lain, check di pm wokeh :9
Akhir kata—as always,
Mind to review guys?
