Aku mencoba melepaskan diriku namun tak bisa, kekuatannya lebih besar dibanding dengan kekuatanku. Kedua tanganku dicengkeram erat olehnya, ia menutup pintu dan membawaku menjauh dari jalan keluar itu.
DUKKK !
Bahu-ku menghantam telephon umum hingga gagang telephon itu terlepas dari badannya. Tubuh kami benar benar berdekatan sehingga aku bisa merasakan deru nafasnya dan nafasku yang sama sama terengah.
"Gaara, kumohon DENGARKAN aku !"
Aku masih terus mencoba memberontak dari dirinya, ingin lari, tak ingin lagi bertemu dengannya. Ia masih mencengkram erat tanganku, ia merapatkan diriku ke dinding box, melepas cengkramannya yang sekarang beralih menyentuh kedua pipiku. Tangannya dingin namun lembut. Aku menyerah, mencoba untuk mendengarkan dirinya dan diam.
Wajahnya mulai mendekat ke arahku, pandanganku kosong, aku tak mempedulikan ekspresi wajahnya, ia menempelkan keningnya ke keningku, aku hanya menunduk, nafas kami beradu, aku dapat merasakan desahan nafasnya, bibirnya bergerak seraya berkakta,
"Maaf, Gaara, maaf ku mohon sekali ini dengarkan penjelasanku, aku, aku hanya, aku tak bsa hidup tanpamu Gaara, kumohon kembalilah…"
DHUARRR !
Hujan makin lebat petir menyambar keras membuat Neji semakin merapatkan badanya dengan diriku.
"Tidak tahu," kataku, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
"Gaara, kau mau mendengarkan aku?"
Nadanya berubah menjadi lembut, kali ini aku memandang wajahnya sejenak dan menganguk.
"Tapi kumohon jangan seperti ini, aku tak suka," aku mendorong tubuhnya menjauh perlahan dariku dengan lembut, ia tidak menolak namun ia tidak membiarkan tangannya melepas tanganku. Aku menatap matanya tajam begitu pula tatapan matanya terhadapku. Ia menarik nafas panjang,
"Baiklah, terima kasih kali ini kau ingin mendengarkan penjelasanku, Gaara… aku minta maaf karena tidak mengatakan ini dari awal, Gaara, aku mencintaimu…"
Kata kata itu, entah kenapa kata yang diucap olehnya bisa membutakan hatiku fikiranku buntu, aku tak bisa menahan bahkan menolak dirinya namun sekelebat bayangan seseorang memenuhi pikiranku.
"n… neji…"
Aku mencoba tetap tenang, namun aku tidak bisa menutupi nada suaraku yang bergetar. Mata lavendernya yang hangat begitu menusuk masuk ke relung hatiku, kali ini aku tidak berani membalas tatapan matanya. Air mata kembali mengalir di kedua pipiku, neji menghapusnya lembut dengan ibu jarinya, ya, aku sangat nyaman saat di sentuh olehnya, namun ku tepis kedua tangannya secara lembut.
"Terima kasih kau telah mencintaiku…"
"Gaara…"
"Tapi maaf, kini… telah ada orang yang benar benar mencintaiku dan aku… mungkin mencintainya, ia Itachi… Uchi… ha," sakit, hatiku benar benar perih saat mengatakan ini.
Neji terbelalak tak percaya, aku melihat kilatan rasa tidak percaya di matanya, tatapannya kosong, ia diam membatu, aku tak ingin melihatnya seperti ini.
"Gomenasai Neji… sayonara…"
Aku berbisik dan berlari meninggalkannya di box telephon itu sendirian, membatu. Aku berlari tak tentu arah air mata mengalir deras di pipiku sama derasnya dengan guyuran hujan. Aku terus berlari, berlari, kini menapaki jalan setapak yang menuntunku menuju sebuah jembatan aku tak peduli, aku terus berlari, dan…
BRUKKK !
Aku menghantam seseorng dengan kuat sehingga payung orang itu terhempas dari gengamannya, hampir kami berdua terjatuh, namun ia berusaha sekuat tenaga menahanku, satu tangannya merangkul-ku dan yang satu lagi menahan kami dengan memgang tiang besi.
"Gaara? Apa yang kau? Gaara kau kenapa?"
Aku menatap orang tersebut, bola mata itu, rambut itu, wajah itu. Ia menatap diriku kebingungan.
"Itachi…"
Aku memeluknya erat aku menangis sejadi jadinya dalam pelukannya.
