Waaaa! Ini dia " My Love Monogatari" chapter 2!

Agak susah mencari ide untuk kelangsungan cerita ini. Soalnya, yang disaranin sama temen Kenrai cume ide ceritanya bukan alur cerita ( hahaha). Tapi, berkat semuanya, apapun terasa mudah. Pokoknya, terima kasih banyaaaak yang sangat banyaaak untuk kalian semua yang sudah mendukung Kenrai selama ini.

Susah juga curi waktu untuk mengetik cerita ini. Karena ulangan harian makin menjadi trend disekolah dan Pr-pun semakin menumpuk. Huhuhu..kalau ingat itu, Kenrai jadi menangis, deh..

Ok, dari pada membaca tulisan tak bermakna diatas,langsung saja, let's start!

My thank: to...God, Kira-chan, my friend, my family and silent reader. Arigato gozaimasu~~!

Disclaimer: Naruto adalah milik Masashi Kishimoto yang saya hormati. Sebungkuk apapun saya memohon, tidak akan diberikan.

Warning!: dicerita ini, kenrai buat Minato sangat ooc supaya berbeda. Jadi, bagi yang tidak suka jangan memaksakan diri membaca fic kenrai ini. Nanti patah tulang (?). Oh iya, di chapter ini akan mulai bermunculan oc dan benyak typo yang akan memanaskan otak anda.

Dont like, dont read!

" Ya, sensei. Kushina-senpai tadi pagi pingsan dan tidak bisa masuk sekolah. Ya, saya juga izin mau merawat Kushina-senpai. Ya, terima kasih, sensei." Mikoto menutup teleponnya dan berpaling melihat kondisi Kushina yang masih pingsan. Dia tidak menyangka majikannya ini sangat shock ketika mengetahui siapa yang akan dijodohkan dengannya. Setelah cukup lama menunggu Kushina siuman, akhirnya mata Kushina sedikit demi sedikit mulai terbuka.

" Mikoto, syukurlah...berarti tadi hanya mimpi. Hahaha!" tawa Kushina garing. Gadis bermata violet itu mulai duduk. Mikoto hanya menunduk. Dia bingung harus berkata apa. Tapi, Mikoto lebih tidak bisa kalau harus membohongi Kushina.

" Em...Sayangnya, Kushina-hime...um...tadi itu bukan mimpi. Tapi, tolong dengarkan saya sampai selesai." pinta Mikoto.

.

.

.

.

.

Chapter 2, Watashi no Kibou –harapanku-

.

.

.

.

.

Mikoto menggenggam bahu Kushina dan menatap mata violet Kushina dengan tatapan serius. Kushina sendiri terkejut saat melihat tatapan Mikoto yang tidak seperti biasanya itu.

" Kushina-hime akan dijodohkan dengan anak dari Hirou Namikaze' kan? Untungnya, putra Hirou Namikaze ada dua. Dan Kushina-hime dibiarkan memilih salah satu diantaranya. Jadi..."

" Aku tidak harus dengan bocah kuning itu'kan? Syukurlah...pilihan yang satu lagi siapa?" potong Kushina dengan senyum yang mulai mekar diwajahnya. Dia lega. Setidaknya masih ada harapan untuk menjauhi Minato. Setidaknya.

" Shikato Namikaze." Mikotopun ikut tersenyum manis. Tatapan tajamnya lenyap entah kemana. Yang pasti, dia senang Kushina tidak shock lagi.

" Seperti apa orangnya? Apa orangnya juga menyebalkan seperti durian kuning itu? atau malah lebih menyebalkan? Apa dia kakaknya durian kuning? Apa pekerjaannya?" tanya Kushina panjang lebar. Dia tidak suka kalau orang seperti Minatolah yang akan menjadi pasangan hidupnya.

" Entah. Tuan besar hanya menyebutkan namanya saja. Sudahlah, Kushina-hime...anda harus beristirahat dulu." Kushinapun mengangguk dan kembali tidur. Bahkan dia tidak peduli kalau dia tidak sekolah hari ini. Yah,itulah Kushina...

.

.

Besoknya, Kushina sudah bisa masuk sekolah. Setelah bersiap-siap pergi ke sekolah, sekarang Kushina sedang menunggu Mikoto menyiapkan mobil untuk berangkat sekolah. Tapi, setelah menunggu cukup lama, yang datang malah sebuah Limousine hitam yang tidak dikenalnya. Limousin itu berhenti didepan Kushina. Kushina mengerutkan dahinya. Perasaan buruk menghantui pikirannya. Kaca pengemudi limousin itu mulai dibuka oleh sang pengemudi. Kushina tersentak ketika melihat sesuatu berwana kuning dari balik kaca jendela.

" Ke...kenapa kau ada disini!" teriak Kushina histeris. Minato Namikaze, orang yang menjadi calon tunangannya itu tersenyum licik saat melihat ekspresi Kushina yang bisa dibilang lucu itu.

" Hm? Paman Okatsu Uzumaki menyuruhku menjemputmu, Baka Hime-chan. Ini juga bukan mauku..." jelas Minato. Dia mengcungkan jempolnya kebelakang. Memberi tanda kepada Kushina untuk masuk ke limousinnya itu.

" Otou-san menyuruhmu menjemputku? Huh,merepotkan sekali….Bagaimana kalau aku menolak?" Kushina menatap Minato itu lekat-lekat. Dia benar-benar tidak mau diantar oleh orang itu ke sekolah. Apapun yang akan terjadi.

" Terserah kau saja. Kalau kau menolak, sih, tidak masalah. Sampai jumpa disekolah, Baka Hime-Chan..." Minatopun menutup kembali kaca jendela mobilnya dan melaju keluar dari kediaman Uzumaki itu.

Tak lama setelah itu, Mikoto datang tanpa mobil yang biasa digunakan untuk mengantar Kushina kesekolah. Kushina terkejut. Apa yang terjadi? Apa semua mobilnya disita polisi? Yah, semua mobilnya tidak mungkin disita polisi. Tapi, pasti ada sesuatu yang terjadi.

" Mikoto, kamana mobilnya?" tanya Kushina setelah melihat tanda-tanda mencurigakan itu. Mikoto terdiam sejenak. Dia memainkan jari telunjuknya sambil berkata," Em…Hime…um..maaf, tapi mobilnya sedang di service. Lagipula, Tuan besar melarang mobil kita keluar dari kawasan kediaman uzumaki. Jadi.."

" Jalan kaki? Cih, apa' sih yang dipikirkan Otou-san! Menyuruh si durian kuning menjemputku lalu melarang mobil keluar dari sini! Uurgh…Mikoto, ayo kita berangkat!" Kushina menarik tangan mikoto dan berjalan keluar dari kediamannya itu. Tentunya dengan kerutan didahinya.

" Um…Hime, Fugaku menungguku disana. Maaf, tapi..." Mikoto menunduk. Sebenarnya, dia tidak ingin mengecewakan Kushina ataupun Fugaku. Dia bingung. Kushina menghela nafas. Gadis berambut merah itu memaksakan diri untuk tersenyum. Dia menepuk bahu Mikoto, membuat Mikoto mendongak dan membalas tatapannya.

" Tidak apa, Mikoto. Aku' kan sudah besar. Kamu bisa berangkat ke sekolah bersama Fugaku. Tapi, nanti kita tetap makan berdua, ya..?" kata Kushina. Dia tidak ingin membuat Mikoto kecewa. Kushina sadar kalau selama ini dia sudah membuat Mikoto kerepotan melayani permintaannya. Kushinapun sadar kalau perkataannya tidak nyambung. Dia sadar kalau tadi dialah yang meminta Mikoto menemaninya. Tapi dia tidak bisa begini terus. Mikotopun mengangguk dan berpaling dari Kushina. Dia berjalan dengan tatapan sayu menuju gerbang, tempat Fugaku menunggunya disana. Sesekali dia menoleh ke arah Kushina. Kushina hanya melambaikan tangannya sampai Mikoto berangkat ke sekolah.

" Cih, ini semua karena durian kuning sialan itu!" teriak Kushina dalam hati. Mau tidak mau diapun mulai berjalan kaki kesekolah.

.

.

.

.

" Uuugh...akhirnya sampai juga. Bisa gempor kakiku kalau disuruh pulang-pergi jalan kaki begini," lirih Kushina. Awalnya, Kushina berniat memasuki kelasnya dan langsung beristirahat sejenak. Tapi, tanpa dia sadari, Minato sudah berada dibelakangnya. Dengan senyum penuh kemenangan saat melihat Kushina yang kelelahan.

" Bagimana rasanya, Baka Hime - chan? Harusnya kamu mau kuantar tadi. Tapi, bukan salahku juga, sih.." Sapa Minato. Dia sudah bisa menebak hal ini akan terjadi. Tapi, seperti yang dikatakannya, ini juga bukan salahnya. Minato hanya melaksanakan tugas yang diberikan padanya dan gadis berambut merah itu menolaknya.

" %& *^#! Ngapain kamu disini! Kelasmu' kan ada diseberang sana!" teriak Kushina histeris ketika menyadari kehadiran Minato. Ya, tanpa mereka sadari, para siswa lainpun mulai berdatangan untuk menyaksikan mereka berdua.

" Oh, jadi kau mengusirku? Hei, coba kamu pikir baik-baik, Baka Hime-chan. Aku juga tidak akan mau kesini kalau tidak disuruh Otou-san! Tapi, tidak masalah. Aku juga sangat senang kalau kau mengusirku. Sampai jumpa, BAKA Hime-chan!" Minatopun berjalan melewati Kushina. Sementara Kushina menjadi sangat kesal karena tingkah Minato itu. Diapun melepas sepatunya dan dengan kasarnya Kushina melempar sepatu itu kearah Minato.

" Hei, APA KAMU TIDAK BISA BACA! NAMAKU KUSHINA UZUMAKI! APA AYAHMU TIDAK MENGAJARIMU MEMANGGIL NAMA ORANG DENGAN LEBIH SOPAN!" teriak Kushina.

" Heh, itu sudah lebih sopan daripada melempar sepatu kearah kakak kelasmu! Harusnya kamu yang mesti di ajari sopan santun, dasar Baka hime!"

" Hah? Dasar, durian kuning berjalan!"

" Apa katamu? Setidaknya semua orang suka durian! Memangnya ada yang suka dengan baka hime? Mustahil!"

" Aku tidak peduli! Tapi, setidaknya, hargai aku!"

" Hei, pikir baik-baik dengan otakmu itu. Aku sudah mencoba untuk menghargaimu sebelum kau melempar sepatumu itu!"

" Kamu tidak pernah menghargaiku sejak pertama kali aku bertemu denganmu! Harusnya kamu yang harus mengasah otak dengan baik, Minato – SENPAI!"

" EHEM! Uzumaki-san, Namikaze-san, ikut aku sekarang." seorang guru dengan rambut kuningnya berdiri diantara mereka berdua. Adu mulut yang terjadi cukup keras itupun terhenti seketika. Tsunade-sensei, guru yang melerai mereka itupun menarik lengan kedua siswa itu dan memaksa mereka mengikuti lengkah kaki sang guru kesehatan itu.

" Bibi, aku tidak salah! Cewek tidak tahu sopan santun itu yang memulainya..." bantah Minato. Dia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Tapi Minato bisa menghela nafas lega, karena dia berurusan dengan bibinya bukan guru lain. Setidaknya dia masih aman. Minatopun tersenyum.

" Sensei, aku tidak akan melempar sepatuku kalau DIA bisa memanggil nama orang dengan lebih sopan." Kushina membalas perkataan mianto yang (memang) terkesan menuduhnya itu. sama seperti Minato, dia juga belum pernah diperlakukan seprti itu. Sekarangpun perasaannya sangat tidak karuan. Tapi, kushina masih merasa tidak bersalah. Dia tidak akan mau mengalah kalau berurusan dengan Minato.

" DIAM!" bentak Tsunade. Guru itupun membuka ruang kesehatan dan memasuki ruangan yang bernuansa putih itu. Guru menatap kedua muridnya satu persatu. Sebenarnya, lucu juga melihat Minato yang kepalanya benjol karena sepatu kushina. Tsunade sendiri baru pertama kali melihat keadaan minato yang seperti itu.

" Minato Namikaze. Sudah berapa kali aku peringatkan, jangan panggil aku bibi saat sedang disekolah. Sekarang lihat kepalamu. Huh, apa jadinya kalau ayahmu tahu kau berani menghina seorang gadis sampai membuatnya marah. Kau dalam masalah besar, Namikaze-san. Tapi...kali ini kau dimaafkan." Tsunade mengakhiri ceramahnya untuk minto dengan tatapan tajam menusuk. Minato hanya menghela nafas. Bukan sebuah masalah besar kalau ayahnya tahu kelakuannya itu. Tsunade mengangguk dan beralih pada Kushina. Dia memerhatikan Kushina secara seksama.

" Kushina Uzumaki. Kau tidak perlu melempar sepatu seprti itu. Bagaimanapun, disini sekolah, Uzumaki-san. Berbuat hal seperti itu tidak diperkenankan. Kau juga dimaafkan. Tapi ingat, jangan diulangi. Kalau Minato kembali berbuat sesuatu yang tidak sopan, kau bisa melaporkannya padaku." Kata Tsunade. Kushina menunduk. Dia tidak ingin imagenya sebagai seorang bangsawan ini tercoreng. Otaknya terus berputar mencari jalan terbaik.

" Baik, Tsunade-sensei. Saya juga merasa bersalah. Seharusnya saya tidak melemparkan sepatu saya kepada Namikaze-senpai. Saya juga tidak bisa mengontrol emosi saya saat itu. Saya harus lebih menghormati senpai sebagaimana mestinya. Kalau begitu, apa saya sudah boleh keluar?" bohong Kushina. Semua perkataan yang tidak mungkin keluar dari mulut seorang Kushina Uzumaki itu hanya untuk mempertahankan imagenya. Sebanarnya, Kushina eneg memanggil Minato dengan sebutan sopan seperti tadi. Tapi, apa boleh buat.

" Huh, akhirnya ngerti juga, dasar Baka him..aaauw!" Minato mengelus kepalnya yang baru saja mendapatkan sebuah tepukkan keras dari Tsunade. Tapi benar juga, beberapa menit sebelumnya Kushina masih memanggilnya dengan " durian kuning" atau apapun itu dan sekarang kushina tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan formal. Aneh.

" Senpai, saya tidak sebodoh yang anda pikirkan. Sampai jumpa." Kushinapun berbalik. Kesal rasanya memanggil orang yang selama ini selalu mengejeknya dengan panggilan sopan. Dia berjalan menuju pintu, membukanya, dan keluar dari ruang kesehatan itu. Gadis 17 tahun itu berjalan dengan santai melewati lorong sekolah. Dia sudah terlanjur berniat bolos sejak tadi pagi, jadi tidak masalah baginya untuk keluyuran sampai puas hari ini.

" Kemana, ya...mobil tidak bisa keluar dari rumah. Masa' aku harus jalan kaki ke mana-mana, sih..," pikir Kushina. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke taman belakang sekolah dan bersantai disana. Dengan senyum yang ada di wajahnya, Kushina terus berjalan sambil sedikit tersnyum.

Begitu sampai di taman belakang sekolah, dia kembali dikejutkan oleh seoarang pria berambut kuning. Untuk sesaat kushina kembali mengerutkan keningnya. Pikirannya menuju pada seorang siswa yang berambut kuning, Minato Namikaze. Tapi, kalau dilihat lebih teliti. Orang itu tidak menggunakan seragam Konoha Academy seperti semua siswa disini. Dia juga tidak terlihat seperti seorang guru. Mana ada guru yang bersantai di belakang sekolah sambil bermain gitar?. Kushinapun memutuskan untuk mendekati orang misterius itu.

" Anu...boleh duduk disitu?" tanya Kushina begitu berada didekat orang itu. Orang itupun mendongak dan menatap Kushina. Kushina terkejut. Orang ini mirip sekali dengan Minato. Rambutnya kuning, postur tubuhnya juga. Hanya saja, warna matanya berbeda. Warna safir yang menusuk milik Minato jauh berbeda dari warna hijau menyejukkan milik orang ini.

" Kanapa? Apa aku menyeramkan?" tanya orang itu sambil tersenyum ramah. Kesannya jauh berbeda dari Minato. Dan itu membuat Kushina nyaman berada didekat pria itu.

" Tidak, hanya saja anda mengingatkan saya pada seseorang yang saya benci. Maaf..." Kushina membungkuk. Merasa bersalah karena telah salah menduga. Orang itupun tersenyum. Dia menepuk-nepuk tempat disebelahnya untuk menyuruh kushina duduk disitu. Kushina mengangguk dan duduk ditempat itu.

" Kamu pasti bisa menyanyi' kan? " tanya orang itu. Kushina mengelus-elus dagunya. Dia tidak terlalu pandai menyanyi, tapi karena orang itu sudah menggenjreng gitarnya dan memainkan sebuah lagu yang sangat Kushina kenal, Kushinapun mau tidak mau mulai menyanyi.

.

.

.

.

.

Sementara itu, Minato masih berada di ruang kesehatan. Ada beberapa pertanyaan yang mengganjal pikirannya selama ini.

" Bibi, kenapa Otou-san menyetujui permintaan paman Okatsu untuk menjodohkan salah satu diantara kami dengan gadis merah itu?" tanya Minato kepada bibinya . Tsunade hanya mengangkat bahu.

" Tidak tahu. Dari dulu pikirannya memang sulit ditebak. Tapi menurutku, itu karena kalau kalian dibiarkan, kalian akan jomblo seumur hidup. Khususnya kamu, Minato. Kalian' kan tidak pernah peduli soal masalah percintaan." Jawab Tsunade santai. Dia melihat ke balik jendela. Sebenarnya, karena ruang kesehatan ini ada di lantai 3, Tsunade bisa melihat kushina dan 'orang itu' sedang bersantai dari jendela yang menghadap ke belakang sekolah.

" A..aku jadi tambah eneg..." lirih Minato.

" Yah, kalau kamu tidak suka, kamu bisa memberikan Kushina pada kakaknu, kan?" kata Tsunade tanpa mengalihkan pandangannya dari Kushina .

" Ah, bibi benar. Kakak pasti suka dengan tipe seperti itu." Minatopun tersenyum puas. Tapi, Entah karena AC diruangan itu rusak, atau tenggorokan Minato sedang sakit, yang pasti, Minato merasa panas.

" Kau benar. Meraka serasi sekali. Coba kau lihat itu." kata Tsunade sambil menunjuk pasangan Kushina dan orang yang ternyata adalah kakak Minato itu. Namun, tak lama setelah itu, terdengar suara pintu tertutup yang cukup keras.

" Lho, Minato?"


~~~~TBC~~~~

Waa! Ini dia "My love monogatari" chapter 2!

judul ini juga adalah saran dari teman kenrai. Kenrai sendiri bingung apa artinya. Tapi, katanya, monogatari itu 'cerita' dalam bahasa jepang dan 'my love' diambil dari bahsa ingris yang semua orang tahu artinya. Jadi, kalau digabungkan jadinya "cerita cintaku". Kenrai bilang ini adalah judul gadi-gado dan kenrai suka.

satu lagi, walaupun sudah diberi tahu cara penulisan yang benar, otak kenrai yang masih baru ini belum bisa terlalu menyerapnya. jadi, kalau masih banyak typo, mohon dimaafkan.

Yah, seperti kata kenra diawal cerita, cerita ini tidak akan jadi tanpa bantuan teman-teman semua~~~.. sampai jumpa di chapter 3, daaagh!

Ups, sebelum lupa, mohon RIPIU (REVIEW) nya!