"In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit, I pray." Luna menghembuskan nafasnya. "Amen."

Belum sampai seminggu Tom meninggalkan dunia dan Luna tak pernah absen untuk mengirim do'a. Do'a kepada setiap Tuhan yang dipercaya Penyihir dan manusia. Karena Luna tidak tahu Tom percaya akan Tuhan yang mana. Luna tak sempat bertanya apakah Tom menganggap Tuhan itu ada atau Tom adalah pengikut Merlin yang setia. Dan kadang, Luna bertanya pada dirinya sendiri, apa Tom justru merasa dialah segala diatas segala?

Apapun kepercayaan yang dianut Tom, Luna hanya berharap Tuhan mendengar ucapannya dan mengantarkan salamnya ke Tom yang entah masuk surga atau neraka (atau justru terjebak di dimensi antara keduanya, atau malah tak masuk mana-mana). Tapi, sesungguhnya, Luna lebih berharap Tom akan mendengar langsung keseluruhan dari do'a-nya. Karena itulah mereka. Tak pernah nyaman akan hadirnya pihak ketiga.

Luna ingat. Dulu, ada seekor kucing tak bersalah (yang walau dalam kamus Tom, telah-melakukan-kesalahan-paling-fatal) yang mengeong di jemari kakinya saat Tom menanyainya tentang Elder Wand. Dan masih jelas betul di ingatan Luna bagaimana kucing itu berakhir dengan darah yang tak berhenti mengalir dari keempat kaki dan perpotongan kepalanya.

Dan, sialnya, Luna suka itu. Anggap dia gila dan tak berperasaan, tapi kekejaman itu akan membuat Tom dan Luna mengunci diri dari dunia. Hanya mereka berdua. Membuat Luna merasa—spesial. Entah kenapa.

.

.

.

.

U for Unprotected

Chapter 2 of LUNA

Harry Potter belongs to J.K Rowling.

For #CCProject2

Genre : Romance — Spiritual

Warning(s) : an absurd alternate reality and timeline, out of character, typos, rush, twist and manymore.

.

.

.

.

Semenjak Kingsley Shacklebolt berubah jabatan menjadi Perdana Menteri Sihir, Azkaban tak lagi dikawal rentetan Domentor. Ron Weasly tidak lagi berkarat di Weasley's Wizard Wheezes, dan memilih mengikuti jejak sahabatnya, Harry Potter, menjadi seorang Auror. Ginny Potter née Weasley, sahabat terbaik Luna, hengkang dari lapangan Quidditch dan melanjutkan hidup menjadi koresponden Quidditch (ugh, perempuan ini tak akan jauh-jauh dari balapan tongkat sihir, gawang lingkaran dan peraturan permainan khas bau keringat itu) untuk Daily Prophet dan bahagia bersama tuan Harry Potter dan ketiga anak-nya yang menggemaskan. Hermione Weasley née Granger berhenti memperbaiki kehidupan peri rumah dan makhluk-makhluk sejenis dan berpindah ke Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir untuk membantu penghapusan hukum yang menindas darah campuran dan mendukung darah murni.

Yang pada intinya, hampir seluruh teman seangkatan Luna melanjutkan hidup dengan senyuman mengembang di wajah masing-masing.

Well, tidak sepenuhnya. Luna sering mendapat surat dari Ginny tentang betapa melelahkan mengurusi dua putera yang beranjak remaja (dan berwajah tampan—oh, bayangkan berapa banyak fangirl yang menunggu di pintu depan rumah kami setiap hari libur.., begitu tutur Ginny di suratnya.), seorang putri yang tergila-gila dengan aroma buku dan seorang bayi-dewasa yang selalu ceroboh dan sangat pelupa. Tak hanya Ginny, Hermione kadang mengirimkan surat tentang betapa buruk hidupnya setelah mengikat janji suci dengan Ron. Surat Hermione sangat singkat dan menjelaskan semuanya. Seperti, 'Hidupku buruk. Selamatkan aku.', 'Ya Tuhan, aku tidak percaya menikah dengan seorang idiot.', 'Kemarin dia bertemu dengan rekan kerjanya yang jelek itu. Dia pikir hanya dia yang bisa selingkuh?', dan semacamnya.

Tapi Luna tahu. Sahabat-sahabatnya sedang merasakan buah manis dari kesabaran-seorang-wanita. Kebahagian. Kedua sahabat baiknya kini berkeluarga dan Luna tahu mereka lebih dari bahagia. Seorang suami yang mencintai mereka setengah mati dan anak-anak manis yang menghilangkan semua penat yang mereka lalui.

Oh, betapa Luna menginginkan hidup yang seperti itu.

Di samping rasa puasnya saat mengelilingi dunia Muggle, Luna tahu ada banyak lembar kosong di hidupnya yang belum ia isi. Lembar kosong yang tidak mungkin terisi dengan jutaan corak weird creatures. Lembar kosong yang tidak mungkin penuh dengan curahan cinta seorang cucu Newt Scamander.

Ah, benar. Ia juga sudah menikah.

Suaminya adalah pria paling baik yang pernah hadir di bumi. Semua orang tahu Rolf Scamander adalah menantu idaman hampir semua mertua di luar sana.

Tapi semua orang juga tahu Luna Lovegood bukan perempuan kebanyakan.

Luna Lovegood adalah perempuan yang tetap tersenyum manis saat ayahnya meninggal dunia. Luna Lovegood adalah perempuan yang bertahan dengan ocehan orang lain tentang ia yang membaca majalah dengan cara terbalik. Luna Lovegood adalah perempuan yang merasa bahagia cukup dengan menghabiskan hidupnya berkeliling dunia dan menemukan hewan unik yang belum ia ketahui namanya. Luna Lovegood adalah perempuan yang tidak akan puas dengan pria baik sebagai pasangan hidupnya.

Hari ini adalah 2 Mei. Mendiang Xenophilius mengatakan bahwa Luna lahir di hari ini tahun 1981, namun data kelahiran Luna mencatat tanggal 1 September 1980. Dan karena Luna sangat mencintai ayahnya, maka Luna akan mengaggap ia lahir di tanggal 2 Mei tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Luna tak peduli jika ia salah memperkirakan usianya. Hidup Luna tidak digerakkan oleh umur yang jelas-jelas hanya angka (atau huruf jika dijabarkan dengan alphabet).

"Selamat ulang tahun, Luna.." bisik Luna saat ia menatap rasi bintang dari jendela camping van milik suaminya. "Selamat tidur, Tom.." lanjutnya dengan suara yang jauh lebih kecil.

Pada hari yang sama dua belas tahun yang lalu, atau lebih tepatnya 2 Mei 1998, Luna kehilangan separuh dari jiwanya.

.

.

.

.

"Kau akan mengunjungi Hogwarts?"

Luna hanya mengangguk pelan. Dirinya sibuk dengan tumpukan pakaian yang mengantre untuk dimasukkan ke dalam tas.

"Aku tidak bisa ikut. Maaf."

Kali ini, Luna tersenyum lembut. "Aku tahu. Selesaikan dulu ekspedisi itu. Aku akan kembali secepat yang aku bisa. Dan aku jamin, itu tidak akan lama."

"Hm. Baguslah." Kedua lengan Rolf mengikat pinggang kurus Luna. "Aku akan sangat merindukanmu. Jaga diri, oke?"

"Pasti."

"Awas saja kalau kau sampai sakit saat di sana."

"Tidak akan. Bahkan tidak untuk pilek dan diare."

Rolf tersenyum di antara rambut Luna yang berwarna pirang. Perlahan ia mencium puncak kepala istrinya itu. Menggumamkan kalimat-kalimat sayang yang ia ungkapkan sepenuh hati. Berharap Luna tak hanya mendengar namun juga merasakannya. Merasakan getaran gila yang juga ia rasakan saat menatap sang istri walau sudah yang kesekian kali. Getaran sama yang membuatnya susah mengirim Luna jauh dari tempatnya yang berada di dunia manusia.

"Aku akan benar-benar merindukanmu." Rolf terkekeh pelan. "Aku bahkan tidak berbohong saat mengucapkan itu."

Luna hanya tersenyum. Ia tak menanggapi ucapan suaminya. Atau, lebih tepat lagi jika, ia tak tahu bagaimana menanggapi ucapan Rolf.

.

.

.

.

.

Luna tiba di tujuannya. Dan, Penyihir paling bodohpun tahu bahwa bangunan di hadapan Luna bukan Hogwarts. Luna tersenyum kecut. Dia harus dihadiahi pernghargaan sebagai seorang pembohong ulung.

Luna menghirup oksigen. Tidak ada yang menyegarkan dari udara yang berhembus di tempat ini. Bahkan aroma lautnya pun tak menenangkan sama sekali.

Azkaban…

Penjara Azkaban. Tempat hukuman bagi mereka yang melakukan dosa tak termaafkan. Dan seorang Luna Schamander née Lovegood rela menginjakkan kakinya yang bersih ke tempat seperti ini hanya untuk memuaskan rasa laparnya akan sebuah kebenaran. Terlalu lama tinggal di dunia manusia membuat Luna menjadi makhluk egois. Sama seperti manusia kebanyakan.

.

.

.

.

Luna berdiri disini. Menatap kosong sosok perempuan yang merengut di hadapannya. Jeruji penjara adalah satu-satunya penghalang di antara mereka.

"Hei," perempuan itu berucap. "Keluarkan aku~" lanjutnya manja.

Luna hanya tersenyum. Ia menepuk kain tebal yang menempel rapi di pahanya. Membuat serbuk debu berkeliaran bersama udara yang bahkan begitu sedikit jumlahnya.

"Uhuk! Uhuk!" perempuan dengan surai hitam lebat itu terbatuk pelan. "Apa yang kau lakukan, Miss?! Ingin membunuhku!?"

"Tidak, tidak," Luna terkikik pelan. "Kau tidak kuijinkan untuk mati sebelum menjawab pertanyaanku."

Mata gelap perempuan dihadapan Luna itu memancarkan kebahagian. Jemari kurusnya menggenggam besi berbentuk silinder yang mengurungnya dari dunia luar. Namun perlahan, sorot matanya berubah. Campuran antara marah dan kesedihan menyilaukan manik Luna.

"Setelah itu? Apakah kau akan membunuhku?"

"Hm, coba kupikirkan…"

Luna mengetuk dagunya. Diambilnya langkah pelan namun pasti yang membawa tubuhnya mendekati si perempuan. Jari-jari Luna menyentuh wajah perempuan tersebut. Lalu menancapkan dan menggeret kuku panjangnya di kulit yang mulai kotor itu. Menciptakan luka panjang yang mengeluarkan darah.

"Argh!"

"Kurang lebih seperti itu."

.

.

.

.

"My Lord membenci orang-orang seperti dirimu," Bellatrix membersihkan darah yang mengalir dari pipi kananya. "Orang yang berpura-pura untuk peduli."

"…."

"My Lord—"

Luna mencakar lagi wajah Bellatrix yang tidak terawat. Saat lengkingan menyakitkan dan ucapan permohonan yang meluncur dari sela-sela bibir Bellatrix tiba di telinga Luna, ia menghentikan siksaannya. "Aku membenci orang-orang yang berlagak seperti mereka mengetahui segalanya tentang Tom."

Bellatrix mendecih kasar.

"Sekarang, katakan padaku, apa saja yang Tom ceritakan padamu?"

Bellatrix memutar arah jalannya dan mulai melompat menjauhi Luna. Dengan senandung bahagia, ia terus berjalan menjauh. Dan menjauh. Dan menjauh. Dan semakin jauh. Hingga ia hilang di antara gelapnya ruang tersebut.

Luna bergerak maju. Dengan kasar ia menggenggam besi silinder tersebut. Matanya bergerak dengan amarah yang berkobar. Dia tidak boleh pergi. Tangannya mengguncang jeruji tersebut. "Bellatrix! Ke—"

"Berhenti berpura-pura peduli, nona manis."

Bisikan itu terdengar begitu dekat dengan telinga kirinya. Namun, saat Luna menoleh ke arah kiri, tak ada satu sosokpun yang berada di sana. Nafasnya tersenggal, wajahnya mulai memerah. Luna tahu dia pasti tampak seperti orang gila sekarang.

"Aku—"

"Ah, benar. Kau hanya peduli karena My Lord sudah mati, 'kan?"

Luna menatap sisi kanannya. Dan nihil. Bellatrix tak ada di sana.

"Ti—"

"Katakan, nona, kenapa kau sampai repot datang kemari hanya untuk Tuanku?"

"Aku tidak—"

"Kau pikir My Lord peduli padamu?"

"…."

"Hanya karena My Lord sering mendatangimu di perpustakaan?"

"Dia—"

"Oh, pity you."

"Diam!"

"Penyihir bodoh yang percaya hanya karena sedikit perhatian dari My Lord."

"Dia tidak—"

"Funny."

"Tidak…"

Genggaman Luna mulai terlepas perlahan. Kedua kakinya lemas seketika. Suaranya bergetar. Air mata yang mengalir dari kedua matanya bahkan terasa hambar.

"Kau mau mendengar cerita tentang My Lord? The Great Lord Voldemort?"

"…"

"Too bad. Setiap orang memiliki rahasia yang tidak seharusnya dipublikasikan kepada umum."

"Aku—"

"Oke, oke, baiklah. Akan kuceritakan."

"…"

"Lihat. Aku baik sekali, bukan?"

"Kau—"

"Pertama, Tuanku membenci seseorang yang bicara sembarangan. Kedua, Tuanku membenci siapa saja yang berkhianat.—oh, well, aku sedang berkhianat sekarang, tapi, toh, Tuanku sudah mati. Dia tidak punya kekuatan lagi."

Luna meremas rambutnya. Kelopak matanya terpejam erat. Kedua kakinya masih bergetar. Begitu pula dengan kedua lengannya. Luna tak ingat sejak kapan ia berhenti menangis, tapi jejak air mata tercetak jelas di wajahnya.

"Sekalipun mereka bilang kau adalah psikopat gila, aku tidak percaya itu. Menurutku, kau hanya kesepian."

"Berhenti bicara omong kosong."

Luna hanya tersenyum kecil mendengar tanggapan Tom yang datar. Tangannya masih menyusuri satu persatu buku berdebu yang diletakkan dengan berantakan di rak-rak yang menghiasi setiap sudut perpustakan.

Saat ia menemukan buku tipis yang dicari oleh Tom, Luna menahan nafasnya. Dengan tangan bergetar, ia merogoh sakunya. Mencari korek api yang ia simpan. Masih ketakutan, Luna menggesekkan batang korek tersebut hingga api kecil tersulut di ujungnya. Perlahan, ia membakar buku tersebut. Mata Luna menari dengan rasa takut yang menyelimuti wajahnya. Ia berharap Tom yang berada tiga lorong di belakangnya tak akan menyadari tindakan yang ia lakukan.

Saat buku kecil itu terbakar habis, Luna menghembuskan nafas lega.

Sayang, ia tengah berhadapan dengan Lord Voldemort yang tidak mungkin dapat dibodohi dengan hal konyol seperti yang ia lakukan tadi.

"Apa yang kau lakukan?" ucap Tom sambil mencekik leher Luna.

"Bu—bukan ap—"

"Kau tahu aku membenci pembohong, Lovegood."

"Bu—bukan apa-apa... S—sungguh…"

Bola mata Tom menusuk retina Luna. Luna segera memejamkan matanya. Luna tahu Tom menyadari bahwa ia baru saja memboikot Tom dari belakang. Habis sudah riwayatnya.

Anehnya, Tom melonggarkan cengkramannya dan perlahan melepaskan Luna.

"Ketiga, Tuanku membenci senyuman. Tangan Tuanku selalu terasa gatal untuk merobek wajah orang yang sedang tersenyum."

Luna terjebak di perpustakaan. Tom menutup semua akses Luna untuk menghirup dunia nyata. Teman Luna hanya buku, rak, bangku dan debu. Terkadang, Tom akan menjadi 'teman' Luna. Luna menyukai tempat ramai walau ia tak pernah berpartisipasi dalam keramaian itu. Sekalipun kesendirian dan terasing adalah nama tengah Luna, ia benci ketika semua 'teman'nya tak bisa diajak bicara. Padahal 'teman' itu memiliki pita suara yang berfungsi dengan cukup baik.

Tom hanya akan datang ketika Tom membutuhkan Luna. Kedatangannya pun tak akan bertahan lama. Lima menit bahkan terlalu lama untuk Tom berada di sana.

Hari itu, Luna bosan dan kesepian. Oleh karenanya, dengan berani ia sengaja menggesekkan jarinya ke jemari Tom yang dingin dan kasar. Saat ia mendapat perhatian Tom, Luna memasang senyum terbaiknya. Sebuah undangan kecil untuk—tinggal.

"Kau menjijikkan."

Luna berakhir dengan kesendirian.

"Keempat, Tuanku membenci orang sepertimu." Suara Bellatrix terdengar begitu pelan namun menyesakkan. "Pecundang. Pembohong. Tidak berguna. Idiot—"

Nafas Luna mulai tersenggal. Sistem pernafasannya tidak pernah seburuk ini sebelumnya. Kepalanya mulai pening dan perlahan seluruh tubuhnya terasa nyeri. Diiringi suara berdentum yang keras, Luna dapat merasakan jantungnya meledak dengan begitu parah.

"Bunuh saja aku."

"Katakan dimana Harry Potter."

"Bagian mana dari 'bunuh saja aku' yang tidak kau mengerti," Luna menggigit bibirnya. "…Tom."

"…Crucio."

Luna menjerit dalam diam. Rasa sakit itu menjalari seluruh pembuluh darahnya. Membunuhnya perlahan namun penuh penekanan. Dan saat mantra terkutuk itu berhenti, Luna kembali meronta.

"Kat—"

"Hanya itu? Bunuh aku, artinya kau bunuh aku!"

"Aku akan mengupas kulitmu setelah kau beri tahu aku dimana Potter."

"Kalau begitu kupas kulitku! Jahit mulutku! Potong seluruh tubuhku! Aku akan lebih bahagia jika kau memakan jantungku dibandingkan memberitahu orang gila sepertimu posisi sahabatku!"

"…"

"…"

Tom bungkam. Luna sibuk mengatur nafasnya.

"…kau pikir hanya kau yang mengetahui dimana Potter? Bodoh."

"…"

"Kau piki—"

"Kalau kau sampai menyentuh Harry bahkan hanya ujung rambutnya, aku bersumpah akan mengejarmu ke dasar neraka, memotong kecil-kecil tubuhmu, dan memakan dagingmu mentah-mentah."

Tom hanya tertawa sinis. Dua detik setelahnya, ia mencekik leher Luna dan menggores wajah perempuan pirang itu hingga berdarah. "Kau bilang, kau tak percaya ucapan mereka yang memberiku lebel psikopat gila. Pembohong."

Luna tercekat. Tom ingat. Tom ingat ucapannya.

.

.

.

2/4 done

.

.

.

A/N :

Hai, ini Rie. Maaf karena lama *bow*.

Oke, jadi, pertama, Rie ngaret. Kedua, hasilnya mengecewakan. Ketiga, serius, ini gak jelas dan absurd stadium empat.

Rie masih sangat, sangat, sangat baru di Harry Potter. Beberapa data yang ada di atas adalah segala macam info yang bisa Rie dapat dari Google. Disamping itu, Rie nggak pernah tahu apa itu spiritual. Jadi, Rie cuma bisa menuliskan 'perang batin'-nya Luna sebagai sisi spiritual.

Maaf jika semua karakter yang ada kelewat OOC. Untuk Luna, Rie cuma mau menekankan bahwa dia berubah karena dia lama tinggal di dunia manusia dan mulai terinfeksi sama sifat-sifat manusia. Dan, seperti yang mereka bilang, cinta itu buta. Luna berubah karena dia terserang penyakit cinta. Oke, bahkan penjelasannya pun kelewat maksa._.v

Sekali lagi, maafkan Rie. Terima kasih untuk yang berkenan membaca dan meninggalkan jejak :D