RE-PUBLISH

New Legends The Sequel

.

Suara tapakan kaki yang mendarat tidak terlalu jelas terdengar. Orochimaru, Karin dan Suigetsu kini sudah sampai di medan perang. Mereka heran mengapa tempat ini menjadi lebih tenang dari sebelumnya bahkan tidak ada lagi para shinobi yang mengeluarkan jurus andalan mereka. Yang ada hanyalah suara hiruk pikuk manusia yang sibuk menangis dan membenahi diri. Pandangan mereka terhenti saat melihat Sasuke dan Naruto yang terbaring lemah di dekat Sakura yang sedang berbincang dengan Sai.

"Ugh, lagi-lagi siput itu. Kenapa banyak sekali siput yang bergeliat disekitar sini sih. Berapa banyak garam yang harus aku sebarkan?" celetuk Suigetsu sambil menatap jijik pada pecahan tubuh Katsuyu yang tersebar dimana-mana.

"Dan berapa banyak minyak panas yang harus aku siram kepadamu agar kau hancur dan tidak bisa menyatu lagi? Dasar aneh," balas Karin ketus sambil membenarkan letak kacamatanya yang melorot namun tidak digubris oleh Suigetsu.

Lalu mereka bertiga berjalan menghampiri Sakura dan Sai yang sedang membicarakan sesuatu yang tidak terlalu serius.

"Apa perang telah selesai?" tanya Orochimaru tiba-tiba pada Sakura.

Sakura dan Sai yang merasa di tanya langsung menoleh pada sumber suara dan betapa kaget dirinya mendapati Orochimaru beserta anak buahnya berdiri menjulang dihadapannya. Dengan sigap Sakura dan Sai langsung menghampiri tubuh Naruto dan Sasuke untuk melindungi keduanya dari Orochimaru.

"Heehh, kau tidak perlu setegang itu. Kami dipihak kalian kok!" ujar Suigetsu.

"Aaaa, Sasuke-kun terluka! Aku harus membantunya," teriak Karin histeris membuat Sakura mengernyit tidak suka.

"Ah, kau benar-benar menyukainya kan? Mengaku saja!" ejek Suigetsu pada Karin. Nampaknya perang dunia kelima akan segera terjadi jika dua makhluk beda gender itu tetap bersikeras melemparkan argumen masing-masing.

"Tenanglah, kami dipihak kalian," kata Orochimaru yang lagi-lagi tidak memperdulikan Karin dan Suigetsu.

"Aku tidak punya alasan untuk mempercayaimu." geram Sakura. Ah seperti deja vu saat ujian chunnin di hutan terlarang saja.

"Kau murid Tsunade, bukan? Kau bisa membunuhku dengan bebas jika aku melakukan hal yang mencurigakan,"

Sakura ragu akan perkataan Orochimaru. Tapi melihat kedua mata ular manusia reptil itu yang terlihat yakin akhirnya Sakura setengah hati percaya padanya.

"Baiklah, aku percaya padamu," Sakura diam sejenak sambil memperhatikan Orochimaru yang kalem lalu Karin dan Suigetsu yang masih asik dengan perang mulut mereka. "apa tujuanmu?" lanjutnya.

"Aku hanya ingin membantu perang ini. Tapi sepertinya aku sudah terlambat,"

"Ya, seperti yang kau lihat. Semua telah berakhir,"

"Souka," tatapan ular itu beralih pada Sasuke yang masih pingsan. Sakura yang bingung dengan tatapan Orochimaru langsung mengikuti arah pandangnya.

"Kau tidak berambisi untuk mengambil tubuhnya lagi kan?" tanya Sakura penuh selidik.

"Tidak, sudah kubilang aku ini dipihak kalian. Apa kau kurang percaya?"

"Ya. Sejujurnya aku kurang bisa mempercayai ucapanmu. Bagaimanapun juga dulu kau pernah berusaha untuk menghancurkan desa," balasnya sinis.

"Terserah padamu. Niat baikku menolong kalian dalam perang ini,"

Sai yang dari tadi diam hanya memandang datar pada orang-orang di hadapannya. Karena dirasa tidak ada keperluan lagi ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

"Sakura, aku rasa aku harus pergi. Masih banyak yang memerlukan pertolongan,"

"Baiklah. Terima kasih karena mau menemaniku, Sai." sahutnya sambil tersenyum simpul.

Melihat senyuman manis yang tulus di wajah Sakura membuat sesuatu yang aneh bergejolak dalam diri Sai. Baru pertama kali ia merasakan sesuatu tentang perasaan yang hinggap dihatinya. Melihat senyum Sakura yang manis dan tulus itu membuat Sai tanpa sadar mengeluarkan semburat merah di wajahnya yang pucat.

"Err, Sai? Kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu memerah?" tanya Sakura sambil mengernyitkan alis.

"Mungkin dia menyukaimu," celetuk Suigetsu.

"Tidak," kata yang berhasil menutupinya dengan apik. "Mungkin karena disini panas. Baiklah aku pergi dulu Sakura. berhati-hatilah," Sai pamit dengan meninggalkan sedikit perasaan bingung pada Sakura.

Panas? Ini kan malam? Lagipula ini malam yang dingin.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Orochimaru. Sakura hanya menghela nafas lelah tanpa menjawab.

Sekian detik terlewat, Sakura menatap sendu Sasuke dan menjawab pertanyaan Orochimaru.

"Jika kau bertanya soal tubuhnya, tubuh Sasuke sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Tapi jika kau bertanya tentang matanya.." ucapan Sakura berhenti. Matanya berkaca-kaca, bibir dan bahunya pun sudah bergetar menahan tangis.

"Hey, kalau bicara itu jangan setengah-setengah! Jangan membuat kami penasaran!" seru Karin.

"Kau ini berisik sekali sih! Kau bilang kau tidak menyukainya, tapi ucapan dan tingkah lakumu itu malah sebaliknya. Dasar gadis aneh," cibir Suigetsu.

Terjadilah perang mulut yang kembali dimulai oleh celetukan Suigetsu. Sakura yang tadinya hendak menangis dramatis menjadi kesal sendiri dengan pelipis kanan yang berkedut menahan marah.

"Bisakah kalian diam? Aku bisa membunuh kalian tanpa rasa sakit," desis Sakura marah sambil mengepalkan tangan kanannya yang siap untuk di daratkan pada dua makhluk aneh di depannya membuat orang-orang yang ada disana terlonjak kaget, kecuali Naruto dan Sasuke yang masih pingsan dan Orochimaru yang memang mengetahui bahwa reaksi Sakura akan seperti itu.

Suasana menjadi sunyi setelah Sakura dengan ganasnya mengeluarkan aura membunuhnya. Suigetsu dan Karin yang adu mulut menjadi ciut seketika melihat wajah garang Sakura. Orochimaru hanya tersenyum miring mendapati reaksi Sakura.

Dia benar-benar mirip dengan Tsunade.

"Jadi bagaimana?" tanya Orochimaru.

"Matanya.. hampir mengalami kebutaan. Karena dia terlalu sering memakai sharingannya. Kemungkinan delapan puluh persen buta," lanjut Sakura. Matanya menatap sendu pada wajah polos Sasuke. Sakura ingin menangis lagi, tapi diurungkannya karena di tempat ini bukan hanya ada dirinya seorang dengan Naruto dan Sasuke, tapi masih ada Orochimaru, Karin dan Suigetsu yang masih mengkeret karena amukan Sakura tadi.

"Sudah kuduga. Pasti lama kelamaan mata itu akan membuat masalah pada tubuhnya sendiri," tukas Orochimaru.

"Jadi, setelah ini apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan kembali ke desa? Tapi aku tidak yakin kalau kau akan langsung diterima begitu saja oleh Konoha. Sama halnya dengan Sasuke," tukas Sakura yang mulai mengakui Orochimaru.

"Ya," jawabnya. "aku akan menerima semua konsekuensinya,"

.

.

.

.

Seminggu setelah selesainya perang, belum cukup untuk membersihkan bumi dari puing-puing tanah atau bangunan yang sudah hancur lebur. Konoha misalnya. Memang kerusakan yang diakibatkan dari perang dunia shinobi keempat ini tidak terlalu parah karena perang itu berada jauh dari Konoha. Namun tetap saja efek dari perang itu sampai juga ke Konoha. Apalagi desa ini yang paling banyak menyalurkan ninja-ninja terbaiknya ke medan perang. Jadilah banyak yang gugur dan sedikit yang membantu untuk membangun desa ini kembali. Hanya warga sipil yang mendominasi pembangunan desa terbesar di negara api ini.

Banyaknya para ninja kelas atas yang gugur membuat Konoha semakin berduka. Seperti kematian si jenius dari klan Hyuuga, Neji Hyuuga. Kematiannya sangat menguras hati dan pikiran dari klannya maupun warga desa. Pemuda mantan calon pemimpin klan Hyuuga yang terkenal dengan sifat dinginnya dan kecerdasan otaknya itu harus gugur saat melindungi Hinata dan Naruto membuat dua sejoli itu diundung rasa sedih, marah, kagum dan sebagainya. Sama seperti shinobi Konoha yang lain. Mereka gugur dengan terhormat dan kini mayat-mayat mereka sedang di kremasi dan akan dimakamkan besok lalu upacaranya akan dilakukan sebelum acara pemakaman. Sedangkan monumen untuk mereka yang gugur akan dibangun sehari setelah upacara pemakaman dengan berlapiskan emas.

Seperti halnya desa Konoha yang belum kembali pulih, Sakura pun sama hancurnya saat ini. Bukan kehancuran fisik yang ia alami, melainkan kehancuran hati. Bagaimana tidak? Sahabatnya yang sama-sama membunuh juubi dalam perang sampai sekarang belum sadarkan diri. Belum lagi keadaan gurunya, Kakashi yang sama kritisnya dengan mereka membuat rasa khawatirnya semakin menjadi. Tsunade yang ia harapkan untuk membantu masih sibuk mengurusi para kage yang masih dirawat di Konoha dan menandatangani ini itu.

Memang sudah keputusan Tsunade agar para kage tetap tinggal di Konoha untuk sementara waktu karena luka mereka yang belum sembuh benar dan itu tidak bisa di ganggu gugat. Lagipula, pengobatan di Konoha jauh lebih maju dari pada desa lain. Para warga desa yang dipimpin oleh empat kage itu pun tidak merasa keberatan. Justru mereka senang karena para kage mendapatkan pengobatan langsung dari master medis yang namanya sudah menjulang tinggi di dunia shinobi agar pada saat mereka bertugas nanti tidak ada kendala kesehatan.

Hari ini Sakura memutuskan untuk ke rumah sakit Konoha untuk menjenguk Naruto dan Sasuke. Setelah sampai di rumah sakit, ia tidak langsung menuju kamar Sasuke maupun Naruto. Ia lebih dulu menuju taman rumah sakit yang berada di belakang untuk menata hatinya. Sebuah taman yang lumayan luas dengan sebuah bangku panjang berwarna putih. Terdapat beberapa pohon besar yang terlihat sangat rindang dan air mancur buatan.

Sakura mendudukkan dirinya di bangku taman itu. Menatap hampa burung-burung yang tengah mandi di air mancur buatan atau sekedar mencari makanan di rerumputan hijau itu. Tanpa disadarinya setetes liquid bening jatuh dari sudut matanya.

Lagi-lagi dia menangis. Mungkin hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk menenangkan hatinya saat ini. Sampai sebuah ingatan tentang Naruto dan Sasuke kembali melintas dipikirannya.

"Sakura-chan, aku akan membawa Sasuke kembali ke desa. Itu janjiku seumur hidup!"

"Aku akan menjadi hokage!"

"Ingat janjimu padaku untuk lebih dulu menyelamatkan Sasuke, Sakura-chan. Aku dari klan Uzumaki, penyembuhanku lebih cepat dari pada Sasuke,"

"Sakura... Terima kasih,"

"Tadaima,"

"Okaeri, Sasuke-kun,"

Sekelebat memori itu hadir kembali dan membuat Sakura masuk kedalam dunia masa lalu yang penuh dengan kepahitan. Memaksanya untuk terus menggali, mencari, menelusuri lebih dalam kenangan yang sama sekali tidak ada manisnya itu. Sampai sebuah suara bariton yang tidak terlalu dikenalnya menyapa indra pendengarannya.

"Kau menangis?" tanya seorang pria di belakang Sakura. Sakura yang merasa ditanya lebih dulu menyeka air mata lalu menoleh untuk melihat siapa yang bertanya padanya.

"Gaara-sama?" Sakura mendongak menatap Gaara. "Apa yang anda lakukan disini?"

Gaara tidak langsung menjawab. Ia malah menatap lekat-lekat kunoichi cantik nan berbakat ini. Sedangkan Sakura yang ditatap mulai tenggelam pada tenangnya mata jade yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Sakura mengerjapkan matanya dan kembali ke alam sadarnya. Dengan sopan ia mempersilahkan kazekage muda itu untuk duduk bersebelahan dengannya. Cukup lama mereka terdiam sampai akhirnya suara bariton Gaara kembali terdengar.

"Ingin menjenguk Naruto dan Sasuke?" tanyanya tanpa menolehkan kepala.

"Ya," jawab Sakura sekenanya. "Gaara-sama sendiri sedang apa? Bukankah Anda masih dalam tahap pengobatan?" tanya Sakura dengan gaya bicara formal. Meskipun mereka seangkatan, karena posisi Gaara yang menjabat sebagai Kazekage membuatnya harus sedikit lebih hormat.

"Hn," sahutnya ambigu.

"Anda harus banyak istirahat, Gaara-sama. Tsunade-shishou pasti akan mengamuk dan menghancurkan Konoha bila pasien kehormatannya berkeliaran tanpa izin," lanjutnya sambil terkekeh ringan. Gaara tidak menjawab malah menoleh sebentar pada Sakura lalu kembali menatap hampa pemandangan yang tersaji di hadapannya.

"Dua hari lagi aku akan kembali ke desa," tutur Gaara tanpa ditanya membuat Sakura menoleh.

"Benarkah? Bukankah anda masih harus tinggal disini untuk lima hari kedepan?"

"Aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan desa,"

Sakura hanya ber'oh'ria mendengar jawaban datar dari pemimpin Suna itu. Dipandanginya wajah tampan milik Gaara yang entah mengapa membuat darahnya berdesir. Rambutnya yang merah memanjang dan berantakan membuat karismanya menguar sangat kuat. Wajah yang tirus dengan kulit putih bersih. Mata dengan lingkaran hitamnya membuat mata itu semakin terlihat tajam. Kalau saja mata itu adalah pisau, sudah pasti siapapun yang di tatap dengan mata itu langsung mati ditempat. Jika boleh Sakura membandingkan, Gaara bisa disetarakan dengan Sasuke ataupun Neji dalam segi sifat, otak dan tentu saja ketampanannya. Bahkan bisa dibilang karisma Gaara melebihi Sasuke dan Neji. Pesonanya terlalu kuat untuk seorang Sakura yang hanya gadis biasa.

"Naruto sudah sadar," ucap Gaara membuyarkan lamunan Sakura. "tapi hanya untuk beberapa detik,"

"Benarkah? Syukurlah." ucap Sakura dengan senyum merekah manis dibibirnya. "tapi apa maksudnya hanya beberapa detik?"

"Entah," sahut Gaara. "Tsunade bilang itu hanya gerakan reflek dari bawah sadar Naruto,"

Mendengar berita itu terang saja Sakura bahagia bukan main. Air mata jatuh lagi dari kedua matanya, namun kali ini bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata bahagia. Meskipun Naruto hanya sadar untuk beberapa detik, setidaknya ada perubahan yang berarti dari sahabat berisiknya itu.

Tanpa disadari Sakura, Gaara menoleh dan memandangnya dengan pandangan yang lagi-lagi sulit diartikan. Melihat Sakura yang tersenyum manis dalam tangisnya entah kenapa membuat sesuatu bergejolak di dalam perutnya. Seperti ribuan kupu-kupu yang terbang.

"Kalau begitu saya permisi, Gaara-sama. Terima kasih atas beritanya," pamit Sakura dengan senyum sangat manis sambil berdiri lalu berojigi.

"Hn,"

Tinggallah Kazekage penuh wibawa itu sendirian di kursi taman. Dengan tangan yang bersidekap, sebuah senyum tipis mengembang di wajahnya. Percakapan singkat dengan Sakura membuat hatinya senang. Gadis itu.. entah sejak kapan melelehkan hatinya yang beku.

.

.

.

.

Pintu sebuah kamar dirumah sakit Konoha terbuka. Menampakkan sebuah kamar bernuansa putih dan berbau anyir obat yang cukup luas dengan seorang penghuni berambut blonde yang masih terlelap dalam tidurnya di atas ranjang rumah sakit.

Sakura memasuki ruangan itu setelah menutup pintu dengan pelan, takut membangunkan Naruto dari istirahat panjangnya. Dihampirinya tubuh kekar nan ringkih itu. Memandangnya penuh kasih. Rasa bahagia menjalar di hatinya saat mendengar berita bahwa Naruto sudah sadar. Tapi sayang, hal itu tidak dapat Sakura lihat. Memang hari ini Sakura tidak ada tugas dirumah sakit. Jadi waktunya ia untuk merawat atau sekedar menjenguk Naruto dan Sasuke tidak bisa ditentukan.

"Syukurlah kau sudah lebih baik," ucapnya pelan sambil mengelus rambut Naruto. "Tapi, bagaimana dengan Sasuke-kun? Apakah dia sudah sadar?"

Ah, Saking bahagianya mendengar Naruto sudah sadar, Sakura lupa dengan keadaan pemuda buron dari klan Uchiha itu.

"Aku bangga padamu Naruto, sangat bangga," bisiknya parau. "bisa membawa kedamaian di dunia ini dan juga bisa membawa Sasuke-kun kembali,"

Tidak ada pergerakan yang pasti dari Naruto. Hanya pergerakan dada yang naik turun saja yang menandakan bahwa manusia ini masih pada wadahnya. Masih tetap menyembunyikan blue sapphire seindah langit musim semi itu dibalik kelopak matanya.

"Kau tahu? Selama ini aku sangat egois. Memanfaatkan perasaanmu yang menyukaiku untuk membawa Sasuke-kun kembali. Tapi sekarang aku sadar bahwa aku salah. Maafkan aku Naruto,"

"Dan terima kasih kau telah membawa Sasuke-kun kembali dengan caramu sendiri," lanjutnya menggenggam tangan Naruto.

Baru saja Sakura hendak pergi, sebuah gerakan lemah membuatnya menghentikan langkah.

Kali ini sebuah balasan singkat yang lemah tercipta dari gerakan lemah Naruto. Seakan pemuda itu tidak ingin Sakura melepas tautan tangannya. Melihat hal itu mau tidak mau Sakura tersenyum manis.

"Aku harus pergi menjenguk Sasuke-kun. Besok aku akan kesini lagi untuk menjenguk kalian,"

Dengan ragu, perlahan Sakura dekatkan wajahnya kewajah Naruto. Dikecupnya kening pria itu. Sebentar. Hanya sebentar. Yang penting rasa sayang dan perhatiannya sebagai seorang sahabat tersampaikan.

"Jaa ne,"

.

Setelah keluar dari kamar Naruto, Sakura melangkahkan kakinya pada kamar sebelahnya. Ya siapa lagi kalau bukan Sasuke? Namun kamar ini berbeda dengan kamar Naruto. Di depan pintu itu dijaga oleh dua orang Anbu di masing-masing sisinya.

"Ada keperluan apa?" tanya seorang Anbu.

Meskipun Sakura adalah pekerja medis di rumah sakit ini, tapi karena ia sedang tidak ada tugas, para Anbu ini harus tetap menanyakan keperluan Sakura datang ke kamar Sasuke.

"Aku hanya ingin menjenguknya,"

"Baiklah, waktumu lima menit," Sakura menganggukkan kepalanya.

Sang anbu membukakan pintu dan mempersilahkan Sakura masuk.

Sakura lantas melangkahkan kakinya dengan hati-hati agar tidak membangunkan Sasuke, walaupun ia tahu Sasuke tidak akan sadar dari pingsannya hanya dengan langkah kaki yang bergesekan dengan lantai.

Tubuh Sasuke tidak terlalu banyak diperban seperti Naruto. Hanya saja, mata onyx mempesona khas Uchihanya lah yang terbalut perban yang lumayan tebal.

Senyum miris tercipta dibibir tipis nan ranum milik gadis musim semi ini. Pujaan hatinya, Uchiha Sasuke kini terbaring dengan kondisi mata yang hampir buta.

Sakura mengambil bangku lalu duduk disamping ranjang Sasuke. Menggenggam tangan besar itu dengan perlahan dan mengeluskan jempolnya pada punggung tangan yang dingin itu.

"Aku senang kau bisa kembali ke desa. Aku harap kau bisa memulainya kembali dari awal dengan hati yang iklas,"

Sejenak Sakura diam, memang jika ia dihadapkan dengan Sasuke ia akan menjadi kaku. Dalam kondisi Sasuke yang seperti ini, Sakura masih belum terbiasa berdekatan dengannya. Perlakuan yang selama ini Sasuke berikan padanya memberikan beberapa efek samping pada gadis musim semi ini.

"Sasuke-kun, apakah kita bisa memulai semua dari awal?"

Tidak ada sahutan di sana. Masih tetap sunyi dan hanya terdengar suara halus hembusan nafas teratur dari Sasuke. Sakura memutuskan untuk diam dan memandangi wajah Sasuke yang terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Senyum miris masih di sana. Tangannya terangkat dan menyibak helaian rambut kebiruan yang menempel di dahi Sasuke.

Andai saja tak pernah ada kekacauan di dunia ini, Sasuke tak mungkin terbaring lemah seperti mayat hidup.

Banyak hal yang ingin Sakura katakan pada pemuda ini. Berbagai macam pahitnya kehidupan remaja mereka yang mungkin tak semua orang pernah mengalaminya. Konflik antar mereka bertiga yang belum terselesaikan, cinta segitiga diantara mereka, sampai akhirnya sebuah perang menyatukan mereka kembali meski harus bertaruh nyawa seperti ini.

Memahaminya memang sulit, Sakura tak pernah mengabaikan itu. Menjadi seorang Sasuke butuh banyak pengorbanan dan keinginan Sakura untuk bisa mendampinginya belum bisa menjadi kenyataan.

Membunuh satu-satunya saudara yang tersisa bukan hal yang mudah. Kedekatan yang sempat Sasuke dan Itachi jalin pasti membuat pilihan itu sangatlah berat.

Dan ketika Sasuke mengetahui kebenaran tentang Itachi, Sakura tahu Sasuke takkan bisa memaafkan Konoha semudah yang terlihat.

Maka jika Sasuke membalaskan dendamnya pada Konoha, Sakura hanya bisa berkata wajar.

Dan, untuk apalagi Ia memikirkan hal itu? Nyatanya Sasuke terbaring lemah di sini. Membela desa aliansi dan memutuskan untuk kembali ke Konoha meski dengan hukuman berat yang harus Ia jalani terlebih dahulu.

Sebuah tatapan sayang Ia limpahkan pada pemuda yang masih mencuri hatinya itu. "Semuanya telah berakhir. Kembalilah pada kami, Sasuke-kun."

Tak lama kemudian, suara pintu terbuka dan menyembullah kepala seorang Anbu dari sana.

"Maaf waktu anda sudah habis, Sakura-san,"

"Ah, gomen," Sakura lantas memandang Sasuke sendu. "Maaf Sasuke-kun, waktuku menjengukmu sudah habis. Aku berjanji akan kembali besok untuk menjengukmu,"

Tidak ada jawaban dari Sasuke. Padahal Sakura berharap Sasuke bereaksi sedikit seperti Naruto.

Sebelum meninggalkan kamar Sasuke, Sakura menyempatkan dirinya untuk mengecup singkat dahi Sasuke seperti yang dilakukannya pada Naruto.

"Cepatlah sadar," bisiknya tepat ditelinga Sasuke. "Kami menunggumu,"

Ia langkahkan kaki jenjangnya menuju pintu lalu berhenti dan berbalik memandang Sasuke. Puas dengan pandangannya, Sakura kembali berjalan dan meninggalkan tempat itu tanpa tahu bahwa ada sedikit pergerakan dari jemari kurus yang tadi di genggamnya.

.

.

.

TBC


Chapter ini sudah dirombak beberapa kali