Luhan masih bisa mengingat dengan jelas momen dimana ia pertama kali bertemu Oh Sehun.

Cuaca begitu cerah hari itu. Sementara teman-temannya yang lain asik bermain kejar-kejaran, dia lebih memilih duduk sendiri di salah satu bangku panjang di sisi taman dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Itu adalah buku lama yang sudah tidak terhitung berapa kali jumlahnya dia baca. Satu-satunya buku yang dia punya. Sehingga, tidak peduli berapa kali dia membaca setiap lembar halaman dalam buku, ia masih tetap tampak penuh minat ketika membacanya seolah itu adalah pertama kalinya dia membacanya.

Ketika Luhan memejamkan mata, dia bisa dengan mudah memvisualisasikan alur kisah dalam buku. Semua adegan disana memiliki efek tiga dimensi yang tampak jauh lebih realistis di kepalanya. Dan itu menakjubkan.

Luhan dan semua gadis di panti asuhan tempatnya tinggal begitu mengagumi sosok seorang Pangeran. Pangeran berkuda putih tampan dengan pakaian kesatria yang akan mengayunkan pedang magisnya untuk mengalahkan seekor naga jahat. Dan kemudian akan melangkah menuju istana untuk membangunkan sang Putri tidur.

Luhan selalu membaca setiap lembar halaman dengan perasaan iri.

Dia ingin menjadi seorang Putri juga. Seperti dalam cerita yang dibacanya, yang akan selalu berakhir dengan hidup bahagia selamanya.

Luhan berusia dua belas tahun ketika itu, tapi tampangnya membuat dia tampak lebih muda dari usianya. Dibanding dengan anak dua belas tahun, Luhan lebih terlihat seperti seorang anak delapan tahun. Dia juga begitu lemah, dan sering kali ia terlihat seolah dia tidak bisa berdiri dengan benar di atas kakinya sendiri.

Luhan dibesarkan di sebuah panti asuhan bernama 'Sumber Kebahagiaan'. Sebuah nama yang tipikal akan di berikan pada setiap panti asuhan dimanapun.

Sebagaimana nama dari tempat dimana ia dibesarkan, sejujurnya, Luhan masih belum memahami arti dari kata kebahagiaan itu sendiri. Apakah bahagia berarti memakai pakaian bagus, atau makan banyak daging? Luhan tidak tahu. Dia selalu memakai pakaian yang bagus hanya ketika reporter datang untuk meliput, dan akan mendapat daging tambahan hanya saat natal.

Impian terbesar setiap anak di panti asuhan adalah diadopsi. Memiliki ayah dan ibu yang akan menyayangi mereka seperti anak kandung mereka sendiri. Tidak peduli apakah orang tua angkat mereka kaya atau tidak, anak-anak akan tetap sangat senang dan merasa istimewa saat terpilih.

Luhan, disisi lain tidak berani memimpikan hal yang sama seperti itu. Dia merasa dirinya tidak pandai, agak bodoh dan begitu lamban. Tidak akan ada yang mau mengadopsi anak seperti dia. Begitu pikirnya.

Jadi, ketika Suster Ahn, salah seorang biarawati di panti asuhan memanggilnya untuk menemui salah satu tamu, ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merespon.

Luhan mengambil buku berharganya dan menyembunyikan itu dibelakang punggung kecilnya, sementara ia memenuhi panggilan Suster Ahn. Seorang anak laki-laki dengan pakaian yang tampak mahal berdiri di hadapannya, mengerutkan dahi ketika menatap Luhan, dan Luhan agak merasa ketakutan untuk menatapnya balik.

Penampilan anak itu begitu rapi. Dia tampan, dan ketika dia tersenyum memamerkan deretan gigi susunya yang putih, wajahnya tampak seolah seseorang menaburkan bubuk piksi disana. Kerlap-kerlip layaknya kristal di malam hari.

Dia seperti...visualisasi sosok pangeran dalam cerita di bukunya.

Semua yang ada padanya seolah menunjukan jika dia bukanlah anak sembarangan. Seorang anak kaya yang begitu dimanjakan dan akan mendapat apapun yang dia inginkan hanya dengan sekali ucap.

"Aigoooo! Lucunyaa..." Si pangeran sumringah, menempatkan satu tangannya di bahu Luhan dan menggunakan tangannya yang lain untuk mencubit pipinya dengan gemas seolah pipi Luhan adalah mainan. Kemudian dia dengan cepat menarik segenggam rambut Luhan dan berseru. "Mommy rambutnya lebih lembut dari bulu Iris!"

Luhan menunjukan wajah kesakitan. Sepasang tinju kecilnya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Dia ingin menangis tapi dia tidak berani melakukannya.

"Apa kau perempuan?"

Luhan menggeleng. "Aku laki-laki..."

"Ck, laki-laki?" kata anak itu kecewa. Dia melepaskan rambut Luhan dan menatapnya sebelum kemudian kembali mecubit pipinya dengan gemas. "Apa ini?! Wajahmu seperti perempuan, bagaimana mungkin kau laki-laki? Apa kau bercanda? Cepat jelaskan!"

Air mata Luhan hampir jatuh, pipinya mulai terasa panas, karena cubitan anak itu yang begitu keras.

"Hei, kau tidak ingin menangis?"

Suster selalu berkata untuk jangan pernah menangis di depan tamu. Katanya itu adalah perilaku orang yang tidak berpendidikan, dan mereka yang melakukan itu harus dihukum dengan tidak diberi makan malam. Jadi, Luhan hanya bisa menggigit bibirnya untuk menahan tangisannya.

"Hei kenapa kau tidak menangis? Ayo menangislah, biarkan aku melihatmu menangis." Anak itu mencubit pipinya semakin keras. "Aku akan berhenti mencubitmu hanya jika kau menangis."

Mata Luhan berkaca-kaca penuh dengan air mata, tapi ia masih bertahan untuk tidak merengek.

"Menjengkelkan. Kau benar-benar tidak patuh. Ayo menangislah! Cepat menangis sekarang juga!" teriaknya tidak sabar.

"Sehunie, berhenti mengganggunya. Kalau dia tidak mau menurut lebih baik kita mencari anak lain. Jangan mengasarinya seperti itu,"

"Nyonya Oh, Luhan masih muda dan terlalu naif." Suster tersenyum dan mencoba ikut untuk membujuk Sehun. "Tuan muda, ayo kita menemui anak lain yang lebih..."

"Aku tidak mau! Aku ingin anak ini!" Sehun keras kepala, terus mencubit Luhan sampai pipinya mulai terasa perih. "Ayo menangislah! Aku akan melepaskanmu kalau kau menangis!"

Luhan tidak peduli lagi meskipun dia tidak akan mendapat makan malamnya. Dia menatap anak itu dengan pandangan memohon dan putus asa sebelum kemudian bibirnya melengkung ke bawah dan dia mulai merengek.

"Berhenti, Oh Sehun!"

"Tuan Muda Oh..."

Luhan tetap diam, tapi air matanya sudah menetes turun dari matanya.

"Akhirnya!" Sehun mendesah gembira dan bertepuk tangan. "Bukankan akan lebih mudah kalau kau menangis lebih cepat. Mommy, aku mau anak ini. Ayo bawa dia pulang, aku ingin bermain dengannya!" Luhan melebarkan mata heran. "Hei, siapa namamu? Aku akan mengadopsimu, dan aku adalah Tuanmu mulai sekarang." Sehun bersikap seperti dia adalah orang dewasa. Ia tersenyum, menepuk kepala Luhan lembut, kemudian berbalik untuk melihat mommy-nya yang masih terlihat muda dan cantik. "Benarkan mommy?"

Ibu muda itu tersenyum masam. Alih-alih menjawab, dia mengingatkan. "Dia tidak seperti Iris, jadi kau tidak boleh memperlakukan dia seenaknya dan melakukan sesuatu yang tidak masuk akal padanya. Mengerti?"

"Terserah. Apapun, asalkan aku bisa memilikinya." Sehun tampak seperti malaikat ketika dia cemberut, begitu berbanding terbalik dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. "Dia akan patuh dan melakukan apapun yang aku inginkan, dan jika dia tidak mau melakukannya aku akan menghukumnya!"

Mendengar itu, Luhan secara naluriah mundur selangkah dan bersembunyi di balik jubah Suster Ahn.

"Hei, kemari. Aku akan membawamu ke rumah barumu." Sehun mengulurkan tangan, mengisyaratkan Luhan untuk mendekat. "Kau tidak akan tinggal disini lagi. Kita akan tinggal di rumah besar dengan taman yang luas dan indah."

Luhan menggigit bibirnya dan menggeleng takut.

"Kenapa kau tidak mau mau mendengarku?!" Sehun dengan kasar meraih tangan Luhan dan sekali lagi mencubit pipinya, kali ini dengan kedua tangannya. "Ingat ya, aku adalah Tuanmu mulai sekarang. Jika kau menurut, mematuhi perintahku dan melakukan apa yang aku inginkan, aku akan memperlakukanmu dengan baik." Sehun berjanji, kemudian dia tersenyum.

.

Pada akhirnya Luhan mengikuti langkah kecil Sehun menuju mobilnya hari itu, membawa serta tas kecil lusuh berisi buku cerita tua miliknya.

Ketika mereka sampai, hal pertama yang Luhan rasakan adalah ketakjuban, melihat akan betapa megahnya mansion Oh sampai sampai membuat dia sulit untuk menggambarkannya. Luhan melangkahkan kaki kecilnya melewati sebuah pintu ganda yang tinggi, sambil terus mengulang kalimat yang sama di kepalanya. 'Besar sekali, begitu indah seperti istana kerajaan...'

Mereka duduk di sofa rendah yang luas di ruang tamu. Di atas meja ada sebuah mangkuk kaca transparan yang tampak jernih dan berkilauan dengan apel Washington dan anggur California di atasnya. Luhan memandangnya ingin tahu: bertanya-tanya apakah itu bisa dimakan atau tidak. Mereka terlalu indah untuk menjadi makanan.

Kemudian Sehun menempatkan salah satu buah apel disana ke tangan Luhan dan Luhan segera panik ketika Sehun mengisyaratkan dia untuk memakannya.

"Apa ini tidak perlu untuk dipotong?" Dia bertanya ragu-ragu.

"Eh?"

"Kita akan membaginya...'kan?"

Sehun tertegun sesaat, kemudian dia menggeleng. "Kenapa juga kita harus berbagi satu buah apel?"

Luhan tampak ragu. "Semuanya...untukku?"

"Ya, tentu saja itu untukmu." Sehun mengambil mangkuk buah itu dan menempatkannya di pangkuan Luhan. "Semuanya milikmu, kau bisa makan semuanya dan kalau ini masih kurang aku akan menyuruh orang untuk mengambilnya lagi untukmu.."

"Mengambil lagi?" Luhan tertegun, sudah benar-benar lupa pada memar di wajahnya akibat bocah yang sama yang memberinya semangkuk buah-buahan. Sekarang dia menatap anak itu penuh rasa sukur seperti seekor anak kucing lucu dan menggemaskan. "Kau benar-benar baik,"

"Eh? Ah, ya...tentu saja."

Entah bagaimana, Sehun merasa begitu puas dan bangga mendapat pujian seperti itu dari Luhan.

Teman bermain barunya ini tampak sangat lemah dan bodoh. Tipikal seorang yang akan mudah di bully. Namun begitu, dia juga tampak rapuh dan indah.

"Enak?" Sehun bertanya.

Luhan mengangguk dan tersenyum malu. "Enak...hehe,"

"Yaampun, imutnyaa!"

Sehun mengulurkan tangannya, tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap rambut coklat Luhan. Luhan begitu imut dan menggemaskan seperti Iris.

Ah tidak tidak, dia jauh lebih imut dan lebih menggemaskan dari anjing manapun yang biasa dia gunakan untuk bermain.

Oh, aku benar-benar ingin memeluknya sekarang juga.

Sehun tanpa pikir dua kali segera mendekat padanya, membungkuk, dan memeluk tubuh kecil Luhan sementara menghujani wajahnya dengan ciuman.

"Selama kau berperilaku baik dan patuh. Seperti yang aku katakan, aku akan baik padamu dan memberikan apapun yang kamu inginkan,"

"Umm..." Luhan ingat apa yang selalu Suster katakan. Kita harus berterima kasih pada orang yang memberi kita makanan dan menunjukan rasa terima kasih kita pada mereka. Jadi, Luhan mengangguk sungguh-sungguh, berjanji akan bersikap baik dan patuh sebagaimana keinginan Sehun.

.

Sejak hari itu dan seterusnya, ia telah menjadi bagian dari keluarga Oh. Orang luar mengenalnya sebagai anak angkat keluarga Oh, namun pada kenyataannya, sebenarnya, dia hanya setara dengan seorang pelayan yang bertugas melayani sang Tuan muda. Menemaninya bermain atau belajar layaknya seorang pelayan yang melayani putra mahkota sedari mereka kecil di jaman kerajaan. Luhan berharap, jika dia beruntung, ketika dia lebih tua nanti, keluarga Oh bisa menjadikannya sebagai pelayan sungguhan.

Bagi Oh Sehun, hubungan mereka berdua bahkan lebih sederhana lagi dari itu. Luhan telah menjadi pengganti dari hewan peliharaannya yang berharga, Iris.

Ketika dia merasa puas dan senang pada Luhan, dia akan menepuk kepalanya atau memeluk Luhan sebagai hadiah. Dan sebaliknya jika dia merasa tidak senang dan tidak puas dia akan memukul pantat Luhan dengan bantal atau bahkan mencubit pipinya dengan keras dan hanya akan melepasnya jika si anak mungil menangis.

Luhan selalu berharap dia akan bertemu seorang pangeran tampan baik hati, namun pada kenyataannya yang ditemuinya adalah seorang pangeran tampan rewel yang tidak ingin dibantah.

Tempramen Oh Sehun begitu buruk. Dia arogan, dominan, cepat marah dan bahkan juga agresif. Namun untungnya meski begitu, dia tidak pernah melakukan kekerasan apapun selain mencubit pipi Luhan.

Ketika mereka lebih tua, Luhan mengira, mungkin Sehun akan merasa itu tidak cukup jika hanya mencubit pipinya saja.


.


Suara dering alarm membangunkan Luhan dari tidurnya. Terkantuk-kantuk, dia mengulurkan tangan, meraba nakas untuk mematikannya. Setelah itu ia refleks meraba-raba wajahnya sendiri.

Oh, ini tidak bengkak.

Luhan menghela napas. Lega, karena untungnya itu hanya mimpi. Kebiasaan Sehun yang selalu mencubit pipinya di masa lalu terkenang kuat diingatannya, seringkali membuat ia memimpikannya kembali.

Dia 27 tahun sekarang, dan itu memalukan karena ia masih saja merasa agak takut jika harus melihat jari-jari Sehun.

Sudah lama dia tidak memimpikan kenangan masa kecilnya itu. Tapi dia memimpikannya kembali untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun saat dia tahu jika Sehun akan pulang dari Inggris hari ini.

Bagaimana keadaan Sehun sekarang setelah mereka tidak bertemu cukup lama? Luhan sungguh ingin tahu.

Tuan dan Nyonya Oh yang akan menjemput dia di bandara secara khusus sementara yang harus dirinya lakukan hanya pergi bekerja di perusahaan seperti biasa.

Tempat yang saat ini dia tinggali adalah sebuah rumah yang masih berada di lingkungan mansion Oh, namun itu terpisah dengan mansion utama tempat dimana keluarga Oh tinggal.

Setalah mandi dan berganti pakaian, dia berjalan keluar menuruni tangga, kemudian berkerut bingung saat mendengar keributan di ruang tengah. Apa yang terjadi? Ini masih terlalu pagi.

"Tuan Muda Han, Tuan Muda Hun telah kembali," kata Bibi Jung, salah seorang pelayan di rumah ini.

"Huh?"

Luhan masih belum bisa memproses informasi itu dengan baik di kepalanya, ketika seseorang menerkamnya tiba-tiba, membuat ia bergeser empat atau lima langkah ke belakang.

"Xiao Lu...Aku sangat merindukanmu~"

Luhan melebarkan matanya, berusaha melihat wajah orang yang baru saja menerkamnya. "Oh Sehun?" tanya Luhan terdengar tidak yakin.

"Ya, tentu saja ini aku." Kata orang itu tersinggung. "Bagaimana mungkin kau tidak mengenalku?" Ia merajuk.

Itu menggelikan, melihat seorang yang tampak begitu jantan dan tidak imut sama sekali merajuk seperti itu.

Luhan tersenyum canggung. Sehun menempel padanya seperti seekor gurita. "Bukankah kau harusnya bertemu Tuan dan Nyonya Besar di bandara sekarang?"

"Ya memang. Tapi kau adalah orang pertama yang ingin aku lihat saat tiba. Kau tahu? Aku bahkan harus naik bus yang sesak hari ini karena aku tidak bisa menyewa taksi. Aku lupa memberi tahu jika aku akan pulang lebih cepat dan aku tidak bisa menunggu lebih lama karena aku terlalu merindukanmu...Xiao Lu kau merindukanku juga, 'kan? Cepat, katakan kalau kau rindu aku juga Xiao Lu!" Sehun menuntut sementara Luhan mulai berkeringat.

Sekarang Sehun jauh lebih tinggi darinya. Dia lebih kuat, tampan dan lebih percaya diri juga. Fakta jika Sehun akan berusia 24 tahun dalam beberapa bulan lagi, tidak sama sekali merubah sifat manjanya.

"Tuan dan Nyonya Besar akan sangat senang melihatmu Sehun,"

"Ya. Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku? Tentu saja aku senang juga,"

"Tidak terlihat seperti itu..." cibirnya.

Luhan senang, tentu saja. Lebih dari senang bahkan, sampai ia tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Dia juga tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan kesenangannya itu.

Luhan adalah seorang yang tidak pandai merangkai kata-kata. Dan dia hanya akan tersenyum kecil atau menangis untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya.

Seperti yang dilakukannya kini.

Luhan tersenyum tenang dan memegang erat tangan Sehun. Namun begitu, meski dia tampak tenang dari luar, dalam pikirannya ia tengah melompat lompat bahagia.

Sehun kembali, dan tidak ada yang lebih membahagiakan lagi dari itu untuknya.

"Xiao Lu, aku ingin menceritakan sesuatu padamu."

Mereka duduk di sofa, Bibi Jung menempatkan cangkir teh dan cemilan di atas meja di depan mereka sebelum kemudian ia pergi ke mansion utama untuk memberi tahu Tuan dan Nyonya Besar Oh jika anak semata wayang mereka telah kembali dan mereka tidak harus repot-repot pergi ke bandara untuk menjemputnya.

Sehun terus mengoceh tanpa henti. Duduk terlalu dekat dengan Luhan sampai si pria kurus bisa merasakan tiupan napas Sehun pada wajahnya ketika dia bicara.

"Apa itu?" tanya Luhan penasaran.

"Aku mematahkan jari seseorang saat aku naik bus untuk pulang pagi ini,"

"Eh!?" Luhan terkejut. Berpikir jika sekarang Sehun tidak hanya memiliki kebiasaan mencubit wajah seseorang, tapi mematahkan jari mereka juga. Refleks Luhan menjauhkan tangannya dari genggaman Sehun. "Kenapa? Apa dia mencuri dompetmu?"

"Tidak." Sehun mengerutkan alisnya dan menggertakan gigi, mengingat kembali apa yang dialaminya pagi ini. Itu adalah sesuatu yang benar-benar menjijikan. "Dia menggerayangiku! Ck, dasar tidak normal..."

"Menggerayangimu?" Luhan mengerutkan dahi tidak mengerti dan Sehun menjelaskan.

"Ya, bus sangat sesak, dan dia mengambil keuntungan dari itu untuk diam-diam menggerayangi pantatku, aku menangkap tangannya dan memberinya pelajaran sampai tulang jarinya patah...oh, dia bahkan sampai tidak bisa menangis saking sakitnya."

Luhan tersenyum diam-diam. Berpikir jika Oh Sehun masihlah Oh Sehun yang sama yang Luhan kenal. Tidak berubah sama sekali.

"Tapi tetap saja dia hanya seorang wanita, kau tidak harus sekasar itu padanya..."

"Wanita?" Sehun menggeleng. "Tidak tidak, dia bukan wanita, dia adalah seorang pria tua botak tidak normal. Xiao Lu, kau tahu apa itu homo 'kan?"

"Ah, gay..." Luhan tertegun, dan kemudian tersenyum canggung.

"Tidak normal, benar-benar menjijikan, aku benci homoseksual." Sehun cemberut. "Seorang pria dengan pria? Bagaimana mungkin? Apa mereka tidak jijik ketika berhubungan seks? Astaga, hanya membayangkannya saja sudah membuatku tidak berselera makan.."

Meski dia sudah tahu fakta itu. Fakta jika Sehun adalah seorang homophobic, tapi tetap saja, mendengar Sehun mengatakannya langsung di depannya, membuat harapan yang dimiliki Luhan selama ini seketika hancur berkeping keping.


Continue...