Sesosok tubuh kecil khas anak-anak kini meringkuk dibatang pohon, anak itu duduk sambil memeluk lututnya erat, kepalanya pun dia sembunyikan disana. Baju putih polos terlihat kotor dengan beberapa bercak tanah dan cairan merah, begitupun dengan celana pendek hitamnya. Rambut pirang anak itu juga sangat kotor dan disamping kepalanya terdapat darah yang sudah mengering.

Wajah yang dia sembunyikan terangkat dan ia letakan diatas lututnya, mata biru yang terlihat kosong, hidung mungil yang terdapat darah kering disalah satu lubangnya, bibir kecil yang juga terdapat darah kering, adalah hal yang terlihat diwajah yang dihiasi tiga garis dimasing-masing pipinya.

Naruto nama anak itu, anak yang berumur lima tahun tepat hari ini, hari senin 10 oktober. Hari yang seharusnya hari yang membahagiakan untuk setiap anak, tapi tidak bagi dirinya karena hari inilah dia mendapatkan penderitaan yang sangat menyakitkan walaupun dihari-harinya yang lain dia juga menderita. Hari yang seharusnya dia bisa mendapatkan hadiah seperti mainan ataupun kue, tapi dia malah mendapatkan lemparan batu atau balok dari warga desa. Sungguh sampai saat ini dia masih tidak tau salahnya pada semua warga desa hingga dia pantas diperlakukan seperti itu.

Tik

Setetes air jatuh, dan menimbulkan suara yang membuat Naruto mendongak. Matanya sedikit melebar ketika yang dia lihat saat ini hanyalah kegelapan, tapi dia sadar dia sekarang bukan berada ditempat dia sembunyi tadi karena alas tempatnya duduk sekarang basah dan terdapat genangan air.

Kepalanya bergerak kekiri kekanan bahkan kebelakang, tapi hanya kegelapan yang dia lihat. Perasaan takut mulai merasuki dirinya, dengan perlahan dia bangkit dan mulai berjalan digenangan air setinggi mata kakinya. "Halo... "

Naruto terus berjalan kedepan, walaupun dia tidak melihat sama sekali. Matanya tak henti-henti melihat kesegela arah takut kalau tiba-tiba akan ada sesuatu atau yang terburuk sesosok hantu muncul. Entah mengapa tiba-tiba tubuhnya merinding. "Apa ada orang? "

"Hehehehe. " Naruto mendadak berhenti berjalan ketika sebuah tawa atau kekehan terdengar olehnya. Tanpa sadar anak yang baru berusia lima tahun itu mengambil langkah mundur dan tubuhnya merinding lebih hebat dari sebelumnya saat suara yang sama kembali terdengar. "Tak ku sangka, aku bisa bertemu dengan mu secepat ini. "

Tepat setelah suara itu selesai, beberapa lilin (baca obor) menyala membuat tempat yang ditempati Naruto menjadi terang. Dan sekarang Naruto dapat melihat sebuah penjara super besar berada didepannya, tepat ditengah penjara itu terdapat kertas dengan tulisan yang tidak (belum) Naruto mengerti.

Dalam gelapnya penjara, sepasang mata terbuka menunjukqn iris merah terang dengan pupil hitam vertikal yang menakutkan. Baru saja mata itu terbuka, kini kembali terlihat gigi runcing yang membentuk sebuah seringai. Naruto kembali melangkah mundur, tubuhnya bahkan bergetar. Dengan perlahan dia mengangkat tangan dan menunjuk sosok itu.

"Si-siapa kau? "

Golden Shinobi

By Juubi

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rate T (maybe)

Warning : Au, OOC, tipo dll

Enjoy it

...

..

"Siapa kau? "

Mata merahnya mengerjap beberapa kali, wajah cantiknya dia miringkan kesamping membuat surai merahnya bergoyang pelan. Senyum diwajahnya makin lebar ketika melihat pemuda didepannya memasang wajah bingung. "Kau tidak mengenal ku, gaki? "

Kening Naruto mengkerut, matanya juga menyipit seakan tengah berpikir keras menatap wanita didepannya ini. Dia sangat asing dengan wajah wanita itu tapi entah mengapa dia juga merasa familiar dengannya, lama dia berpikir tapi dia masih tidak menemukan jawaban. Entah mengapa otak jenius tidak berfungsi saat ini membuat dia hanya bisa menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan wanita itu.

Kyubi berlajan mendekat dan berhenti tepat satu meter didepan Naruto. Ketika dia kembali melangkah kedepan, Naruto mengambil langkah kebelakang. "Kau sungguh tidak mengenalku Naruto? "

"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu, dan kenapa kau bisa ada disini? " Tanya Naruto bertubi-tubi, kepalanya kemudian menengok kesana kemari sebelum berhenti dijeruji besi tempat biasa dia bertemu dengan rubah berbulu orange itu. "Dimana Kyubi... KYUBI! kau ada di_ ugh! "

Kyubi yang baru saja menyentil kening Naruto mendengus sebal, dia bingung kemana kepintaran pemuda pirang itu sekarang. Apa mungkin pemuda ini sangat terpesona dengan wujudnya sekarang sehingga pikiran logis jadi hilang, pikir Kyubi sedikit narsis. Kyubi melipat tangannya didepan dada saat Naruto yang masing mengusap keningnya mentap Kyubi. "Orang yang kau cari, ada didepan mu. Baka. "

"Apa maksu_ " Perkataan Naruto macet ditengah jalan saat sadar apa yang dimaksud wanita didepannya ini. Matanya melebar, tangannya menunjuk wanita itu dengan gemetar. "Ka-kau... Kyu-kyu... " Wanita didepannya mengangguk mantap sambil melempar senyum kearahnya, dan setelah itu sebuah teriakan keluar dari mulut Naruto. "INI MUSTAHIL. TTEBAYO! "

...

"Jadi ini wujud manusia mu? " Wanita yang merupukan perwujudtan Kyubi itu mengangguk atas pertanyaan Naruto. Sedangkan Naruto, pemuda itu menatap intens kearah Kyubi dari atas hingga kebawah. Satu tangannya kemudian bergerak memegang dagu seperti sedang berpikir atau menilai. "Ternyata Kyubi itu perempuan, pantas saja saat wujud rubah aku tak pernah melihat_ "

Bletak

"_ ittei! "

Mata merah Kyubi menatap sebal Naruto yang saat ini tengkurap dengan kepala berasap. Tangan Kyubi yang masih terkepal membuktikan bahwa dialah yang jadi penyebab jatuhnya Naruto. "Jangan bicara yang aneh-aneh baka. "

Kurang dari setengah menit Naruto kembali bangkit, duduk bersila digenangan air dan memandang tajam Kyubi yang berdiri diatasnya. Tapi sedetik kemudian pandangan pemuda pirang itu berubah gugup karena Kyubi juga memandangnya tak kalah tajam, merasa melawan hanya akan memperburuk keadaannya Naruto hanya bisa cengir lebar sambil mengusap belakang kepalanya. "Hehehe... Tapi ngomong-ngomong wujud manusia sangat cantik, Kyubi. "

"Jangan ngerayu bocah. " Kyubi kembali mendengus sebal tapi samar-samar terlihat semburat merah dipipinya. Biju terkuat itu kemudian bersimpuh didepan Naruto membiarkan bagian bawah kimono dan sebagian rambutnya basah.

"Aku gak lagi ngerayu, kau memang sangat cantik. " Cengiran Naruto semakin lebar dan tangan yang mengusap menjadi menggaruk belakang kepala. "Apa biju-biju lain juga dapat melakukan hal yang sama denganmu. "

"Tidak. Hanya aku yang bisa mengubah wajudku. " Jawab Kyubi cepat.

"Kenapa? "

"Aku bukan hanya biju terkuat, aku juga 'spesial'. " Kepala Kyubi sedikit menunduk saat dia berbicara. Ada suatu hal yang aneh dari nada bicara Kyubi dan Naruto tau itu. Tapi dia urungkan untuk bicara karena pemuda bermata biru ini tau dia tidak punya hak untuk mengetahui kehidupan Kyubi. Kepala Kyubi kembali mendongak untuk menatap Naruto. "Oh ya, kenapa kau menemuiku Naruto? "

Naruto memukul telapak tangannya seakan sadar akan sesuatu. "Hampir saja aku lupa. " Pemuda yang baru saja lulus dari akademi itu segera bangkit yang kemudian berjalan cepat ketenga jeruji besi yang terdapat sebuah kertas segel. Dia kemudian menengok kebelakang melihat Kyubi yang kini sudah berdiri. "Kyubi, bisa kau masuk dulu? "

Kyubi segera mengikuti perkataan Naruto, dengan cepat dia berjalan dan kembali masuk kejeruji tempat selama ini dia tinggal. Setelah Kyubi masuk, Naruto mengambil sebuah gulungan dari saku jaketnya. Tubuhnya melayang keatas dan berhenti tepat didepan kertas segel yang terpasang di penjara itu, menempelkan gulungan kecil yang ia pegang dan segera dia buka. Dapat dilihat simbol-simbol rumit yang tertulis digulungan itu, tak mau membuang waktu Naruto segera membentuk sebuah handseal dengan satu tangannya yang bebas sambil berkata. "Fuin. "

Simbol-simbol rumit itu seketika bercahaya dan menyebar kekertas dibelakangnya, semakin lama cahaya yang dikeluarkan semakin terang hingga akhirnya seluruh tempat disana tertutup oleh cahaya.

Merasa cahaya tadi sudah meredup, Kyubi membuka kedua matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah Naruto yang tengah tersenyum kearahnya. Beralih kearah lain membuat dia sedikit terkejut karena sejauh mata memandang hanya ada hamparan rumbut hijau yang dia lihat, dia juga merasakan betapa lembutnya rumput itu ketika menyadari bahwa saat ini dia sedang menginjaknya. Selain hamparan rumput, dia juga dapat melihat langit biru dengan awan putih yang dengan santai melayang diudara.

Naruto berjalan mendekat kearah Kyubi yang masih sibuk memperhatikan pemandangan sekitar. Pemuda pirang itu berhenti tepat satu meter didepan Kyubi, saat wanita itu menyadari dirinya. Naruto kembali tersenyum. "Bagaimana menurut mu? "

Sang Kyubi no Youko memutar tubuhnya dengan senang. "Ini sangat indah. " Putarannya berhenti, mata sewarna dengan rambutnya menatap senang kearah Naruto, bibirnya melungkung membentuk sebuah senyum senang. "Bagaimana kau melakukannya? "

"Ini hanya salah satu fungsi fuin yang kupasang_ "

"Jadi masih ada lagi. " Naruto tidak bisa menyelesaikan perkataan nya karena Kyubi sudah dahulu mencodongkan tubuhnya kedepan dan memotong perkataan Naruto. Mata sewarna langit milik Naruto sedikit terkejut melihat sikap Kyubi yang sedikit tidak biasa ini

Sadar dengan sikapnya yang sudah melenceng dari image-nya ini, Kyubi menjadi salah tingakah dan mencoba kembali bersikap biasa. Sebenarnya wajar jika wanita yang merupakan biju berekor sembilan itu merasa sangat senang karena selama dua belas tahun tersegel dalam tubuh Naruto, dia hanya hidup disebuah gorong-gorong gelap, lembab dan tidak mengenakan. Jadi tidak salah kalau dia sangat bahagia kalau tempatnya dulu telah berganti menjadi tempat yang indah, hangat dan menyejukan seperti sekarang ini.

Naruto tersenyum lembut melihat tingkah Kyubi, pemuda itu kembali bersuara untuk menjawab pertanyaan wanita yang sudah menemani hidupnya itu. "Fuin yang kupasang juga bisa membuat dirimu keluar dari tubuhku, tapi tidak dengan chakra mu. Hanya 0,1 persen chakra mu saja yang akan ikut keluar, dan itu artinya kau tidak lebih seperti manusia biasa saja saat berada diluar tubuhku. "

Kyubi tersenyum senang, dia sangat bahagia bisa menghirup udara segar lagi. Walau ada sedikit rasa kecewa karena tidak bisa menggunakan chakra nya, tapi tetap saja kebahagian yang dia rasakan sangatlah besar. Dengan cepat dia mendekat kearah Naruto lalu memeluk pemuda itu erat, dengan suara pelan dia berbisik tepat ditelinga Naruto. "Terimakasih. "

Naruto yang awalnya terkejut dengan perlakuan Kyubi menjadi bahagia ketika mendengar suara lembut Kyubi. Kedua tangannya dengab perlahan membalas pelukan gadis itu, dia juga meletakan dagunya pada bahu Kyubi. "Sama-sama. "

Beberapa menit mereka mempertahankan posisi itu, setelah itu Kyubi menarik tubuhnya kebelakang. Tangan yang awalnya memeluk menjadi memegang bahu Naruto. Matanya merahnya menatap langsung mata biru Naruto. "Lalu bagaimana dengan Hakke Fuin? "

Naruto kembali tersenyum tapi kali ini senyuman nya terkandung rasa gugup. "Kalau itu, aku sudah merubah bentuk fuin nya. "

Kyubi melepaskan tangannya dari bahu Naruto, kepalanya sedikit dia miringkan. "Maksudmu? "

Kali ini Naruto menjawab bukan dengan mulutnya melainkan tangannya. Tangan Naruto menunjuk kearah Kyubi atau lebih tepatnya keleher gadis itu.

Kyubi yang tidak bisa melihat kearah lehernya hanya bisa menggunakan tangannya untuk meraba leher jenjangnya. Matanya membulat saat merasakan dilehernya terpasang sebuah kalung seperti ikat pinggang denga lebar sekitar tiga centi dan disetiap sisi terdapat duri-duri (bayangin aja kalung anjing). Hening beberapa detik dan selanjutnya terdengar suara teriakan Kyubi. "APA-APAAN INI. CEPAT LEPASKAN BAKA. "

..: Golden Shinobi :..

"Tadaima. " Sebuah pintu kayu berwarna coklat terbuka dan seorang pemuda berambut pirang masuk melewati pintu tersebut.

Naruto selalu mengucapkan salam ketika dia pulang meski tak sekalipun mendapat balasan. Dia selalu berharap akan ada seseorang yang akan membalas salamnya dan menyambutnya dengan senyum hangat diwajah, tapi harapan itu tak pernah terkabul. Meskipun begitu Naruto tetap berharap.

"Okaerinasai. " Naruto tertegun ketika untuk pertama kalinya ada yang menyahut salamnya. Menatap kedepan, mata biru Naruto melihat seorang perempuan dengan rambut merah menyala yang tengah tersenyum kearahnya.

Kyubi, wanita yang menjawab salam Naruto ternyata sudah keluar dari tubuh Naruto dengan wujud manusia nya. Satu-satunya tanda bahwa dia masih tersegel adalah kalung emas dengan liontin yang berbentuk pusaran air warna merah, dan kalau bisa merasakan chakra gadis itu maka chakra hanya sebesar chakra penduduk non ninja.

Tanpa sadar bibir Naruto tersenyum, timbul perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Mungkin, inilah perasaan bila salam mu dijawab. Ingin kembali merasakan perasaan itu Naruto kembali berucap. "Tadaima. "

Dahi Kyubi mengkerut tanda bingung ketika mendengar kata yang kembali diucapkan Naruto, tapi itu tak bertahan lama. Dia kembali tersenyum lembut pada Naruto. "Okaerinasai. "

Senyum Naruto tambah lebar, dan untuk ketiga kalinya dia kembali berkata satu kata yang sama. "Tadaima. "

Kyubi tetap tersenyum tapi satu alisnya naik turun mendakan dirinya sedikit kesal. "Okaerinasai. "

"Tadaima. "

"Okaerinasai. "

"Tadai_ "

"STOP!, sampai kapan kau mengucapkan kata itu baka. " Suara Kyubi meninggi, tubuhnya juga dia condongkan kedapan dan jangan lupakan wajah yang menunjukan kekesalan.

"Hehehe... Maaf. " Naruto nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya, sesuatu yang menunjukan dirinya sedang gugup atau salah tingkah. Berjalan kedepan untuk lebih dekat dengan gadis yang merupakan perwujudtan Kyubi itu sambil kembali berkata. "Tadaima. "

"HEAAAH!"

...

"Maaf, aku lupa membeli bahan makanan. Jadi hanya ada ramen malam ini. " Naruto meletakan semangkuk ramen yang masih mengeluarkan asap dimeja tepat didepan Kyubi yang saat ini tengah duduk dikursi. Pemuda pirang itu kemudian berjalan sambil membawa mangkuk ramen miliknya dan duduk didepan Kyubi, membuat posisi mereka saling berhadapan dan hanya dibatasi oleh meja.

Naruto kemudian mengambil sumpit dan menyatukan telapak tangannya seperti sedang berdoa. "Selamat makan. "

Beda dengan Naruto yang langsung menyantap ramennya, Kyubi saat ini kini hanya memandang ramen miliknya. Seekor biju memang tidak perlu makan untuk tetap hidup, tapi sebenarnya Kyubi juga ingin merasakan makanan kesukaan pemuda yang menjadi jinchuriki nya ini. Dan kenapa sampai saat ini dia belum mencoba ramen didepannya ini, karena dia memiliki satu masalah.

Naruto yang sudah menghabiskan setengah ramennya berhenti makan, dia mendongak untuk menatap Kyubi yang masih tetap diam. "Ada apa? "

"Umn... Apa kau tidak punya sendok? " Jawab Kyubi dengan sedikit rasa malu. "Aku gak bisa pakai sumpit. "

"Umf. " Naruto segera menutup mulutnya yang ingin mengeluarkan tawa ketika melihat Kyubi memasang wajah sangar. Butuh sekitar satu menit untuk Naruto benar-benar berhasil menahan tawanya.

"Sendok ataupun garpu ku belum sempat aku cuci tadi. " Naruto kemudian berdiri dan berjalan sambil menyeret sebuah kursi kesamping Kyubi, dan jangan lupakan mangkuk ramennya. Duduk disamping Kyubi dan segera meraih sumpit yang berada di ramen Kyubi, menyumpit lembaran mie dan membawanya kedepan wajah Kyubi. "Buka mulutmu. "

Kyubi memandang Naruto sesaat, melihat wajah pemuda itu tersenyum entah mengapa membuat pipinya memanas. Dengan segera dia mengalihkan pandangannya kearah lain, tapi dengan perlahan dia membuka mulutnya.

"Emnh. " Seluruh tubuh Kyubi terasa merinding ketika mie berlemak masuk kemulutnya, indra perasa yang sangat jarang bahkan mungkin tak pernah digunakan kini telah merasakan suatu rasa yang sangat nikmat. Sambil mengunyah mie dalam mulutnya, Kyubi memejamkan matanya merasakan setiap kunyahan yang dia lakukan. Dia baru membuka matanya saat dia sudah menelan mie tersebut, dengan mata yang berbinar wanita jelmaan rubah itu memandang Naruto. "Lagi. "

Sambil tersenyum, Naruto mengikuti permintaan Kyubi. Dengan telaten tangannya menggerakan sumpit dan kembali menjepit beberapa helai mie sebelum kembali mengantarnya kemulut Kyubi.

Pemuda bermarga Uzumaki itu merasa sedikit geli saat melihat bagaimana Kyubi menikmati ramen yang dia berikan, menurutnya lucu saja melihat wanita itu mengunyah sambil memejamkan mata dan berguman atau mendesah nikmat.

Naruto terus melakukan hal yang sama berulang-ulang, menyuapi Kyubi yang sepertinya belum dan mungkis takkan pernah puas memakan ramen itu. Bahkan ketika ramen milik Kyubi telah habis, wanita itu tak segan-segan meminta ramen milik Naruto. Naruto yang ingin terus melihat ekspresi bahagia dari Kyubi, tanpa ragu Naruto memberikan ramennya meski makanan itu adalah makanan kesukaannya.

"Ini. " Naruto menyodorkan segelas air pada Kyubi ketika wanita itu telah selesai menghabiskan kuah ramen Naruto.

Kyubi menerima gelas tersebut dan meminumnya sekali jalan, selesai dengan itu dia mendesah lega. "Tidak kukira ramen sangat enak. "

"Tentu saja. Ramen adalah makanan kaum dewa. " Seru Naruto semangat. Tentu saja dia semangat, soalnya ada orang yang juga memiliki pikiran yang sama dengan nya dalam masalah ramen.

"Iya iya, ramen memang enak. " Jawab Kyubi. "Tapi aku juga mau mencoba makanan lain, apa kau bisa membantu. "

"Tentu saja, tapi lain kali ya. Ini sudah malam. " Kyubi mengangguk paham. Naruto kemudian menatap Kyubi yang sedang memejamkan matanya dalam diam, cukup lama dia melakukan itu sampai akhirnya dia kembali buka suara. "Kyubi... Boleh aku meminta sesuatu. "

Kyubi membuka matanya dan memandang bingung Naruto sebelum akhirnya tersenyum. "Tentu saja. "

"Bo-bolehkah... Bolehkah aku memanggilmu Kyu-nee atau Nee-san. " Naruto tersenyum grogi dan satu tangannya mengusap belakang kepalanya saat Kyubi memandangnya terkejut. "Aku ingin sekali punya kakak atau adik. Dan menurutku kau sudah seperti kakak ku sendiri. Jadi bolehkah aku memanggil mu seperti itu. "

Kyubi merasa hatinya dicubit sesuatu yang tak terlihat saat Naruto meminta itu, entah mengapa ada rasa tidak senang saat mendengar Naruto ingin menjadikan dirinya seorang kakak. Jauh dalam hatinya, dia tidak mau menjadi kakak untuk Naruto, dia ingin lebih dari itu. Ingin sekali dia menolak permintaan Naruto itu, tapi ketika dia buka suara, kata yang dia keluarkan berbeda dengan hatinya. "Terserah kau saja. "

"Terimakasih Kyu-nee. "

..: Golden Shinobi :..

Suasana dalam kelas saat ini begitu berisik, para murid yang kemarin sudah resmi menjadi seorang genin asik bicara dengan teman mereka. Hari ini adalah hari pembagian team dan jounin pembimbing, jadi banyak murid yang membahas hal yang beruhubungan dengan itu seperti teman mana yang akan satu team atau jounin seperti apa yang akan menjadi pembimbing mereka.

"Jadi kau ingin seteam dengan siapa, Naruto? " Pemuda dengan seekor anjing kecil yang berada dikerah jaketnya menatap pemuda pirang dengan jaket putih didepannya. Saat ini pemuda bertato segitiga terbalik dimasing-masing pipinya itu duduk diujung meja milik teman satunya yang tengah tidur disampingnya.

"Sebenarnya sih, aku ingin seteam dengan pemalas itu. " Naruto memberikan lirikan pada Shikamaru yang tengah tidur disamping kiba. Pemuda bermata biru yang duduk diujung satunya dari meja yang diduduki Kiba itu meletakan satu jari dibawah bibir. "Tapi sepertinya itu tidak mungkin. "

"Kenapa -krauk- tidak mungkin? -krauk- " Pemuda gendut (berbadan besar) ikut bicara, tentu saja sambil memakan kripik nya. Pemuda itu duduk disampin Naruto itu mendongak memandang Naruto yang duduk dimejanya.

"Aku yakin yang akan seteam dengan Shika adalah kau dan si Ino itu. "

Cewek berambut pirang pucat menengok kebelakang kearah Naruto cs dengan pandangan kesal. "Tidak mungkin aku seteam dengan mereka. " Pandangan gadis itu kemudian beralih kearah pria yang duduk dimeja sampin mejanya sambil bersemu merah, dan perkataan menjadi lembut. "Aku pasti akan seteam dengan Sasuke-kun. "

"Bagaimana kau bisa seyakin itu Naruto. " Naruto yang masih memandang cewek cerewet itu beralih kearah Kiba saat pemuda anjing itu bersuara. Kiba kemudian memberikan pandangan mengejek pada Naruto. "Kau sudah jadi peramal ya. "

"Cih. " Naruto membalas tatapan Kiba dengan tatapan jengkel, namun itu hanya berlasung sesaat. "Aku yakin karna aku tau tradisi clan mereka. Setiap penurus clan Nara, Akimichi, dan Yamanaka akan diterus menjadi satu kelompok. Dan aku yakin guru pembimbing mereka pasti dari clan Saratobi. "

"Tidak mungkiiin! "

"Ayahku pernah mengatakan itu. " Chouji kembali bicara, menghiraukan teriakan gadis pirang didepan mereka. Pemuda Akimichi itu menatap Naruto penasaran. "Tapi, bagaimana kau bisa tau hal ini. "

"Tentu saja dari pemalas itu. " Naruto menunjuk Shikamaru dengan dagunya untuk menjawab pertanyaan Chouji.

"Hoah. " Orang yang dimaksud Naruto bangun membuat dirinya menjadi perhatian tiga temannya. Shikamaru kemudian menatap Naruto dengan tatapan malasnya sebelum mengeluarkan kata favoritnya. "Merepotkan. "

Obrolan mereka berlanjut untuk beberapa menit ekstra sebelum terpaksa berhenti saat pintu kelas terbuka dan muncul Iruka-sensei, guru sekaligus wali kelas mereka. Naruto dan Kiba serta beberapa murid lainnya kembali ketempat duduk mereka beriringan dengan Iruka yang berjalan kedepan kelas.

"Seperti yang kalian tau, hari ini kalian akan dibagi dalam beberapa team. " Pria dengan luka melintang dihidung itu membuka suara. "Tapi sebelum itu, sensei ingin menyampaikan sesuatu. "

Semua murid diam, dan dengan tenang menunggu Iruka.

"Pertama, sensei ingin mengucapkan selamat pada kalian karena telah berhasil menjadi genin Konoha. " Iruka tersenyum saat mengatakan itu, tak lama kemudian dia kembali bicara. "Kedua, murid yang menjadi roki tahun ini adalah Uchiha Sasuke. "

Beberpa murid terutama kaum hawa bertepuk tangan ketika Iruka mengatakan itu, Sasuke hanya diam tapi dia memberikan senyuman mengejek pada Naruto yang duduk disampingnya.

"Cih. "

"Sebelum Naruto bicara, Iruka telah lebih dulu buka suara. "Baiklah, sensei akan segera membacakan team-team genin kalian. "

(Skip aja, team sama seperti di canon)

...

Kini diruang kelas tersisa tiga orang murid, tiga murid yang merupakan anggota team tujuh yang masih menunggu jounin pembimbing mereka. Seorang gadis berambut pink panjang mondar-mandir didepan kelas, menunggu sang sensei yang terlambat hampir dua jam. Anggota lain dari team tujuh yaitu seorang pemuda dengan rambut emo berwarna hitam duduk diam sambil memandang keluar jendela. Dan terakhir yang juga seorang pemuda yang memiliki rambut pirang jabrik, pemuda itu saat ini duduk ditempatnya sambil memejamkan matanya seperti sedang tidur.

Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka dan muncul sebuah kepala yang dipenuhi rambut putih. Pria berambut putih itu menatap dengan satu matanya ketiga orang yang berada dikelas. "Team tujuh. Temui aku diatap. "

Naruto membuka matanya dan menatap pintu tempat Kakashi muncul tadi, sekarang di pintu itu sudah tidak ada siapa-siapa lagi karena Kakashi sudah menghilang via sunshin. Tatapan Naruto kemudian beralih kearah kedua teman seteamnya. "Ayo. "

...

..

TBC

.

Yo. Bagaimana dengan chap ini, baguskah? Atau malah jelek. Tolong berikan komentar anda. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau men follow, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca fic saya ini, saya sangat berterimakasih.

Diawal cerita tadi sudah saya kasih flasback singkat pertemuan awal narukyu. Mungkin dichap selanjutnya juga akan saya kasih flasback singkat diawal cerita.

Masalah pair mungkin saat ini single pair (Kyubi), jadi saya mohon maaf bila tidak bisa memenuhi keinginan beberapa reader yang ingin nambah pair.

A/N : oh ya, pair narukyu adalah pair kesukaan saya diurutan kedua (tentu saja urutan pertama naruhina).

Oh ya, untuk penampilan Kyubi lihat saja di cover fic ini, kurang lebih seperti itulah Kyubi dalam fic ini.

A/N : cover itu buatan saya sendiri loh. Dan Kyubi disana benar-benar saya yang buat (Bukan seperti Naruto yang tempelan), jadi gambarnya mungkin kurang bagus.

Satu lagi, saya lihat ada sekitar 841 visitor yang membaca fic ini, tapi hanya ada 30 orang yang mau mereview. Apa itu artinya ada sekitar 811 orang yang tidak suka atau tidak tertarik dengan fic ini sehingga tidak mau memberikan review nya.

Saya akui, kalau fic saya ini memang tidak terlalu bagus. Idenya sudah pasaran, alurnya juga ngikutin canon. Tapi meskipun begitu, saya katakan dengan pasti bahwa fic saya ini beda daripada fic lainnya karena setiap cerita yang saya tulis akan memiliki perbedaan dan saya yakin kalian takkan bisa menebak itu.

Terakhir saya mohon review, karena semakin banyak review (apalagi banyak yang positifnya) saya akan semakin semangat nulis. Toh apa sulitnya mengklik 'review' dan nulis beberapa kata.

.

.

.

Juubi out