A Princess and The Ganks


Summary : Setelah Sasuke dan Naruto menjadi musuh besar dengan dua Gank berbeda, Sakura yang merupakan sahabat mereka kembali. Ia kembali dan menjadi gadis yang dipuja semua orang. Akankah ketiganya kembali menjadi sahabat? Atau mungkin sesuatu yang lebih dari sekedar sahabat? /AU/SASUSAKUNARU/Highscool-fic.


Previous Chapter

Keduanya sudah siap akan saling meninju satu sama lain, hingga…

"HEI!"

BUGH

BUGH

.

'Rambut merah muda?' Pikir Sasuke dan Naruto.

"Sakura-chan?"

"Sakura?"

Sosok itu pun menoleh dan dengan penuh percaya diri, ia mengedarkan emeraldsnya ke kerumunan lalu berhenti di satu titik. Sasuke dan Naruto. Senyuman manis terkembang di bibir plum-nya. Mata hijau bening-nya berkilat senang.

"Hisashiburi, Sasuke-kun, Naruto." Sakura kembali menampilkan senyumannya. "Aku kembali."

.

.

.

.

.

-Apa semuanya akan kembali seperti dulu?


Naruto © Masashi Kishimoto

A Princess and The Ganks © Shinji Aime

Inspired by Beelzebub © Ryuhei Tamura

WARNING : OOC, SASUSAKUNARU, Semi Sakura-centric, Alur Lambat

a Highscool-fic

Leave your concrit support with Fave/Follow/Especially Review ∞

Enjoy! Enjoy! Enjoy!


Italic untuk flashback.


.

.

.

.

.

.

-Persahabatan mereka sudah pecah, eh?

.

.

.

.

.

.

.

-Apakah masih dapat diselamatkan?

.

.

.

.

.

-Tidak sempat diselamatkan, ya?

.

.

.

.

.

-Namun, apa kesempatan kedua masih ada?

.

.

.


Bab II : Ikatan yang Takkan Kembali


Kushina sedang sibuk mengetik di laptopnya. Ia tengah berusaha memberi caption untuk beberapa produk impor yang baru saja datang. Minato yang tahu benar bahwa Sang Istri tidak fokus pun menghampiri sang istri yang masih sibuk menatap laptopnya. Dengan lembut, Minato mengusap slembut bahu Sang Istri.

"Minato, sudah tiga kali!" Kushina mengacak-acak rambut merah panjangnya. "Terhitung sudah tiga kali aku secara tak sadar mengetik nama Sakura!"

"Masih kepikiran?" Pria yang berambut hampir serupa dengan Naruto itu terkikik pelan menghadapi kelakuan istrinya yang kekanakan itu.

"Duh! Tentu saja masih. Kau sendiri pasti masih terbayang 'kan?" Kushina menatap wajah Minato yang tampan.

"Iya, dia sangat…luar biasa. Ia jadi secantik namanya."

"Arghh! Tuh, 'kan. Gadis yang biasa berkuncir air mancur di kepalanya itu kini jadi luar biasa cantik." Seru Kushina frustasi.

"Lalu memangnya kenapa?" Tanya Minato lalu kembali menyesap kopi dari cangkir yang sedari tadi dipegangnya.

"Aku jadi ingin menjadikannya menantuku!" Minato nyaris tersedak mendengar kalimat Kushina. Ia sadar bahwa Sakura yang sekarang memang jadi luar biasa berbeda, dalam artian baik. Ia sedikitnya teringat percakapannya dengan Mebuki saat bertemu Sakura kemarin sore.

.

"Sakura ini bekerja sambilan sebagai Palang Merah Konoha."

"Ia juga menguasai beberapa bela diri seperti shaolin."

"Dia sudah menguasai banyak simfoni dan soneta menggunakan piano, biola, dan bahkan cello."

.

"Ia memang hebat, Kushina. Aku juga setuju kalau dia jadi menantuku."

"Bayangkan, Minato, ia benar-benar sempurna, bukan?" Kushina nampak bersemangat. "Aku bahkan tidak pernah memegang cello! Bukankah dia jenius? Dia akan melengkapi Naruto!"

"Ya, lalu? Kenapa kau nampak frustasi?"

"Kau juga tahu, Minato. Dari dulu Sakura menyukai Sasuke dan selalu menganggap Naruto mengganggu."

"Yah, memang 'kan?"

"Masalahnya, aku melihat tatapannya kemarin," Ujar Kushina sambil menyipitkan matanya. "Mikoto pasti juga ingin Sakura jadi menantunya. Ia benar-benar memiliki keuntungan besar! Sakura menyukai Sasuke."

"Tidak masalah 'kan? Ia juga memiliki kerugian. Jauh lebih besar dari keuntungannya," Kini Minato menggantung kalimatnya. "Sasuke tidak menyukai Sakura."

"Ah! Ya! Syukurlah." Kushina tidak lagi terlihat frustasi setelah mendengar perkataan Minato.

'Syukurlah, Naruto menyukai Sakura.'

Kushina yang menyangka bahwa hubungan persahabatan mereka baik-baik saja sama sekali tidak tahu badai macam apa yang tengah melanda persahabatan Naruto, Sakura, dan Sasuke. Alih-alih menyadarinya, Kushina justru berusaha mengalihkan persahabatan itu menjadi sesuatu yang lain.


A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞


Seperti sehati dengan sahabatnya, Mikoto kini tengah frustasi sambil mencoret-coret kertas plotnya. Ia juga sedang menatap Fugaku yang duduk dihadapannya. Fugaku yang berkerja sebagai pilot Shinobi Air masih menikmati libur dua minggunya. Kini ia tengah sibuk menenangkan Mikoto yang uring-uringan diatas kasur.

"Fuga-kun, Aaahh kenapa Sakura-chan jadi secantik itu, sih?" Mikoto yang kesal akhirnya melempar kertas plotnya ke sembarang arah. Sepertinya Konoha Daily harus menanti cerpen karya Mikoto dalam waktu yang tidak sebentar. "D-dia nyaris sempurna…seperti…." Mikoto nampak berpikir.

"Tuan Puteri?" Tanya Fugaku datar. Mikoto pun mengangguk. Perkataan Kizashi dan Mebuki saat kemarin sore kembali terngiang di kepalanya.

.

"Sakura berlatih iaijutsu bersama seorang master yang ahli. Ah, ya…dia juga jadi ketua klub kendo di Sekolahnya."

"Ia berbicara dalam 5 bahasa. Jepang, Mandarin, Korea, Inggris, dan Perancis."

"Berkat prestasinya sebagai atlet renang, Sakura sudah dapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke Amerika nanti setelah lulus."

.

"Katakan, Fuga-kun. Bagaimana kau melihat Sakura?"

"Ia…akan cocok menjadi menantu Uchiha." Balas Fugaku datar sambil kembali fokus dengan korannya.

"Binggo! Aku juga berpendapat bahwa Sakura-chan akan pas untuk dijodohkan dengan Sasuke-kun!"

"Lalu masalahnya apa? Sudah pasti dia mau. Bukannya dia suka Sasuke?"

"Ih! Aku juga tahu soal itu. Masalahnya…" Mikoto menautkan kedua jarinya lalu menggigit bibirnya.

"Kenapa?"

"Sasuke belum tentu menyukai Sakura. Lalu si Naruto itu sangat suka Sakura. Kushina pasti memanfaatkan keuntungannya itu," Ujar Mikoto frustasi. "Ia pasti akan mendorong Naruto untuk menarik perhatian Sakura. Kalau Sasuke mana mungkin mau."

"Tidak masalah. Kau tidak tahu bagaimana seorang Sasuke, Mikoto," Kini Mikoto menatap dalam pada Fugaku. "Dia sama sepertiku." Seketika Mikoto lega mendengar penuturan Sang Suami.

'Tsundere, eh?' Pikir Mikoto girang.

Ya, sama persis seperti Kushina, Mikoto justru mempersulit masalah antara anak-anak mereka. Ia tidak sadar bahwa kini anak-anaknya bahkan sudah tidak saling menyapa. Ikatan yang terbentuk antara anak-anak mereka sudah lama rusak.


Bab II : Ikatan yang takkan kembali ∞


Seisi KGH masih sibuk membicarakan kejadian heboh di depan gerbang sekolah tadi pagi. Bagaimanapun, Dark Aoda dan Fox Claw memang sangat tersohor. Bahkan, tidak sedikit dari siswa KGH yang sudah bergabung dengan Kedua Gank tersebut sejak lama. Berkat kepopuleran ketua gank, ramainya penonton, dan kerennya para tokoh yang terlibat, peristiwa tersebut pun dengan cepat menyebar.

Siswa-siswi KGH tahu benar bahwa Sasuke dan Naruto adalah dua 'Orang Penting' yang agung sehingga dari jauh-jauh hari para siswa sepakat untuk menghormati keduanya. Namun, tidak disangka-sangka, seorang Gadis berseragam dan berpenampilan layaknya Siswi Sekolah Putri tidaklah sama. Saat perseteruan antara kedua insan itu mulai memanas, dengan percaya diri, Siswi itu malah meninju mereka.

Daripada memusingkan hal itu, kini Sasuke dan Naruto memiliki satu hal baru yang perlu mereka pusingkan. Ya, pembagian kelas mereka. Di KGS dulu, Kelas tempat Sasuke berada dijadikan markas Dark Aoda. Kelas Naruto pun dijadikan markas Fox Claw. Semua Siswa selain Anggota Gank dengan sangat terpaksa harus menyingkir apabila waktu istirahat dan pulang tiba.

Namun yang kini terjadi sungguh diluar dugaan. Ternyata Sasuke dan Naruto ditempatkan dalam satu kelas yang sama! Bagaimana mungkin Dua Gank yang saling bermusuhan harus berbagi markas? Bisa-bisa terjadi pertumpahan darah di dalamnya. Maka dari itu, Sasuke berniat untuk membicarakan masalah markas itu lebih jauh dengan Naruto sepulang sekolah.

Kini Sasuke dengan ditemani para petinggi Dark Aoda tengah berjalan menuju cafetaria. Sama halnya dengan Naruto dan antek-antek Fox Claw-nya yang berjalan dengan santai menuju cafetaria KGH. Sesaat kedua kelompok tersebut nyaris bersinggungan, namun keduanya memilih untuk saling membuang muka. Kini tatapan mereka tertuju pada kursi yang berada di sudut cafetaria. Kursi itu tengah dikerubungi banyak Siswa.

Kursi dan meja panjang di ujung kantin itu hanya ada satu! Padahal dulu di KGS ada dua! Berarti Dark Aoda dan Fox Claw harus bersaing untuk mendapatkan kursi tersebut? Jangan bercanda. Yang terpenting, kedua kelompok itu berjalan santai sambil menguarkan aura berkuasa mereka menuju kursi tersebut.

"Minggir." Ujar Sasuke dan Naruto, nyaris bersamaan. Keduanya melemparkan tatapan 'Jangan-tiru-aku' kepada satu sama lain. Para Siswa yang mendengar 'teguran' tersebut dengan cepat membuka jalan untuk kedua ketua Gank tersebut. Kini pandangan Sasuke dan Naruto terhadap meja dan kursi yang ada di sudut itu terbuka lebar. Disana, duduk seorang gadis cantik dengan rambut sebahu.

"Hai!" Gadis itu melambaikan tangannya kepada Sasuke dan Naruto yang mengangkat sebelah alisnya.


A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞


"Mm, Kalian tidak makan?" Gadis itu bertanya. Sadar tidak mendapat tanggapan yang berarti selain tatapan menusuk, ia kembali melanjutkan acara makan buburnya. "Yummy. Mashita." Ia tersenyum manis lalu menggumam.

"Kenapa?" Tanya Sasuke tajam.

Ya, semua Siswa yang tadi mengerubungi kursi ini telah diusir pergi. Siswa-siswa kurang kerjaan itu tadinya asyik menemani waktu makan siang si 'Early School Princess'. Sebagai gantinya, Gadis itu meminta kepada Sasuke dan Naruto untuk menyingkirkan antek-antek mereka. Jadilah di kursi tersebut tersisa Ketua Dark Aoda, Ketua Fox Claw, dan seorang gadis cantik berambut sebahu.

"Kenapa apanya?" Gadis itu balik bertanya. Seisi KGH kini masih heboh memikirkan kemungkinan hubungan hubungan antara ketiga insan yang berada di satu meja tersebut. Sasuke dan Naruto duduk bersebelahan, berhadap-hadapan dengan 'Early School Princess'.

"Tolong jangan berbelit. Kau pasti tahu maksudnya. Jawab saja." Naruto yang biasanya menampakkan senyum riangnya kini memasang tampang seriusnya. Si Gadis terkikik lalu menyesap jus arbei pesanannya dengan wajah santai. Bagaimana mungkin ada orang yang sesantai itu saat dihadapkan oleh dua ketua Gank yang terkenal sadis?

"Hehe, kenapa? 'Kan aku sudah bilang kalau aku akan selalu melerai kalian kalau kalian bertengkar. Selalu, kapanpun, apapun yang terjadi." Jelas si gadis sambil sesekali melihat keadaan sekitar. Para Siswa berusaha mengabaikan pemandangan di sudut cafetaria, namun sebenarnya mereka sama-sama memendam rasa penasaran akan apa yang terjadi disana. Bagaimana mungkin kedua musuh besar itu dapat duduk di satu meja-dengan seorang gadis, dan belum ada yang babak belur?

"Huh, Apapun yang terjadi? Kurasa yang tadi bukan situasi yang tepat." Sindir Sasuke.

"Tadi juga termasuk situasi 'Apapun yang terjadi'. Aku takkan diam saja. Aku adalah orang yang selalu menepati janjiku," Ia membalik sendoknya dipinggir mangkuk buburnya yang telah tandas. "Apapun yang terjadi. Bahkan saat kita sudah tidak bersahabat lagi." Ia mengedipkan sebelah matanya.

"Sakura-chan." Kini Naruto menatap gadis berambut merah muda itu dengan prihatin. "Kalau begitu…Sekarang kita masih…"

"Nee, Naruto? Apa harus tetap memiliki ikatan untuk menepati janji?" Sakura menatap Naruto dengan tatapan percaya diri. "Aku rasa tidak masalah 'kan kalau tetap menepati janji?"

"Kau berpikir kalau kita bertiga masih bersahabat? Jangan harap-" Sakura memotong kalimat Sasuke hanya dengan mengangkat sebelah tangannya saja.

"Aku bukannya tidak tahu bahwa Ketua Dark Aoda dan Fox Claw saling membenci. Kalian begitu terkenal, sampai ke Suna sekalipun," Sakura berhenti sejenak. "Dengan begitu aku bisa mengambil kesimpulan bahwa semuanya sudah berakhir."

"Kalau memang semuanya sudah berakhir, kenapa masih turun tangan untuk memisahkan kami tadi?" Tanya Naruto.

"Apa salahnya menepati janji kalau sudah tidak bersahabat lagi?" Balas Sakura, sedari tadi ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah selain kebahagiaan, kelegaan dan kepercayaan diri. "Bagaimanapun, dulu kita adalah sahabat dekat." Sakura kembali tersenyum

"Tidak ingin menceritakan kenapa kau pergi, lalu tiba-tiba kembali?" Tanya Sasuke.

"Apa perlu?" Sakura menatap Sasuke dengan tatapan penuh intimidasi. "Memangnya itu akan mengubah apa?"

"Sakura-chan…" Sela Naruto sebelum terjadi perdebatan. Ini aneh. Dulu bisanya yang menjadi penengah adalah Sakura.

"Jangan ikut campur masalah kami," Ujar Sasuke, Sakura semakin terpancing. "Hubungan kita bertiga adalah masa lalu."

"Aku tahu. Aku juga tidak tertarik untuk kembali lagi ke dalam hubungan kekanakan itu lagi." Balas Sakura.

"Kumohon, Sakura-chan. Jangan hiraukan kata-katanya." Naruto memohon. Tidak biasanya Naruto memohon. Hanya saja kali ini ia begitu takut bahwa kekacauan dalam hubungan persahabatan mereka yang sudah lalu semakin bertambah.

"Persahabatan antara kita hanya masa lalu. Aku tahu," Sakura bangkit dari duduknya. "Tapi aku akan tetap pada janjiku yang dulu. Apapun yang terjadi." Sakura menekankan bagian 'Apapun yang terjadi'. Kemudian ia beranjak ke kedai bubur untuk membayar. Setelah itu, gadis berseragam sekolah putri tersebut berjalan meninggalkan cafetaria.


Bab II : Ikatan yang Takkan Kembali ∞


Rupanya masalah yang sedari tadi mereka kesampingkan berubah menjadi boomerang. Mereka pikir masalah markas sekolah akan dengan mudah diatasi, nyatanya tidak seperti itu. Para anggota Dark Aoda dan Fox Claw kini tengah memadati kelas X Sosial I yang merupakan kelas dari dua ketua Gank paling berkuasa di kanto. Setelah bel pulang berbunyi, para siswa X Sosial I yang tidak tergabung dalam kedua gank tersebut langsung berhamburan keluar kelas.

Kini para anggota yang tidak terima akan pembagian markas datang untuk membela kepentingan masing-masing. Seperti yang sudah bisa diduga, Dark Aoda menuntut kepemilikan Kelas X Sosial I dan mengusir Fox Claw. Sama hal-nya dengan Fox Claw yang menuntut hal tersebut juga. Naruto dan Sasuke kini tengah berhadapan. Mereka benar-benar tidak habis pikir mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya.

Terlebih di belakang kelas, beberapa anggota Dark Aoda dan Fox Claw sudah memulai duel masing-masing. Sungguh memusingkan. Kemudian Juugo yang merupakan siswa kelas XI KGH sekaligus anggota Dark Aoda pun berbisik pada Sasuke.

"Hn. Boleh juga." Balas Sasuke

"Ehm..ehm." Juugo berdeham, cukup keras hingga para siswa yang tengah berkelahi kini memusatkan pandangannya pada pemuda berbadan besar tersebut. Sumber suara pun mengarahkan pandangannya pada Sasuke, mengisyaratkan kepada mereka untuk mendengarkan Sasuke.

"Dark Aoda akan mengambil kelas XI Sains 2." Ujar Sasuke datar. Para anggota Dark Aoda sepertinya menganggap bahwa keputusan Sasuke takkan menyelesaikan masalah. Malahan, mereka merasa bahwa Dark Aoda seperti kalah dalam perebutan markas ini. Suara protes terus dilancarkan oleh para anggota Dark Aoda yang tidak terima, ditanggapi dengan dingin oleh para anggota Fox Claw.

"Kita juga sebaiknya menempati X Sosial 5," Sang Ketua Fox Claw akhirnya angkat suara. Ia benar-benar tidak mood untuk bertikai dengan Dark Aoda saat ini, ada hal lain dalam pikirannya. "Tidak ada yang protes." Imbuhnya. Para Anggota Fox Claw pun mengangguk patuh dan memandang Sang Ketua yang bijak. Ketua mereka melakukan hal itu agar Dark Aoda merasa mendapat keadilan, yang berarti meredam pertikaian untuk sementara.

Di saat jeda waktu yang sunyi tersebut, tiba-tiba saja seseorang menggebrak pintu Kelas X Sosial 1 dengan paksa. Begitu pintu tersebut terbuka dan menampakkan sosoknya, ia tersenyum manis. Semua Siswa terpaku menatap sosok yang telah berani menganggu pertemuan dua gank legendaris ini. Namun tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk marah atau bahkan sekedar menegur.

"Maaf mengganggu. Kalian sudah selesai, 'kan? Boleh pinjam Sasuke dan Naruto?" Sosok tersebut mendapat anggukan dari seisi ruangan-minus Sasuke dan Naruto. Kedua ketua Gank tersebut hanya dapat termangu menatap sosok yang menghalangi pintu tersebut. "Hei! Kenapa diam saja? Ayo! Kita sudah harus pulang." Ia akhirnya menghampiri Naruto dan Sasuke lalu menarik lengan keduanya secara paksa untuk keluar ruangan.

Seisi ruangan masih terpaku akan kejadian yang berlangsung amat cepat tersebut. Lagi-lagi terlalu cepat untuk dapat dicerna oleh otak para orang-orang ini. Bagaimana mungkin?

Bagaimana mungkin?

Bagaimana mungkin Sasuke dan Naruto yang merupakan musuh besar pulang bersama? Bagaimana mungkin gadis itu memaksa keduanya untuk pulang bersama?

Ya, Haruno Sakura, 'Early School Princess' baru saja menarik paksa dua musuh besar yang berpengaruh untuk pulang bersamanya.


A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞


"Mau berlaga sejauh apa lagi, hah?" Sasuke menarik paksa lengannya dari cekalan lengan kanan Sakura. Sudah cukup gadis ini mengacak-acak pride dan gengsinya di depan seluruh anggotanya dengan memaksanya pulang.

"Ada apa, Sakura-chan?" Naruto tidak berusaha melepaskan cekalan Sakura terhadap lengan kanannya.

"Kalian itu berisik." Ujar Sakura saat mereka sudah hampir mencapai halte bus KGH.

"Kau bilang sudah mengerti bahwa persahabatan kita sudah berakhir." Ejek Sasuke, tetap dengan tatapan sinisnya.

"Memang."

"Lalu kenapa kau mengajak kita untuk pulang bersama? Kau 'kan tahu bahwa aku takkan mau dekat-dekat dengan makhluk teme itu." Naruto ikut nimbrung, ia berusaha menunjukkan wajah datar pada Sakura, namun gagal. Yang ada hanyalah tatapan sedih.

"Ck. Lihat saja sendiri." Balas Sakura acuh sembari mengangsurkan ponselnya pada Naruto. Layar iPhone 6 tersebut menampakkan percakapan dari grup Line.


.:Lovely Neighbourhood:.

Kushina : TEST

TEST

Sakura-chan~

Sakura : Iya, Bi. Ada apa?

Kushina : Hari ini pulang bareng Naruto, ya

Sehabis itu makan siang di rumah kami

Sakura : Kenapa, Bi?

Mikoto : Wohoho, Saku-chan jangan lupa pulang bareng Sasuke juga

Makan siangnya di rumah kami saja.

Kushina : Weii, jangan! Di rumah kami saja.

Mikoto : Grr. Di rumah kami saja, 'kan sebelahan.

Kushina : Rumah kami juga ada di sebelahnya!

Mebuki : Duh, ramai sekali.

Sakura : Maaf, Bibi Kushina, Bibi Mikoto.

Aku tidak bisa.

Kushina : HARUS BISA!

Mikoto : HARUS BISA! (2)

Mebuki : Aku silent grup ini.

Kizashi : Aku silent grup ini. (2)

Fugaku : Aku silent grup ini. (3)

Sakura : Baiklah. Aku akan pulang dengan mereka.

Tapi aku makan siang di rumah sendiri saja, Bi.


Naruto dan Sasuke kini tidak banyak bertanya mengenai alasan gadis merah muda itu mengajak mereka pulang bersama. Lagipula Keduanya sudah sepakat untuk tetap terlihat akur di depan orang tua mereka. Mereka belum siap melukai perasaan orang tua mereka yang menginginkan mereka bersahabat. Hubungan antar ketiga keluarga itu memang amat sangat erat hingga sangat tidak mungkin mereka mengungkapkan yang sebenarnya.

"Kita naik bus?" Tanya Naruto pada Sakura yang sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Begitu mendengar pertanyaan Naruto, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu mengangguk.

"Tunggu. Sebentar lagi juga bus-nya datang." Ujarnya saat melihat Naruto menguap bosan dan Sasuke yang berdecih ria.

"By the way, Kau belum dapat seragam?" Tanya Naruto saat melihat Sakura dengan penampilan 'siswi sekolah putri-nya' yang chic.

"Sudah. Kupakai mulai besok." Balas Sakura singkat. Ia memang kebagian seragam agak sedikit belakangan karena ia baru saja masuk setelah Masa Orientasi Siswa KGH usai. Keterlambatannya disebabkan rumitnya prosedur pengurusan berkas di Suna.

"Kalau begini, terasa seperti dulu, ya?" Naruto menatap Sasuke sinis lalu tersenyum ragu pada Sakura. "Kita masih bersahabat saja rasanya. Hanya sedikit berbeda."

"…" Sasuke tidak berkomentar apa-apa. Ia membalas tatapan sinis Naruto dengan seringai yang menyebalkan.

TEET

TEET

Bus biru Konoha telah tiba di halte. Pintu otomatisnya pun terbuka dengan suara decitan yang khas dan menguarkan kehangatan dari pemanas di dalam bus ke luar.

"Jangan bahas sesuatu yang sudah berlalu, Naruto." Sakura pun masuk ke dalam bus, diikuti dengan Sasuke. Naruto sendiri terdiam sejenak mendengar kata-kata Sakura, namun kemudian ia ikut masuk ke dalam bus. Salahkah ia apabila ia ingin memperbaiki hubungan-nya dengan Sakura? Ia tahu bahwa untuk memulai lagi dengan Sasuke akan sulit, namun ia sedikit berharap pada Sakura. Rupanya waktu dan luka telah merubah gadis merah muda yang dulunya lembut itu menjadi keras.

.

.

Malam itu, baik Sakura, Sasuke maupun Naruto telah menjalin ikatan batin yang lebih kuat dan erat dibanding sebelumnya. Ketiga bocah yang baru menginjak usia sembilan tahun itu mengucapkan janji mereka dengan perasaan lepas. Sama sekali tidak sadar dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Ya, mereka sama sekali tidak sadar bahwa nantinya takdir akan mengacaukan segala janji dan ikatan diantara mereka.

.

.


Bab II : Ikatan yang Takkan Kembali ∞


Di dalam kamar bernuansa pastel itu, terlihat seorang gadis berambut sebahu nampak tengah memandangi seragam sekolah yang digantung di depan lemarinya. Ia tersenyum kecut, seperti menyayangkan takdirnya. Ya, sesungguhnya gadis cantik tersebut memang menyesali takdir dan keputusannya untuk kembali ke Konoha.

Ia nyaris jatuh cinta dengan segala kehidupan dan rutinitasnya di Suna selama tiga tahun. Andai saja sang nenek tidak jatuh sakit hingga harus di rawat di Oto, maka ia memilih untuk menetap di Suna. Untuk waktu yang amat sangat lama. Takdir memang suka mempermainkannya, bukan?

Merasa gusar saat harus menyesali takdirnya, gadis itu bangkit dari posisi duduknya dan mengamati kotak merah muda besar di atas lemarinya. Ia mengambil meja belajar rendahnya yang bulat sebagai pijakan. Kotak merah muda itu dengan mudah diambilnya. Setelah membersihkan debu yang menutupi nyaris sebagian besar kotak tersebut, akhirnya Si Gadis pun membukanya.

Senyum kecutnya kini telah kembali. Ia meraih selembar foto yang terselip di dalam kotak tersebut. Foto lusuh tersebut seperti menarik jiwanya pada masa lalu. Entah mengapa senyum kecut itu kini berganti menjadi kurva yang melengkung keatas. Tetes-tetes air mata entah mengapa berhasil menjebol pertahanannya.

.

Ia tidak boleh seperti ini.

.

"H-hentikan…kumohon! Jangan bertengkar!"

"Maaf, Sakura-chan. Jangan menangis, kumohon."

"Jangan cengeng."

.

Kepingan memori-memori itu mengalir dengan deras ke dalam kepalanya seketika. Gadis itu kini mulai sesenggukan dan merasakan nyeri di dadanya. Entah mengapa ia kembali merasa rapuh.

Tapi ia tidak boleh! Sama sekali tidak boleh! Ia sudah berjanji untuk jadi gadis yang kuat. Kini ia sudah menjadi kuat, maka yang tersisa hanyalah menyelesaikan janjinya. Janji konyol yang kini harus ia selesaikan bagaimanapun juga. Jika ia kembali rapuh, maka janjinya takkan bisa dipenuhi.

Sambil menyeka air mata yang membentuk dua aliran sungai di pipi tembamnya, ia meletakkan foto tersebut kembali ke dalam tempatnya. Ia takkan kuat apabila melihat foto itu lebih lama lagi. Ia takkan mampu. Maka dari itu ia kini menyimpannya kembali, lalu menutup kotak tersebut. Menyisakan foto tersebut terselip dengan berbagai macam barang lainnya dalam kesunyian.

.

Hanya sebuah foto lama yang menampilkan potret bahagia.

.

Ya, potret bahagia dari tiga orang insan yang masih hijau dan ceria. Ketiganya adalah anak yang baru beranjak 12 tahun. Seorang pemuda berambut blonde spike yang tengah saling melempar tatapan membunuh dengan seorang pemuda tampan berambut raven. Di apit oleh kedua pemuda tersebut, seorang gadis berambut panjang dan berwarna merah muda tengah merangkul keduanya. Pohon akasia besar dengan ayunan dari ban di salah satu cabangnya menjadi latar dari foto tersebut.

.

"Aku juga berjanji kalau aku kuat nanti, aku akan selalu melindungi kalian dan melerai kalian kalau kalian bertengkar. Ya, bahkan jika semuanya tiba-tiba berubah. Kupegang janjiku! Kalian janji juga, ya?"

.

.

.


Bab II : Ikatan yang Takkan Kembali ∞

To be Continue to :

Bab III : Kekuatan Sebuah Janji


.:AUTHOR ZONE:.

Salam untuk para warga FFN~

Here i come with Bab II. Aku tahu banyak banget penulisan dan gaya bahasa yang lebay disini. Udah gitu titiknya banyak pula. Niatnya sih pengen buat readers jadi terhanyut dan deg-degan. Tapi kayaknya gagal, hoho. Dimaafkan ya kalau alurnya lambat. Soalnya aku kebawa suasana pas ngetiknya, maklum ceritanya diambil dari pengalaman pribadi walau ga serupa.

Aku berencana untuk buat satu chapter khusus untuk masa lalu tiga manusia itu (SasuSakuNaru). Atau mungkin buat fic baru aja? Kayak semacam prekuelnya? Jadi nanti disini masa lalu mereka paling dibahas dengan secuil flashback aja kayak diatas. Duh, jadi bingung sendiri ini. Minta saran dari readers deh.

CHAPTER KHUSUS/PREKUEL?

Yuk dibantu, biar tahu mana yang lebih baik dari para readers sekalian, hoho. Ada yang mau tanya-tanya seputar fic ini dan mungkin ceritanya? Langsung saja sampaikan di kolom review, kalau bisa sekalian kritik dan sarannya. Tapi kalo pertanyaan yang bersifat spoiler gamau kujawab, hoho.

Pojok balas review untuk non-login

Philosopher : Thanks udah sempetin baca. Ini udah ada lanjutannya, hoho.

Kimberchan : Iya ini udah lanjut. Hoho, itu dia makanya ikutin cerita abal ini sampe selesai ya *wink

76 : Iya, aku sebenernya fokus ke permusuhan gank mereka sama gank luar. Mudah2an gak

Sebut saja mawar : Hehe, unamenya lucu. Ini udah lanjut. Kalo soal pair aku no comment, liat di akhir, hoho.

DAMARWULAN : Liat di akhirnya, ya hohohoho *ketawa jahat*

Nakize Irawan : Cerita ini bertahap loh. Ada Sasusaku terus Narusaku. Rencananya mau aku jelasin pelan-pelan disini. Ending udah aku tentuin kok karena emang cerita ini udh selesai. Aku berusaha bikin ending yang gak akan bikin war. Aku ingetin untuk cek genre utama fic ini, hoho. *wink

Embun : Hai hai embun dipagi buta~ makasih udh baca. Ini udah lanjut, hoho *wink

SPECIAL THANKS TO :

Philosopher|kimberchan| 76 | Yanti Sakura Cherry | sebut saja mawar | nkaalya |DAMARWULAN | nakize irawan | daisaki20 | smilecherry | neripyon | embun | Rinda Kuchiki |

Flame? Boleh. Annon? Jangan.

Kalo mau flame tolong jangan annon ya. Kalo Annon langsung aku hapus tanpa dibalas karena aku tidak akan mau nanggepin komentar miring dari orang yang gajelas, hoho. Jangan lupa gunakan tata bahasa indonesia yang baik, yoo.

Akhir kata, Fave/Follow/Especially Review~

Don't be silent readers.

Sweet Smile~Aime