M4yura: Hah?? Septi bikin fanfic serius? fanfic 'waras'??
Shiyuurivonbielefeld: uaphah??
Juju-sensei: uwooo uwoooo...
Shi: ... (mulai nyesel punya temen lebay semua)
Disclaimer: Shi bukan pemilik Deathnote, tapi kalau Deathnote abal buatannya sendiri sih iya.
Till Death Unite Us
Chapter 2
"Bagaimana mungkin kau tidak sadar kalau kau ini hantu??" tanya (atau lebih tepatnya bentak) Mello. Suaranya menggema ke penjuru kamar mandi. Tampak jelas kalau kini dia sudah mulai terbiasa dengan keberadaan hantu gamer itu.
"Tidak tahu… bahkan aku tak tahu kapan aku mati…" jawabnya murung, duduk di pojok ruangan. Terlihat sebagian kakinya menembus dinding. "…apa mungkin aku mati tanpa aku sadari?"
"Terus, sudah berapa lama kamu ada di sana?"
Matt mendongak, memandangi Mello. "Ah, biasanya kalau aku sudah berdiam diri bermain sendirian begitu, aku melupakan waktu. Pernah juga aku mulai main di siang hari, sadar-sadar matahari sudah tenggelam."
"Jadi…?"
"…Aku tak tahu." Jawabnya singkat.
Mello memukul dahinya sendiri, tanda frustasi. Dia memang tak cocok berurusan dengan hal seperti ini.
"Yang kuingat, aku sempat tertidur, lalu… hei! Mau kemana?" Matt bergegas mengikuti Mello yang baru saja keluar dari sana.
"Kembali ke kamar. Aku tak mau dikira kena Schizophrenia gara-gara ketahuan ngomong sendiri di kamar mandi!" jawabnya sinis. Dia pun mulai menelusuri salah satu lorong di bangunan besar Wammy's House, menghiraukan pandangan aneh dari anak-anak di sekitarnya. "…Hey! Jangan mengikutiku!"
"K-kenapa? Kau satu-satunya orang yang bisa melihatku di sini! Setidaknya bantu aku!" kata Matt sambil melayang mengikuti Mello.
Mello langsung menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah hantu itu. Raut wajahnya serius. "Apakah aku terlihat seperti paranormal bagimu? Atau Melinda Gordon dari film Ghost Whisperer yang suka membantu hantu menyelesaikan urusan dunia dan kembali ke alam sana?"
Matt terdiam sesaat memandangi lawan bicaranya itu.
"Dari tampangmu sih…tidak."
"Nah!"
"Tapi Ghost Whisperer itu apa?"
Lagi-lagi Mello memukul dahinya sendiri mendengar pertanyaan Matt. Satu atau tiga kali lagi dia lakukan itu, mungkin dahinya bakal jadi 'cantik'.
-
-
Menara dadu tersusun rapi di tengah ruangan. Tinggal satu dadu lagi melengkapi susunan yang solid itu, maka akan menjadi sempurna. Khawatir akan runtuh, diambilnya satu dadu terakhir itu dan diletakkannya di puncak dengan sangat hati-hati.
Sedikit lagi…
BRAK.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar-lebar membentur tembok dengan keras, menghentakkan tangan anak laki-laki berkulit pucat itu. Dalam sekejap, menara dadu itu kehilangan keseimbangannya dan jatuh berantakan. Dengan wajah tanpa ekspresinya, otomatis dia menoleh ke arah 'pelaku' yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
Seakan tidak terjadi apa-apa, Mello berjalan menghiraukan dadu-dadu yang bertebaran di lantai dan menghampiri tempat tidurnya. Seperti biasa, dia langsung meraih coklat simpanannya yang selalu tersedia di balik bantal lalu membuka bungkusnya sambil berbaring santai. Merasakan pandangan yang seakan terus menusuknya, dia menatap Near yang sedang duduk di bawah dikelilingi ratusan dadu yang bertebaran. "Apa lihat-lihat??"
"Mello, kau meruntuhkan menara daduku." ujar Near dengan nada datar khasnya. Wajahnya masih tetap tanpa ekspresi.
Mello menggigit coklatnya. Suara patahnya coklat terdengar dengan sangat jelas. "Lalu kenapa? Bukan urusanku." Dia memalingkan mukanya, menghiraukan Near dan memanjakan dirinya menikmati coklat simpanannya. Namun tetap saja, sepasang bola mata itu tetap saja mengikuti tiap gerak geriknya. Matanya itu sedikit mengingatkannya pada L, dan Mello benci itu. Bukannya dia membenci L, hanya saja kemiripannya dengan L membuatnya muak.
"Jadi ini kamarmu ya, Mel? Dia teman sekamarmu?" Suara seseorang membuyarkan lamunannya. Ohh ya, hampir saja dia lupa kalau ada makhluk-tak-jelas-asal-usulnya itu. Tunggu dulu, 'teman' katanya? Dan sejak kapan namanya berubah jadi 'Mel'??
"Ya, ini kamarku dan AKU BUKAN TEMAN DIA." bisik Mello dengan nada sedikit membentak. Near yang sekarang mulai sibuk memungut dadu-dadunya, kembali menatap Mello.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak, imajinasimu saja."
Mello berbalik dan menenggelamkan wajahnya ke dalam tumpukan bantal, kali ini benar-benar menghiraukan Near dan hantu itu. Matt terus mengajaknya bicara tapi Mello tetap menggubrisnya. Sementara itu, dia yakin Near tidak bisa melihat Matt. Hanya Mello yang bisa melihatnya saat ini.
Ya, Mello.
Bukan Near.
'Hey… setidaknya aku lebih unggul dari Near dalam hal ini.' Mello tersenyum karena pemikirannya sendiri itu.
-
-
Ruangan yang gelap muncul samar-samar dalam penglihatannya. Aura misterius seakan memanggilnya masuk membuatnya menelusuri ruangan itu. Tak terlihat jelas apa yang ada di dalam tempat asing itu. Satu-satunya yang menarik perhatiannya adalah…
Darah.
Tetesan-tetesan kecil darah membekas di lantai marmer itu dan terlihat masih baru.
…Apa yang terjadi di sini?
-
Mello sekejap membuka matanya. Kembali ke dunia nyata. Dia mengusap matanya, memejamkannya lagi sebentar, lalu menguap. Melawan keinginan tubuhnya yang masih malas untuk bergerak, dia bangkit dari tempat tidurnya. Diam sejenak, membiarkan otaknya memproses apa yang telah terjadi. "…Mimpi?"
Cahaya matahari masuk menerobos jendela kamar Mello (dan Near tentunya) yang terbuka setengah. Udara pagi yang sejuk menerpa tubuhnya. "Sial, aku tertidur." Diusapnya perutnya yang sudah berdendang karena tidak makan semalam. Dia pun menyantap potongan terakhir coklat simpanannya sebagai pengganti sarapan. Tak perlu waktu lama sampai ia menyadari bahwa tidak ada hantu aneh itu lagi di pandangannya. Tidak ada orang lain di dalam ruangan itu.
Melegakan.
"Pagi Mello."
Mendengar sapaan itu, Mello langsung menoleh dan menemukan anak albino duduk di sudut ruangan, memeluk robot-robotan dengan tangan kirinya yang tertutup oleh lengan piyama yang kebesaran. Tangan kanannya sibuk memutar-mutar ujung rambutnya yang putih. Kalau dia tidak menyapa, Mello tidak akan menyadari keberadaannya di situ. Seperti Mello akan peduli saja.
"Pagi juga, White-freak." jawabnya malas sambil melangkah keluar ruangan. Bukan Mello namanya kalau dia menjawabnya dengan baik-baik. Dia pun berjalan menuju kamar mandi yang tak jauh dari kamarnya, seperti yang selalu dia lakukan setiap bangun pagi. Setibanya di dalam kamar mandi, sesekali dia memeriksa tempat itu, apakah ada hantu itu atau tidak.
Tidak ada. Dicari di manapun tetap tidak ada. Dia pun membasuh wajahnya dengan air dingin dari wastafel. Ditatapnya refleksi dirinya di dalam cermin. Walaupun terlihat terus memandangi cermin, pikirannya melayang jauh entah kemana, memikirkan kejadian kemarin.
Apakah itu semua mimpi? Yang benar saja, bertemu hantu aneh dan diikuti sampai sini. Dia bahkan tidak tahu kalau dia bisa melihat hal-hal seperti itu. Setidaknya sepanjang ingatannya dia tidak pernah melihat hantu sebelumnya. Tapi, sekarang? Ah, tapi tak mungkin itu mimpi. Terlalu nyata. Tapi, persoalannya sekarang, kenapa hantu itu menghilang begitu saja? Apakah dia sudah kembali ke asalnya?
Hm… mungkin.
Diusapkan wajahnya dengan handuk kecil yang tergantung di samping cermin. Diulurkan tangannya, hendak menghentikan aliran air yang keluar dari keran di wastafel. Tiba-tiba, keluar sesosok kepala menjulur menembus cermin.
"Booo!"
"WHAAA!!" teriak Mello kaget, disusul oleh berbagai umpatan yang 'berwarna' keluar tanpa halangan dari mulutnya. Terdengar pula gelak tawa dari makhluk yang baru saja menerjangnya.
"Gyahahaha! Tampaknya aku mulai senang jadi hantu." kata Matt sambil tertawa geli, melayang di hadapan Mello.
Sungguh.
Jika Matt itu manusia hidup, Mello sudah mencekiknya dari tadi.
"Kukira kau sudah kembali ke 'habitat'mu." ujar Mello, masih jengkel dengan perbuatannya barusan.
"Hei! Memangnya aku ini apa? Hewan? Pakai kata 'habitat' begitu." tanggap Matt cepat-cepat. "Aku Cuma kembali ke tempat kemarin, mengambil videogameku yang tertinggal dan kembali ke rumah sebentar."
"Lalu?"
Keceriaan Matt yang beberapa menit lalu terlihat, sekejap sirna. Raut wajahnya berubah menjadi sedih. "…Tak ada yang bisa melihatku. Ya memang ibuku mencariku karena aku tidak pulang. Tapi sebanyak apapun aku memanggilnya, ibuku tak bisa mendengarku." Dia perlahan mendarat ke lantai dan duduk dengan murung. "Memang hanya kau yang bisa melihatku, Mello."
Mello melangkah mendekati Matt. "Jadi karena itu kau kembali ke sini?"
"Ya… lebih menenangkan jika ada seseorang yang bisa melihatku dan mendengarkan perkataanku. Kau tahu kan… aku belum terbiasa dengan semua ini…." . Sejenak Matt menoleh ke arah anak berambut pirang itu.
"Hey… boleh kan aku tinggal di sini, untuk sementara?" ujar Matt lagi.
Mello terdiam, sampai akhirnya dia meraih handuknya yang tergantung di samping tirai penutup bathup. "Baiklah. Lagipula aku tak begitu peduli." jawabnya cuek.
"Terima kasih!" seru Matt senang. Walaupun Mello menanggapi ucapannya dengan dingin, rasa suka cita telah membuatnya menyiratkan senyuman manis di wajahnya.
Kenapa dia sesenang itu? Dasar bodoh…
Mello pun berlalu, tak menyadari semu merah yang sedikit merekah di pipinya…
To be Continued...
Shi: chap 2 selesaiiii! review! ada yang salah? kritik n saran? semoga saia ngga cepet bosen sama fict yang ini! yeahh! XD
