Fall in Love With You, Lagi Dan Lagi / Part 2
Judul: Fall in Love With You, Lagi Dan Lagi.
Genre: Romantis, Sekolah, Komedi, dan Fantasi
Pairing: NaruHina (Uzumaki Naruto Hyuuga Hinata dan)
[Chapter 2]
|Kau harus percaya, bahwa tak ada yang bisa mencintaimu seperti aku mencintaimu|
Kau memang abadi. Dan itu sungguh menyenangkan. Tetapi, bagaimana rasanya jika keabadian itu kau lalui hanya seorang diri? bukankah keabadian itu membuatmu kesepian? Tak ada siapapun yang menemanimu selama ratusan tahun kau hidup di dunia ini. Tak ada yang memperhatikanmu. Tak ada yang mencintaimu. Tak ada yang mampu untuk memelukmu ketika kau merasa dunia ini seperti sedang mempermainkanmu. Bahkan untuk melihatmu saja mereka tak berani. Tak ada yang bisa melindungimu karena kau terlalu kuat sehingga tak perlu di lindungi. Dan kau tak ingin di lindungi karena kau tahu bahwa tak ada seorangpun yang mampu melindungimu.
Uzumaki Naruto. Sudah berapa lama kau menyadarinya? Menyadari bahwa hidup abadi dan sendirian membuatmu bisa menangis meski kau tak memiliki air mata. Maksudnya, kau tak pernah tahu bahwa kau memiliki air mata. Kau tak pernah menangis. Seseorang sepertimu tak bisa menangis. Kau harus tahu apa yang dirimu inginkan. Hidup bersama dengan orang-orang yang tak takut padamu. Bersama dengan orang yang membuatmu merasa bahwa di dunia ini bukan hanya ada kekuatan.
Ketika kau tersadar. Dan zaman telah berubah. Satu hal yang harus kau lakukan untuk mendapatkan semua itu. Merubah wujudmu menjadi manusia dan hidup di antara mereka. Karena kau tahu, bahwa manusia tak bisa hidup abadi sepertimu. Tapi mereka bisa tersenyum setiap hari. Senyum mereka membuatmu ingin mengetahui kenapa manusia bisa tersenyum setiap saat. Kenapa mereka bisa memiliki banyak teman dan berjalan bersama-sama setiap hari. Apa yang telah mereka korbankan demi mendapatkan begitu banyak hal yang menyenangkan seperti itu? Kekuatan apa yang dimiliki manusia tapi kau tak memilikinya? Dari mana manusia memperoleh kekuatan seperti itu? Jika kau tahu, kau pasti akan berusaha menemukannya, bukan? Menemukan apa yang membuat manusia selalu tersenyum dan tertawa.
Karena itulah kau berada di sini sekarang. Dunia manusia yang hanya kau lihat dari sarangmu setiap hari. Sudah berapa lama kau berada di antara manusia? Oh, kau ingat, kau sudah bersama manusia sejak tiga puluh hari yang lalu. Menghabiskan banyak waktumu di sebuah gedung bernama sekolah.
Uzumaki Naruto tak tahu kenapa dirinya sering diikuti oleh banyak manusia perempuan, dan manusia laki-laki menatapnya seolah ingin menelannya saat itu juga. Pemuda itu sudah mulai terbiasa bersama manusia dalam waktu tiga puluh hari itu. Ia tahu bahwa semuanya akan menyenangkan. Seandainya ia melakukan hal seperti ini sejak dulu.
Hari ketiga puluh satu Naruto masih lalui seperti biasa. Mempelajari secara tak langsung apa saja yang di lakukan manusia. Dan dalam beberapa hari kemudian, ia bisa langsung mempraktekannya. Misalnya, ketika ia melihat bagaimana saat manusia laki-laki mampu membuat manusia perempuan tersenyum ataupun tertawa. Setelahnya, ia akan melakukan hal yang sama, melakukan sesuatu yang bisa membuat perempuan manusia tertawa, tepat seperti yang telah di lakukan manusia laki-laki yang telah dilihatnya.
Hari ketiga ketika ia melewati sebuah kelas. Kelas yang sama yang selalu ia lewati jika ingin masuk ke kelasnya sendiri. Sebuah suara yang sangat pelan membuatnya menoleh ke dalam kelas. Tepat ke sumber suara. Naruto tahu bahwa suara itu adalah hasil benturan antara pulpen dan lantai, karena itu ia menoleh ke sumber suara. Ingat, dalam wujud manusia, Naruto mampu mendengar suara sekecil apaun dalam jarak sepuluh kilometer. Sementara dalam wujud aslinya, ia mampu mendengar suara sekecil apapun dalam jarak lima puluh kilometer.
Ketika ia menoleh ke sumber suara. Naruto melihat seorang gadis berambut indigo panjang. Dan langsung menghentikan waktu. Ia menhentikan waktu agar bisa melihat gadis bermata indah itu lebih lama. Ketika si gadis mendongak heran ke arahnya. Naruto merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba melonjak dalam dirinya dan membuatnya langsung tersenyum begitu si gadis melihatnya. Pemuda itu merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Sesuatu yang membuatnya tenang dan nyaman. Sesuatu yang beberapa detik membuatnya lupa bahwa ia bukan manusia. Naruto lalu melepas waktu dan memutarnya agar kembali ke beberapa detik yang lalu. Dan ketika si gadis balas tersenyum. Naruto tersadar bahwa ia telah tertarik pada gadis itu.
Hinata duduk kembali setelah mengambil pulpennya dan pemuda bermata biru safir itu telah melewati kelasnnya. Gadis itu mengerutkan keningnya, kesal. Kenapa ia balas tersenyum pada Uzumaki Naruto? Pemuda yang selalu di gandrungi banyak anak perempuan di sekolah ini. Hinata memang mengenal Uzumaki Naruto. Siapa yang tak mengenal pemuda aneh yang tak pernah tersenyum itu? Setidaknya sebelum satu minggu terakhir.
Menurut Hinata, pemuda bernama Uzumaki Naruto yang baru beberapa minggu masuk sekolah sebagai murid baru itu, benar-benar aneh. Pemuda itu tak pernah pernah tersenyum ketika baru memasuki sekolah ini. Dingin. Kaku. Seperti orang bodoh. Tetapi, Uzumai Naruto telah berubah, sedikit. Pemuda itu mulai bisa tersenyum, tertawa, bahkan bercanda. Itu kata teman-teman Hinata yang jadi penggemar si Naruto itu.
"kupikir kalian memiliki hubungan keluarga. Kau dan si Naruto itu" kata Hinata pada Karin sementara menunggu guru datang.
"sudah berapa kali kau memikirkan hal itu? Aku sama sekali tak memiliki hubungan apapun dengan si rambut kuning itu" bantah Karin.
"Tapi mengapa begitu banyak untuk ..."
"bisa sama?" sambung Karin dengan nada tanya.
"aku tak tahu. Kebetulan sering terjadi, bukan? Berhenti bicara tentang si rambut kuning itu kalau kau tak ingin menjadi salah satu penggemarnya"
Hinata mendengus pelan. Kenapa Karin berubah tempramen hari ini? Sudahlah, mungkin Karin benar, marga mereka bisa sama mungkin hanya karena kebetulan saja.
Setelah guru masuk. Tak ada lagi yang bersuara termasuk Hinata dan Karin.
Hinata merapatkan sweaternya. Suhu sedang dingin karena sebentar lagi akan memasuki musim dingin.
"Hinata-chan, kau pulang dengan siapa?" tanya Sasuke ketika melihat Hinata berdiri di pintu. Sedang menunggu Karin yang masih merapikan buku-bukunya.
"dengan Karin, kau bersama siapa, Sasuke-kun?"
"biasa, dengan si pengganggu itu" kata Sasuke. Lalu sebuah suara menyerukan namanya. Itu dia orangnya, baru saja di bicarakan.
"sekarang bukan waktunya kencan. Cepat, diluar dingin sekali" erang Suigetsu tanpa memperdulikan Hinata yang sedang menatapnya kesal.
"Kalau begitu, aku pulang duluan, Hinata-chan" kata Sasuke dengan senyum lebar sambil menepuk pelan kepala Hinata.
"i-iya" jawab Hinata. Gadis itu senang Sasuke menepuk kepalanya.
Karin selesai membereskan bukunya dan menemui Hinata yang menunggu di luar kelas.
"bukumu selalu banyak seperti ini setiap hari" kata Hinata ketika Karin memintanya memegangi cukup banyak buku sementara gadis berambut merah itu mengenakan sweater.
Hinata baru saja akan menyodorkan kembali buku-buku di tangannya pada Karin ketika bahunya tersenggol kasar dan membuatnya hampir menjatuhkan buku-buku tersebut. Tapi tenang saja, Hinata maupun buku di tangannya tak terjatuh karena sebuah tangan menahan tubuh Hinata yang hampir jatuh ke depan, dan tangan lainnya, memegangi punggung gadis itu. Ketika mendongak, kedua mata Hinata langsung membulat, kaget.
"N-Naruto-san?" gumamnya, shock.
"Ya, ini aku" kata Naruto sambil melepas kedua tangannya dari tubuh Hinata. Begitu Naruto melepaskannya, Hinata langsung bergerak agak menjauh karena malu. Sementara Karin, hanya menatap Naruto.
"kenapa membawa buku sebanyak itu, Hinata?" tanya Naruto sambil memperhatikan buku yang di masih di pegang Hinata.
"k-kau tau namaku?" sahut Hinata, semakin kaget. Naruto tersenyum lalu menunjuk sebuah tulisan kecil di bagian bawah tas Hinata yang berwarna lavender.
"aah" Hinata mengangguk paham. Ia memang menjahit namanya sendiri di ujung bawah tasnya. Jahitannya sangat kecil tapi Naruto masih bisa membacanya.
"buku itu milikku!" sela Karin cepat. Gadis itu terlihat tak menyukai Naruto. Naruto mengangguk pelan. Wajahnya terlihat tanpa dosa.
"baiklah, aku tak ingin menyita waktu kalian karena di sini benar-benar dingin" kata Naruto lalu melenggang pergi. Tetapi, langkah pemuda itu terhenti ketika sebuah suara yang lembut memanggilnya. Naruto menoleh.
"Terima kasih telah menolong ... ku" seru Hinata pelan. Gadis itu bahkan tak sadar jika volume suaranya terlalu kecil.
"Lain kali kau yang harus menolongku" seru Naruto. Pemuda itu tersenyum, lalu berbalik dan berjalan pergi.
"kenapa aku baru sadar sekarang?" gumam Hinata ketika Naruto sudah tak terlihat di koridor.
"apa?" tanya Karin
"bahwa si rambut kuning itu tampan dan baik hati" jawab Hinata. Senyum tak lepas dari bibirnya.
"Yah, memang seleramu" ejek Karin.
[TBC]
