Previous story:
"Sensei datang kesini ingin memperkenalkan teman baru dengan kalian" terdengar gumaman antusias di seluruh penjuru kelas.
"Naru silahkan masuk!"
"Ti-ti-tidak mungkin di…dia kan!?"
Warning : AU, Mary Sue dalam Naruto, SasuFemNaru, OOC, typo, ada M-PREG untuk ItaKyuu
~(-.-)~
…
…
Masashi Kishimoto
T-M
A Happy Ending
Shizuka Kirarin
…
Happy Reading
…
~(^0^~)~(^0^)~(~^0^)~
Flashback On
Kediaman Namikaze, New York
Tampak seorang gadis cantik berumur sebelas tahun terlihat shock dengan keputusan kedua orang tuanya.
"Kau dengarkan Naru-chan! Tousan ingin kau ke Jepang dan sekolah di Konoha High School saat kau berumur lima belas tahun!" kata Minato.
"Kenapa? Bukankah Naru harus ke Inggris untuk mengurus perusahaan Tou-chan di sana" Tanya Naruto bingung.
"Dengar Naru-chan kami ingin kau memiliki teman sebaya yang seumuran denganmu. Dan Kaasan ingin Naru-chan segera menemukan orang yang berharga bagi Naru" kata Kushina.
"Tou-chan?"
Minato tersenyum lembut "Tenang saja untuk masalah mengurus perusahaan biar Tousan dan Kaasan yang kesana, jadi Naru-chan mau yaa…?" mohon Minato.
"Tapi kenapa harus disana?"
"Itu karena Kaasan dan Tousan alumni disana, jadi Kaasan ingin Naru-chan juga jadi alumni disana. Kami mohon Naru~ Kaasan dan Tousan janji ini akan jadi permintaan terakhir"
"Apa yang Tou-chan dan Kaa-chan katakan? Tou-chan dan Kaa-chan sampai kapanpun masih bisa meminta pada Naru, jangan berkata seolah-olah Kaa-chan dan Tou-chan akan meninggalkan Naru!. Naru benci itu!" jawab Naruto marah.
"Hehehehe maafkan kami… Kaasan dan Tousan tak bermaksud seperti itu pada Naru~. Jadi Naru maukan?"
"Eeemm… baiklah. Naru akan coba pikirkan, tapi jangan banyak berharap" kata Naruto sambil tersenyum dihadapan kedua orang tuanya.
"Arigato Naru-chan!" jawab kedua orangtuanya berbarengan sambil memeluk Naruto erat.
"Hei! hei! Naru kan belum mengatakan setuju!" kesal Naruto mengembungkan pipinya sambil mengrucutkan bibir cherrynya imut.
"Kyaaa! anak Kaasan memang manis!" gemas Kushina sambil mencubit pipi Naruto yang chuby.
"Waaaa! Kaa-chan i-itai!" Naruto menjerit kesakitan.
"Sini Kaasan cubit lagi" tawa Kushina
"Tidak mauuuu!" Naruto lari menghindari cubitan maut Kaasannya.
"Hahahahaha" Minato pun tertawa melihat istrinya sedang mengejar anaknya.
Mereka sangat menikmati momen bahagia yang jarang terjadi ini tanpa tahu maut akan memisahkan mereka.
Lima tahun kemudian….
Tokyo, Jepang 20.00pm
Sebuah pesawat jet pribadi dengan model terbaru mendarat mulus di landasan khusus Bandara Narita, Tokyo Jepang. Sekilas, beberapa pasang mata menatap kagum sekaligus iri. Kagum karena pesawat jet itu tampak hebat jika disandingkan dengan pesawat-pesawat lain di tempat itu dan iri karena mereka tak tahu kapan bisa memiliki salah satu jet termahal saat ini, pemiliknyapun pasti bukan orang sembarangan. Pintu pesawat itupun terbuka secara perlahan sambil mengeluarkan desisan halus saat pintunya tergeser kesamping. Tidak lupa, sebuah tangga tinggi yang terbuat dari besi ditempelkan ke pintu pesawat tersebut untuk memudahkan penumpang turun dari pesawat. Terlihat dua wanita remaja keluar dari pesawat. Mereka sama-sama memiliki rambut pirang panjang, hanya saja wanita yang berjalan lebih dulu memiliki rambut pirang cerah dan warna matanya biru cerah seperti warna langit di musim panas dan terlihat glamours sedangkan wanita yang berjalan dibelakangnya memiliki rambut pirang tapi tak secerah wanita didepannya dan memiliki warna mata ungu yang terkesan biasa. Orang-orang yang melihat itu hanya menatap kagum tak lupa wajah mereka yang tampak merona melihat kedua wanita cantik itu. Tampak wanita yang berjalan duluan itu merapikan dress berwarna kuning dan kacamata hitam menutupi mata indahnya dan segera menuruni tangga dengan anggun diikuti wanita yang mirip dengannya sambil membawa sebuah buku catatan.
"Hei! Sepertinya aku pernah melihat wanita yang menggunakan kacamata itu. Tapi dimana ya…? Aku lupa" tanya salah satu orang yang berada di bandara itu.
"Ah! Aku ingat! Dia kan Namikaze Naruto, artis yang terkenal di New York!" jawab satu orang lainnya.
"Kyaaaa! Ada bintang idola si Namikaze Naruto!"
"Kyaaaa! Mana…mana?!"
Kedua orang yang mendengar teriakan itupun segera memasuki sebuah limousin hitam elegan yang terpakir di dekat pesawat tersebut tak mempedulikan orang-orang yang disekitarnya yang histeris akibat salah satu wanita pirang itu.
"Kyaaa! Narruuu-chaan….!" orang-orang itu berteriak memanggil sang idola walaupun mereka terlambat karena mobil mewah yang dinaiki idola mereka itu sudah pergi menjauh meninggalkan bandara yang ramai akibat bintang idola itu.
~(^0^~)~(^0^)~(~^0^)~
Naruto's pov
Aku memandang datar pemandangan bandara Narita lewat kaca mobil. Perlahan tapi pasti, mobil yang kutumpangi mulai berjalan meninggalkan orang-orang yang histeris karena mengetahui kedatanganku.
Tidak pernah kupikirkan kalau aku akan ke sini. Ku pejamkan mataku sambil menghela nafas pelan. Aku merasa benar-benar letih. Bagaimana tidak, setelah menyelesaikan proyek baru di Paris tiba-tiba saja Iruka yang merupakan kepala pelayan menyuruh (baca: memaksa) ku untuk berlibur ke Jepang. Aku tahu, aku harus berlibur untuk mengistirahatkan tubuhku yang selalu bekerja lembur untuk mengerjakan pekerjaan yang selalu menumpuk. Tapi tetap saja ini menyebalkan! Bagaimana tidak? Dipaksa berlibur disaat kau sedang asik-asiknya bekerja. Memang Iruka telah mempersiapkan segalanya termasuk menyuruh paman Yamato yang merupakan sekertaris kepercayaanku untuk bertanggung jawab mengerjakan tugasku selama aku pergi berlibur. Ta-tapi Aaaarrrrggghhh! Aku tetap saja tidak terima!.
"Ah!" kubuka mataku kaget teringat sesuatu.
"Ada apa nona Naruto?" kata seseorang yang mirip denganku kawatir. Kulirik wanita berambut pirang lebih pucat dariku bermata ungu yang duduk didepanku.
"Shion-nee, berhentilah memanggilku dengan formal seperti itu" kataku datar pada wanita yang lebih tua enam tahun dariku.
"Hehehehe aku tau! Aku hanya ingin melihat ekspresimu Naru-chan~. Kau tahu mukamu itu sangat menyeramkan. Aku jadi heran kenapa fansmu sangat menyukaimu yang bermuka datar dan minim eksperesi ini, kecuali saat kau sedang berada di depan kamera"
"Hmm" jawabku seadanya.
End of Naruto's POV
"Uuuggh! Kau selalu saja menjawab seperti itu jika ada seseorang bertanya tidakah ada kata-kata yang lain?. Oohh iya daripada itu kenapa kau tadi terkejut seperti itu seolah-olah ingat sesuatu?"
"Hn… Naru memang ingat sesuatu"
"Ingat apa? Apa ada barang yang ketinggalan, jika ada aku akan menelpon Iruka-jisan untuk mengirimnya segera"
"Tidak, Naru bukan ketinggalan barang. Tapi Naru teringat sesuatu…, sesuatu tentang permintaan terakhir Tousan dan Kaasan…" jawab Naruto pelan tapi dapat didengar oleh Shion.
"Souka? Apa itu?" tanya Shion penasaran.
"Hmmm… mereka meminta Naru untuk bersekolah di Konoha High School yang di Jepang ini" jawab Naruto secara cepat, singkat,jelas, padat dan tidak pake macet (loh?).
"Hah? Bukannya itu sekolah terelit di Jepang yang diminati seluruh murid di seluruh dunia?!" kaget Shion mendengar cerita Naruto.
"Ya.. Kaasan dan Tousan adalah alumni KHS dan mereka ingin Naru menjadi alumni disana juga" jawab Naruto.
"Apakah kau berminat untuk sekolah?" tanya Shion.
"Eeemm… menurut Naru itu tidak buruk untuk di coba" jawab Naruto menghadap ke jendela walaupun sebentar dan sekilas Shion dapat melihat Naruto tersenyum tipis. Tanpa diketahui Naruto, Shion ikut tersenyum senang melihat senyuman Naruto yang sudah lama tidak terlihat itu tapi cepat-cepat ia sembunyikan.
"Begituu…." Terlihat Shion mengangguk mengerti. Suasana tampak sunyi beberapa saat sampai satu suara mengagetkan Naruto.
"AKU MENGERTI! Aku akan menghubungi Iruka-jisan untuk memasukanmu di KHS, aku yakin Iruka-jisan pasti senang mendengarnya" sahut Shion gembira sambil menepukkan kedua tangannya.
"Eh?! Apa Nee-san bilang?!. Aku kan belum bilang untuk sekolah di sana?" jawab Naruto dengan muka setengah kaget mendengar perkataan Shion tapi cepat-cepat disembunyikan dan mengembalikan mukanya menjadi datar.
"Tidak ada salahnya kan? Lagipula kau tidak pernah merasakan masa sekolah padahal kau sudah berumur 16 tahun. Kau terlalu jenius sih makaya kau tak pernah merasakan indahnya masa sekolah, kau dari dulu selalu ikut Home Schooling. Dan itu juga merupakan permintaan terakhir mendiang orang tuamu kan Naru-chan? Apa kau setega itu sehingga mengecewakan mereka?!" tanya Shion dengan muka dibuat seperti anak terbuang tapi di dalam hati Shion agak harap-harap cemas dengan keputusan Naruto. Dengan muka Shion yang seperti itu pasti membuat orang yang melihatnya merasa iba kecuali Naruto. Dengan muka datarnya Naruto menjawab.
"Berhentilah memasang muka seperti itu, Naru tak kan terpengaruh" mendengar penjelasan Naruto membuat hati Shion tertusuk ratusan jarum dan hancur berkeping-keping tapi kata-kata yang Naruto ucapkan selanjutnya membuat hatinya gembira.
"Tapi… baiklah Naru akan sekolah disana" jawab Naruto sambil menutup matanya kembali.
"YATTA!, AKU BERHASIL! Arigatou Naru-chaann!" teriak Shion gembira, memeluk Naruto sekilas dan segera menelpon Iruka. Naruto yang pura-pura tertidur hanya tersenyum maklum dalam hati menghadapi tingkah maid yang selalu menemaninya selain Iruka dan sudah dianggap sebagai kakaknya.
'Kaasan …. Tousan… sekarang Naru akan memenuhi permintaan kalian. Naru harap kalian gembira disana' lanjut Naruto dalam hati.
~(^0^~)~(^0^)~(~^0^)~
Tokyo, Jepang
Kediaman Namikaze, 22.15pm
Naruto sedang berdiri di balkon kamarnya melihat bulan purnama, hembusan angin mengibarkan helai rambut pirangnya yang indah dan lembut. Di bawah sinar bulan wajah Naruto tampak begitu cantik dan damai bagaikan seorang dewi. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona akan kecantikannya. Namun dibalik wajah cantik itu tersimpan kesedihan yang mendalam.
Saat ini Naruto sedang memikirkan kira-kira bagaimana rasanya sekolah layaknya remaja normal pada umumnya. 'Semoga saja tidak terjadi hal buruk di sekolah' pikir Naruto. Tanpa Naruto sadari, Iruka berdiri dibelakangnya.
"Nona Naruto!" panggil Iruka. Pria berambut coklat dan memiliki bekas luka melintang di wajahnya memasang ekspresi marah. Merasa namanya dipanggil, Naruto memalingkan wajahnya dan terkejut mendapatkan Iruka ada di Jepang.
"I-iruka-ojisan kenapa oji-san ada di sini?. Bukannya oji-san ada di New York?" tanya Naruto mengkerutkan keningnya bingung.
"Saya segera kesini setelah mendengar dari Shion bahwa nona Naruto ingin bersekolah karena itu saya segera kesini untuk mempersiapkan keperluan nona. Daripada itu… apa yang nona lakukan di sini malam-malam?" tanya Iruka.
"Bersantai?" Iruka hanya menggelengkan kepalanya.
"Terserah anda saja. Saya kemari mencari anda, karena anda harus menemui seseorang dari Konoha High School." kata Iruka.
"Hm, Naru akan menemuinya." kata Naruto datar. Ia bangkit dan berjalan menuju ruang tamu diikuti oleh Iruka dibelakangnya. Disana telah menunggu seorang pria berambut silver yang memakai masker yang menutupi sebagian wajahnya kecuali matanya. Ia sedang membaca buku berwarna orange berjudul Icha-Icha Paradise, buku itu terlihat mencurigakan bagi Naruto.
"Maaf, anda siapa?" tanya Naruto, mengambil tempat duduk dihadapan pria itu. Pria itu mengangkat wajahnya dan memandang Naruto dihadapannya dengan ekspresi datar. "Oh, saya adalah Hatake Kakashi. Saya kemari membawa surat dan keperluan lainnya yang anda butuhkan untuk bersekolah di sekolah kami." Kakashi mengeluarkan beberapa berkas dan seragam khas KHS dari tasnya dan menyerahkan ke Naruto.
"Ini berkas-berkasnya. Silahkan isi berkas-berkas ini dan ini adalah seragam anda di KHS". Naruto menerima berkas dan seragam itu dari Kakashi dan segera membaca berkasnya.
"Tunggu dulu. Apa maksud dari berkas ini? Saya akan mulai sekolah besok?" tanya Naruto tidak mengerti. Yang ditanya hanya mengangkat bahu. "Itu tergantung dari kemauan yang mendaftar" jawab Kakashi. Perkataan Kakashi sontak membuat suasana menjadi sunyi akibat keterdiaman Naruto.
"Lebih cepat bukannya lebih baik nona?" Irukapun menjawab sebelum mension ini berubah menjadi kuburan. Naruto menoleh menatap Iruka'Kenapa harus besok ji-san?', seakan tau arti tatapan nonanya Iruka hanya membalas dengan senyum simpul.
"Ehhm! Terima kasih Hatake-san. Apakah anda akan segera pulang?" Tanya Naruto yang menghentikan tatapannya ke Iruka.
"em.. karena saya adalah guru anda disana sebaiknya anda memanggil saya Kakashi-sensei" saran Kakashi.
"Baiklah, anda dapat memanggil nama saya Naruto saja. Bagaimana Kakashi-sensei?"
"Tidak buruk juga" senyum Kakashi.
"Apakah Kakashi-sensei akan segera pulang setelah ini?" tanya Naruto ulang.
"Yeah. Saya masih ada keperluan yang lain" kata Kakashi.
"Kalau begitu biar sopir saya yang mengantar anda"
"Tidak perlu repot-repot, saya kesini membawa mobil sendiri" tolak Kakashi halus.
"Souka? Kalau begitu biar Shion yang mengantar Kakashi-sensei keluar" kata Naruto sopan. Shion yang berdiri dibelakang Kakashi menyuruh Kakashi untuk mengikutinya. Sebelum Kakashi mengikuti Shion , ia sempat terpukau akan kecantikan Shion.
'wow, she is so beauty' pikir Kakashi sebelum mengikuti Shion dari belakang meninggalkan kediaman Namikaze.
Naruto segera bangkit dan berjalan menuju ruang kerjanya. Melihat hal itu, Iruka menahannya. "Anda mau kemana, Nona?" tanya Iruka dengan nada tegas.
"Emm, bekerja? Sekedar membaca berkas yang dikirim paman Yamato" jawab Naruto tak yakin dengan jawabannya. 'Damn! Kukira aku bisa kabur darinya dan memeriksa laporan yang paman Yamato kerjakan' pikirnya.
"Oh, no! Anda harus istirahat sekarang nona Naruto. Wajah anda pucat dan tak kan kubiarkan anda bekerja sampai kondisi anda prima, lagipula bukankah anda besok akan ke sekolah? Dan saya tak mau ambil resiko besok anda akan kelelahan dan membuat penyakit anda akan kambuh" kata Iruka dengan nada suaranya yang tak ingin dibantah. Naruto sama sekali tak bisa melawan perintah Iruka yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Naru akan tidur jika Iruka-jisan berjanji untuk tidak memanggilku dengan embel-embel nona".
"Baiklah jika itu maumu Naruto-chan" jawab Iruka. Dengan lesu Naruto berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Iruka seperti biasanya.
"Oyasumi Naruto-chan" Iruka tersenyum lembut sambil merapikan selimut yang Naruto pakai.
"Oyasumi tousan Iruka…" balas Naruto lalu menutup matanya mencoba untuk tidur. Iruka yang mendengar itu tersenyum lembut dan mengecup kening Naruto sekilas, setelah selesai ia mematikan lampu kamar Naruto dan keluar kamar sambil menutup pintu perlahan.
~(^0^~)~(^0^)~(~^0^)~
Terlihat matahari menampakkan cahayanya di pagi ini, burung-burungpun berkicau merdu menambah seseorang menjadi senang mendengarnya. Tentu saja pagi ini merupakan awal kesibukan bagi semua orang tak terkecuali di mension Namikaze. Tampak beberapa maid dan butler sibuk membersihkan rumah mewah itu, ada yang menyapu, mengepel, membersihkan lantai, mencuci mobil dan lain sebagainya yang tidak mungkin di jelaskan satu persatu. Namun di satu tempat tercium aroma makanan yang menggugah selera (membuat perut author keroncongan T_T), terlihat gadis berambut pirang pucat bermata keunguan, siapa lagi kalau bukan Shion sedang memasak untuk bekal Naruto di sekolah.
"Iruka ji-san, apa Naruto sudah bangun?" tanya Shion tersadar bahwa Naruto belum turun untuk sarapan padahal sekolah dimulai empat puluh menit lagi.
"Ji-san juga tidak tahu" jawab Iruka sambil menaruh sarapan di meja makan.
"Kalau begitu aku akan ke kamarnya untuk melihatnya" kata Shion sambil melepaskan celemek yang ia gunakan tapi terhenti oleh perkataan Iruka.
"Biar aku saja. Kau lanjutkan saja memasak" kata Iruka. Baru saja Iruka akan membangunkan Naruto tapi orang yang akan di bangunkan sudah menuruni tangga dengan berpakaian rapi seragam khas KHS dan rambut pirang panjangnya yang diikat kuda.
"Naru berangkat" kata Naruto datar.
"Setidaknya kau harus sarapan dulu Naru-chan! Kau juga harus meminum obatmu, kalau kau tidak sarapan terlebih dahulu bagaimana caranya kau minum obat?!" omel Shion.
"Naru tak kan mati jika meminum obat tanpa makan"
"Naru, aku minta kau sarapan sekarang!" dengan muka seram Iruka menyuruh Naruto untuk segera duduk di kursi meja makan, alhasil Naruto tak bisa menolak dan menuruti perkataan Iruka.
Setelah menghabiskan sarapannya, seperti biasa Naruto diberi bermacam-macam tablet dan kapsul (yang author sendiri tidak tahu namanya) dengan tatapan bosan Naruto meminum obat itu dengan sekali teguk. Naruto pun menyambar tas sekolahnya berjalan dengan anggun menuju mobilnya ditemani Iruka dan Shion di sisi kanan dan kiri Naruto.
"Selamat Pagi Naruto hime-sama" sapa para pelayan yang dilewati Naruto, tetapi ditanggapi cuek oleh Naruto.
"Saya dan Shion akan mendampingi nona ke sekolah" kata Iruka setelah sampai di depan dua mobil mewah.
"Why? Naru bukan anak kecil lagi Iruka-jisan. Naru akan berangkat sendiri ke sekolah" kata Naruto menolak perkataan Iruka.
"Tidak! Nona baru pertama kali datang ke Jepang, kami kawatir akan terjadi sesuatu dengan nona yang seorang artis ini. Lagipula nona tidak tahu jalan dari sini ke sekolah kan?" bantah Iruka.
"Haah.., terserah kalian saja. Tapi Naru ingin menyetir mobil Naru sendiri" kata Naruto sambil masuk kedalam mobil ferrari hitam elegan dengan corak orange.
"Kau hebat Iruka-jisan" puji Shion.
"Tentu saja" kata Iruka dengan senyum penuh kemenangan.
~(^0^~)~(^0^)~(~^0^)~
Konoha High School merupakan sekolah terelit sejepang dan merupakan sekolah terfavorit di seluruh dunia, hanya orang-orang berbakat dan kaya saja yang bisa memasuki sekolah ini. Sekolah ini dibangun oleh keluarga Senju yang merupakan ibu dari ayahnya Naruto bisa dibilang neneknya Naruto, tentu saja gedung ini sudah dibangun selama bertahun-tahun.
Naruto keluar dari mobilnya dan disambut bungkukan hormat dari Iruka, Shion dan bodyguardnya. Naruto yang melihat itu tampak tak suka.
"Berhentilah membungkuk seperti itu. Naru tidak suka melihatnya" perkataan Naruto membuat mereka menegakkan badannya. "Kalian pulanglah. Sepulang sekolah kalian tidak perlu menjemput Naru". "Dan tidak ada penolakan lagi" lanjut Naruto dengan tegas tak membiarkan Iruka yang ingin protes. Iruka yang mendengar itu hanya mengatupkan mulutnya dan menghela nafas pelan.
"Baiklah tapi kau harus pulang sebelum makan malam" kata Iruka dan hanya dibalas anggukan oleh Naruto.
"Selamat belajar Naru-chaan. Ganbatte!" kata Shion memberikan semangat pada Naruto mencium pipi gembal Naruto sekilas dan berlalu pergi diikuti Iruka dan bodyguard menuju mobil untuk meninggalkan KHS.
'haaah… Akhirnya mereka pergi juga" pikir Naruto dalam hati dan sekarang ia harus bersiap menemui neneknya yaitu Tsunade yang sudah lama tak dijumpai dan Naru yakin neneknya akan memarahi dirinya yang tidak ada kabar dan baru kembali.
Naruto berjalan menuju ruang kepala sekolah melalui lorong-lorong sekolah tampak bingung dengan tata ruang di sana, ia ingin bertanya tapi disana tampak sepi yang Naruto yakini semua sudah diruang belajar masing-masing mengingat jam menujukkan pukul delapan lebih lima menit. Tapi tak sengaja Naruto melihat sosok siswi yang baru keluar dari toilet wanita, segera saja ia mengejar siswi itu. Terlihat siswi itu menggunakan kacamata seperti Harry Potter, menggunakan seragam kedodoran dan berambut indigo panjang yang di kepang, terlihat ng? culun?.
"Ng, permisi nona bisakah kau menunjukan dimana ruang kepala sekolah?" kata Naruto ramah pada gadis culun itu.
"Eh! Ng!? ma-mari ikuti saya.." jawab gadis itu tergagap. Naruto yang melihat itu hanya tersenyum tipis, 'lucu' pikir Naruto. Gadis culun itupun memandu Naruto menuju ruang kepala sekolah.
Naruto berdiri diluar ruangan terlihat didepannya terdapat pintu bercat coklat yang berisi tulisan'Ruang Kepala Sekolah' yang diukir berwarna gold. Narutopun berbalik menatap gadis itu. "Terima kasih telah mengantarku kesini nona ng?"
"Hi-hinata, Hyuuga Hinata kau dapat memanggilku de-dengan Hinata" kata gadis itu yang ternyata bernama Hinata sambil menundukan kepalanya malu-malu.
"Kalau begitu perkenalkan namaku Naruto, Namikaze Naruto kau bisa memanggilku dengan Naruto saja" kata Naruto sambil mengangkat tangan kanannya untuk bersalaman dan disambut Hinata dengan malu-malu. "ng? bo-boleh saya tahu. Apakah a-anda Namikaze Naruto yang se-seorang artis itu?" tanya Hinata dengan gugup membuat Naruto tak dapat menahan tawanya.
"Hahahaha! Kau tahu Hinata-chan mukamu sangat imut jika seperti itu. Ugh! Kau membuat ku sakit perut. Lagipula berhentilah berbicara formal seperti itu.. kau seperti berbicara dengan presiden Amerika saja. Ya, aku Namikaze Naruto, panggil saja aku Naruto. Hinata-chan bisa mengatakannya kan?" kata Naruto dengan tawa renyah yang sudah lama tidak terlihat itu, membuat Hinata semakin menundukan wajahnya yang memerah mendengar pujian Naruto.(ha? Pujian ga salah tu? 0_0)
"Ung! Na-naru-chan jangan be-berkata seperti itu. Kalau begitu a-aku mau kembali ke kelas saja" kata Hinata berlari kecil meninggalkan Naruto yang masih tertawa pelan. "Arigato Hinata-chan telah mengantarku!" teriak Naruto supaya terdengar oleh Hinata. Naruto pun mengambil nafas sebentar dan mengetuk pintu di depannya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" terdengar suara dari dalam yang menyuruh untuk masuk. Naruto pun membuka pintu secara perlahan, terlihat seorang wanita yang tampak muda tapi tidak dengan umurnya sedang membaca berkas yang tidak diketahui Naruto. "Siapa?" tanya wanita itu lagi tanpa mengalihkan matanya dari berkas yang di mejanya tampak sangat serius.
"Saya murid baru di sekolah ini, nama saya Namikaze Naruto" mendengar suara dan nama yang tak asing bagi wanita itu, membuat wanita tua tapi masih terlihat muda itu menghentikan kegiatannya. Terlihat sangat terkejut dan ketika ia melihat gadis pirang yang dihadapannya segera saja dia berdiri dan menghampiri gadis itu dengan ekspresi dingin. Naruto yang melihat itu menutup matanya erat bersiap menerima resiko yang akan dihadapinya.
Bruuk!
'Eh?!' Naruto merasakan tubuhnya menghangat sontak membuka matanya dan terkejut mendapati wanita yang merupakan kepala sekolah itu memeluknya erat.
"Syu-syukurlah kau baik-baik saja Na-naruuu" basah Naruto merasakan basah pada baju seragam yang ia kenakan. Naruto segera mengkat tangannya untuk mengangkat kepala yang bersandar pada bahunya.
"Baa-chan~. Jangan menangis lagi.. Naru mohon" Naruto tersenyum lembut sambil menghapus air mata yang jatuh dari kedua mata neneknya menggunakan kedua ibu jarinya dengan tangan yang tetap menyangga kepala wanita tua itu untuk terus menghadap padanya. "Kau tahu Baa-chan? Ku kira kau akan marah pada Naru…" kata Naruto lagi.
"Baka!" bentak Tsunade sambil memukul kepala Naruto.
"Aduh! Saakiit Baa-chan!~" Naruto memegang kepalanya yang di aninyaya neneknya.
"APA KAU TAHU SEBERAPA PANIKNYA AKU KETIKA MENGETAHUI KAU MENGHILANG TANPA KABAR SAMA SEKALI!? KAU INGIN MEMBUATKU MATI JANTUNGAN HAH!? Apa kau tahu Baa-san sangat kawatir ..ka-kau menghilang seperti ditelan bumi. Baa-san tidak ingin lagi kehilangan orang yang sangat Baa-san sayangi" tangis Tsunade, tubuhnya bergetar pelan berusaha menahan tangis yang semakin menjadi membuat Naruto merasa bersalah.
"Gomen-ne Baa-chan~" sesal Naruto.
"Sudalah Naru tak apa… lagipula Baa-san dengar kau sudah menghancurkan orang gila itu"
"Hn" jawab Naruto seadanya.
"Huh! Kau pelit kata sekali tapi Baa-san bangga padamu. Oh ya Naru untuk apa kau kesini?" tanya Tsunade bingung. "Naru kesini untuk menepati janji Naru pada Tou-san dan Kaa-san untuk bersekolah di sini" jawab Naruto.
"Begitu?" Tsunade tampak terdiam sebentar. "Kalau begitu kau keruang guru yang ada disebelah ruanganku, temui seorang guru wanita bernama Anko. Dia akan mengantarmu ke kelas" Naruto hanya mengangguk menjawab ucapan Tsunade, ia akan segera keluar ruangan jika tidak ada suara yang keluar dari mulut sang nenek sehingga membuat hatinya mencair.
"Naruto sampai kapanpun kami akan selalu menyayangi dan melindungimu, jadi kau berjanjilah untuk tidak meninggalkan kami lagi. Kau mengerti Naruto?"
"Okey, Baa-chan" kata Naruto tersenyum lembut lalu menutup pintu ruangan kepala sekolah dengan pelan dan berjalan menuju ruang guru yang ditunjuk oleh neneknya tadi. Naruto berdiri di luar ruang guru. Dengan berat hati, dia membuka pintu dan berjalan masuk. Semua perhatian guru yang ada langsung menatap Naruto. Merasa sangat gugup dan mencoba tersenyum."Selamat pagi" sapa Naruto. Hening..
"Kyaaa! Bukannya itu Namikaze Naruto artis idola New York itu?" tiba-tiba semua guru cewek histeris dan segera menghampiri Naruto sedangkan guru cowok hanya menatap Naruto dengan tatapan tidak percaya. Anko yang baru keluar dari ruangannya terkejut mendapati seorang gadis berambut pirang di grumuni oleh teman-teman sekantornya.
"Astaga apa yang kalian lakukan?" Anko segera menghampiri Naruto dan menolongnya dari serangan-serangan guru-guru di ruangan itu, "Kau baik-baik saja?" tanya Anko setelah berhasil menolong Naruto.
"Hm" jawab Naruto. 'itulah sebabnya aku tidak ingin sekolah di sekolah umum seperti ini' sahut Naruto dalam hati.
"Anko-sensei, kau tahu kenapa Namikaze Naruto ada di sini?" tanya salah satu guru mewakilkan guru yang lainnya yang bingung.
"Dia disini untuk bersekolah, dia murid baru disini. Jadi jangan berbuat macam-macam padanya jika kalian tidak ingin dipecat oleh kepala sekolah yang merupakan nenek dari gadis ini". Jawab Anko lalu menghadap Naruto. "Anda yang bernama Namikaze Naruto, tadi Tsunade-sama sudah menghubungiku untuk mengantarmu ke kelas. Sebaiknya kau ikuti aku sebelum kau mati kehabiskan nafas akibat pelukan maut yang mereka berikan" lanjut Anko, Naruto mengangguk mengikuti Anko meninggalkan guru-guru yang terkejut mendengar perkataan Anko tadi dengan mulut menganga tidak elit.
Mereka berdua berjalan dalam diam menuju kelas 3-A, sesampainya di depan ruang kelas tersebut Anko mengetuk pintu dan keluarlah seseorang yang dikenal oleh Naruto saat bertamu ke mansion Namikaze. "Naruto-chan tunggulah sebentar disini, masuklah setelah saya memberikan kode untuk masuk" kata Anko lalu masuk kedalam kelas sedangkan Naruto berdiri di luar kelas sambil menunggu kode untuk masuk. "Naru silahkan masuk!" merasa namanya dipanggil Narutopun berjalan menuju ke dalam kelas, kedatangannyapun disambut tatapan tidak percaya dan terkejut oleh siswa-siswi di kelas itu.
"Ti-ti-tidak mungkin di…dia kan!?"
Flashback off
~(^0^~)~(^0^)~(~^0^)~
"Ti-ti-tidak mungkin di…dia kan. Namikaze Naruto!?" ucap salah satu siswa sambil menunjuk kearah gadis cantik dan imut yang menjadi idola masa kini sedangkan teman-temannya yang lain saling berbisik. Yang ditujuk hanya cuek dihadapan mereka.
"Naru perkenalkan dirimu" kata Anko-sensei.
"My name is Namikaze Naruto, you can call me Naruto. Nice to meet you, Thanks". Naruto memperkenalkan diri sambil membungkuk di hadapan teman-teman barunya.
"Sensei harap kalian bisa berteman dengan Naruto. Kalau begitu, Kakashi-sensei maaf telah membuat acara mengajarmu terganggu" kata Anko terhadap Kakashi. "Tidak masalah" jawab Kakashi sopan. Anko pun keluar kelas.
"Baiklah Naruto kamu bisa duduk di bangku kosong di sebelah Sasuke atau Sakura. Sasuke, Sakura angkat tangan kalian" kata Kakashi, Sasuke dan Sakurapun mengangkat tangan mereka. Naruto melihat Sakura dan Sasuke bergantian namun saat melihat Sasuke yang juga menatapnya, entah mengapa jantung Naruto tiba-tiba berdetak cepat ketika onyx itu dengan tak sengaja bertemu dengan sapphire miliknya, keduanya seperti tertarik ke dalam iris satu sama lain. Bahkan orang yang ditatapnyapun merasakan hal yang sama. "Naruto kau sudah menentukan akan duduk dimana?" pertanyaan Kakashi sontak memutuskan ikatan yang berlangsung beberapa detik tadi. Tak sengaja Naruto melihat seseorang yang di kenalnya tadi dan iapun tersenyum tipis melihat temannya itu membuat seluruh penghuni kelas bersemu merah melihat senyuman Naruto yang seperti malaikat itu walaupun hanya sebentar.
"Kakashi-sensei bolehkah Naru duduk dibangku itu?" tanya Naruto.
"Dengan siapa?" tanya Kakashi balik.
"Dengan orang itu" tunjuk Naruto kearah bangku yang diinginkannya.
TBC
\(^0^)/
