AN: Langsung saja ke bagian 1 /o/ douzo~


Bagian I

Kepala berdenyut. Badan pegal dan kaku. Suara yang pertama kali merasuk adalah bising bunyi mesin yang asing. Pemandangan yang menyambut adalah warna putih bersih serta lampu neon padam meski cahaya seolah berhamburan masuk ke dalam dua lensa mata beledu yang disembunyikan kelopak setengah jatuh; alis tertaut kuat di tengah. Ingatannya kosong sampai beberapa menit kemudian. Otaknya hanya fokus untuk membiasakan pikiran dengan tubuh (yang seperti bukan miliknya) dan keadaan. Langit-langit putih itu mulai memberikan suatu pemahaman akan kemungkinan di mana ia berada.

Rumah… sakit…?

Beberapa wajah yang tidak dikenal, kabur di pandangan, berseliweran di sekelilingnya. Pening, mata menutup sampai dirasakannya beban (tidak perduli apa itu) dari tubuhnya perlahan terlepas. Sedikit ringan.

"Satoru? Kau sudah sadar, Satoru?"

Suara sopran lembut bernada mendesak itu terasa sangat familier, begitu juga sensasi genggaman hangat pada tangannya. Kelopak mata terbuka dan dua lensa abu-biru bergulir sampai menemukan wajah seorang wanita yang perlahan mengalirkan air mata walau dengan kelegaan tumpah ruah di setiap kerut yang ditimbulkan ketika ia tersenyum hangat. Furuya ingat orang itu, tentu saja. Ibunya.

"Kaa... San…?" Tenggorokannya kering dan suara yang dikeluarkan seakan tersendat, lebih pelan dari biasanya ia berbicara dan Furuya sedikit tidak menyukai keadaannya yang sekarang ini seolah ia baru saja kembali dari lari keliling lapangan sekian ratus putaran yang melelahkan tanpa air. Mulutnya kembali bungkam melihat wanita di sampingnya itu menangis sambil mengangguk-angguk kemudian melepas genggaman untuk membicarakan sesuatu dengan orang-orang di sekitar yang berseragam putih bersih; sibuk sekali. Walau demikian, kelegaan yang menyeruak memenuhi ruangan itu ikut mempengaruhi sehingga dua sudut bibirnya lalu terangkat samar.

Sementara kesadaran makin menguasai tubuh, Furuya mengedarkan pandangan. Di meja terdapat bunga segar berwarna merah seperti aster (walau bukan aster maupun krisan, sepertinya). Di sebelah vas bunga, ada glove kuning, bola putih, dan topi hitam dengan huruf 'S' kapital yang sangat familier—

"!"

Seperti ada yang mendetumkan sesuatu di belakang kepala dan mendorongnya untuk bangkit, Furuya terperanjat sampai terduduk meski ia harus menahan diri karena pandangannya sedikit mengabur akibat sesuatu di kepalanya seperti memaksa untuk pasrah pada gravitasi. Tangan-tangan ramping ibunya serta tangan-tangan asing orang-orang berseragam putih bersih menahan. Suara sopran sang Ibu menyuarakan peringatan lembut untuk tetap berbaring. Akan tetapi, kata-kata itu tidak masuk ke dalam otaknya ketika sebagian dari organ itu terpenuhi dengan imaji bola putih yang melesat di depan mata serta langit biru dan matahari musim panas di atas lapangan Koushien.

Koushien, tentu saja.

Tentu saja.

Aku harus pergi!

Furuya mencengkeram lengan baju ibunya sebagai tumpuan sementara kedua kakinya bermaksud diturunkan dari tempat tidur namun tangan-tangan itu makin kuat menahannya, padahal ia harus segera ke tempat itu—ke Koshien, kembali pada timnya. Ia harus mengatakan pada pelatih Kataoka kalau ia baik-baik saja. Ingin bertemu yang lain; ia masih belum melakukan yang terbaik untuk tim. Ingin bertemu teman-teman tim, kakak-kakak kelas—Miyuki-Senpai...

"Satoru, tenanglah."

"…aku harus pergi…"

"Furuya-Kun—"

"…Koushien. Kaa-San, bawa aku ke Koushien—pertandingan… pertandingannya…"

"Satoru, tidak apa-apa. Pertandingannya sudah selesai."

Sejenak Furuya menghentikan gerakan, menatap ibunya dengan pandangan nanar seolah mencari-cari apa makna perkataan barusan namun yang didapatkan hanyalah sorot mata yang membiaskan simpati yang menenangkan (meski sekelumit keruh getir luput dari perhatian).

"Ka-kalau begitu... ke sekolah..." Furuya berbisik samar sambil membiarkan tubuhnya dibaringkan. "Pelatih... yang lain..." –yang hanya dijawab dengan belaian lembut dan perlahan pada puncak kepalanya. Furuya tidak mengerti. Anak laki-laki seperti dia tidak mengerti apa arti dari gestur itu selain hanya untuk menenangkannya dan ia dengan jujur menerima perhatian itu tanpa berkata apapun lagi meski otaknya masih riuh dengan kata-kata Koshien—pelatih—tim—mound—dia-harus-melempar-bola. Namun, ia tahu sia-sia untuk melakukan bantahan sekarang (terutama karena keadaannya dan fakta bahwa pertandingan itu telah selesai). Ia sedikit menyesal; namun, masih ada waktu untuk membayar ketidakhadirannya. Masih ada waktu.

Ketegangan terurai perlahan.

Tanpa ia sadari, seorang pria berbalut jas putih, yang tampaknya seorang dokter, menatap ramah-lembut (hampir terlupakan keberadaannya). "Furuya Satoru-Kun, sepertinya tidak ada masalah. Tubuhmu baik-baik saja. Kau bisa pulang dalam dua-tiga hari ini." Dan ia menoleh pada sang Ibu. "Furuya-San, nanti saya ingin bicara dengan Anda dan suami Anda." Setelah itu, diikuti perawat, mereka meninggalkan ruangan.

Walau ekspresinya masih tampak datar, Furuya tidak menyembunyikan aura senang terhadap perkataan dokter barusan meskipun tentu ia mengharapkan bisa pulang lebih cepat. Kalau bisa, ia ingin pulang hari itu juga. Sebagai ace tim, ia tahu tidak bisa absen sedikit lebih lama (dan ia sama sekali tidak ingin demikian). Akan tetapi, pengalaman cedera kaki waktu itu memberikan pemahaman bahwa istirahat untuk memulihkan tubuh juga penting bagi seorang atlit. Chris pernah memperingatkan demikian. Miyuki juga diyakini tidak akan senang jika ia terlalu memaksakan diri. Kataoka juga pernah berpendapat sama. Maka, Furuya berusaha untuk tetap tenang dan hanya memikirkan saat-saat ia akan keluar dari rumah sakit dan kembali berlatih. Entah kenapa, tubuhnya kaku padahal ia merasa waktu ketika kehilangan kesadaran tidaklah lama.

Dengan hati masih ringan, Furuya menoleh pada ibunya dan bertanya, "Kapan datang dari Hokkaido?"—sedikit dengan selipan heran di setiap kata.

Wajah lembut itu seketika berubah menjadi tegang. Bibir mungil itu sedikit bergetar ketika berusaha memaksakan sebuah senyuman. Furuya hanya menunggu walau kali ini reaksi aneh di depannya sedikit membuat ngilu bagian kecil sudut jantungnya yang entah kenapa seakan terdengar detak per detaknya dekat gendang telinga.

"…ah… sudah lama—" Senyuman itu ganjil.

Sering terkesan tidak perduli, sebenarnya Furuya cukup observatif terhadap orang-orang yang dianggapnya dekat. Perlahan, tubuhnya diangkat ke posisi duduk—menandakan bahwa ia serius dan perasaan ringan barusan mulai surut digantikan oleh perasaan asing yang menghembuskan angin dingin di tulang belakang. Ibunya yang lembut itu menampakkan sebuah ekspresi yang tampak asing di matanya. Seolah ada yang tidak beres. Ada yang salah. Ada yang enggan diungkapkan padanya.

"Kaa-San... ada apa?"

Kemudian, wanita itu kembali menangis sambil mendesah lirih, "…Satoru…" Wajah itu kembali basah oleh bulir-bulir dari mata yang terutup rapat. Suara tersedu-sedu yang begitu getir di telinga. Furuya menelan ludah. Ia sama sekali tidak merasakan sesuatu yang baik dari reaksi ibunya, hanya angin dingin yang kian membentuk tangan-tangan imajiner mencengkeram dari belakang. "…Tapi bagaimana pun Ibu bersyukur kau sadar. Bagaimana pun Ibu bersyukur kau sadar—" Perkataan itu berulang kali, berulang kali terucap bersama dengan hembusan napas pendek dan tangis teredam.

Kedua tangan terulur menyentuh pundak. Furuya berusaha menenangkan wanita mungil itu namun ketika melihat tangannya sendiri dan merasakan bahwa pundak ibunya terasa lebih kecil dari yang terpahat di ingatanya, ia tercenung. Sirkuit syaraf di otaknya lambat namun nuraninya mengatakan benar-benar ada yang asing—ada yang aneh dan hal itu seolah memberikan peringatan bisu pada hati, pada pikiran, pada emosi lalu membangkitkan ketakutan tidak bernama.

"Kaa-San…" Suaranya ikut bergetar. "Aku..."

Wanita itu menggeleng lalu menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "…ini memang akan berat, namun… Ibu harus mengatakannya padamu..." Rangkulan itu erat, begitu erat. Bukan pelukan menenangkan. Ini seolah untuk memberikan ketabahan hati—akan apa?

Cerita itu mulai terjalin, dengan suara pelan-getir-lirih namun diusahakan untuk tetap tenang karena getar mati-matian ditahan. "Satoru… Saat pertandingan itu, kau terkena deadball di kepala—dan kehilangan kesadaran..."

Deadball…

Tangis tersendat; sunyi menggantung mencekam. Furuya merasakan tangannya—tubuhnya—bergetar karena hal yang tidak ingin diketahuinya. Ia tidak ingin mendengar lanjutan cerita itu. Ia ingin mengabaikan dengan memalingkan muka seperti biasa namun pada akhirnya itu kenyataan yang harus dihadapi—

"Ini... sudah musim panas keempat sejak saat itu—"

"..."

Furuya tidak bisa berpikir apa-apa. Hanya diam. Namun tanpa ia kehendaki dan sadari, bulir air mata perlahan meluncur menelusuri tebing pipi; lensa abu-biru beledu itu kembali nanar. Pikirannya tiba-tiba memutar kembali pemandangan stadion sakral itu—teriakan, langit biru, para pemain, udara panas, peluh yang meluncur, ekstasi pertandingan, sensasi bola dan seluruh adrenalin yang terpacu—semua itu masih begitu baru. Semua itu—

Musim panas keempat sejak itu?

Apa?

Apa artinya?

Dalam dirinya, masih begitu baru.

Masih terlalu baru.

Tiba-tiba mengetahui fakta bahwa dalam ingatan semua orang selain dirinya pemandangan itu telah menjadi sepia membuat kepalanya pening. Namun, Ibunya tidak akan berbohong. Tapi—

"…aku tidak mengerti, Kaa-San..." Kalimat itu hampir tidak terdengar.

.

.

.

(bersambung)


AN: yoroshuu m(_ _)m